NAMAKU TETAP SENJA 54
(Tien Kumalasari)
Tak lama kemudian, terdengar suara tegas dari luar rumah.
“Selamat siang.”
“Ada tamu siapa tuh?”
Rimba turun dari kursinya, bergegas ke depan, tak lama kemudian ia kembali dan berkata dengan gugup.
“Mbok, ada polisi.”
“Polisi? Mengapa polisi kemari?” kata mbok Mangun bingung. Senja berdiri dan bergegas ke depan. Biarpun berdebar-debar, ia harus menghadapi tamunya. Bukan simboknya yang pasti akan panik.
“Selamat siang.”
“Selamat siang,” jawab Senja, pelan.
“Apakah di sini ada yang namanya saudari Senja?”
“Senja? Ss … saya sendiri …,” Senja mulai agak gemetar.
“Ada perintah penangkapan atas saudari Senja, karena diduga melakukan percobaan pembunuhan.”
“Tidak … saya tidak bermaksud … membunuh, say … saya hanya membela .. diri, karena mau diper … perkosa … “
“Nanti Saudari bisa mengatakannya di kantor, sekarang Saudari harus ikut saya.”
“Tidak, jangan bawa anakku … dia tidak bersalah … “
Polisi memaksa membawa Senja, Simbok berteriak-teriak sambil menangis, dan Rimba memburu ke arah polisi yang menggandeng kakaknya.
“Jangan bawa mbak Senja … “
“Simbok, Rimba … tenang saja … Senja tidak bersalah, nanti juga Senja pasti pulang lagi,” kata Senja berusaha tegar, sambil menoleh ke arah Simbok dan adiknya.
Mobil polisi meraung pergi, meninggalkan mbok Mangun yang berteriak-teriak. Dan Rimba yang berusaha menghibur simboknya. Seisi kampung geger, semua orang mengatakan bahwa Senja ditangkap polisi.
***
Siang hari itu pak Wiguna datang ke rumah di mana Tantrina tinggal, karena Tantrina terus menelpon.
“Bagaimana Bapak itu, saya minta datang sejak pagi, tapi Bapak tidak segera datang,” kata Tantrina sambil mengerucutkan bibirnya. Kalau sudah begitu, biasanya pak Wiguna segera mendekati dan merangkulnya, dan mengelus punggungnya untuk membuatnya tersenyum. Tapi kali itu tidak. Pak Wiguna langsung duduk di kursi tamu.
“Bapak mau minum apa?” katanya kemudian.
“Tidak usah, nanti gampang.”
“Mengapa juga baru sekarang Bapak datang? Bapak sudah tidak sayang ya, pada Tantrina?”
“Pekerjaan di kantor banyak, lama terbengkalai, aku bukan pengangguran kan?”
“Bapak kan seorang pimpinan. Tinggal duduk manis, yang mengerjakan anak buah, ya kan?”
“Tidak bisa begitu. Aku harus menangani dan mengontrol mereka.”
“Ibu menelpon terus, tapi tidak saya jawab. Paling-paling ibu menanyakan tentang almari yang dibutuhkannya.”
“Belum bisa, waktunya tidak ada.”
“Mengapa Bapak tidak mengedepankan permintaan saya dulu? Bukankah pekerjaan bisa nanti?” kali ini Tantrina menggelendot di pundak pak Wiguna.
Pak Wiguna bergeming. Perkataan Arka bahwa bayi yang dikandung Tantrina bukan darah dagingnya, telah melenyapkan seluruh gairah dan cintanya. Ia justru akan segera mengusir Tantrina dari rumah itu.
“Pak, kalau begitu ayo mengurus surat rumah ini dulu. Aku tidak mau ini atas nama Bapak. Bukankah kelak rumah ini juga untuk anak kita?”
“Anak kita ….” gumam pak Wiguna.
“Ya, anak kita. Kalau Bapak memberikan rumah ini sepenuhnya kepada Tantrina, sama saja nanti pemiliknya adalah anak kita ini,” katanya sambil meraih tangan pak Wiguna, diletakkan di perutnya yang sedikit membuncit.
Tapi kemudian pak Wiguna menariknya.
“Apa benar bayi itu adalah darah dagingku?”
