Tuesday, July 7, 2020

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA 12

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA  12

(Tien Kumalasari)

"Ponsel ketinggalan?" pekik Mery.

Seorang pelayan tiba-tiba berlari.

"Ini punya bapak?"

"Oh, iya benar.. terimakasih ya," katanya kepada pelayan itu, yang kemudian mengangguk dan berlalu.

"Ada Bagas disini?"

Bagas mencoba tersenyum, senyum paling masam yang pernah dia berikan. Barangkali lebih masam dari yang namanya asam.

"Iya mas.. ini sudah mau pulang."

"Sebenarnya ada yang aku ingin bilang sama kamu, tapi aku sedang tergesa-gesa, jadi nanti lain kali saja kita bicara."

"Oh, baiklah."

"Mery, aku pergi dulu," kata Basuki kepada Mery, sambil menyentuh lengannya.

"Hati-hati, jangan sampai hidung kamu ketinggalan juga," canda Mery.

Basuki tertawa  sambil berlalu. Ia tampak tergesa-gesa.

Bagas berdiri.

"Lho, minumnya belum dihabiskan."

"Sudah, terimakasih."

Tak ada yang perlu ditanyakan Bagas. Barangkali sikap mereka berdua sudah menjawab semuanya. Mery juga belum sempat mengatakan seberapa jauh hubungannya dengan Basuki karena Bagas bergegas pergi, membawa luka yang pedih perih..  meneteskan segenap duka yang terus menerus mengiris  hatinya.

***

 

"Bagaas..." panggilan ayahnya tak digubris.. ia langsung masuk kekamar.

"Bagaas..." panggilnya lagi. Bagas menjenguk dari balik pintu.

"Ma'af bapak, Bagas sedang  tidak enak badan. Bagas mau tiduran dulu ya pak," kata Bagas yang merasa bersalah telah mengacuhkan panggilan ayahnya.

Bagas kemudian menutup pintunya.

"mBook," panggil pak Darmono kepada mbok Sumi.

mBok Sumi mendekat.

"Ya pak..."

"Lihat itu Bagas, pulang kerja langsung masuk kekamarnya, katanya nggak enak badan."

"Owalaah, dari kemarin itu pak."

"Coba kamu pijitin atau bawakan obat, tapi tanyakan dulu sakitnya bagaimana. Bingung aku. Beberapa hari ini jarang bicara."

"Mas Bagas itu sakitnya sakit cinta kok pak."

"Apa?" tanya pak Darmono terkejut.

"Sakit cinta. Katanya begitu," kata simbok yang langsung masuk kekamar Bagas, meninggalkan pak Darmono termangu ditempatnya.

"Mas Bagas.." kata simbok yang lalu memegang kaki momongannya.

Bagas menelungkupkan tubuhnya.

"Simbok pijit ya?"

"Hm..." hanya itu jawaban Bagas.

"Ini masih sakit yang kemarin? Sakit karena pacarnya diambil orang?" 

Bagas tak menjawab. 

"Maas... mas, cah gantenge kaya gini kok bisa patah hati. Ya cari lagi to mas, dunia tidak hanya seluas daun kelor."

Simbok masih saja ngedumel sambil memijit-mijit kakinya, tapi Bagas tak menjawab sepatahpun. Ia juga heran pada dirinya, mengapa harus mencintai perempuan yang jauh lebih tua darinya. Dan mengapa melihat kebersamaannya bersama lelaki lain maka hatinya menjadi terluka?

"mBok, patah hati itu sakit lho mbok..." keluh Bagas .

"Halaah.. sakit yang seperti apa to mas.. kok seperti nggak ada yang lain saja. Simbok kan sudah bilang, dunia tidak selebar daun kelor. Apalagi mas Bagas ini guanteng.. pinter.. jaan.. mana ada gadis yang nggak suka sama mas Bagas?"

"Tapi kan nggak ada yang sama mbok?"

"Lha ya ada saja.. sama-sama perempuan, sama-sama cantik.. Lha kalau cari yang persis mana ada, kecuali kalau dia itu dilahirkan kembar."

Bagas terbatuk-batuk menahan tawa.

"Kasihan  bapak lho mas, tadi bapak bilang mas Bagas sakit, wajahnya kelihatan sedih."

"Masa mbok?"

"Iya. Namanya anak semata wayang. Bapak itu punyanya cuma mas Bagas saja, jadi kalau mas Bagas sakit, bapak juga merasakan sakitnya."

"Masa?"

"Dibilangi kok mosa-masa terus. Simbok tadi bilang sama bapak, kalau mas Bagas itu sakitnya sakit cinta."

"Apa? Kamu bilang begitu sama bapak?"

"Iya mas, kalau sakit cinta kan tidak menghawatirkan, beda kalau yang sakit raganya. Kalau yang sakit raga, maka harus pergi ke dokter, minum obat. Kalau sakit cinta.. ya harus dirinya sendiri yang mengobati.. Dengan begitu bapak tidak usah terlalu khawatir."

Bagas tak menjawab. Mungkin sudah terlelap.

 

***

 

Basuki mengendarai mobilnya pelan, jalanan agak macet karena bersamaan dengan lajunya bis-bis besar yang bertujuan kearah Jakarta.

Ketika dalam keadaan setengah berhenti itu Basuki melihat seorang perempuan setengah tua dikiri jalan, melangkah sempoyongan seperti hendak terjatuh. Rasa iba menyentuh hatinya. Basuki mencari jalan agar bisa  berhenti dikeramaian itu. 

Sudah agak jauh dari perempuan itu ketika Basuki berhasil meminggirkan mobilnya dan berhenti. Basuki turun dan setengah berlari mendekati. Ketika sampai, dilihatnya perempuan itu sudah terduduk diatas batu.

Terengah Basuki menatap perempuan setengah baya itu. 

"Bu.. ibu sakit?"

Perempuan itu tak menjawab. Agak terkejut melihat seseorang memperhatikannya. Diangkatnya wajahnya yang pucat, menatap Basuki tanpa berkedip. 

"Ibu sakit?

Perempuan itu mengangguk lemas.  Basuki ingin mengulurkan uang seperti biasa dilakukannya setiap bertemu dengan orang yang tampaknya pantas dikasihani.

Ia sudah merogoh dompetnya tapi tiba-tiba dilihatnya perempuan itu terkulai, dan menjatuhkan tubuhnya ketanah. Basuki kebingungan. Dilihatnya lalu lalang kendaraan masih ramai, tapi tak seorangpun berhenti untuk memberikan pertolongan. Ia menatap kearah mobilnya, berhenti agak jauh dari perempuan yang terkulai itu. Apa boleh buat, tanpa berfikir panjang Basuki mengangkatnya, dan membawanya kearah mobil. Tubuh kekarnya tampak tak begitu keberatan dengan beban perempuan itu. Bergegas dibukanya mobil dengan jari tangannya. Agak susah karena dia berusaha membuka pintu sambil menggendong perempuan itu, tapi akhirnya ia bisa memasukkannya kedalam mobil, menidurkannya di jok belakang. Ia lega karena perempuan itu masuh bernafas. Yang difikirkannya sekarang adalah, dimana rumah sakit terdekat. Basuki memacu mobilnya, beberapa kilo didepannya adalah Salatiga.

Basuki memukul-mukul kemudinya dengan gelisah. Sesekali dilihatnya perempuan yang tergolek dibelakang. Masih diam seperti tadi, atau malah sudah meninggal? Hati Basuki menciut. Bagaimanapun nyawa perempuan itu harus diselamatkannya. Basuki sekarang bukanlah Basuki yang dahulu, yang tak pernah peduli pada penderitaan orang lain. Sekarang hatinya penuh welas asih. Hari-hari yang menggilasnya memupuk jiwanya menjadi jiwa yang bersih dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang murni dan mulia. Rasa welas asih itu mengalahkan segalanya, bahkan kepentingannya sendiri yang sa'at ini ditunggu para anak buahnya untuk memberikan laporan. Yang penting adalah menyelamatkan ibu setengah tua ini.

Setengah jam lamanya ia baru bisa memasuki sebuah rumah sakit. Tergesa dia minta agar pihak rumah sakit menyediakan brankar untuk menggotong perempuan yang tak berdaya itu.

Langsung dimasukkannya dia ke UGD untuk mendapatkan perawatan. Basuki lega perempuan itu masih bernyawa.

"Tolong, selamatkan dia," pintanya.

Ketika harus mengisi daftar pasien, Basuki kebingungan.

"Siapakah nama ibu itu?"

"Namanya? Saya... saya tidak tahu suster.."

Perawat itu menatap heran.

"Tidak tahu? Lalu.. bapak ini siapanya?"

"Saya hanya menemukan dia pingsan ditepi jalan lalu membawanya kemari."

Perawat itu mengangguk-angguk, tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya menyaksikan apa yang diperbuat Basuki. 

"Kalau begitu nama Bapak saja."

"Basuki."

"Alamat ?"

Basuki mengulurkan kartu namanya, agar perawat itu mencatatnya sendiri.

"Tolong rawat dia, saya yang akan membayar semua biayanya." katanya kemudian.

Perawat yang menerimanya mengangguk. Ia membuatkan tanda terima ketika Basuki menyerahkan sejumlah uang. Basuki juga meninggalkan nomor kontaknya.

"Adakah penjual pakaian disekitar rumah sakit ini?"

"Ada pak, didekat pintu keluar ada sebuah toko yang menjual banyak perlengkapan untuk pasien menginap. Ada pakaian juga."

"Kalau begitu bisakah saya minta tolong suster agar membelikan pakaian untuk ibu itu? Mungkin tiga atau empat setel pakaian untuk menggantikan pakaian dia yang lusuh. Buang saja dan gantikan yang bagus dan bersih." katanya sambil membuka dompetnya lagi untuk mengambil beberapa lembar uang ratusan yang lalu diberikannya kepada perawat itu.

"Tolong ya sus, kasihan dia."

"Baiklah pak, saya akan bantu." kata perawat yang merasa kasihan kepada Basuki karena harus memikirkan pakaian untuk si ibu itu, yang belum juga diketahui namanya.

Basuki kemudian duduk dikursi tunggu dengan gelisah.

Dilihatnya arloji ditangannya. Jam lima kurang seperempat. Pasti dia sedang ditunggu. Apa boleh buat, Basuki segera menelpon anak buahnya untuk mengundur pertemuan itu.

"Aku sedang dirumah sakit, mengantarkan seorang kerabat. Mungkin  malam baru sampai, jadi pertemuan ditunda sampai besok."

Ketika dokter keluar dari ruang perawatan itu, Basuki mengejarnya.

"Dokter, bagaimana keadaannya?"

"Tidak apa-apa, dia hanya dehidrasi, tapi juga ada penyakit yang dideritanya, tidak parah, ada infeksi di saluran pernafasan. Tapi saya belum yakin, tunggu hasil lab nya besok."

"Oh terimakasih dokter."

"Anda ... anaknya..?" tanya dokter itu ragu-ragu.

"Buk.. bukan.. saya menemukannya dijalan..."

Dokter itu menurunkan kacamatanya, menatap Basuki dengan seksama.

"Anda menemukannya dijalan, dan anda kemudian membawanya kemari?"

"Ya dokter, terimakasih banyak."

Dokter itu mengangguk-angguk. Lagi-lagi tatapan penuh kagum terpancar dari mata dokter itu.

Basuki kembali duduk. Ia harus menunggu sampai perempuan itu sadar dan benar-benar menjadi baik.

***

 

"Bagas, hampir maghrib. Kamu bisa bangun?" tanya pak Darmono lembut, takut suaranya mengejutkan Bagas.

Bagas membuka matanya. Dilihatnya ayahnya berdiri disamping pembaringannya, menatapnya khawatir. Benar kata simbok, kalau anak sakit maka orang tua juga pasti akan merasa sakit.

"Bapak, Bagas tak apa-apa."

Lalu Bagas bangkit dan duduk ditepi pembaringan. Pak Darmono segera duduk disampingnya.

"Kamu benar-benar tidak sakit? Tadi kamu bilang sedang tidak enak badan."

"Tidak bapak. Hanya kecapekan."

"Kata simbok kamu sakit cinta?"

Bagas tersenyum.

"Simbok ada-ada saja."

"Kamu memikirkan Mery?"

"Ah, bapak.."

"Tampaknya Mery tak menanggapi perasaanmu .."

Tiba-tiba Bagas jadi ingat Basuki.

"Bapak, mas Basuki menitipkan salam untuk bapak."

"Oh, wa'alaikum salam.. Kapan kamu ketemu dia?"

"Kemarin."

"Dia akan menemui bapak dalam waktu dekat."

"Oh, apa ada perlu?"

"Entahlah, Bagas tidak tau."

"Benarkah kamu baik-baik saja? Sikapmu tak seperti biasanya."

"Bagas baik-baik saja."

"Ya sudah, sudah maghrib, ayo kita shalat ke masjid."

Bagas mengangguk, ia menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi. Pak Darmono menatap punggung anaknya dengan berbagai pertanyaan di benaknya. 

"Benarkah kata simbok, bahwa Bagas sakit cinta? Tapi ini bukan sikap yang menyenangkan. Ini adalah cinta yang kandas. Cinta yang tak bersambut. Dan pak Darmono merasa bahwa dugaannya hampir benar.

***

Basuki selesai menjalankan sholat maghrib di mushola rumah sakit itu, ketika perawat mendekatinya.

"Bapak Basuki, ibu itu sudah sadar."

"Apakah dia sudah menyebutkan namanya?"

"Namanya Sumini. Dia tidak punya surat atau keterangan apapun juga."

"Baiklah, saya akan menemuinya." kata Basuki yang kemudian berjalan memasuki ruang dimana Sumini dirawat.

Basuki senang, dilihatnya  ibu itu sudah mengenakan pakaian yang bersih dan bagus. 

"Saya sudah membelikan lima setel pakaian, ini sisa uangnya pak," kata perawat itu sambil mengembalikan sisa uangnya.

"Sudah,  untuk suster saja."

"Jangan pak, saya tidak bisa menerimanya, nanti saya mendapat teguran dari atasan saya."

"Oh, baiklah, terimakasih banyak."

"Sama-sama bapak."

"Sebentar, apakah bu Sumini memerlukan dirawat disini?"

"Kata dokter ya, mungkin dua atau tiga hari, hasil pemeriksaan laborat akan keluar besok pagi."

"Baiklah, pilihkan kamar yang baik untuk dia. Tidak usah yang VIP tapi jangan yang sekamar berisi beberapa orang."

"Klas satu?"

"Ya, tidak apa-apa, saya akan menemuinya terlebih dulu sebelum saya pulang."

Perawat mengangguk, Basuki kemudian beranjak mendekati dimana bu Sumini berbaring. Wajah itu sudah tampak bersih, tapi masih pucat. Ia menatap Basuki lekat-lekat, mencoba mengingat, apakah ia pernah bertemu laki-laki ganteng itu.

"Ibu..."

