Monday, July 13, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 47

 NAMAKU TETAP SENJA  47

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun senang melihat anak gadisnya sudah pulang. Ia menyambut di depan pintu rumahnya, menatap sang anak dengan iba, ketika melihat wajahnya yang berkilat karena peluh.

“Syukurlah Nak, kamu sudah pulang. Capek ya?”

“Tidak Mbok, Senja senang sekali mendapat pekerjaan.”

“Minum dulu sana, terus ganti baju .. jangan mandi dulu kalau masih keringatan.”

“Iya Mbok.”

“Jauh ya tempat kerja kamu?”

“Lumayan jauh, tapi tidak apa-apa. Senja senang karena sudah dapat kerja.”

“Ini Mbak, minum dulu,” kata Rimba dari arah dapur sambil membawa segelas air putih. Rimba sangat pengertian. Didikan simbok untuk saling menyayangi selalu tertanam dalam sanubarinya. Itu sebabnya walau hidup dalam keterbatasan tapi mereka tetap tampak bebahagia.

“Terima kasih ya Mba,” kata Senja setelah memasukkan sepedanya kesamping rumah. Ia menerima gelas minum yang diulurkan adiknya lalu duduk di bangku depan rumah. Ia meminumnya sampai habis.

“Haus ya?” tanya Rimba.

“Lumayan, hari sedang panas-panasnya. Aku mau ganti baju dulu, sebentar,” kata Senja sambil mengembalikan gelas kepada sang adik, lalu beranjak ke belakang.

Rimba mengembalikan gelasnya ke dapur, lalu menunggu selesainya Senja berganti pakaian, dengan duduk di bangku di samping simboknya.

“Mbak Senja kelihatan capek. Seperti Simbok kalau pulang dari berdagang,” kata Rimba.

“Sebenarnya kasihan mbakyumu, pasti sebenarnya dia ingin melanjutkan sekolah,” sesal Simbok, sendu.

“Tidak kok Mbok, sejak awal mbak Senja tidak ingin melanjutkan sekolah. Keinginannya hanya bekerja,” kata Rimba yang walau masih bocah tapi ingin menghibur kekecewaan simboknya.

Beberapa saat kemudian Senja sudah keluar dengan wajah lebih segar dan berganti pakaian rumahan.

“Kamu tidak mandi kan? Tidak bagus mandi dalam keadaan keringatan.”

“Iya, mandi nanti kalau keringat sudah kering.”

Lalu Senja menceritakan di mana dia bekerja, dan pekerjaan apa yang harus dilakukannya.

“Kalau mbak Senja bekerja di salon, besok-besok kalau aku potong rambut nggak bayar dong,” celetuk Rimba seenaknya.

Senja dan Simbok tertawa.

“Maunya gratisan. Ya sungkan kalau Mbak mengajak kamu, lalu hanya untuk memotong rambut, gratis pula.”

“Aku kan hanya bercanda, kok dimarahi beneran,” sungut Rimba.

“Iya, Mbak tahu, dan tidak marah kok. Besok-besok kalau Mbak sudah menerima gaji, potong saja di langganan kamu dekat parkiran, murah kan?”

Mereka bercerita sampai sore dan tak habis-habisnya celoteh Rimba yang terkadang lucu dan membuat semuanya tertawa. Gambaran yang tampak adalah mereka semua senang Senja sudah mendapat pekerjaan. Namun sejauh itu Senja tak mau menyebutkan nama Rosa karena sudah berjanji. Ia hanya mengatakan bahwa pekerjaan itu atas kebaikan temannya.

***

Pak Wiguna pulang hampir menjelang malam, dengan alasan yang sama, yaitu menemani teman karibnya yang kesepian. Bu Wiguna dan Arka tidak lagi menanyakannya, karena jawabannya akan sama dengan jawaban setiap kali ditanya di beberapa waktu akhir-akhir ini.

“Arka, kamu sudah pesan beras pada teman kamu, bibik tadi menanyakannya,” bu Wiguna justru menanyakan pesanan beras karena beras di dapur hampir habis.

