AKU ANAK SIAPA 23
(Tien Kumalasari)
Rosa menatap pak Daryono, tak yakin akan apa yang didengarnya.
“Pak Gatot?”
“Kamu kenal dia?”
“Dia … “
Tiba-tiba air mata Rosa menetes lagi. Ia ingat semua kebaikan pak Gatot. Ia ingat ketika meninggalkannya dan mengingat wajah pak Gatot tiba-tiba berubah sedih. Dia tahu, pak Gatot menyayanginga dan menganggapnya seperti anak sendiri. Wajah tua dengan mata teduh itu sungguh-sungguh berduka dengan kepergiannya yang tanpa belas.
“Mengapa menangis?” tanya bu Daryono.
“Dia … orang pertama yang menolong saya … ketika saya dipukuli orang banyak,” katanya tersendat.
“Dia mengentaskan saya dari jalanan. Mengangkatnya sebagai anak, tapi … saya meninggalkannya karena menurutkan nafsu dendam saya … sehingga saya kembali terjerumus ke dalam kesesatan ….," lanjutnya, masih dengan tangis.
“Apa kamu menyesal?” tanya bu Daryono lagi.
“Sangat menyesal,” kata Rosa masih dengan tangis.
Bu Daryono mengulurkan tissue, dan Rosa menerimanya untuk mengusap air mata yang membasahi wajahnya.
“Apa yang akan kamu lakukan seandainya nanti keluar dari hukuman ini?” sekarang pak Daryono yang bertanya.
“Saya akan belajar menjalani hidup dengan tenang. Mungkin mencari pekerjaan yang baik. Jadi pelayan juga mau, asalkan saya bisa melanjutkan hidup saya.”
“Keinginan yang bagus. Lalu apa?”
“Saya ingin tahu, siapa sebenarnya orang tua saya. Tapi sepertinya tidak mungkin.”
“Mengapa tidak mungkin?”
“Saya pernah pergi ke panti asuhan itu, menanyakan asal usul saya, tapi katanya saya ditinggalkan begitu saja di panti, saat saya masih bayi merah, tak ketahuan siapa yang meninggalkannya. Saya putus asa. Rasanya sudah tak mungkin bisa menemukan orang tua saya.”
“Kamu harus bertobat, memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan mohon jalan hidup kamu lebih bersih dan terang.”
“Siapa menyuruhmu memakai hijab? Apakah kamu juga bershalat?”
“Hari terakhir sebelum saya menyerahkan diri, saya tidur di mushala, saya mendengar adzan, hati saya seperti dirajang-rajang, lalu seorang wanita mengajak saya bershalat subuh. Ketika saya mau pergi ke kantor polisi, dia memberi saya mukena dan beberapa kerudung.”
“Kamu kenakan terus? Dan bershalat juga?”
Rosa mengangguk.
“Baiklah, jalan terbaik adalah bertobat dan memohon ampun, semoga Allah mengampuni kamu.”
“Aamiin,” dan air mata Rosa kembali runtuh.
“Apa Bapak mengenal pak Gatot? Atau Ibu?”
“Tidak, tapi seorang teman saya, bu Surani mengenalnya, pak Gatot satpam di toko yang dia miliki,” jawab bu Daryono.
“Bu Surani?” tanya Rosa tersentak kaget.
“Kamu ingat dia?”
“Saya, pernah mencuri gelang anaknya,” lirih ia berkata. Tampak sekali ia menahan tangis.
“Ya sudah, aku berharap kamu benar-benar menyesali semuanya dan bersedia melakukan hidup yang lebih baik. Tidak ada gunanya kamu dendam kepada Senja, dia wanita yang baik, dan sekarang sudah hidup berbahagia bersama Arka."
“Iya, saya menyesal telah menculik anaknya. Itulah kejahatan terakhir yang saya lakukan,” lirih ia berkata.
“Ya, aku juga sudah mendengarnya. Anak itu sangat cerdik, sehingga bisa melepaskan diri dari rencana jahat kamu.”
“Setelah saya bebas nanti, saya akan datang kepada mereka untuk meminta maaf.”
Rosa kembali terisak.
“Itu niat yang sangat baik. Sudah, tenangkan hati kamu. Kami harus pergi,” kata bu Daryono sambil meletakkan bungkusan makanan di meja.
Rosa mengangguk, terharu. Tak tampak kemarahan di mata bekas kedua orang tua angkatnya. Lalu dia merasa, betapa kecilnya dia di mata mereka, yang walau kaya raya tapi tetap memiliki hati yang baik.
***
“Apa yang Mas baca?” tanya Senja disuatu pagi sebelum Arka pergi ke kantor.
“Ini, berita di surat kabar. Buronan bernama Rosa akhirnya menyerahkan diri.”
“Menyerahkan diri?”
“Setelah pelarian itu dia disadarkan oleh suara adzan.”
“Luar biasa Mas, aku senang mendengarnya.”
“Kamu tidak dendam setelah tahu bahwa dialah penculik Satria? Dia bahkan menyakiti Satria, membuatnya ketakutan.”
“Tidak Mas. Seseorang bisa saja melakukan kesalahan, tapi yang penting adalah apabila dia mengakui kesalahan itu, dan berusaha menjalani hidup yang bersih serta lebih baik.”
“Istriku sungguh luar biasa. Aku beruntung mendapatkan kamu sebagai pendamping hidupku,” kata Arka sambil memeluk istrinya.
“Ya sudah, Mas ke kantor sana, aku mau siap-siap menjemput Satria, jangan sampai terlambat sehingga dia mau saja dijemput orang lain.”
