SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN PUTRI KECIL 012
(Tien Kumalasari)
Rahman menatap ibunya heran. Seakan tak percaya akan apa yang didengarnya. Bukankah om ganteng itu baik, mengapa dirinya tak boleh bertemu dengannya?
“Kamu mendengar apa yang ibu katakan bukan?”
“Tapi Rahman tidak percaya. Bukankah om itu baik?”
“Karena dia sudah mengajakmu makan enak? Jalan-jaan dengan kudanya?”
“Om itu mengajari Rahman, bagaimana Rahman harus menyayangi dan menghormati ibu.”
Menur terdiam. Itu benar, Baroto baik, bukan hanya karena mengajaknya makan dan berjalan-jalan naik kuda, tapi juga memberi petuah yang baik dan yang mampu membuka hati Rahman sehingga mengerti apa arti seorang ibu bagi kehidupannya. Apa yang salah pada diri Baroto?
Yang salah adalah dia hampir yakin bahwa Rahman adalah dagingnya. Menur tidak ingin hal itu terjadi. Kalau Baroto sampai tahu, bukan tak mungkin Rahman akan diambilnya. Tidak, Menur tak mau kehilangan anak semata wayangnya. Biarlah miskin, tapi dia akan berusaha menjadikannya orang yang berguna. Menur tak mau itu. Atau juga, Baroto akan bersikeras mengambilnya menjadi istri sahnya. Tidak, mana mungkin Menur bersedia? Baroto punya istri, punya keluarga. Walau bukan keluarga harmonis karena tidak saling mencintai, tapi nyatanya mereka adalah keluarga. Menur tak mau merusaknya.
“Mengapa Ibu diam? Apa salahnya kalau Rahman bertemu om ganteng itu?”
“Ibu hanya tidak suka,” jawab Menur singkat, lalu ia meninggalkan anaknya yang masih bengong tak mengerti.”
***
Di rumah keluarga Rahman. Nyonya Baroto sedang ditegur ibunya habis-habisan. Nyonya Pramono, sang ibu, memberikan Ana saat masih bayi, dengan pesan agar dididik dengan baik, dan diberikan kasih sayang. Ana menjadi anak baik, bukan karena didikan ibu angkatnya, tapi oleh guru sekolah yang datang hampir setiap hari untuk memberi pelajaran sekolah dan budi pekerti. Tapi Ana tak suka pada ibunya, yang tampak sekali tidak mencintainya. Ana hangat akan pelukan dan kasih sayang, lalu tiba-tiba Ana menemukan pelukan hangat dari seorang pengais sampah. Siapa salah?
“Mama tidak mengerti, yang diinginkan menjadi pengasuk Ana itu seorang pengais sampah. Kotor dan bau.”
“Apapun atau bagaimanapun dia, Ana menyukainya. Entah karena apa, Ana begitu menginginkannya.”
“Jadi Mama bersikeras untuk memenuhi permintaan Ana?”
“Tentu saja. mama tak ingin Ana bersedih hanya karena keinginannya tidak terlaksana. Ana anak baik, mama sangat menyayanginya. Walau begitu mama akan mengawasi orang itu, kalau dia benar baik, boleh lanjut, kalau tidak, tidak usah dilanjutkan.”
“Baiklah, terserah Mama saja,” kata nyonya Baroto yang tak akan pernah bisa menentang kemauan orang tuanya.
***
“Anak baik, jangan menangis. Nenek ijinkan kamu mengambil pengasuh baru untuk kamu.”
Ana bersorak senang.
“Benar Nek?”
“Tentu saja benar.”
“Tapi sekarang ini bibi Menur tak akan mau menuruti kemauan Ana.”
“Mengapa kamu begitu yakin? Katakan pada dia kalau nenek akan memberi gaji yang besar pada dia. Berapapun dia minta. Tapi nenek juga akan mengawasi, apa dia benar-benar wanita yang baik seperti yang kamu inginkan. Kalau nenek kecewa, nenek akan memecatnya.”
