Thursday, January 8, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 31

 HANYA BAYANG BAYANG  31

(Tien Kumalasari)

 

Pada kunjungan pertama di sebuah panti, Puspa disambut ramah oleh petugas panti. Tapi Puspa heran ketika petugas itu tidak mengenal keluarga Sanjoyo.

“Keluarga Sanjoyo, yang punya perusahaan besar itu kan?”

“Ya. Bernarkah Bapak tidak mengenalnya?”

“Perusahaan dengan nama Sanjoyo itu dikenal oleh banyak kalangan, tapi kami tidak mengenal secara dekat.”

Puspa terpana, sejenak ia tak tahu harus mengatakan apa. Mungkinkah ada petugas lain yang pernah menerima sumbangan dari ayahnya?

“Apakah tidak pernah ada utusan dari perusahaan Sanjoyo yang datang kemari?”

“Saya sudah bertahun-tahun bertugas di sini, mengurusi anak-anak panti, tapi belum pernah menerima utusan dari keluarga Sanjoyo.”

Puspa kebingungan. Ia tak mungkin mengatakan bahwa setiap bulan nyonya Sanjoyo sendiri yang datang kemari.

“Sebenarnya apakah yang bisa saya bantu?” akhirnya kata petugas itu.

“Baiklah, mohon maaf kalau saya mengejutkan Bapak. Sebenarnya kedatangan saya kemari adalah sebagai utusan dari keluarga Sanjoyo untuk menyampaikan sekedar sumbangan untuk panti ini,” kata Puspa pada akhirnya, sambil memberikan sebuah amplop.

Petugas itu tersenyum. Tentu adalah sebuah kegembiraan ketika ada kepedulian untuk panti yang dikelolanya.

“Mohon diterima, walau isinya tidak seberapa,” kata Puspa.

Petugas itu kemudian berdiri. Rupanya ia memanggil pimpinan panti itu, karena menerima sumbangan sepertinya bukan wewenangnya.

“Saya akan memanggil pak Mustofa, agar beliau sendiri yang menerimanya, mohon ditunggu.”

Puspa hanya mengangguk.

Batinnya berkecamuk diantara rasa kesal, dan marah kepada ibunya. Ternyata sumbangan dari keluarga Sanjoyo tidak pernah diterima, mengingat mereka yang sepertinya memang tidak pernah mengenal keluarganya.

Seorang laki-laki tua datang, dan memperkenalkan diri.

“Saya Mustofa, pengasuh dan penanggung jawab panti ini. Saya mendengar ada tamu dari perusahaan Sanjoyo datang kemari,” kata pak Mustofa.

“Saya Puspasari, putri bungsu dari keluarga Sanjoyo. Saya datang mewakili keluarga Sanjoyo untuk sekedar memberikan sumbangan yang janganlah dinilai uangnya, tapi rasa kepedulian kami untuk panti-panti yang berhak mendapat bantuan dan dukungan,” kata Puspa sambil merangkapkan kedua tangannya.

“Senang sekali panti ini kedatangan keluarga dari orang terkenal seperti tuan Sanjoyo. Terima kasih banyak telah sudi berkunjung dan memberikan sumbangan untuk panti ini.”

“Semoga yang tidak seberapa ini sedikit bisa membantu,” kata Puspa yang sebelumnya tidak mempersiapkan kata-kata untuk mengungkapkan arti sumbangan itu, karena Puspa mengira sudah biasa dan tinggal menyerahkan saja.

“Usman, bawa uang ini ke bendahara dan buatkan tanda terimanya,” kata pak Mustofa.

“Semoga bermanfaat ya Pak, dan semoga setiap bulan kami bisa membantu panti ini, agar sedikit mengurangi beban demi kemanusiaan yang sangat mulia ini.”

“Sampaikan kepada tuan Sanjoyo, bahwa kami sangat berterima kasih, semoga berkah dan barokah.”

Semua yang hadir mengamininya.

