Wednesday, June 10, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 20

 NAMAKU TETAP SENJA 20

(Tien Kumalasari)

 

Senja menatap Arka tak mengerti. Tapi Arka hanya tersenyum saja.

“Cepat turun, Simbok pasti sudah menunggu kamu.”

Senja turun, masih belum mengerti. Sebelum menutup pintunya, ia masih bertanya-tanya lagi.

"Nanti ada yang mengirimkan sepeda aku kemari? Kalau tidak aku ambil sendiri saja sekarang."

"Bawel, aku sudah bilang kalau ada yang akan mengantarkannya kemari. Kamu mau mengambil ke sana, nanti malah bukan nemu sepeda kamu, yang ada kamu hanya capek."

“Bener ya?”

"Ya ampun, Senja. Sudah, tutup pintunya dan tunggu saja sepeda kamu. Awas, jangan pergi ke mana-mana.”

Senja menutup pintunya, lalu mobil Arka meluncur pergi.

“Orang aneh. Sepeda ditinggal di bengkel, mau diambil nggak boleh, katanya mau diantar orang. Apa maksudnya?”

“Senja, kamu tuh ngapain berdiri di jalan?"

Senja menoleh, lalu berjalan ke rumah.

"Sepeda kamu ke mana? Kok kamu nggak bawa sepeda?"

"Tadi Senja tuh diantar mas Arka. Ini uang Simbok, ambil semua, kembalinya diberikan untuk kita. Banyak orang baik untuk kita ya Mbok."

“O, alhamdulillah. Nanti dulu, simbok tanya belum kamu jawab, gimana sih. Sepeda kamu mana?”

“Gini lho Mbok, waktu berangkat tadi sepeda Senja gembos, rupanya bocor, trus Senja cari bengkel biar ditambal, ee.…ketemu mas Arka. Lalu Senja diantar.”

“Dia ikut mengantarkan beras pesanan itu?”

"Iya. Pulangnya langsung pulang, sepedanya masih ditinggal di tukang tambal. Kata mas Arka nanti sepedanya diantar kemari. Nggak tahu aku maksudnya apa. Tinggal ngambil, kenapa harus diantar orang, kan bikin repot. Dan lagi siapa yang mengantar, sungkan sama dia kan?"

“Ya sudah, pastinya mas Arka sudah mengatur semuanya. Kamu sekarang mandi di sana, trus istirahat. Dari tadi belum istirahat."

***

“Aku tadi seperti melihat mobil Arka keluar dari halaman,” kata pak Daryono ketika duduk istirahat sepulang dari kantor.

“Iya, itu mobil Arka.”

"Main kemari dia? Tumben, apa tidak  ke kantor?"

“Dia bukan main kemari Pa, dia tadi tuh mengantar seorang gadis penjual beras.”

"Seorang gadis penjual beras? Siapa, dan mengapa Arka mengantarkannya?"

"Nggak tahu kenapa. Rosa pesan beras sepuluh kilo, tempatnya jauh pula. Tapi  penjual beras itu, atau anak penjual beras itu teman Arka. Jadi Arka membantu mengantarkan berasnya kemari."

“Sekarang Rosa sudah mau membantu bibik belanja? Kok dia yang beli beras?"

"Ya tidak, dia pesan beras begitu saja. Katanya kasihan sama teman Arka itu. Biar berasnya laku, begitu kira-kira."

“Tumben dia peduli sama penjual beras, anak itu kan semaunya.”

“Gara-gara penjual itu katanya teman Arka.”

"O, begitu. Semoga saja dia tulus melakukannya. Menurut aku, Rosa itu harus banyak belajar tentang kehidupan. Dia suka semaunya. Kita masih harus selalu mengawasi dan menuntunnya."

“Sudah banyak yang Mama lakukan Pa, Mama juga tahu kalau kelakuannya terkadang tidak pantas."

"Mengenai hubungannya dengan Arka itu, sepertinya yang sangat ingin itu justru pak Wiguna. Entah kenapa begitu. Kalau aku, hanya sekadar mengikuti keinginan Rosa, tapi kan kalau Arka mau? Kalau kelihatannya tidak suka, lebih baik jangan. Nanti saya bilang pada pak Wiguna."

“Terserah Papa saja, Aku juga kurang setuju. Nanti mama juga mau memberi tahu Rosa supaya jangan melanjutkan keinginannya itu.”

“Arka itu baik, kalau bisa, aku juga suka, tapi kalau dia tak suka, mana bisa dipaksa?”

"Tapi aku heran pada kelakuan Rosa. Kita semua mengajarkan yang baik-baik, kenapa ya, dia seperti itu?"

“Darah orang tuanya begitu kental mengalir pada dirinya.”

“Ssst, Papa jangan keras-keras, dia ada di rumah lhoh. Kalau dia mendengar dan tahu bahwa dia bukan darah daging kita, kasihan.”

“Ya, maaf aku keceplosan.”

***

Senja duduk di bangku depan rumah. Sudah sore ketika itu, dan Senja dengan cemas menunggu sepedanya diantarkan. Dia sedikit kesal pada Arka karena melarangnya mengambil sepeda itu.

"Kalau tidak diantar, aku besok sekolah pakai apa? Sekolahku kan jauh." 

Senja berdiri, berjalan sampai ke jalan depan rumah, melihat ke kiri dan kanan, tak ada tanda-tanda orang datang membawa sepedanya.

"Gimana sih mas Arka. Enak saja dia ngomong, dia sih punya mobil, ke mana-mana bisa naik mobil. Aku? Satu-satunya kendaraan kan hanya sepeda? Kalau sore ini tidak diantar, besok aku naik apa?" gerundel Senja tak henti-hentinya.

Ia kembali ke rumah, duduk diatas bangku dengan wajah lesu.

“Belum diantar Mbak?” tanya Rimba dari pintu rumah.

"Belum tuh. Mas Arka seenaknya saja, melarang aku mengambil sepeda, katanya mau diantar kemari sama orang. Mana orang itu?"

“Siapa yang mau mengantar?”

"Nggak tahu aku. Mas Arka hanya bilang akan ada yang mengantar. Aku sebenarnya pilih mengambil sendiri, daripada resah  seperti ini."

“Kalau tidak diantar sore ini, mbak Senja harus berangkat sekolah pagi-pagi sekali.”

“Lha iya, harus pagi sekali. Bisa terlambat aku kalau berangkat di jam seperti biasanya.”

“Besok aku antar Mbak.”

“Lha kok kamu mengantar, maksudmu apa?"

"Aku juga akan berangkat pagi sekali, menemani jalan.”

