Monday, August 24, 2026

AKU ANAK SIAPA 19

 AKU ANAK SIAPA  19

(Tien Kumalasari)

 

Entah karena sudah capek, atau karena bujukan laki-laki itu, maka Satria menurut saja pergi bersama si ‘om’ yang belum pernah dikenal sebelumnya. Satpam penjaga mengijinkannya, karena Satria mengatakan kalau sudah dijemput ‘om’nya.

Tapi tak lama kemudian Satpam itu terkejut, karena ibu Satria datang dan menanyakan anaknya.

“Lho, Bu … Satria sudah dijemput omnya.”

Senja terkejut bukan alang kepalang.

“Apa? Om siapa?”

“Ibu tidak kenal? Laki-laki itu berbincang dengan Satria, kemudian tiba-tiba Satria bilang bahwa dia sudah dijemput omnya.”

“Bapak ijinkan dia pergi?”

“Satria mengatakan dia omnya.”

“Om siapa? Ya Tuhan, ini tidak benar. Apa Rimba menjemput? Kok aneh, tak biasanya dia begitu.”

“Satria punya om kan Bu?”

“Punya, tapi dia sekolah, tak mungkin menjemput kemari, belum pernah dia melakukannya. Dan kalau benar, pasti dia mengabari saya.”

“Omnya sekolah? Tapi laki-laki itu bukan tampang anak sekolah, dia tidak lagi muda. Tidak jelas juga sih wajahnya, karena dia memakai helm.”

“Bapak tidak cermat dalam menjaga murid-murid! Anak saya diculik!”

Satpam itu terkejut. Ia bingung ketika Senja marah-marah dan pergi ke kantor. Seisi sekolah gempar, Senja menangis sambil kemudian berlari ke mobilnya.

Ia masuk ke mobil dan menelpon Rimba. Jawaban yang sudah diduganya itu tentu saja membuatnya panik.

“Tidak, aku masih di sekolah. Masa aku menjemput Satria?”

“Ya Allah Mba, Satria diculik.”

“Apa? Diculik? Bagaimana bisa? Sekolah kan ketat dalam menjaga anak didiknya? Bagaimana bisa ada murid diculik?”

“Kata satpam, dia mengaku omnya. Dan Satria percaya, entah bagaimana Satria bisa mempercayainya. Aku bingung Mba,” katanya sambil menangis.

“Lapor polisi Mbak. Mas Arka sudah diberi tahu?”

”Belum. Karena katanya dijemput omnya, maka aku menelpon kamu. Aku memang tidak yakin kalau kamu yang menjemput. Gimana ini Mba?”

“Mbak tilpon mas Arka, lapor polisi, aku akan minta ijin pulang untuk membantu mencarinya."

Arka tentu saja bingung mendapat laporan bahwa Satria diculik. Setelah menelpon Senja datang ke kantor, dan Arka sudah siap lapor polisi.

***

Satria bingung, karena laki-laki yang disebut om itu tidak membawanya ke rumah, tapi ke sebuah  rumah, dimana ia diajak masuk ke dalam sebuah kamar kecil. Ada Rosa di sana, tapi Satria belum pernah mengenalnya.

“Mengapa kemari? Mana ibuku?” protes Satria.

“Kamu mencari ibumu, sayang?” kata Rosa dengan wajah yang menurut Satria sangat mengerikan. Wajahnya berbedak tebal, ada coreng moreng hitam dan bibirnya dicat tebal.

“Kamu siapa? Aku nggak mau ke sini, aku mau pulang.”

“Mbak Rosa, aku sudah selesai, bayar dulu kekurangannya,” kata laki-laki itu tanpa basa-basi, dan tak peduli pada Satria yang mulai menangis.

“Baiklah, aku tidak akan ingkar,” kata Rosa sambil mengambil uang dari dalam tasnya, lalu diberikannya kepada si om.

Ketika laki-laki itu berbalik, Satria berteriak.

“Om, bawa aku pulang, aku nggak mau di sini!!”

Tapi Rosa memegangi tangannya, dan laki-laki itu pergi begitu saja.

”Pulaaaang, aku mau pulaaaang,” Satria berteriak-teriak sambil menangis dan meronta.