"Anak siapa?"

"Ibu lupa sama saya?"

"Lupa-lupa ingat, seperti penah melihat.. tapi lupa."

"Ibu pingsan ditepi jalan."

"Oh, anak yang mendekati saya waktu itu... oh.. sekarang saya dimana? Benarkah dirumah sakit?"

"Benar, ibu harus dirawat disini, mungkin beberapa hari."

"Tidak, biarkan saya pergi.."

Tiba-tiba bu Sumini bangkit, berusaha duduk.

"Jangan bu, lihat, ibu masih diinfus. Tidak bisa bangun seenaknya."

"Tidak nak, bagaimana saya harus membayar semua ini? Mana buntalan pakaianku, ada uang hanya sedikit, ya Tuhan, cukupkah untuk membayarnya?"

Mata Sumini berkaca-kaca. 

Basuki tak tau ada buntalan pakaian yang tertinggal. Basuki tak perduli. Ia bisa menggantikan semuanya.

"Aku.. ini baju siapa? Aku tidak mau.."

"Bu, tenanglah bu, buntalan pakaian ibu tidak usah ibu fikirkan, ada uang berapa disana, nanti aku gantikan."

"Apa maksudmu? Aku harus membayar pengobatan.. apakah cukup.. hanya duapuluh ribu atau kurang.. cukupkah.. suster? Ini lepaskan pakaianku. Aku tidak mau, mana bajuku tadi?"

Perawat yang menunggui didekat Sumini mendekat.

"Bu, ini pakaiaan ibu. Bapak ini membelikan baju-baju untuk ibu. Itu, sudah saya simpan di almari. Bapak ini juga sudah membayar semua biaya selama ibu dirawat. Jadi ibu tenang saja. Sebentar lagi ibu akan dipindahkan ke ruang inap ya."

Sumini tampak binggung.

"Suster, tenangkan hati ibu ini, besok saya akan kembali lagi kemari untuk melihat keadaannya."

"Baiklah bapak."

"Bu, ibu tenang saja ya, ibu baru boleh pulang setelah dokter menyatakan sembuh."

Sumini masih tampak bingung. Ia tak menjawab sepatah katapun sampai Basuki benar-benar meninggalkannya, dan perawat membawanya kesebuah kamar inap yang bersih."

***

Pagi itu Bagas yakin bahwa Kristin belum akan masuk kekantor, karena biasanya dia pasti datang beberapa menit setelahnya. Namun sudah jam sembilan pagi Kristin belum tampak batang hidungnya.

Bagas benar-benar merasa kesepian. Celoteh yang menyebalkan itu ternyata juga dirindukannya. Aduhai, si centhil, pintar, cantik, tapi teledor. Itu selalu gumamnya kalau mendengar tiba-tiba Kristin berteriak karena melupakan sesuatu.

Bagas geleng-geleng kepala. Sejenak ia melupakan Mery yang hampir pasti akan terlepas dari tangannya. Hanya sejenak, lalu ia merasa betapa batinnya sangat teriris. Mery pacaran sama Basuki?  Tapi Bagas belum yakin. Dia harus mendengar sendiri dari Mery, sejauh mana hubungannya dengan Basuki. Tiba-tiba Bagas merasa, bahwa sebelum ada janur melengkung maka kesempatan untuk merebutnya masih terbuka lebar.

"Aku akan tetap mendekati mbak Mery, apapun yang terjadi," gumamnya dengan perasaan gelisah. Rasa cemburu itu hampir sama menghilangkan akal sehatnya. Biar belum sa'atnya makan siang, ia akan tetap datang kesana. Ia harus bertemu Mery sekarang juga. 

Namun tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki mendekat, Tidak hanya seorang. Bagas menoleh kearah pintu.

***

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Monday, July 6, 2020

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA 11

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA   11

(Tien Kumalasari)

 

Bagas terpaksa berhenti, manahan gemuruh didadanya. Melihat kenyataan ketika mereka berduaan, pastilah bukan sekedar karena ada pesanan dari Basuki kepada Mery.  Ketika turun dari mobil, lalu Basuki menggandeng lengan Mery, sangat menusuk perasaan Bagas. Ia lebih baik menghindar, dan suatu sa'at akan bertanya langsung kepada Mery tentang hubungan mereka. Tapi panggilan itu membuat langkahnya terhenti.

"Bagaas," Mery mengulangnya.

Bagas menoleh dan kembali menatap pemandangan yang membuat hatinya semakin bergelora. Bagai ombak dilautan menghempas padas ditepi laut. Terburai memercikkan semburan air yang memenuhi dadanya. Tapi semburan itu terasa panas, menghentak.

Basuki dan Mery melangkah mendekati.

"Sudah mau pulang Gas?"

"Iya, tadi siang belum sempat makan, lapar, lalu sebelum pulang mampir kemari," katanya berbohong.

"Bagas, ayo masuk dulu, kita bisa omong-omong tentang banyak hal," ajak Basuki, tapi tangannya tak juga lepas dari lengan Mery. Bagas semakin yakin ada sesuatu diantara mereka.

"Tidak mas, aku sangat letih, baru pulang kerja."

"Kamu dua kali kemari dan tidak ketemu aku bukan?" tanya Mery.

"Iya, kan sudah biasa kalau saya makan disini selalu ketemu mbak Mery. Sekarang saya permisi dulu ya."

"Bagas, benar nih nggak mau omong-omong dulu?" tegur Basuki 

"Lain kali saja mas, aku benar-benar capek."

"Baiklah, sampaikan salamku untuk bapak ya, bilang aku akan kerumah dalam waktu dekat."

"Ya mas, akan saya sampaikan." kata Bagas lalu bergegas masuk kedalam mobilnya.

Mery menatapnya dengan perasaan bercampur aduk. Ia tau Bagas pasti kecewa melihat kebersamaannya dengan Basuki. Tapi ia tak sempat berfikir lama, karena Basuki segera menariknya masuk kedalam warung.

 

***

 

Selesai berganti pakaian, Bagas segera menghempaskan tubuhnya ke pembaringan. Ia memejamkan matanya, mencoba melupakan semua yang pernah dialaminya bersama Mery. Seakan tak percaya melihat Mery seperti sudah sangat akrab dengan Basuki. Kapankah mereka berkenalan? Mengapa ia sama sekali tak mengetahuinya?

Asyik meronce dari setiap pertemuan ke pertemuan-pertemuan selanjutnya bersama Mery, membuat Bagas tak sanggup memejamkan matanya. 

"Gas..." panggilan itu membuatnya menatap kearah pintu. Dilihatnya ayahnya berdiri termangu disana.

"Aku kira kamu tidur."

"Pengin tidur, tapi belum bisa pak."

Pak Damono mendekat.

"Kamu tampak lelah Gas... biar simbok mijitin kamu ya.." kata pak Darmono sambil beranjak kebelakang. Bagas tak menjawab apapun, sampai ketika simbok datang dan memegang kakinya.

"Mas Bagas kecapekan. Apa dikantor kerjanya berat?" tanya simbok sambil memijit-mijit kakinya.

"Aku lagi sedih mbok..." keluh Bagas lirih.

"Lha kok sedih kenapa mas bagus.. tumben-tumbenan pakai sedih segala."

"Pacarku diambil orang mbok..." kata Bagas sekenanya. Bagas sangat dekat sama simbok, karena sejak masih bayi simbok itulah yang merawatnya. Kasih sayang simbok sudah seperti kepada anak yang dikandungnya sendiri.

"Walaah... cuma pacar diambil orang saja mengapa sedih mas, mas Bagas itu bagus.. ngguanteng..  cari yang lain apa susahnya mas."

"Aku cintanya sama dia mbok.."

"Cinta itu makanan apa to mas? Oh ya, simbok jadi ingat, beberapa hari yang lalu, yang saya juga sudah bilang sama mas Bagas, tentang gadis cantik yang mencari mas Bagas itu.. apa dia yang mas Bagas maksudkan? Kalau dia, biar saja mas, simbok kurang suka cara dia perpakaian. Masa sudah pakai baju kok masih kelihatan semua anunya.."

Bagas tertawa.

"Anunya itu apa mbok?"

"Itu.. maksud simbok.. barang yang harusnya disembunyikan.. mengapa dibiarkan mintip-mintip begitu. Saru itu mas. Nggak apa-apa kalau dia diambil orang mas, cari yang lain yang  bener-bener bisa menjaga kewanitaannya."

"Ah, bukan itu mbok.. gadis lain.."

"O.. bukan ya.. lha tapi siapapun dia.. jangan sampai dibawa sampai sedih begini.. kalau menurut simbok.. cari yang lain saja..  wong cah bagus kok cuma ditinggal pacar saja sedih. Besok simbok kenalin, itu.. putranya bu Murni sebelah rumah itu, itu cantik lho mas.. mau ndak?"

"Ih, simbok ada-ada saja.. nggak usah.. terusin aja mijitnya sampai aku tertidur ya."

"Ya. tapi nanti maghrib simbok  bangunin lho.."

Bagas memejamkan matanya, berbincang sama simbok membuat bebannya sedikit berkurang.

 

*** 

 

"Kamu itu seperti anak kecil saja Kris, kok berjalan saja bisa jatuh," tegur bu Suryo ketika Kristin ada dirumah orang tuanya.

"Kristin berjalan tergesa-gesa ma, sementara Kristin memakai sepatu dengan high heel.'

"Ya sudah, besok jangan ke kantor dulu, ini agak bengkak, butuh sehari dua hari untuk memulihkannya."

"Ya mama.."

Tak ada yang bisa Kristin lakukan selain mengikuti saran mamanya, karena memang kakinya benar-benar sakit.

"Sudah berkurang sakitnya?"

"Sudah ma, lihat, sudah tidak bengkak lagi kan?"

"Sini mama gosokin lagi..."

Hari itu Kristin kembali bermanja bersama ibunya, setelah pak Suryo menyuruhnya tinggal sendiri untuk memupuk kemandirian pada jiwa anak gadisnya.  Banyak hal memang membuat Kristin berubah, misalnya bisa menjalankan usaha ayahnya dengan baik, tapi ia tetaplah gadis manja yang masih suka merengek-rengek pada mamanya.

"Kris, mama mendengar dari papa, katanya kamu jatuh cinta pada Bagas?"

"Salahkah itu ma?"

"Tidak, tapi sebagai seorang gadis, kamu tak pantas terlalu menampakkan perasaan hati kamu, apalagi didepan pria itu. "

"Bukankah lebih baik berterus terang daripada sembunyi-sembunyi?"

"Ada batasan dimana seorang wanita harus duduk pada kodratnya. Ia layak menunggu bukan mendahului menyatakan cinta. Ada sih beberapa yang melakukannya, tapi menurut mama, itu kurang pantas. Seringkali seorang laki-laki cenderung lebih suka kabur menghadapi gadis yang berani seperti itu."

"Masa sih ma?"

"Itu benar."

Lalu Kristin teringat pada sikapnya terhadap Bagas yang tampak selalu mengejarnya. Itukah yang menyebabkan Bagas justru menjauhinya? Barangkali dia muak melihat tingkah seorang gadis yang terlalu mengejar-ngejarnya.

"Ingat itu Kristin."

Kristin menatap mamanya.  Tampak bersungguh-sungguh. Selama ini mamanya tak pernah menganggap tindakannya salah. Tapi itu hanya dalam hal berpakaian, memilih apapun agar dia tampak cantik. Tapi kali ini mamanya mencela cara dia bersikap. Dan tampaknya itu benar. Kristin harus membenahi sikapnya.

"Ya, mama.."

"Mama senang melihat cara kamu berpakaian sekarang. Kamu tampak lebih dewasa."

"Ini karena Bagas ma.."

"Karena Bagas?"

"Bagas tidak suka melihat aku berpakaian seperti sebelumnya."

"Oh, kalau dia mengingatkan kamu berarti dia perhatian sama kamu."

"Kristin nggak tau apa yang dirasakan Bagas."

"Papa kamu bilang, Bagas itu baik. Tampaknya papa kamu juga suka sama dia."

"Iya, tampaknya begitu.Tapi  Bagas itu sombong ma. Sikapnya selalu acuh tak acuh."

"Mungkin dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Suatu hari mama ingin datang kekantor kamu dan melihat seperti apa dia."

 

*** 

 

Hari itu Bagas kekantor dengan tubuh lesu. Hari sudah beranjak siang, namun meja atasan centhilnya masih terlihat kosong. Kadang tergerak hatinya ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi diurungkannya.

"Pasti kakinya masih sakit karena terkilir kemarin."

Ada sesal yang merayapi hatinya ketika diingatnya bahwa Kristin terjatuh karena mengimbangi langkahnya yang terlalu cepat. 

"Kasihan juga setelah melihat dia kesakitan,"

Lalu tiba-tiba Bagas merasa bahwa ruangannya terasa sepi.. 

"Bagaaaas.." suara itu sekarang dirindukannya.

Bagas tersenyum sendiri. 

"Cantik.. pintar.. manja.. kolokan.. ceroboh," gumamnya sambil tersenyum.

Sejenak kemudian Bagas sudah melupakannya, menekuni semua tugasnya, dan kemudian terbayang lagi wajah Mery. Seketika senyum lucu itu sirna. Bayangan Basuki dan Mery yang sedang berpegangan tangan menari-nari dikepalanya.

"Aku sudah gila !!"

Bagas merasa  seperti mengejar bayang-bayang. Dia jatuh bangun sendiri dan Mery hanya menanggapinya sambil tertawa-tawa, seperti mentertawakan anak kecil yang berceloteh lucu.

Salahkah seandainya Mery menemukan laki-laki yang dianggapnya pantas dicintai? Tapi alangkah susahnya menghilangkan bayangan itu. Dan sepi yang melingkupinya terasa semakin  menyentak. Lalu keinginan untuk makan siang diwarung kecintaannya sirna bersamaan dengan kekosongan jiwanya yang merasa kehilangan cinta.

Ia tidak beranjak dari tempat duduknya walau waktu makan siang telah lewat. Tak ada rasa lapar, tak ada hasrat untuk melakukan apapun juga. 

Bagas duduk disofa, meluruskan kakinya dan menyandarkan tubuhnya.

"Bagaaas.." 

Bagas terkejut, itu bukan suara kemayu manja yang sering didengarnya. Suara berat bariton yang membuatnya tergagap dan segera menegakkan tubuhnya.

"Selamat siang pak.." sapanya.

"Siang Bagas, aku kira kamu keluar makan siang."

"Tidak pak Suryo."

"Tidak lapar ?"

"Belum.

"Mau menemani aku makan siang? Hari ini Kristin istirahat dirumah, kakinya masih sedikit bengkak."

"Iya, saya tahu pak."

"Ayo makan bersama aku."

"Sekarang?"

"Iya, kapan lagi?"

Bagas berdiri, mengikuti pak Suryo yang berjalan keluar lebih dulu.