Senja tertawa.

“Kalau hanya jalan saja kenapa harus ditemani? Ada-ada saja kamu ini.”

“Kalau ada temannya kan tidak terasa capek.”

“Terus kamu ke sekolahnya, dari sekolah aku, balik lagi?”

“Yang penting mbak Senja ada temannya.”

“Kalau teman jalan saja banyak dijalan. Eh lihat, siapa tuh, ada mobil berhenti di sana.”

"Simbok pesan beras lagi? Itu kan mobil box yang biasanya nganterin pesanan beras simbok?"

“Enggak, simbok belum pesen lagi kok.”

Seorang laki-laki turun dari mobil dan masuk ke halaman rumah mbok Mangun.

"Permisi. Apa betul ini rumahnya Mbok Mangun?”

“Benar.”

“Tuh kan, mau ngantar beras ya Pak?” Rimba tiba-tiba nimbrung.

“Bukan dik, saya mau mengantarkan sepeda mbak Senja.”

“Ooh, alhamdulillah,” kata Senja dan Rimba hampir bersamaan.

“Lha mana sepedanya Pak?”

"Sebentar saya ambilkan. Tadi baru tanya, apa benar rumahnya di sini," kata laki-laki itu sambil berbalik ke mobil.

Senja mengikuti, maksudnya agar laki-laki itu tidak capek bolak-balik. Tapi Senja terpana ketika yang diturunkan bukan sepedanya, tapi sepeda yang masih baru.

"Lho Pak, bapak salah. Ini bukan sepeda saya. Ya ampun, sepeda bagus seperti ini? Bukan Pak, ada kesalahan ini. Sepeda saya baru ditambal bannya, sepeda butut, catnya sudah pada mengelupas, lha ini masih mengkilap. Maaf Pak, ini bukan punya saya."

“Mbak.Saya dari toko sepeda, tadi seorang muda membeli sepeda ini, dan menyuruh mengirimkan kepada yang bernama Senja, di rumah mbok Mangun. Namanya Arka.Tidak salah kan?”

Senja melongo. Rimba yang menyusul kemudian berteriak.

“Berarti mas Arka beli sepeda baru untuk Mbak. Bagus sekali.”

“Mbak, mohon tanda tangan di sini.”

“Tanda tangan apa?”

“Tanda terima bahwa sepedanya sudah saya kirim.”

“Tapi…”

“Tolong tanda tangan saja Mbak, nanti pasti pak Arka menanyakannya.”

“Ya sudah Mbak, tanda tangan saja. Kasian, bapaknya ini kan hanya petugas?”

“Betul dik.”

Dengan tangan gemetar Senja menanda tangani surat yang disodorkan petugas.

“Sepedanya saya antar ke rumah Mbak?”

“Tidak, tidak usah, biar saya sendiri, terima kasih," kata Senja.

Petugas itu mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu.

Senja masih berdiri tegak di tepi jalan, ketika Rimba menaiki sepedanya menuju rumah.

“Enteng sekali. Sepeda bagus,” teriaknya gembira.

Waktu itu mbok Mangun baru pergi, katanya ke warung membeli bumbu. Senja masih agak bingung. Sepeda bututnya berubah menjadi sepeda kinclong. Luar biasa tuan muda ganteng itu.

Tiba-tiba Senja melihat simboknya berjalan dari arah depan. Senja menunggu, siap mengatakan tentang sepeda bututnya yang ditukar sepeda baru, tapi ia melihat air mata meleleh di pipi biyungnya. Ia menangis sepanjang langkahnya. Senja sangat terkejut.

"Mbok, ada apa? Simbok dari mana?"

“Dari rumah pak RT," jawabnya sambil menangis.

Senja merangkulnya, membawanya ke arah rumah. Apa yang dilakukan pak RT sehingga tangis mbok Mangun sampai seperti ini?

***

Besok lagi ya.

Tuesday, June 9, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 19

 NAMAKU TETAP SENJA  19

(Tien Kumalasari)

 

Senja heran, melihat Arka memelototi kartu tersebut.

“Ayo mas, jadi ngantar nggak, kalau jadi aku harus berterima kasih, karena takut kelamaan ngirimnya. Tapi kalau enggak ya mau bagaimana lagi, aku harus menunggu ban sepedaku selesai ditambal."

“Ayo naik,” kata Arka pada akhirnya, sementara Senja berpesan pada tukang tambal ban itu, bahwa sepeda akan diambil setelah ia menyelesaikan tugasnya.

Senja masuk ke mobil, Arka duduk di belakang kemudi, setelah memasukkan karung beras ke dalam bagasi mobil, sambil masih membawa kartu itu. Senja memintanya.

“Mana Mas, biar nanti lain kali kalau harus mengirim ke situ lagi tidak lupa.”

“Dapat dari mana kamu kartu ini?”

“Ya dari orangnya dong Mas, masa aku nemu di jalan?”

“Maksudku kamu mengenalnya di mana?”

“Dia datang ke rumah, pesan beras sepuluh kilo.”

“Sudah dibayar?”

“Belum.”

“Nggak usah dikirim saja.”

“Eh, sembarangan. Nggak bisa begitu, sudah janji harus ditepati. Sudah bagus ada orang mau membeli berasnya simbok, bukankah aku harus berterima kasih? Memangnya kenapa Mas ngomong begitu? Kalau beras simbok laris, dia akan bisa membayar hutangnya pada rentenir itu,” katanya pelan, tapi tentu saja Arka mendengarnya.

“Jadi benar, simbok berhutang pada pak RT?”

Senja sangat terkejut. Ia keceplosan bicara. Padahal simbok saja tidak tahu kalau Senja mengetahui tentang hutang itu.

Arka menatap Senja yang wajahnya pucat, tanpa mau menjawab.

“Maaf Mas,” akhirnya kata Senja lebih pelan dari sebelumnya.

“Katakan saja.”

“Tidak, sudah ayo kita langsung mengirim berasnya itu. Tidak boleh tidak, karena aku sudah janji. Bukankah janji harus ditepati?” kata Senja sambil mengalihkan perhatian Arka pada ucapannya yang kelepasan.

“Kamu sudah mengenal dia sebelumnya?”

“Baru sekali itu melihatnya. Nggak tahu kenapa tiba-tiba dia datang lalu memesan beras. Aku juga lupa nggak nanya. Aku tahu namanya juga setelah dia memberikan kartu nama itu.”

“Rosa memang bilang akan ikut membeli beras, tapi aku tidak pernah mengatakan ke mana dia harus membeli. Bagaimana dia tiba-tiba bisa tahu rumah mbok Mangun?” kata batin Arka.

