AKU ANAK SIAPA 15
(Tien Kumalasari)
Pak Daryono heran, istrinya bingung mencari kotak perhiasan.
“Mama menaruhnya di mana?”
“Ya di almari Mama ini kan Pa? Masa di tempat lain?” kata bu Daryono sambil membolak balikkan tumpukan pakaian, barangkali terselip di sana.
Tak ditemukannya apa yang dicarinya.
Pak Daryono sudah memakai pakaiannya, ia ikut membuka almarinya sendiri, barangkali sang istri lupa menaruhnya di almari suaminya. Tapi itupun tak ada.
Bu Daryono terduduk lemas di kursi, depan cermin tempatnya berdandan.
“Berarti hilang,” kata bu Daryono lemas.
Ada perhiasan lengkap di kotak itu, beberapa cincin berlian, gelang leontin dan kalung. Semuanya barang mahal, karena keluarga Daryono adalah pengusaha kaya.
“Ya sudah bu, nanti pakai aja yang ada di dalam simpanan, itu tak akan hilang karena hanya kita yang bisa membukanya,” kata pak Daryono sambil menunjuk ke arah brankas yang ada di samping tempat tidurnya.
“Tidak ada gunanya menyesali. Cepat ibu mandi dulu.”
Bu Daryono bangkit dan menuju kamar mandi dengan langkah lemas. Bagaimanapun kayanya, yang namanya kehilangan pasti membuat sedih dan kecewa.
Pak Daryono melanjutkan berpakaian, lalu kembali mengobrak abrik almarinya sendiri, juga almari istrinya. Tetap saja kotak itu tak ditemukannya.
Kesimpulannya sudah jelas, barang-barang itu hilang.
Ketika bu Daryono selesai mandi, dia masih mempersoalkan barangnya yang hilang.
“Sejak kapan ya kotak itu hilang? Seminggu yang lalu ketika syukuran di ulang tahun perusahaan, aku masih memakainya sebagian. Masih utuh barang-barangnya,” katanya sambil berdandan.
Tiba-tiba pak Daryono teringat sesuatu.
“Ma, adakah terpikir oleh kamu tentang Rosa?”
Bu Daryono terkejut.
"Apa benar dia?”
“Kemarin ada yang membuka almarimu dengan paksa, entah dengan alat apa. Itu sebabnya Mama bilang susah dibuka, walau akhirnya bisa. Dan kamar kita ini tidak pernah Mama kunci kan, kecuali almari-almarinya?”
“Coba Papa panggil Bibik,” kata bu Daryono sambil terus berdandan.
Pak Daryono keluar, dan tak lama kemudian Bibik masuk ke kamar.
“Sepatu tuan dan Nyonya sudah saya bersihkan,” kata Bibik begitu masuk.
“Bik, apa ketika Rosa menginap di sini, dia masuk ke kamarku?”
“Non Rosa? Saya tidak tahu Nyonya. Setahu saya setelah berbincang, dia langsung masuk ke kamar saya, dan saya tidur di dapur.”
“Jadi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan?”
“Tidak. Dia bangun pagi-pagi, lalu pamit pergi sebentar. Tak lama kemudian dia kembali, dan mengatakan kalau tak akan menunggu Tuan dan Nyonya pulang. Saya menahannya, tapi dia bersikeras pergi."
“Jadi kamu tidak tahu apa yang dia lakukan?”
“Saya pikir dia tidak melakukan apa-apa Nyonya, dia langsung masuk ke kamar, lalu ketika bangun itu saya sudah lebih dulu bangun. Dia minum teh buatan saya, karena waktu itu saya sedang menyeduh tehnya. Tapi hanya sebentar, kemudian pergi, entah pergi ke mana. Memangnya ada apa Nyonya? Dia tidur di kamar ini, karena tempat tidur saya kurang nyaman?”
“Nyonyamu kehilangan satu kotak perhiasan.”
“Ya Tuhan,” seru bibik sambul menutup mulutnya.
“Bukan saya Nyonya, sungguh. Puluhan tahun saya mengabdi di sini, tapi saya tidak pernah melakukan hal buruk itu. Saya takut dosa, Nyonya,” kata Bibik ketakutan.
“Satu kotak perhiasan yang sedianya akan aku pakai sebagian malam ini, lenyap tak berbekas.”
“Menurut Nyonya, apakah … apakah non Rosa yang mengambilnya?”
“Aku percaya sama kamu Bik, pasti bukan kamu. Kami sama sekali tidak menuduh kamu,” kata pak Daryono.
“Nyonya, bagaimana dia bisa mengambilnya? Bukankah almari Nyonya selalu terkunci?”
“Almariku entah kenapa memang agak rusak, susah dibukanya. Pastinya dia membuka paksa dengan kunci yang lain, sehingga ketika aku membukanya tadi, agak susah.”
“Ya Tuhan … dia bisa melakukannya?” seru Bibik, sedih.
Ia merasa bersalah, karena dialah yang mengajaknya ke rumah itu.
“Kamu tidak usah merasa bersalah Bik, ya sudah. Lain kali jangan berbaik hati lagi pada dia. Kami mau bersiap ke kondangan dulu, besok aku lapor polisi,” kata pak Daryono kemudian.
***
“Ibu mau ke mana?” tanya Satria ketika melihat Ibu dan Ayahnya berdandan.
“Mau ke kondangan, sayang. Kamu baik-baik di rumah sama Bibik ya.”