Rosa mengayunkan tangannya dan memukul mulut Satria sampai berdarah. Satria menjerit kesakitan.

“Kalau kamu berteriak lagi, aku akan memukulmu lebih keras. Diaammm! Tahu?”

Satria terdiam, wajahnya ketakutan. Ia merintih pelan, menahan rasa takut dan sakit.

“Biarkan aku pulang. Biarkan aku pulang … aku mau ibu, mau ibuuuu,” rintihnya pelan, khawatir perempuan yang wajahnya mirip setan di gambar-gambar komik itu memukulnya lagi.

“Diam!”

“Mengapa aku dibawa kemari? Ini bukan rumahku, aku pulang …”

“Tentu saja ini bukan rumahmu. Rumahmu indah seperti istana. Ini rumah orang yang menjadi miskin karena ibumu!"

“Ibuku mana, apa salah ibuku!” katanya sambil meronta, ingin lari dari kamar itu.

“Tunggu di sini, sampai ibumu menjemputmu. Diam, jangan membuat repot.”

Rosa mengambil tali rafia, kemudian mengikat kaki dan tangan Satria.

“Lepaskan aku! Jangan … ini sakiiit.”

Rosa kembali menampar wajah Satria, Satria berteriak.

“Kalau kamu berteriak-teriak, aku akan memukul kamu lagi.”

“Lepaskan, ini sakit.”

“Tidak, kamu harus aku ikat, supaya tidak kabur. Dan ingat, jangan berteriak.”

Rosa mengambil lakban dan menutup mulut Satria yang kemudian tak mampu lagi berteriak. Tangisnya tersekat di tenggorokan, matanya terus mengucurkan air mata.

“Nah, begini lebih baik. Aku bawa kamu kemari agar ibumu menderita. Dia telah membuat aku menderita, jadi sekarang dia harus merasakannya.”

“Mmmmmmmh …. mmmhhhh….” 

Satria berguling-guling di lantai.

“Diaaaammmm!” perintah itu pelan, tapi suaranya mirip geraman yang ditahan. Satria tak berani berkutik. Ia hanya bisa menangis, dan tak tahu apa salah dan dosanya sehingga disiksa seperti ini.

Rosa tampak senang sekali. Ia menyeringai, dan Satria yakin bahwa yang ada didepannya pastilah jadi-jadian, bukan manusia.

Satria duduk, bersandar pada dinding, kaki tangannya diikat, yang bagi seorang anak pastilah sangat sulit membuatnya bisa bergerak.

“Nah, begitu lebih baik. Kamu tahu? Ibumu pasti sedang menangis bergulung-gulung … “

Lalu Rosa tertawa terbahak-bahak, membuat Satria bertambah takut.

“Oh iya, aku lapar sekali, biar aku makan dulu ya,”

Dengan tenangnya Rosa mengambil makanan di atas meja. Kamar itu hanya sepetak, ada sebuah tempat tidur, sebuah meja dan kursi satu, serta almari kecil. Makan tidur ya di dalam situ, tapi kamar mandinya ada di luar. Tidak apa-apa bagi Rosa, yang penting dia bisa bersembunyi. Dan bisa menyiksa bukan hanya anak yang diculiknya, tapi yang penting adalah Senja. Alangkah senang hatinya membayangkan Senja kebingungan dan meraung-raung.

Ia duduk di atas kursi, menghadapi sepiring nasi, dan makan dengan lahap. Satria menatapnya pilu. Ia sebenarnya juga lapar, sepulang sekolah pasti makan, tapi rasa lapar itu tak dirasakannya. Ia lebih memikirkan dirinya yang berada di tempat asing, disiksa, diikat seperti binatang, tanpa tahu apa salah dan dosanya.

***

Senja tak berhenti menangis. Arka sudah lapor ke polisi, dan Rimba sudah berputar-putar mencari. Tapi mencari ke mana? Mereka tak tahu siapa yang menculiknya, dan apa maunya.

“Dia minta uang tebusan, barangkali,” kata Rimba.

“Sejauh ini tak ada yang menghubungi dan meminta uang tebusan,” jawab Arka yang terus memeluk istrinya.

“Siapa yang melakukan ini?”