“Mas tadi kelihatan terkejut. Mengenal nama itu?”

“Aku sudah kenal dia.”

“O, pacar?”

“Tidaaaak. Aku tidak punya pacar. Hanya kenal saja.”

“Ya sudah, kalau begitu mengapa Mas meminta aku membatalkan pesanan ini?”

“Kan belum bayar?”

“Ya nggak bisa begitu, barangnya belum ada, dibayar belakangan juga tidak apa-apa. Nanti simbok batal dapat untung dong.”

Arka tersenyum. Senja ini masih sangat muda, bahkan kalau Arka bilang dia itu masih kanak-kanak. Tapi cara pikirnya sangat luar biasa. Dia juga tidak memikirkan dirinya sendiri, dan sangat peduli kepada orang tua. Ia juga pasti sedih memikirkan simboknya yang punya hutang. Sayang sekali dia tidak mau berterus terang. Mungkin malu, mungkin dianggapnya tidak pantas dan menganggap bahwa itu adalah aib orang tua. Entahlah. Arka menatapnya iba.

“Jadi mas sudah tahu di mana rumah pemesan beras ini?”

“Tenang saja, kamu akan segera sampai di tempat tujuan. Lain kali jangan mau mengirim. Kalau butuh suruh dia ambil. Kalau minta dikirim? Jangan mau. Lumayan jauh, cuma beli sepuluh kilo saja.”

Mobil Arka berhenti di sebuah rumah mewah. Sebenarnya dia enggan masuk, tapi tak sampai hati melihat Senja menggendong karung beras itu, apalagi halaman menuju rumahnya lumayan jauh. Jadi Arka membawa mobilnya masuk.

Di depan, dia melihat bu Daryono berdiri di teras. Jadi Arka terpaksa mendekat dulu ke arah ibunya Rosa.

“Kok ada Arka? Tumbenan datang siang-siang. Tidak ke kantor?”

“Saya mengantarkan teman saya. Rosa membeli beras kepada teman saya itu.”

“Oh ya? Rosa beli beras? Aneh, tidak bilang sama mamanya.”

Arka mengambil beras di bagasi, mengusungnya ke teras, di mana bu Daryono berdiri menunggu, sambil berteriak memanggil Rosa.

“Ini siapa?” tanya bu Daryono sambil menatap Senja.

“Nama saya Senja, Nyonya.”

“Panggil saya bu Daryono, jangan nyonya,” kata bu Daryono ramah.

Rosa muncul, dan terkejut melihat Arka. Dia berjingkrak kegirangan, langsung mengembangkan tangannya siap memeluk Arka. Arka mundur ke belakang, menolak rangkulan itu.

Bu Daryono memelototi Rosa yang dianggapnya keterlaluan. Rosa hanya tersenyum.

“Kok kamu kemari siang-siang?”

“Kamu memesan beras?” Arka balik bertanya.

“Lhoh, kamu yang kirim?”

Arka menunjuk ke arah karung yang diletakkan di lantai. Rosa heran. Ia menatap Senja, dan tiba-tiba ingat tentang gadis itu. Bukankah dia yang pernah masuk ke dalam mobil Arka, lalu tak lama kemudian pergi dengan sepeda?

“Kamu kenal dia?”

“Yang sebenarnya katanya teman kamu yang mana? Kakaknya gadis ini?”

“Rosa, kamu terlalu banyak bertanya, cepat dibayar pesanan kamu ini.”

“Berapa?”

Senja memberikan secarik kertas yang ditulisnya sendiri, atas petunjuk simboknya.

Rosa membacanya, lalu memberikan kertas itu pada mamanya.

“Ini, Mama yang bayar dong.”

“Kamu ini ada-ada saja. Arka dan … siapa tadi… Senja ya? Mau duduk dulu sebentar, biar aku ambilkan uangnya.”

“Sudah tante, kami harus buru-buru. Senja baru pulang sekolah, pasti capek.”

“Ya sudah, sebentar ya,” kata bu Daryono sambil masuk kedalam.

Arka menatap Senja yang dari tadi diam.

“Ka, teman kamu kakaknya Senja ini?” tanya Rosa, karena tak mungkin teman Arka adalah gadis itu, yang dianggapnya masih kecil.

“Ya,” bohong Arka, asal jawab agar jangan banyak bertanya.

“Besok kalau habis aku mau pesan lagi ya? Aku orang yang suka menolong orang miskin,” katanya enteng. Arka membuang muka.

“Kalau pesan itu diambil sendiri, jangan suruh ngirim. Jauh tahu,” tegur Arka.

“Kalau kamu mau mengambilkan aku juga senang.”

“Tidak untuk lain kali,” jawab Arka dingin.

“Ini uangnya, kembaliannya kamu ambil saja,” kata bu Daryono sambil tersenyum.

“Tapi … “

“Tidak apa-apa Nak, ambil saja.”

“Kalau begitu kami permisi dulu Tante,” kata Arka sambil menarik lengan Senja, diajaknya ke mobil.

Senja menoleh sambil mengangguk.

“Terima kasih, Nyonya.”

***

“Mengapa kamu beli beras sama dia? Di mana rumahnya?” tanya bu Daryono setelah mereka pulang.

“Lumayan jauh, agak mendekati pinggir kota. Rosa tuh ikut-ikutan Arka, keluarganya beli berasnya ke situ, karena yang jual temannya. Temannya mungkin yang kakaknya gadis itu, mana mungkin Arka temenan sama gadis kecil. Arka ingin membantu agar berasnya laku, lalu Rosa ikut-ikutan.”

“Kebaikan kok ikut-ikutan. Kalau ingin membantu ya harus total membantu. Beli yang banyak lagi, karena kebutuhan kita banyak. Kita kan keluarga besar, ada orang-orang kantor yang dikirim makan dari sini.”

“Nanti Rosa pesan lagi ya Ma.”

"Tapi Mama mau menegur kamu tadi, tiba-tiba mau memeluk Arka? Nggak pantas, tahu.”

“Ma, Arka itu calon suami Rosa, bukan?”

“Kata papa belum tentu. Baru omong kosong. Kamu harus malu, perempuan kelihatan sekali nyosor.”

“Ih, Mama. Mosok aku nyosor?”

“Sikap kamu seperti tadi itu namanya nyosor. Jangan kamu ulangi lagi. Dia saja tidak menanggapi. Mama ikutan malu.”

“Mama kuno banget. Jaman sekarang hal begitu sudah biasa.”

“Mama nggak mau ikut jaman yang bubrah seperti itu. Jangan suka membantah kalau di kasih tahu. Itu kebiasaan yang tidak pantas untuk orang timur seperti kita.”

