Monday, June 8, 2026

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SEORANG PUTRI KECIL 003

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  003

(Tien Kumalasari)

 

Menur menghentikan langkahnya. Ada desiran aneh yang mengiris dadanya. Tatapan mata itu. Tapi mobil itu tidak berhenti. Ia memasuki rumah besar bertingkat, rumah Ana.

Menur mempercepat langkahnya. Ia melewati rumah itu, tak berhenti.

Ana kecil berdiri di teras, menunggu penumpang mobil mewah itu berhenti, lalu ia berteriak.

“Papa!”

Sang papa tersenyum. Ia memberikan sebuah boneka besar yang semula digendongnya. Boneka beruang yang disukai sang putri.

“Ini untuk Ana,” katanya sambil tersenyum. Tapi ia tak berhenti untuk memeluknya. Barangkali tak punya rindu yang biasanya tertahan ketika lama tak bertemu orang yang dikasihinya. Ana tak merasakan apa-apa. Pertemuan demi pertemuan ketika ayahnya pulang, tak pernah memberikan kesan. Hanya sebuah pemberian, tanpa pelukan. Ana menggendong boneka itu dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelahnya lagi membawa sebuah kotak makanan, yang akan diberikan kepada bibi Menur. Ia meletakkan boneka besar di sebuah kursi yang ada di teras, lalu melangkah turun.

Sang ayah yang hampir memasuki pintu menoleh ke arahnya.

“Ana mau ke mana? Itu membawa apa?”

“Ketemu teman Ana,” katanya sambil terus melangkah keluar.

“Rumi! Awasi dia.” kata sang ayah berteriak kepada Rumi, yang semula membantu mendorong kopor sang tuan masuk ke rumah.

“Baik, Tuan.”

Ana sudah keluar dari gerbang. Berdiri sambil terus menatap ke arah kiri dan kanan. Tapi ia tak melihat bayangan orang yang dicarinya.

“Non, dia tidak harus selalu melewati tempat ini. Namanya juga pengais sampah. Dia bisa saja ke mana-mana. Ayo masuk,” bujuk Rumi.

“Dia sudah berjanji.”

“Buktinya dia tidak datang.”

Ana bergeming. Ia tetap berdiri dan melihat ke kiri dan ke kanan. Tangan yang memegang kotak makanan sudah berkeringat, dahinya juga berkeringat, karena panas matahari mulai menyengat.

“Dia kan sudah berjanji,” keluhnya.

Agak jauh di seberang taman itu, Menur menatap gadis kecil itu dari balik batang sebuah pohon besar, dengan iba. Ia merasa, pasti Ana mengiranya berbohong. Bukan maksud Menur untuk berbohong. Ia sedikit terguncang melihat wajah tampan yang tadi melongok dan menatapnya tajam. Ia tidak bisa melupakannya. Ada sesuatu yang terjadi, teramat manis tapi juga teramat menyakitkan. Lalu ia membencinya, dan berharap tak akan bertemu lagi selamanya. Seorang laki-laki penunggang kuda terjatuh di dekat rumahnya. Ia menolongnya, dan membawanya ke rumah. Berhari-hari dirawat, membuat penunggang kuda itu jatuh hati. Menur bukan perempuan gampangan. Kalau cinta ia minta dinikahi. Kalau tidak, jangan sampai dia berani menyentuhnya. Dan laki-laki itu memenuhi keinginannya.

Ada benih yang diteteskannya dalam sebuah pernikahan siri. Tapi kemudian dia pergi begitu saja. Pertemuan itu seakan tak membuatnya berkesan. Menur hanyalah sebuah pelampiasan. Pernikahan siri tidak di dasari cinta kecuali hanyalah nafsu. Menur anak pak lurah yang cantik, akhirnya pergi  dan terlunta-lunta ketika gagal memburu cinta. Benih itu menjadi segumpal raga kecil yang bersemayam di rahimnya. Lalu ia dinikahi seorang penarik becik yang baik hati. Ia mencoba menjalani hidup dan berbahagia karena ada yang memperhatikan. Tapi semua itu tak lama. Ketika benih itu terlahir, suaminya yang baik hati dipanggil Yang Maha Kuasa dalam sebuah kecelakaan.  

Ia sudah berada jauh dari kota asalnya, mengembara dan menyusuri jalan demi mengais nafkah demi sang anak.

Seorang pengendara sepeda motor melemparkan botol kosong di dekatnya. Menur tersadar dari lamunan, memungut botol itu lalu memasukkannya ke dalam karung di punggungnya. Sekali lagi ia menatap ke arah gadis kecil yang masih berdiri kepanasan di depan gerbang rumahnya.

Rasa haru menyergapnya, membuat air matanya menitik.

“Apakah Ana adalah anak Baroto?

Ana masih berdiri di depan gerbang rumahnya. Peluh mulai menetes dari dahinya, karena panas matahari yang menyengat tak dihiraukannya.

Rumi menatapnya kesal. Dia sendiri merasa kepanasan, tapi majikan kecilnya seakan tak merasakannya.

“Non, sudah Non, ini sudah kelewat siang. Pengais sampah itu tak akan lewat, percayalah.”

“Tapi dia sudah berjanji. Bukankah janji harus ditepati?”

“Seorang rendahan tidak akan peduli pada janji. Non harus percaya itu.”

“Bibi Menur bukan orang rendahan,” sentaknya kesal.

“Nyatanya dia tidak datang, mengapa Non mempedulikannya?”

