AKU ANAK SIAPA 22
(Tien Kumalasari)
Rosa terkejut, ia menundukkan wajahnya, sementara Rochmah menatap ibunya dengan penuh tanda tanya.
“Di mana Ibu menemukan dia? Dia buronan.”
”Rochmah, jangan bicara sembarangan. Dia wanita baik-baik, tadi shalat subuh di mushala.”
“Wajah wanita ini terpampang di mana-mana, dia mengatakan namanya Rosa. Memang buronan itu bernama Rosa.”
”Kamu melukai hati orang yang belum pernah kamu kenal. Kamu mengatakan dia buronan, berarti menuduh orang berbuat jahat. Kamu belum mengerti tentang dia.”
“Bu, percayalah. Lihat, dia menundukkan wajahnya karena takut. Tapi aku tak bisa tinggal diam, aku harus melaporkannya kepada yang berwajib.”
“Rochmah. Jangan sembarangan. Kamu tanya dulu dia sebenarnya siapa, belum-belum mau lapor. Kalau salah bagaimana?”
“Kalau kita melindungi buronan, maka kita juga akan dianggap bersalah. Kita akan ikut masuk penjara.”
“Bu, maaf kalau anak saya lancang.”
“Ibu jangan mempercayainya. Wajah boleh jadi sama, tapi wajah dan nama yang sama, tak bisa lagi dipungkiri."
“Tidak perlu minta maaf Bu, dia benar.”
“Apa? Jadi ibu memang buronan seperti dikatakan anak saya?”
“Saya telah melakukan kejahatan,” kata Rosa lirih.
“Tuh, kan? Kita tidak bisa tinggal diam, aku mau lapor polisi. Awas ya Bu, jangan coba-coba kabur. Karena kemanapun Ibu kabur, polisi pasti akan bisa menangkap Ibu.”
“Rochmah, jangan kasar begitu.”
“Kamu tidak usah melaporkannya, aku mau menyerahkan diri.”
“Apa? Lalu tiba-tiba Ibu akan kabur?”
“Antarkan aku ke kantor polisi terdekat, aku sudah pasrah, tidak akan kabur,” kata Rosa tandas.
Ia sudah lelah, apapun yang akan diterimanya maka ia akan menjalaninya. Ketenangan jiwanya didapat ketika di mushala, ketika mendengar adzan, ketika ia bersujud, ketika ia menangis dalam sujudnya.
“Baiklah, awas jangan lari.”
“Tunggu. Biarlah dia makan dulu.”
“Bu ….”
“Ambilkan nasi yang kamu beli, biar dia makan dulu bareng Ibu, di sini,” kata sang ibu tandas.
Rochmah menuruti apa kata ibunya. Ia terus menatapnya waspada. Dilihatnya Rosa makan dengan lahap. Tampaknya ia lapar sekali. Sebentar saja ia sudah menghabiskan sepiring makanannya.
“Minumlah dulu Bu, jangan terburu-buru.”
“Kantor polisi sangat dekat, saya akan meminta tetangga untuk ikut mengawalnya. Saya hanya sendiri, kalau dia kabur bagaimana,” kata Rochmah sambil beranjak keluar.
Rosa diam saja.
“Bu, maafkan anak saya ya,” kata ibu yang baik hati itu.
“Tidak apa-apa, saya kira ini yang terbaik untuk hidup saya, saya sudah pasrah. Saya siap menebusnya,” kata Rosa.
Ia tak pernah merasa setenang ini.
“Hati-hati ya Bu, semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan memberi jalan terbaik untuk kehidupan Ibu selanjutnya.”
“Aamiin.”
Rosa menatapnya terharu. Ia juga menatap punggung wanita itu ketika tiba-tiba masuk ke kamar, lalu ketika keluar ia membawa sebuah bungkusan.
“Bu, ini mukena, dan beberapa kerudung. Saya berharap agar ibu mempergunakannya, agar hidup Ibu tenang.”
Rosa menerimanya sambil berlinang air mata.
