HANYA BAYANG BAYANG 30
(Tien Kumalasari)
Tuan Sanjoyo mulai berpikir, tentang sesuatu yang tak pernah dipikirkannya. Ini terasa aneh, dibawa anak kandungnya dilarang, tapi dia mempercayakan kepada sopirnya? Apa yang terjadi pada sang istri? Pikir tuan Sanjoyo. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkannya. Tertatih ia masuk ke dalam kamar mandi di kamar itu, tak menjawab omongan istrinya.
Sambil mandi itu, tuan Sanjoyo memikirkan tentang sikap istrinya, terutama masalah sumbangan. Pikirannya berjalan ke sana kemari. Tuan Sanjoyo bukan orang bodoh. Pikiran terburuk yang melintas adalah bahwa sang istri mengurangi jumlah uang sumbangan, barangkali uang yang diberikannya kurang atau entah untuk keperluan apa.
Sama sekali ia tak pernah membayangkan bahwa sang istri menilep semua uang sumbangan. Tentu saja tidak. Masa istrinya seburuk itu? Dia memberi uang saku yang cukup. Kalau ia menginginkan sesuatu, bahkan beli perhiasan mahal karena bosan memakai perhiasan lama, tuan Sanjoyo pasti memberikannya.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, matanya terbelalak, melihat Priyadi ada di kamar itu, sedang memijit kaki istrinya. Seketika timbul amarahnya, karena menganggap apa yang dilakukan Priyadi adalah sesuatu yang tidak pantas.
“Priyadi!”
Priyadi sangat terkejut, ia melepaskan tangannya, lalu mundur beberapa tindak.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya dengan nada marah.
“Maaf Tuan … saya … “
“Mas, Priyadi masuk untuk mencari Mas, aku minta tolong dia memijit kakiku yang tiba-tiba terasa sakit sekali. Mohon jangan marah pada Priyadi.”
“Apa menurutmu dia pantas melakukannya? Dia itu sopir, dan kamu adalah majikan,” tegurnya tandas.
“Maaf, Tuan, saya … hanya … sekedar disuruh Tuan … eh, nyonya …” tak urung Priyadi gugup juga. Tadi dia hanya ingin menengok ‘nyonya majikannya’ tapi kemudian disuruh mendekat, lalu ia mengelus kakinya, bukan memijit. Hanya sebentar, dan Srikanti hampir menyuruhnya keluar ketika tiba-tiba tuan Sanjoyo sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi dan melihat kelakuannya.
“Keluar kamu,” perintah tuan Sanjoyo, yang membuat Priyadi kemudian bergegas keluar kemudian menutup pintunya.
“Bagaimana kamu bisa membiarkan seorang Priyadi menjamah tubuhmu?” tandas tuan Sanjoyo.
“Tidak. Mas terlalu berlebihan, aku memakai selimut, dia hanya aku minta mengurangi nyeri kakiku dengan sedikit memijitnya.”
“Walau begitu, itu tidak pantas.”
“Iya Mas, maaf.”
Tuan Sanjoyo tak berkata apapun. Ia berganti baju di ruang ganti, dan keluar ketika sudah rapi.
“Mas berangkat pagi?” tanya Srikanti dengan suara yang sangat manis.
“Maaf tidak bisa membantu mas berpakaian di beberapa hari terakhir ini," lanjutnya.
Tuan Sanjoyo diam. Ia masih berjalan dengan walkernya, kemudian dibawanya keluar. Srikanti tahu, sang suami masih sangat marah.
“Mas, jangan lupa tentang uang sumbangan itu ya, Priyadi sudah tahu bagaimana cara mengantarkannya, karena dia selalu mengantarkan aku.”
Tuan Sanjoyo keluar dan mengambil sepatunya. Banyak yang bisa dia lakukan sendiri sekarang, tapi tiba-tiba beberapa pikiran aneh bermunculan. Sepertinya dia baru sadar akan sesuatu. Lalu hal itu membuatnya diam. Ia juga diam ketika makan pagi sendirian. Ada suara Priyadi dan Nilam di dapur, tapi tuan Sanjoyo membiarkanya. Hanya bik Supi yang duduk di kursi kecil agak jauh di meja makan itu, menunggu perintah barangkali sang tuan majikan membutuhkan sesuatu. Tapi tuan Sanjoyo hanya diam. Wajahnya sangat keruh. Itu mengherankan bik Supi. Tak biasanya sang tuan bersikap dingin seperti pagi ini.