Tiba-tiba ponsel Arka berdering, dari ayahnya.
“Arka?” suara sang ayah langsung begitu Arka mengangkatnya.
“Kamu sudah dengar? Rosa sudah ada di tangan polisi, kabarnya dia menyerahkan diri. Mungkin karena terus menerus ketakutan.”
“Iya Pak, sudah membaca beritanya.”
“Bapak ditelpon pak Daryono. Katanya dia sekarang berhijab dan sangat menyesal.”
“Syukurlah.”
“Kamu masih di rumah?”
“Ini mau berangkat ke kantor Pak.”
“Ya sudah, nanti bapak mau ketemu pak Daryono dulu, belum jelas benar ceritanya bagaimana.”
“Arka berangkat ke kantor dulu.”
“Satria sudah sekolah?”
“Sudah, ini ibunya mau menjemputnya.”
“Bagus, jangan sampai terlambat menjemputnya, nanti dia digondol penculik lagi.”
***
“Bapak tadi menelpon siapa?” tanya bu Daryono pagi itu.
“Pak Wiguna, biar dia tahu juga bahwa penculik cucunya sudah menyerahkan diri.”
“Apakah mereka dendam kepada Rosa?”
“Entahlah, aku kira tidak. Mereka orang-orang baik. Apalagi Senja. Sudah pas dan cocok sekali Arka jatuh cinta pada Senja. Rosa bukan apa-apa. Dan kisah cinta itulah yang membuat Rosa terjerumus ke dalam perbuatan jahat berkali-kali.”
“Iya ya Pa, akar permasalahannya ada di kisah antara Arka dan Senja itu. Sampai berlarut-larut begini.”
“Sekarang aku merasa kasihan ketika melihatnya. Melihat dia sudah memakai hijab, menangis menyesali perbuatannya, dan itu kelihatan sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatinya.”
“Benar Pa, aku juga ikut sedih melihatnya menangis. Bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dari keluarga kita.”
“Bagaimana kalau Papa mencabut laporan itu Ma, apa Mama setuju?”
“Papa ingin mencabutnya?”
“Nanti aku akan mencari pengacara dan menanyakan bagaimana prosedurnya, dan tingkat keberhasilannya agar dia bebas.”
"Kelihatannya niat yang bagus Pa, tapi Papa harus benar-benar yakin bahwa dia sungguh ingin bertobat.”
“Menurut Mama bagaimana, sikap yang tadi tampak, bukankah dia sungguh menyesalinya? Ini berbeda ketika kasus yang terdahulu, dia masih mentang-mentang dan sangat sombong. Dia juga masih mengancam-ngancam sambil berteriak-teriak. Tapi ketika kita datang kemarin, dia tampak sangat berbeda. Seperti sangat lemah, dan pasrah, dan kelihatan sekali kalau dia sangat menyesal telah berbuat kejahatan berkali kali. Aku merasa trenyuh melihat wajahnya.”
"Aku juga begitu. Aku setuju kalau Papa mau mencabut laporan. Tapi apakah semudah itu?”
“Tidak juga, harus ada proses yang harus dijalani. Aku tidak tahu namanya, nanti aku serahkan kepada pengacara saja.”
“Semoga niat baik kita juga akan berbuah kebaikan.”
“Aamiin.”
***
Hari itu liburan, pak Gatot tidak masuk kerja. Bu Surani belum memberi kabar tentang kapan bisa membezoek Rosa. Tiba-tiba pak Gatot ingin menengok kuburan istrinya. Sudah bertahun-tahun dia tidak ke sana, entah masih terawat atau tidak.
Ia sudah sampai di depan tanah pemakaman itu. Agak berbeda suasananya, mungkin karena ‘penghuninya’ sudah semakin banyak. Tapi pak Gatot tidak lupa di mana letak makam itu. Dulu, ketika istrinya belum lama meninggal, ia beberapa kali datang, menabur bunga dan mendoakannya.
Ketika ia hampir sampai, ia terkejut ketika melihat seorang laki-laki setengah tua berdiri setelah berjongkok di makam sang istri. Pak Gatot mengingat-ingat, apakah dia kerabat istrinya? Ia hanya mengamatinya, sampai laki-laki itu keluar dari tanah pemakaman.
“Tidak, ia bukan kerabat almarhumah. Aku belum pernah mengenalnya. Siapa dia?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun ibu Endah
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSemoga Rosa benar2 bertobat atas segala khilaf yang diperbuatnya,
DeleteDan segera mendapat hidayah.
Aamiin
Nuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteTerima kasih bunda Tien cerbung dah tayang
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat beserta keluarga tercinta
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillah "AKU ANAK SIAPA 23" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng dalu 🙏
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis.
DeleteSugeng enjing
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteAlhamdulilah , maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sampun tayang .. semoga ibu Tien dan pak Tom serta amancu semua sehat dan ceria aduhai aduhai ya bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
🪷🪻🌺🪻🪷🪻🌺🪻
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung AaAaeS_23
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🪷🪻🌺🪻🪷🪻🌺🪻
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sari
DeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA~23 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Djodhi
DeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),23 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah mksh cerbung yg ditunggu sdh tayang smg Bu Tien sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu ida
DeleteItu ayah biologis Rosa . ..
ReplyDeleteProf selalu pintar
DeleteHmm...apakah lelaki itu bapak kandungnya Rosa ya?🤔
ReplyDeleteBtw, terima kasih ibu Tien...sudah bikin penasaran pembaca. Semoga sehat selalu, bu...🙏🏻🌹
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Nana
Delete🌷Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 23 ~ Sudah tayang 👍💐 Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteMatur nuwun Bunda Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
Delete