“Saya akan menjalaninya. Terima kasih banyak.”
***
Pagi hari itu pak Daryono menerima telpon dari kantor polisi. Ia mengatakan kalau Rosa sudah tertangkap, tapi kemudian diralatnya dengan kata-kata bahwa Rosa sudah menyerahkan diri.
Pak Daryono mencari sang istri, menyampaikan berita itu.
Bu Daryono menghela napas panjang.
“Syukurlah, kalau dia menyerahkan diri, berarti dia sudah sadar, sudah mengakui bahwa dia bersalah.”
“Mudah-mudahan kesadaran yang benar-benar sadar.”
“Papa mau ke kantor polisi?”
“Iya, pastinya kita juga akan dimintai keterangan.”
”Aku mau ikut ya Pa, aku ingin bertemu Rosa. Seperti apa dia.”
“Sudah sangat lama, pasti dia sudah semakin tua. Tigapuluhan tahun lebih, hampir empat puluh tahun. Ketika dia ditahan untuk pertama kalinya juga sudah tigapuluh tahun lebih.”
“Kata Bibik masih kelihatan cantik.”
“Sebenarnya dia memang cantik, sayang sekali tidak bisa berperilaku baik.”
“Jam berapa Papa mau ke sana?”
“Setelah sarapan, kita langsung ke sana.”
“Baiklah, aku akan siap-siap dulu. Aku juga akan mengabari jeng Surani, dia juga pernah kehilangan gelang anaknya.”
“Dia tidak melaporkan apa-apa. Hanya kita.”
“Bagaimanapun dia harus tahu.”
“Baiklah, terserah Mama saja.”
***
Pak Gatot bertugas pagi itu, walau badannya terasa agak kurang enak. Ketika bu Surani datang mendekati, ia sedang bersin-bersin.
“Pak Gatot sakit?”
“Sepertinya mau flu ini Nyonya, dari tadi bersin-bersin terus.”
“Nanti biar Bibik memberi obat kemari. Saya punya obatnya. Kalau baru awal langsung diobati, biasanya cepat sembuhnya.”
“Terima kasih Nyonya.”
“Pak Gatot sudah sarapan?”
“Sudah tadi, sebelum berangkat.”
“Syukurlah, jadi nanti bisa langsung minum obatnya. Begini pak Gatot, sebenarnya saya mau memberi kabar baik untuk pak Gatot.”
“Kabar baik apa, Nyonya?”
“Rosa sudah ditangkap. Eh , maksudnya menyerahkan diri. Mungkin lelah lari ke sana kemari.”
“Benarkah? Di mana dia menyerahkan diri? Mengapa tiba-tiba mau menyerahkan diri. Tapi mungkin Nyonya benar, dia sudah lelah. Saya kira itu yang terbaik. Dia tak mungkin bisa selalu menjadi buronan terus menerus.”
“Bukankah pak Gatot ingin mengantarkan nanti ke makam ibunya kalau bisa bertemu dia?”
“Ya, akan saya lakukan, tapi apakah bisa saat ditahan dia diajak pergi-pergi? Pastinya harus menunggu kalau hukumannya selesai.”
“Pastinya begitu," kata bu Surani.
"Tapi kalau ingin ketemu saja, bagaimana ya Nyonya?”
“Pastinya ada jadwal hari membezuk pesakitan, nanti saya tanyakan kepada bu Daryono. Kapan-kapan bisa menemui dia. Nanti saya antar Pak.”
“Nyonya akan memarahi dia?”
”Tidak, dengan adanya dia di dalam tahanan, dia sudah terhukum. Saya hanya ingin mengantarkan pak Gatot, tapi setelah saya menanyakannya nanti kepada bu Daryono.”
“Bu Daryono itu orang tua angkatnya?”
“Benar. Dan mereka juga yang melaporkannya kepada polisi. Semoga kejadian ini bisa membuatnya jera.”
“Tapi tidak enak kalau Nyonya mengantarkan saya, biar saya berangkat sendiri saja, Nyonya katakan saja di hari apa dia bisa dijenguk dan di mana.”
