HANYA BAYANG BAYANG 31
(Tien Kumalasari)
Pada kunjungan pertama di sebuah panti, Puspa disambut ramah oleh petugas panti. Tapi Puspa heran ketika petugas itu tidak mengenal keluarga Sanjoyo.
“Keluarga Sanjoyo, yang punya perusahaan besar itu kan?”
“Ya. Bernarkah Bapak tidak mengenalnya?”
“Perusahaan dengan nama Sanjoyo itu dikenal oleh banyak kalangan, tapi kami tidak mengenal secara dekat.”
Puspa terpana, sejenak ia tak tahu harus mengatakan apa. Mungkinkah ada petugas lain yang pernah menerima sumbangan dari ayahnya?
“Apakah tidak pernah ada utusan dari perusahaan Sanjoyo yang datang kemari?”
“Saya sudah bertahun-tahun bertugas di sini, mengurusi anak-anak panti, tapi belum pernah menerima utusan dari keluarga Sanjoyo.”
Puspa kebingungan. Ia tak mungkin mengatakan bahwa setiap bulan nyonya Sanjoyo sendiri yang datang kemari.
“Sebenarnya apakah yang bisa saya bantu?” akhirnya kata petugas itu.
“Baiklah, mohon maaf kalau saya mengejutkan Bapak. Sebenarnya kedatangan saya kemari adalah sebagai utusan dari keluarga Sanjoyo untuk menyampaikan sekedar sumbangan untuk panti ini,” kata Puspa pada akhirnya, sambil memberikan sebuah amplop.
Petugas itu tersenyum. Tentu adalah sebuah kegembiraan ketika ada kepedulian untuk panti yang dikelolanya.
“Mohon diterima, walau isinya tidak seberapa,” kata Puspa.
Petugas itu kemudian berdiri. Rupanya ia memanggil pimpinan panti itu, karena menerima sumbangan sepertinya bukan wewenangnya.
“Saya akan memanggil pak Mustofa, agar beliau sendiri yang menerimanya, mohon ditunggu.”
Puspa hanya mengangguk.
Batinnya berkecamuk diantara rasa kesal, dan marah kepada ibunya. Ternyata sumbangan dari keluarga Sanjoyo tidak pernah diterima, mengingat mereka yang sepertinya memang tidak pernah mengenal keluarganya.
Seorang laki-laki tua datang, dan memperkenalkan diri.
“Saya Mustofa, pengasuh dan penanggung jawab panti ini. Saya mendengar ada tamu dari perusahaan Sanjoyo datang kemari,” kata pak Mustofa.
“Saya Puspasari, putri bungsu dari keluarga Sanjoyo. Saya datang mewakili keluarga Sanjoyo untuk sekedar memberikan sumbangan yang janganlah dinilai uangnya, tapi rasa kepedulian kami untuk panti-panti yang berhak mendapat bantuan dan dukungan,” kata Puspa sambil merangkapkan kedua tangannya.
“Senang sekali panti ini kedatangan keluarga dari orang terkenal seperti tuan Sanjoyo. Terima kasih banyak telah sudi berkunjung dan memberikan sumbangan untuk panti ini.”
“Semoga yang tidak seberapa ini sedikit bisa membantu,” kata Puspa yang sebelumnya tidak mempersiapkan kata-kata untuk mengungkapkan arti sumbangan itu, karena Puspa mengira sudah biasa dan tinggal menyerahkan saja.
“Usman, bawa uang ini ke bendahara dan buatkan tanda terimanya,” kata pak Mustofa.
“Semoga bermanfaat ya Pak, dan semoga setiap bulan kami bisa membantu panti ini, agar sedikit mengurangi beban demi kemanusiaan yang sangat mulia ini.”
“Sampaikan kepada tuan Sanjoyo, bahwa kami sangat berterima kasih, semoga berkah dan barokah.”
Semua yang hadir mengamininya.
