Friday, July 17, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 51

 NAMAKU TETAP SENJA  51

(Tien Kumalasari)

 

Simbok merasa senang, ketika Senja hanya akan sehari besok saja bekerja di salon. Kecuali tempatnya jauh, terkadang pulangnya tidak tentu. Lagi pula Senja kurang senang karena disuruh belajar memijit, entah itu pria ataukah wanita. Senja bukan anak kecil, dia tahu arti cara memandang beberapa pria pelanggan saat mereka meminta dirawat. Entah rambut dipotong, entah wajah dibersihkan. Mengapa juga mereka memandang dengan cara yang tidak menyenangkan. Jadi ia bersyukur Arka menawarinya pekerjaan. Entah pekerjaan apa. Tukang bersih-bersihpun Senja mau. Yang penting tidak melayani pelanggan seperti pelanggan bu Mery, yang seringkali menatapnya dengan cara yang dianggapnya tidak sopan.

“Jadi besok kamu hanya akan minta ijin ya Nja, tidak sampai sore kan?”

“Iya Mbok, tidak apa-apa seandainya tidak mendapat upah, kan baru bekerja beberapa hari.”

“Tidak apa-apa tidak mendapat upah, yang penting kamu bisa merasa lebih tenang, tidak terlalu capek. Anggap saja kamu membantu orang, tidak usah mengharapkan imbalan.”

“Iya Mbok.”

“Wah, tidak jadi potong rambut gratis dong aku,” celetuk Rimba sambil tertawa lucu.

“Nanti Mbak potong, sedikit banyak Mbak sudah belajar memotong dari melihat cara bu Mery memotong rambut pelanggannya. Aku kira bisa. Besok kalau sudah di rumah aku akan coba memotong rambut kamu.”

“Wah, kalau untuk percobaan nggak mau, bagaimana kalau botak separo,” canda Rimba, membuat semuanya tertawa.

“Ada-ada saja. Masa iya, ada orang memotong botak separo? Pokoknya kamu akan tambah guanteng nanti.”

***

Sudah agak malam ketika Arka sampai di rumah, membuat ayah dan ibunya bertanya-tanya.

“Ke mana saja kamu Ka? Tumben pulang sampai malam.”

“Ada perlu ketemu teman.”

“Kalau begitu mandi dulu sana, biar bibik menyiapkan makan malam untuk kamu,” kata sang ibu.

“Baik, Arka mau mandi dulu.”

“Bapak besok ke kantor kan?” tanya Arka sebelum masuk ke kamarnya.

“Iya, ke kantor dulu, sebentar. Bapak mau ada perlu setelahnya.”

“Jangan buru-buru pergi. Ada yang Arka ingin bicarakan.”

“Bapak masih mau menungguin teman Bapak itu?” tanya bu Wiguna.

“Tidak. Ada perlu yang lain.”

Dan saat itu juga ponsel pak Wiguna kembali berdering.

“Ya, ada apa? Kan aku minta jangan menelpon?”

“Hanya untuk memastikan, Bapak seharian tidak ke rumah. Bagaimana dengan besok?”

“Besok ya besok, aku pasti datang.”

“Dan pikirkan tentang balik nama rumah ya Pak, kalau perlu hari itu juga, surat-surat yang diperlukan jangan lupa Bapak bawa, aku sudah menyiapkan semuanya.”

“Selamat malam,” hanya itu jawaban pak Wiguna, sebelum menutup ponselnya.

“Ada apa? Kelihatannya Bapak kesal.”

“Tidak apa-apa,” katanya sambil melenggang ke arah depan.

Dan seperti biasa bu Wiguna tak pernah mendesak apapun yang ditanyakannya, walau sebenarnya ia ingin tahu.

***

Pagi hari itu Arka sudah berada di ruangan sang ayah. Ia menanyakan tentang rumah yang dibeli oleh ayahnya.

“Rumah itu masih atas namaku, dia memintanya agar dibalik nama menjadi milik dia.”

“Bapak ingin memenuhinya?”

“Sebenarnya bapak sedikit merasa bahwa dia terlalu banyak meminta. Aku sudah memenuhinya, tapi masih ada saja yang dia minta, termasuk rumah itu.”

“Bapak ingin memenuhinya, tentang rumah itu?” ulang Arka.

“Bapak berpikir tentang anak yang dikandungnya. Barangkali Bapak memang akan meninggalkan dia, tapi bayi yang dikandungnya adalah darah daging Bapak. Bapak rasa biarlah rumah itu akan bapak berikan untuk dia, demi anak bapak yang dikandungnya.”

”Bagaimana kalau bayi yang dikandungnya bukan darah daging Bapak?”

“Apa?”

Pak Wiguna tampak terkejut.

“Dia mengandung anakku. Dia hamil setelah adanya bapak yang selalu mengunjungi dia.”

“Bagaimana kalau dia sudah hamil ketika mendekati Bapak?”

“Arka, kamu boleh benci kepada seseorang. Bapak mengerti, keberadaan wanita itu pasti melukai hati ibumu dan kamu pasti tidak rela, tapi jangan kamu kemudian membuat tuduhan yang tidak beralasan.”

“Banyak kejadian, perempuan yang hamil entah oleh siapa, kemudian mendekati seseorang, dan melakukan hal yang bisa membuat orang tersebut mengira bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah dagingnya.”

“Arka, kamu sering melihat sinetron?”

Arka tertawa.

“Mana sempat Arka melihat sinetron. Kalau pulang dari kantor sudah lelah.”

“Tapi kamu mengada-ada.”

“Siapa tahu hal itu benar. Apakah ketika bertemu Bapak dia masih perawan?”