 

***

 

Siang itu Basuki makan di warung Mery. Anak buah Mery sudah diberi tahu bahwa dia adalah calon suami Mery, sehingga tak ada lagi kasak kusuk diantara mereka.

"Bas, sejak kapan kamu mengenal Bagas?"

"Belum lama. Kami ketemu suatu pagi ketika sedang makan cabuk rambak dipinggir jalan. Ayahnya Bagas, pak Darmono menyapa aku terlebih dulu. Dia teman sekolah almarhum ayahku, dan ternyata masih mengenali aku, padahal aku hampir lupa wajahnya." Kata Basuki sambil tertawa.

"Rupanya wajahku masih seperti ketika remaja."

Mery juga tertawa. Ditatapnya Basuki, memang seperti tak ada yang berubah sejak dia mengenali dia puluhan tahun lalu, dan membawanya dari panti asuhan.

"Ketika itu dia bersama Bagas. Lalu kami berkenalan," lanjutnya.

"Oh.. gitu ya. Biasanya dia makan siang disini. Kok ini enggak ya."

" Aku juga nungguin nih...  kalau mau akan aku suruh mengawasi usahaku yang di Ungaran."

"Biasanya sama siapa?"

"Biasanya aku sendiri yang bolak balik kesana kemari, tapi nanti ketika aku menikah, aku ingin menetap disini saja. Nggak akan tahan lama-lama berpisah sama isteriku," katanya sambil menatap Mery mesra. Mery tersipu, lalu menyibukkan dirinya mengaduk es jeruk didepannya, sambil membayangkan hari bahagia yang hampir tiba.

"Aku ingin sekali ketemu mas Timan."

"Kapan mau kesana ?"

"Mas Timan pulangnya sore. Tapi biasanya pulangnya lebih dulu aku. Aku kan sering pulang sebelum tutup warung."

"Besok saja menunggu waktu yang tepat. Mungkin hari Minggu. Apakah warung ini juga buka dihari Minggu?"

"Selalu buka, so'alnya kalau Minggu biasanya lebih rame lagi. Tapi aku tidak ke warung. Santai dirumah bersama Sri dan Tiwi."

"Baiklah Minggu saja, so'alnya nanti sore aku mau ke Ungaran."

"Aku ingin sekali mengunjungi Panti Asuhan tempat dimana dia membesarkan aku."

"Aku juga berpikir begitu. Nanti kalau sudah dekat sa'atnya kita menikah, aku ajak kamu kesana."

Mery mengangguk. Ia merasa sangat keterlaluan karena belum pernah sekalipun menengok kesana. Ia dibesarkan disana, ketika remaja dan bersekolah SMA Basuki mengambilnya, memberikan segala kesenangan dan kemewahan, sekaligus dijadikan kekasihnya, dan sejak sa'at itu Mery jatuh cinta pada Basuki.  Tapi Basuki tidak pernah mencintainya. Itu adalah masa gemerlapnya duniawi, tapi kelam untuk hdupnya.  

Semuanya telah berlalu. Dunia yang benderang menyambutnya, menuntunnya mencapai segala keinginannya, bahkan cinta yang semula dititipkannya dibalik mega.

"Sekarang aku mau pulang dulu, mau langsung ke Ungaran.

"Baiklah, hati-hati dijalan, dan jangan lupa bahwa aku menunggumu," bisik Mery lirih ketika mengantarnya sampai ke mobil. Basuki menggenggam erat tangan Mery, lalu menciumnya lembut, sebelum kemudian masuk kemobilnya dan dengan sebuah lambaian tangan, mobilnya meninggalkan area parkir itu.

Namun ketika Mery mau memasuki warung, dilihatnya sebuah mobil berhenti, ditempat dimana tadi Basuki memarkir mobilnya.

Mery menoleh sejenak, tapi kemudian menunggunya karena melihat Bagas ada didalamnya. Mery tersenyum lebar, senang melihatnya setelah berhari-hari tidak ketemu.

Tapi Bagas tidak sendiri. Ada pak Suryo yang turun bersamanya. Mery menganggukkan kepalanya.

"Silahkan.. silahkan, sambutnya ramah."

Pak Suryo tersenyum, lalu duduk disebuah bangku.

"Apa kabar Bagas? Berapa hari tidak ketemu, kamu agak kurusan? Kamu sakit?"

"Aku sakit hati mbak," jawab Bagas pelan, agar jangan sampai pak Suryo mendengarnya.

Mery tersenyum, menepuk lembut pundak Bagas.

"Banyak yang ingin aku tanyakan pada mbak Mery."

"Oh, ya.. apa tuh?"

"Nanti sesampai dikantor aku akan menelpun, jangan sampai tidak diangkat seperti yang sudah-sudah ya."

"Oh, waktu itu ponsel aku silent, aku tidak mendengar. Ma'af ya. Ayo duduklah, kamu sudah ditunggu."

Bagas meninggalkan Mery yang langsung bergegas kebelakang, lalu duduk didepan pak Suryo.

"Pemilik warung itu sangat cantik, cantik yang matang. Dia memiliki sifat keibuan."

Bagas tak menjawab, dalam hati dia tak membantah kata-kata pak Suryo. Ia kemudian melambaikan tangan kepada pelayan.

"Aku nasi timlo, bukankah disini yang istimewa adalah timlonya?"

"Aku juga mas. Jadi nasi timlo dua, teh panas satu.."

"Aku juga teh panas."

Lalu pelayan itu berlalu.

"Bagas, apa bapak kamu pernah mengajak kamu bicara?"

Bagas berdebar-debar. Kalau pak Suryo yang mengatakannya pasti akan susah menjawabnya. 

"Tentang.. apa ya pak?"

"Kristin bosan mengelola usahaku. Aku pernah bilang pada ayahmu, bagaimana kalau kamu yang melakukannya?"

Bagas menundukkan kepalanya. Ia memainkan jari-jarinya yang terletak dipangkuannya.

"Apakah itu berat untuk kamu?"

"Sangat berat pak," jawab Bagas hati-hati.

"Mengapa?"

"Saya tidak berpengalaman dalam mengelola sebuah perusahaan. Dan itu sebuah tanggung jawab yang bukan main-main."

"Kan kamu tidak akan aku lepas sendiri Bagas."

"Berilah saya waktu untuk berfikir pak, ini sungguh berat bagi saya."

Pak Suryo mengangguk-angguk. Ia semakin kagum pada Bagas, karena tak mudah tergiur oleh iming-iming kedudukan yang pasti akan sangat diinginkan oleh banyak orang.

Ketika pelayan menghidangkan pesanan, keduanya menikmati tanpa mengeluarkan suara. 

***

 

Tapi janji untuk menelpon Mery itu tak kesampaian, karena pak Suryo ada dikantor sampai menjelang jam kerja selesai.

Ia meneliti semua hasil kerja Kristin, terkadang mengangguk-angguk, terkadang menggeleng-gelengkan kepala. Namun ia tak mengatakan apapun pada Bagas, yang tenggelam juga dalam pekerjaannya sendiri.

"Tak terasa, sudah jam setengah empat ya Gas," kata pak Suryo sambil menggeliatkan tubuhnya perlahan.

"Iya  pak."

"Lama tidak duduk dikursi kerja, kok ya terasa capek," kata pak Suryo sambil meneguk minumannya, lalu berdiri dan sekali lagi menggeliatkan tubuhnya.

"Pegel rasanya. Aku mau pulang dulu ya Gas, apa kamu mau bersama-sama aku?"

"Tidak pak, saya membawa mobil sendiri."

"Baiklah, segera pulang saja Gas, sudah sore."

"Baik pak."

Dan Bagas memang segera beranjak dari kursinya, membereskan semua lembar kerja yang ada dimeja nya, lalu iapun bersiap-siap untuk pulang.

***

Mery hampir sampai dipintu keluar ketika tiba-tiba Bagas muncul ditengah tengah pintu.

"mBak Mery mau pulang?"

"Iya, kamu mau makan?"

"Enggak sih, sebenarnya ingin omong-omong saja sama mbak Mery."

"Kalau begitu minum saja, ayo masuklah, tutup masih kira-kira sejam lagi."

Bagas duduk dihadapan Mery, lalu menjadi bingung untuk memulai percakapan. Haruskah ia langsung menanyakan hubungan Mery dengan Basuki? Atau apa?

Ketika pelayan mengantarkan minuman atas pesanan Mery, Bagas justru mengaduk-aduknya tanpa mengucapkan apapun.

"Bagas, kamu tampak gelisah. Ada apa?"

"Bingung mau mengatakan apa. Aku kangen sama mbak Mery."

"Sekarang sudah ketemu, jadi nggak kangen lagi kan?"

"mBak, saya agak heran mbak Mery kenal sama mas Basuki. "

"Mengapa heran?"

"Berapa lama mbak Mery kenal sama mas Basuki? Baru beberapa hari ini kan?"

"Tidak, kami kenal sudah hampir duapuluhan  tahun yang lalu."

Bagas terbelalak. 

"Duapuluhan tahun? Aku masih kanak-kanak dong."

"Ketika itu umurku belum genap tujuhbelas tahun."

Bagas mulai menghitung hitung. Berarti dirinya sama Mery terpaut kira-kira duabelasan tahun. Bagas menatap Mery. 

"Ada apa? Nggak percaya ?"

"mBak Mery masih tampak sangat muda. Mungkin lebih tua dari aku, tapi tak terbayang bahwa terpautnya lumayan banyak."

"Sekarang kamu tau kan? Bahwa mbak Merymu ini sudah tua ?"   

Bagas menatap Mery lekat-lekat. Tak ada rasa kecewa dihatinya walau Mery dan dirinya terpaut sepuluh tahun lebih.

"Bagas.."

"Apa salahnya kalau mbak Mery jauh diatas umur saya?"

"Apa maksudmu Bagas?"

"Aku tetap suka sama mbak Mery,"

Mery terkejut, Ia harus berterus terang pada Bagas tentang hubungannya dengan Basuki.

Mery belum sempat mengatakannya ketika tiba-tiba Basuki kembali.

"Mery... ponselku tertinggal disini ?"

 

***

 

besok lagi ya.

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saturday, July 4, 2020

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA 10

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA  10

(Tien Kumalasari)

 Mery geleng-geleng kepala. Pasti anak muda itu mencari-carinya diwarung dan tidak ketemu, lalu  berkali-kali menghubunginya. Ia tidak mendengarkan pangilan itu karena ponselnya di silent.

Mery kemudian membalasnya dengan menuliskan pesan singkat saja.

"Ma'af Bagas, aku sedang sibuk."

Tapi Bagas membalasnya segera, 

"Aku lagi diwarung, masih lamakah kembalinya?"

"Masih lama, jangan ditunggu ya."

Lalu Mery menelpon Mini, dan mengatakan pesan yang belum sempat dikatakannya sebelum berangkat.

Basuki sudah membukakan pintu mobil untuk Mery.

"Tuan puteri silahkan masuk," kata Basuki sambil sebelah tangannya diacungkan seperti layaknya orang mempersilahkan tamunya.

Mery mencubit lengan Basuki dengan gemas.

Mata mereka kembali bertaut. Benar-benar seperti sepasang anak muda yang sedang dimabuk cinta.

Basuki menutupkan mobilnya, lalu masuk kepintu disampingnya, duduk dengan manis dibelakang kemudi. Menstarter mobilnya setelah sekali lagi  mata mereka bertaut. 

***

"Bagaimana menurutmu masakan simbok ?" tanya Basuki setelah mereka selesai makan siang dirumahnya.

Mery mengacungkan jempolnya.

"Aku harus belajar juga sama simbok."

"Kamu masih akan melanjutkan usahamu ? Warung itu tetap akan kamu jalankan?"

"Mengapa tidak? Itu keringatku, jerih payahku.."

"Jadi kamu tetap akan menjalankannya?

"Iya lah Bas, masa semua hasil keringatku selama bertahun-tahun harus aku tinggalkan?"

"Kalau kamu sudah menjadi nyonya Basuki ?"

"Ijinkan aku tetap merawatnya."

Basuki tersenyum. 

"Apa sih yang enggak buat kamu? "

Mery tersenyum senang.

Simbok keluar dengan membawa dua gelas jus jambu.

"Silahkan bapak..."

"Hm, jus jambu ya mbok?"

"Iya, tadi dipasar melihat seger-seger lalu simbok beli .. bukankah bapak suka jus buah-buahan?

"Benar, oh ya mbok, aku belum memperkenalkan siapa dia ya?. Ini bu Mery. Besok dia akan tinggal dirumah ini, dan katanya akan belajar masak juga sama simbok."

Simbok tertawa, menampakkan sederet giginya yang sudah tanggal dikiri kanan, tapi tampak bersih dan terawat.

"Simbok hanya bisa memasak masakan orang ndeso bu.."

"Justru itu yang enak mbok."

Simbok mengangguk-angguk, lalu dia mengerti bahwa tampaknya gadis cantik itu bakal menjadi isteri majikannya. Lalu sambil terbungkuk dia masuk kembali kedalam.

"Haruskah nanti aku tinggal disini?"

"Dimana lagi? Ini rumahku dan akan menjadi rumahmu. Masa kamu akan ikut mas Timan terus menerus?"

"Tapi rumah ini lebih jauh dari warungku.."

"Aku punya gagasan, akan mencari lahan yang lebih bagus untuk warung kamu. Jangan mengontrak, aku akan membelinya. Nanti kita namai  TIMLO MERY RESTO.

"Kelihatannya menarik."

"Menarik dong..."

"Nanti akan aku carikan tempatnya yang bagus dan strategis untuk usaha rumah makan."

"Terimakasih sebelumnya ya Bas."

"Nanti kita akan bicara lebih detail mengenai rencana itu. Sekarang aku mau bertanya, kemana aku harus melamar kamu?"

Tiba-tiba wajah Mery menjadi sangat muram. Kemana kalau orang ingin melamar dirinya? Siapa orang tuanya saja dia tak tau. Basuki menemukannya waktu itu ketika dia masih berada disebuah panti asuhan.

"Mery, kamu tidak usah berkecil hati. Tidak masalah bagiku kamu itu datang dari mana. Menurutku kamu datang dari langit dan diberikan Tuhan untuk aku."

Mery menatap Basuki terharu. Tak pernah dibayangkannya bahwa laki-laki yang dulu hidupnya penuh sepak terjang yang sesuka dia, kejam dan suka memaksakan kehendak, menganggap harta adalah segalanya, sekarang menjadi begitu santun dan bijak. 

"Sekarang aku hanya bersandar padamu Bas." kata Mery lirih.

"Nanti aku juga akan bicara sama mas Timan dan isterinya. Karena setelah menikah aku akan membawamu kemari."

Mery mengangguk dan matanya berkaca-kaca.

"Mengapa menangis Mer?"

"Aku menangis karena bahagia."

Basuki bangkit dan ingin memeluk Mery, tapi tiba-tiba Min si tukang kebun datang dan duduk begitu saja dilantai.

"Ada apa Min?"