“Oh iya Bu, gampang. Nanti Arka suruhan orang mengambilnya.”

“Kamu sudah pesan?”

“Gampang Bu, paling lambat besok sore pasti sudah sampai berasnya di sini.”

“Mengapa urusan beras harus ke tempat teman Arka? Apa tidak ada penjual yang lain. Kelihatannya repot sekali,” sahut ayahnya yang sejak tadi hanya diam.

“Arka ingin membantu temannya, agar berasnya laku lebih banyak.”

“Susah amat.”

“Membantu itu kan tidak selalu mudah. Seperti Bapak, membantu teman setiap hari. Sampai meninggalkan pekerjaan kantor. Itu hanya membantu membeli berasnya dan tidak ada yang terganggu,” sergah  bu Wiguna yang membuat suaminya diam.

“Besok saya pastikan sudah sampai di rumah Bu, bilang bibik jangan khawatir,” kata Arka.

“Iya Ka, nanti ibu bilang bibik.”

Sore hari itu pak Wiguna tidak lama menemani mereka ngobrol. Setelah makan malam dia pamit untuk istirahat, karena merasa capek.

Bu Wiguna hanya mengangguk. Ia masih duduk dan berbincang dengan Arka.

“Ayahmu kelihatan capek, barangkali teman akrabnya itu juga minta dipijit,” kata bu Wiguna sambil tersenyum lucu.

Arka mengimbanginya dengan tertawa kecil.

“Barangkali benar apa yang dikatakan Ibu,” kata Arka.

Arka sedang mencari waktu yang baik untuk berbincang dengan ayahnya, tentang perempuan yang entah siapa dan sampai dibelikan rumah oleh sang ayah. Tapi waktunya hampir tidak ada. Kalau ke kantor, ayahnya hanya sebentar saja duduk di ruangannya, lalu pergi lagi, sampai sore baru pulang ke rumah.

Kalau di rumah, nanti ketahuan ibunya, dan Arka tidak mau kesehatan sang ibu terganggu gara-gara mengetahui bahwa ayahnya berbuat yang aneh-aneh.

“Bagaimana hubungan kamu dengan Rosa?” tiba-tiba tanya sang ibu.

“Beberapa hari tidak ketemu. Biasa-biasa saja. Arka tidak merasa punya hubungan apa-apa.”

“Biasanya dia menelpon.”

“Sudah beberapa hari tidak menelpon, barangkali dia mengerti bahwa Arka tidak tertarik pada perjodohan itu.”

“Tumben juga ayahmu tidak gencar memaksa kamu untuk tetap menghubunginya.”

“Barangkali bapak sedang sibuk dengan temannya.”

“Oh, iya pastinya. Tapi syukurlah, Ibu tidak perlu menutup kuping karena omelan-omelannya. Biasanya kalau sudah punya kemauan lalu susah diendapkan.”

“Sudah malam, sebaiknya Ibu juga harus beristirahat.”

“Iya Ka, kamu juga.”

***

Pagi hari  itu pak Daryono menanyakan lagi tentang kesanggupan Rosa untuk berangkat ke luar negri.

“Nanti Pa, Rosa masih ada urusan. Biar selesai dulu urusannya, baru Rosa berangkat.”

“Urusan apa ?”

“Ada bisnis sama teman.”

“Rosa, kamu tidak perlu melakukan bisnis apapun. Pekerjaan Papa juga sebuah bisnis yang kamu tinggal melanjutkan.”

“Rosa hanya coba-coba, untuk membantu teman.”

“Membantu apa maksudmu? Modal?”

“Iya Pa, Rosa punya sedikit uang, coba-coba saja Rosa buat untuk kerja sama dengan teman. Syukur-syukur berhasil, kalau tidak ya tidak apa-apa.”

“Ada-ada saja kamu ini. Lalu kapan urusan itu selesai?”

“Tidak lama... paling sebulan lagi.”

“Kalau kamu tidak mau, akan Papa serahkan kepada orang lain.”

“Mau Pa, tunggulah sebentar, Rosa ingin melihat di awal-awal usaha itu, berhasil atau tidak, Rosa baru mau berangkat.”

