NAMAKU TETAP SENJA 48
(Tien Kumalasari)
Arka membuka halaman demi halaman. Dan semua uang yang keluar, sangat banyak. Semuanya beserta surat tanda terima dari ayahnya.
“Begitu banyak Bapak mengambil uang kantor? Untuk apa?” gumamnya.
Arka geleng-geleng kepala. Tapi kemudian ia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan kepada sang ayah. Ia tahu pak Wiguna belum datang ke kantor, karena dia berangkat pagi-pagi.
“Bapak, kalau ke kantor jangan langsung pergi, saya mau bicara.”
Itulah bunyi pesan yang dikirimkannya.
Arka menunggu. Tak ada balasan. Apakah ayahnya belum berangkat?
Arka menelpon sang ibu, menanyakan apa ayahnya sudah berangkat. Dan jawaban sang ibu adalah bahwa ayahnya baru saja berangkat.
“Baiklah Bu, saya sedang menunggu untuk membicarakan masalah keuangan,” kata Arka mengakhiri pembicaraan dengan sang ibu.
“Jadi bapak baru saja berangkat. Barangkali masih di jalan, jadi belum membaca pesanku,” gumam Arka.
Arka menunggu. Ia berpesan kepada sekretarisnya bahwa kalau sang ayah datang ia minta sekretaris memberitahukan kepadanya.
Tapi sebelum sekretaris itu memberitahu, sang ayah sudah masuk ke dalam ruangannya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” kata sang ayah yang kemudian duduk di sofa.
Arka berdiri. Mengikutinya ke sofa sambil membawa berkas yang tadi diberikan sekretarisnya.
“Ini laporan dari bagian keuangan,” kata Arka sambil memberikan berkas itu.
Pak Wiguna membukanya sekilas, tapi kemudian menatap tajam sang anak.
“Memangnya ada apa?”
“Bapak mengeluarkan uang begini banyak dalam dua bulan ini.”
“Memangnya kenapa?”
“Pak .. untuk apa semua ini?”
“Aku pemilik perusahaan ini, apa salah aku mengambil uangku sendiri?”
“Tapi Pak, ini perusahaan. Seribu rupiah pengeluaran harus ada pertanggungan jawabnya.”
“Jangan mentang-mentang kamu bapak beri kedudukan sebagai direktur di sini, lalu kamu bisa mengaturku.”
“Apakah Bapak meminta aku duduk di sini hanya sekedar duduk, ataukah harus mengendalikan perusahaan ini agar terus berjalan mulus? Agar bertambah maju, dan lebih banyak menghasilkan?”
“Arka, tapi kamu tidak bisa mengaturku. Aku pemilik perusahaan ini.”
“Kalau Bapak adalah pemilik, lalu apakah Bapak bebas mengatur keluarnya uang tanpa ada pertanggung jawabannya? Terserah saja Bapak mengambil uang, tapi kan harus jelas untuk untuk apa?”
“Bapakmu ini suka menolong orang. Kalau Bapak mengeluarkan uang, pastilah untuk menolong orang. Apa hanya kamu yang boleh berbaik hati dengan membeli beras kepada teman kamu setiap membutuhkan, dengan dalih membantu? Dan bapak tidak boleh?”
“Membantu ala kadarnya, tapi membantu membelikan rumah yang mungkin dengan segala perabotannya?”
“Apa maksudmu?”
“Bapak pergi ke area perumahan baru dengan seorang wanita yang sedang hamil.”
“Bukankah bapak sudah pernah mengatakan bahwa bapak mengantarkan anak teman bapak itu?”
“Dan berjalan sambil berangkulan dengan anak teman Bapak itu?”
“Arka!”
Pak Wiguna marah bukan alang kepalang. Matanya menatap Arka dengan amarah yang meluap.
“Arka, kamu bisa mengatur ayahmu dan mengawasi segala langkah ayahmu, tapi kamu sendiri tidak mau menuruti anjuran ayahmu.”
“Anjuran apa?”
“Menikahi seorang gadis anak konglomerat yang hartanya tak terhitung banyaknya, agar perusahaan kita ikut menjadi besar, dan kamu tidak perlu berteriak karena uang perusahaan bapak ambil hanya beberapa milyard.”
