NAMAKU TETAP SENJA 19
(Tien Kumalasari)
Senja heran, melihat Arka memelototi kartu tersebut.
“Ayo mas, jadi ngantar nggak, kalau jadi aku harus berterima kasih, karena takut kelamaan ngirimnya. Tapi kalau enggak ya mau bagaimana lagi, aku harus menunggu ban sepedaku selesai ditambal."
“Ayo naik,” kata Arka pada akhirnya, sementara Senja berpesan pada tukang tambal ban itu, bahwa sepeda akan diambil setelah ia menyelesaikan tugasnya.
Senja masuk ke mobil, Arka duduk di belakang kemudi, setelah memasukkan karung beras ke dalam bagasi mobil, sambil masih membawa kartu itu. Senja memintanya.
“Mana Mas, biar nanti lain kali kalau harus mengirim ke situ lagi tidak lupa.”
“Dapat dari mana kamu kartu ini?”
“Ya dari orangnya dong Mas, masa aku nemu di jalan?”
“Maksudku kamu mengenalnya di mana?”
“Dia datang ke rumah, pesan beras sepuluh kilo.”
“Sudah dibayar?”
“Belum.”
“Nggak usah dikirim saja.”
“Eh, sembarangan. Nggak bisa begitu, sudah janji harus ditepati. Sudah bagus ada orang mau membeli berasnya simbok, bukankah aku harus berterima kasih? Memangnya kenapa Mas ngomong begitu? Kalau beras simbok laris, dia akan bisa membayar hutangnya pada rentenir itu,” katanya pelan, tapi tentu saja Arka mendengarnya.
“Jadi benar, simbok berhutang pada pak RT?”
Senja sangat terkejut. Ia keceplosan bicara. Padahal simbok saja tidak tahu kalau Senja mengetahui tentang hutang itu.
Arka menatap Senja yang wajahnya pucat, tanpa mau menjawab.
“Maaf Mas,” akhirnya kata Senja lebih pelan dari sebelumnya.
“Katakan saja.”
“Tidak, sudah ayo kita langsung mengirim berasnya itu. Tidak boleh tidak, karena aku sudah janji. Bukankah janji harus ditepati?” kata Senja sambil mengalihkan perhatian Arka pada ucapannya yang kelepasan.
“Kamu sudah mengenal dia sebelumnya?”
“Baru sekali itu melihatnya. Nggak tahu kenapa tiba-tiba dia datang lalu memesan beras. Aku juga lupa nggak nanya. Aku tahu namanya juga setelah dia memberikan kartu nama itu.”
“Rosa memang bilang akan ikut membeli beras, tapi aku tidak pernah mengatakan ke mana dia harus membeli. Bagaimana dia tiba-tiba bisa tahu rumah mbok Mangun?” kata batin Arka.
“Mas tadi kelihatan terkejut. Mengenal nama itu?”
“Aku sudah kenal dia.”
“O, pacar?”
“Tidaaaak. Aku tidak punya pacar. Hanya kenal saja.”
“Ya sudah, kalau begitu mengapa Mas meminta aku membatalkan pesanan ini?”
“Kan belum bayar?”
“Ya nggak bisa begitu, barangnya belum ada, dibayar belakangan juga tidak apa-apa. Nanti simbok batal dapat untung dong.”
Arka tersenyum. Senja ini masih sangat muda, bahkan kalau Arka bilang dia itu masih kanak-kanak. Tapi cara pikirnya sangat luar biasa. Dia juga tidak memikirkan dirinya sendiri, dan sangat peduli kepada orang tua. Ia juga pasti sedih memikirkan simboknya yang punya hutang. Sayang sekali dia tidak mau berterus terang. Mungkin malu, mungkin dianggapnya tidak pantas dan menganggap bahwa itu adalah aib orang tua. Entahlah. Arka menatapnya iba.
“Jadi mas sudah tahu di mana rumah pemesan beras ini?”