“Satria pasti lapar, sudah saatnya dia makan. Ya Allah, kembalikan anakku, di mana dia? Sudah makan atau belum?”

“Rimba, sebaiknya kamu pulang, Simbok pasti menunggu kamu,” kata Arka lagi.

“Iya Mas, nanti kabari kalau ada berita tentang Satria.”

“Mba, jangan bilang Simbok tentang hilangnya Satria, kasihan Simbok,” kata Senja sambil menangis.

“Iya Mbak, aku juga berpikir begitu. Sebaiknya aku pulang dulu, supaya simbok tidak bertanya-tanya."

Rimba pulang, dan Senja masih terisak dalam pelukan Arka. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu. Tadi seharian mereka berputar-putar, tentu saja tanpa hasll.

***

Satria mungkin sudah lelah. Badannya lemas, ia sudah menanggung ketakutan dan rasa sakit. Sekarang dia diam, tangisnya tak lagi mengeluarkan suara. Ia hanya bisa membisikkan nama ibu dan ayahnya, dalam hati, karena mulutnya tersumbat lakban. Kaki tangannya juga sakit karena terikat erat oleh tali yang membuatnya tak bisa bergerak. Kalaupun bergerak, ia hanya bisa berguling-guling.

Hari itu entah siang atau sudah malam, Satria tak mengerti. Tapi ia melihat perempuan bengis itu menekan tombol dan lampupun menyala. Tak begitu terang. Tak ada suara, senyap dan mencekam.

TIba-tiba ia melihat perempuan yang menyekapnya itu mengambil cadar, lalu menutupi wajahnya. Kemudian keluar dari kamar. Barangkali akan ke kamar mandi atau entahlah, sepertinya karena kekenyangan maka perutnya melilit. Ia melihat perempuan itu memegangi perutnya sebelum keluar, kemudian mengunci pintunya.

Sepi mencekam, Satria tak tahu harus berbuat apa, tapi terbersit keinginannya untuk melarikan diri. Ia berguling ke arah pintu, dan memukul-mukulkan tangannya yang terikat ke arah pintu.

***

 Besok lagi ya.

36 comments:

  1. 🌸🌷🌸🌷🌸🌷🌸🌷
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung AaAaeS_19
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    🌸🌷🌸🌷🌸🌷🌸🌷

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),19 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah sudah tayang.
    Terimakasih Dhe.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat beserta keluarga tercinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku, AKU ANAK SIAPA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun pak Latief

      Delete
  6. Alhamdulillah "AKU ANAK SIAPA 19" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng dalu πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun pak Sis.
      Sugeng daΔΊu

      Delete
  7. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~19 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun bapak Djodhi

      Delete
  8. Alhamdulillah, telah tayang AAS nya.
    Sehat selamanya bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah
    Terima kasih Bu Tien
    Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Sukardi

      Delete
  10. 🌷Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 19 ~ Sudah tayang πŸ‘πŸ’ Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah,,AAS dah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Tatikl

      Delete
  12. Satria anak pemberani, turunan Senja yang pernah diculik Rosa juga...pasti bisa lolos...dia pukul-pukul pintu ada yang dengar dari luar, cerdik.πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

    Terima kasih, ibu Tien...sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete
  13. Alhamdulilah , cerbung kesayangan sfh tayang ... maturnuwun bu Tien... semoga ibu selalu sehat bahagia dan dalam lindungan Allah SWT ... Salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  14. Alhamdulullah cerbung sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  15. Kemarin Sabtu seri ke 17 kok senin hari ini 18 harusnya 18 ya mbak Tien.sedikit ralat.tks Salam seroja mbak Tien dr Tegal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukankah habis 17 lalu 18? Minggu kan libur ibu Neni?

      Delete
  16. Terimakasih bunda Tien, sehat selalu, bahagia, tetap semangat.... Aduhaii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Komariyah

      Delete
  17. Alhamdullulah terima ksih bunda cerbungnya..slm sehat sll unk bunda sekeluarga πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete

AKU ANAK SIAPA 19

  AKU ANAK SIAPA  19 (Tien Kumalasari)   Entah karena sudah capek, atau karena bujukan laki-laki itu, maka Satria menurut saja pergi bersama...