Tuesday, June 2, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 13

 NAMAKU TETAP SENJA  13

(Tien Kumalasari)

 

Rosa terus mengayuh sepedanya. Santai, karena yang dibuntutinya juga mengayuh santai. Cuaca masih remang, udara dingin memeluk tubuh. Tapi pengayuh sepeda justru merasa gerah. Keringat mulai membasah. Disekitar jalanan, rumah-rumah banyak yang masih tertutup. Lampu teras masih berkelip. Barangkali mereka lebih suka memeluk guling daripada menghirup udara dingin yang membekukan tulang. Mereka terus mengayuh, jauh dari rumah Arka, membuat Rosa bertanya-tanya. Sebenarnya mau kemana, sang tampan pujaan hatinya ini pergi sepagi ini?

“Heran aku, ia bukannya berputar mengitari kota, justru ke arah luar kota. Ada yang dicarinya, atau sekedar bersepeda saja?” gumam Rosa kesal.

Ia mulai lelah, tapi yang di depannya tak mau berhenti. Hal itu membuatnya sangat penasaran. Ketika remang mulai menyibak, semburat merah menghiasi ufuk timur, seakan menghamparkan permadani berwarna cerah untuk menyambut datangnya sang surya.

Berkali-kali Rosa mengelap keringatnya dengan handuk yang tersampir di pundaknya. Beberapa kendaraan lewat, hanya satu dua, tapi suara deru motor atau mesin mobil mulai menguak heningnya pagi.

Lalu sepeda Arka berhenti di ujung jalan. Ada kerumunan orang di sana. Rosa membenamkan topi yang dipakainya agar wajahnya tak kelihatan. Ia ingin tahu itu kerumunan apa. Lalu ia bertanya kepada seseorang yang lewat.

“Dik, itu pada ngapain?”

“Itu penjual nasi liwet. Pagi buta sudah mangkal di situ, pembelinya banyak,” katanya kemudian berlalu. Tampaknya ia juga baru saja membeli nasi liwet di kerumunan itu.

Rosa tersenyum sendiri. Ia berpikir Arka kelaparan kemudian ingin makan di situ.

“Baiklah, aku sabar menunggu,” gumam Rosa yang kemudian duduk di sebuah batu setelah menyandarkan sepedanya di sebuah pohon.

“Lama banget makannya,” keluhnya. Ia juga ingin tapi mana mungkin tiba-tiba nimbrung ke situ? Dia kan ingin tahu ke mana Arka bersepeda sepagi itu. Apakah akan langsung pulang, atau masih akan meneruskan perjalanan entah ke mana?

Karenanya Rosa tetap menunggu. Lalu setelah sekian lama, Arka melintas. Rosa menundukkan wajahnya, pura-pura mencari sesuatu di tanah berumput, Lalu Rosa merasa lega karena Arka tidak menatap ke arahnya.

“Heran, tidak pulang, dan membawa bungkusan begitu banyak? Jadi ia beli nasi liwet untuk siapa? Bukan dibawa pulang? Berarti akan diberikan kepada seseorang. Siapa? Rosa sudah mengayuh kembali sepedanya.  

Kendaraan mulai sedikit ramai. Suara klakson bertalu-talu membuat semarak pagi mulai merekah.

Tiba-tiba Rosa kehilangan buruannya. Ada mobil box melintas, lalu setelah menghilang, bayangan Arka tak lagi terlihat.

“Ke mana dia? Masa menghilang begitu saja?”

Rosa menghentikan sepedanya. Apakah Arka masuk ke sebuah halaman rumah? Rosa melihat ke kiri dan ke kanan, tak ada tanda-tanda masuk diantara rumah-rumah sederhana berhalaman luas.

“Ah ya, ada tikungan di sana.”

Rosa kembali mengayuh sepedanya, memasuki tikungan ke arah kiri.

“Tuh kan, itu dia.”

Arka memasuki halaman kecil dengan rumah kecil yang sederhana. Pintu rumah itu sudah terbuka. Sekilas Rosa melihat seorang wanita yang tidak lagi muda, melintas di pintu. Tapi bayangan Arka tak lagi kelihatan, walau sepedanya berdiri di dekat pintu rumah.