“Tidak apa-apa Pak, sekalian aku ke kantor nanti.”
“Baiklah, saya menunggu berita dari Nyonya saja. Terima kasih telah diberi tahu.”
***
Pak Daryono dan bu Daryono terkejut ketika bertemu Rosa. Dia tampil sederhana, dengan berhijab, dan itu tidak menyembunyikan kecantikannya walau sudah berumur.
Di depan bekas orang tua angkatnya, Rosa hanya menundukkan kepalanya. Ada tetesan air mata membasahi bajunya.
“Rosa, penampilanmu kali ini sangat bagus. Kamu tampak seperti perempuan sholehah. Aku harap urusan kamu dengan yang berwajib ini kali yang terakhir. Kelak kamu bisa menjalani kehidupan dengan lebih tenang.”
“Saya minta maaf, Tuan dan Nyonya.”
“Mengapa kamu memanggil kami begitu?”
“Apa saya masih pantas memanggil Papa dan Mama? Saya kotor dan hina.”
“Kalau kamu merasa berat memanggil Papa dan Mama, panggil saja Pak dan Bu, jangan tuan, jangan nyonya.” lanjut pak Daryono.
“Uang hasil penjualan itu sudah habis. Tinggal beberapa ratus ribu, akan saya kembalikan.”
“Tidak usah Rosa, bawa saja oleh kamu, barangkali kamu membutuhkan sesuatu,” kata bu Daryono.
Rosa tak menjawab, sedikit sungkan. Uang yang puluhan juta hasil penjualan perhiasan itu memang tinggal ratusan ribu. Uang itu dipergunakan untuk membayar kejahatan baru, yang walau ia sudah habis-habisan, penculikan itu tidak berhasil.
“Saya hanya dendam kepada Senja.”
“Apa dosa Senja terhadapmu sehingga kamu melakukan kejahatan demi kejahatan demi membuat dia sengsara? Dan nyatanya tidak berhasil kan? Itu masih masalah Arka?”
Rosa menundukkan kepalanya, tidak sepatahpun mampu menjawab.
“Senja wanita baik, pastinya Allah melindunginya.”
“Saya yang salah.”
“Kalau kamu menyesal, benar-benarlah menyesal, lalu jalanilah hidup yang bersih.”
Rosa lagi-lagi tak menjawab. Tapi kali ini ia mengangguk.
“Apa kamu kenal yang namanya pak Gatot?”
Kali ini Rosa mengangkat wajahnya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah.....
ReplyDeleteAaAaeS_22 sudah hadir.
Terima kasih mBak Tien, Rosa berhijab.
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga aamiin.
πΈπΏπΈπΏπΈπΏπΈπΏ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung AaAaeS_22
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
πΈπΏπΈπΏπΈπΏπΈπΏ
Alhamdulillah "AKU ANAK SIAPA 22" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng dalu π
Matur nuwun Bunda Tien.. semoga selalu sehat, barokalloh
ReplyDeleteAlhamdulillah, matur nwn bu Tien
ReplyDeleteTrmksh mb Tien π
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAlhamdulilah. Segala puji bagi Allah.
ReplyDeleteTerimakasih Bunda sudah tayang. Semoga Bunda sehat walafiat begitupun keluarga pada sehat.
Pa Daryono yang baik hati. Terimakasih bapak semoga sukses perusahaanya
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulilah , maturnuwun bu Tien cerbung kwsayangan sampun tayang, doaku selalu urk bu Tien sekeluarga semoga sll sehat penuh berkah dan sll dlm lindungan Allah SWT ... salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung dah tayang, Wah kayaknya hmpir tamat ceritanya , maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ππ
ReplyDeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),22 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA~22 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang
ReplyDeleteπ·Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 22 ~ Sudah tayang ππ Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, sehat selalu, tetap semangat, dan bahagia bunda Tien sekeluarga
ReplyDeleteCeritanya haru biru ..
ReplyDelete