NAMAKU TETAP SENJA 26
(Tien Kumalasari}
Senja tak menanyakan apapun, karena merasa bahwa sopir itu pasti sudah dipesan baik-baik oleh Rosa, untuk mengirimkan beras itu ke alamat yang sudah dipastikan.
Tapi Senja merasa aneh ketika mobil itu melalui jalan yang bukan semestinya.
“Pak, kenapa lewat sini? Harusnya perempatan tadi kita belok kanan, bukan terus. Bapak sudah tahu alamatnya non Rosa bukan?”
“Ya, tentu saya tahu Mbak, tapi non Rosa menyuruh meletakkan beras ini di sebuah alamat yang lain, bukan alamat rumah non Rosa.”
“Lhoh, aku kan harus minta uangnya pada non Rosa? Apa non Rosa menunggu di alamat ini?”
“Pastinya begitu Mbak, saya kan tidak bohong. Ini memang atas perintah non Rosa,” kata sopir itu enteng.
“Saya tidak tahu, soalnya sepengetahuan saya, non Rosa meminta agar beras ini dikirim ke rumah non Rosa. Saya sudah tahu alamatnya, tidak melewati jalan ini.”
“Iya, perintahnya tadi ke alamat yang ini. Mbak diam saja deh, yang penting sampai di tujuan.”
“Maaf Pak, tapi saya memikirkan pembayaran beras yang dikirim ini.”
“Kalau non Rosa sudah memerintahkan begitu, pastinya sudah diperhitungkan tentang pembayarannya.”
“Masih jauhkah? Soalnya kalau jauh saya nanti kejauhan pulangnya. Tahu begini tadi saya tidak usah ikut, besok saja saya menagih uangnya di rumah.”
“Mengapa Mbak meragukan non Rosa? Dia orang kaya, masa mau menipu Mbak.”
“Bukan masalah menipu uang. Saya memikirkan kesulitan saya pulang.”
“Nanti saya antarkan pulang, Mbak jangan khawatir.”
“Saya tidak mau. Kemarin saya sudah bilang kalau setelah menerima uangnya saya akan pulang sendiri.”
“Ya sudah, mbak. Tenang ya, sudah dekat kok. Setelah tikungan itu, belok kiri, lalu sampai.”
“Apa non Rosa ada di sana?”
“Pastinya iya, saya tidak tahu pasti.”
Tiba-tiba Senja merasa gelisah. Daerah ini tidak dilewati angkutan kota. Harus berjalan agak jauh. Ia kesal pada Rosa, susah amat pelayanannya.
“Nah, kita hampir sampai,” kata sopir colt itu sambil tersenyum, dan tiba-tiba juga Senja tidak suka melihat senyum itu.
Sopir itu menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah kecil. Rumah itu pintunya tertutup rapat, tampak sepi.
“Kita sudah sampai.”
“Apa non Rosa ada di dalam?”
“Pastinya iya, saya hanya disuruh mengirim kemari,” kata sopir itu sambil turun dari mobilnya.
Senja ikut turun. Ia melihat rumah sepi itu, dan merasa tidak yakin kalau Rosa ada di rumah itu.
Senja bermaksud pergi saja dari sana dan pulang. Masalah pembayaran bisa ditagih besok. Ia tak mau kelamaan di tempat itu, yang disekelilingnya tampak sepi.
“Eh, Mbak, mau ke mana?”
“Saya pulang saja Pak, masalah uang besok saya tagih ke rumah non Rosa saja.”
“Jangan Mbak, siapa tahu non Rosa ada di situ, ayo masuk dulu, sementara saya mengangkut beras ini ke dalam,” kata sopir itu sambil membuka jok belakang, untuk mengambil berasnya.
“Nggak Pak, saya pulang saja.”
“Nanti saya antar.”
“Tidak usah, biar saya pulang sendiri.”
“Ada apa?” suara itu mengejutkan sopir dan juga Senja sendiri, yang kemudian berteriak senang.
“Mas Arka, saya ikut mobil mas Arka ya, saya mau pulang,” katanya sambil mendekati Arka. Sopir itu tampak kebingungan.
