NAMAKU TETAP SENJA 18
(Tien Kumalasari)
Senja sudah sampai di hadapan ‘tamu’ cantik tadi, lalu mengangguk hormat.
“Maaf Nona, Nona mencari siapa?”
“Mbok Mangun ada?”
Senja terkejut. Simboknya dicari perempuan cantik yang tampaknya bukan gadis sembarangan ini? Apa simboknya membuat kesalahan?
“Maaf Nona, simbok belum pulang dari menjajakan beras. Tapi ada keperluan apa ya, Nona mencari simbok? Apa simbok melaukan kesalahan? Atau....”
“Tidak, aku hanya ingin membeli beras.”
Senja menghempaskan napas lega, sangat lega karena ada orang kaya lagi ingin membeli beras.
“Oh, ya ampun, saat ini yang ada hanya beras wulu, cukup enak dan pulen, tapi tidak wangi.”
“Saya pesan yang wangi, pulen, sepuluh kilo saja.”
“Baiklah, nanti saya bilang simbok, biar besok disediakan yang seperti pesanan Nona.”
“Masih besok ya?”
“Besok Nona, karena persediaan seperti yang Nona pesan tidak sedia, baru besok disiapkan. Nanti setelah ada, saya kirimkan ke rumah Nona. Berikan saja alamatnya.”
“Kamu sendiri yang mengirimkan?”
“Tidak apa-apa, saya bisa mengirimkannya. Nona berikan saja alamatnya.”
Tamu itu, yang adalah Rosa, mengangguk.
"Saya duduk di mana ini, dari tadi di suruh berdiri,” tegurnya tak senang.
“Maaf Nona, kami tidak punya kursi, silakan duduk di bangku itu,” kata Senja yang tanpa rikuh mengatakan apa yang mereka punya.
“Huuh, bersih tidak bangkunya itu?”
“Sangat bersih Nona, kami selalu duduk di situ.”
“Kalian duduk di situ tidak apa-apa, bajuku ini baju mahal, kalau terkena kotoran bagaimana?”
“Mau bagaimana lagi Nona. Adanya cuma itu.”
“Ya sudah, nggak pake duduk. Ini kartu namaku dan alamatnya, bisa baca tidak?”
Walau tak suka, Senja tetap menanggapinya dengan senyum.
“Tentu saja saya bisa, saya juga sekolah,” katanya sambil menyembunyikan kekesalannya dibalik senyuman.
“Ya sudah, pokoknya aku pesan sepuluh kilo, kirimkan ke alamat itu, jangan lupa besok dikirim.”
“Dikirim agak siang ya Non, sepulang saya dari sekolah.”
Rosa membalikkan tubuh menuju mobilnya sambil berpikir. Di mana dia pernah melihat wajah itu.
“Sepertinya aku pernah melihat dia, di mana ya, kok lupa aku.”
Sjampai kemudian dia menjalankan mobilnya, belum juga diingatnya siapa gadis itu dan di mana dia pernah melihatnya.
***
“Jadi wanita kaya itu tadi kemari mau memesan beras pada simbok?” tanya Rimba yang sudah membersihkan piring kotornya.
“Iya, besok disuruh mengirim ke alamatnya.”
“Di mana alamatnya?”
“Ini, mbak dikasih kartu nama. Perumahan orang-orang kaya.”
“Beruntung sekali simbok mendapat langganan orang-orang kaya. Dari mana ya mereka tahu kalau di sini rumahnya simbok?”
“Tadi aku ingin bertanya begitu, tapi nggak jadi. Agak kesal mendengar bicaranya yang penuh kesombongan.”
“Mengatakan bahwa dia kaya?”
“Bukan berkata bahwa dia kaya sih, tapi dia tidak mau duduk di bangku depan rumah itu, takut bajunya kotor.”
“Wah, sombong amat.”
“Ya sudah, biarkan saja. Memang kita tidak punya kursi untuk tempat duduk tamu. Kalau mau duduk ya silakan, kalau tidak mau ya bagaimana lagi.”
