NAMAKU TETAP SENJA 14
(Tien Kumalasari)
Senja tertegun, pak RT kelihatan marah.
“Mbokmu mana?”
“Belum pulang pak RT. Ada apa ya, simbok belum bayar iuran sampah?”
“Iuran sampah apa? Ini masalah utang piutang.”
“Masalah utang piutang?”
“Kamu tidak tahu ya, simbokmu itu punya utang sama aku, sudah bertahun-tahun.”
“Sudah bertahun-tahun?”
”Ya, sudah bertahun-tahun, janjinya mau mencicil setiap seminggu sekali. Tapi kemarin dia tidak datang untuk mencicil.”
Senja merasa seperti diguyur seember air sedingin es. Hampir menggigil. Simboknya bilang tentang cicilan yang katanya cicilan bayar sampah, ternyata punya hutang?
“Jam berapa dia pulang?”
“Tidak pasti Pak, kadang sore, kadang siang sudah pulang, kadang sore hampir maghrib baru sampai di rumah,” katanya hampir gemetar.
“Nanti kalau simbokmu pulang, bilang ditunggu pak RT. Gitu ya.”
“Memangnya hutang simbok berapa?” katanya lirih.
“Masih tujuh juta lebih. Kemarin mencicil agak banyak, tapi ya karena untuk bayar bunganya juga, ya utangnya berkurang sedikit.”
Senja tak bisa berkata-kata. Mendengar uang jutaan saja dia sudah gemetar, dan itu adalah utang simboknya?
“Ya sudah, aku pulang dulu, jangan lupa bilang kalau aku menunggu.”
Senja tak menjawab. Hatinya diliputi kegelisahan yang amat sangat. Tujuh juta bukan uang sedikit bagi Senja, melihatnya saja dia belum pernah. Untuk apa simbok hutang sebanyak itu? Ia tahu pak RT adalah rentenir yang sangat kejam. Ia bukan menjadi pelindung warganya tapi justru menindasnya. Itu sebabnya dia kaya raya. Bagaimana simboknya bisa terjerat hutang sebanyak itu?
Lalu ia harus bilang apa kalau simboknya datang? Ia tahu, simboknya selalu menyembunyikan adanya hutang itu. Barangkali simbok tak ingin anak-anaknya susah dan ikut terbebani. Kalau dia bilang, berarti simbok tahu kalau dirinya sudah mengetahui tentang hutang itu. Pasti simbok akan sedih. Lalu apa yang harus dia katakan? Diam saja? Senja gelisah. Bukan hanya karena hutangnya simbok, tapi juga memikirkan bagaimana caranya membayar hutang itu. Ingin sekali ia membantu simbok, tapi bagaimana caranya?
“Mbak, kok ngelamun? Lapar ya? Kelamaan nungguin aku?” tiba-tiba Rimba datang dan mengolok-oloknya.
“Kamu ngagetin saja.”
Rimba hanya meringis, sambil berlalu. Dari belakang, Senja mendengar Rimba berteriak.
“Mbooook.”
“Hee, jangan berteriak, simbok belum datang,” kata Senja sambil beranjak ke belakang.
“O, belum datang, kalau begitu ayo kita makan. Ada bakwan jagung sama sayur bening Mbak.”
"Ganti bajumu dulu."
Rimba berlari ke kamar mandi lalu cepat-cepat mengganti baju.
"Bakwan jagung kesukaanku," kata Rimba sambil duduk.
“Iya, aku sudah tahu,” kata Senja yang kemudian menemani adiknya makan. Tapi susah sekali menelan makanan yang disuapnya.
"Kok gitu Mbak? Nggak enak ya?”
“Enak. Ini … mbak lagi sariawan.”
“Wah, sayang sekali kalau sariawan. Sayurnya segar, bakwannya enak, rugi kalau nggak makan.”
“Kamu saja, makanlah yang banyak, mbak pelan-pelan nggak apa-apa.”
Rimba yang tak tahu apa sebenarnya yang membuat kakaknya nggak enak makan, menyuap makanannya dengan nikmat.
Selesai bersih-bersih dapur, Senja duduk di depan, memikirkan apa yang akan dikatakannya nanti pada simboknya. Dan belum juga ia menemukan jawab, dari jauh simboknya sudah berjalan memasuki halaman, sambil seperti biasa menggendong bakul, dan mengenakan caping lebarnya.