Rosa mengerucutkan bibirnya, lalu berteriak memanggil bibik agar mengambil karung berasnya.

***

“Nyonya yang tadi itu baik banget ya Mas, ada kembalian lima puluh ribu lebih, tidak mau menerima, apakah aku ini orang yang pantas dikasihani ya?”

“Bukan begitu, orang baik tidak melihat siapa yang harus diberi. Bukan karena kamu pantas dikasihani, tapi dia memang suka memberi. Terima saja. Itu rejeki untuk kamu.”

“Untuk simbok, supaya .…” Senja tidak melanjutkan perkataannya. Tapi Arka tahu ke mana arah tujuan perkataan Senja. Dia tidak mendesak, karena yakin Senja tak akan mau mengatakannya.

Tiba-tiba Arka menghentikan mobilnya di depan rumah mbok Mangun. Senja kaget.

“Lhoh, Mas, sepedaku kan belum diambil. Gimana sih? Mas lupa ya? Aku juga tidak ingat, tahu-tahu sampai di rumah.”

“Kamu tidak usah khawatir, nanti akan ada yang mengirimkan sepeda kamu ke rumah.”

“Siapa?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

Monday, June 8, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 18

 NAMAKU TETAP SENJA  18

(Tien Kumalasari)

 

Senja sudah sampai di hadapan ‘tamu’ cantik tadi, lalu mengangguk hormat.

“Maaf Nona, Nona mencari siapa?”

“Mbok Mangun ada?”

Senja terkejut. Simboknya dicari perempuan cantik yang tampaknya bukan gadis sembarangan ini? Apa simboknya membuat kesalahan?

“Maaf Nona, simbok belum pulang dari menjajakan beras. Tapi ada keperluan apa ya, Nona mencari simbok? Apa simbok melaukan kesalahan? Atau....”

“Tidak, aku hanya ingin membeli beras.”

Senja menghempaskan napas lega, sangat lega karena ada orang kaya lagi ingin membeli beras.

“Oh, ya ampun, saat ini yang ada hanya beras wulu, cukup enak dan pulen, tapi tidak wangi.”

“Saya pesan yang wangi, pulen, sepuluh kilo saja.”

“Baiklah, nanti saya bilang simbok, biar besok disediakan yang seperti pesanan Nona.”

“Masih besok ya?”

“Besok Nona, karena persediaan seperti yang Nona pesan tidak sedia, baru besok disiapkan. Nanti setelah ada, saya kirimkan ke rumah Nona. Berikan saja alamatnya.”

“Kamu sendiri yang mengirimkan?”

“Tidak apa-apa, saya bisa mengirimkannya. Nona berikan saja alamatnya.”

Tamu itu, yang adalah Rosa, mengangguk.

 "Saya duduk di mana ini, dari tadi di suruh berdiri,” tegurnya tak senang.

“Maaf Nona, kami tidak punya kursi, silakan duduk di bangku itu,” kata Senja yang tanpa rikuh mengatakan apa yang mereka punya.

“Huuh, bersih tidak bangkunya itu?”

“Sangat bersih Nona, kami selalu duduk di situ.”

“Kalian duduk di situ tidak apa-apa, bajuku ini baju mahal, kalau terkena kotoran bagaimana?”

“Mau bagaimana lagi Nona. Adanya cuma itu.”

“Ya sudah, nggak pake duduk. Ini kartu namaku dan alamatnya, bisa baca tidak?”

Walau tak suka, Senja tetap menanggapinya dengan senyum.

“Tentu saja saya bisa, saya juga sekolah,” katanya sambil menyembunyikan kekesalannya dibalik senyuman.

“Ya sudah, pokoknya aku pesan sepuluh kilo, kirimkan ke alamat itu, jangan lupa besok dikirim.”

“Dikirim agak siang  ya Non, sepulang saya dari sekolah.”

Rosa membalikkan tubuh menuju mobilnya sambil berpikir. Di mana dia pernah melihat wajah itu.

“Sepertinya aku pernah melihat dia, di mana ya, kok lupa aku.”

Sampai kemudian dia menjalankan mobilnya, belum juga diingatnya siapa gadis itu dan di mana dia pernah melihatnya.

***

“Jadi wanita kaya itu tadi kemari mau memesan beras pada simbok?” tanya Rimba yang sudah membersihkan piring kotornya.

“Iya, besok disuruh mengirim ke alamatnya.”

“Di mana alamatnya?”

“Ini, mbak dikasih kartu nama. Perumahan orang-orang kaya.”

“Beruntung sekali simbok mendapat langganan orang-orang kaya. Dari mana ya mereka tahu kalau di sini rumahnya simbok?”

“Tadi aku ingin bertanya begitu, tapi nggak jadi. Agak kesal mendengar bicaranya yang penuh kesombongan.”

“Mengatakan bahwa dia kaya?”

“Bukan berkata bahwa dia kaya sih, tapi dia tidak mau duduk di bangku depan rumah itu, takut bajunya kotor.”

“Wah, sombong amat.”

“Ya sudah, biarkan saja. Memang kita tidak punya kursi untuk tempat duduk tamu. Kalau mau duduk ya silakan, kalau tidak mau ya bagaimana lagi.”

“Padahal mas Arka itu kan juga orang kaya kan? Dia tidak keberatan duduk di bangku kayu itu, malah duduk di tikar makan bersama kita juga mau.”

“Manusia itu kan macam-macam Mba, ada yang baik, ada yang tidak. Kalau kita tahu bahwa itu tidak baik, ya jangan ditiru. Siapa tahu besok kamu jadi orang kaya, jangan pernah menyombongkan kekayaan kamu. Kamu harus tetap santun dan menghormati setiap orang.”

“Aamiin, doakan Rimba kelak jadi orang kaya ya Mbak, nanti simbok aku belikan rumah yang bagus, yang ada kursi-kursinya untuk tamu, yang tempat tidurnya berkasur empuk. Pokoknya semua bagus. Nanti kamar Mbak dan kamar simbok juga kamarku juga harus beda, setiap orang satu dan bagus semua,” Rimba berkhayal, membuat Senja terkekeh lucu.

“Semoga Allah mengijabah keinginan kamu ya Mba. Tapi yang penting kamu belajar dulu yang bagus, jadi anak pintar, jangan dulu berkhayal tentang kekayaan, karena kaya dan miskin itu Allah yang memberikannya, dan manusia itu kaya atau miskin sama saja dimata Allah. Yang penting adalah amalannya.”

“Mbak sudah seperti Ustazah saja.”