Puspa tidak lama berada di sana. Ia mengajak mereka berbincang, dan mengetahui betapa berharganya sebuah sumbangan atas kepedulian kepada sesama yang memang benar benar membutuhkan. Ia melihat, panti asuhan yang dikunjunginya memiliki ratusan anak yatim piatu yang diasuh dan dibimbing dengan segenap kasih sayang. Pak Mustofa mengajak Puspa berkeliling panti dan melihat mereka, sebelum ia meninggalkannya.
***
Dan apakah yang terjadi? Ternyata semua panti yang tercatat tidak pernah menerima sumbangan dari keluarga Sanjoyo. Berlinang air mata Puspa dalam perjalanan pulang ke rumah kakaknya. Ia memang tidak langsung menemui sang ayah. Ia harus berbincang kepada Sekar apa dan bagaimana nanti mengatakannya kepada sang ayah. Tentunya demi menjaga perasaan sang ayah dan juga kesehatannya.
Sedih sekali Puspa menyadari betapa ibu kandungnya sejahat dan senista itu. Rasanya Puspa ingin menjerit sekuat-kuatnya untuk mengurangi beban berat yang menghimpitnya.
***
Sekarpun terkejut. Tadinya mereka mengira kalau uangnya saja yang dikurangi, ternyata malah tidak diberikan sama sekali, dan semuanya mengenal nama Sanjoyo karena memang Sanjoyo adalah perusahaan besar yang terkenal, bukan karena setiap bulan diberi sumbangan.
“Apakah aku harus mengatakannya kepada bapak tentang semua ini?”
“Sebaiknya jangan sekarang. Berikan saja tanda terimanya kepada bapak, dan katakan kalau tugasmu sudah selesai.”
“Tidak mengatakan bahwa baru sekali ini mereka menerima sumbangan?”
“Jangan sekarang. Kita menunggu waktu yang baik, dan berbincang dengan seluruh keluarga. Perbuatan menilep uang yang sudah bertahun-tahun barangkali bisa dimaaafkan. Tapi perselingkuhan dengan sopir yang juga sudah dilakukan bertahun-tahun, adalah dosa yang sangat besar. Terserah bapak akan melakukan apa terhadap ibu Srikanti nanti. Dan itu memerlukan pembuktian juga, tidak bisa langsung melapor lalu berharap bapak akan percaya."
Puspa mengangguk sedih.
“Sudah, selesaikan saja tugas kuliah kamu, agar kamu bisa bebas melakukan apa saja nantinya.”
Puspa mengangguk, walau sedih, tapi ia harus mengutamakan tugas akhirnya dulu.
“Jadi besok aku ke kantor lagi untuk menyerahkan tanda terima dari panti-panti itu ya? Atau cukup menelpon saja? Aku nggak suka ketemu Priyadi, lalu dia bersikap sok manis kepadaku.”
“Terserah kamu saja.”
Dan Puspa memang kemudian langsung menelpon sang ayah, mengatakan bahwa tugas sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Bagus Puspa, semoga itu tidak mengganggu tugas kamu.”
“Tidak Pak, tidak sampai sehari sudah selesai.”
“Bagus, sekarang tekuni tugas kamu, semoga lancar.”
“Ada tanda terima dari panti-panti, apa harus saya serahkan bapak besok pagi?”
“Tidak usah, bawa saja oleh kamu. Ibumu juga tidak pernah memberikan tanda terima apapun setelah menyumbang. Yang penting kita sudah melakukan tugas mulia, masalah tanda terima itu kan tidak perlu.”
“Baiklah, kalau begitu akan Puspa simpan saja.”
***
Pagi hari itu, Priyadi menghadap tuan Sanjoyo. Ia dan Nilam akan meminta ijin sehari besok, karena ada keperluan keluarga di kampungnya.
“Harus ijin ya?”
“Mohon maaf Tuan, sudah lama saya dan Nilam tidak pulang, dan besok saya ingin pulang, sehari itu saja Tuan.”
“Baiklah, tidak apa-apa. Suruh Nilam juga minta ijin kepada managernya.”
“Sudah saya suruh Tuan, hanya saja siapa yang besok menjemput dan mengantarkan Tuan?”