"Ma'af pak, tadi ada orang datang kemari, apa benar bapak menyuruhnya membersihkan kebun?"

"Oh, iya aku lupa bilang sama kamu Min."

"Tapi bukankah kebun sudah setiap hari saya bersihkan ?"

"Min, sebenarnya aku hanya ingin memberi uang sama dia. Tapi takut dia tersinggung maka aku menyuruhnya melakukan sesuatu. Mana dia?"

"Dia sudah pergi, saya suruh datang sore nanti, karena saya tidak tahu yang bapak maksud."

"Baiklah, besok kalau dia datang, suruh saja dia menyapu atau membuang rumput-rumput, atau apa saja.  Kasihan, dia tampaknya butuh uang."

"Baiklah pak, nanti sore kalau dia datang biar bertemu bapak dulu."

"Ya Min, kamu sudah tau maksudku kan?"

"Ya, sudah berkali-kali bapak melakukannya. Seperti tukang cukur yang lewat, tiba-tiba bapak memanggilnya dan menyuruh memangkas rambut bapak, padahal sebetulnya belum perlu bercukur."

Basuki tertawa. 

"Ada orang yang mencari rejeki dengan jalan meminta pekerjaan, tapi ada orang yang lebih suka menadahkan telapak tangan. Tapi apapun itu, kamu harus menolongnya."

"Baiklah bapak."

Min segera beringsut keluar, dan rasa kagum Mery terhadap Basuki semakin bertambah. Benar-benar dia bukan Basuki yang pernah dikenalnya dulu. Dulu tak pernah perduli dengan penderitaan orang lain, tapi sekarang banyak cinta kasih diberikan kepada sesama. Bahkan Mery harus banyak belajar darinya.

***

Sementara itu Bagas yang menghabiskan waktu istirahatnya, tak kunjung menemukan pujaan hatinya. Mery sibuk, dan dugaan bahwa Basuki sedang memberinya pekerjaan dengan pesanan yang berlimpah sangat diyakininya.

Ketika mobilnya meluncur kembali kekantor, masih dicobanya untuk menelpon Mery, tapi kembali tak ada jawaban. 

"Baiklah, rupanya dia benar-benar sibuk," gumamnya.

Dengan keyakinan bahwa nanti sepulang kantor pasti akan bertemu, Bagas mulai bisa menenangkan hatinya. Rasa cemburu yang  menggebu telah sirna.

Begitu memasuki halaman kantor, dilihatnya Kristin baru turun dari mobilnya.

"Bagaaas.." Kristin segera menghampiri Bagas dengan rengekan seperti biasanya.

Begitu Bagas turun, Kristin segera menggandeng lengannya. Bagas melepaskannya dengan halus.

"Jangan begitu, banyak orang menatap kearah kita."

"Memangnya kenapa?" kata Kristin  tak perduli. Gandengan dilengan Bagas tak juga dilepaskannya.

"mBak, jangan begitu."

"Kamu tadi buru-buru keluar karena takut aku akan mengikuti kamu kan? Tapi aku sudah tahu, pasti kamu ke warungnya mbak Mery. Ya kan?"

"Ya.." kata Bagas yang berjalan dengan cepat, karena banyak karyawan menatap kearah mereka. Kristin terpaksa melepaskan pegangannya karena langkahnya tak bisa mengimbangi Bagas yang setengah berlari memasuki kantor.

"Bagaaas..." tiba-tiba terdengar orang terjatuh.

Bagas berhenti melangkah, dilihatnya Kristin terjatuh, berusaha berdiri dengan susah payah. Bagas mendekati dan membantunya bangkit. Tapi tampaknya kaki Kristin terkilir. Ia tak bisa berdiri tegak.Bagas terpaksa memapahnya memasuki kantor dengan susah payah.

 "Bagaaas, jahat banget sih kamu, berjalan sangat cepat." keluhnya begitu sudah berada didalam ruangan.

"Makanya kalau pakai sepatu jangan yang terlalu tinggi hak nya.. "

"Ooh, ini tidak sopan juga?" kata Kristin yang mulai kesal karena Bagas selalu menilai penampilannya.

"Bukan tidak sopan, tapi dengan hak tinggi mbak Kristin tidak bisa berjalan cepat. Kalau terpaksa juga mbak Kristin bisa jatuh  kan?"Bagas mengambil minyak gosok di almari obat. Mengulurkan obat gosok  itu kearah Kristin. 

"Bagas, bisakah kamu menolong menggosoknya?"

Bagas mengeluh dalam hati. Masa dia harus menolaknya? Tapi melihat dia tampak benar-benar kesakitan , iba juga rasa hati Bagas. Dilihatnya Kristin menyelonjorkan kakinya diatas sofa panjang.

Bagas duduk didekat kaki itu. Dan menggosoknya dengan tangan gemetar. 

"Di pergelangan itu Gas, bukan telapaknya.." 

Lalu Kristin memekik-mekik kecil ketika Bagas menggosoknya dibagian yang sakit. Bagas memejamkan matanya, ia belum pernah memegang tubuh seorang perempuanpun. Kaki mungil berkulit putih itu bergerak-gerak karena Kristin merasa nyeri.

"Sudah Gas, cukup."

Bagas berdiri, keringat dingin membasahi keningnya. Dengan gontai Bagas kembali kemejanya.

Dilihatnya Kristin masih berselonjor disofa. Wajahnya pucat. 

"Masih sakitkah ?"

"Sepertinya aku nggak bisa berjalan Gas.. bisa tapi terpincang-pincang."

"Minumlah obat menghilang nyeri."

"Ambilkan, tolong.."

Bagas mengambil obat yang dimaksud, sekalian minuman Kristin dimejanya, lalu diberikannya kepada Kristin.

"Nanti biarlah sopir mengantar kamu pulang, kamu tidak akan bisa menyetir mobil sendiri."

"Aku penginnya kamu yang nganterin...."katanya setelah menelan obat yang diulungkan Bagas.

"Huuh, manja.. kolokan.." tapi kata itu tak diucapkannya.

"Aku nanti ada urusan, ma'af." akhirnya kata Bagas.

Kristin merengut, tapi tak bisa memaksanya.

 

***

 

Siang hari itu pak Suryo ada dirumah pak Darmono. Pembicaraan kembali ke arah keinginan pak Suryo yang ingin mengambil Bagas sebagai menantunya. Pak Darmono belum bisa mengatakannya karena Bagas belum juga mengatakan kesediaannya.

"Kamu sudah bicara dengan anakmu bukan?" tanya pak Suryo.

"Sudah, tapi belum sepenuhnya, karena anak itu masih belum bisa menentukan sikap. Maklumlah, ini bukan pekerjaan ringan, barangkali Bagas harus berpikir seribu kali untuk menjawabnya."

"Bagaimana dengan perjodohan itu?"

Pak Darmono juga belum bisa menjawabnya. Ungkapan Bagas bahwa dia mencintai Mery sangat mengganggunya. Biarpun dia sudah mengatakan bahwa tidak menyetujuinya, tapi tampaknya Bagas juga tidak akan menerima Kristin sebagai pendaampingnya. Tampak bahwa Bagas tak menyukainya.

"Bagas sudah punya pacar kah?"

"Aku tidak tau pasti mas, Bagas belum mengatakannya dengan jelas."

"Apa kamu tidak suka bermenantukan Kristin, anakku?"

"Aku suka mas, Kristin sangat cantik. Harusnya Bagas tak menolaknya, tapi mungkin ada pertimbangan lain, entahlah."

"Baiklah, bagaimanapun aku akan menunggu. Tampaknya Kristin sangat suka pada Bagas."

"Aku juga heran pada Bagas. Tampaknya kecantikan saja tak cukup untuk membuatnya jatuh cinta."

"Kamu tau Dar, ada perubahan dalam diri Kristin beberapa hari terakhir ini."

"Apa itu mas?"

"Cara dia berpakaian. Biasanya Kristin berpakaian yang sesukanya walau pergi ke kantor. Katanya dia suka berpakaian yang modis.. tapi sesungguhnya aku juga kurang suka modisnya agak keterlaluan. Tapi beberapa hari terakhir ini dia berpakaian sangat feminin. Menurut Kristin, katanya dia berpakaian lebih sopan, dan itu karena Bagas."

"Karena Bagas?"

"Katanya Bagas menegur cara dia berpakaian, dan langsung dia menurutinya. Kalau aku yang mencela, mana mungkin dia mendengarnya. Sekarang dia berbeda penampilan dan itu karena Bagas. Jadi sangat besar pengaruh Bagas atas diri Kristin. Aku suka.."

"Syukurlah kalau Bagas bisa melakukannya. Semoga mereka menjadi pasangan yang serasi, dalam dunia bisnis maupun dalam rumah tangga."

"Aamiin."

"Tapi ya itulah mas, jaman sekarang anak-anak jarang yang bisa memenuhi harapan orang tua. Khususnya dalam memilih jodoh."

"Benar Dar, harapan tinggal harapan. Yang menentukan nanti pasti juga yang muda-muda itu."

"Ya sudah, kita memang harus bersabar. Mereka masih sangat muda bukan? Biarlah mereka menentukan yang terbaik bagi hidup mereka."

 

***

 

"Aku sudah minta sopir untuk mengantar mbak Kristin pulang."

Kristin merengut, masih terpincang ketika berjalan. Tapi dia senang Bagas memapahnya sampai ke mobil. Apa boleh buat, Bagas harus melakukannya. Bukankah keterlaluan kalau dalam keadaan seperti itu Bagas masih harus mengacuhkannya.

"Bagas, bagaimana kalau sampai nanti kakiku tidak sembuh juga?"

"Ya kedokter saja, kan dokter lebih tau mana yang terbaik. Kalau dibiarkan saja nanti mbak Kristin jadi gadis pincang, bagaimana?"

"Bagaaas... jangan begitu, aku takut membayangkannya. 

"Berarti nanti kalau sampai sore sakitnya tidak mereda, mbak Kristin harus pergi ke dokter."

"Anterin dong..."

"Huh, manja.. kolokan.." lagi-lagi omelan itu hanya disimpannya dalam hati.

"Kalui dirumah kan ada pak Suryo, ada  bu Suryo, masa aku sih ?"

Mobil itu sudah siap, dan Bagas segera menutup pintu setelah mendudukkan Kristin di jok depan.

Kembali keringat dingin membasahi tubuhnya. Merangkul gadis cantik dari ruangannya sampai ke parkiran, bukan hal yang mudah. Kecuali berat menahan tubuhnya, aroma wangi dan desah nafas gadis itu sempat menyapu wajahnya, menusuk hidungnya dan juga hatinya. Tidak, ini hanya rasa aneh yang sekilas, Bagas tak mengacuhkannya. Bahkan ketika mobil itu pergi meninggalkan area parkir maka rasa itu sudah hilang begitu saja.

Bagas  bergegas menuju mobilnya sendiri. Sore itu ia akan lewat di warung Mery, siapa tahu belum tutup, dan siapa tahu pula dia bisa bertemu Mery.

***

Mery menunggu Basuki yang sedang bicara dengan seorang laki-laki setengah tua, yang akan disuruhnya membantu Min membersihkan kebun. Memang sih, Min protes karena dia selalu membersihkan kebun dan tak ada cacat celanya, tapi Basuki menyuruh Min agar membiarkan saja ketika orang suruhan itu melakukannya. Basuki hanya ingin memberinya uang, dan pekerjaan yang diberikan hanya sarana agar orang itu merasa menerima uang karena keringatnya.

"Baiklah , besok kamu boleh datang pagi-pagi. Lakukan yang bisa kamu lakukan, membersihkan kebun dan menyiram bunga-bunga. Karena sa'at musim panas maka semua tanaman harus tetap mendapatkan air agar hidup dengan subur."

"Baiklah tuan.."

"Jangan panggil aku tuan. Bapak saja sudah cukup, karena aku bukan tuan," tegur Basuki sambil tersenyum.

"Baiklah bapak. Kalau berkenan setiap seminggu sekali saya akan datang  membantu bersih-bersih."

"Oh, bagus sekali, datang saja, tidak apa-apa, aku senang banyak yang mengerjakan."

Lalu Basuki memberikan dua lembar uang ratusan yang diterimanya dengan ragu-ragu.

"Ini.. untuk saya?"

"Iya untuk kamu, kan aku mengulurkannya ke kamu."

"Sem.. semua?"

"Iya, semua."

"Terimakasih bapak, dengan ini saya bisa membeli obat untuk isteri saya yang sedang sakit."

"Isteri kamu sakit?"

"Sudah seminggu tidak bisa bekerja, badannya panas."

"Bawalah ke dokter agar mendapatkan obat yang tepat. Ini aku tambahi lagi untuk beli obatnya ya."

"Tt..tapi..."

"Terima saja, karena kamu sedang membutuhkannya."

Mery melihat air mata laki-laki itu berlinang. Terharu melihat penderitaan orang tak punya ketika sedang memerlukan uang untuk membeli obat. Dan terharu karena Basuki melakukan sesuatu yang amat mulia.

"Jangan lupa, bawa isteri kamu ke dokter, sore ini juga," pesan Basuki wanti-wanti.

Laki-laki itu mengangguk berkali-kali sambil mengusap air mata dengan ujung bajunya, sebelum melangkah pergi meninggalkan halaman rumah Basuki.

Mery masih menatap punggung laki-laki itu sampai menghilang dibalik gerbang.

"Ayo, jadi pulang atau mau menginap disini?" tanya Basuki sambil menyentuh lengan Mery.

"Iya, pulang dong, bahaya kalau aku menginap disini. Takut ada setan berkeliaran," katanya sambil bangkit dan mengikuti Basuki menuju mobilnya. Basuki membukakan pintu mobil sambil tertawa. 

"Sekarang aku tidak berkawan dengan setan-setan, tahu?!"

***

Bagas sudah menunggu lama di warung itu, tapi karena Mery belum muncul juga maka ia bermaksud pulang. Diteguknya sisa es jeruk yang tadi dipesannya, lalu melambaikan tangan kearah pelayan, untuk membayarkan makanannya.

Bagas melangkah keluar dengan kecewa. Tapi begitu sampai dipintu, dilihatnya sebuah mobil berhenti, dan dilihatnya Mery dan Basuki turun dari sana.

Berdegup dada Bagas melihat mereka berdua turun dengan wajah semringah. Bagas tiba-tiba merasa harus menghindari mereka, ia beringsut melewati pinggir agar mereka tak melihatnya. Namun tiba-tiba terdengar panggilan yang diteriakkan Mery dan Basuki hampir bersamaan.

"Bagaas...!"

***

besok lagi ya

 


 

 

 



Friday, July 3, 2020

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA 09

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA  09

(Tien Kumalasari)

 

Bagas menatap ayahnya tak berkedip. Ada kesungguhan diwajah ayahnya, yang seakan mencengkeram jiwanya. Sangatlah sedih apabila orang tua tak menyetujui pilihannya.