“Lho, di sekolah kita juga diajarkan tentang semua itu kan?”

”Ada apa ini, ramai benar,” kata Simbok tiba-tiba, sambil meletakkan capingnya di atas bakul yang sudah kosong.

“Sampai tidak tahu kalau Simbok pulang.”

“Kalian sudah makan?”

“Sudah Mbok, mbak Senja yang belum. Tadi baru sedikit, katanya mau menemani Simbok makan.”n

“Oh, ya sudah, simbok bersih-bersih badan dulu, makanannya masih ada kan?”

“Ya masih Mbok, untuk Simbok selalu ada makan.”

***

Simbok heran mendengar ada perempuan kaya memesan beras kepadanya.

“Kok aneh, dari mana dia mengenal simbok?”

“Nggak tahu, Senja nggak banyak nanya, kelihatannya dia tergesa-gesa.”

“Berasnya mau diambil kemari?”

“Di suruh ngirim, besok kalau sepulang sekolah sudah ada berasnya. Senja yang mau ngirim kepada pemesan itu. Eh, ini di kartu ada namanya kok...Rosa Ayudya.”

“Namanya bagus.”

“Tapi kelakuannya nggak bagus Mbok," sela Rimba yang langsung dipelototi kakaknya.

“Nggak bagus bagaimana?”

“Nggak mau duduk di bangku kita itu, katanya nanti bajunya kotor,” sambung Rimba.

“Ya sudah, biarkan saja, memang kita punyanya bangku seperti itu, mau bagaimana lagi. Nggak apa-apa kalau nggak mau duduk. Ya kan? Tadi pesan berapa, di belakang masih ada kan berasnya?”

“Dia minta yang wangi yang pulen. Jadi Simbok besok harus membelikan dulu.”

“O, baiklah, sudah dibayarkah?”

“Belum. Simbok punya uang tidak untuk beli beras pesanan nona kaya itu?”

“Ada, kalau hanya sepuluh kilo. Tak apa-apa, besok simbok belikan dulu. Sedikit atau banyak, namanya rejeki harus disyukuri. Tapi simbok masih heran, bagaimana dia tahu tempat ini?”

“Dia malah tahu siapa nama Simbok lho.”

“Mbok Mangun, begitu?”

“Iya Mbok. Tapi ya mungkin dikasih tahu oleh tetangga-tetangga. Yang membuat Senja heran, dia itu rumahnya jauh, kok susah-susah beli kemari, apa di pasar dekat rumah tidak ada yang jual beras?”

“Iya juga sih, tapi nggak apa-apa Nduk, kita ladenin saja, namanya pelanggan. Semoga dia terus menjadi pelanggan kita. Itu kan rejeki.”

“Benar Mbok.”

***

Siang sepulang sekolah, Senja sudah menanyakan beras pesanan Rosa. Ia senang berasnya sudah ada.

“Tapi kamu harus makan dulu Nja, pulang sekolah pasti capek dan lapar.”

“Nanti dia kelamaan menunggu, bagaimana?”

“Cuma pesan beras saja, kelamaan sedikit tidak apa-apa. Kamu tidak boleh pergi mengirim beras kalau tidak makan dulu.”

“Baiklah Mbok, Senja makan dulu.”

“Makanlah dulu, berasnya akan simbok siapkan di boncengan kamu.”

“Biar nanti aku saja Mbok, nanti berat, bagaimana?”

“Kamu itu kok lupa, setiap hari simbok menggendong beras berkilo-kilo, ini cuma sepuluh kilo,” kata Simbok sambil tersenyum.

“Iya sih, tapi Senja sendiri kan bisa.”

“Kamu ganti baju dulu sana, terus makan, biar simbok yang urus berasnya. Nanti kamu selesai makan, berasnya pasti sudah ada di boncengan sepeda kamu.”

Senja mengangguk, lalu beranjak ke belakang.

Mbok Mangun segera mengangkat berasnya ke boncengan sepeda Senja, lalu mengikatnya kencang.

“Nah, begini kan beres, nanti Senja habis makan tinggal berangkat,” gumam mbok Mangun senang.

***

Senja mengayuh sepedanya sambil membawa berasnya, tapi sungguh sial, ditengah jalan ban sepedanya gembos.

“Waduh, di mana ya tukang tambal ban sepeda?”

Senja menuntun sepedanya yang tentu saja terasa berat, berbeda kalau dia membawa bawaannya dengan sepeda.

Keringat membasahi dahinya dan bahkan seluruh tubuhnya.

Ia bersyukur karena dua puluhan meter di depannya ada tukang tambal ban. Agak cepat dia berjalan sambil menuntun, dan merasa lega ketika akhirnya tiba di tukang tambal ban itu.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti.

“Senja,” teriak pengendara mobil itu sambil melongok dari jendela mobilnya.

Senja menoleh, dan diam-diam membatin, mengapa dia sering sekali bertemu dengan tuan muda ganteng yang baik hati itu.

Senja tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah sepeda yang sudah dipegang oleh tukang tambal itu.

“Bocor ya? Kamu mau mengirim beras? Ke mana?”

“Ada alamatnya nih,” katanya sambil mengulurkan kartu nama pemberian Rosa.

“Biar aku antar saja, sementara sepeda kamu digarap oleh tukangnya,” kata Arka sebelum membaca kartu nama yang diberikan Senja.

“Jauh tuh?” kata Senja.

Arka baru membaca kartu nama itu dan terkejut.

“Apa?”

***

Besok lagi ya.

 

SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SEORANG PUTRI KECIL 003

 SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL  003

(Tien Kumalasari)

 

Menur menghentikan langkahnya. Ada desiran aneh yang mengiris dadanya. Tatapan mata itu. Tapi mobil itu tidak berhenti. Ia memasuki rumah besar bertingkat, rumah Ana.

Menur mempercepat langkahnya. Ia melewati rumah itu, tak berhenti.

Ana kecil berdiri di teras, menunggu penumpang mobil mewah itu berhenti, lalu ia berteriak.

“Papa!”

Sang papa tersenyum. Ia memberikan sebuah boneka besar yang semula digendongnya. Boneka beruang yang disukai sang putri.

“Ini untuk Ana,” katanya sambil tersenyum. Tapi ia tak berhenti untuk memeluknya. Barangkali tak punya rindu yang biasanya tertahan ketika lama tak bertemu orang yang dikasihinya. Ana tak merasakan apa-apa. Pertemuan demi pertemuan ketika ayahnya pulang, tak pernah memberikan kesan. Hanya sebuah pemberian, tanpa pelukan. Ana menggendong boneka itu dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelahnya lagi membawa sebuah kotak makanan, yang akan diberikan kepada bibi Menur. Ia meletakkan boneka besar di sebuah kursi yang ada di teras, lalu melangkah turun.