“Tidak apa-apa, ada beberapa sopir di sini yang bisa melakukannya.”
“Baiklah kalau begitu, terima kasih Tuan."
***
Srikanti sangat kesal. Akibat kakinya sakit dan belum bisa untuk berjalan normal, ia jadi tidak bisa bertemu Priyadi. Tuan Sanjoyo juga tidak pernah menyuruh Priyadi pulang karena tahu bahwa Srikanti tak akan pergi ke mana-mana. Apalagi sejak ia melihat Priyadi masuk ke kamar dan sedang ‘memijit’ kaki Srikanti, ada perasaan tak enak yang dirasakannya. Ia menganggap Priyadi sangat lancang, dan Srikanti juga membiarkannya.
Apakah karena Srikanti pendidikannya tidak tinggi, sehingga tata krama tentang hubungan seorang majikan dan bawahan itu dia tidak mengetahuinya? Dan Priyadi yang seorang laki-laki juga tidak bisa menjaga dirinya yang hanya sebagai sopir dan Srikanti adalah majikan.
***
Dalam sakit itu Srikanti terus dibayangi tentang uang sumbangan, terutama yang sudah rutin setiap bulan dimintanya kepada sang suami. Tentang lima lagi panti fiktif yang diajukannya, Srikanti merasa tidak khawatir karena telah memberi alasan agar tidak diberikan dulu bantuannya karena pimpinan panti sedang umroh bersama-sama. Mana mungkin Srikanti tahu bahwa semua kebohongan dan kebusukannya sudah terbuka oleh anak kandungnya sendiri?
Karenanya siang hari itu ia dengan enteng menanyakan tentang sumbangan yang rutin diberikannya.
“Kamu sedang sakit, mengapa selalu memikirkan uang sumbangan?”
“Mas, walaupun aku sakit tapi panti-panti itu kan memerlukannya. Kasihan mereka menunggu, sementara setiap bulan kita rutin memberikannya.”
“Tidak menunggu kamu bisa jalan saja?” pancing tuan Sanjoyo.
“Mas, kan aku sudah bilang kalau Priyadi sudah pasti bisa melakukannya?”
“Tapi aku heran sama kamu. Kamu sepertinya tidak percaya pada anak kandung kamu sendiri, tapi mengapa sangat percaya kepada Priyadi yang hanya seorang sopir?”
“Mas jangan begitu. Saat ini Puspa sedang sibuk, dan Priyadi itu sudah tahu apa yang harus dilakukannya.”
“Puspa akan bisa melakukannya, percaya saja.”
“Mas jangan ngeyel. Puspa baru menyelesaikan tugas akhirnya, jangan diganggu.”
“Ya sudah, sekarang aku sedang sibuk, jangan lagi menelpon. Bukankah sudah sejak dulu aku tidak suka ditelpon ketika sedang di kantor, kecuali ada hal yang sangat penting? Lagi pula Priyadi besok akan ijin bersama Nilam.”
“Ijin ke mana?”
“Katanya ada urusan di kampung, lagipula dia lama tidak pulang.”
Srikanti kesal karena tuan Sanjoyo menutup ponselnya begitu saja.
“Sikapnya juga sudah berubah, mungkinkah karena dia melihat Priyadi ketika di kamar? Saat aku dioperasipun perhatian dia juga tidak seperti orang yang sedang menunggui istrinya sakit. Dia sibuk dengan urusan kantor," gumamnya.
Srikanti sibuk berpikir tentang suaminya, tapi lebih sibuk lagi memikirkan sumbangan yang harus diterimanya bulan itu. Karenanya kemudian ia menelpon Priyadi.
“Ada apa? Aku sedang mau mengirimkan barang ke luar kota.”
“Pri, sumbangan untuk panti itu harus segera kamu minta.”
“Apa maksudmu? Mana mungkin aku mengatakan kepada tuan tentang sumbangan itu?”