Rosa hanya berhenti sejenak, lalu mengayuh pergi. Ada orang yang akan ditanyainya, seorang laki-laki membawa pikulan.

“Pak … numpang tanya Pak? Rumah itu rumah siapa sih?”

“Yang mana Non?”

“Itu, yang pagarnya bambu.”

“O, itu rumah mbok Mangun.”

“Mbok Mangun?”

“Dia pedagang beras keliling,” orang yang membawa pikulan itu berlalu.

“Arka ke tempat pedagang beras keliling? Namanya mbok Mangun?”

Seribu kali berpikir, seribu kali pula ia tak menemukan jawabannya. Masa Rosa harus menunggu sampai Arka keluar dari rumah itu? Agak lama Rosa berdiri sambil memegangi sepedanya, siapa tahu Arka segera keluar. Tapi tidak. Rosa ingat Arka membeli nasi liwet, bukan dibawa pulang, pasti diberikan kepada mbok Mangun, si penjual beras, lalu makan bersama. Begitukah? Masa Arka mau makan ditempat kumuh seperti itu? Ada hubungan apa Arka sama mbok Mangun sehingga susah-susah bangun pagi lalu mengunjunginya sambil membawa bungkusan nasi?

Pasti Arka sedang menikmati nasi yang dibawanya bersama keluarga mbok Mangun. Rosa merasa cukup. Ia akan menyelidiki siapa mbok Mangun setelahnya. Lalu ia mengayuh sepedanya pulang. Oh tidak, dia akan mampir dulu di rumah keluarga Arka. Barangkali ia akan menemukan jawab di sana. Mungkin saja mbok Mangun adalah bekas pembantu keluarga itu, siapa tahu.

***

Arka yang tidak tahu bahwa ada seseorang yang memata-matainya, duduk santai di atas tikar yang digelar mbok Mangun karena tidak punya kursi untuk tamu, kecuali bangku yang berjajar di depan rumah.

Mereka sedang berbincang akrab, disela-sela keluhan mbok Mangun karena Arka selalu repot untuk keluarganya.

“Jangan sungkan Mbok, anggap saja aku ini keluarga Simbok, mengapa harus sungkan.”

“Setiap Minggu mas Arka membawakan kami makanan, kami jadi sungkan,” sela Senja yang kemudian menyajikan segelas kopi di dekat tempat duduk Arka.

“Kamu tidak mendengar aku berkata? Aku ini keluarga simbok, jadi jangan sungkan kalau aku sering datang kemari hanya untuk makan bersama kalian.”

“Tidak apa-apa Mbak, kan tidak bagus menolak rejeki,” kata Rimba sambil memasukkan sepotong telur terakhir ke mulutnya.

“Huss!” Senja memelototinya.

“Senja, mengapa kamu marahi adik kamu? Apa yang dikatakannya itu benar. Ya kan Rimba?”

Rimba hanya mengangguk, kemudian pergi ke belakang untuk mencuci tangannya yang belepotan kuah. Lagipula Rimba takut dimarahi sang kakak setelah tadi sang kakak memelototinya.

“Bukankah itu benar?” gumamnya sambil mencuci tangannya.

Dasar anak-anak.

***

Rosa sampai di rumah keluarga Wiguna, ketika pak Wiguna dan istri sedang menikmati kopi pagi dan cemilan.

“Hei, itu Rosa?” pak Wiguna lebih dulu berteriak.

“Selamat pagi, Om, Tante,” sapanya sambil mengelap keringat di lehernya.

“Kamu bersama Arka?”

“Tidak, saya sendirian. Tadi lewat trus mampir.”

“Tadi tidak jadi nyamperin Arka?”

“Tidak, Arka sudah berangkat duluan.”

“Dasar anak itu.”

Bu Wiguna ke belakang untuk meminta bibik agar membuatkan minum untuk Rosa.

“Dulu di sini punya pembantu bernama mbok Mangun?” tanya Rosa setelah bu Wiguna kembali duduk.