“Nek, dia wanita baik. Tapi sekarang dia pasti nggak mau.”
“Mengapa?”
“Tadi mama memarahi dia, sampai dia hampir menangis.”
“Kalau perempuan itu menolak, nenek yang akan bicara pada dia.”
***
Keesokan harinya, di saat pulang sekolah, Rahman melihat Baroto. Ia tidak naik kuda, tapi sedang bersandar pada mobil mengkilat yang diparkir di sebelah pagar sekolah.
Rahman ingin menghindarinya, bukan karena takut, tapi karena ingat pesan ibunya. Walah Rahman mengerti bahwa Baroto orang yang baik, tapi dia ingin mentaati pesan sang ibu.
Tapi bagaimana cara menghindarinya?
“Rahman.”
Rahman masih berpikir mencari alasan untuk pergi, ketika Baroto memanggil namanya.
“Sini!”
Rahman bingung, tapi ia tak kuasa menolaknya.
“Om, saya harus cepat pulang, karena ingin makan di rumah,” kata Rahman yang mengira Baroto akan mengajaknya makan di sebuah restoran seperti kemarin.
“Bukan makan, aku ingin kamu mengantarkan om.”
“Ke mana?” tanya Rahman yang akhirnya tak kuasa menolaknya.
“Ikut saja.”
Tapi ternyata Baroto mengajaknya ke sebuah rumah sakit besar.
“Om sakit?"
Baroto menatap anak kecil yang digandengnya, sambil terus melangkah memasuki rumah sakit.
“Om sakit?” Rahman bertanya lagi karena tidak mendapat jawaban.
“Tidak, hanya untuk periksa kesehatan saja.”
“Kalau tidak sakit mengapa harus periksa?”
“Orang itu kan setiap saat harus menjaga kesehatan. Tidak menunggu kalau sakit, baru pergi ke dokter. Kalau sehat, syukurlah, kalau kelihatan ada penyakitnya ya langsung diobati.”
Rahman tak menjawab. Ia dan ibunya tak pernah periksa ke dokter. Bersyukur karena sehat, tapi sesekali kontrol kesehatan? Itu kan perlu uang, mana mungkin ibunya punya uang untuk itu.
Kemudian mereka sudah sampai di sebuah loket, entah Baroto bicara apa, lalu keduanya duduk di sebuah ruang tunggu.
“Nanti kamu juga akan diperiksa,” kata Baroto tiba-tiba, membuat Rahman terkejut.
“Saya diperiksa? Kenapa? Tidak … tidak, saya kan tidak apa-apa.”
Kam om sudah bilang, sesekali harus periksa kesehatan, supaya ketahuan kita sehat atau tidak.”
“Saya tidak pernah periksa kesehatan … “
“Nanti kamu harus mencobanya.”
“Ibu saya tidak mungkin bisa periksa kesehatan setiap saat. Kalau sakit hanya beli obat di warung.”
“Sesekali kamu harus mencobanya.”
“Nanti diapain? Saya takut di suntik.”
“Tidak apa-apa, kan ada om?”
Lalu nama Baroto dipanggil, dan Baroto menggandeng Rahman yang sebelumnya membelot tak mau ikut masuk.
“Rahman, kamu harus ikut. Kamu anak pintar, harus banyak pengalaman yang kamu dapatkan, jadi kamu akan tahu banyak tentang semua hal,” katanya sambil merangkul pundak Rahman.
Sesungguhnya Baroto sedang mau tes DNA, karena penasaran padada jawaban Menur. Banyak yang dimiliki Rahman, yang mirip dirinya. Dia baru saja mengambil foto dirinya ketika masih kecil, di album keluarga. Itu adalah wajah Rahman. Mengapa Menur tak mau mengakuinya? Mengapa Menur harus menyembunyikannya? Sebenci itukah Menur kepada dirinya sehingga dia tak ingin dirinya mengetahui tentang anaknya?
Di dalam ruangan, seorang perawat mengambil darah Baroto, dan ludahnya. Rahman hampir menangis ketika perawat mengambil darahnya, tapi Baroto memeluknya erat, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Perawat juga mengambil ludah Rahman.