Puspa tidak lama berada di sana. Ia mengajak mereka berbincang, dan mengetahui betapa berharganya sebuah sumbangan atas kepedulian kepada sesama yang memang benar benar membutuhkan. Ia melihat, panti asuhan yang dikunjunginya memiliki ratusan anak yatim piatu yang diasuh dan dibimbing dengan segenap kasih sayang. Pak Mustofa mengajak Puspa berkeliling panti dan melihat mereka, sebelum ia meninggalkannya.

***

Dan apakah yang terjadi? Ternyata semua panti yang tercatat tidak pernah menerima sumbangan dari keluarga Sanjoyo. Berlinang air mata Puspa dalam perjalanan pulang ke rumah kakaknya. Ia memang tidak langsung menemui sang ayah. Ia harus berbincang kepada Sekar apa dan bagaimana nanti mengatakannya kepada sang ayah. Tentunya demi menjaga perasaan sang ayah dan juga kesehatannya.

Sedih sekali Puspa menyadari betapa ibu kandungnya sejahat dan senista itu. Rasanya Puspa ingin menjerit sekuat-kuatnya untuk mengurangi beban berat yang menghimpitnya.

***

Sekarpun terkejut. Tadinya mereka mengira kalau uangnya saja yang dikurangi, ternyata malah tidak diberikan sama sekali, dan semuanya mengenal nama Sanjoyo karena memang Sanjoyo adalah perusahaan besar yang terkenal, bukan karena setiap bulan diberi sumbangan.

“Apakah aku harus mengatakannya kepada bapak tentang semua ini?”

“Sebaiknya jangan sekarang. Berikan saja tanda terimanya kepada bapak, dan katakan kalau tugasmu sudah selesai.”

“Tidak mengatakan bahwa baru sekali ini mereka menerima sumbangan?”

“Jangan sekarang. Kita menunggu waktu yang baik, dan berbincang dengan seluruh keluarga. Perbuatan menilep uang yang sudah bertahun-tahun barangkali bisa dimaaafkan. Tapi perselingkuhan dengan sopir yang juga sudah dilakukan bertahun-tahun, adalah dosa yang sangat besar. Terserah bapak akan melakukan apa terhadap ibu Srikanti nanti. Dan itu memerlukan pembuktian juga, tidak bisa langsung melapor lalu berharap bapak akan percaya."

Puspa mengangguk sedih.

“Sudah, selesaikan saja tugas kuliah kamu, agar kamu bisa bebas melakukan apa saja nantinya.”

Puspa mengangguk, walau sedih, tapi ia harus mengutamakan tugas akhirnya dulu.

“Jadi besok aku ke kantor lagi untuk menyerahkan tanda terima dari panti-panti itu ya? Atau cukup menelpon saja? Aku nggak suka ketemu Priyadi, lalu dia bersikap sok manis kepadaku.”

“Terserah kamu saja.”

Dan Puspa memang kemudian langsung menelpon sang ayah, mengatakan bahwa tugas sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

“Bagus Puspa, semoga itu tidak mengganggu tugas kamu.”

“Tidak Pak, tidak sampai sehari sudah selesai.”

“Bagus, sekarang tekuni tugas kamu, semoga lancar.”

“Ada tanda terima dari panti-panti, apa harus saya serahkan bapak besok pagi?”

“Tidak usah, bawa saja oleh kamu. Ibumu juga tidak pernah memberikan tanda terima apapun setelah menyumbang. Yang penting kita sudah melakukan tugas mulia, masalah tanda terima itu kan tidak perlu.”

“Baiklah, kalau begitu akan Puspa simpan saja.”

***

Pagi hari itu, Priyadi menghadap tuan Sanjoyo. Ia dan Nilam akan meminta ijin sehari besok, karena ada keperluan keluarga di kampungnya.

“Harus ijin ya?”

“Mohon maaf Tuan, sudah lama saya dan Nilam tidak pulang, dan besok saya ingin  pulang, sehari itu saja Tuan.”

“Baiklah, tidak apa-apa. Suruh Nilam juga minta ijin kepada managernya.”

“Sudah saya suruh Tuan, hanya saja siapa yang besok menjemput dan mengantarkan Tuan?”