Ana melongok lagi ke arah yang agak jauh. Ia melihat bayangan di seberang taman, tapi bayangan itu kemudian menghilang dibalik batangnya yang besar.

“Pasti bukan dia,” keluhnya.

“Non, tuan baru saja datang, mengapa Non tidak menemuinya? Pasti banyak oleh-oleh yang dibawanya. Nyonya juga pasti sedang menyambut kedatangannya dengan suka cita.”

Ana masih bergeming.

“Oh ya, hari ini saatnya sekolah bukan? Non belum siap-siap, bagaimana kalau ibu guru datang?”

Ana mengeluh. Keringat sudah meleleh di sepanjang pipinya. Ia kemudian membalikkan badannya, lalu masuk ke rumah dengan wajah muram. Rumi tersenyum senang, mengikutinya dari belakang.

“Rumi, kamu bawa ke mana Non Ana?” tegur nyonya Baroto, sang ibunda Ana yang sedang melayani suaminya di ruang keluarga.

“Bukan saya Nyonya, Non Ana sendiri yang mau keluar.”

“Kamu bawa apa Ana?” tanya Baroto.

“Makanan, untuk temanku,” katanya sambil berlalu.

“Mana boneka beruang yang papa berikan tadi?”

“Oh, ketinggalan di teras,” katanya enteng dan terus masuk ke kamarnya.

Rumi berbalik ke teras dan mengambil boneka itu.

“Siapa teman Ana?”

“Seorang pengais sampah,” jawab Rumi takut-takut.

“Pengais sampah?” nyonya Baroto berteriak.

“Iya, Nyonya. Entah mengapa, sejak kemarin Non Ana selalu menemui dia.”

“Bagaimana cara kamu mengasuh Ana sehingga dia bisa berbuat semaunya?” tegur sang nyonya majikan dengan kening berkerut.

Rumi menundukkan kepala. Ia sudah menduga akan mendapat amarah kalau sang nyonya mendengar kelakuan Ana. Tapi tadi mereka meihatnya sendiri, tak bisa tidak, Rumi harus mengatakannya.

“Saya sudah mengingatkannya. Non Ana tidak mau mendengarnya,” jawabnya pelan.

“Bagaimana caranya, jangan sampai Ana berbuat semaunya. Dia tidak bisa bergaul dengan sembarang orang, apalagi seorang pemungut sampah. Pasti kotor dan bau.”

Rumi mengangguk pelan. Kalau saja sang nyonya tahu bagaimana Ana berpelukan dengan pemulung bau itu, barangkali kemarahan sang nyonya akan lebih dahsyat. Karena itu dia tidak mengatakannya.

***

Ana sudah berada di dalam kamarnya, wajahnya muram. Tak ia tak ingin memarahi bibi Menur, karena ia bisa mengerti, pasti ada sesuatu yang membuatnya tidak datang. Ia lebih kesal melihat sikap kedua orang tuanya, yang sama sekali tak ingin memeluknya. Memanggilnya agar mendekatpun tidak. Ana sangat merindukan pelukan itu. Ana tak ingin banyak mainan dan dimanjakan. Ana hanya ingin dipeluk dan disayang. Diam-diam meneteslah air matanya.

Rumi masuk ke kamar, meletakkan boneka beruang itu di atas tempat tidur Ana.

“Jangan taruh di situ!” teriak Ana. Ia sama sekali tak suka pada pemberian itu.

Rumi mengambilnya, lalu meletakkan di atas almari mainan yang tertutup kaca, di mana berderet berluluh boneka di dalamnya.

“Non, bersiap ya, sebentar lagi ibu guru datang.”

Ana tak menjawab. Ia membiarkan saja Rumi mengelap keringatnya, dan siap mengganti bajunya yang juga basah oleh keringat.

***

Menur melangkah pulang ketika saatnya Rahman pulang dari sekolah. Ia sudah menyiapkan nasi dan lauk yang dibelinya, karena dia pulang agak kesiangan. Ia tak ingin Rahman marah, ketika dia pulang dan makanan belum tersedia. Tentu dengan sebutir telur, lauk kesayangannya.

Ketika Rahman pulang, sang ibu sudah menyambutnya dengan senyuman. Makan siang untuk anak kesayangan sudah siap di meja.

Setelah mengganti pakaiannya, Rahman segera duduk di depan meja makan.

“Bu, besok orang tua harus ke sekolah ke sekolah untuk mengambil rapot.”

“Harus orang tuanya? Biasanya kamu bisa menerimanya sendiri?”

“Mulai sekarang harus orang tua yang datang, tapi bisa diwakilkan. Besok kalau ibu datang, jangan bilang kalau Ibu adalah ibu saya ya?”

“Apa maksudmu? Jadi aku harus bilang apa?”

“Bilang saja ibu adalah pembantuku.”

“Apa?”

“Aku malu Bu.”

***

Besok lagi ya.

4 comments:

  1. Alhamdulilah
    Yang ditunggu tunggu udah nonghol. Udah tayang episode yg ke 3. Terimakasih Bunda. Sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak..
      Kemarin karena banyak kesibukan lupa.

      Delete
  2. Alhamdulillah..dah tayang cerbung Seorang pengais sampah dan seorang putri kecil 03 terima kasih bunda smoga sht2 sll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Suprilina

      Delete

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SEORANG PUTRI KECIL 003

  SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  003 (Tien Kumalasari)   Menur menghentikan langkahnya. Ada desiran aneh yang mengiris dadanya...