“Tenang saja, kamu akan segera sampai di tempat tujuan. Lain kali jangan mau mengirim. Kalau butuh suruh dia ambil. Kalau minta dikirim? Jangan mau. Lumayan jauh, cuma beli sepuluh kilo saja.”
Mobil Arka berhenti di sebuah rumah mewah. Sebenarnya dia enggan masuk, tapi tak sampai hati melihat Senja menggendong karung beras itu, apalagi halaman menuju rumahnya lumayan jauh. Jadi Arka membawa mobilnya masuk.
Di depan, dia melihat bu Daryono berdiri di teras. Jadi Arka terpaksa mendekat dulu ke arah ibunya Rosa.
“Kok ada Arka? Tumbenan datang siang-siang. Tidak ke kantor?”
“Saya mengantarkan teman saya. Rosa membeli beras kepada teman saya itu.”
“Oh ya? Rosa beli beras? Aneh, tidak bilang sama mamanya.”
Arka mengambil beras di bagasi, mengusungnya ke teras, di mana bu Daryono berdiri menunggu, sambil berteriak memanggil Rosa.
“Ini siapa?” tanya bu Daryono sambil menatap Senja.
“Nama saya Senja, Nyonya.”
“Panggil saya bu Daryono, jangan nyonya,” kata bu Daryono ramah.
Rosa muncul, dan terkejut melihat Arka. Dia berjingkrak kegirangan, langsung mengembangkan tangannya siap memeluk Arka. Arka mundur ke belakang, menolak rangkulan itu.
Bu Daryono memelototi Rosa yang dianggapnya keterlaluan. Rosa hanya tersenyum.
“Kok kamu kemari siang-siang?”
“Kamu memesan beras?” Arka balik bertanya.
“Lhoh, kamu yang kirim?”
Arka menunjuk ke arah karung yang diletakkan di lantai. Rosa heran. Ia menatap Senja, dan tiba-tiba ingat tentang gadis itu. Bukankah dia yang pernah masuk ke dalam mobil Arka, lalu tak lama kemudian pergi dengan sepeda?
“Kamu kenal dia?”
“Yang sebenarnya katanya teman kamu yang mana? Kakaknya gadis ini?”
“Rosa, kamu terlalu banyak bertanya, cepat dibayar pesanan kamu ini.”
“Berapa?”
Senja memberikan secarik kertas yang ditulisnya sendiri, atas petunjuk simboknya.
Rosa membacanya, lalu memberikan kertas itu pada mamanya.
“Ini, Mama yang bayar dong.”
“Kamu ini ada-ada saja. Arka dan … siapa tadi… Senja ya? Mau duduk dulu sebentar, biar aku ambilkan uangnya.”
“Sudah tante, kami harus buru-buru. Senja baru pulang sekolah, pasti capek.”
“Ya sudah, sebentar ya,” kata bu Daryono sambil masuk kedalam.
Arka menatap Senja yang dari tadi diam.
“Ka, teman kamu kakaknya Senja ini?” tanya Rosa, karena tak mungkin teman Arka adalah gadis itu, yang dianggapnya masih kecil.
“Ya,” bohong Arka, asal jawab agar jangan banyak bertanya.
“Besok kalau habis aku mau pesan lagi ya? Aku orang yang suka menolong orang miskin,” katanya enteng. Arka membuang muka.
“Kalau pesan itu diambil sendiri, jangan suruh ngirim. Jauh tahu,” tegur Arka.
“Kalau kamu mau mengambilkan aku juga senang.”
“Tidak untuk lain kali,” jawab Arka dingin.
“Ini uangnya, kembaliannya kamu ambil saja,” kata bu Daryono sambil tersenyum.
“Tapi … “
“Tidak apa-apa Nak, ambil saja.”
“Kalau begitu kami permisi dulu Tante,” kata Arka sambil menarik lengan Senja, diajaknya ke mobil.
Senja menoleh sambil mengangguk.
“Terima kasih, Nyonya.”
***
“Mengapa kamu beli beras sama dia? Di mana rumahnya?” tanya bu Daryono setelah mereka pulang.