“Aku sudah bilang kalau kamu yang akan mengirimkannya. Kalau kamu tidak mengingatkan, kita tak akan punya uang lagi. Bukankah kita masih banyak kebutuhan?”
“Kamu saja yang mengingatkan, kalau tuan kemudian menyuruh aku, barulah aku jalankan. Lagipula aku sudah minta ijin pada tuan. Besok aku tidak masuk kerja bersama Nilam.”
“Iya, tuan Sanjoyo sudah bilang. Ada urusan apa sih?”
“Urusan keluarga saja, lagipula sudah lama tidak pulang kampung. Ya sudah, aku mau mengirim barang dulu.”
Srikanti yang kesal mencoba turun dari tempat tidur. Tiba-tiba suasana di dalam kamar terasa sesak. Kemudian ia duduk dan mencoba turun. Walker yang ditinggalkan suaminya di kamar itu agak jauh dari jangkauan, seharusnya ada yang membantunya, tapi ia nekat berjalan walau terpincang-pincang. Selangkah lagi dia bisa mencapai walker, tiba-tiba ia tak mampu menahan tubuhnya sendiri, sehingga jatuh tersungkur, dahinya terantuk lantai.
Lolongan keras yang memenuhi rumah mengejutkan bik Supi yang masih berkutat di dapur.
***
Besok lagi ya.
πΉπ·πΉπ·πΉπ·πΉπ·
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung HaBeBe_31
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
πΉπ·πΉπ·πΉπ·πΉπ·
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng In
DeleteTrmksh mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yangtie
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 31* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 31* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteAlhamdulillah, sehat selalu Bu Tien
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Subagyo
DeleteMatur suwun Bu Tien semoga ibu dan keluarga selalu dlm keadaan sehat...Aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Indriyanto
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih. Udah tayang
Semoga bunda dan keluarga sehat slalu
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteHallo pa Endang selamat pagi dan salam kenal.
DeleteKita sama2 Penggemar Cerbung Tien Kumalasari (PCTK).
Saya punya grup WA lho, anggotanya 155 orang, jika mau gabung hubungi saya Djoko Budi Santoso (Kakek Habi) via japri ini kontak daya 085101776038.
Ditunggu ya
Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 31" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis. Sugeng enjing
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 ibu Susi
DeleteMatur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 31 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Mks bun HBB 31 sdh tayang...selamat mlm....jaga kesehatan bun
ReplyDeleteSelamat pagi. Terima kasih ibu Supriyati
DeleteAlhamdulillah, nwn bu Tien
ReplyDeleteSami2 pak Bam's
DeleteAlhamdulillah ... terima kasih Bu Tien semoga sehat selalu.
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yati
Deleteππππ»
ReplyDeleteNuwun Prisc
DeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Ida
DeleteAlhamdulillah,HBB dah hadir, maturnuwun Bu Tien,semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama suami /Kel tercinta..
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bu Tien dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Terima ksih bunda cerbungnya..slmt mpm dan slm sht sll unk bunda sekeluargaπ❤️π₯°πΉ
ReplyDeleteSami2 ibu Farida. Salam sehat dan selamat pagi
DeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 31 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteYaah...kok tuan Sanjoyo ga curiga tentang tanda terima sumbangan yang sebelumnya sih? Percaya banget sama istri tak setia itu...π¬
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...sehat selalu.ππ»π₯°
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Nana
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 31 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Kanti yang badan nya segede bongkang, jatuh tersungkur, klu jalan hrs pake kursi roda.
Tuan Sanjoyo yang sebelum nya pake kursi roda, skrng sdh dapat jalan santai.
Roda berputar terkadang di atas, terkadang di bawah...nih yee...π
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 31 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteTerima kasih Bunda Tien, barokalloh, semoga Bunda Tien dan Pak Tom selalu sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun ibu..Yulian
DeleteSrikanti mendapat bencahana...
ReplyDeleteBencahana, yaitu bencana yang datang bertubi ...
Permisi mau ketemu Mery ...
Terimakasih Mbak Tien...
Sami2. Hati2 di jalan profπ
DeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~31 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
Delete