SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 015
(Tien Kumalasari)
Nyonya Lili hanya mendengarkan apa yang dikatakan Rumi, tapi tidak menjawabnya. Walaupun dirinya juga tak suka pada Menur yang sebenarnya masih saudara, tapi ia tak ingin memperlihatkannya pada Rumi.
“Betul Nyonya, nanti Nyonya lihat saja, bagaimana dia. Pasti dia ingin sekali menguasai non Ana.”
“Kamu iri pada Menur?”
Rumi membelalakkan matanya.
“Bukan Nyonya, saya hanya memperingatkan Nyonya, agar berhati-hati, jangan terlalu percaya padanya nanti. Karena seorang perayu begitu itu, bisa melakukan apa saja. Misalnya berpura-pura baik, berpura-pura rajin, supaya oleh Nyonya nanti dia diperhatikan. Kalau sudah begitu, dia bisa merebut hati Nyonya, lalu Nyonya mempercayainya, lalu dia bisa melakukan apa saja.”
“Ya sudah, baiklah, aku akan berhati-hati.”
“Berhati-hati juga kalau dia juga akan mendekati Tuan,” kata Rumi pelan, yang sebenarnya menyadari kekagumannya kepada tuannya.
Tapi Lili hanya tersenyum tipis. Dia tidak mencintai Baroto, dan mungkin saja dia tak akan peduli seandainya ada wanita lain di hati Baroto. Apalagi Menur, yang pengais sampah itu? Masa Baroto akan suka padanya, yang kata Rumi kotor dan bau? Tidak, Lili tak pernah membayangkan hal itu terjadi. Toh Baroto hanya statusnya saja sebagai suaminya, tapi soal cinta, tidak ada sama sekali. Mungkinkah ada laki-laki lain di hati sang nyonya?
***
Siang hari itu Baroto sedang membaca surat kabar. Ia sudah tahu kalau Ana dan neneknya sedang menjemput Menur. Karenanya dia tidak pergi ke mana-mana. Kehadiran Menur membuat perasaannya lain di hari itu. Ia juga heran pada dirinya sendiri, cinta yang tersisa masih begitu kuat. Rasa ingin memiliki juga tak bisa ditahannya. Hanya saja dia kecewa karena Menur seperti tak lagi punya perhatian kepada dirinya. Apakah cintanya kepada suaminya yang sudah meninggal itu begitu kuatnya sehingga mampu menyingkirkan rasa cinta kepada dirinya?
“Mas kok tumben, kali ini pulangnya lama? Di luar negri tidak ada pekerjaan yang harus mas tungguin?”
Baroto terkejut, ia baru sadar kalau kali ini ia pulang agak lama. Biasanya ia ada di rumah hanya sehari dua hari, tapi sudah seminggu lebih dia belum ingin beranjak dari rumah.
“Aku memang akan berada di sini untuk beberapa hari mendatang. Ada sesuatu yang ingin aku kerjakan,” kata Baroto sekenanya.
“Akan membuka cabang di sini? Apa Mas ingin membantu aku di kantor saja?”
“Tidak … tidak, itu bisnis kamu, aku tidak ingin mengganggunya. Entahlah, baru menjajaki sesuatu, kalau cocok ya lanjut, kalau enggak ya nggak usah.”
“Terserah Mas saja, aku mau ke kantor dulu,” katanya sambil berlalu, seperti biasanya, tak ada salam, tak ada ciuman tangan sebagai penghormatan kepada suami.
Baroto menatap kepergian istrinya dengan tatapan tak peduli. Tentu saja ia masih akan tinggal. Ia sedang menunggu hasil tes DNA, lalu ada yang akan dikerjakannya kalau memang Rahman adalah darah dagingnya. Untuk sementara, mendekati Menur akan ditahannya dulu. Kalau Menur sudah ada di rumah ini, Baroto berharap hal itu akan lebih mudah dilakukan.