"Camkan baik-baik. Kamu tidak serasi berdampingan dengan gadis itu Bagas. Kamu muda dan tampan. Dia cantik sih, tapi sudah terlalu tua untuk kamu. Bapak sudah tau, pasti umurnya sudah diatas tigapuluh tahun, atau mungkin hampir empatpuluhan tahun."

"Bapak, apa salahnya kalau dia lebih tua dari Bagas?"

"Bukan salah, kalau penempatan itu kamu anggap benar."

"Apa maksud bapak?"

"Kalau menurut kamu benar.. ya tidak salah. Tapi menurut bapak.. itu tidak benar. Atau kurang benar. "

"Dimana kurang benarnya, bapak?"

"Dipandang dari keserasian saja.. " 

"Bukankah dalam berumah tangga yang diperlukan adalah hati?"

"Dalam cinta... ya, dalam berumah tangga belum tentu. Mengapa kamu tertarik sama dia?"

"Dia itu baik, keibuan, dan memiliki semangat yang tinggi. Buktinya seumur Mery sudah bisa mendirikan usaha warung yang semakin hari semakin maju dengan pesat."

"Menurut pengamatan bapak, dia tidak akan bisa membahagiakan kamu."

Bagas terdiam. Intinya adalah bahwa ayahnya tidak suka mempunyai menantu lebih tua dari anaknya. Pak Darmono tidak tau bahwa sesungguhnya Bagas mencari sosok seorang ibu.

 "Bagas, apakah gadis itu juga cinta sama kamu?"

Nah, yang ini Bagas belum bisa menjawabnya. Apakah Mery pernah menanggapi perasaannya? Setiap kali Bagas memberikan umpan atas perasaannya, Mery hanya tertawa, dan selalu merasa bahwa dia sudah tua. Atau selalu bilang bahwa nanti Bagas akan kecewa. Tapi Bagas ingin mengejarnya. Ia yakin Mery akan mengimbangi perasaannya pada suatu hari nanti.

Tapi tiba-tiba terbayang olehnya ketika Mery berduaan bersama Basuki, keluar dari rumah makan, lalu masuk kedalam mobil Basuki, tampak mesra. Ah, mesrakah ketika itu? Bagas hanya melihat punggung mereka, tak melihat wajah-wajah mereka. Jangan-jangan Basuki hanya ingin memesan makanan lalu mengajaknya ketempat dimana Mery harus mengirim makanannya. 

Bagas merasa kesal karena ia berkali-kali gagal menelponnya.

"Bagas, apa yang kamu fikirkan?"

Bagas tak menjawab, tak ada jawaban yang bisa diberikan kepada ayahnya atas pertanyaan itu.

"Dari sikapmu itu, bapak tau bahwa kalian belum tentu saling jatuh cinta. Kamu hanya tertarik karena sikap manisnya, rasa keibuannya, dan tentu juga kecantikannya. Menurut bapak, jangan terlalu cepat memastikan perasaan kamu. Terkadang seseorang tiba-tiba tertarik ketika melihat sesuatu yang baik, yang cantik, lalu memupuk rasa tertarik itu menjadi suka. Dan seterusnya. Kalau bisa memilih, pilih gadis yang usianya dibawah kamu."

Bagas tak menjawab. Ia yakin orang tua pasti memilih yang terbaik untuk anaknya. Tapi ayahnya kan belum tau bagaimana Mery. Tapi Bagas tak ingin berdebat, setidaknya untuk sementara waktu, sampai dia benar-benar tahu bagaimana perasaan Mery terhadapnya.

 

***

 

Tapi pagi itu, masih pagi benar untuk ukuran orang berangkat bekerja, Kristin sudah sampai dirumah Bagas.

Dengan santai dia turun dari mubilnya, dan merasa lega karena mobil merah itu masih terlihat didalam garasi yang sudah terbuka.

"Selamat pagi,"

Pak Darmono berdiri ditengah pintu, menatap gadis cantik yang berdiri didepannya, berpakaian sangat elegant, bawahan berwarna pink dan blazer yang senada. Rambut ikalnya terurai sebahu. Begitu melihat pak Darmono berdiri dipintu, gadis itu mengangguk hormat. Ia tau bahwa yang didepannya adalah ayahnya Bagas. Gadis itu, Kristin, membuka kaca mata hitamnya, lalu sepasang mata bintang menatap pak Darmono yang heran melihat penampilannya kali ini. Ia pernah sekali melihatnya, dan benar kata Bagas bahwa Kristin suka berpakaian seronok dan itu membuat Bagas sangat sebal. Tapi bukankah ini penampilan yang manis?

"Kamu Kristin kan?"

"Iya om, kita jarang bertemu, sehingga om lupa."

"Tidak, om ingat kok, ayo masuk."

"Bagas masih sakit ?"

"Tidak, dia sudah bersiap masuk kerja, baru saja selesai sarapan. Silahkan duduk. Biar om panggil dia," kata pak Darmono sambil beranjak kebelakang. Aroma parfum yang tentu saja berkwalitas segera menyeruak memenuhi ruang tamu itu.

Kristin duduk disebuah kursi, lalu memandangi suasana diruang tamu itu. Melihat foto-foto yang terpampang. Ada foto seorang wanita cantik berduaan.. ah ya, itu kan pak Darmono diwaktu muda, dan ibunya Bagas pastinya. Lalu anak laki-laki kecil duduk diatas sepeda roda tiga.  Kristin tersenyum, waktu kecilnya Bagas sangat lucu. Lalu ada foto ketika Bagas wisuda, dengan toga dan tampak sangat tampan. Ia hanya bersama ayahnya.

"mBak Kristin, ngapain kesini ?" tiba-tiba Bagas keluar, tak ada nada gembira melihat ada gadis cantik datang kepadanya.

 "Bagas, kemarin kamu bilang pusing, aku khawatir kamu masih sakit."

"Aku mau masuk kerja."

"Ya sudah, ayo kita berangkat bersama saja," kata Kristin sambil berdiri. Bagas menatap penampilan Kristin pagi itu. Tampak berbeda. Seakan mengerti kalau sedang diawasi penampilannya, Kristin memutar tubuhnya dengan manis, sambil mengembangkan senyuman yang tentu saja lebih dari manis.

"Ini baju yang kita beli kemarin Gas. Bagaimana menurutmu?"

Bagas menelan ludah untuk menekan kekagumannya atas penampilan si centil cantik. Tak bisa ia memungkirinya, Kristin memang cantik. Dan Bagas suka pada penampilannya pagi itu. 

Kristin bukannya gadis lugu yang bodoh. Ia melihat mata  laki-laki ganteng itu  menatapnya penuh kagum. Kristin tersenyum senang,

"Ayo kita berangkat, mana om Darmono?"

"Kita berangkat sendiri-sendiri saja mbak," pinta Bagas.

"Bagaaas.." Kristin mengeluh dan kecewa.

"Bapaak, Bagas berangkat dulu ya.. " Bagas setengah berteriak berpamit pada ayahnya.

Pak Darmono keluar.

"Sudah mau berangkat?"

Bagas mendekati ayahnya dan mencium tangannya. Kristin mengikutinya.

"Hati-hati dijalan ya nak.."

Keduanya keluar, dan dengan heran pak Darmono melihat bahwa mereka berangkat dengan mobil masing-masing.

Pak Darmono geleng-geleng kepala.

"Gadis secantik itu, dan Bagas menolaknya ? Begitu besarkah pengaruh gadis bernama Mery itu atas anakku?"

***

 

Pagi itu setelah selesai sarapan, Sri bermain bersama Tiwi dihalaman depan. Timan sudah berangkat sejak pagi, karena memang ia harus sudah ada dipasar sejak pasar itu menggeliat dipenuhi pembeli.

"Tiwi, nanti kalau sudah selesai, mainannya dikumpulin disini ya," kata Sri sambil duduk mengawasi Tiwi bermain dengan boneka-bonekanya.

"Eh, Tiwi.. itu boneka baru ya?" sapa Mery yang baru keluar dan bersiap berangkat.  Sri menatap Mery dengan heran. Pagi itu penampilan Mery agak berbeda dari biasanya. Baju yang dipakai bukan baju yang dipakai sehari-hari apabila dia pergi ke warung.

"Sri, mengapa menatap aku seperti itu?"

"mBak Mery pagi ini kok tampak lain ya, cantik bangeeett..." kata Sri sambil tersenyum.

"Masa sih? Bukannya setiap hari aku juga seperti ini?"

"Beda deh.. nggak tau apanya."

Sri tidak mengerti, karena Mery juga tidak bercerita kalau kemarin bertemu Basuki. Mery masih sungkan mengatakannya. Takutnya nanti belum-belum Sri pasti meledeknya.

Mery hanya tersenyum. Ia mendekati Tiwi dan mencium pipi gembul yang menggemaskan itu.

Tiwi menatap Mery... lalu berteriak.

"Atu ituuuut...."

Mery tertawa.

"Sayang, besok kita jalan-jalan sama ibu sama Tiwi.. tapi bukan sekarang.. kan ibu Mery mau bekerja?"

"Kejaa?" mata Tiwi berkedip menatap Mery. Mery mengangkatnya, dan merangkulnya.

"Iya.. kerja. Baik-baik dirumah sama ibu ya?"

Tiwi mengangguk lalu merosot turun dan kembali asyik dengan mainannya.

"O.. pasti mbak Mery mau kencan nih.. si mobil merah? Atau...."

Mery tidak menjawab. Tapi senyum yang merekah itu membesarkan hati Sri. Ia tak pernah melihat Mery tampak secerah pagi ini.

Mery masuk ke mobilnya, dan menjalannya perlahan keluar dari halaman, setelah melambaikan tangannya kearah Sri.

"Hm.. mbak Mery main rahasia-rahasiaan nih..." gumam Sri sambil tersenyum.

 

 ***

Bagas sudah duduk di depan meja kerjanya, tapi ingatan tentang Mery tak juga bisa terhapus dari benaknya. Ia harus segera tau, ada hubungan apa antara Mery dan Basuki.

Ia mencoba menelpon Mery, tapi lagi-lagi tak terjawab. Atau memang Mery tak mau menjawab telponnya? 

"Apa salahku mbak?" desis Bagas.

Tapi bisikan yang pelan itu terdengar oleh Kristin yang kemudian menatap Bagas dengan heran.

"Mengapa bertanya apa salahmu? Kamu tidak tau apa salahmu? Salahmu adalah bahwa tadi tidak mau aku jemput dengan mobilku."

Bagas mengangkat kepalanya, dengan heran mendengar Kristin ber-kata-kata. Kristin menatap Bagas, dan tersenyum sangat manis. Bagas memalingkan muka. Kelamaan menatap senyuman itu lama-lama dia bisa tergoda.

"Masih belum tau juga Gas?"

"Apa ?"

"Kamu tadi bertanya apa salahmu, sudah aku jawab kan?"

Bagas menepuk jidatnya dan hampir tertawa karena ulahnya sendiri. Iya tadi dia mengucapkan itu, terlalu keraskah ? Lalu Kristin mendengarnya? Mungkin juga, Bagas tak sadar akan bisik batinnya yang sampai terucap keluar dari bibirnya.

"Ada apa pula kok senyum-senyum?"

"Iya aku tau.. aku salah, " lalu Bagas membuka laptopnya.

"Harusnya aku juga bertanya seperti itu. Apa sih salahku sehingga kamu sedikitpun tak mau menaruh perhatian atas semua yang aku lakukan?"

"Aku perhatian kok."

"Bagaimana menurutmu penampilanku hari ini? Baju ini sopan kan?"

Lagi-lagi Kristin berdiri dan berputar dihadapan Bagas. Dan mau tak mau Bagas menatapnya. Kali ini Bagas tak mampu mengalihkan pandangannya kearah lain. Yang didepannya seperti bukan Kristin yang selalu menjengkelkan. Seorang bidadari sedang menari dengan gemulai, dan terkadang melemparkan kerling yang memukau.

"Aku cantik bukan ?" lalu tiba-tiba Kristin berhenti berputar kemudian duduk didepan Bagas. Seperti biasanya, menopang dagu dengan kedua tangan sambil bertumpu dimeja Bagas. 

"Bukankah aku sekarang sudah berpakaian sopan?"

 Sejenak Bagas tak mampu berkata-kata. Bibirnya setengah terbuka, lalu ketika tersadar dia menggaruk-garuk kepalanya.

Sepasang mata bintang itu berkejap, Bagas mengalihkan pandangan kearah lain. Itu benar, melegakan karena Kristin tak lagi berpakaian seronok yang justru membuatnya kesal, apalagi dengan rengekan-rengekannya yang seperti anak kecil.

"Cantikkah aku dengan pakaian seperti ini?"

Bagas harus menjawabnya, karena kalau tidak, maka pertanyaan itu akan terus diulang-ulangnya.

"Cantik, lebih cantik dari biasanya."

"Kamu suka?"

Bagas hanya mengangguk/ Kristin tersenyum senang.

"mBak, biarkan aku bekerja ya," katanya pelan, sambil membuka laptopnya.

"Bekerja saja, aku kan tidak mengganggu?"

Memang kali ini tidak mengganggu dengan pakaian minimnya, tapi mata bintang itu terus menatapnya.

"Tolong mbak.."

Kristin merengut, berdiri melenggang kearah mejanya sendiri. Bagas menghela nafas lega. 

Ia mengambil lagi ponselnya, dan mencoba menghubungi Mery. Tapi seperti tadi, Mery tak mengangkatnya.

Lalu Bagas mulai bekerja, walau tak sepenuhnya bisa melakukannya.

***

Ketika Basuki kembali ke warung Mery pagi itu, dilihatnya Mery sedang berbicara dengan pembantunya. Tampaknya Mery sedang memberi petunjuk atau apa, karena sesekali dilihatnya tangannya bergerak-gerak.

Basuki tak mau mengganggu. Ia duduk begitu saja disebuah bangku, lalu seorang pelayan menghampitinya.

"Bapak mau makan?"

"Tidak, saya menunggu bu Mery."

"Oh, ma'af, baiklah akan saya panggilkan."

"BIarkan saja kalau dia sedang sibuk."

"Tidak, bu Mery sedang memberi tau mbak Mini tentang pesanan besok hari Minggu yang harus disiapkannya. Tapi tampaknya sudah selesai."

"Baiklah, katakan saja asalkan tidak mengganggu."

Pelayan itu berlalu, dan tampak mendekati Mery. 

"Siap ya Min, pokoknya semua ada ditanganmu."

"Ya bu, saya sudah mengerti."

Mery ingin membalikkan tubuhnya untuk masuk keruangannya ketika pelayan itu mendekatinya.

"Bu, ada yang menunggu ibu."

Mery menoleh kearah depan. Hatinya berdebar. Basuki benar-benar datang. Ia masuk keruangannya dan mengambil tasnya, lalu keluar menuju kearah meja dimana Basuki duduk menatapnya dengan mata garangnya yang teduh.