Kelutik sendok menghiasai kesenyapan di ruang makan itu, membuat munculnya rasa takut pada hati si bibik.
Selesai makan, tuan Sanjoyo memerintahkan bik Supi agar meminta Priyadi bersiap. Setelah itu ia berjalan ke arah depan,tertatih, tanpa penyangga yang biasanya dibawanya. Bik Supi mengambil tongkat yang lama tidak dipakai, diberikannya kepada sang tuan.
Tuan Sanjoyo menatap bibik sambil tersenyum. Sang tuan menatap wajah polos yang tulus dari pembantunya yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun.
“Terima kasih Bik.”
“Senang, Tuan sudah bisa berjalan,” katanya, takut-takut.
“Aku sedang belajar. Mempelajari semuanya,” jawab sang tuan sambil terus melangkah ke depan, dengan tongkat penyangga yang diberikan bik Supi. Ia tak menoleh ke arah kamar, hanya memerintahkan bibik agar mengambil tas kerjanya di kamar.
Ketika ia masuk, sang nyonya majikan masih terbaring di ranjang.
“Tuan sudah makan?”
“Sudah, Nyonya. Ini baru mau berangkat, saya di suruh mengambilkan tas kerja Tuan.”
Srikanti tak menjawab. Ia biarkan bik Supi mengambil tas kerja yang sudah siap di meja, lalu keluar tanpa menimbulkan suara.
Srikanti tahu, suaminya masih marah, gara-gara melihat Priyadi mengelus kakinya. Ia menyesal membiarkan bahkan memanggil Supri masuk. Barangkali ada rasa kangen setelah beberapa hari tidak berduaan, entahlah.
***
Puspa baru saja mengantarkan sang kakak ke mobilnya, sebelum berangkat kerja. Dengan rasa sayang Sekar menepuk punggung adiknya, dan memintanya agar bisa menenangkan diri, tanpa banyak memikirkan hal-hal yang semula mengganggunya.
Puspa mengangguk, lalu mencium tangan sang kakak dengan perasaan yang mengharu biru.
Ketika Puspa bersiap duduk di kursi belajar, ponselnya berdering. Dari sang ayah. Perintahnya sedikit mengejutkannya.
“Puspa, apakah kamu sibuk?”
“Tidak Pak, biasa, baru mau mulai mengetik lagi. Besok harus sudah selesai, dan segera Puspa persiapkan untuk konsultasi dengan dosen pembimbing.”
“Owh, tidak bisa diganggu ya?”
“Memangnya ada apa?”
“Kalau tidak mengganggu, datanglah pagi ini ke kantor bapak.”
“Ada apa?”
“Datang saja, bapak ingin kamu melakukan sesuatu.”
“Baiklah, segera. Puspa juga sudah mandi dan siap berangkat sekarang.”
“Terima kasih, Puspa.”
Puspa meletakkan ponselnya dengan benak penuh tanda tanya. Tapi ia segera bersiap pergi ke kantor sang ayah.
***
Semua orang di kantor mengenal keluarga tuan Sanjoyo dengan baik. Setelah mengumbar senyumnya kepada setiap penyapa, ia memasuki ruang kerja sang ayah.
“Duduklah.”
Puspa duduk, di sofa di ruangan itu, karena ayahnya menunggu di sana. Ada setumpuk uang di meja, dan Puspa menatapnya dengan heran.
“Ini uang apa?”
“Ada catatan di setiap bendel uang, bacalah.”
Puspa meraih bendel-bendel itu dan membaca tulisannya. Ternyata itu adalah uang sumbangan untuk panti-panti yang sudah bertahun-tahun mendapat sumbangan dari keluarga Sanjoyo.
“Ini ….”
“Coba kamu yang menyerahkan. Ada alamatnya masing-masing kan?”
“Jadi Bapak menyuruh Puspa datang kemari agar Puspa menyerahkan sumbangan-sumbangan ini?”
“Iya. Kamu bisa melakukannya? Hanya sehari pasti selesai kan?”