Pemeriksaan itu selesai. Wajah Rahman cemberut karena merasa dipaksa.
Ketika semua urusan selesai, Baroto menggandeng Rahman memasuki mobilnya.
“Apa tadi itu sakit?”
“Sedikit.”
“Nah, hanya sedikit kan? Masa anak laki-laki hanya sakit sedikit saja mau menangis?”
Rahman diam saja. Memang rasa sakitnya sudah tak terasa, tapi ia tak suka.
“Lain kali saya tidak mau lagi periksa kesehatan. Hasilnya saya sehat kan?”
“Tentu saja. Om hanya menjadikan yang tadi itu sebagai pengalaman dalam hidup kamu.”
Rahman diam. Sesungguhnya dia sangat lapar. Biasanya dia sudah makan di rumah, lauk telur buatan sang ibu.
“Baiklah, sebagai hadiahnya, kita makan di restoran, dan beli es krim yang sedap.”
Wajah Rahman berseri. Dia jarang sekali minum es krim. Hampir tidak pernah. Dia pernah minum es krim, ketika salah seorang teman sekelasnya ulang tahun, lalu semuanya diberi es krim.
***
“Mengapa kamu baru pulang?” tegur Menur, tak senang. Ia sudah tahu, Pasti Baroto mengajaknyaa pergi, entah makan, atau putar-putar kota.
“Tadi ….” Rahman ragu menjawabnya. Baru kali ini Rahman takut pada ibunya, karena melanggar larangannya.
“Kamu pergi sama dia bukan?”
“Tadi ….”
“Bukankah ibu sudah bilang kalau kamu tidak boleh lagi dekat-dekat sama dia?”
“Memangnya kenapa Bu? Bukankah dia baik?”
“Pokoknya ibu tidak suka. Sekarang ganti bajumu dan makan.”
“Tadi ….”
“Kamu sudah makan di restoran? Karena itukah maka kamu menganggap dia baik?”
“Bukankah Itu ….”
“Ganti bajumu.”
“Rahman mau makan, pengin telur buatan Ibu.”
“Ganti bajumu dulu baru makan.”
“Sebenarnya Rahman sudah kenyang, ia hanya ingin menyenangkan hati sang ibu. Ia juga urung mengatakan tentang pemeriksaan kesehatan itu, takut sang ibu semakin bertambah marah. Ia mengganti baju setelah cuci kaki tangan, sambil membuang tempelan plester di lengannya, di mana tadi dia diambil darahnya.
Menur menghela napas panjang. Ia tahu pasti sulit bagi Rahman untuk menghindar dari dia. Kalau dia tiba-tiba sudah di depan sekolah, lalu Baroto mengajaknya, pasti susah menolaknya. Tapi Menur benar-benar takut kehilangan.
Ketika ia mau memanggil Rahman karena makan sudah disiapkan, tiba-tiba ia melihat mobil berhenti. Menur bergegas ke depan untuk menutup pintunya, karena mengira Baroto datang. Tapi seorang anak perempuan berlari menghampirinya sambil berteriak memanggilnya, dan di belakangnya seorang wanita setengah tua mengikutinya sambil mengembangkan senyuman.
“Bibi Menur … aku datang.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Udah tayang
Semoga sehat slalu
Alhamdulillah
ReplyDeleteBibi menur sudah tayang
Terima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah telah tayang,,,sehat selamanya bunda...aamiin.
ReplyDeleteAlhamdulillah hiburan malam Minggu dah tayang, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah, terima kasih bunda Tien cerbungnya ,
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat,sek
Trmksh mb Tien🙏
ReplyDeleteBunda Tien... semoga bunda selalu dalam keafaan sehat
ReplyDeleteMasih menunggu Aku Anak Siapa tayang 🙏
Nuwun sewu Bu Tien, AAS 08 tayang mboten njih dalu meniko..?
ReplyDeleteTaksih nenggo disambi ngopi...