"Mery... cantik sekali kamu."

"Sudah lama menunggu?"

"Tidak, baru saja. Kamu sudah siap pergi ?"

"Mau kemana kita?"

"Jalan-jalan saja, kemarin belum puas mengajakmu pagi sampai siang."

Mery tersenyum.

"Temani aku belanja juga ya?

"Boleh..."

Basuki berdiri dan merangkul pundak Mery, lalu keduanya keluar dari warung, diikuti pandangan beberapa anak buahnya dengan senyum senang.

"Tampaknya bos kita sudah menemukan pujaan hatinya," celetuk salah seorang pelayan.

Mini melotot, tapi kemudian dia tersenyum. Iapun berharap demikian.

 

***

 

 Hari belum terlalu siang, Basuki mengajak Mery duduk disebuah taman ditepian kota. Banyak pohon-pohon rindang yang menaungi bangku-bangku yang memang dipergunakan oleh orang-orang yang ingin menikmati udara sore setiap harinya. Memang sih, kalau sore tempat itu ramai. Beberapa rumpun tanaman perdu menghiasi sekeliling taman, diseling bunga-bunga aneka warna. Tapi ini siang hari, jadi tempat itu tampak sepi. Udara panas tak terasa karena semilir angin mengayunkan dedaunan dan menimbulkan suara gemerisik yang nyaman. 

"Mengapa kesini?" tanya Mery. Berdebar hatinya karena Basuki duduk sangat rapat dengan dirinya, sehingga aroma maskulin merebak menusuk hidungnya. Bahkan nafas Basuki lembut terdengar ditelinganya.

"Disini kan lebih tenang, bisa berbincang tanpa ada yang mengganggu."

"Berbincang tentang apa?"

"Tentang banyak hal, ahaa.. kita seperti sepasang sejoli yang sedang pacaran bukan?"

"Seumur kita ini tak lagi pantas berpacaran seperti layaknya anak-anak muda."

"Setuju. Menurut aku, kita sudah sa'atnya memikirkan masa depan."

"Oh.. aku sudah memikirkan masa depanku sendiri.."

"Bukan masa depanmu.. masa depan kita.."

"Mengapa masa depan kita?"

Lalu Basuki merasa sangat bodoh. Apa yang harus dikatakannya ketika dia benar-benar merasa jatuh cinta? Sungguh Basuki bukan seorang yang pintar mengatakan cinta. Belum pernah malah. 

"Mery.."

Mery menoleh kearah laki-laki disampingnya, mata mereka bertatapan, seperti ada tarikan magnet yang kemudian mereka tak mampu melepaskan tatapan itu. 

"Apakah kamu... "

Basuki tak mampu meneruskannya, diraihnya tubuh Mery dan dipeluknya erat. Sejenak Mery terlena dalam suasana mendebarkan yang membuatnya nyaman, lalu dia kemudian tersadar bahwa tak pantas melakukannya. Perlahan Mery mendorong tubuh Basuki yang kemudian melepaskan pelukannya. 

"Ini tempat umum, dan kita bukan muhrim, bisik Mery dengan bibir bergetar.

Basuki menghela nafas untuk menata batinnya.

"Ya benar, kita bukan muhrim. Ma'af. Akankah kita menjadi muhrim?"

Mery diam, mengapa Basuki menanyakannya? Sudah lama dia menunggu. Aduhai, hanya karena merasa tak pantas maka Mery tak berani menanyakannya. Tapi rupanya Mery tak harus lama menunggu.

"Mery, maukah kamu menjadi isteriku?" kata Basuki sambil merogoh saku celananya, lalu dikeluarkannya sebuah kotak kecil, yang kemudian diulurkannya kearah Mery.

Mery terkejut, bukan karena kotak kecil yang diberikan kepadanya tapi karena ucapan Basuki.

"Jawab Mery.."

Mery menengadahkan kepalanya kelangit. Segumpal mega melayang layang, Mery menitipkan cintanya disana. Lalu angin menghembus mega itu, menjatuhkan cinta kepangkuannya.

"Mery.."

Seperti sebuah lakon di sinetron ketika seorang laki-laki melamar gadis yang dicintainya, lalu diserahkannya sebuah kotak berici cincin tanda cinta.

Bergetar bibir Mery. Tapi kepalanya mengangguk pelan.

Senyum dibibir Basuki merekah, seperti ketika matahari pagi muncul dari ufuk timur, Lalu dibukanya kotak kecil itu, dikeluarkannya sebentuk cincin berlian berbentuk hati, lalu disematkannya dijari manis Mery.

Basuki mengembangkan tangannya, siap kembali memeluk Mery, tapi Mery menggoyang-goyangkan tangannya sebagai tanda untuk melarang.

Basuki geleng-geleng kepala.

"Aku akan segera menikahi kamu.."

Mery mengangguk, matanya berbinar bahagia. Dedaunan disekitar tiba-tiba bergoyang ditiup angin, lalu kesejukan menerpa relung-relung hati yang sedang jatuh cinta. 

Mereka meninggalkan taman itu ketika matahari berada tepat diatas kepala mereka.

"Aku lapar.. ayo kita cari makan, haaa... bagaimana kalau makan dirumahku? Simbok pasti akan senang."

"Terserah kamu saja, tapi aku akan menelpon Mini dulu, ada yang lupa aku pesankan ke dia tadi."

Sambil berjalan kearah mobil yang diparkir agak jauh, Mery mengambil ponselnya. Ia terkejut ketika melihat ada beberapa pangglan masuk, dan semuanya dari Bagas.

 

***

 

besok lagi ya

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 


Thursday, July 2, 2020

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA 08

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA  08

(Tien Kumalasari)

 

Bagas terpaku ditempatnya. Berusaha sekuat tenaga menahan gelora jantungnya yang menghentak-hentak. Berusaha mengendapkan didih darahnya yang meluap sampai ke ubun-ubun.

Ditatapnya terus dua sejoli itu sejak keluar dari rumah makan itu, sampai kemudian masuk kedalam mobil yang diparkirnya agak jauh didepannya.

"Kapan mas Basuki kenal sama mbak Mery? Tampaknya sudah begitu dekat, dan tampak sangat mesra?" bisik batin Bagas dengan wajah merah padam. 

Api cemburu membakar jiwanya.

"mBak Mery... siapa dia?" bisiknya pelan.

"Bagaaas.."

Lagi-lagi suara itu mengejutkannya. Kristin keluar dari pintu butik itu, lalu menarik Bagas masuk kedalam.

"Tanganmu berkeringat?" tanya Kristin ketika memegang telapak tangan Bagas.

"Udara sangat panas," jawab Bagas sekenanya. 

"Didalam adem, ber AC, kenapa kamu keluar?"

"Sudah selesai?"

"Belum.. ayo lihat pilihanku, bagus nggak? Nanti kamu bilang nggak sopan lagi.."

Bagas mengeluh dalam hati. Dia keluar dengan maksud agar Kristin tak usah minta pendapatnya tentang baju yang dipilihnya, sekarang sama saja, dia harus menilai pilihan Kristin.

"Ini Gas, ada empat yang aku pilih, baguskah? Cocok? Ini tidak terbuka, ini rendah sampai lutut.. warnanya dan modelnya elegant kan? Aku pasti lebih cantik. Bagaimana menurutmu?"

"Bagus mbak," jawab Bagas ogah-ogahan.

"Bagas tuh.. yang ini.. yang ini.. mana yang kamu nggak cocog?"

"Bagus semuanya..."

"Hm, baiklah.. oke mbak, saya ambil, nanti kalau cocog saya kemari lagi. Pilihkan warna yang agak  gelap.."

"Baiklah.." kata pelayan.

Bagas geleng-geleng kepala. Harga empat setel baju itu lebih dari gajinya sebulan. Tapi ia tak ingin mengatakan apapun. Hatinya masih gemuruh oleh api cemburu yang membakarnya. Ketika Kristin  menariknya keluar dengan membawa bungkusan bungkusan baju, Bagas sama sekali tak ingin membantu membawanya. Ketika sampai dipintu, salah satu dari tas plastik berisi baju itu jatuh dan isinya terburai.

"Augh... tolong Gas.."

Bagas memang keterlaluan. Mendengar teriakan itu ia baru sadar bahwa Kristin harus dibantu membawa belanjaannya. Ia membungkukkan badannya, mengambil bungkusan itu, lalu meminta bungkusan lainnya dari tangan Kristin.

"Bagas, kita kerumah dulu sekalian ya.." kata Kristin ketika sudah dalam perjalanan kembali ke kantor.

"Kerumah?"

"Ya, menurunkan belanjaan ini,  Masa harus aku bawa ke kantor?"

"Kunci rumah dibawa nggak?"

"Oh, ya ampun.. tertinggal di kantor, masih tergantung di laci.."

 "Hm, cantik, pintar, tledor.." gumamnya lirih.

"Apa?"

"Nggak apa-apa, kepalaku sedikit pusing, jadi jangan terlalu banyak mengajak bicara."

"Oh, pusing ya, pantas saja tanganmu berkeringat.Nanti sampai di kantor minum obat ya.."

Bagas terdiam. Pikirannya sedang kalut. 

"Kalau boleh, sesampai di kantor aku mau pamit pulang dulu."

"Tentu saja boleh Gas, kalau memang kamu sakit. Aku antar saja pakai mobil aku, besok kalau siap masuk kerja aku jemput."

"Tidak usah, aku pulang sendiri saja."

Kristin terdiam. Sikap Bagas yang acuh tak acuh terhadapnya tak membuatnya surut untuk terus mendekatinya.

"Bagas, aku cinta kamu.." Kristin berbisik sangat lirih, lalu ia terkejut sendiri, sangat malu kalau sampai Bagas mendengarnya.

Namun Bagas masih berkutat dengan sakit hatinya. Kristin bersyukur karena Bagas seperti tak mendengarnya.

***

 

 Mery terkejut ketika Basuki membawanya kesebuah rumah mungil yang halamannya penuh ditumbuhi pohon bunga-bunga mawar yang indah.

Ia menatap Basuki dan tak beranjak ketika Basuki menghentikan mobilnya didepan rumah.

"Ayo turunlah."

"Ini tempat apa?"

"Ini rumahku, ayo turunlah." kata Basuki sambil membukakan pintu samping untuk Mery.

Mery turun dengan ragu. 

"Mery, kamu mencurigai aku ? Aku sekarang sering tinggal disini. Ayolah, aku tak akan memperkosa kamu," kata Basuki sambil tertawa.

Mery memasuki rumah ketika Basuki menggandengnya dan seorang wanita setengah tua membukakan pintu.

"mBok, ini namanya Mery, dan ini mbok Yah, yang setiap hari memasak dan membersihkan rumah. Ada lagi pak Min, tukang kebun, tapi dia hanya datang setiap pagi sama sore."

Mery mengangguk ketika wanita setengah tua itu juga menganggukkan kepalanya, bahkan sambil ter bungkuk-bungkuk.

"Buatkan minuman dingin ya mbok."

Perempuan itu mengangguk lalu masuk kedalam. Tapi kemudian dia keluar lagi sambil mengulurkan sebuah surat.

"Ini apa mbok?"

"Tadi, dari Panti Asuhan datang kemari mencari bapak. Lalu meninggalkan surat itu."

Basuki menerima surat itu lalu meletakkannya diatas meja.

Mery duduk dan mengitarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Rumah kecil ini ditata dengan apik, dengan perabotan yang pasti tidak murah. Ada kaca besar dilingkari ukiran yang memantulkan wajahnya yang duduk sambil menyandarkan tubuhnya.

"Kamu sekarang tinggal disini?"

"Kalau kebetulan ana di Solo, aku tinggal disini. Kamu suka rumahnya?"

"Mengapa bertanya begitu sama aku?"

"Mm... maksudku.. mm.. aku hanya minta pendapatmu saja."

"Bagus.. aku.. suka.. Sejak kapan kamu suka bunga-bunga?"

"Itu kan maunya simbok sama pak Min.. mereka menanam dan merawatnya, baguslah.. siapa tau besok isteriku akan suka," kata Basuki sambil menatap Mery lekat-lekat.

Bergetar hati Mery menerima tatapan itu. Ada sesuatu yang meletup letup didadanya. Cinta yang terselip diantara mega bergulung menyesak didadanya. Ia tak tau mengapa Basuki mengajaknya jalan, makan siang bersama, lalu mengajaknya kerumah mungilnya, lalu menanyakan apakah dirinya suka akan rumahnya. Apakah Basuki memiliki juga rasa itu? Apakah ia berucap hanya dibibir saja? Bahwa dia kangen.. bahwa..

"Mery, " Basuki memotong lamunan Mery, seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi..

mBok Yah keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas jus yang segar.

"Bapak, simbok  buat jus sirsat.. " kata mbok Yah.

"Waah, simbok tau kalau ini kesukaanku, terimakasih mbok."

"Bapak akan makan dirumah?"

"Tidak mbok, kami sudah makan. Nanti malam saja."

Simbok mengangguk lalu mengundurkan diri kebelakang.

"Mery, diminum jusnya," kata Basuki sambil menghhirup jus buatan simbok.

Mery mengikutinya, mengecapnya dengan nikmat.

"Mary... aduh.. aku jadi lupa akan mengatakan apa..." gumam Basuki sambil kembali menatap Mery, seperti tatapan orang yang sedang terpesona. .

Mery mengerjap-ngerjapkan matanya, menahan deru derap rasa yang mengharu biru didadanya. Mata itu, mata garang yang menatapnya teduh, bukan mata Basuki yang dahulu. Dulu mata itu menghanyutkannya dalam nafsu, tapi sekarang melarutkannya dalam rasa yang mengendapkan  semua hasrat nista. Ini sesuatu yang murni.. dan ini cinta sejatinya.

Bibir itu tersenyum tanpa mengalihkan tatapannya. Mery tertunduk. Tak ingin hanyut. Lalu dia heran kepada dirinya sendiri. Basuki sudah dikenalnya selama puluhan tahun. Dulu dia bisa bicara begitu lepas, seenaknya, tapi kali ini ia seperti baru mengenalnya. Bahkan ia merasa seperti ABG yang baru saja jatuh cinta. Sikapnya menjadi kaku, agak gugup, terkadang gemetar. Tapi rupanya Basuki juga merasakan hal yang sama.

"Mery, kamu masih cantik seperti dulu." itu sudah diucapkannya berkali-kali, lalu bingung ingin mengucapkan apa lagi.

Mery mengangkat wajahnya. Mata itu masih menatapnya.

"Mery... aku kagum terhadapmu."

"Kagum seperti apa?"

"Kamu berhasil melewati  masa lalumu, lalu berhasil menjadi pengusaha makanan. Itu sangat hebat."

"Hidup itu ternyata harus diperjuangkan. Mendapatkan rejeki bukan hanya dengan menadahkan telapak tangan."

"Benar.  Aku sendiri.. setelah keluar dari penjara itu ... merasa telah menjadi manusia baru."