“Ada apa sebenarnya? Kamu mengirim beras kemari? Kamu menyewa mobil terbuka ini untuk mengirim pesanan?”
“Bukan Mas, ini beras pesanan non Rosa. Tadinya saya kira harus saya kirim ke rumah non Rosa. Ternyata kemari.”
“Sudah dibayar?”
“Belum. Itu sebabnya saya ikut mengirim, karena non Rosa bilang berasnya akan dibayar setelah dikirim.”
“Rosa ada di situ?” tanyanya kepada sopir colt yang siap menaruh karung beras dipunggungnya.
“Saya tidak tahu Pak. Saya hanya disuruh mengirim kemari.”
“Ini colt bapak?”
“Saya cuma sopir.”
“Pesanan siapa?”
“Pesanan non Rosa. Tapi saya tidak tahu non Rosa ada di mana. Tugas saya membawa beras dan penjualnya ke alamat ini. Siapa tahu non Rosa ada di dalam.”
“Ya sudah, mbak penjual beras ini akan meninggalkan berasnya di sini, dan dia akan pulang. Ya kan Nja?” katanya kemudian sambil menatap Senja.
“Ya, akan saya tinggal saja, besok saya tagih ke rumahnya, tidak apa-apa."
“Baiklah, ayo aku antar pulang. Maaf ya Pak, berasnya akan ditinggal saja di sini, besok uangnya tinggal ditagih di rumah,” katanya sambil memberi isyarat kepada Senja agar mengikutinya ke mobil.
Mobil itu berlalu, sopir itu menatapnya dengan bingung.
***
“Lain kali kalau ada yang pesan, uangnya diminta dulu, bukan seperti ini caranya.”
“Soalnya kan aku sudah kenal non Rosa, sudah pernah memesan juga walau baru sedikit waktu itu.”
“Ini tadi pesan berapa?”
“Satu kwintal.”
“Uangnya banyak, sejuta lebih kan?”
“Iya sih.”
“Jangan mau mengirim kalau uangnya belum dibayarkan.”
Senja diam. Menurutnya, sungkan berkata begitu, kepada orang yang sudah dikenalnya. Lagipula dia kan sudah tahu rumahnya, dan jelas dia orang berada. Senja ingat ketika ibu Rosa membayar berasnya lebih dan tak mau menerima kembaliannya. Bukankah mereka orang baik?
“Bagaimanapun cara pengiriman seperti ini membuat kamu susah. Tidak terpikirkan bagaimana kamu pulang, sementara kamu tidak membawa sepeda?”
Senja masih diam, yang terbayang olehnya hanyalah rasa sungkan.
“Kita ke rumah Rosa saja."
“Non Rosa mungkin ada di sana tadi.”
“Kalau begitu mengapa kamu tergesa pulang tidak menunggu ketemu dengan dia?”
“Nggak tahu kenapa, perasaanku tidak enak. Mungkin karena memikirkan pulangnya aku setelahnya.”
“Ya sudah kita ke rumahnya saja, siapa tahu ibunya mau membayar pesanan berasnya,” kata Arka yang kemudian membelokkan mobilnya ke arah rumah Rosa.
***
Bu Daryono heran melihat Rosa menelpon seseorang dan kelihatan kalau dia marah. Ia mendekat dan Rosa segera menutup telponnya setelah mengatakan bahwa besok tidak boleh gagal lagi.
“Ada apa?” tanya bu Daryono tiba-tiba, membuat Rosa agak terkejut.
“Oh, Mama … tidak apa-apa Ma.”
”Kamu kelihatan memarahi seseorang. Ada yang gagal segala. Urusan apa itu?”
“Itu Ma, Rosa menyuruh orang mengambil beras pesanan untuk teman, dia tidak tahu alamatnya, jadi Rosa marahi dia.”
“Kamu pesan beras lagi?”
“Untuk … itu Ma, teman Rosa.”
“Pesan ke gadis itu? Siapa namanya? Ah ya, Senja?”
“Iya. Rosa kasihan, dia itu miskin, dan sedang membuka usaha jualan beras, sudah sepantasnya Rosa membantu kan, jadi teman Rosa yang punya kantin, Rosa suruh pesan berasnya pada dia juga.”