Senja berdebar. Kalau dia tak ngomong, salah, kalau ngomong, simboknya pasti bertambah sedih. Sedih karena hutangnya, sedih karena anaknya mengetahui adanya hutang itu.
“Nja, sudah lama pulangnya?”
“Tadi pulang agak siang.”
Simbok meletakkan bakul yang sudah kosong, membuka capingnya, lalu mengelap keringatnya dengan selendang.
“Senja ambilkan minum Mbok,” kata Senja sambil beranjak kebelakang. Tapi simbok malah mengikutinya, lalu duduk di bangku dapur.
Senja meletakkan gelas berisi air putih untuk simboknya.
“Laris Mbok?”
“Habis, hanya membawa limabelas kilo.”
“Syukurlah.”
“Kalian sudah makan?”
“Sudah, sayurnya enak, bakwannya nikmat,” kata Senja untuk menyenangkan simboknya, padahal dia tidak benar-benar menikmati makan siangnya.
“Simbok cuci kaki tangan dulu, masih ada sisa makanan kan?”
“Ya masih, selalu ada bagian simbok yang kami sisihkan.”
Senja membuka tudung saji penutup makanan, menyiapkan piring untuk simboknya.
“Tadi ada yang mencari Simbok,” katanya hati-hati setelah simboknya mulai makan.
“Siapa?”
“Pak RT.”
Mbok Mangun menghentikan suapannya yang hampir masuk ke mulut.
“Bilang apa dia?” tanyanya dengan wajah panik.
“Tidak bilang apa-apa, dia lalu kembali ketika Senja bilang Simbok belum pulang.”
Mbok Mangun tampak menghela napas, pastinya lega, karena katanya pak RT tidak mengatakan apa-apa. Lalu ia melanjutkan menyuapkan makanannya.
“Simbok janji mau membayar sampah hari ini. Nanti saja setelah makan simbok ke sana.”
Senja tak menjawab. Ia meraih sepotong bakwan jagung dan dimakannya, untuk menenangkan hatinya. Ditatapnya simbok dengan pandangan iba. Simbok belum begitu tua, tapi rambutnya sudah mulai memutih. Kulit wajahnya kusam, sedikit berkeriput. Matanya cekung dan tampak lelah. Pasti sangat berat berjuang membanting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya. Simbok hanya perempuan yang kekuatannya pastilah terbatas. Ingin rasanya Senja memintanya beristirahat saja. Ia yang akan menggantikan tugasnya menjual beras berkeliling. Tapi dia masih sekolah, terkadang ia harus pulang agak sore kalau ada tambahan pelajaran. Dilihatnya simbok mengunyah makanannya pelan. Apakah simbok berpikir tentang hidupnya dan segala pahit getir yang harus dilaluinya?
“Kapan kamu ujian?” tanya Simbok tiba-tiba.
“Bulan depan Mbok. Nanti kalau Senja sudah lulus, biar Senja yang menggantikan Simbok menjajakan beras.”
“Sembarangan kamu bicara. Pekerjaan menggendong beras setiap hari itu berat.”
“Kalau simbok bisa melakukannya, mengapa Senja tidak?”
“Jangan Nduk, kamu itu masih muda. Kalau kebanyakan terbungkuk-bungkuk karena menggendong barang berat, nanti kamu beneran bisa bongkok lhoh.”
Senja tertawa.
“Mengapa Simbok khawatir tentang badan Senja. Senja hanya ingin membantu Simbok.”
“Simbok masih kuat. Kalau kamu mau, lebih baik kamu mencari pekerjaan saja.”
“Lulusan SMA bekerja apa Mbok?”
“Masa tidak boleh?”
“Boleh, tapi barangkali susah. Tapi coba nanti Senja pikirkan lagi. Pokoknya sekolah Rimba nanti Senja yang akan mencarikan biayanya.”
Simbok tersenyum haru. Ia menepuk-nepuk tangan Senja pelan.
Senja membersihkan meja, sementara mbok Mangun pergi keluar. Pasti pergi ke rumah pak RT yang jahat itu. Rasa sedih kembali mengguyur perasaannya.