Sang ayah yang hampir memasuki pintu menoleh ke arahnya.

“Ana mau ke mana? Itu membawa apa?”

“Ketemu teman Ana,” katanya sambil terus melangkah keluar.

“Rumi! Awasi dia.” kata sang ayah berteriak kepada Rumi, yang semula membantu mendorong kopor sang tuan masuk ke rumah.

“Baik, Tuan.”

Ana sudah keluar dari gerbang. Berdiri sambil terus menatap ke arah kiri dan kanan. Tapi ia tak melihat bayangan orang yang dicarinya.

“Non, dia tidak harus selalu melewati tempat ini. Namanya juga pengais sampah. Dia bisa saja ke mana-mana. Ayo masuk,” bujuk Rumi.

“Dia sudah berjanji.”

“Buktinya dia tidak datang.”

Ana bergeming. Ia tetap berdiri dan melihat ke kiri dan ke kanan. Tangan yang memegang kotak makanan sudah berkeringat, dahinya juga berkeringat, karena panas matahari mulai menyengat.

“Dia kan sudah berjanji,” keluhnya.

Agak jauh di seberang taman itu, Menur menatap gadis kecil itu dari balik batang sebuah pohon besar, dengan iba. Ia merasa, pasti Ana mengiranya berbohong. Bukan maksud Menur untuk berbohong. Ia sedikit terguncang melihat wajah tampan yang tadi melongok dan menatapnya tajam. Ia tidak bisa melupakannya. Ada sesuatu yang terjadi, teramat manis tapi juga teramat menyakitkan. Lalu ia membencinya, dan berharap tak akan bertemu lagi selamanya. Seorang laki-laki penunggang kuda terjatuh di dekat rumahnya. Ia menolongnya, dan membawanya ke rumah. Berhari-hari dirawat, membuat penunggang kuda itu jatuh hati. Menur bukan perempuan gampangan. Kalau cinta ia minta dinikahi. Kalau tidak, jangan sampai dia berani menyentuhnya. Dan laki-laki itu memenuhi keinginannya.

Ada benih yang diteteskannya dalam sebuah pernikahan siri. Tapi kemudian dia pergi begitu saja. Pertemuan itu seakan tak membuatnya berkesan. Menur hanyalah sebuah pelampiasan. Pernikahan siri tidak di dasari cinta kecuali hanyalah nafsu. Menur anak pak lurah yang cantik, akhirnya pergi  dan terlunta-lunta ketika gagal memburu cinta. Benih itu menjadi segumpal raga kecil yang bersemayam di rahimnya. Lalu ia dinikahi seorang penarik becik yang baik hati. Ia mencoba menjalani hidup dan berbahagia karena ada yang memperhatikan. Tapi semua itu tak lama. Ketika benih itu terlahir, suaminya yang baik hati dipanggil Yang Maha Kuasa dalam sebuah kecelakaan.  

Ia sudah berada jauh dari kota asalnya, mengembara dan menyusuri jalan demi mengais nafkah demi sang anak.

Seorang pengendara sepeda motor melemparkan botol kosong di dekatnya. Menur tersadar dari lamunan, memungut botol itu lalu memasukkannya ke dalam karung di punggungnya. Sekali lagi ia menatap ke arah gadis kecil yang masih berdiri kepanasan di depan gerbang rumahnya.

Rasa haru menyergapnya, membuat air matanya menitik.

“Apakah Ana adalah anak Baroto?

Ana masih berdiri di depan gerbang rumahnya. Peluh mulai menetes dari dahinya, karena panas matahari yang menyengat tak dihiraukannya.

Rumi menatapnya kesal. Dia sendiri merasa kepanasan, tapi majikan kecilnya seakan tak merasakannya.

“Non, sudah Non, ini sudah kelewat siang. Pengais sampah itu tak akan lewat, percayalah.”

“Tapi dia sudah berjanji. Bukankah janji harus ditepati?”

“Seorang rendahan tidak akan peduli pada janji. Non harus percaya itu.”

“Bibi Menur bukan orang rendahan,” sentaknya kesal.

“Nyatanya dia tidak datang, mengapa Non mempedulikannya?”

Ana melongok lagi ke arah yang agak jauh. Ia melihat bayangan di seberang taman, tapi bayangan itu kemudian menghilang dibalik batangnya yang besar.

“Pasti bukan dia,” keluhnya.

“Non, tuan baru saja datang, mengapa Non tidak menemuinya? Pasti banyak oleh-oleh yang dibawanya. Nyonya juga pasti sedang menyambut kedatangannya dengan suka cita.”

Ana masih bergeming.

“Oh ya, hari ini saatnya sekolah bukan? Non belum siap-siap, bagaimana kalau ibu guru datang?”

Ana mengeluh. Keringat sudah meleleh di sepanjang pipinya. Ia kemudian membalikkan badannya, lalu masuk ke rumah dengan wajah muram. Rumi tersenyum senang, mengikutinya dari belakang.

“Rumi, kamu bawa ke mana Non Ana?” tegur nyonya Baroto, sang ibunda Ana yang sedang melayani suaminya di ruang keluarga.

“Bukan saya Nyonya, Non Ana sendiri yang mau keluar.”

“Kamu bawa apa Ana?” tanya Baroto.

“Makanan, untuk temanku,” katanya sambil berlalu.

“Mana boneka beruang yang papa berikan tadi?”

“Oh, ketinggalan di teras,” katanya enteng dan terus masuk ke kamarnya.

Rumi berbalik ke teras dan mengambil boneka itu.

“Siapa teman Ana?”

“Seorang pengais sampah,” jawab Rumi takut-takut.

“Pengais sampah?” nyonya Baroto berteriak.

“Iya, Nyonya. Entah mengapa, sejak kemarin Non Ana selalu menemui dia.”

“Bagaimana cara kamu mengasuh Ana sehingga dia bisa berbuat semaunya?” tegur sang nyonya majikan dengan kening berkerut.

Rumi menundukkan kepala. Ia sudah menduga akan mendapat amarah kalau sang nyonya mendengar kelakuan Ana. Tapi tadi mereka meihatnya sendiri, tak bisa tidak, Rumi harus mengatakannya.

“Saya sudah mengingatkannya. Non Ana tidak mau mendengarnya,” jawabnya pelan.

“Bagaimana caranya, jangan sampai Ana berbuat semaunya. Dia tidak bisa bergaul dengan sembarang orang, apalagi seorang pemungut sampah. Pasti kotor dan bau.”