“Tidak apa-apa, ada beberapa sopir di sini yang bisa melakukannya.”

“Baiklah kalau begitu, terima kasih Tuan."

***

Srikanti sangat kesal. Akibat kakinya sakit dan belum bisa untuk berjalan normal, ia jadi tidak bisa bertemu Priyadi. Tuan Sanjoyo juga tidak pernah menyuruh Priyadi pulang karena tahu bahwa Srikanti tak akan pergi ke mana-mana. Apalagi sejak ia melihat Priyadi masuk ke kamar dan sedang ‘memijit’ kaki Srikanti, ada perasaan tak enak yang dirasakannya. Ia menganggap Priyadi sangat lancang, dan Srikanti juga membiarkannya.

Apakah karena Srikanti pendidikannya tidak tinggi, sehingga tata krama tentang hubungan seorang majikan dan bawahan itu dia tidak mengetahuinya? Dan Priyadi yang seorang laki-laki juga tidak bisa menjaga dirinya yang hanya sebagai sopir dan Srikanti adalah majikan.

***

Dalam sakit itu Srikanti terus dibayangi tentang uang sumbangan, terutama yang sudah rutin setiap bulan dimintanya kepada sang suami. Tentang lima lagi panti fiktif yang diajukannya, Srikanti merasa tidak khawatir karena telah memberi alasan agar tidak diberikan dulu bantuannya karena pimpinan panti sedang umroh bersama-sama. Mana mungkin Srikanti tahu bahwa semua kebohongan dan kebusukannya sudah terbuka oleh anak kandungnya sendiri?

Karenanya siang hari itu ia dengan enteng menanyakan tentang sumbangan yang rutin diberikannya.

“Kamu sedang sakit, mengapa selalu memikirkan uang sumbangan?”

“Mas, walaupun aku sakit tapi panti-panti itu kan memerlukannya. Kasihan mereka menunggu, sementara setiap bulan kita rutin memberikannya.”

“Tidak menunggu kamu bisa jalan saja?” pancing tuan Sanjoyo.

“Mas, kan aku sudah bilang kalau Priyadi sudah pasti bisa melakukannya?”

“Tapi aku heran sama kamu. Kamu sepertinya tidak percaya pada anak kandung kamu sendiri, tapi mengapa sangat percaya kepada Priyadi yang hanya seorang sopir?”

“Mas jangan begitu. Saat ini Puspa sedang sibuk, dan Priyadi itu sudah tahu apa yang harus dilakukannya.”

“Puspa akan bisa melakukannya, percaya saja.”

“Mas jangan ngeyel. Puspa baru menyelesaikan tugas akhirnya, jangan diganggu.”

“Ya sudah, sekarang aku sedang sibuk, jangan lagi menelpon. Bukankah sudah sejak dulu aku tidak suka ditelpon ketika sedang di kantor, kecuali ada hal yang sangat penting? Lagi pula Priyadi besok akan ijin bersama Nilam.”

“Ijin ke mana?”

“Katanya ada urusan di kampung, lagipula dia lama tidak pulang.”

Srikanti kesal karena tuan Sanjoyo menutup ponselnya begitu saja.

“Sikapnya juga sudah berubah, mungkinkah karena dia melihat Priyadi ketika di kamar? Saat aku dioperasipun perhatian dia juga tidak seperti orang yang sedang menunggui istrinya sakit. Dia sibuk dengan urusan kantor," gumamnya.

Srikanti sibuk berpikir tentang suaminya, tapi lebih sibuk lagi memikirkan sumbangan yang harus diterimanya bulan itu. Karenanya kemudian ia menelpon Priyadi.

“Ada apa? Aku sedang mau mengirimkan barang ke luar kota.”

“Pri, sumbangan untuk panti itu harus segera kamu minta.”

“Apa maksudmu? Mana mungkin aku mengatakan kepada tuan tentang sumbangan itu?”

“Aku sudah bilang kalau kamu yang akan mengirimkannya. Kalau kamu tidak mengingatkan, kita tak akan punya uang lagi. Bukankah kita masih banyak kebutuhan?”

