Saturday, August 24, 2024

AKU BENCI AYAHKU 39

 AKU BENCI AYAHKU  39

(Tien Kumalasari)

 

 

Lenguhan Boy menyadarkan Monik dari perasaannya yang tak menentu. Bergegas dia ke loket pendaftaran. Lalu pergi ke klinik dokter anak. Monik merasa cemas, karena Boy masih panas.

Untunglah Monik membawa kompres yang kemudian ditempelkan ke dahi Boy. Ia duduk, lalu bayangan Tomy sudah tak kelihatan lagi. Entah apa yang dilakukannya di rumah sakit, Monik tak peduli. Ada perasaan tak enak ketika melihat pemandangan itu. Pertama kali melihat Tomy di rumah makan, ia juga bersama gadis itu. Sebenarnya setelah Tomy datang, perlahan sikap kaku terhadap Tomy sudah mereda, apalagi melihat bahwa Tomy sangat menginginkan Boy. Ia juga bersikap manis kepadanya. Ia merangkul pundaknya dan dia membiarkannya. Barangkali Monik sedikit merasa suka. Tapi melihatnya bersama gadis itu lagi, dan melihat sikapnya terhadap gadis itu yang begitu intim, kalau tidak boleh dibilang mesra, rasanya ada yang menguap dari hatinya. Apakah Tomy bisa dipercaya? Benarkah ada niat baik untuk kembali bersamanya dan membesarkan Boy bersama-sama pula? Rupanya itu hanyalah mimpinya.

“Boy,” seorang perawat memanggil, lalu Monik membawanya masuk.

Tiba-tiba Tomy melintas, bersama Kartika. Keduanya tampak mencari-cari.

“Apa benar kamu melihat Boy, anakku?”

“Benar Mas, saat itu kepalaku masih sangat pusing. Jadi agak ragu mengatakannya, benar atau tidak. Tapi setelah disuntik, pusingku sudah banyak berkurang.”

“Jadi kamu belum yakin, bahwa dia Boy?”

“Tapi aku melihat wanita cantik itu. Bukankah itu ibunya? Aku melihatnya ketika di rumah makan. Mas sih, tidak mengenalkan aku sama dia.”

“Aku sedang bingung karena ada ayahku.”

“Mas kena marah?”

“Sedikit. Mana sih, Boy? Ini klinik anak-anak. Tapi dia tidak kelihatan.”

“Siapa tahu dia ada di dalam. Kita tunggu saja di sini.”

“Bukankah kamu sakit? Aku ambil obatnya ini  di apotik ya, kamu menunggu di sini dulu.”

Kartika mengangguk, dan Tomy bergegas meninggalkan Kartika di ruang tunggu klinik anak itu.

Tiba-tiba Kartika bingung. Nanti kalau istri Tomy itu keluar, dia harus bilang apa? Mereka kan belum berkenalan. Ah, tapi dia mengenal Boy, nanti ia akan menyapa Boy saja.

“Jangan-jangan yang di dalam bukan dia.”

Kartika menyandarkan kepalanya. Kata dokter dia tak apa-apa, benar hanya karena kelelahan. Tapi rasa pusing itu masih ada, walau tinggal sedikit. Tiba-tiba terdengar perawat memanggil sebuah nama. Kartika menoleh, dan ia melihat Boy duduk di kursi roda. Ada apa dengan dia? Kartika mendekat.

“Boy?”

Boy membuka matanya, ia masih ingat, gadis cantik yang mengambilkan mobil kecilnya di bawah kolong. Tapi ia tak mampu berkata-kata, matanya kemerahan.

“Kamu sakit dik?”

“Kamu siapa?” Monik pura-pura tidak tahu. Ia tak melihat Tomy di dekat gadis itu.

“O, iya Mbak, saya Kartika. Saya mengenal Boy di rumah makan waktu itu.”

“Baiklah, saya sedang mau ke laborat, maaf.”

Seorang perawat kemudian mendekat, lalu mendorong kursi roda di mana Boy duduk di dalamnya.

Kartika mengikutinya. Apakah sakit Boy parah?

“Mbak? Boy kenapa?”

“Panas, sedang mau diperiksa, mungkin harus opname,” katanya sambil terus mengikuti perawat yang membawa Boy.