Tantrina terkejut. Ia menatap pak Wiguna dengan mata kesal. Kemudian ia menjatuhkan lagi kepalanya di pundak pak Wiguna.
“Mengapa Bapak berkata begitu? Masa seorang ayah akan mengingkari darah dagingnya sendiri?”
“Mengapa tiba-tiba aku tidak yakin?” kata pak Wiguna, langsung pada permasalahan.
“Apa? Bapak tidak yakin bahwa ini darah daging Bapak?”
Tiba-tiba Tantrina menangis, dan semakin keras, seperti menggerung-gerung. Tangannya merangkul lengan pak Wiguna tapi pak Wiguna bergeming. Tak ada rangkulan balik, atau kata-kata lembut untuk menenangkannya.
“Dari mana Bapak punya pendapat seperti itu? Dari mana? Saya melayani Bapak sudah lama, lalu saya hamil. Apa selain Bapak saya melayani orang lain? Bapak menuduh saya selingkuh?”
“Kamu bukan perawan ketika bertemu aku kan?”
“Saya tidak ingkar. Kan saya sudah bilang bahwa saya pernah menikah tapi tidak berlangsung lama, kemudian bercerai?”
“Kalau begitu, demi kebaikan kita semua, juga kebaikan anak itu, kita tes DNA.”
“Apa maksud Bapak?”
“Tes DNA akan membuktikan sebuah kebenaran tentang siapa anak siapa.”
“Aku tidak mauuuuu!” Tantrina berteriak.
“Mengapa tidak mau?”
“Bapak ingin mempermalukan saya? Biar kelihatan bahwa saya tidak dipercaya oleh suami?”
“Tes DNA tidak mempermalukan siapapun. Kalau kamu jujur, kamu bisa dengan bangga menunjukkan kebenaran bukan?”
“Tidak mauu, aku tetap tidak mau.”
“Kalau begitu berarti kamu menyembunyikan sesuatu dari aku. Kamu tidak jujur.”
“Bapak tidak percaya?”
“Aku akan percaya kalau tes DNA sudah dilakukan. Kita bisa sekarang? Kalau terbukti itu darah dagingku, langsung rumah ini aku berikan pada kamu dan bayi yang kamu kandung itu. Sekarang juga kita ke rumah sakit?”
“Mengapa Bapak membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak berguna?”
“Apa yang tidak berguna? Membuang uang tidak apa-apa, asalkan kebenaran bisa dibuktikan. Harusnya kamu berani menghadapi kalau memang kamu benar. Kalau kamu takut, aku jadi meragukannya.”
Tantrina menangis semakin keras.
“Biasanya kalau orang itu benar, dia akan dengan gigih membuktikan kebenarannya.”
“Jadi Bapak tidak percaya pada saya?”
“Aku percaya, nanti setelah kita buktikan.”
Tiba-tiba Tantrina lari ke kamar, dan menjatuhkan tubuhnya di pembaringan. Ia berharap dengan merayunya maka keragu-raguan pak Wiguna agak mereda. Tapi ternyata pak Wiguna tidak menyusulnya ke kamar. Ia berdiri di depan pintu kamar, menatap Tantrina yang sudah berbaring dengan sikap menantang.
“Aku pergi dulu. Dengan sikap kamu itu, berarti kamu takut membuktikan, berarti anak yang kamu kandung bukan anakku. Kamu aku ceraikan, dan aku minta kamu pulang ke rumah orang tua kamu. Aku beri kamu waktu seminggu.”
Setelah itu pak Wiguna membalikkan tubuhnya, menghampiri mobilnya dan berlalu.
Tantrina mengusap air matanya. Tak tahu harus berbuat apa. Ia langsung menelpon ibunya, yang ternyata ada di kantor polisi.
Hal itu membuatnya lebih gelisah, karena ia tak tahu apa yang terjadi. Ia memukul-mukul perutnya dan mengomel panjang pendek.
“Bayi tak mau diuntung. Kamu bodoh. Mengapa tidak mau menjadi anak orang kaya? Bodoh. Bodoh. Lalu ada apa lagi ibu di kantor polisi? Ya ampun Bu, Tantrina sudah diceraikan, ada waktu seminggu untuk pulang ke rumah Ibu,” akhirnya dia menangis lagi.
