NAMAKU TETAP SENJA 15
(Tien Kumalasari)
Arka mengerutkan keningnya. Kehadiran Rosa membuyarkan kebahagiaannya setelah bertemu Senja.
“Arka, aku mengikuti kamu sejak dari kantor.”
“Untuk apa?”
“Aku ingin bertemu kamu Arka, aku ingin bicara sama kamu, tapi sangat susah menemui kamu. Hari Minggu ingin bersepeda bersama, kamu selalu berangkat lebih pagi, aku mengontak kantor kamu, kamu bilang nggak mau diganggu saat kerja, menunggui kamu di rumah, kamu tak pernah segera pulang. Aku bingung harus bagaimana supaya bisa ketemu kamu.”
“Sebenarnya untuk apa ketemu aku? Aku selalu sibuk, tak ada waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting.”
“Kita adalah calon jodoh, apa kamu lupa?”
“Itu bukan kemauan aku.”
“Apa kamu berani melawan kehendak orang tua?”
“Kamu maunya apa sih Ros? Harusnya kamu tahu diri, aku tidak pernah mencintai kamu. Selamanya.”
“Tapi kita dijodohkan!” Rosa berteriak.
Arka mentarter mobilnya.
“Arka, kamu tidak punya waktu untuk aku, tapi kamu menyisihkan waktu untuk berbincang dengan gadis kampung yang masih kanak-kanak. Apa yang kamu lakukan tadi di dalam mobil? Berbuat mesum?”
Arka tertawa.
“Apapun yang aku perbuat, apa urusannya denganmu? Kamu tahu, aku semakin membencimu karena sikapmu semakin menyebalkan.”
“Arka, katakan apa salahku? Mengapa kamu_”
Belum selesai Rosa bicara, Arka sudah menjalankan mobilnya dan memacunya kencang.
Rosa membanting-banting kakinya. Ia berusaha mengikuti, tapi di depannya ada mobil melintas. Hampir saja Rosa menubruknya kalau ia tak segera menginjak remnya.
“Dasar! Keterlaluan! Siapa gadis kecil bersepeda kumuh tadi? Aku tidak segera mendekat, bodoh. Harusnya sejak tadi aku mendekat agar tahu dia itu siapa.”
Rosa mengamati kendaraan di depan, tapi bayangan mobil Arka tak lagi kelihatan.
Sambil mengomel panjang pendek, Rosa memutar mobilnya untuk kembali. Tapi tidak, dia tidak kembali pulang tapi ke rumah keluarga Wiguna. Langsung masuk ke rumah dan menangis terguguk di sana.
***
Bu Wiguna dan pak Wiguna sedang beristirahat di kamar. Memang mereka berniat keluar dari kamar karena hari sudah sore. Mereka terkejut melihat Rosa duduk di sofa sambil menangis.
“Rosa? Ada apa?” tanyanya hampir bersamaan.
Rosa masih saja menangis. Tubuhnya bergoyang-goyang karena isaknya. Bu Wiguna mendekat lalu duduk di sampingnya.
“Rosa, ada apa?”
“Arka … Arka …”
“Arka kenapa?”
“Tidak mau bertemu saya, tidak mau bicara sama saya …” katanya terbata.
“Memangnya di mana dia?”
“Pergi, saya tidak tahu.”
“Katakan dengan jelas, bagaimana kamu ketemu Arka? Di kantornya?”
“Saya menuju kantornya, berusaha menunggu sampai dia pulang. Saya ingin mengajaknya bicara. Tapi dia tidak pulang. Saya mengikutinya terus, dan melihat dia berbincang dengan gadis kampung bersepeda butut.”
“Siapa dia?”
“Entahlah, saya tidak tahu, sepertinya dia anak sekolah melihat seragam yang dipakainya.”
“Lalu apa?”
“Arka mengajaknya masuk ke mobil. Tidak berapa lama lalu gadis itu keluar, kembali mengendarai sepedanya dan pergi.”
“Mengapa kamu tidak mengejar gadis itu agar tahu dia siapa?” kata pak Wiguna kesal. Matanya sudah merah menahan marah.
“Salah saya, saya malah mendekati mobil Arka yang masih berhenti di sana, tapi sikap Arka sangat menyakitkan. Terang-terangan dia mengatakan bahwa tak suka kepada saya,” Rosa menangis lagi.
Bu Wiguna terdiam. Dia sudah pernah mengatakan kalau laki-laki tak suka dikejar. Harusnya Rosa tahu itu. Tapi pak Wiguna marah bukan alang kepalang.