Ketika mereka masuk ke laborat, Kartika duduk menunggu di luar ruangan. Monik tak sempat menanyakannya, walau merasa heran karena Kartika mengikutinya ke laborat.

Sementara itu setelah mengambil obat di apotik, Tomy kembali ke poli anak. Tapi dia tak melihat Kartika. Kemana anak itu?

Tomy mengambil ponselnya, menelpon Kartika.

“Kamu di mana?”

“Saya di laborat. Maksudnya di ruang tunggu laborat.”

“Ngapain?”

“Boy sakit, tampaknya agak serius.”

“Serius?” tanya Tomy agak keras.

“Jangan berteriak, datanglah kemari.”

Setengah berlari Tomy mencari letak laborat. Tak sempat membaca rambu-rambu, dia bertanya kepada salah seorang petugas.

“Di mana laborat?”

Begitu ditunjukkan, Tomy langsung berlari ke arah yang ditunjuk oleh petugas yang ditanya. Dari jauh dia melihat Kartika, duduk sendirian.

“Bagaimana? Boy kenapa?”

Kartika merasa kasihan melihat Tomy tampak panik.

“Mas, tenang. Sedang diperiksa, semoga tak apa-apa,” kata Kartika menghibur.

Ketika keluar, Monik tampak sedih. Tomy segera mendekat, memegang tangan Monik yang terasa dingin.

“Apa yang terjadi?”

“Tadi pagi Boy mandi sendiri, karena aku bangun kesiangan. Aku tidak tahu kalau dia sakit. Ketika aku mau berangkat, aku melihat Boy kembali ke kamar dan tidur. Aku pegang badannya panas. Aku panik lalu membawanya ke rumah sakit.”

“Apa kata dokter?”

“Kemungkinan terkena tipes. Dokter menyarankan untuk dirawat. Tapi tadi Boy  diperiksa darahnya. Setelah ini akan dibawa ke ruang rawat.”

“Anakku ….” bisik Tomy dengan wajah pilu.

“Aku sudah memesankan kamar untuk Boy,” air mata Monik berlinang.

Tomy mendekat dan memegang bahunya. Kamu harus tenang, jangan sampai Boy melihatmu sedih.

Monik merasa hangat.

Ketika kemudian Boy keluar dari dalam, ia sudah ditidurkan di atas brankar. Melihat ibunya, Boy melambaikan tangannya sambil menangis.

“Ibu…”

“Boy, tidak apa-apa. Ibu akan menemani Boy.”

“Boy ….”

Tomy mendekat, memegang tangan anaknya, Boy berusaha mengibaskannya, tapi tangannya terlalu lemah.

“Mengapa dia ada di sini?” tanya Boy lemah.

“Boy ,,,. bapak sedih melihat kamu sakit.”

Boy memalingkan wajahnya. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Tomy mengusapnya lembut dengan jemarinya.

“Anak laki-laki tidak boleh menangis,” bisik Tomy.

Perawat membawanya ke kamar inap. Monik dan Tomy mengikutinya. Tomy bahkan lupa kalau ada Kartika yang sedang bersamanya. Walau begitu Kartika mengikuti di belakangnya, padahal waktu itu dia juga sedang tak enak badan.

Kartika yang merasa kasihan pada Boy, tak mengindahkan perasaannya sendiri, yang agak nyeri ketika melihat betapa manisnya Tomy memperlakukan istrinya.

Ketika itulah tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata sang ayah yang menelponnya.

“Ya, Pak.”

“Bagaimana? Kamu sudah bertemu  dokternya?”

“Sudah, tadi Kartika disuntik karena pusing sekali, tapi sekarang sudah jauh lebih baik.”

“Kamu sudah di rumah?”

“Belum Pak, masih di rumah sakit.”

“Mengapa lama sekali?

“Ini Pak, anak mas Tomy sakit.”

“Apa? Anak Tomy sakit? Aku tidak mengerti maksudmu. Kamu ke rumah sakit dengan anak Tomy juga?”

“Bukan Pak. Ketemu di rumah sakit. Nanti saja ceritanya. Ini anaknya harus opname.”

“Opname itu mondok kan?”

“Iya, sudah Pak, nanti Kartika cerita,  sekarang mau menemui mereka. Boy sudah dipindahkan ke kamar inap.”

