AKU ANAK SIAPA 25
(Tien Kumalasari)
Pak Gatot menatap perempuan yang kemudian duduk di depannya. Ia bingung siapa yang dipanggil bapak.
“Bapak?” suara itu terdengar, jelas-jelas dari perempuan di depannya, yang berkerudung rapi, dan menatapnya lekat-lekat. Jadi jelas yang dipanggil adalah dirinya?
Pak Gatot balas menatapnya, dan perempuan itu tersenyum ke arahnya, lalu tiba-tiba berdiri lalu bersimpuh di depannya, menjatuhkan kepalanya di pangkuannya.
“Lho … lho… ini … ini … “
Pak Gatot kebingungan.
“Saya Rosa Pak, Rosa anak Bapak yang durhaka,” katanya diselingi isak.
“Rosa?”
Pak Gatot mengangkat tubuhnya, menatapnya tak berkedip.
“Kamu Rosa?”
“Iya Pak. Saya Rosa.”
“Ya ampun Rosa, kamu sangat berubah, Bapak sampai tidak mengenali kamu. Duduklah di situ saja, jangan begini.”
Rosa terisak, lalu sibuk mengusap air matanya.
“Saya berdosa sama Bapak. Saya berbohong, saya ini jahat Pak.”
“Baiklah itu sudah berlalu. Bapak berharap unruk selanjutnya kamu bisa menjadikan semua ini untuk pelajaran. Baik buruknya, dan pahit manisnya hidup itu kamu sendiri yang bisa membuatnya.”
“Saya menyesal melakukan semuanya. Saya bertobat, sungguh-sungguh bertobat.”
“Alhamdulillah. Bapak senang mendengarnya. Kamu itu sudah tidak muda lagi, berjalanlah di jalan yang baik dan lurus, agar hidup kamu tenang.”
“Dari mana Bapak tahu kalau saya ada di sini, sebagai tahanan pula?”
“Nyonya Surani yang memberi tahu, bahkan tadi juga mengantarkan bapak kesini.”
“Nyonya Surani? Saya juga merasa berdosa. Gelang itu saya yang mencurinya.”
“Nyonya Surani sudah tahu semuanya. Dia juga tahu kamu mengambil sekotak perhiasan milik orang tua angkatmu.”
“Dia sudah tahu?”
“Allah akan selalu menunjukkan kebenaran. Ia datang ke toko di mana kamu menjual gelang itu, dan pemilik toko mengatakan bahwa kamu yang menjualnya.”
Rosa menundukkan wajahnya.
“Sungguh buruk kelakuan saya. Sudah sepantasnya kalau saya mendapat hukuman. Bahkan bukan hanya sekali ini.”
"Aku sudah mendengar semuanya. Nyonya Surani itu teman bu Daryono. Dia yang bercerita semuanya tentang kamu. Lalu nyonya Surani menceriterakannya pada Bapak ini. Bapak sedih. Dulu Bapak berharap akan bisa merengkuhmu menjadi keluarga. Ternyata kamu banyak menyimpan rahasia tentang diri kamu.”
“Saya menyesal. Kelak kalau pada suatu hari saya bebas, saya akan meminta maaf kepada semua orang yang pernah saya sakiti.”
“Semoga hukuman kamu diperingan. Bapak mendengar, pak Daryono sudah mencabut laporannya tentang pencurian itu.”
“Apakah saya bisa bebas?”
“Pastinya melalui sebuah proses, entah apa. Beruntung kamu pernah menjadi anak angkat orang baik seperti mereka.”
Rosa kembali mengusap air matanya. Tampaknya alam yang digelar semua menunjukkan betapa nista apa yang dilakukannya. Ia merasa menjadi orang tak berharga, kecil dan hina.
“Saya akan melakukan hal baik sejauh apa yang bisa saya lakukan,” ia berkata seperti kepada dorinya sendiri.
“Kembalilah ke rumahku, hidup sederhana itu menenteramkan. Jangan punya keinginan yang neka-neka."
“Baiklah Pak, sesungguhnya yang terbaik adalah menjadi anak Bapak, karena saya tidak tahu siapa orang tua saya.”
Pak Gatot ingin mengatakan bahwa ia tahu siapa ibu yang mengandungnya, tapi diurungkannya. Ia akan menjadikannya kejutan ketika Rosa sudah bebas nanti.
***
Hari itu pak Daryono duduk santai di rumah. Ia tidak setiap hari ke kantor, karena ia merasa tua dan ingin beristirahat. Banyak kegiatan usaha yang sudah dilepasnya, karena terlalu membuatnya lelah.
“Papa, bagaimana tentang pencabutan laporan Papa itu? Apakah Rosa akan langsung bisa bebas?”
“Tidak bisa bebas begitu saja Ma. Kasus itu sudah ada di tangan polisi, dan mereka tetap akan mengusutnya. Tapi nanti pengacara yang papa tunjuk akan mengusahakan yang sebaik-baiknya. Semoga berhasil, sehingga tidak terlalu lama Rosa ada di dalam tahanan.”
“Apakah Papa ingin ia kembali seandainya dia bebas, nanti? Atau akan menyuruhnya mengurus sisa usaha kita?”
“Entahlah, aku belum memikirkannya. Aku kira nanti tergantung Rosa juga. Belum tentu ia berhasil memikul tanggung jawab yang kita berikan, mengingat sejak dulu dia memang tidak suka bekerja.”
“Siapa tahu, pengalaman pahit yang dialaminya membuat dia belajar. Dia tidak muda lagi. Tak mungkin dia masih ingin melakukan hal semaunya.”