“Kamu saja yang mengingatkan, kalau tuan kemudian menyuruh aku, barulah aku jalankan. Lagipula aku sudah minta ijin pada tuan. Besok aku tidak masuk kerja bersama Nilam.”

“Iya, tuan Sanjoyo sudah bilang. Ada urusan apa sih?”

“Urusan keluarga saja, lagipula sudah lama tidak pulang kampung. Ya sudah, aku mau mengirim barang dulu.”

Srikanti yang kesal mencoba turun dari tempat tidur. Tiba-tiba suasana di dalam kamar terasa sesak. Kemudian ia duduk dan mencoba turun. Walker yang ditinggalkan suaminya di kamar itu agak jauh dari jangkauan, seharusnya ada yang  membantunya, tapi ia nekat berjalan walau terpincang-pincang. Selangkah lagi dia bisa mencapai walker, tiba-tiba ia tak mampu menahan tubuhnya sendiri, sehingga jatuh tersungkur, dahinya terantuk lantai.

Lolongan keras yang memenuhi rumah mengejutkan bik Supi yang masih berkutat di dapur.

***

Besok lagi ya.

60 comments:

  1. 🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷
    Alhamdulillah πŸ™πŸ¦‹
    Cerbung HaBeBe_31
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete

  2. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 31* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...




    Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 31* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  3. Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Subagyo

      Delete
  4. Matur suwun Bu Tien semoga ibu dan keluarga selalu dlm keadaan sehat...Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Indriyanto

      Delete
  5. Alhamdulilah
    Terimakasih. Udah tayang
    Semoga bunda dan keluarga sehat slalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
    2. Hallo pa Endang selamat pagi dan salam kenal.
      Kita sama2 Penggemar Cerbung Tien Kumalasari (PCTK).
      Saya punya grup WA lho, anggotanya 155 orang, jika mau gabung hubungi saya Djoko Budi Santoso (Kakek Habi) via japri ini kontak daya 085101776038.
      Ditunggu ya

      Delete
  6. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 31" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik

      Delete
    2. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik

      Delete
  10. Alhamdulilah Cerbung HBB 31 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  11. Mks bun HBB 31 sdh tayang...selamat mlm....jaga kesehatan bun

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah ... terima kasih Bu Tien semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yati

      Delete
  13. πŸ™πŸ™πŸ‘πŸ»

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah,HBB dah hadir, maturnuwun Bu Tien,semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama suami /Kel tercinta..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik

      Delete
  15. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bu Tien dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  16. Terima ksih bunda cerbungnya..slmt mpm dan slm sht sll unk bunda sekeluargaπŸ™❤️πŸ₯°πŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami2 ibu Farida. Salam sehat dan selamat pagi

      Delete
  17. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 31 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu

      Delete
  18. Yaah...kok tuan Sanjoyo ga curiga tentang tanda terima sumbangan yang sebelumnya sih? Percaya banget sama istri tak setia itu...😬

    Terima kasih, ibu Tien...sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸ₯°

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Nana

      Delete
  19. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni

      Delete
  20. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 31 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Kanti yang badan nya segede bongkang, jatuh tersungkur, klu jalan hrs pake kursi roda.

    Tuan Sanjoyo yang sebelum nya pake kursi roda, skrng sdh dapat jalan santai.

    Roda berputar terkadang di atas, terkadang di bawah...nih yee...😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  21. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 31 " πŸ‘πŸŒΉ
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  22. Terima kasih Bunda Tien, barokalloh, semoga Bunda Tien dan Pak Tom selalu sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu..Yulian

      Delete
  23. Srikanti mendapat bencahana...
    Bencahana, yaitu bencana yang datang bertubi ...
    Permisi mau ketemu Mery ...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  24. Alhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~31 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete

HANYA BAYANG BAYANG 43

  HANYA BAYANG BAYANG  43 (Tien Kumalasari)   Puspa terpana, Priyadi menatapnya, wajahnya memelas, Puspa membuang muka. Ia menoleh kebelakan...