“Jadi maksud bapak ingin bermenantukan Rosa hanya karena hartanya?”
“Tentu saja, harta itu perlu.”
Dan Bapak korbankan Arka agar menikahi gadis yang pernah menggugurkan kandungan karena hamil sebelum menikah?”
“Apa?”
“Arka tidak pernah mengatakannya, tapi Arka tahu semuanya tentang Rosa. Dan itu bukan hanya satu alasan, tapi hanya salah satu alasan kenapa Arka menolak. Arka tidak menyukai Rosa sejak awal.”
Pak Wiguna terdiam. Apa yang didengarnya tentang Rosa tidak pernah dibayangkannya.
“Baiklah, lupakan tentang Rosa, saya ingin tahu mengapa Bapak mengkhianati ibu.”
“Apa?”
“Semua pengeluaran itu untuk wanita itu bukan?”
Pak Wiguna menghela napas, lalu berkata dengan lebih lembut.
“Bapak ini belum terlalu tua. Bapak masih membutuhkan wanita, dan ibumu yang sakit-sakitan itu tidak lagi bisa melayani bapak seperti sebelumnya. Jadi mengertilah, kalau bapak memiliki wanita lain. Ini masalah kebutuhan seorang laki-laki, kamu harus tahu itu.”
“Dengan menghamburkan uang begitu banyak? Arka yakin, wanita seperti itu bukan wanita baik-baik.”
“Omong kosong kamu. Kalau aku menikahi wanita, lalu memberikan rumah dan segala isinya, apakah menurut kamu itu salah?”
“Barangkali Bapak tidak salah. Tapi menghamburkan uang perusahaan itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Perusahaan kita bisa bangkrut.”
“Lalu apa salah kalau aku memberikan tempat tinggal untuk istri aku, walau itu istri siri?”
“Maaf Pak, jalan yang Bapak tempuh itu salah. Mohon maaf, saya hanyalah seorang anak, dengan alasan apapun aku kira Bapak telah melakukan hal yang tidak benar.”
“Aku sudah menikahinya walau nikah siri. Dia juga sudah mengandung anakku.”
“Semuanya sudah terlanjur, saya khawatir akan melukai hati ibu. Dan saya berharap, semoga wanita yang Bapak nikahi itu adalah wanita yang baik.”
“Dia masih muda …. tampaknya bukan perawan, tapi dia membuat bapak senang.”
Lalu mereka terdiam untuk beberapa saat lamanya. Nasi sudah menjadi bubur, jalan keluar yang terbaik baru dipikirkan keduanya. Tapi tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering.
Pak Wiguna segera mengangkatnya.
“Bapak, bagaimana dengan pesanan ibu?”
“Pesanan apa?”
“Bapak pura-pura lupa ya, ibu masih butuh almari untuk wadah peralatan salon.”
“Bukanlah almarinya sudah aku belikan?”
“Ibu butuh lagi yang lebih besar, yang kemarin tidak vukup.”
“Nanti saja, tidak sekarang, aku masih di kantor.”
“Bapak bagaimana, katanya cinta, tapi Bapak tidak mau memberikan apa yang aku minta. Lagi pula, ternyata rumah yang Bapak beli itu masih atas nama Bapak, mengapa tidak atas nama aku kalau memang itu rumah untuk aku?”
“Aku hanya mencari mudahnya saja, kan surat-surat aku lengkap untuk keperluan balik nama.”
“Aku tidak mau, aku minta Bapak harus mengganti dengan namaku.”
“Nanti aku pikirkan lagi.”
“Aku tidak mau lama, harus segera. Juga almari untuk ibu. Hari ini harus Bapak kirimkan. Ibu sudah kewalahan.”
Tiba-tiba pak Wiguna merasa bahwa kesenangan yang dinikmatinya selama beberapa bulan ini tidak bisa menenangkan jiwanya. Ia seorang pimpinan yang segala perintahnya harus ditaati, dan sekarang, wanita yang belum lama dikenalnya ingin mengatur hidupnya. Pak Wiguna meletakkan ponselnya di meja, Wajahnya tampak kesal.
