AKU ANAK SIAPA 10
(Tien Kumalasari)
Pak Gatot berteriak, karena Rosa tidak merasa barangnya jatuh. Tapi Rosa sudah keburu masuk kamar. Pak Gatot agak heran karena dompet Rosa terasa tebal. Ia ingin membukanya, tapi Rosa keburu keluar dari kamar. Ketika masuk ia ingin segera menghitung uangnya lagi, tapi kok dompetnya nggak ada. Itu sebabnya maka dia keluar lagi.
“Rosa?” kata pak Gatot sambil mengacungkan dompet yang ditemukannya.
“Dompet saya?”
“Ini kah? Jatuh ketika kamu beranjak masuk.”
“Oh, terima kasih, Pak.”
“Dompetmu kok tebal banget, apa sudah gajian?”
“Oh, belum Pak, ini isinya kertas-kertas catatan. Nyonya Surani kan sangat teliti, saya diberinya catatan tentang banyak hal mengenai non Sisi. Jadwal tidur, jadwal makan, jadwal minum susu, dan banyak lagi. Saya menyimpannya supaya tidak lupa,” jawab Rosa dengan cerdas. Pintar sekali dia mengarang dan berbohong.
“Oh, begitu ya, kirain kamu sudah banyak uang,” goda pak Gatot yang menerima begitu saja keterangan Rosa.
Rosa tertawa lucu.
“Besok kalau sudah menerima gaji Pak, baru Rosa punya uang," katanya sambil beranjak masuk ke kamar.
“Tunggu Ros. Kamu tadi mengatakan besok sudah mau pindah ke rumah kost, bukankah harus membayar? Berapa sih sewanya?”
“O, bayarnya tidak sekarang Pak, saya sudah bilang, bayarnya nanti kalau saya sudah gajian. Dan pemilik rumah itu mengijinkan kok.”
“Kamu sungguh-sungguh mau meninggalkan bapak?”
Rosa memegang lengan pak Gatot, bermaksud menenangkan.
“Pak, Rosa janji akan datang kemari setiap liburan, jadi Bapak jangan merasa kehilangan Rosa. Lagipula kalau ingin ketemu kan bisa di tempat kerja?"
“Jadi kamu serius?”
“Saya melakukannya karena memikirkan Bapak. Jadi setiap Bapak selesai bertugas bisa langsung pulang, tidak usah menunggu Rosa.”
Pak Gatot hanya bisa mengangguk, tapi tampak sekali wajahnya muram. Walau begitu Rosa tidak mempedulikannya. Dia punya rencana, dan kali ini harus terlaksana.
Begitu Rosa masuk ke kamar, pak Gatot duduk sendirian di terasnya yang sederhana. Hanya sebuah bangku memanjang dan sebuah meja yang dipajang di teras itu. Pak Gatot termenung, dan tiba-tiba merasa sedih. Hampir sebulan ini ia merasa punya teman, yang dianggapnya sebagai anak sendiri. Karena ingin agar si anak angkat mendapat penghasilan, ia mencarikannya pekerjaan. Anak yang dipungut dari jalanan, diberi pakaian yang pantas, setelah mendapatkan pekerjaan malah akan meninggalkannya. Tapi dia bisa berbuat apa? Sebenarnya Rosa kan memang bukan siapa-siapanya dia, jadi dia tak berhak melarangnya.
Pak Gatot mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari mata tuanya. Ada sebuah ingatan yang membuatnya selalu merasa perih, tentang orang yang pernah dicintainya. Rasa hangat karena mendapat teman, esok hari sudah lenyap tak berbekas, seperti ketika ia kehilangan segala-galanya.
***
Pagi itu, wajah pak Gatot tidak secerah di pagi-pagi sebelumnya. Ketika ia mau berangkat bekerja, Rosa keluar dari kamar sambil membawa keresek besar, yang pastinya berisi pakaian-pakaian. Pak Gatot yang memberikan semua itu, karena saat ditemukan Rosa tak memiliki apa-apa. Berpakaian kumal, digebugi banyak orang karena mencuri sepotong roti. Ingatan itu kembali membuatnya sedih.