***
Pak Wiguna kembali ke kantor, dan segera menemui Arka di ruangannya.
“Bapak cepat sekali kembali, tidak jadi ke rumah sakit?”
“Untuk apa ke rumah sakit?’
“Bukankah Bapak mau tes DNA?”
“Dia tidak mau. Dia memilih bungkam, jadi aku sudah mengambil kesimpulan kalau dia bohong.”
“Lalu apa yang akan Bapak lakukan?”
“Menceraikan dia, lalu mengusir dia dari rumah itu. Apa Bapak melakukan hal yang benar?”
Arka tersenyum sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.
“Kamu kok sudah bersiap pulang? Ini jam berapa?”
“Saya mau langsung ke rumah Senja terlebih dulu.”
“Senja itu … apa anak penjual beras yang kamu sering belanja beras ke sana?”
“Iya Pak. Saat ini Senja sudah lulus SMA. Maksud saya, dia akan saya suruh bekerja di kantor ini.”
“Apa? Dia lulusan SMA dan kamu akan membawanya bekerja di sini? Karena kamu kenal baik, dan kamu anggap sebagai teman kamu? Pekerjaan apa yang akan kamu berikan kepada dia, Ka? Tukang bersih-bersih? Kan sudah ada?”
“Tidak Pak, akan saya suruh bantu-bantu sekretaris saya.”
“Apa? Tidak Ka, aku tidak setuju. Kalau kamu memaksa juga, biarlah jadi tukang bersih-bersih saja. Bisa apa dia dengan pekerjaan yang akan kamu berikan, Ka?”
“Dia bisa belajar. Anak itu pintar. Nilainya bagus.”
“Aku tetap tidak setuju.”
“Pak, akan saya beri tahu Bapak. Orang yang membuka rahasia Tantrina, bahwa dia hamil bukan darah daging Bapak, adalah Senja.”
“Apa?”
“Kalau tidak ada Senja, barangkali Bapak akan tertipu selamanya.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteYesssss
Yeeessss mas Kakek
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku, NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun pak Latief
DeleteTrmksh mb Tien🙏
ReplyDeleteSami2 Yangtie
Delete🍒🍍🍒🍍🍒🍍🍒🍍
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung eNTeeS_54 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🍒🍍🍒🍍🍒🍍🍒🍍
Aamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah, terima kasih, semoga Ibu Tien sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Sukardi
Delete🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 54 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulilah maturnuwun bu Tien, cerbung kesayangan sdh tayang ...semoga bu Tien selalu sehat, bahagia dan penuh berkah aamiin yra ... salam hangat dan aduhai aduhai bun❤️🤎❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah
ReplyDeleteHappy End in Syaa Alloh
Syukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Sami2 jeng Susi
DeleteAlhamdulillah senja telah hadir, semoga senja tetap tabah,kuat dan kebenaran akn berpihak padanya, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️😍🙏
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Tatik
DeleteMatur nuwun Bunda Tien, Barokalloh aamiin....Ayo Arka segera berangkat.. bantulah Senja
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Yulian
DeleteAlhamdulilah.
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat beserta keluarga.
Aamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSenja sudah tayang
Terima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat selalu dlm lindungan Alloh SWT .Aamiin YRA ....👐👐👐
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah cerbung NTS sudah tayang,
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien,
Semoga bunda Tien dan keluarga sehat
Aamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Sifa
DeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Ida
DeleteMks bunda NTS 54 sdh tayang....selamat mlm salam sehat salam sejahtera bun
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Supriyati
DeleteAlhamdulillah...telah tayang. Sehat wal afiat selamanya bunda ...aamiin.
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun Kang
DeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,54 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Roobbal'alamiin.. matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah...... Semoga bu Tien sekluwarga sehat wal'afiat slalu dalam Perlindungan Allah SWT. Aamiin.🤲🙏
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, sehat, semangat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarg....Aamiin ya rabbal Alaamiin 🤲🤲🤲
ReplyDeleteAlhamdullulah terimaksih bunda cerbungnya..slm seroja unk bunda 🙏🙏🌹❤️
ReplyDelete