Kartika menutup ponselnya, lalu bergegas mengikutinya ke kamar inap Boy.

Saat itu Boy sudah ditidurkan di ranjang, Monik dan Tomy tak henti-hentinya menghibur. Walau tak suka melihat Tomy, tapi tak ada yang dilakukannya, kecuali diam, atau barangkali sedang menyembunyikan rasa sakitnya.

“Ibu aku ingin pulang,” rengeknya,

“Sayang, kamu sedang sakit. Kamu ada di sini, karena dokter akan mengobati, supaya kamu sembuh.”

“Ibumu benar. Kamu di rawat di sini supaya sembuh.”

Boy memalingkan mukanya. Tomy kembali meraih tangannya dan menciumnya. Ada air mata menggenang di pelupuk mata Tomy. Baru kali ini ia merasa sangat dekat dengan anak kecil yang adalah darah dagingnya. Begitu dekat, bahkan jiwanya menyentuh sosok kecil yang tampak lemah itu membawanya jauh ke dalam lubuk hatinya. Baru kali ini Tomy merasakan perasaan seperti ini. Bahkan ketika Indira sakit, ia tak begitu merasakannya. Tomy mengusap air matanya, dan Boy melihatnya. Boy merasa aneh. Sejak kapan ayahnya begitu cengeng? Bukankah dia berkata bahwa laki-laki tak boleh menangis?

“Mas, sebaiknya kamu segera pulang, kasihan gadismu menunggu.”

Tomy terkejut. Ia baru sadar bahwa tadi datang bersama Kartika. Dilepaskannya tangan Boy, lalu ia melambai ke arah Kartika, meminta agar gadis itu mendekat.

Kartika mendekat, memegang tangan Boy. Melihat Kartika, Boy tersenyum.

“Boy sakit apa?”

“Perut Boy sakit.”

“Anak baik, pasti segera sembuh. Jangan nangis ya. Besok kalau sembuh main mobil-mobilan lagi.”

“Ibu, kenapa mobil-mobilan tidak dibawa?”

“Nanti akan Ibu ambil. Sekarang biarkan bapak membawa dia pulang, kasihan, sudah lama dia menunggu di sini.”

Melihat Monik tampak tak senang, Tomy berusaha menerangkan keadaan yang sebenarnya.

“Ini namanya Kartika. Dia anak majikanku. Tadi aku diperintahkan untuk membawanya ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya, tapi ia melihat Boy dan mengatakannya padaku, sehingga kemudian aku berusaha menemuinya. Aku sangat prihatin melihat keadaan Boy. Tolong jangan mengusirku.”

Monik tertegun sejenak. Baru kali ini ia melihat Tomy berbicara panjang lebar. Tapi keterangan Itu mendinginkan darahnya yang sedikit bergolak.

“Maaf Mbak, saya sama mas Tomy hanya berteman, karena dia sopir di perusahaan ayah saya,” kata Kartika yang merasa bahwa Monik mencurigainya.

Monik tersenyum tipis. Teman tapi mesra? Aduhai deh.

“Mas Tomy, saya pulang dulu saja, nanti saya bilang bapak bahwa Mas sedang menunggui Boy.”

“Kamu bawa saja mobilnya. Nanti saya gampang. Bawa langsung ke kantor dulu ya?”

“Baiklah. Mbak saya pulang dulu, semoga Boy segera sembuh.”

Monik mengangguk, sambil mengulaskan senyum.

“Aamiin, terima kasih ya dik.”

“Boy, mbak pulang dulu ya, nanti mbak ke sini lagi, membawa mobil-mobilan untuk Boy. Mau?”

Boy hanya mengangguk. Lalu melihat ke arah kiri dan kanannya. Ada ibunya, dan ada ayah yang dibencinya. Tapi Boy tak mampu bicara banyak. Sebentar-sebentar ia merintih. Monik merasa Iba.

Dokter yang kemudian datang, membawa hasil pemeriksaan. Boy memang dinyatakan menderita sakit tipes dan harus dirawat.

Boy terpaksa menangis ketika perawat menancapkan jarum infus di pergelangan tangannya. Tomy memeganginya agar Boy tidak meronta.

“Tenang Boy, tidak lama sakitnya,” katanya lembut.