“Itu semua pakaian kamu?”
“Iya Pak, tidak apa-apa. Ini semua atas budi baik Bapak. Semoga kelak saya bisa membalasnya."
“Aku tidak mengharapkan balasan apapun. Yang penting kamu senang dan bahagia.”
“Saya janji akan selalu menengok Bapak setiap libur.”
Pak Gatot tidak mengangguk. Ia mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Tidak banyak, tapi pak Gatot berharap Rosa bisa tercukupi semua kebutuhannya sebelum Rosa menerima gaji pertamanya.
“Ini untuk kamu.”
“Ini? Mengapa Bapak memberi saya uang?”
“Barangkali kamu membutuhkan sesuatu, sebelum kamu menerima gaji.”
“Tidak usah Pak, saya kan sudah cukup makan dan minum, karena setiap hari keluarga nyonya Surani pasti memberikannya.”
“Terima saja,” kata pak Gatot sambil meletakkan uang itu dalam genggamannya.
Ada sedikit haru dirasakan Rosa, ketika merasakan tangan pak Gatot bergetar. Ia menatap wajah laki-laki setengah tua yang tampak suram.
“Bapak jangan sedih ya?”
“Tidak, sebelumnya aku juga sendirian. Ayo berangkat, nanti keburu telat. Jangan sampai datang setelah nyonya Surani berangkat kerja.”
Rosa mengangguk. Ia meletakkan uang ke dalam keresek, yang kemudian ditegur oleh pak Gatot.
“Mengapa tidak dimasukkan ke dalam dompet? Keluarkan saja kertas-kertas catatan kamu, simpan di tempat lain, sedangkan uang itu sebaiknya kamu simpan ke dalam dompet.”
“Nanti saja sesampai di sana saya mengaturnya Pak, tidak apa.apa. Diletakkan di sini juga aman. Saya kan mendekapnya erat-erat?”
Pak Gatot hanya bisa mengangguk, lalu ia mulai menstarter sepeda motor bututnya.
***
Bibik heran ketika Rosa datang dengan membawa buntalan, lalu diletakkannya di dapur.
“Ini bungkusan apa Mbak?”
“Baju-baju saya Bik, nanti saya pulangnya langsung ke tempat kost.”
“Jadi ?”
“Iya, jadi. Kemarin sudah bicara banyak.”
“Kasihan pak Gatot, jadi pulang sendiri.”
“Justru saya kasihan sama Bapak, kalau setiap hari harus menunggu saya menyelesaikan tugas saya. Mulai nanti Bapak bisa langsung pulang, tidak usah menunggu saya.”
“Ada apa?” tiba-tiba nyonya Surani mendekati mereka.
“Ini Nyonya, mbak Rosa mulai nanti tinggal di tempat kost.”
“Tempat kost di mana?”
“Dekat situ. Katanya kasihan sama pak Gatot kalau setiap pulang harus menunggu mbak Rosa menyelesaikan tugasnya.”
“Mengapa tidak tidur di sini saja? Kamar bibik kan besar, bisa untuk berdua. Kalau malam Sisi kan tidurnya sama saya.”
Tawaran yang bagus, Rosa tidak usah mengeluarkan uang sewa kost, tapi kalau sekamar dengan Bibik, dia tak bisa leluasa melakukan apa saja yang diinginkannya.
Karena itu dia menolaknya.
“Terima kasih Nyonya, tidak apa-apa, saya sudah terlanjur memesan kamar kost untuk saya.”
“Ya sudah, terserah kamu saja, tapi kalau kamu tidak kerasan di tempat kost, kamu boleh kok tinggal d sini. Malah gampang, setiap saat bisa mengawasi Sisi.”
“Nanti gampang Nyonya, biar saya menjalaninya dulu sebulan ini.”
Nyonya Surani hanya mengangguk. Dia bersiap pergi setelah menyerahkan Sisi ke tangan Rosa.