“Anak itu mengapa susah sekali diatur?” geramnya.
Rosa masih terisak-isak. Bu Wiguna hanya menepuk-nepuk tangan Rosa, tapi tak bicara apapun. Ia menyalahkan Rosa yang tampak sangat mengejar-nggejarnya, tapi ia tak ingin mencela di depan suaminya. Ia tak pernah mau menerima usulan apapun. Baginya, keputusannya adalah mutlak, tak boleh ada yang menentangnya, tak boleh ada perdebatan karena yang benar adalah apa yang dikatakannya.
“Kamu tunggu saja di sini, sampai dia pulang.”
Tapi sampai malam Arka tak juga pulang, lalu Rosa berpamit karena lelah menunggu.
“Kamu tenang saja Rosa, dia tak akan pergi jauh dari kamu,” kata pak Wiguna yang mengantarkan Rosa sampai ke mobilnya.
Bu Wiguna tak mengatakan apa-apa sampai mobil Rosa keluar dari halaman.
***
Arka pulang ketika hari sudah malam. Hampir jam sepuluh, dan itu membuat pak Wiguna sangat murka. Belum juga Arka masuk ke kamar, sang ayah sudah menyemprotnya keras.
“Ke mana saja kamu seharian ini?”
“Ke kantor, lalu jalan-jalan.”
“Kamu bertemu Rosa kan?”
“Ya, tapi Arka masih ada perlu.”
“Kamu bilang kalau kamu tidak suka Rosa, apa maksudmu?”
“Tapi cinta itu tidak bisa dipaksa Pak. Sungguh, apa yang saya katakan itu benar. Arka tak bisa mencintai Rosa.”
“Dasar bodoh! Kamu membuat keluarga Daryono kecewa, dan itu buruk bagi kita.”
“Sekarang kita tidak perlu bergantung kepada pak Daryono. Kita bisa berjalan sendiri dengan kokoh.”
“Omong kosong! Kamu tidak bisa lupa kepada semua kebaikan yang pernah diberikannya, Arka!!”
“Arka tidak lupa.”
“Tapi kamu mengabaikan apa yang diinginkannya.”
“Ini masalah hidup Arka. Arka tidak bisa bergantung kepada siapapun.”
“Kamu tidak bisa berbuat semau kamu. Harus nurut dan tidak boleh tidak!”
Arka tak menjawab, ia langsung masuk ke kamarnya dan merenungi hidupnya yang bergantung kepada rasa balas budi. Tidak. Arka tidak akan memaksakan hati untuk menjadi suami seseorang sementara hatinya tidak mau.
***
Mbok Mangun merenung di kamarnya. Ia sudah membayar bunga dan sedikit cicilan kepada pak RT. Hutang itu masih sangat banyak. Ia membanting tulang dan memeras keringat selama bertahun-tahun, dan hutang itu seakan hanya melangkah perlahan untuk mendekati lunas. Ada rasa sesal menghantuinya, mengapa dulu ia harus berhutang kepadanya. Tapi saat itu sangat mendesak. Esok hari uang sekolah harus sudah dibayarkan atau anaknya harus berhenti sekolah. Jangan. Mbok Mangun harus menjadikan anak-anaknya orang. Jangan buta hurup seperti dirinya.
“Baiklah, tidak apa-apa. Besok ada pesenan lagi satu kwintal beras, atas budi baik tuan muda itu. Syukurlah, nanti aku bisa mencicilnya lagi.”
Mbok Mangun menarik selimut yang sudah bertambal di sana sini, untuk menutupi tubuhnya dari dingin yang menggigit. Cuaca sedang tidak bersahabat. Kalau siang panas bukan alang kepalang, giliran malam, dingin serasa membekukan seluruh aliran darah.
“Simbok belum tidur?”
Mbok Mangun terkejut, Senja masih terjaga.
“Kamu juga, mengapa belum tidur?”
“Senja belajar, sekarang sudah mau tidur. Aku menjenguk ke kamar Simbok, ternyata Simbok masih terjaga. Simbok sedang mikir sesuatu?”
“Memikirkan besok harus pergi sebentar saja, karena akan ada kiriman beras lagi. Bukankah mas Arka akan menjemput pesanannya kemari?”
“Bagaimana kalau dikirim sedikit sedikit, lalu biar Senja yang mengirimkannya.”
“Kamu tidak keberatan?”
“Tidak, sebelum sekolah, pagi-pagi sekali, Senja akan mengirimkan sekarung kecil, pulang sekolah, sekarung lagi. Dua hari bisa kelar kan?”