Boy seperti bermimpi. Laki-laki yang dibencinya bisa berkata selembut itu? Boy berhenti menangis, tapi kelihatan kalau dia menahan sakit. Kata bapak yang dibencinya itu benar. Sakitnya hanya sebentar.

“Monik, kalau kamu ingin istirahat, istirahatlah. Biar aku menemani Boy.”

Monik menatap Boy, seakan bertanya, maukah ditunggui ayahnya? Boy ingin menolak, tapi ibunya tampak agak pucat. Karenanya dia hanya diam. Lagipula kantuk tiba-tiba menyerangnya. Barangkali obat yang dimasukkan ke dalam infus itu menimbulkan efek mengantuk. Boy hanya mengangguk, tapi kemudian ia memejamkan matanya. Tomy mengelus kepalanya, dan merasa lega ketika panas di dahi Boy sudah mereda.

Elusan itu membuat Boy merasa nyaman. Lalu ia terlelap dalam tidurnya.

Tomy mengambil sebuah kursi, diletakkannya di samping Boy. Ia duduk di atasnya, dan kembali mengelus kepala Boy. Monik menatapnya penuh terima kasih. Tiba-tiba ia merasa sangat nyaman, ketika ia sedang gelisah dan cemas, ia tidak sendirian. Ada sosok yang menopang hatinya membuatnya berdiri dengan kuat. Tapi ketika bayangan gadis cantik itu melintas, kegelisahan itu kembali muncul. Tomy ganteng dan gagah, bisa saja ia menggaet gadis manapun yang disukainya. Atau bisa saja setiap gadis jatuh cinta padanya dan dengan senang hati Tomy melayaninya. Bukankah dulu Tomy suka bersenang-senang? Ia tahu karena pembantu Rohana yang bernama Sinah itu suka sekali mengumbar rasa tidak senangnya pada Tomy, lalu menceritakan keburukannya. Bahkan Sinah mengatakan bahwa dia nyaris diperkosa.

 Miris hati Monik kalau mengingat gadis itu. Kalaupun gadis itu anak majikannya, apa salahnya saling suka?

“Ya ampuun, anakku sedang sakit,  mengapa aku mengingat hal-hal buruk itu? Bukankah Boy sedang tidak baik-baik saja?"

 Monik kembali menatap Tomy yang duduk di samping tempat tidur Boy. Tangannya terus memegangi tangan kecil Boy, dan terkadang diciumnya.

Hati Monik tergetar. Bayangan Kartika memudar. Ia melihat Tomy tak begitu peduli pada Kartika. Seperti bukan pasangan yang sedang jatuh cinta. Tapi kemanjaan gadis itu sangat tampak. Monik belum begitu bisa memahami apa yang terjadi. Pikirannya masih kacau. Lalu ia teringat bahwa belum membawa baju ganti, untuk Boy maupun untuk diri sendiri. Ia juga belum makan sejak siang.

Monik berdiri mendekati Tomy.

“Tolong titip Boy, aku mau pulang sebentar.”

“Naik apa? Atau biar aku saja yang pergi, kamu mau mengambil sesuatu?”

“Iya, secepatnya aku akan kembali.”

“Jangan khawatir, aku akan menjaganya.”

Monik keluar dari ruangan, tapi diluar pintu ia berpapasan dengan Satria, dan laki-laki setengah tua yang belum dikenalnya, tapi ada gadis itu lagi yang membawa sebuah bungkusan besar.

Belum sempat dia menyapanya, ponselnya berdering. Dari ayah mertuanya. Begitu cepat tersebar berita Boy yang dirawat di rumah sakit. Siapa mengatakannya?

***

Besok lagi ya.

 

62 comments:

  1. Replies
    1. 🌹🌻🌹🌻☘️🌻🌹🌻🌹

      Syukron Bu Tien, AaBeAy_39 sudah tayang.

