NAMAKU TETAP SENJA 53
(Tien Kumalasari)
Senja memasuki halaman rumahnya dengan terengah-engah. Ia menyandarkan sepedanya, kemudian masuk ke dalam rumah, ngelesot di lantai tanah bersandar pada tembok tua yang separo di atasnya ditutup dengan anyaman bambu.
Rimba yang ada di belakang, mendekati sang kakak dengan perasaan heran.
“Mbak sudah pulang? Bagus sekali. Mbak jadi keluar dari pekerjaan ya? Kok wajah Mbak pucat begitu, dan baju Mbak sampai basah oleh keringat? Capek ya?”
Rimba tidak menunggu jawaban. Ia mengambil segelas air, yang kemudian diberikannya kepada sang kakak.
“Minum dulu, biar lebih tenang.”
Senja menerima gelas itu, lalu meneguknya habis. Rimba menerima gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di meja, lalu ia duduk di depan sang kakak.
“Ada apa sih? Mbak dikejar setan?”
“Buruk.”
“Apanya yang buruk?”
“Kejadian yang Mbak alami. Terima kasih ya Allah, karena membuat hamba terhindar dari niat buruk orang,” kata Senja pelan, sambil menadahkan tangannya ke atas.
“Sebenarnya ada apa?”
“Ada orang berniat jahat, tapi Mbak bisa menghindar.”
“Mbak mau dirampok?”
“Lebih dari itu. Diamlah dulu, biarkan mbak bernapas.”
Rimba menatap heran sambil bertanya-tanya.
“Memangnya dari tadi Mbak tidak bernapas?”
“Hampir tidak. Diamlah dulu.”
“Ya sudah, berdirilah, dan ganti baju Mbak yang basah kuyup itu.”
Senja berdiri, menuruti anjuran sang adik, sambil terus memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.
“Sungguh mengerikan. Terima kasih ya Allah … terima kasih ….,” bisiknya berkali-kali sambil berganti pakaian rumahan.
Tak lama kemudian dia keluar, Rimba menyediakan makan siang, lalu mengajak sang kakak makan.
“Ayo Mbak, kita makan. Mbak kelihatan kelaparan,” goda sang adik.
“Simbok pulang jam berapa ya?”
“Ya nggak tahu, Simbok itu pulangnya kan tidak tentu. Kadang siang sudah pulang, kadang sore baru pulang.”
“Iya sih.”
“Ayo makan dulu saja. Sayur bening, teri goreng sama tahu goreng. Ada sambal terasi kesukaan Mbak.”
“Iya, sebentar, nunggu Simbok. Kamu makan saja dulu kalau sudah lapar.”
“Ya nggak enak, kan ada Mbak, masa aku makan sendiri.”
“Nggak apa-apa, Mbak mau menunggu Simbok di depan.”
“Kalau begitu aku juga nggak mau makan.”
Tumben siang ini Senja dan adiknya tidak kompak. Biasanya, walau menunggu simboknya, Senja pasti mau ikut makan walau sedikit, hanya untuk menemani sang adik. Tapi kali ini Senja sedang benar-benar membutuhkan simboknya. Ia tak bisa menceritakan semuanya pada Rimba, harus menunggu simboknya.
Akhirnya Rimba ikut duduk di bangku depan rumah, di samping sang kakak.
“Gimana sih kamu ini? Makan dulu saja sana.”
“Aku juga mau menunggu Simbok.”
Tapi seperti yang diharapkan Senja, mbok Mangun sudah tampak berjalan memasuki halaman kecilnya. Simbok tampak gembira melihat Senja sudah ada di rumah.
“Syukurlah, kamu jadi keluar dari pekerjaan kamu?”
Bukannya menjawab, Senja malah berdiri menyambut sang simbok, lalu merangkulnya sambil menangis. Tentu saja Simbok terkejut. Bahkan Rimba juga heran melihatnya, karena sejak tadi sang kakak tidak banyak bercerita.
“Ini ada apa? Kamu itu kenapa? Jangan membuat Simbok bingung Nja, katakan ada apa. Apa kamu sedih karena tidak diberi upah untuk pekerjaanmu yang baru beberapa hari? Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah keluar dari sana. Kamu bilang kan, tidak diberi upah juga tidak apa-apa? Mengapa sekarang menangis?”
“Bukan karena upah Mbok, Senja mengalami kejadian buruk,” tangisnya.
“Kejadian buruk apa? Sepeda kamu hilang?” kata Simbok sambil melongok ke tempat biasanya Senja meletakkan sepeda, dan Simbok merasa lega karena sepeda itu masih ada.
“Nja, katakan ada apa? Kejadian buruk apa, ayo duduk di situ,” kata Simbok sambil mengajak Senja duduk.
“Ada apa sih Mba, kakakmu kenapa?”
“Rimba juga bingung, dari tadi mengatakan mengalami kejadian buruk. Aku tidak mengerti Mbok.”
“Nja, jangan membuat Simbok bingung. Simbok kira Simbok senang melihat kamu sudah pulang berarti kamu jadi keluar dari pekerjaan kamu.”
“Senja memang sudah pamit, tapi … tapi …”
“Tapi apa? Dimarahi?”
Lalu sambil terisak Senja mengatakan apa yang dialaminya, sampai dia kabur dan menggenjot sepedanya pulang dengan sekuat tenaga, takut ada yang mengejar.
“Lha ya sudah Nja, laki-laki kurang ajar itu kan sudah kamu pukul pingsan, sehingga kamu bisa kabur. Simbok bersyukur, kamu terlepas dari nasib buruk itu. Sudah, jangan menangis lagi,” kata Simbok sambil mengelap air mata Senja dengan ujung bajunya.