“Padahal mas Arka itu kan juga orang kaya kan? Dia tidak keberatan duduk di bangku kayu itu, malah duduk di tikar makan bersama kita juga mau.”
“Manusia itu kan macam-macam Mba, ada yang baik, ada yang tidak. Kalau kita tahu bahwa itu tidak baik, ya jangan ditiru. Siapa tahu besok kamu jadi orang kaya, jangan pernah menyombongkan kekayaan kamu. Kamu harus tetap santun dan menghormati setiap orang.”
“Aamiin, doakan Rimba kelak jadi orang kaya ya Mbak, nanti simbok aku belikan rumah yang bagus, yang ada kursi-kursinya untuk tamu, yang tempat tidurnya berkasur empuk. Pokoknya semua bagus. Nanti kamar Mbak dan kamar simbok juga kamarku juga harus beda, setiap orang satu dan bagus semua,” Rimba berkhayal, membuat Senja terkekeh lucu.
“Semoga Allah mengijabah keinginan kamu ya Mba. Tapi yang penting kamu belajar dulu yang bagus, jadi anak pintar, jangan dulu berkhayal tentang kekayaan, karena kaya dan miskin itu Allah yang memberikannya, dan manusia itu kaya atau miskin sama saja dimata Allah. Yang penting adalah amalannya.”
“Mbak sudah seperti Ustazah saja.”
“Lho, di sekolah kita juga diajarkan tentang semua itu kan?”
”Ada apa ini, ramai benar,” kata Simbok tiba-tiba, sambil meletakkan capingnya di atas bakul yang sudah kosong.
“Sampai tidak tahu kalau Simbok pulang.”
“Kalian sudah makan?”
“Sudah Mbok, mbak Senja yang belum. Tadi baru sedikit, katanya mau menemani Simbok makan.”n
“Oh, ya sudah, simbok bersih-bersih badan dulu, makanannya masih ada kan?”
“Ya masih Mbok, untuk Simbok selalu ada makan.”
***
Simbok heran mendengar ada perempuan kaya memesan beras kepadanya.
“Kok aneh, dari mana dia mengenal simbok?”
“Nggak tahu, Senja nggak banyak nanya, kelihatannya dia tergesa-gesa.”
“Berasnya mau diambil kemari?”
“Di suruh ngirim, besok kalau sepulang sekolah sudah ada berasnya. Senja yang mau ngirim kepada pemesan itu. Eh, ini di kartu ada namanya kok...Rosa Ayudya.”
“Namanya bagus.”
“Tapi kelakuannya nggak bagus Mbok," sela Rimba yang langsung dipelototi kakaknya.
“Nggak bagus bagaimana?”
“Nggak mau duduk di bangku kita itu, katanya nanti bajunya kotor,” sambung Rimba.
“Ya sudah, biarkan saja, memang kita punyanya bangku seperti itu, mau bagaimana lagi. Nggak apa-apa kalau nggak mau duduk. Ya kan? Tadi pesan berapa, di belakang masih ada kan berasnya?”
“Dia minta yang wangi yang pulen. Jadi Simbok besok harus membelikan dulu.”
“O, baiklah, sudah dibayarkah?”
“Belum. Simbok punya uang tidak untuk beli beras pesanan nona kaya itu?”
“Ada, kalau hanya sepuluh kilo. Tak apa-apa, besok simbok belikan dulu. Sedikit atau banyak, namanya rejeki harus disyukuri. Tapi simbok masih heran, bagaimana dia tahu tempat ini?”
“Dia malah tahu siapa nama Simbok lho.”
“Mbok Mangun, begitu?”
“Iya Mbok. Tapi ya mungkin dikasih tahu oleh tetangga-tetangga. Yang membuat Senja heran, dia itu rumahnya jauh, kok susah-susah beli kemari, apa di pasar dekat rumah tidak ada yang jual beras?”