      Tomy dan Boy semakin dekat.
      Apa kabar pa Sutarno dan Kirani ya?
      Ditunggu episode berikutnya hari Senin.....🤝🤝🙏

      🌹🌻🌹🌻☘️🌻🌹🌻🌹

      Delete
  2. 💛🌻💛🌻💛🌻💛🌻
    Alhamdulillah 🙏🦋
    AaBeAy_39 sdh hadir.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien & kelg
    selalu sehat, bahagia
    & dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin.Salam aduhai😍🤩
    💛🌻💛🌻💛🌻💛🌻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun jeng Sari
      ADUHAI deh

      Delete
  3. Alhamdulillah 👍🌷
    Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat wal afiat 🤲🙏

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku Aku Benci Ayahku telah tayang

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  6. Alhamdulullah
    Terima kasih bunda Tien
    Semiga sehat walafiat
    Salah aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  7. Maturnuwun buu Tien, sugeng malming bu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah, ak be ay 39 sdh tayang . terima kasih bu Tien ..semoga bu Tien sll sehat ...salam hormat dan aduhai aduhai bun ❤️ 🌹

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulilah tomy dan boy semakin dekat... smg jadi keluarga yg utuh ....

      Delete
    2. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Sri

      Delete
  9. Alhamdulillah *Aku Benci Ayahku*

    episode 39 tayang

    Mksh bunda Tien sehat selalu doaku
    Salam hangat dari Jogja
    Ttp semangat dan tmbh ADUHAI ADUHAI ADUHAI

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun salam sehat penuh berkat tetap semangat.

    ReplyDelete
  11. Terima kasih, ibu. Ceritanya sudah tayang.

    ReplyDelete
  12. Bagus ya idenya...Boy sakit, dirawat di RS...jd Tomy punya kesempatan mendekati tanpa takut ditolak seperti biasanya.👍👍😀

    Terima kasih, ibu Tien. Salam sehat.🙏

    ReplyDelete
  13. Begitu cara Tomy dekat dengan Monik lagi. Sakit yang membawa berkah.
    Tinggal nasib Rohana yang belum jelas. Kalau penyakit 'gila harta' tidak sembuh, dia akan benar' gila.
    Salam sukses mbak Tien yang ADUHAI, semoga selalu sehat, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun pak Latief

      Delete
  14. Maturnuwun Ibu Tien...
    Sehat selalu buat Ibu Tien dan keluarga 🤲🤲🙏🙏

    ReplyDelete
  15. Semoga bunda Tien selalu sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Salamah

      Delete
  16. Alhamdulillahi rabbil'alamiin
    Terima kasih tayangan "aq benci ayahku"
    Semoga bu tien sehat² n bahagia selalu

    ReplyDelete

  17. Alhamdullilah
    Cerbung *Aku Benci Ayahku 39* telah. hadir
    Matur nuwun bu Tien
    Semoga sehat bahagia bersama keluarga
    Aamiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  18. Alhamdulillah dah d baca semoga Tomy insap dan bersatu lagi dengan Monik dan boy, makasih bunda

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah AKU BENCI AYAHKU~39 sudah hadir, terimakasih bu Tien, semoga sehat & bahagia senantiasa bersama keluarga.
    ‌Aamiin yra..🤲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  20. Alhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien, sehat wal'afiat semua ya 🤗🥰

    Senangnya mereka bisa berkumpul , Tomy, Monik & Boy

    ReplyDelete
  21. .Hamdallah...cerbung Aku Benci Ayahku part 39 telah tayang

    Terima kasih Bunda Tien
    Sehat selalu Bunda, bahagia bersama Amancu di Sala. Met berakhir pekan nggeh Bunda.

    TTM : teman tapi mesra...he...he...
    Bagus klu Monik msh ada rasa cemburu, berarti tandanya sdh mulai cinta.

    Semoga Tomy bisa melunakkan anak nya s Boy...yang msh keras kepala..seperti eyang nya pa Drajat..😁

    ReplyDelete
  22. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
    Matur nuwun pak Munthoni

    ReplyDelete
  23. Terimakasih bunda Tien, selamat berlibur dengan keluarga tercinta.

    ReplyDelete
  24. Alhamdulillah, matursuwun Bu Tien
    Salam hangat semoga sehat selalu

    ReplyDelete
  25. Alhamdulillah ,Aku Benci Ayahku 39 dah tayang.
    Hatur nuhun..Bu Tien..🌹🌹🌹

    ReplyDelete

MASIH ADAKAH MAKNA 09

  MASIH ADAKAH MAKNA  09 (Tien Kumalasari)   Binari melotot dengan kaki gemetar. Di depannya, sang ayah memegang kotak yang telah kosong, de...