“Tentu. Tapi apakah ibu tidak akan marah?”
“Ibumu belum bisa berjalan. Kamu saja yang melakukannya. Kan sudah biasa di tanggal-tanggal seperti ini kita memberikan sumbangan? Dan sebaiknya juga kamu tidak perlu memberitahukan hal ini kepada ibumu, yang penting tugas kita untuk bersedekah terpenuhi dengan baik.”
“Kalau memang Bapak yang menyuruhnya, akan Puspa kerjakan, hari ini juga.”
”Bagus, anak baik. Bawa tas ini, kamu membawa tas terlalu kecil.”
Tuan Sanjoyo memberikan tas punggung kecil, kemudian membantu Puspa memasukkan uangnya.
“Baiklah, saya berangkat sekarang.”
“Kalau nanti kamu senggang, bapak akan mengajak kamu mengenali kantor ini dengan lebih baik. Bukankah kamu ingin mendampingi bapak di sini mewakili kakak-kakak kamu?”
Puspa mengangguk. Tampaknya ia memang harus menguatkan tekat untuk membantu sang ayah, tidak seperti kemauannya semula, menjadi pengusaha yang akan berjuang sendiri.
Puspa pamit setelah mencium tangan sang ayah.
“Bapak tidak memakai walker?”
“Bapak membawa tongkat itu.”
Puspa tersenyum senang.
“Bapak harus lebih berhati-hati.”
“Tentu.”
Puspa keluar dari pintu, diiringi tatapan mata haru dari tuan Sanjoyo. Puspa begitu baik, tapi akhir-akhir ini agak berseberangan dengan ibunya, entah karena apa. Tapi tuan Sanjoyo yakin, Puspa sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Siapa tahu ada protes dari Puspa yang disanggah oleh ibunya.
***
Puspa memerlukan pulang ke rumah untuk mengambil baju yang lebih pantas, karena ia harus mendatangi beberapa panti.
Ia tak melihat ibunya, yang pastinya ada di dalam kamar. Puspa langsung ke belakang, melihat bibik sedang menata sayur.
“Bibik!”
Bik Supi terkejut, ia hampir berteriak tapi Puspa menutupkan jari telunjuknya di bibir, sehingga hanya wajah bik Supi yang tampak riang melihat nona majikan yang baik hati ini.
“Non mengagetkan bibik saja.”
“Jangan berteriak. Ibu di mana?”
“Di kamar Non, belum bisa berjalan, jadi ya tiduran saja.”
“Biarkan saja. Aku hanya mau ganti baju.”
“Mana baju Non yang kotor?”
“Tidak aku bawa Bik, aku dari kantor bapak tadi.”
“Nanti Non bawa pulang, biar bibik cuci dan setrika.”
“Iya, nanti gampang. Biasanya mbak Sekar membawanya ke loundry sih.”
“Ya sudah kalau sudah dibawa ke londri. Bibik buatkan minum Non?”
“Ya, pakai cangkir saja, jangan gelas, nanti kelamaan, karena aku harus buru-buru,” kata Puspa sambil masuk ke dalam kamarnya.
“Baik.”
***
Tapi begitu Puspa pergi, Srikanti berteriak memanggil bik Supi. Ia mendengar suara mobil dan menanyakannya, kenapa tak ada yang menemuinya di kamar.
“Itu tadi non Puspa, Nyonya.”
“Mana dia?”
“Sudah pergi, tadi hanya datang untuk berganti baju, lalu pergi dengan tergesa-gesa.”
“Dia tidak mau menengok aku, padahal aku ini ibunya, dan sedang sakit,” keluhnya.
“Barangkali tidak ingin mengganggu nyonya, dan Non Puspa sedang tergesa-gesa pergi.”
“Anak itu sama sekali tidak pernah perhatian pada ibunya.”
Bik Supi tak menjawab. Ia tahu non cantiknya sudah mengetahui kelakuan busuk ibunya, sehingga pasti membencinya. Tapi bik Supi tidak berani mengatakan apapun.
“Apakah Nyonya membutuhkan sesuatu?”
“Tidak. Pergilah.”
Tapi begitu bibik keluar, ponsel Srikanti berdering.
“Ya Pri?”