“Maka dari itu kita lihat saja nanti, apa yang bisa diperbuatnya. Tampaknya dia memang harus bekerja agar bisa mendapat penghasilan. Uang tidak serta merta datang begitu saja tanpa kita berusaha mendapatkannya.”
“Semoga ia mendapatkan semuanya yang terbaik.”
“Kalau dia benar-benar bertobat, pasti ia bisa mendapatkannya.”
“Besok aku mau membezoeknya lagi ya Pa, sambil membawakan makanan untuk dia. Rasanya kok kasihan melihat dia menjadi pesakitan. Hal itu Mama rasakan ketika dia ditahan yang terakhir ini. Kalau dulu Mama tidak merasakannya, karena waktu itu mulutnya sangat kasar dan tidak menyadari bahwa dia bersalah.”
“Yang terakhir memang seperti berbeda. Semoga bukan hanya penampilannya saja yang menampakkan bahwa dia orang baik.”
“Mama mau ke sana, apa Papa mau ikut?”
“Tidak, biar kamu diantar sopir, besok aku mau ke kantor. Pengacara juga akan menemui aku di kantor, kami sudah janjian.”
“Baiklah.”
***
Rosa terharu ketika melihat bu Daryono kembali menemuinya lagi. Membawa banyak makanan pula.
“Mengapa Ibu kemari lagi? Saya membuat Ibu repot.”
“Tidak, aku senang melihat kamu sudah berubah. Apa rencana kamu kalau kamu bebas nanti?”
“Belum tahu Bu.”
“Apa kamu ingin kembali ke rumah?”
“Ke rumah Ibu?”
“Iya, ke mana lagi?”
“Tidak Bu, saya ingin pulang ke rumah pak Gatot.”
“Pak Gatot? Satpam yang ada di toko bu Surani?”
“Pak Gatot sejak dulu ingin mengangkat saya sebagai anak. Saya durhaka meninggalkannya, melukainya, padahal dia sangat memperhatikan saya. Dia yang mengentaskan saya dari jalanan, ketika saya melangkah tanpa arah sekeluar saya dari penjara. Tapi hati saya waktu itu masih kotor dipenuhi dendam yang tak pernah padam. Karena masih dibakar dendam itulah saya melakukan hal yang buruk. Saya tinggalkan pak Gatot, saya tinggalkan ketenangan hidup yang seharusnya saya rasakan. Sekarang saya ingin menebusnya, merawat dan menemaninya saat dia menjadi tua.”
“Rosa, bukankah kamu juga pernah menjadi anakku?” kata bu Daryono.
“Maafkan saya Bu. Saya juga tahu bahwa Ibu dan Bapak yang membesarkan saya, menjadikan saya gadis yang berkelas, tidak kekurangan. Tapi saya telah menodai kasih sayang Ibu dan Bapak dengan kelakuan saya. Saya tidak pantas berada di sana lagi.”
“Rosa, rumah kami masih terbuka untuk kamu, ketika kami tahu bahwa kamu menyadari semua kesalahan kamu.”
“Nanti akan saya pikirkan lagi Bu, yang jelas saya masih harus menebus kesalahan saya di tempat ini.”
“Kami sudah mencabut laporan kami, tapi semuanya tergantung bagaimana proses yang harus dijalani. Teruslah berdoa menuju kebebasan kamu, dan untuk jalan hidupmu yang lebih baik.”
“Saya akan melakukannya,” kata Rosa diakhir pertemuan sebelum bu Daryono pergi.
Rosa juga mencium tangan mantan ibu angkatnya, dan meneteskan air mata mengantar kepergiannya.
***
Hari itu adalah hari Minggu. Pak Gatot tidak lupa pada cerita pak Misran penjaga makam itu, bahwa laki-laki yang tidak dikenalnya itu selalu datang di hari Minggu. Pak Gatot ingin tahu siapa sebenarnya dia dan mengapa dia bersikap aneh setiap kali datang ke sana. Karena itu pagi itu ia sudah berangkat ke sana, dengan harapan agar bisa mengetahui, siapa sebenarnya laki-laki itu.
Pak MIsran sedang menyapu halaman makam ketika dia datang. Ketika melihat pak Gatot, pak Misran segera mendekat.
“Apakah pak Gatot datang hari ini karena ingin melihat laki-laki berperangai aneh itu?”
“Apakah dia belum datang? Aku ingin tahu siapa dia.”
“Tadi yang datang pesuruhnya, hanya membawa bunga dan memberikan kepada saya agar menaburkannya.”
“Dia tidak datang?”
“Katanya dia sakit.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta
Trmksh mb Tien🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh bunda Tien sehat selalu doaku
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh bunda Tien sehat selalu doaku
ReplyDeleteAlhamdulillah, telah tayang AAS nya.
ReplyDeleteSehat selalu bunda,,,aamiin.
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~25 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien
Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
🍄🪸🍄🪸🍄🪸🍄🪸
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung AaAaeS_25
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🍄🪸🍄🪸🍄🪸🍄🪸
Ayah biologis Rosa sakit?
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
🙏
ReplyDelete🌷Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 25 ~ Sudah tayang 👍💐 Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, cerbung AAS eps~ 25 sdh tayang. Sehat selalu, bahagia dan tetap semangat dalam berkarya.... Aduhaii
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, cerbung AAS eps~ 25 sdh tayang. Sehat selalu, bahagia dan tetap semangat dalam berkarya.... Aduhaii
ReplyDeleteAlhamdullulah terima ksih cerbungnya bunda..slm seroja unk bunda..tetap semangat🙏🥰🌹❤️
ReplyDelete