***
Ketika Baroto meletakkan surat kabar yang dibacanya, suara mobil yang masuk membuatnya berdebar. Ia tahu itu mobil mertuanya. Seperti janjinya, Menur pasti akan datang hari ini. Sebelum berangkat, mertuanya sudah memerintahkan kepada pembantu agar membersihkan kamar di sebelah kamar Ana. Menur bukan hanya menjadi pengasuh Ana. Ia adalah keluarga, yang pantas diperlakukan lebih dari yang lainnya.
“Papa, lihat aku datang bersama siapa,” teriak Ana sambil menggandeng Menur masuk ke rumah.”
Baroto menatap Menur, yang ketika ditatapnya kemudian membuang muka. Tak apa, memang tak mudah mendapatkan perhatian Menur, seperti dulu dia juga merasa susah menaklukkan hati Menur sebelum dia menikahinya.
“Selamat datang di rumah ini, Menur,” sapa Baroto ramah. Tapi dia kemudian seperti mencari-cari.
“Mana Rahman?”
“Dia tidak mau ikut,” yang menjawab adalah nyonya Sasa.
“Tidak mau ikut?”
“Menur hari ini baru akan melihat keadaan keluarga kita. Dia hanya ada di sini saat pagi sampai sore, lalu pulang.”
“Mengapa begitu?”
“Rahman tidak mau tinggal di sini, paling tidak sampai lulus sekolah nanti.”
“Bibi, ayo aku tunjukkan kamar Bibi,” kata Ana yang begitu gembira. Ia menarik lengan Menur, diajaknya ke kamar yang disediakan untuknya.
Baroto berdiri, lalu keluar dan langsung ke garasi. Tak lama kemudian terdengar suara mobil keluar dari halaman.
***
Ana dengan celotehnya menunjukkan kepada Menur tentang kamar yang diperuntukkan untuknya.
“Apakah bibi suka? Ini kamar untuk Bibi.”
Menur tersenyum. Sedangkan tidur di lantai kamar itupun masih jauh lebih baik dari tempat tidurnya sendiri, tentu aneh kalau dia bilang tidak suka. Walau begitu sesungguhnya dia lebih suka mengeloni Rahman di kamar sempit dan berbau apak.
“Kalau Bibi tidak suka, Ana bilang nenek untuk mengganti yang lebih baik.”
“Tidak … tidak, jangan bilang apa-apa pada nenek. Tapi kan kamu tahu kalau bibi tidak akan tidur di sini? Kan bibi harus pulang setiap sore.”
“Biarpun kalau sore pulang, kalau siang Bibi boleh kok tiduran di sini. Masa tidak akan tidur siang. Kata nenek, Ana harus tidur siang supaya sehat.”
“Iya, benar, tapi bibi tidak pernah tidur siang.”
“Kalau Bibi ada di sini, setiap siang Ana akan tidur di sini bersama bibi.”
“Jangan, nanti nenek marah. Kamu kan punya kamar sendiri?”
“Tidak mungkin nenek marah. Nenek juga sayang sama Bibi.”
“Ya sudah, sekarang apa yang harus bibi lakukan?”
“Ana akan menunjukkan kamar Ana lebih dulu. Eh, tidak, ini belum Ana tunjukkan pada Bibi. Lihat, almari ini sudah berisi pakaian untuk Bibi,” kata Ana sambil membuka almari yang ada di kamar itu.
“Tidak, bibi sudah punya baju sendiri.”
“Tapi nenek sudah beli ini semua untuk Bibi.”
“Apa Ana tidak suka pada pakaian bibi ini? Kotor dan bau?”
“Tidak, bukan begitu. Kalau nenek sudah beli untuk Bibi, Bibi tidak boleh menolaknya. Kata nenek, menolak pemberian itu tidak baik.”
Menur tersenyum. Ana kecil ini pintar sekali bicara. Ia benar-benar cerdas dan tahu apa yang harus dikatakannya.
“Jadi, ayo sekarang Bibi pakai baju ini, pilih salah satu, lalu setelah itu akan Ana tunjukkan kamar Ana.”
“Tidak usah Ana, bibi kan mau pulang.”