***
Rosa menyelesaikan tugasnya ketika sudah sore. Dia membawa keresek berisi barang-barangnya ke tempat kost, dan merasa terlepas dari belenggu. Ia kan bisa melakukan apapun tanpa takut dicurigai. Ia juga bisa menyimpan uangnya dimanapun, tanpa harus sembunyi-sembunyi.
Di hari yang lain ia langsung menghubungi seseorang yang dianggapnya bisa membantunya. Ia meletakkan barang-barangnya di kamar kost yang sempit, kemudian pergi keluar. Lalu ia mampir ke sebuah toko ponsel bekas. Itu penting, agar dia tidak harus bolak balik pergi kalau bisa berhubungan melalui ponselnya.
Rosa merasa hidupnya sengsara, dan sangat geram kepada Senja yang hidup bak putri raja. Pakaian bagus, keluar masuk toko, kemana-mana naik mobil.
“Orang kampung jelek, merasa bisa menginjak-injak aku dengan memasukkanku ke dalam penjara? Awas saja, kamu akan merasakan kesengsaraan melebihi apa yang aku rasakan.” geramnya tanpa sadar, bahwa kesengsaraan yang dirasakan adalah karena ulahnya sendiri. Dan tanpa sadar pula bahwa ia akan mendapatkan akibat yang sama kalau dia masih tetap mengabdi kepada dendam yang menguasainya.
***
Sore hari itu, pak Gatot belum pulang, karena satpam yang bertugas sore sampai malam tidak masuk bekerja.
Ia melihat Rosa keluar dari rumah majikannya, tanpa menoleh ke arahnya. Barangkali ia merasa bahwa dirinya sudah pulang. Pak Gatot tak berusaha untuk menyapanya. Ia sedang melayani pembeli yang menanyakan sesuatu.
Beberapa saat berlalu, ketika tiba-tiba Bibik keluar dan mendekati pak Gatot.
“Pak Gatot, ini ada barang mbak Rosa yang ketinggalan. Mungkin karena dia terburu-buru.,” kata Bibik.
“Barang apa?”
“Ponsel mbak Rosa. Ini lho Pak. Bapak bawa saja, atau Bapak antarkan ke tempat kostnya.”
Pak Gatot melongo. Kapan Rosa punya ponsel?
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah udah tayang mksh bunda Tien
ReplyDeleteSami2 wuk
DeleteAlhamdulillah sdh tayang AaAaeS_10.
ReplyDeleteMatur nuwun Dhe, sugeng dalu, sugeng aso salira. Salam SEROJA dan tetap ADUHAI π₯°πΉ
Sami2. Salam aduhai..
Deleteπ₯ππ₯ππ₯ππ₯π
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung AaAaeS_10
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
π₯ππ₯ππ₯ππ₯π
Alhamdulliah
ReplyDeleteTerimakasih Bu DA Tien. Semoga sehat slalu beserta keluarga
Alhamdulillah "AKU ANAK SIAPA 10" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng dalu π
Alhamdulillah, AAS dah tayang, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta π❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah AKU ANAK SIAPA~10 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Matur nuwun mbak Tien-ku AKU ANAK SIAPA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga aamiin.
Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbungnya bunda Tien,
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat, selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT π€²π€²
Matur nuwun Bunda Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk
ReplyDeleteAlhamdulillah, mtr bu Tien, salam sehat selaku
ReplyDeleteAlhamdulillah telah tayang,...
ReplyDeleteSehat selamanya bunda,...aamiin.
π·Alhamdulillah. ~ AKU ANAK SIAPA 10 ~ Sudah tayang ππ Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat Wal afiat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulillah... A.A.S 10 sdh tayang. Matur nuwun bu Tien. Semoga bu Tie +pak Tom slalu sehat dan dalam Perlindungan Allah SWT. Salam bahagia dan ADUHAI... ππ
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, salam sehat selalu, tetap semangat dan bahagia selalu bunda Tien beserta keluarga.... Aamiin YRA
ReplyDelete