Pak Wiguna terdiam.

“Kalau dia masih perawan, bisa jadi bayi yang dikandungnya adalah darah daging Bapak. Kalau tidak, banyak kemungkinan terjadi. Dia dihamili orang kemudian ditinggalkan, atau sengaja mendekati orang yang punya duit agar mendapatkan kehidupan mewah.”

“Bagaimana aku bisa tahu tentang hal itu?”

“Tes DNA.”

“Apa?”

“Itu satu-satunya jalan, agar Bapak yakin anak itu anak siapa.”

“Mana dia mau?”

“Ajak ke rumah sakit, di sana dia tak akan bisa menolak. Lagipula kalau bayi yang dikandungnya benar-benar darah daging Bapak, dia pasti tak akan keberatan.”

Tiba-tiba pak Wiguna juga merasa ragu. Ia mulai menghitung-hitung,

“Jadi masalah rumah biar saja dulu ya, tidak buru-buru dipindah namakan atas nama dia.”

“Betul Pak, itulah hal terbaik yang harus Bapak lakukan.”

***

Senja sudah sampai di tempat kerjanya. Ia tak mau langsung mengatakan bahwa ia ingin resign. Ia tetap mengerjakan pekerjaannya seperti yang setiap hari dilakukannya. Bersih-bersih, dan menata apa saja agar terlihat rapi saat pelanggan datang. Sebenarnya bu Mery suka pada pekerjaan Senja. Dia rajin dan cekatan, serta mengerti apa yang harus dilakukannya.

Setelah selesai, Senja mendekati bu Mery, ingin mengatakan bahwa ini hari terakhir dia bekerja.

Tapi sebelum dia mengatakannya, bu Mery menariknya ke sebuah ruangan, di mana para pelanggan dilayani bagi yang ingin dipijit.

“Aku beri tahu kamu, bagaimana cara memijit yang benar, agar pelanggan suka dan tidak bosan datang kembali kemari.”

“Tapi Bu … “

“Lihat aku, ini adalah titik-titik yang harus kamu pelajari setiap memijit," bu Mery menunjukkan ke tubuhnya sendiri, di bagian mana yang harus dipijit.

Senja kehabisan waktu untuk berkata-kata, dan akhirnya ia memperhatikan juga apa yang diajarkan bu Mery.

“Kamu paham?”

“Bu, sebenarnya ….”

“Aku tahu kamu tidak suka memijit para pria. Tapi hanya memijit, apa salahnya?”

“Itu tidak boleh Bu, agama saya melarangnya menjamah tubuh orang yang bukan mahram.”

“Kalau kamu keberatan, kamu bisa tanpa menyentuhnya. Dia berpakaian, apa namanya menyentuh?”

“Tapi Bu, sebenarnya hari ini saya mau minta ijin.”

“Senja, jangan minta ijin hari ini. Sita ijin hari ini. Dia yang biasa memijit pelanggan, jadi aku minta tolong hari ini saja kamu menggantikannya, sambil belajar.”

“Bukan minta ijin untuk tidak masuk Bu, saya mau berhenti.”

“Apa? Kamu mau berhenti?”

“Berhenti? Ada apa Senja? Kamu sudah baik bekerja di sini, dan aku suka pekerjaan kamu. Kamu tidak usah keluar, nanti gaji kamu akan saya berikan dua kali lipat.”

“Maaf Bu, saya … bekerja di sini, kejauhan, jadi ….”

“Kalau kejauhan, kamu bisa membawa pulang motorku. Kalau naik motor kan tidak terasa jauh.”

Tawaram bu Mery tampak berlebihan. Seperti memaksa.

“Tapi saya … maaf Bu, ini hari terakhir saya masuk.”

“Kamu baru beberapa hari, kamu tidak akan mendapat gaji,” kata bu Mery sedikit kesal.

“Tidak apa-apa seandainya tidak mendapat gaji. Ini kan kemauan saya sendiri.”

“Selamat pagi …”

Terdengar suara berat laki-laki. Pembicaraan dengan bu Mery terhenti.

“Waduh Alex, tukang pijit kamu hari ini tidak masuk, tapi jangan khawatir, ada yang akan menggantikannya.”

***

Besok lagi ya.

17 comments:

  1. Alhamdulillah "NAMAKU TETAP SENJA 51" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  2. Rapopo Dhe, sing penting sehat.
    Yen sehat pasti bisa nulis, jika ga sehat kadang nulis ning aja meksa.
    Sugeng dalu.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, sudah tayang lagi.
    Sehat selalu selamanya bunda...aamiin

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,51 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  6. 🌳🦜🌳🦜🌳🦜🌳🦜
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_51
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🌳🦜🌳🦜🌳🦜🌳🦜

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah
    Matur nuwun Bunda.
    Semoga Bunda dan keluarga sehat walafiat. Aamiin..
    Bagus lah Senja kami keluar daripada diperalat. Sukses Senja.

    ReplyDelete
  8. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  9. Alhamdulilah cerbung kesayangan sampun tayang..
    Maturnuwun bu Tien.
    Salam sehat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  10. 🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 51 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang aamiin

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah cerbung NTS sudah tayang , terima kasih bunda Tien,
    Semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🀲🀲

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah senja telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  15. Bagaimana kisah Senja selanjutnya? Jadi penasaran.... Masih tunggu besok. Terimakasih bunda Tien, semakin sehat, semangat, dan bahagia selalu....

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 51

  NAMAKU TETAP SENJA  51 (Tien Kumalasari)   Simbok merasa senang, ketika Senja hanya akan sehari besok saja bekerja di salon. Kecuali tempa...