“Pembantu?”

“Namanya mbok Mangun?”

“Tidak pernah. Pembantu saya sudah puluhan tahun ya bibik itu, sama-teman-temannya. Tapi nggak ada yang namanya mbok Mangun.”

“O, bukan ya?”

“Dari mana kamu mendapatkan nama itu?” tanya pak Wiguna.

“Dari orang. Sekarang menjadi penjual beras. Kok kenal keluarga ini, saya kira bekas pembantu di sini dulunya,” kata Rosa ngawur.

“Nanti dulu, penjual beras? Kalau penjual beras itu teman Arka,” kata bu Wiguna.

“Teman Arka?” Rosa menyahut, agak keras.

“Arka punya teman yang sekarang jualan beras. Karena kasihan, dia minta agar keluarga di sini mau beli beras dari dia.”

“O, mbok Mangun teman Arka?”

“Masa teman Arka simbok-simbok?” sambung pak Wiguna.

“Mungkin ibu dari temannya itu Pak.”

“O, ya sudah, di mana kamu ketemu dia?”

“Mm, di jalan, sedang omong-omong, kok kenal sama keluarga ini.”

“Ya sudah, bukan apa-apa, hanya penjual beras. Ayo itu sudah disiapkan minumnya. Nanti sarapan di sini ya, sambil menunggu Arka barangkali segera pulang.”

Tentu saja Rosa mau.

***

Tapi hari itu Arka tidak segera pulang. Ia berada di rumah mbok Mangun sampai siang, membantu menakar beras ke dalam keresek-keresek, yang besok pagi mau dijajakan oleh mbok Mangun. Dari terheran-heran atas kebaikan dan perhatian Arka, lalu mereka sudah terbiasa. Rimba bahkan sambil bersenda gurau membantu Arka menakar beras.

Arka baru pulang setelah makan siang di rumah mbok Mangun dengan lauk ala kadarnya, tapi dirasanya sangat nikmat olehnya.

“Maas mas Arka, simbok hanya bisa menyuguhkan makanan sederhana seperti ini,” kata simbok.

“Ini sangat enak. Saya belum pernah makan makanan seenak ini.”

“Masa? Pasti hanya untuk menyenangkan simbok kan?”

“Bukan, sungguh saya merasa bahwa makanan simbok sangat enak. Saat makan itu, apapun lauknya, asalkan suasananya menyenangkan, pasti enak.”

***

Beberapa hari kemudian, ketika Senja pulang dari sekolah, ia melihat adiknya belum pulang. Simbok juga belum ada di rumah. Senja memasukkan sepedanya ke belakang rumah,  lalu melongok ke ruang makan. Biasanya kalau simbok mau pulang agak sore, makanan untuk anak-anaknya sudah disiapkan.

Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk yang agak keras, di luar rumah. Itu suara laki-laki. Senja bergegas ke depan, terkejut melihat siapa yang berdiri di teras dengan wajah gelap.

***

Besok lagi ya.

18 comments:

  1. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien salam sehat dan aduhai hai hai bun ❤️❤️

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah. Terimakasih Bunda Tien. Sehat sehat sekeluarga.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,13 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  4. 🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_13
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah
    Matur nuwun Ibu Tien, mugi2 Ibu sekeluarga tansah pinaringan sehat

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah....Senja 13 sdh tayang. Moga bu Tien sekeluarga dlm Perlindungan Allah SWT. πŸ€²πŸ™

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah NTS 13 telah hadir, maturnuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta,sll dlm lindungan Allah..πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  10. Waduhhhh
    Jangan2 pak RT
    Alhamdulillah...Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 13 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  13. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
  14. Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aduhai

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillaah Matur nuwun Bu Tien
    Salam sehat wal'afiat semua ya πŸ™πŸ€—πŸ₯°πŸŒΏπŸŒΈ

    Pak Wiguna vkah

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 13

  NAMAKU TETAP SENJA  13 (Tien Kumalasari)   Rosa terus mengayuh sepedanya. Santai, karena yang dibuntutinya juga mengayuh santai. Cuaca mas...