“Lumayan jauh, agak mendekati pinggir kota. Rosa tuh ikut-ikutan Arka, keluarganya beli berasnya ke situ, karena yang jual temannya. Temannya mungkin yang kakaknya gadis itu, mana mungkin Arka temenan sama gadis kecil. Arka ingin membantu agar berasnya laku, lalu Rosa ikut-ikutan.”
“Kebaikan kok ikut-ikutan. Kalau ingin membantu ya harus total membantu. Beli yang banyak lagi, karena kebutuhan kita banyak. Kita kan keluarga besar, ada orang-orang kantor yang dikirim makan dari sini.”
“Nanti Rosa pesan lagi ya Ma.”
"Tapi Mama mau menegur kamu tadi, tiba-tiba mau memeluk Arka? Nggak pantas, tahu.”
“Ma, Arka itu calon suami Rosa, bukan?”
“Kata papa belum tentu. Baru omong kosong. Kamu harus malu, perempuan kelihatan sekali nyosor.”
“Ih, Mama. Mosok aku nyosor?”
“Sikap kamu seperti tadi itu namanya nyosor. Jangan kamu ulangi lagi. Dia saja tidak menanggapi. Mama ikutan malu.”
“Mama kuno banget. Jaman sekarang hal begitu sudah biasa.”
“Mama nggak mau ikut jaman yang bubrah seperti itu. Jangan suka membantah kalau di kasih tahu. Itu kebiasaan yang tidak pantas untuk orang timur seperti kita.”
Rosa mengerucutkan bibirnya, lalu berteriak memanggil bibik agar mengambil karung berasnya.
***
“Nyonya yang tadi itu baik banget ya Mas, ada kembalian lima puluh ribu lebih, tidak mau menerima, apakah aku ini orang yang pantas dikasihani ya?”
“Bukan begitu, orang baik tidak melihat siapa yang harus diberi. Bukan karena kamu pantas dikasihani, tapi dia memang suka memberi. Terima saja. Itu rejeki untuk kamu.”
“Untuk simbok, supaya .…” Senja tidak melanjutkan perkataannya. Tapi Arka tahu ke mana arah tujuan perkataan Senja. Dia tidak mendesak, karena yakin Senja tak akan mau mengatakannya.
Tiba-tiba Arka menghentikan mobilnya di depan rumah mbok Mangun. Senja kaget.
“Lhoh, Mas, sepedaku kan belum diambil. Gimana sih? Mas lupa ya? Aku juga tidak ingat, tahu-tahu sampai di rumah.”
“Kamu tidak usah khawatir, nanti akan ada yang mengirimkan sepeda kamu ke rumah.”
“Siapa?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah tayang gasik
ReplyDeleteSemoga mBak Tien sehat selalu dan selalu sehat.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin π€²π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulillah,senja hadir agak sore, maturnuwun Bu Tien πsemoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta........betul kata ibu Rosa, seorang wanita hrs menghargai dirinya sendiri....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_19
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
Suwun mb Tien π
ReplyDeleteAlhamdulilah , maturnuwun bu Tien swnja kesayangan sudah tayang ...sehat selalu ya bun dan salam aduhai aduhai ...❤️❤️❤️
ReplyDeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteAlhamdulillah, yg di tunggu sdh tayang
Baca sambil senyum senyum, si Senja yg polos dan lucu, mas Arka jadi jatuh cinta .
Sehat sll bunda Tien. Di tunggu cerita yg akan datang π₯°ππ€
Matur suwun bu Tien salam sehat utk keluargaπ
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah.... tayang lebih cepat, cerbung NTS~19, terimakasih bunda Tien, tetap semangat, sehat dan bahagia selalu.... Aduhaaii
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteUdah tayang. Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta
Alhamdullilah..trima ksih bunda cerbungnya..slm seroja unk bunda π❤️πΉπ₯°
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang,mksh Bu Tien,smg sekeluarga sll diberikan kesehatan
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,19 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 19 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteDialognya bagus.
ReplyDeleteHoree.. tidak diomelin..
DeleteAlhamdulillah NTS sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda ππ