Tiba-tiba ponsel Basuki berdering. Basuki mengangkatnya.

"Ya.. oh.. ya saya sendiri. Sudah ibu, iya.. sama-sama.. hanya sekedar meringankan, tidak terlalu banyak bu.. tidak, ada beberapa Panti Asuhan .. saya akan melakukannya setiap bulan.. semoga bermanfa'at ya bu, baiklah, terimakasih kembali. Apakah anak-anak suka mainannya? Aah, syukurlah, mereka juga butuh bermain dan ber-senang-senang. Baik ibu, tidak apa-apa. Ya ibu, terimakasih kembali."

"Kamu memberi bantuan kepada Panti Asuhan?" tanya Mery heran setelah Basuki selesai menerima telpon.

"Ya, beberapa.. sudah dua bulan sejak aku keluar dari penjara. Aku tidak ingin menikmati hartaku seorang diri. Aku harus berbagi."

Mery tersenyum, menatap Basuki dengan penuh kagum.

"Kamu telah berubah."

"Aku harus berubah, setelah masa lalu menghempaskan aku dalam duka dan derita."

"Kamu hebat."

"Aku merasa bahwa banyaknya harta tak akan membuat hidupku tenang. Kesenangan yang dulu aku dapat ternyata kesenangan semu. Sesungguhnya tidak demikian dengan batinku. Ada kegelisahan yang tersembunyi dan aku tak menyadarinya."

Mery benar-benar terpukau oleh ucapan Basuki. Dia laki-laki yang hebat. Dia sadar akan hidupnya yang berlimpah harta dan tak segan untuk berbagi. Itu perbuatan yang sangat mulia. 

"Aku mencintai laki-laki yang luar biasa. Tapi apakah dia juga mencintai aku? Dia hanya kangen karena lama tak bertemu. Tapi mengapa dia selalu menatapku dengan pandangan yang sangat memukau? Apakah ada cinta didalamnya?" kata Mery dalam hati.

"Kamu masih tinggal bersama mas Timan?"

"Ya, belum bisa beli rumah, dan Sri selalu minta agar aku tetap tinggal disana."

"Mereka orang-orang baik."

"Kamu masih mencintai Sri?"

Basuki menghela nafas. 

"Sekarang aku menyadari, itu bukan cinta. Aku hanya menuntut agar keinginanku terpenuhi. Selama itu tak ada perempuan yang menolak aku, sementara Sri dengan sengit  menolakku mentah-mentah. Segala iming-iming bahkan tak mmbuatnya terpikat.  Dia seperti burung yang terbang lalu mengejekku. Aku penasaran dan bersumpah untuk mengejarnya. Dan itu adalah malapetaka buatku."

Basuki kembali menghela nafas. Ia menyandarkan tubuhnya, matanya menerawang seperti menatap sesuatu yang tak tampak.

"Tapi semuanya sudah berlalu. Sri sudah hidup bahagia bersama jodohnya. Aku bersyukur." lanjutnya.

Mery lagi-lagi terkagum-kagum. Ini bukan ucapan Basuki yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Ini ucapan seorang yang sudah matang, seorang yang dengan sepenuhnya menyadari kehidupan yang harus ditempuhnya.

"Mengapa kamu tidak menikah?" tiba-tiba pertanyaan itu mengejutkannya.

"Aku ?"

"Ya.. kamu cantik, pasti banyak yang suka.. jatuh cinta.."

"Aku merasa sudah tua.." jawab Mery, tapi ia kesal dengan pertanyaan itu. Mery menunggu ucapan yang lain, tapi harapan itu belum juga terpenuhi, bahkan ketika Basuki mengantarkannya kembali ke warung.

Tapi sebelum berpisah, Basuki membisikkan sesuatu ditelinganya.

"Besok aku akan menjemputmu lagi."

***

 

Mery terpaku diruang kerjanya. Setumpuk nota yang harus ditelitinya masih teronggok dan belum diisentuhnya. Sesiang ini dia menghabiskan waktunya  bersama Basuki. Orang yang pernah dicintainya dan tetap cinta itu terpendam dihatinya. Namun Mery masih bertanya-tanya, untuk apa Basuki mengajaknya jalan-jalan, makan siang bersama kemudian mengajaknya kerumahnya. Adakah maksud tertentu ataukah hanya kangen seperti berkali-kali dikatakannya? Adakah sesuatu dibalik rasa kangen itu? Mery masih mengharapkannya. Tapi tak ada kata cinta yang terucap, kecuali pandangan memukau yang menghanyutkannya dalam angan yang tak terjawab, karena Basuki tak pernah mengatakannya. Atau belum? Menunggu waktu yang tepat? Ah ya, kemudian Mery merasa tergesa-gesa berharap. Bukankah baru sekali itu dia bertemu setelah bertahun-tahun berpisah dalam suasana yang tak mengenakkan?

"Bu, ini catatan barang yang dibutuhkan," tiba-tiba Mini masuk dan mengejutkannya.

"Oh, nanti kamu saja yang belanja ya?"

"Ya bu, tidak masalah. Ibu masih sakit?"

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Tadi mas ganteng yang mobilnya merah itu datang kemari."

"Oh, dia mencari aku?"

"Ya, menanyakan ibu kemana. Tapi dia tidak sendiri."

"Sama siapa?"

"Seorang gadis cantik yang aduhai.. dulu pernah datang bersama bapaknya kalau tidak salah."

"Oh, itu atasannya. Kamu mengamati setiap tamu yang datang juga ya Min?"

"Itu kan karena ibu mengenalnya. Kalau semua tamu ya tidak bu, kecuali yang sudah sering datang kemari."

"Ini catatannya bawa saja, kan kamu yang mau belanja."

"Tadi ponsel ibu tertinggal, berkali-kali seperti mendengar telpon berdering, tapi saya tak berani mengangkatnya.

Mery baru teringat bahwa ponselnya tertinggal. Diambilnya ponsel itu, dan dilihatnya Bagas menelponnya berkali-kali.

"Ah, biarlah, paling-paling besok dia pasti kesini," gumam Mery kemudian memasukkan ponsel kedalam tasnya.

"Aku mau pulang saja sekarang."

Mini mengangguk, tapi ia senang melihat wajah majikannya tampak berseri siang itu. Pasti karena mas ganteng tinggi besar yang mengajaknya pergi. Lalu diam-diam Mini berdo'a, agar majikan cantiknya benar-benar menemukan jodohnya.

***

Bagas sudah pulang kerumah sejak kembali dari makan siang dan belanja bersama Kristin. Ia mencoba menelpon Mery, tapi berkali-kali Mery tak mengangkat telponnya. Kembali dadanya bergemuruh karena cemburu. Ada apakah diantara mas Basuki dan mbak Mery?

"Mengapa kamu pulang sesiang ini Gas?" tanya pak Darmono yang melihat Bagas sedang duduk santai diruang tengah.

"Tidak apa-apa pak, agak pusing."

"Sakit? Kalau begitu istirahat saja dulu. Kamu sudah makan ?"

"Sudah pak." kata Bagas sambil berdiri lalu berjalan kearah kamar.

Pak Darmono mengikuti anaknya.

"Pekerjaan banyak ya Gas?"

"Seperti biasa pak. Tidak apa-apa kalau so'al pekerjaan.Tapi sesungguhnya Bagas memang ingin resign saja."

"Sebenarnya bapak ingin bicara."

"Tentang apa?"

"Pak Suryo bicara lagi sama bapak."

"Oh, tentang perusahaan itu? Tidak pak, Bagas tidak mau. Kan Bagas sudah bilang kalau mau resign saja."

"Bapak juga tidak akan memaksa apapun, karena ini adalah hidup kamu. Tapi pak Suryo seperti memaksa."

"Bagas sudah tau, itu kemauannya Kristin, bukan pak Suryo."

"Pak Suryo yang mengatakannya."

"Benar, tapi Kristin yang meminta. Bagas tidak suka. Lagipula memegang sebuah perusahaan besar tidak mudah."

"Katanya pak Suryo akan membantu."

"Tidakkan bapak merasa aneh, Bagas yang baru sebentar bekerja sudah akan diserahi tanggung jawab yang begitu besar? Kristin bisa melakukannya, Bagas tau dia pintar kok."

"Ada keinginan pak Suryo yang lain, dan itu adalah alasan mengapa kamu diserahi perusahaan itu."

"Keinginan apa?"

"Dia ingin kamu menjadi menantunya."

"Tidaaak..!" kata Bagas dengan nada tinggi.

"Kamu tidak suka? Bukankah Kristin itu cantik ?"

"Kecantikan tidak menjamin orang bisa dengan mudah jatuh cinta. Bagas tidak mencintai Kristin."

"Pak Suryo juga bertanya, apa kamu sudah punya pacar. Tapi bapak tidak bisa menjawabnya."

"Bagas mencintai orang lain."

"Oh, kalau begitu bapak akan menjawab begitu. Tapi bolehkah bapak tau siapa yang kamu cintai itu?"

"Namanya Mery."

"Kamu belum pernah mengenalkannya pada bapak."

"Dia pemilik warung timlo itu."

"Apa?"

Pak Darmono terkejut bukan alang kepalang.

"Apakah dia yang mengantarkan pesanan timlo kerumah waktu itu?"

"Ya pak."

"Bagas, bapak tidak setuju. Tampaknya dia sudah terlalu tua untuk kamu.

 

***

 

 besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Wednesday, July 1, 2020

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA 07

CINTAKU ADA DIANTARA MEGA  07

(Tien Kumalasari)

 

Pak Darmono menatap sahabatnya tak berkedip. Apakah seorang yang kaya raya menganggap semua hal bisa begitu mudah didapatkan? Bahkan ketika menentukan pilihan untuk pewaris 'kerajaan' dan menentukan siapa yang pantas jadi menantunya? Tidak, semuanya tidak mudah diterima bagi Darmono.

"Mengapa menatapku seperti itu Darmono? Ada yang aneh?"

"Semuanya menurutku aneh mas."

"Aneh ?"

"Mas Suryo membuat sesuatu menjadi seperti mudah."

"Mengapa tidak?"

"Karena mas Suryo selalu mendapatkan apa yang menjadi keinginan mas. Baiklah, benda, kekayaan, bisa dengan mudah mas dapatkan, tapi memilih pewaris perusahaan dan menantu, tidak bisa mas dapatkan begitu mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan."

"Jadi kamu menolaknya?"

"Bukan menolak mas, aku hanya minta agar mas memikirkannya masak-masak sebelum menentukan pilihan."

"Anakmu seorang yang baik, ia akan menjadi pembimbing bagi Kristin yang terkadang masih kekanak-kanakan. Bukankah kita pernah membicarakan tentang perjodohan ini?"

"Tapi aku bilang masalah perjodohan tidak bisa diselesaikan antara kita bukan? Biar anak-anak itu yang menentukan."

Pak Suryo menghela nafas. Dalam hati ia memuji sahabatnya, yang tak mudah menerima kebaikan dan memikirkan segala sesuatu dengan sangat matang.  

"Bisakah mas Suryo menerima kata-kataku?"

Pak Suryo mengangguk-angguk. Tapi dia teringat ucapan Kristin, bahwa dia mencintai Bagas.  Apakah Bagas sedikitpun tak tertarik pada Kristin? 

"Apa Bagas sudah punya pacar?" tanya pak Suryo kemudian.

"Aku tidak tau mas. Dia belum pernah mengatakannya. Tapi mas harus percaya, kalau memang mereka berjodoh maka pasti kita bisa berbesan."

"Baiklah, aku bisa menerima alasanmu. Semoga yang terbaik adalah milik anak-anak kita.

 

***

 

Basuki  memasuki warung dengan hati berdebar. Ia menatap kedalam.Mencari sosok Mery yang ingin dijumpainya. Basuki heran pada dirinya. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Seperti anak muda yang baru pertama kali jatuh cinta. Apakah sekarang dia jatuh cinta? Entahlah, Basuki belum menyadari bagaimana perasaannya. Namun sesuatu yang aneh merayapi batinnya. Ingin segera bertemu, ingin segera mendengar suaranya, melihat bagaimana bibirnya bergerak manis ketika mengungkapkan kata-kata. 

"Ini hanya sebuah kerinduan karena lama tak bertemu," bisik batinnya.

Tapi kemudian debar itu menjadi lebih cepat ketika dilihatnya seorang gadis keluar dari balik pintu . Gadis itu melenggang dengan manis, memandangnya dengan manis, dan tarikan bibirnya memang manis. Basuki menjadi seperti gila. Ia sudah tidak muda lagi. Umurnya sudah lebih empat puluh tahun, tapi guncangan yang terasa membuat dirinya seperti ABG bertemu gadis pujaannya. 

"Apa kabar Bas?" sapa Mery begitu berada didepannya.

Kedua mata saling beradu. Ada api memercik disana. Dan tautan dalam pandangan itu tak hendak terlepas, sampai beberapa detik lamanya sebelum keduanya sadar apa yang terjadi.

"Mery.. kamu masih cantik seperti dulu."

"Ehem..." Mery berdehem pelan, senyumnya merekah. Ternyata Basuki tidak lagi marah. Pandangan mata itu yang mengatakan. Tatapan garang yang membuatnya terbuai, lalu membuat percikan api yang tersulut menjadi terburai, seperti kembang api memuntahkan derai-derai indah dilangit sana.

"Kamu tidak membenciku ?" kata Mery pelan, sambil mengalihkan pandangan kearah jalan, dimana lalu lalang kendaraan tampak ramai, penuh hiruk pikuk yang membuat bising.

"Tidak ada lagi benci dihatiku. Aku sudah mengendapkan semua masa laluku didalam perjara. Aku sedang membuka lembaran hidupku yang baru."

"Syukurlah."

"Aku kangen sama kamu.."

 Mery menatap Basuk lagi. Dulu kata itu sering diucapkannya, ketika tubuh kekar itu memeluknya dan melemparkannya keatas ranjang demi memuaskan hawa nafsu. Tapi sekarang mata itu begitu teduh, tak ada nafsu kotor menyeruak diantara tatapannya, Mery merasa lega. 

"Apa kamu sudah punya pacar?"

Mery tersenyum manis sekali. Basuki menelan ludah menahan gelora batinnya.

"Aku sudah tua, masa harus berpacaran?"

"Benar?"

Mery mengangguk pelan. 

"Anak muda bernama Bagas itu..?"

Ah ya, Mery teringat. Ketika Basuki masuk keruangan warung itu dilihatnya Bagas sedang menggenggam tangannya. 

"Dia hanya anak-anak.."

"Anak-anak?"

"Anak-anak manja...  dia baik."

"Dekat sekali sama kamu?"

"Iya, oh ya.. kamu mau makan apa?"

"Bagaimana kalau kita jalan?"

"Jalan kemana?" Mery menatap Basuki penuh selidik.

"Cuma jalan-jalan saja.. . pokoknya ingin pergi bareng kamu, sudah lama sekali kita tidak melakukannya."

