Friday, August 14, 2026

AKU ANAK SIAPA 11

 AKU ANAK SIAPA  11

(Tien Kumalasari)

 

Pak Gatot bingung. Ponsel yang diulurkan Bibik belum diterimanya, membuat Bibik sendiri juga bingung, mengira pak Gatot tidak mengerti maksudnya.

“Ini Pak, ini punya Mbak Rosa, saya berikan ke Bapak, khawatirnya kalau nanti ada yang penting.”

“Masalahnya … saya tidak yakin kalau itu punya Rosa.”

“Bapak gimana sih, beberapa hari ini mbak Rosa membawa ponsel.”

“Setahu saya dia tidak punya ponsel.”

“Pak Gatot ini aneh. Ini benar-benar ponsel mbak Rosa, saya khawatir kalau ada berita penting atau apa, karenanya saya titipkan Bapak. Rumah kostnya di pertigaan itu, masuk gang. Hanya ada satu rumah kost di situ. Bapak belum pernah ke sana? Apa mbak Rosa tidak memberi tahu ayahnya?”

“Tidak. Tapi saya tahu rumah kost itu. Hanya belum pernah ke sana.”

“Ya sudah, ini Pak, tolong Pak Gatot berikan pada mbak Rosa, tadi saya tahunya juga karena mendengar ada dering ponsel, ternyata punya mbak Rosa.”

“Apa nyonya Surani memberi ponsel pada Rosa?”

“Tidak tuh. Setahu saya tidak. Mungkin mbak Rosa membeli, kelihatannya juga bukan ponsel baru.”

Pak Gatot menerima ponsel itu dan mengamatinya. Dari mana Rosa mendapatkan ponsel ini? Beli? Apa dia punya uang?

“Uang yang saya berikan kemarin untuk beli ponsel? Tidak mungkin. Walau bukan ponsel baru, tapi ini ponsel mahal, limaratus ribu nggak akan boleh. Apalagi aku memberi uang pada Rosa hanya duaratus ribu,” gumam pak Gatot setelah bibik kembali ke rumah. 

Lalu dari mana Rosa mendapatkan uang untuk beli ponsel?

Pak Gatot terus bertanya-tanya, tapi dia belum beranjak mencari Rosa di rumah kost. Dia sedang bertugas, mana bisa pergi ke sana? Bisa kena tegur dia.

***

Bibik masuk ke rumah, nyonya Surani ternyata sudah pulang.

“Dari mana Bik? Kamu tinggalkan Sisi sendirian.”

“Non Sisi sedang tidur, saya hanya menemui pak Gatot, menitipkan ponsel mbak Rosa yang ketinggalan.”

“Memangnya pak Gatot belum pulang?”

”Dia lanjut sampai malam, karena yang menggantikan tidak masuk.”

“Oh, iya benar. Pak Gatot lembur hari ini. Nanti kirimin teh panas sama cemilan ya Bik. Pak Gatot itu walau sudah berumur tapi sangat rajin.”

“Baik Nyonya. Memang pak Gatot itu rajin. Berbeda dengan mbak Rosa.”

“Maksudnya berbeda apa ?”

“Mbak Rosa itu tidak begitu rajin. Semua pekerjaan yang ada hubungannya dengan non Sisi, dilakukannya hanya kalau diingatkan. Dulu malah mengira kalau dia tidak perlu mencuci atau menyetrika baju-baju non Sisi. Dia seperti terkejut ketika saya ingatkan bahwa pakaian non Sisi yang di keranjang kotoran itu harus dia yang mencucinya.”

“Masa? Memangnya tugas dia hanya bermain atau jalan-jalan saja sama Sisi?”

“Tapi sekarang sudah agak mapan, walaupun sebentar-sebentar harus diingatkan.”

“Mungkin dia belum pernah bekerja seperti itu.”

“Sepertinya belum pernah bekerja. Nyonya langsung menerima saja sih.”

“Aku kan hanya mengingat pak Gatot. Sudah bertahun-tahun pak Gatot bekerja di sini, sejak aku masih gadis. Dia bilang Rosa anaknya, ya sudah aku terima saja.”

“Sepertinya bukan anak pak Gatot. Kelihatan berbeda sekali sama pak Gatot, terutama cara dia bekerja.”

“Mungkin dia perlu banyak belajar juga, kamu harus telaten mengajarinya.”

“Baik Nyonya.”

“Ya sudah, aku mau mandi dan istirahat. Jangan lupa pak Gatot diberi minum dan cemilan.”

“Iya Nyonya, sampai lupa.”

***

Rosa sudah terbaring di ranjangnya dengan lunglai. Ia merasa lelah. Sangat lelah. Ia harus benar-benar bekerja, dari bersih-bersih kamar anak majikannya, memasak makanan khusus untuknya, mencuci dan menyetrika pakaiannya, menyuapi dan menemaninya bermain yang terkadang juga menguras tenaganya karena anak tersebut sudah bisa berjalan dan berlari-lari kecil. Ia harus menjaga jangan sampai majikan kecilnya terluka ataupun sakit. Pokoknya anak nyonya Surani harus dilayani sangat sempurna, sehingga Rosa yang tidak pernah bekerja merasa sangat capek di kesehariannya.

Tapi ia merasa lega, sudah bisa terlepas dari pak Gatot yang tentu saja akan selalu mengetahui semua gerak geriknya.

Hanya saja ia merasa modal dari penjualan gelang itu belum cukup banyak. Ia harus membayar orang yang membantunya.

Tiba-tiba ia teringat akan ponselnya. Ia terkejut ketika  pulang tidak membawa ponselnya.

“Ya ampun, ketinggalan di kamar Bibik.”

Rosa segera bangkit dan bergegas pergi ke rumah nyonya Surani. Ia lewat pintu samping yang ketika masuk langsung bisa sampai ke kamar Bibik.