Rumi mengangguk pelan. Kalau saja sang nyonya tahu bagaimana Ana berpelukan dengan pemulung bau itu, barangkali kemarahan sang nyonya akan lebih dahsyat. Karena itu dia tidak mengatakannya.

***

Ana sudah berada di dalam kamarnya, wajahnya muram. Tak ia tak ingin memarahi bibi Menur, karena ia bisa mengerti, pasti ada sesuatu yang membuatnya tidak datang. Ia lebih kesal melihat sikap kedua orang tuanya, yang sama sekali tak ingin memeluknya. Memanggilnya agar mendekatpun tidak. Ana sangat merindukan pelukan itu. Ana tak ingin banyak mainan dan dimanjakan. Ana hanya ingin dipeluk dan disayang. Diam-diam meneteslah air matanya.

Rumi masuk ke kamar, meletakkan boneka beruang itu di atas tempat tidur Ana.

“Jangan taruh di situ!” teriak Ana. Ia sama sekali tak suka pada pemberian itu.

Rumi mengambilnya, lalu meletakkan di atas almari mainan yang tertutup kaca, di mana berderet berluluh boneka di dalamnya.

“Non, bersiap ya, sebentar lagi ibu guru datang.”

Ana tak menjawab. Ia membiarkan saja Rumi mengelap keringatnya, dan siap mengganti bajunya yang juga basah oleh keringat.

***

Menur melangkah pulang ketika saatnya Rahman pulang dari sekolah. Ia sudah menyiapkan nasi dan lauk yang dibelinya, karena dia pulang agak kesiangan. Ia tak ingin Rahman marah, ketika dia pulang dan makanan belum tersedia. Tentu dengan sebutir telur, lauk kesayangannya.

Ketika Rahman pulang, sang ibu sudah menyambutnya dengan senyuman. Makan siang untuk anak kesayangan sudah siap di meja.

Setelah mengganti pakaiannya, Rahman segera duduk di depan meja makan.

“Bu, besok orang tua harus ke sekolah ke sekolah untuk mengambil rapot.”

“Harus orang tuanya? Biasanya kamu bisa menerimanya sendiri?”

“Mulai sekarang harus orang tua yang datang, tapi bisa diwakilkan. Besok kalau ibu datang, jangan bilang kalau Ibu adalah ibu saya ya?”

“Apa maksudmu? Jadi aku harus bilang apa?”

“Bilang saja ibu adalah pembantuku.”

“Apa?”

“Aku malu Bu.”

***

Besok lagi ya.

Saturday, June 6, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 17

 NAMAKU TETAP SENJA   17

(Tien Kumalasari)

 

Dan hal yang sudah diduga serta membuat hatinya kesal ialah ketika sang ayah menyuruh Arka mengantarkan Rosa pulang.

Tak ada alasan untuk menolak. Hari sudah malam dan Rosa tidak membawa kendaraan. Barangkali memang sengaja, barangkali memang Rosa ingin, agar dengan tidak membawa kendaraan maka pasti Arka akan mengantarkannya pulang.

“Hari sudah malam, jadi kamu harus mengantarkan Rosa pulang.”

“Datang-datang sendiri, pulang minta diantar,” gumam Arka, tapi hanya dalam hati. Apa ingin dirujak ayahnya kalau sampai dia mengeluarkan kata-kata itu.

Rosa dengan riang pamitan kepada kedua ‘calon mertuanya’, kemudian masuk ke dalam mobil, di samping kemudi.

Arka mengemudikan mobilnya seperti dikejar setan, kencang bukan alang kepalang, sampai Rosa berteriak-teriak ketakutan.

“Arka, kamu sudah gila ya? Jalanan sedang ramai.”

“Kamu takut? Jalan kaki saja sana,” ucap Arka enteng.

“Ya ampun, tega amat sama calon istrinya.”

“Siapa calon istriku?”

“Bukannya aku?”

”Mimpi saja, sana.”

“Arka, kamu jangan begitu. Kita harus menuruti kata orang tua, bukan? Dosa lho menentang kehendak orang tua.”

“Tahu apa kamu tentang dosa? Memaksakan kehendak itu juga dosa.”

“Aku sudah banyak mengalah, aku tidak marah walau kamu menyakiti aku.”

“Bukankah lebih baik kamu marah saja sehingga kamu tak usah selalu berusaha mendekati aku?”

“Arka. Kebangetan deh kamu.”

Lalu keduanya diam beberapa saat lamanya, karena Arka tak menanggapi apa yang dikatakan Rosa.

“Ka, teman kamu itu rumahnya di mana?”

“Untuk apa nanya-nanya?”

“Aku ingin membantu. Kata ibu kamu, kamu kasihan pada teman kamu itu.”

“Teman yang mana, sok tahu.”

“Teman kamu yang jualan beras itu. Aku juga merasa kasihan lhoh. Nanti aku mau bilang pada mama kalau beli beras biar sama teman kamu itu.”

“Nggak usah.”

“Kok nggak usah? Aku juga merasa kasihan, dan ingin membantu.”

“Tempatnya jauh, bikin repot.”

“Tidak apa-apa. Jauh bagiku bukan masalah, aku kan hanya ingin membantu. Membantu orang kesusahan itu perbuatan mulia bukan?”

Arka tak menjawab, dan tak pernah menjawab sampai kemudian mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Daryono.

Di teras, pak Daryono sedang duduk di teras. Arka yang semula enggan turun terpaksa turun karena pak Daryono melihatnya.

“Arka? Kamu mengantarkan Rosa?”

“Iya Pa, Arka merasa kasihan pada Rosa yang pergi tidak membawa kendaraan sendiri, jadi dia memaksa mengantarkannya,” kata Rosa enteng, padahal bukan Arka ingin mengantarkan, tapi ayahnya yang memaksa. Tentu Arka sangat kesal, tapi sungkan membantahnya.

“Rosa, kamu sudah menyusahkan orang lain. Kamu sendiri yang main ke sana tanpa mau membawa kendaraan, sekarang Arka harus repot karena kamu,” tegur pak Daryono.

“Rosa juga ingin pulang sendiri sebenarnya.”

“Om, karena sudah malam, Arka permisi pulang,” kata Arka untuk memotong kebohongan Rosa.

“Baiklah, om tidak akan menahan kamu, karena hari memang sudah malam.”

Arka mencium tangan pak Daryono kemudian beranjak menuju ke mobilnya. Pak Daryono bukan anak kecil, ia tahu bahwa Arka mengantarkan Rosa dengan terpaksa. Wajahnya sudah kelihatan. Ia bukannya kasihan melihat Rosa pulang sendiri, tapi kesal karena harus mengantarkannya.