“Iya juga sih, tapi nggak apa-apa Nduk, kita ladenin saja, namanya pelanggan. Semoga dia terus menjadi pelanggan kita. Itu kan rejeki.”
“Benar Mbok.”
***
Siang sepulang sekolah, Senja sudah menanyakan beras pesanan Rosa. Ia senang berasnya sudah ada.
“Tapi kamu harus makan dulu Nja, pulang sekolah pasti capek dan lapar.”
“Nanti dia kelamaan menunggu, bagaimana?”
“Cuma pesan beras saja, kelamaan sedikit tidak apa-apa. Kamu tidak boleh pergi mengirim beras kalau tidak makan dulu.”
“Baiklah Mbok, Senja makan dulu.”
“Makanlah dulu, berasnya akan simbok siapkan di boncengan kamu.”
“Biar nanti aku saja Mbok, nanti berat, bagaimana?”
“Kamu itu kok lupa, setiap hari simbok menggendong beras berkilo-kilo, ini cuma sepuluh kilo,” kata Simbok sambil tersenyum.
“Iya sih, tapi Senja sendiri kan bisa.”
“Kamu ganti baju dulu sana, terus makan, biar simbok yang urus berasnya. Nanti kamu selesai makan, berasnya pasti sudah ada di boncengan sepeda kamu.”
Senja mengangguk, lalu beranjak ke belakang.
Mbok Mangun segera mengangkat berasnya ke boncengan sepeda Senja, lalu mengikatnya kencang.
“Nah, begini kan beres, nanti Senja habis makan tinggal berangkat,” gumam mbok Mangun senang.
***
Senja mengayuh sepedanya sambil membawa berasnya, tapi sungguh sial, ditengah jalan ban sepedanya gembos.
“Waduh, di mana ya tukang tambal ban sepeda?”
Senja menuntun sepedanya yang tentu saja terasa berat, berbeda kalau dia membawa bawaannya dengan sepeda.
Keringat membasahi dahinya dan bahkan seluruh tubuhnya.
Ia bersyukur karena dua puluhan meter di depannya ada tukang tambal ban. Agak cepat dia berjalan sambil menuntun, dan merasa lega ketika akhirnya tiba di tukang tambal ban itu.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti.
“Senja,” teriak pengendara mobil itu sambil melongok dari jendela mobilnya.
Senja menoleh, dan diam-diam membatin, mengapa dia sering sekali bertemu dengan tuan muda ganteng yang baik hati itu.
Senja tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah sepeda yang sudah dipegang oleh tukang tambal itu.
“Bocor ya? Kamu mau mengirim beras? Ke mana?”
“Ada alamatnya nih,” katanya sambil mengulurkan kartu nama pemberian Rosa.
“Biar aku antar saja, sementara sepeda kamu digarap oleh tukangnya,” kata Arka sebelum membakca kartu nama yang diberikan Senja.
“Jauh tuh?” kata Senja.
Arka baru membaca kartu nama itu dan terkejut.
“Apa?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdilillah...
ReplyDeleteSelamat mlm bunda.....mks NTS 18 sdh tayang,.....sehat² ya bun
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Salam sehat. Slalu
🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
ReplyDeleteAlhamdulillah 🦋💐
Cerbung eNTeeS_18 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja 😍
🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
Alhamdulillah makasih NTS sudah tayang , semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲
ReplyDeleteAlhamdulilah bu Tien ...cerbung kesayanganku sampun tayang ... smg bu Tien sll sehat dan bahagia salam aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien bersama keluarga selalu sehat, aamiin.
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteSuwun mb Tien 🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,18 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah, mtrnwn Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah....trima kasih bu Tien. Salam Seroja....ADUHAI...Hai
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 18 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAkhamdullula cerbung sdh tayang .slmt mlm dan slm serooja unk bunda🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteAssalamualaikum
ReplyDeleteTrimakasih bunda Tien, yg kutunggu telah hadir kembali
Mas Arka baik banget...mau mengantar Senja Salam sehat selalu ibu Tien tetap semangat mencari ide yg luar , 👌