“Tadi Puspa datang ke kantor.”
“Datang ke kantor? Untuk apa?”
“Aku tidak tahu, tidak lama, kemudian pergi lagi. Dia tidak menatap aku sedikitpun, apakah dia mengetahui sesuatu kemudian membenciku?”
“Entahlah, apa yang bisa diketahuinya? Kita bertindak sangat hati-hati.”
“Kamu sudah mengatakan pada tuan Sanjoyo tentang sumbangan itu?”
“Aku sudah mengatakannya bahwa kamulah yang bisa menanganinya. Tapi dia belum merespon. Nanti aku akan mengingatkannya. Kalau siang begini dia tak pernah mau diganggu. Nanti kalau tuan memberikan uangnya pada kamu, kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan kan?”
“Tentu, aku sudah tahu. Pokoknya semuanya beres."
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah HaBeBe episode_30 sdh hadir.
ReplyDeleteTerima kasih
Sami2 mas Kakek
DeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 30 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐๐ฉท๐น๐น
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri.
DeleteAduhai aduhai
Trmksh mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun Yangtie
DeleteAlhamdullilah terima ksih bunda cerbung HBB nys..slmt mlm dan slm sht sll unk bunda sekeluarga๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida
DeleteSalam sehat juga
Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah...kebusukan Srinthil dan Priyadi mulai terendus oleh pak Sanjoyo.
ReplyDeleteApalagi nanti saat Puspa mendapat keterangan dari panti-panti itu.
Eng ing eng.....horotoyo...
Maturnuwun mvak Tien sayang
Sami2 jeng cantik.
DeleteTerima kasih perhatiannya.
Matur suwun bu Tien
ReplyDelete๐ชธ๐๐ชธ๐๐ชธ๐๐ชธ๐
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐
Cerbung HaBeBe_30
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ๐๐ฆ
๐ชธ๐๐ชธ๐๐ชธ๐๐ชธ๐
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Hanya Bayang Bayang untuk hidup lebih enak bagi Priyadi,... Alhamdulillah HBB dah tayang dng manis, maturnuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama misua,Kel tercinta....๐
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteMatur nuwun mbakyu Tienkumalasari sayang sudah tayang episode teranyar yang sudah di nanti², salam sehat dan tetep semangat inggih, wassalam..dari Tanggamus, Lampung
ReplyDeleteSami2 jeng Sis.
DeleteSalam sehat dari Solo
Mks bun HBB nya sdh tayang....selamat malam ...salam sehat
ReplyDeleteSami2 ibu Supriyati
DeleteSelamat malam dan salam sehat juga
Nah... Mulai terkuak kebusukan para kebo. Mudah mudahan lancar pekerjaan Puspa.
ReplyDeleteSalam sukses mbak Tien yang Aduhai, semoga selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️๐น๐น๐น๐น๐น
Sami2 jeng Susi
DeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 30 " ๐๐น
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteTerima kasih, ibu. Sri Kanti pasti bakal ngamuk kalau tahu, Puspa sudah mengantar sumbangannya.
ReplyDeleteSami2 ibu Linatun
DeleteTerima kasih perhatiannya.
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 30* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteAlhamdulillah mksh HBB 30 yg ditunggu sdh tayang smg Bu Tien sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 30 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Puspa yang pertama kamu lakukan adalah simpanlah uang sumbangan tsb di tempat yang aman. Krn semua alamat panti asuhan tsb adalah fiktif, maka kamu wajib laporkan ke ayahmu.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni.
DeleteMatur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni
DeleteSalam sehat juga
Matur nuwun Bu Tien , semoga selalu sehat, Pak Tom juga
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yulian
DeleteBereess, ach masak... ๐ค๐ค
ReplyDeleteHihiii... terima kasih Prisc
DeleteKebusukan tercium juga...
ReplyDeletePermisi, saya mau melihat Rahman, apakah sudah berangkat belum?
Terimakasih Mbak Tien...
Hati2 di jalan prof
DeleteTerima kasih bu Tien...ditunggu...alur selanjutnya. .makin seru nih
ReplyDeleteTerima kasih perhatiannya ibu.
DeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~30 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien ๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..๐คฒ
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 30" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng enjing๐
ReplyDelete