“Ayo masuk, kalian sudah makan?”
“Dari tadi Rimba ajak makan, tapi Mbak Senja tidak mau, katanya menunggu Simbok.”
“Ya sudah, sekarang Simbok sudah datang. Simbok ganti baju dulu, lalu kita makan bersama-sama. Ayo masuk, di sini panas,” kata Simbok sambil menarik tangan Senja, lalu merangkulnya sambil berjalan masuk ke rumah.
“Kamu harus bersyukur Nja, terlepas dari tangan jahat itu,” kata Simbok sambil masuk ke kamar mandi.
***
“Sekarang bagaimana Mer? Sudah dibawa polisi?” tanya Rosa.ketika menelpon Mery.
“Korban di bawa ke rumah sakit.”
“Kamu harus minta agar Senja diburu, dia harus dihukum karena hampir membunuh orang.”
“Polisi sudah menanyakan alamat rumahnya.”
“Bagus. Perempuan tak tahu diuntung itu harus merasakan penderitaan yang lain. Dia akan mendekam di penjara. Apalagi kalau korbannya sampai mati, Senja benar-benar akan dihukum berat.”
“Aku takut sekali. Tak pernah mengalami hal seperti itu.”
“Tidak usah takut, kamu kan hanya menyuruh karyawan melayani tamu. Kamu tidak akan dianggap bersalah. Tapi ingat, kalau sampai kamu dipanggil menjadi saksi, jangan sampai kamu membawa-bawa aku.”
“Aku akan dipanggil juga?”
“Pasti kamu akan dipanggil, kan kejadiannya di rumah kamu?”
“Ya ampuun, aku takut sekali.”
“Mengapa takut? Kamu hanya memberi tugas kepada karyawan kamu, kamu tidak akan dianggap bersalah. Dan lagi Mer, kamu memang harus menghadapi semuanya. Ingat, aku sudah membayar sebanyak yang kamu minta. Aku tidak akan meminta kembali uangnya kok, walau Felix tidak jadi memperkosa dia. Ada hukuman yang lebih menyakitkan kalau dia dipenjara, aku senang sekali,” kata Rosa dengan gembira.
“Ya sudah, aku mau menelpon anakku dulu, dari tadi menelpon tidak bisa tersambung. Dia sedang bicara entah dengan siapa, paling dengan suaminya.”
“Tunggu dulu, jangan panik. Percayalah kamu tidak akan diapa-apa kan oleh polisi. Aku justru harus mengucapkan terima kasih. Terima kasih Mery,” kata Rosa enteng, sambil menutup ponselnya.
Tampaknya dia merasa puas atas apa yang terjadi pada Senja.
***
Mbok Mangun makan bersama kedua anaknya. Berkali-kali dia mengatakan bahwa Senja harus bersyukur karena terlepas dari maksud jahat orang.
“Makan yang banyak, jangan memikirkan apa-apa. Semuanya sudah lewat. Ingat janji mas Arka, dia akan memberi pekerjaan untuk kamu. Pasti pekerjaan yang lebih baik, dalam artian baik untuk keamanan kamu. Tidak perlu berhadapan dengan orang-orang jahat yang punya niat kotor.”
“Wah, jadi orang kantoran dong Mbak. Nanti pakaian Mbak harus ganti yang bagus. Apa Simbok punya uang?” kata Rimba.
“Ya punya, kalau hanya untuk beli pakaian kerja. Ya kan Nja?”
”Paling-paling Senja akan jadi tukang bersih-bersih, tapi Senja akan lebih senang melakukannya.”
"Semua pekerjaan itu bagus, asalkan baik dan halal," lanjut Simbok.
Tiba-tiba terdengar sirene mobil polisi.
“Sepertinya berhenti di depan rumah?” kata Senja yang tiba-tiba wajahnya menjadi pucat.
***
Besok lagi ya..
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah...
ReplyDeleteMatur nuwun, mBak Tien.
Salam SEROJA
๐น☘️๐น☘️๐น☘️๐น☘️
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐
Cerbung eNTeeS_53
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ๐๐ฆ
๐น☘️๐น☘️๐น☘️๐น☘️
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bu DA. Sementara ga sehat selalu beserta keluarga. Salam aduhai hai...
Mudah"an Senja tidak ditahan. Hanya diminta keterangan
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Terima kasih Bunda Tien,,, Barokalloh . Semoga Rosa yang ditahan , sudah 2x sebagai perencana kejahatan
ReplyDeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien senja sudah hadir, semoga bu Tien sekeluarga selalu sehat, bahagia dan penuh berkah .. salam sehat dan aduhai aduhai bun❤️❤️❤️
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku, NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulillah "NAMAKU TETAP SENJA 53" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat ๐คฒ
ReplyDeleteSugeng dalu๐
Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah,cerbung NTS sudah hadir,
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, semoga bunda dan keluarga sehat ๐คฒ
Alhamdulillah..terimakasih bunda Tien.
ReplyDeleteAlhamdulillah, mtr nwn bu Tien, sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah senja sudah tayang, semoga kejahatan Rosa akn terbongkar semuanya.... maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ ๐ ๐
ReplyDeleteAlhamdulillah,,,sudah tayang. Sehat wal afiat selamanya bunda...aamiin.
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,53 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDelete๐ทAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 53 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin๐คฒ๐⚘๐ท
ReplyDeleteAlhamdulillah. Suwun Bu Tien
ReplyDeleteSenja ditangkap polisi?
ReplyDeleteSelamat pagi bunda, salam sehat sll
ReplyDelete