“Kalau begitu kamu harus mulai mengurus semua perabot untuk keberangkatan kamu.”

“Iya. Papa tidak usah khawatir.”

***

Hari itu Arka berangkat pagi sekali, karena harus mampir ke rumah mbok Mangun. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu Senja, ada kangen yang dipendamnya, entah mengapa. Padahal awalnya hanya merasa kasihan.

“Aku jadi ingat, Senja ingin mencari pekerjaan. Nanti aku akan melihat, barangkali ada lowongan di kantor, tidak apa-apa lulusan SMA, aku melihat Senja itu cerdas. Dia pasti bisa belajar. Apa sebaiknya aku suruh menjadi pembantu sekretarisku saja ya,” gumam Arka sambil membawa mobilnya ke arah rumah mbok Mangun.

Tapi Arka kecewa, karena tidak ketemu Senja.

“Mbak Senja sudah bekerja di salon kecantikan," kata Rimba.

“Di salon?” tanya Arka, agak terkejut, karena Senja begitu cepat mendapat pekerjaan.

“Iya mas Arka, di Salon mana, gitu, jauh katanya. Itu sebabnya dia berangkat pagi-pagi.”

“Sejak kapan dia bekerja?”

“Baru kemarin. Ada temannya yang membantu mencarikan pekerjaan itu. Entah teman siapa, Senja hanya mengatakan bahwa ada temannya yang membantu mencarikan pekerjaan. Dan kelihatannya Senja senang sekali," kata mbok Mangun.

“Nanti kalau ada waktu saya kemari lagi untuk menanyakannya.”

“Tumben mas Arka pagi-pagi sudah datang kemari?”

“Ini Mbok, mau pesan beras lagi, satu kwintal. Seperti yang dulu.”

“Oh, baiklah, pagi ini juga akan saya pesankan.”

“Nanti sore bisa diambil orang saya ya Mbok,” kata Arka sambil memberikan sejumlah uang.

“Baik mas Arka, terima kasih Simbok sudah dijadikan langganan.”

“Tentu Mbok, Ibu saya suka, berasnya enak. Tapi yang penting saya bisa membantu Simbok.”

“Terima kasih banyak ya Mas.”

***

Arka langsung pergi ke kantor. Begitu dia duduk di depan meja kerjanya, sekretarisnya langsung masuk memberikan sejumlah berkas.

“Ini laporan keuangan yang Bapak minta kemarin.”

***

Besok lagi ya.

18 comments:

  1. Alhamdulillah.....
    Episode 47 sdh tayang.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  3. 🎍πŸͺ΄πŸŽπŸͺ΄πŸŽπŸͺ΄πŸŽπŸͺ΄
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_47
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🎍πŸͺ΄πŸŽπŸͺ΄πŸŽπŸͺ΄πŸŽπŸͺ΄

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien
    .❤️🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  5. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien ...semoga ibu selalu sehat, bahagia, sejahtera dan aduhai aduhai bun ...❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,47 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah...Salam sehat utk bu Tien & keluarga...πŸ™

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah,,sehat walafiat selamanya bunda...aamiin

    ReplyDelete
  11. 🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 47 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah bunda Tien, semoga bunda dan keluarga sehat 🀲🀲

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah senja telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ˜πŸ™

    ReplyDelete
  14. Alhamdulilah
    Matur nuwun Bunda
    Sehat slalu beserta keluarga. Semangat terus

    ReplyDelete
  15. Dalam laporan keuangan nampak ada uang keluar yang cukup signifikan...

    ReplyDelete
  16. Terima ksih bunda cerbungnya..slm seroja dan aduhai unk bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat semua ya πŸ™πŸ€—πŸ₯°πŸŒΏπŸ’–

    Salam Seroja... tetap Aduhaiiiii πŸ₯°

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 47

  NAMAKU TETAP SENJA  47 (Tien Kumalasari)   Mbok Mangun senang melihat anak gadisnya sudah pulang. Ia menyambut di depan pintu rumahnya, me...