“Kan ini belum sore? Ayo, bibi ganti dulu pakaiannya, cepat, itu ada kamar ganti, atau ke kamar mandi juga boleh.”
“Tapi Ana …”
“Benar apa yang dikatakan Ana, Menur. Ganti pakaian kamu, bukan kami tidak suka, tapi aku dan Ana sudah membelikan semua ini kemarin. Jangan mengecewakan kami, apalagi Ana.”
Ana membantu Menur memilih pakaian, dan memaksa segera memakainya.
***
Rahman sedang duduk di depan meja belajarnya. Sesungguhnya dia anak yang pintar. Ia punya sifat tak mau kalah dengan teman-temannya, bukan dalam hal kedudukan saja, tapi dalam pelajaran ia harus bisa lebih baik dari teman-temannya. Sekarang Rahman tidak lagi menjadi anak yang sombong dan berlagak sok kaya. Ia tahu dirinya salah, ketika mendapat malu saat membohongi om ganteng yang bernama Baroto.
Menur tahu anaknya pintar, dan karena itu ia selalu mencukupi semua kebutuhannya, apalagi untuk kebutuhan sekolahnya. Ada cita-cita setinggi langit untuk anaknya, agar hidupnya tidak menderita seperti dirinya, dan karena itulah Menur membekalinya dengan pengetahuan.
Biarpun ini hari Minggu, Rahman tidak meninggalkan kewajibannya untuk belajar.
Rahman sedang membuka-buka buku ketika tiba-tiba seseorang berdiri di depan pintu.
“Om?”
“Kamu sedang belajar?” tanya Baroto yang memang datang untuk menemui Rahman.
Rahman menatapnya heran, dan Baroto menatapnya takjub. Bukankah itu adalah wajahnya? Mengapa Menur membohonginya?
“Iya Om. Mengapa Om datang kemari?”
“Mengapa kamu tidak mau ikut bersama ibumu?”
“Tidak. Rahman lebih suka rumah ini.”
“Kamu sudah tahu, kalau nenek Sasa bukan orang lain dan masih keluarga kamu juga pastinya?”
“Ya, ibu sudah memberi tahu.”
“Ikutlah bersama ibumu, ya?”
“Tidak. Rahman di sini saja. Lebih dekat ke sekolah, bisa dengan jalan kaki.”
“Kalau di sana kan bisa diantar mobil?”
“Nggak suka.”
“Kalau naik kuda?” Baroto menggodanya, tapi Rahman hanya tersenyum.
“Rahman lebih suka di rumah ini. Rumah orang gedongan tidak cocok. Kalau tidak dipaksa Ana, ibu bilang kalau dia juga lebih suka di rumah ini.”
Baroto mengangguk. Ia kagum pada Rahman yang masih kanak-kanak tapi punya prinsip hidup yang dipegangnya erat.
“Ayuk jalan-jalan,” ajak Baroto.
“Rahman sedang belajar.”
“Baiklah, kalau begitu om temani kamu di sini, sampai kamu selesai.”
***
Sudah agak sore ketika Lili memasuki rumah. Ia tidak melihat Ana, tapi Rumi dari arah dapur setengah berlari mendekatinya.
“Nyonya … Nyonya, dia sudah ada di sini.”
“Dia siapa?”
“Si pengais sampah itu. Sekarang sedang tidur di kamar yang disiapkan untuknya, dan non Ana disuruhnya tidur di situ juga,” kata Rumi dengan bibir setajam sembilu.
“Dia menyuruh Ana tidur di kamarnya?”
Rumi mengangguk dengan bibir dimonyongkan.
***
Alhamdulillah, telah tayang...
ReplyDeleteSehat selalu bunda...aamiin.
Aamiin. Matur nuwun Kang
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteBibi Menur... Udah hadir.
Terimakasih Bunda. Sehat walafiat selalu beserta keluarga tercinta.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien
Sehat selalu nggih
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sukardi
DeleteAlhamdulillah cerbungnya sudah tayang.
ReplyDeleteTerima kasih bunda, semoga bunda Tien dang keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sifa
DeleteSuwun mb Tien 🙏
ReplyDelete