“O, begitu.”
Tiba-tiba bu Daryono melihat sebuah mobil berhenti di halaman.
“Bukankah itu mobil Arka?”
Rosa berdebar. Tadi dia sudah mendapat laporan dari pengemudi colt yang disewanya untuk mengirim beras, katanya ada yang menjemput Senja, laki-laki muda ganteng, membawa mobil. Bayangannya memang Arka. Dan kedatangannya membuat Rosa harus menjawab atau mengemukakan alasan tentang pengiriman beras itu.
“Arka, sudah pulang kantor?” sapa bu Daryono ramah.
“Iya, Tante. Saya sedang mengantarkan Senja untuk_”
“Oh ya, aku sudah tahu, aku akan membayar berasnya sekarang,” kata Rosa sambil membalikkan badannya masuk ke rumah.
“Senja, kemari, jangan berdiri di situ,” sapa bu Daryono ketika melihat Senja hanya berdiri di samping mobil, tampak sungkan.
“Rosa memesan beras lagi?”
“Iya, Nyonya.”
“Kok nyonya lagi, kan aku sudah meminta agar kamu panggil aku bu saja."
”Iya," Senja tersenyum, dan senang atas keramahan ibunya Rosa terhadap dirinya.
“Arka ajak Senja masuk. Atau duduk di teras saja kalau tidak mau masuk.”
“Saya mengantarkan Senja hanya untuk meminta uang beras pesanannya.”
“Iya, katanya itu untuk temannya, tampaknya ia sedang mengambilkan uangnya.”
“Ini, uangnya, Senja. Sebenarnya tadi teman aku yang akan membayarnya, tapi kamu pulang buru-buru, jadi tak apa aku yang membayarnya dulu.”
“Terima kasih, Non.”
“Aku itu kan kasihan kalau melihat orang miskin, jadi aku suruh temanku kalau butuh beras beli ke kamu saja.”
Arka sangat kesal, berkali-kali Rosa menyebutnya miskin.
“Rosa, cara kamu berbicara kasar sekali,” tegur sang ibu.
“Tidak apa-apa Bu, memang kami keluarga miskin,” kata Senja enteng, tak tampak tersinggung.
Tiba-tiba ponsel Rosa berdering, Rosa mengangkatnya dengan wajah muram.
“Telpon nanti saja," lalu Rosa menutup ponselnya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdullulah bunda cerbungnya sdh tayang .slm seroja dan sll aduhai unk bunda ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien
Semoga Bu Tien sekeluarga sehat selalu
Duwun mb Tienπ
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda . Sehat sehat slalu beserta keluarga tercinta.
ππ«ππ«ππ«ππ«
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eNTeeS_26 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
ππ«ππ«ππ«ππ«
Alhamdulillah....
ReplyDeleteeNTeeS_26 sampun tayang.
Matur nuwun mbak Tien.....
Sugeng dalu.
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.
Alhamdulillah senja telah hadir, Rosa sebagai antagonis, .....semoga segera terkuak keasliannya bukan anaknya pak Daryono,.... maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ π
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Nah kan untung ada arka yg mengikuti
Jadi senja lolos dari rencana rosa
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 26 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah NTS sudah tayang , hatur nuhun bunda , semoga bunda dan keluarga selalu sehat π€²π€²
ReplyDeleteAlhamdulillah, mtr nwn bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAlhamdulillah bun NTS 26 sdh tayang .....selamat mlm selamat istirahat
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,26 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulilah, maturnuwun cerbung kesayangan sdh tayang .... semoga ibu Tien sll sehat bahagia dan ceria . Salam sehat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteRencana jahat Rosa gagal.... Terimakasih bunda Tien, tetap semangat, bahagia dan sehat selalu...
ReplyDeleteJahatnya Rosa...mau menjebak Senja. Makin ketahuan belangnya deh...π¬
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien. Salam sehat selalu.ππ»πΉ
Terima kasih Bu Tien, semoga Ibu tetap sehat2 agar terus berkarya
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Tugiman
DeletePlan A tak gagal. Apa Plan B?
ReplyDeleteTerima kasih prof
Delete