***
Siang hari itu Senja baru pulang dari sekolah. Cuaca sangat panas, membuatnya gerah. Berkali-kali ia mengusap keringat di dahinya dengan saputangan yang selalu digenggamnya.
Sebuah mobil melintas dan berhenti di depannya.
“Senjaaaa!” kepala seseorang nongol keluar dari jendela mobil, berteriak memanggil Senja.
Senja sudah tahu, itu kebiasaan tuan muda ganteng yang setiap kebetulan melihat kepulangannya dari sekolah selalu mengganggunya dengan canda.
“Udara panas Mas, aku harus segera pulang.”
“Nanti dulu, ayo ikut aku.”
“Ke mana?”
“Ayo, ikut saja,” kata Arka yang kemudian mengambil sepeda Senja, disandarkan di sebuah pohon di tepi jalan.
“Mau apa Mas?”
“Ayo ikut, masuklah ke mobil.”
“Nggak mau. Apa-apaan masuk ke mobil segala."
“Senja, aku mau bicara, tentang bisnis.”
“Bisnis itu apa? Aku tidak tahu tentang bisnis.”
“Tentang pesanan beras lagi, jangan di sini, panas. Masuk sebentar supaya bicaranya enak.”
Senja masuk ke dalam mobil, di samping kemudi. Rasa sejuk dingin segera menyergapnya. Di dalam mobil tak akan ada rasa gerah. Lalu Arka masuk dari arah samping kemudi.
“Mau ngomong apa?” tanya Senja tak sabar.
“Ada berita baik. Kantin di kantorku juga akan mengambil beras pada Simbok.”
“Benarkah?” wajah Senja menjadi cerah.
Pasti senang simboknya mendapat pesanan lagi.
“Sesampai di rumah, kamu bilang pada Simbok ya, pesanannya seperti kemarin. Uangnya aku bayar di muka. Ini,” kata Arka sambil memberikan amplop yang pastinya berisi uang.
“Aku taruh di amplop supaya tidak berceceran. Masukkan ke dalam tasmu, lalu kamu boleh pulang.”
Senja tersenyum senang. Menatap Arka dengan ucapan terima kasih.
Arka senang melihat senyum itu. Ingin rasanya berlama-lama bersama gadis itu.
“Sudah? Bukakan pintunya dong,” kata Senja yang tak bisa membuka pintu mobilnya.
Arka tertawa, tadi tak sengaja mengunci pintunya.
“Maaf.”
Mereka berpisah. Udara hangat kembali menyergapnya. Senja mengayuh sepedanya dengan bersemangat. Simbok pasti senang.
Arka masih menatapnya, sampai Senja berbelok di sebuah tikungan.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. Arka terkejut.
“Mau apa kamu kemari?”
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien🙏
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat walafiat. Salam seroja
Alhamdulillah Namaku Tetap Senja 14 sdh tayang. Trima kasih bu Tien Semoga bu Tien slalu sehat wal'afiat berbahagia bersama kluarga. Salam SEROJA... Aduhai..
ReplyDeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sampun tayang.. sehat sehat nggih bu... salam aduhsi aduhsi bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.
Siapa ya kira2 mobil itu,......terima kasih Arka yg baik hati, semoga rejekinya berkah.... Alhamdulillah NTS telah hadir, ....besok lagi ya...bikin penasaran😀 maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta...
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 14 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAlhamdulillah yg ditunggu sdh tayang, mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,14 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah eNTeeS_14 sudah hadir.
ReplyDeleteTerima kasih mbak Tien, semoga mBak Tien sehat selalu dan selalu sehat tetap semangat dan berkarya.
Aamiin
🥑🍍🥑🍍🥑🍍🥑🍍
ReplyDeleteAlhamdulillah 🦋💐
Cerbung eNTeeS_14 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja 😍
🥑🍍🥑🍍🥑🍍🥑🍍
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Alhamdullilah terima ksih cerbungnya bunda..slm seroja dan aduhai unk bunda 🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, sehat selalu, tetap semangat dan aduhaiii
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Komariyah. Aduhai
DeleteRosa datang...
ReplyDeleteO.. udah bilang sama prof?
Delete