"Bik … Bibik.” ia menuju dapur, di mana Bibik sedang bekerja sambil menggendong Sisi.

Bibik terkejut.

“Mbak Rosa ngapain ke sini?”

“Tolong ambilkan ponsel di kamar Bibik,” katanya pelan, takut terdengar nyonya Surani sehingga ia harus menjawab banyak pertanyaan.

“Lho, belum diantar ke tempat kost mbak Rosa?”

“Belum, siapa yang mengantar?”

“Pak Gatot.”

“Mati aku,” pekiknya tiba-tiba.

“Lhoh, kok mati?”

“Bapak tidak suka aku memakai ponsel.”

“Memangnya kenapa? Bibik saja yang hanya pembantu diijinkan punya ponsel. Karena ponsel itu kan penting untuk mengirimkan pesan dan lain-lain.”

“Waduh, kok Bapak tidak ke rumah kost ya?”

“Pak Gatot masih bertugas, apa mbak Rosa tidak melihatnya?”

“Bertugas? Jam segini?”

“Yang menggantikan tidak masuk, jadi pak Gatot bertugas sampai malam. Coba mbak Rosa ke sana.”

Rosa tidak menjawab, ia membalikkan badannya lalu keluar. Dari arah samping ia melihat pak Gatot memang masih berjaga. Ia duduk di samping toko, sambil menyantap cemilan.

Rosa berdebar, alasan apa yang akan dikatakannya kalau pak Gatot bertanya tentang ponsel itu. Bukankah menurutnya dia tak punya uang? Bagaimana bisa membeli ponsel? Walau begitu Rosa tetap berjalan memasuki area toko. Pak Gatot melihatnya, dan menatapnya dingin.

Rosa mendekat, berusaha bersikap wajar. Ia tidak yakin apa yang akan menjadi jawabannya nanti akan dipercaya oleh pak Gatot. Selama ini dia menyembunyikan diri, dan tak pernah mengaku siapa dirinya sebenarnya. Apakah akhirnya nanti ia harus berterus terang?

Rosa terus melangkah, dan pak Gatot meneruskan mengunyah cemilannya.

“Bapak belum pulang?” itu ucapan pertama yang dilontarkannya.

“Seperti kamu lihat, aku masih di sini.”

“Pasti capek ya Pak?” tanyanya dengan santai. 

Pak Gatot meraih sesuatu dari dalam saku bajunya.

“Kamu mencari ini?” katanya sambil mengacungkan ponsel di tangannya.

“Iya Pak, tadi ketinggalan di kamar Bibik.”

“Kamu beli ponsel?”

“Itu … diberi oleh nyonya Surani.”

“Masa?”

“Iya Pak, masa Rosa bisa beli ponsel, uang dari mana?”

“Itu juga yang ingin aku tanyakan. Uang dari mana.”

“Tapi itu bukan saya yang beli. Hanya ponsel bekas nyonya Surani.”

“Kamu bohong.”

“Bapak kok tidak percaya?”

“Soalnya tadi aku tanya sama Bibik, apakah nyonya Surani yang memberikan ponsel kepada kamu, kata Bibik … tidak. Jadi kamu berbohong.”

"Mana Bibik tahu kalau saya diberi ponsel. Nyonya memberinya diam-diam, jangan sampai Bibik tahu, nanti Bibik iri hati, mengapa saya diberinya ponsel.”

Soal bohong, Rosa adalah juaranya. Pintar sekali ia memberi jawaban. Tidak perlu lama berpikir, jawaban itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Untuk apa kamu punya ponsel? Kamu punya teman yang bisa kamu hubungi dengan ponsel kamu?”

“Hanya untuk main saja Pak.”

“Main? Apa kamu tahu, tadi ada yang menelpon kamu.”

Rosa terkejut. Rasanya seperti disambar geledeg. Tapi ia masih berusaha menangkis pertanyaan tu.

“Paling salah sambung Pak.”

“Salah sambung? Dia menyebut namamu, dan bertanya tentang uang.”

***

Besok lagi ya.

19 comments:

  1. Alhamdulillah eps_11 sdh tayang.

    Dasar penipu klas teri.... Rosa oh Rosa sadar lah.....

    Matursuwun mBak Tien salam SEROJA dan tetap ADUHAI

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah sdh tayang.
    Matur nurun mBak Tien 🩷

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA~11 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga aamiin.

    ReplyDelete
  6. 🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung AaAaeS_11
    sudah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️

    ReplyDelete
  7. Mksh bunda Tien sehat selalu doaku
    ADUHAI ADUHAI ADUHAI ADUHAI ADUHAI

    ReplyDelete
  8. Mks bun......selamat mlm smg bunda saklrg sll sehat slldlm lindungan Allah

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun Bunda
    Semoga sehat slalu. Beserta keluarga
    Dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah
    Terima kasih Bu Tien
    Semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah
    Maturnuwun bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah, telah tayang...
    Sehat selamanya bunda...aamiin.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah bunda, cerbungnya,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🀲🀲

    ReplyDelete
  14. Alhamdulilah, maturnueun bu Tien.
    Cerbung kesayangan sdh hadir... smg ibu sekeluarga sll sehat bshagia dan tetap aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah AKU ANAK SIAPA(AAS),11 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien, cerbung AAS telah tayang, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  18. Terimakasih bunda Tien, cerbung asyik sudah tayang. Salam sehat, semangat dan bahagia selalu bunda Tien .sekeluarg

    ReplyDelete

AKU ANAK SIAPA 11

  AKU ANAK SIAPA  11 (Tien Kumalasari)   Pak Gatot bingung. Ponsel yang diulurkan Bibik belum diterimanya, membuat Bibik sendiri juga bingun...