Rosa masuk ke dalam rumah. Sikap Arka yang kaku masih membuatnya sabar. Ia yakin pada suatu ketika ia pasti akan bisa menaklukkan hatinya. Nasihat yang pernah didengarnya, bahwa laki-laki tidak suka dikejar tapi lebih suka mengejar, diabaikannya.

“Kamu tidak tahu kalau Arka sebenarnya kesal karena harus mengantarkan kamu?”

“Tidak kok, masa dia kesal?”

“Perempuan harus memiliki rasa yang lebih peka. Papa saja bisa melihat sikap kakunya, masa kamu tidak?”

Rosa tak menjawab. Ia langsung beranjak ke belakang dan masuk ke dalam kamarnya.

“Kalau aku gigih mengejarnya, masa tidak akan kesampaian?” gumamnya penuh percaya diri.

***

Arka menuju pulang dengan perasaan yang masih saja kesal. Setiap kali rasa kesal itu muncul, maka wajah Senja terbayang di benaknya. Gadis lucu, lugu dan seenaknya, mengapa bisa tiba-tiba mengikat perasaannya? Apa hebatnya Senja? Cantik? Tidak terlalu cantik. Manis? Iya. Senja sangat manis, apalagi kalau tersenyum. Mata polosnya tampak indah, seperti sepasang bintang yang mempesona.

Arka memukul pipinya sendiri. Bodoh aku ini. Senja masih anak kecil, dia mana memperhatikan diriku yang selalu memikirkan dia? Dia selalu bersikap lugas, seenaknya, tidak peduli sedang berhadapan dengan seorang berkedudukan tinggi di sebuah perusahaan. Kalau dia ingin marah, maka marahlah dia. Kalau kesal, maka selalu ditumpahkan kekesalannya. Tapi senyumnya itu …. Arka membatin di sepanjang perjalanannya, dan masuk ke rumah melewati sang ayah yang sedang duduk di teras, sehingga ia harus mendapat teguran.

“Hei, kamu tidak mengucapkan salam saat memasuki rumah, tidak tahu kalau ayahmu ada di sini?”

Arka berhenti melangkah dan berbalik.

”Maaf Pak, buru-buru, pengin ke kamar mandi,” katanya sambil menyalami sang ayah dan mencium tangannya.

“Kamu ketemu pak Daryono?”

”Ketemu.”

“Syukurlah, mengantarkan anak gadis orang harus memasrahkannya kembali kepada orang tuanya.”

"Repot amat," kata batin Arka.

“Pak Daryono menanyakan bapak?”

“Tidak. Arka langsung pulang sehingga tidak sempat berkata-kata.”

“Lain kali kalau mengantarkan Rosa pulang, harus berhenti dulu, berbincang sejenak, barangkali pak Daryono ingin mengatakan sesuatu.”

Arka hanya mengangguk kemudian berlalu, sambil mengatakan lagi kalau dia ingin ke kamar mandi.

Pak Wiguna menghela napas kesal. Arka tak pernah kelihatan suka kalau dirinya membicarakan keluarga Daryono.

***

Hari itu Senja pulang agak siang, dan yang ada di rumah hanyalah Rimba. Ia menunggu sambil membaca buku. Senang sekali ketika melihat kakaknya pulang.

“Simbok belum pulang?” tanya Senja.

 Kedua anak itu setiap pulang dari sekolah selalu menanyakan apakah simboknya sudah pulang, ataukah belum, walau sebenarnya tahu kalau simboknya pergi adalah untuk menjajakan berasnya.

“Belum, paling sebentar lagi. Kita makan sekarang atau menunggu simbok?” tanya Rimba.

“Makan sekarang saja seperti biasanya, kamu sudah lapar kan?”

“Iya, benar.”

“Ayo kita makan, nanti simbok ... aku yang menemani makan. Tapi aku mau ganti baju dulu ya,” kata Senja sambil tersenyum melihat adiknya segera berlari ke ruang makan.

Keduanya makan dengan nikmat, sambil bercerita tentang teman-temannya di sekolah.

“Besok kalau mbak Senja lulus, mau melanjutkan kuliah?”

“Tidak Rimba, kamu kan tahu, simbok pasti merasa berat membiayai kuliah aku. Jadi, mbak akan bekerja saja agar meringankan beban simbok.  Maksudku, kamu yang harus meneruskan sekolah, sampai ke sekolah yang tinggi.”

“Aku saja? Mbak Tidak?”

“Kamu kan laki-laki Mba, laki-laki harus berpendidikan tinggi agar bisa menjunjung derajat orang tua. Agar simbok bangga, anak laki-lakinya menjadi orang.”

“Bagaimana kalau nanti setelah lulus SMA aku juga bekerja saja?”

“Jangan Mba, kamu harus melanjutkan kuliah kamu, sampai selesai. Mbak akan membantu simbok membiayainya. Karenanya rajin belajar ya cah bagus, supaya simbok senang.”

“Ya, tentu. Aku harus bisa membahagiakan simbok.”

“Bagus, mbak akan mendoakan agar kamu berhasil.”

“Aamiin.”

“Makan yang banyak, biar sehat.”

“Mbak kenapa makan sedikit?”

“Nanti mbak menemani simbok juga, biar simbok senang.”

“Menyenangkan orang tua itu harus kan Mbak.”

“Tentu Rimba, walau hanya soal makan, atau sedikit memuji, itu akan membuat orang tua senang.”

“Permisi,”

“Ada tamu Mbak, biar aku keluar untuk melihatnya.” kata Rimba sambil berlari keluar. Tak lama kemudian Rimba kembali mengatakan bahwa tamunya perempuan.

“Ada perempuan cantik banget mbak.”

“Siapa?”

“Nggak tahu, aku hanya melihatnya terus masuk lagi. Orangnya cantik, baunya wangiiii, masih jauh sudah kecium baunya, kelihatannya orang kaya Mbak.”

“Gimana sih kamu, harusnya ditanya mau mencari siapa, kok malah ditinggal masuk. Paling-paling akan menanyakan alamat seseorang, mana mungkin kita mendapat tamu orang kaya.”

Senja bergegas keluar dan melihat seorang wanita cantik berdiri di depan rumah.

***

Besok lagi ya.

AKU ANAK SIAPA

 AKU ANAK SIAPA   (Tien Kumalasari) Seorang gadis berjalan tertatih dijalan Raya. Wajah yang aslinya cantik, tampak kumuh berdebu. Bajunya y...