"Jalan-jalan saja kan?"

"Mery, kamu mencurigai aku ? Mnngira aku masih mampu melakukan hal-hal buiruk?" 

Mery sungkan mengatakannya, tapi mata garang itu tidak menunjukkan nafsu yang dahulu membuatnya mabuk. Mery bangkit berdiri.

"Aku mengambil tasku didalam."

Basuki mengangguk. Seperti anak kecil terpenuhi keinginannya minta mainan, mata itu bersinar-sinar. Lalu Basuki kembali merasa heran pada dirinya. Apa yang terjadi? Sudah bertahun-tahun hidup bersama Mery tak pernah dirasakannya gejolak yang sedemikian menghentak-hentak batinnya. Apa yang terjadi dengan diriku? Bisik  batik Basuki.

Ketika Mery keluar dan diikuti pandangan penuh senyum dari para pegawainya, Basuki menggandeng lengannya dengan manis.

"Siapakah dia?" kata salah seorang pelayan.

"Sst, itu urusan bos kita, mengapa kamu ribut?"tegur Mini. Tapi tak urung matanya juga menatap sepasang manusia yang tampak bahagia itu sampai hilang diantara berderet mobil yang diparkir didepan warung.

"Itu laki-laki baik hati yang sudah dua kali memberi aku uang kembalian."

"Ganteng dan gagah. Berbeda dengan pengendara mobil merah yang biarpun tampan tapi masih sangat muda." kata pelayan yang lain.

 

***

 

 "Bagaas..."

Panggilan itu tak membuat Bagas mengangkat kepalanya. Sudah biasa didengarnya, dengan nada yang sama, dan sedikit keras. Bagas terus menatap laptop dan mengotak atiknya.

"Bagaaas.."

Bagas tetap tak bergeming. 

"Gas, sudah waktunya makan siang."

"Iya, makanlah .. aku selesaikan ini dulu."

"Tapi aku ingin makan bareng kamu."

"Aku nggak lapar."

"Bohong."

Bagas terus tenggelam dalam pekerjaannya. Dengan gemas Kristin mendekati. Ia duduk dihadapan Bagas, menopang kepalanya dengan kedua tangan dengan siku bertumpu pada meja. Matanya menatap Bagas tak berkedip.

"Bagaas.."

Bagas mengangkat kepalanya sekilas. Tampak sepasang mata bintang menatap kearahnya. Seperti ada cahaya memercik dari sana. Tapi Bagas kemudian menundukkan kepalanya, kembali menekuni pekerjaannya.

"Aku mau ikut makan siang bersama kamu, boleh kan ?"

"Aku belum lapar."

"Aku mau menunggu sampai kamu lapar."

Bagas ingin tertawa. Ia seperti menghadapi anak kecil yang merengek untuk dibelikan mainan. Tak hendak berhenti sebelum mainan itu didapatkan. Tapi Kristin menangkap tawa yang tersembunyi itu dari sudut bibir Bagas.

"Bagaas..."

"Iya.. iya mbak.. sebentar aku selesaikan ini dulu. Tunggu dimeja mbak dan jangan dihadapanku."

"Apa aku mengganggu?"

Tentu saja mengganggu. Cara dia duduk dengan baju berbelahan rendah itu sangat mengacaukan pikirannya. Bagas sudah berkali-kali ingin mengingatkan cara Kristin berpakaian, tapi diurungkannya. Ia merasa tak berhak mengatur cara atasannya berpakaian. 

"Biarkan aku disini, aku kan tidak mengganggu?"

"Mengganggu mbak," dan gilanya sekali lagi Bagas menatap belahan baju yang teramat rendah sehingga sama sekali tak menyembunyikan sesuatu yang seharusnya disimpan dengan rapi. Bukannya senang Bagas menatapnya, tapi justru sekarang benar-benar ingin mngingatkannya.

"Aku kan diam saja Gas, tidak mengganggu kan?"

"mBak, ma'af kalau tersinggung, tapi .. aku ingin mengingatkan, bagaimana kalau mbak Kristin mengubah cara berpakaian mbak?"

"Mengubah bagaimana ?"

"Memang sih mbak Kristin suka yang modis, modern, aksi, seksi, tapi ada lho modis yang lebih sopan." Bagas agak menyesal mengucapkannya, tapi ucapan itu terlanjur diungkapkannya.

"Jadi aku nggak sopan?"

Bukannya sadar, Kristin justru berdiri lalu memutar-mutar tubuhnya seperti seorang peragawati berjalan diatas catwalk.

Bagas sama sekali tak memandangnya, karena setiap hari walau berganti model tapi selalu begitu penampilannya. Bawahan pendek, baju atasan yang terlalu rendah .. lengan yang kelihatan separo.. ah.. entah apa namanya itu, Bagas sungguh tak nyaman memandangnya.

"Bagas.."

"Ma'af, maksud saya baju yang agak tertutup."

"Oh..."

"Ma'af ya mbak, bukan maksud saya menyinggung, tapi.."

"Bagaimana kalau nanti kamu mengantarkan aku beli baju-baju yang kamu suka?"

Astaga... ini namanya senjata makan tuan, bukan?

"Maukah ?"

"Ya enggak lah mbak, masa harus sama aku."

"Habis sama siapa? Kalau sama mama, nanti belinya juga baju yang modelnya seperti begini ini Gas."

Bagas benar-benar pusing. Ia mematikan laptop dan menutupnya. Kristin berjingkrak kegirangan. 

"Sudah selesai? Sudah laparkah ?"

Bagas sebenarnya ingin bertemu Mery. Tapi kalau bos centil ini ikut, jadi nggak asyik dong.

"Bagaas?" Bagas menyandarkan tubuhnya lalu mengangkat  kedua  tangannya, diletakkannya dibelakang kepalanya.

 "Capek ya Gas?"

"mBak Kristin makan sendiri saja ya, aku benar-benar nggak ingin keluar."

"Kalau begitu kamu tunggu disini saja, aku nanti belikan kamu makanan untuk makan siang, ya Gas?"

Bagas mengangguk. Tapi dalam hati bersorak. Kalau Kristin pergi berarti dia bebas menemui mbak Mery nya. 

Lalu ia menunggu sampai beberapa sa'at lamanya. Ketika diperkirakan Kristin sudah keluar dari kantor, barulah Bagas bangkit berdiri. Disambarnya kunci mobil, lalu dengan wajah berseri keluar dari ruangannya. Tapi ketika dia sampai diloby, dilihatnya Kristin setengah berlari datang dari arah parkiran.

"Bagas, kamu mau kemana?"

"Mengapa kembali?"

"Kunci mobilku ketinggalan dimeja."

Gadis pintar yang manja, dan ceroboh! pikir Bagas, tapi dengan demikian ia harus mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Kamu mau kemana Bagas?" tanya Kristin curiga.

"Aku cuma mau jalan-jalan saja disekitar kantor."

"Kalau begitu  ayo jalan sama aku saja. Ya Gas.. kenapa sih kamu seperti nggak suka sama aku? Ayo.. kalau begitu pakai mobilmu saja. Tuh, kamu sudah membawa kunci mobil kan? Kalau hanya jalan-jalan disekitar kantor mengapa bawa-bawa kunci mobil?"

Bagas menjadi seperti tikus terkena perangkap, tak berkutik. Alasan yang diutarakannya sama sekali tak masuk akal. Jadi tak ada jalan lain, ia menurut saja ketika Kristin menariknya, kearah mobil merah, miliknya sendiri.

"Kita mau makan dimana Gas? Oh ya, nggak apa-apa, aku mulai menyukai warung itu, nasi gorengnya lumayan enak, Kesana saja ya?"

"Terserah mbak Kristin saja." Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan Bagas.

Tak apa bersama Kristin, yang penting bisa ketemu mbak Mery. Demikian pikir Bagas.

***

"Gas, kamu sudah ketemu papa?" Tanya Kristin dalam perjalanan.

"Belum. Kapan aku bertemu? Kalau pak Suryo ke kantor pasti mbak Kristin juga tau. Bukankah pak Suryo tidak kekantor beberapa hari terakhir ini?"

"Tidak, mungkin papa menelpon kamu."

"Tidak, untuk apa pak Suryo menelpon aku?" Bagas pura-pura tidak tau, padahal dia yakin pasti Kristin akan berbicara tentang perusahaan yang akan diserahkan kepada dirinya. Tidak, dia tak akan mau. Dia lebih suka resign daripada setiap hari diganggu Kristin.

"Kamu tidak tau apa yang akan papa katakan sama kamu?"

"Apa? Mana mungkin aku bisa tau, memangnya aku ahli nujum? Dukun?"

"Ingin tau tidak?"

"Tidak, bagiku .. kalau aku sudah mengerjakan pekerjaan atau semua tugas yang harus aku jalankan, itu sudah cukup."

Kristin seperti putus asa. Ia sebenarnya ingin mengatakan apa yang menjadi keinginan ayahnya itu, atau tepatnya keinginan dirinya sendiri, tapi diurungkannya. Barangkali Kristin merasa bahwa kalau ayahnya yang meminta pasti Bagas tak akan menolaknya. 

"Jalanan ramai sekali. Macet dimana-mana." keluh Bagas karena mobilnya tidak bisa melaju seperti yang diinginkannya.

"Iya, kan waktunya orang pada makan siang."

"Keburu lapar..."

"Katamu kamu belum lapar..." ejek Kristin.

"Lama-lama jadi lapar."

Kristin tertawa geli, menampakkan sederet gigi putih bak mutiara itu tersembul dari balik bibirnya yang tipis. Sayang Bagas tak melihatnya, atau memang tak ingin melihatnya.

 

***

 

Begitu memarkir mobil didepan warung itu, Bagus sudah melongok kedalam, barangkali bayangan Mery sudah tampak dari dalam mobilnya. Tapi bayangan itu tak ada. Bagas lebih dulu turun dan melangkah kedalam, meninggalkan Kristin yang turun kemudian. 

"Iih, Bagas, kok aku ditinggal sih..."

Bagas mencari tempat duduk disudut ruangan, dan duduk menghadap kedalam. Dengan matanya ia terus mencari.

"Gas, ayo dong, panggil pelayan."

Bagas melambaikan tangannya, seorang pelayan mendekat. Ia sudah mengenal Bagas dengan baik, tapi belum pernah melihat Bagas datang bersama gadis cantik ini. Dulu mereka bertemu ketika gadis itu datang kemudian bersama ayahnya. Pelayan itu selalu mengingatnya, karena menyukai penampilan gadis cantik yang tampak seksi dan menawan. Laki-laki mana sih yang tak suka gadis cantik?

"Aku biasa, nasi timlo dan jeruk hangat."

"Aku nasi goreng, dengan udang."

"Dan es kopyor?" pelayan itu dengan lancangnya menyahut. Kristin menatapnya sejenak, tapi kemudian mengangguk."

"Nggak pakai lama !" pesannya begitu pelayan mengundurkan diri.

Biasanya Bagas tak perlu meminta, setiap kali dia datang pasti salah seorang pelayan memanggilkan Mery untuknya. Tapi sampai pesanan sampai ke mejanya, Mery belum juga muncul.

"Eh, mas.. mbak Mery mana?"

"Oh, mbak Mery lagi pergi mas..."

"Pergi kemana ? Belanja ?"

"Nggak tau saya mas, perginya sama bapak-bapak yang ganteng tinggi besar itu.."

"Ganteng tinggi besar? Siapa?"

"Nggak tau mas, dia juga beberapa kali pernah datang kemari." lalu pelayan itu pergi. Barangkalai dia lupa bahwa laki-laki gagah dan ganteng itu pernah makan juga bersama Bagas, atau memang waktu itu tak memperhatikannya.

Wajah Bagas menjadi muram. Siapa laki-laki ganteng itu? Kemarin tidak ke warung karena sakit, sekarang pergi dengan laki-laki ganteng.?"

"Bagas, kok nggak segera dimakan sih? Aku hampir habis separo nih." kata Kristin menegur karena Bagas tidak segera menyantap makanannya.

"Iya, kan aku bilang bahwa sebenarnya aku nggak lapar?"

"Kan tadi kamu juga bilang bahwa lama-lama lapar?"

"Ternyata benar-benar nggak lapar."

"Makan saja, sayang sudah dipesan."

Tapi Bagas hanya menyendok satu atau dua sendok makanannya, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. 

"Benar nggak mau makan?"

Bagas menggelengkan kepalanya.

Mereka meninggalkan rumah makan tanpa banyak bicara karena Bagas memang enggan bicara.

"Bagas,. kok kamu jadi lain? O, karena tidak bertemu dengan pemilik warung sahabatmu itu. Kamu suka?" kata Kristin ceplas ceplos.

Bagas tak menjawab. Tiba-tiba Kristin memegangi tangannya dan berteriak.

"Bagas.. berhenti dulu.. tolong."

Bagas memperlambat laju mobilnya.

"Berhenti?"

"Minggir dulu sebentar."

Bagas terpaksa menuruti kata Kristin, meminggirkan mobilnya.

"Ayo turun  sebentar, antarkan aku," kata Kristin sambil bergerak turun.

"Kemana ?"

"Masuk ketoko itu, sebentar."

Bagas turun, mengikuti Kristin memasuki sebuah toko pakaian.

"Aku mau kamu memilih baju yang mana yang kata kamu lebih sopan." kata Kristin yang terus menarik Bagas masuk kedalam.

Ternyata itu butik langganan Kristin. Begitu mereka masuk, salah seorang pelayan menyambutnya ramah.

"mBak Kristin, ada yang baru nih.. lihat."

Bagas geleng-geleng kepala. Yang ditunjukkan adalah baju yang terbuka dibagian punggungnya. Kristin mengamatinya sebentar, sepertinya tertarik, ia menatap Bagas, tapi Bagas memalingkan muka.

"Nggak.. nggak.. aku mau baju yang lebih tertutup, tapi anggun. Untuk bekerja dikantor," kata Kristin.

"Oh, ada mbak, mari langsung kedalam... ada banyak pilihan."

Butik itu lumayan besar, Kristin masuk kedalamnya, tapi Bagas engan mengikutinya masuk. Nanti sebentar-sebentar Kristin akan bertanya padanya, lalu para pelayan toko mengira dia adalah pacarnya. Ogah ah. Bisik batin Bagas.

Karena itu ia diam-diam keluar dari butik itu. Ia berdiri ditepi jalan sambil mengamati jalanan yang ramai siang itu.

Tiba-tiba Bagas berdebar karena melihat Mery. Ia hampir  berteriak memanggil, tapi diurungkannya. Ia melihat Mery, berjalan keluar dari sebuah umah makan, bersama seorang laki-laki yang dikenalnya.

*** 

besok lagi ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DARAH, CINTA DAN AIR MATA 11

  DARAH, CINTA DAN AIR MATA  11 (Tien Kumalasari)   Sarah terkejut, Mentari mengatakan seperti apa yang pernah dikatakannya. Bimo dan Fajar ...