“Tapi itu pesanan kantin kantornya mas Arka. Kalau pagi kan belum buka?”
“Di sana pasti ada penjaga. Nanti biar penjaga yang menerimanya.”
Mbok Mangun menghela napas panjang. Senja anak gadisnya yang baik dan penuh pengertian. Mengirim sekarung beras, itu berat. Bolak balik pula.
“Apa tidak berat sih Nduk?”
“Ya tidak Mbok, kan sekalian pergi ke sekolah.”
“Kita atur saja besok, sekarang tidurlah, malam sudah larut.”
“Simbok juga harus segera tidur,” kata Senja yang kemudian keluar lalu menutupkan pintunya.
Suara derit pintu bambu yang terdengar, seperti sebilah pisau yang menggores batinnya. Senja masih sangat muda, tapi ia selalu bersama simboknya dalam suka dan papa.
“Kasihan kamu Nduk.”
***
Siang harinya ketika berasnya datang, simbok segera menakarnya di dalam karung kecil. Ia setuju pendapat Senja, yang harus mengirimkan pesanan, bukan si pemesan yang mengambilnya.
Hari itu Arka belum datang menjemput pesanannya, atau menyuruh orang untuk mengambilnya seperti pernah dilakukannya pada pesanan pertama.
Senja yang pulang sekolah, segera disuruhnya makan, lalu bersiap mengirimkan berasnya. Mbok Mangun menyuruhnya istirahat dulu, tapi Senja berkeras mengirimkannya di saat itu juga.
”Kamu sudah tahu alamat kantor itu, Nja?”
“Kan ada tulisannya di amplop yang berisi uang kemarin?”
“Ya sudah, hati-hati ya Nduk."
***
Begitu sampai di kantor itu, Senja segera menemui penjaga agar membantu menurunkan berasnya.
“Ini beras siapa?”
“Ini pesanan mas Arka, ada empat karung, tapi saya kirimkan satu persatu,” kata Senja sambil mengelap keringatnya dengan ujung bajunya.
“O, pesanan pak Arka.”
Tiba-tiba seorang laki-laki perlente keluar dari kantor itu, rupanya dia adalah pak Wiguna yang bersiap pulang.
Melihat Senja yang sedang berbincang dengan petugas keamanan, pak Wiguna mendekat.
“Kamu siapa?” ucapnya tanpa menunjukkan keramahan sedikitpun.
“Nama saya Senja.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih . Semoga Bu DA dan keluarga sehat slalu
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam adihai hai hai
Suwun mb Tien π
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.
Alhamdulilah cerbung kesayangan sdh tayang, maturnuwun bu Tien..
ReplyDeleteSemoga bu Tien sekeluarga sll sehat dan bahagia.... salam sehat dan aduhai aduha bun ❤️❤️❤️
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,15 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_15
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
Selamat malam bun...mks NTS 15 sdh tayang, smg bunda dan pak Tom beserta kelrg sehat² sll
ReplyDeleteAlhamdulillah...
ReplyDeleteTrima kasih bu Tien NTS 15 sdh tayang. Semoga bu Tien dan kluarga sehat wal'afiat dlm Lindungan Allah SWT. Aamiin yra. Salam SEROJA dan Aduhai.
Alhamdulillah eNTeeS_15 sudah tayang pada pukul 19:19 wib.
ReplyDeleteMatur nuwun nggih mBak Tien, mugi panjenengan tansah pinaringan rahayu widodo tinebihna ing rubeda lan kalis ing sambikala. Aamiin Yaa Robbal'alamiin π€²π
Terima kasih Bu Tien namaku tetap Senja sdh tayang. Salam Seroja..
ReplyDeleteAlhamdulillah yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sll diberikan kesehatan umur panjang aamiin
ReplyDeleteAlhamdullilah terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteDuh kasihan Senja klo kena marah Pak Wiguna....
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
Assalamu'alaikum
ReplyDeleteSugeng dalu Bunda Tien dan semua pecinta cerbung smoga kita semua sll sehat dan tetap menjadi penyemangat Bunda untuk sll berkarya.
Namaku tepat Senja gadis yg lugu. Tak kenal lelah. π₯°π€
Kita lihat bagaimana sikap Pak Wiguna menghadapi Senja?
ReplyDeleteApakah Pak Wiguna masih akan menunjukkan keangkuhannya?
Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 15 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteSenja sdh tayang, terimakasih bunda Tien. Sehat selalu dan semangat terus dalam berkarya.... Aduhaii
ReplyDelete