“Aku mau ikut,” rengek Satria.
“Tidak boleh Satria, besok kamu harus masuk sekolah, nanti bangun kesiangan.”
“Memangnya Ibu perginya lama?”
“Pastinya sampai agak malam. Kamu nanti tidur sama Bibik dulu ya.”
“Pulangnya nggak boleh malam-malam ya?”
“Baiklah, kami hanya sebentar.”
Satria masih duduk sambil melihat ibunya berdandan.
“Ngapain Satria di sini?” tanya Arka dari luar kamar.
Dia baru saja menyiapkan mobil di depan. Tidak perlu membawa sopir, karena hanya ke kondangan dan tidak akan lama.
“Mau ikut,” ia merengek lagi.
“Kata ibu, kami hanya sebentar. Lagian besok pagi Satria kan sekolah, jangan sampai bangun kesiangan.”
“Anak baik pasti nurut. Ya kan?” bujuk sang ibu yang sudah selesai berdandan.
“Baiklah, Satria akan nurut.”
“Anak baik,” kata Senja sambil mencium pucuk rambut anaknya.
“Kamu sudah selesai Nja?”
“Sudah Mas, tinggal memakai sepatu saja, lalu kita berangkat.”
“Baiklah, mobil sudah aku siapkan. Buruan keluar, aku tunggu di depan,” kata Arka sambil berlalu.
Senja mengenakan sepatunya, lalu mengambil tas tangan yang sudah disiapkan. Satria bersama Bibik mengantarkannya sampai ke teras.
***
Pesta yang diadakan seorang pengusaha kaya, pastilah pesta yang amat meriah dan mewah. Tamu undangan terdiri dari para pengusaha dan kerabat yang pastinya bukan orang sembarangan.
Pak Daryono dan bu Daryono datang, agak terlambat gara-gara masalah kotak perhiasan yang hilang dicuri orang.
Baru saja selesai menyalami kedua pengantin dan yang punya gawe, bu Daryono merasa ada yang menowel lengannya. Kemudian ia tertawa ketika melihat siapa dia.
“Jeng Surani? Sendirian?”
“Iya, mau sama siapa lagi, sejak suami meninggal, ke mana-mana saya kan selalu sendiri.”
“Ikut prihatin ya jeng, semoga segera dapat gantinya.”
“Ah, tidak Bu, saya lebih senang begini saja. Yang penting bisa membesarkan dan mendidik Sisi anak saya dengan baik.”
“Semoga jeng berhasil.”
“Aamiin. Tapi ngomong-ngomong, pak Daryono berdua kok datang agak terlambat. Banyak yang bertanya-tanya tadi.”
“Iya jeng, bagaimana lagi. Ketika mau berangkat ada halangan.”
“Halangan apa Bu? Kecelakaan?”
“Bukan kecelakaan kendaraan, tapi kecelakaan kehilangan.”
“Kehilangan? Kehilangan apa Bu?”
“Kotak perhiasan saya, hilang lenyap. Padahal ada di dalam almari.”
“Kok aneh Bu, ada pencuri masuk pastinya.”
“Besok suami mau melaporkannya kepada polisi. Baru saja ketahuan, ketika saya mau memakainya.”
“Baru-baru ini saya juga kehilangan Bu, tapi kehilangan kecil-kecilan. Hanya gelang anak saya yang sebelah kiri.”
“Gelang emas itu bukan kecil-kecilan. Ada yang mencuri? Ketahuan?”
“Tadinya dikira jatuh ketika sedang jalan-jalan bersama pengasuhnya. Belakangan diketahui, yang mencuri adalah pengasuhnya sendiri itu.”
“Ya ampun, bagaimana bisa ketahuan?”
“Ketika saya mau membeli lagi gelang itu untuk mengganti yang hilang, pemilik toko ternyata memiliki gelang yang sama. Dia bilang, yang menjual seorang wanita. Ketika saya tunjukkan foto dia di ponsel saya, dia berteriak. Ini Bu, benar ini yang menjual."
“Saya heran, Rosa bisa melakukannya. Wajahnya cantik, hatinya buruk."
“Tunggu Jeng, nama siapa yang Jeng sebut tadi?”
“Pengasuh anak saya, namanya Rosa.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah AaAaeS_15 sdh tayang.
ReplyDeleteMatur nuwun Dhe
😊🥰🌹
🌻🥀🌻🥀🌻🥀🌻🥀
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung AaAaeS_15
sudah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🌻🥀🌻🥀🌻🥀🌻🥀
Waduh bu $urani ketemu bu Daryono.
ReplyDeleteCrita bu Surani kelingan gelang kiri anaknya yang nyuri pengasuhnya, bernama Rosa.
Bu Daryono dtg terlambat tiba di pesta karena kehilangan kotak perhiasan, dimana malam sebelumnya Rosa tidur di rumah bu Daryono.
Dengan kedua bukti tsb polisi yang menerima laporan Pak Daryono, sdh dapat titik terang, tinggal nyari posisi Rosa.
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga aamiin.
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda . Sudah tayang. Semoga sehat slalu.
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien
Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu
Terimakasih bunda Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Rosa...
ReplyDeleteMksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah AaS dah tayang, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDelete🌷Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 15 ~ Sudah tayang 👍💐 Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAlhamdulillah terima kasih bunda Tien ,cerbung AAS nya sudah tayang,
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~15 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),15 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk...
ReplyDelete