Arka sedikit banyak menangkap pembicaraan itu, yang sudah pasti dari wanita selingkuhan sang ayah. Tentang balik nama rumah yang diminta atas nama dia, permintaan untuk membelikan barang lagi sementara sudah pernah dibelikan. Karena itukah sang ayah tampak agak marah? Atau karena sungkan mengambil uang dari perusahaan lagi?
“Tampaknya aku salah. Aku akan meninggalkan wanita itu,” kata sang bapak pelan.
“Lakukan yang terbaik Pak. Kalau itu baik maka saya akan mendukung bapak.”
“Tolong rahasiakan ini untuk ibumu. Aku bersalah. Aku menyadarinya. Tak ada wanita sebaik ibumu.”
***
Senja bekerja dengan sangat memuaskan bagi bu Mery. Ia sedang melayani majikannya yang sedang memotong rambut seorang pelanggan. Senja juga memperhatikan bagaimana cara memotong. Senja gadis yang pintar. Ia suka mempelajari sesuatu yang mungkin akan berguna pada suatu hari nanti. Sejauh ini belum tampak adanya sesuatu yang membuat Senja khawatir.
“Senja, sudah selesai, kamu bantu ibu ini keramas ya,” titah sang majikan.
“Baik.”
“Senja mempersilakan pelanggan wanita itu duduk di tempat yang sudah disediakan untuk mencuci rambut. Ia cepat mengerti, dan bisa melakukannya dalam sehari belajar.
Tiba-tiba seseorang masuk, bukan pelanggan, tapi wanita cantik bernama Tantrina, anak bu Mery. Ia datang sambil bersungut-sungut.
“Ada apa?”
“Tampaknya pak Wiguna mulai memperketat pemberiannya.”
Senja mengangkat wajahnya. Benar namanya Wiguna, itu kan ayah mas Arka, kata batin Senja. Ia mengerjakan tugasnya sambil memasang telinga.
“Jadi almarinya juga belum dibelikan?”
“Belum Bu, aku menanyakan tentang rumah yang belum dibalik nama atas namaku juga, tampaknya dia juga keberatan.”
“Keterlaluan. Apakah dia belum sepenuhnya percaya kepadamu? Kamu tidak mengatakan bahwa bayi yang kamu kandung adalah anaknya? Walau bukan darah dagingnya, tapi si tua itu harus kamu yakinkan bahwa dia benar-benar anaknya.”
“Sudah Bu, saya sudah meyakinkan dia bahwa bayi ini anaknya dan dia percaya.”
“Kalau begitu kamu bisa memaksa dia membalik namakan rumah itu atas namamu, demi bayi yang kamu kandung itu. Dia pasti mau memperhatikan, kalau dia yakin bahwa itu darah dagingnya."
Senja terkejut. Sampo yang dipegangnya untuk mencuci rambut pelanggan jatuh ke lantai.
“Jadi wanita itu mengandung anak orang lain dan membohongi pak Wiguna?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta. Salam aduhai.
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Suwun mb Tien🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,48 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDelete🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung eNTeeS_48 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Alhamdulillah "NAMAKU TETAP SENJA 48" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng enjang🙏
Terima kasih bunda Tien, cerbung NTS sudah tayang,
ReplyDeleteSemoga Bunda Tien dan keluarga sehat 🤲
Alhamdulillah senja sdah hadir dng alur cerita nya mulai lebih menarik, ada hikmahnya senja bekerja di salon, bisa mndengar secara lngsung rahasia pak wiguna, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDeleteAlhamdulilah , cerbung kesayangan sudah tayang .... maturnuwun bu Tien.... semoga bu Tien selalu sehat,, bahagia penuh keberkahan... salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah yang ditunggu sudah hadir, jazakillah khoir...
ReplyDeleteSehat selamanya bunda,,,aamiin.
matur nuwun Bunda Tien... semoga tetap sehat dan kuat aamiin
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, semakin sehat, tetap semangat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aamiin yaa Rabbal Alaamiin🤲🤲🤲
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDelete🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 48 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAda alasan bagi Pak Wiguna untuk meninggalkan wanita selingkuhannya...
ReplyDeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteTrimakasih Bunda Tien Senjanya , sll sehat dan bahagia bersama keluarga 🤗🥰