SAKITKU ADALAH CINTAKU 41
(Tien Kumalasari)
Zein hanya menatapnya, sampai pintu itu hampir tertutup. Tapi sebelum benar-benar tertutup dokter Tyas masih melongok lagi ke dalam.
“Kasihan teman saya kalau saya tidak datang, tapi kalau ke luar kota saya takut nyetir sendirian.”
Sebelum Zein menjawab, pintu itu sudah terutup.
“Bukankah hari itu anak-anak mengajak rekreasi ke luar kota juga? Bagaimana menolak dokter Tyas ya?”
Menghabiskan istirahat makan siangnya, Zein hanya berpikir tentang acara yang dibuat anak-anaknya, dan permintaan dokter Tyas untuk mengantarnya pergi memenuhi undangan ke luar kota.
Memang sih, sesiang itu dokter Tyas tidak mengganggunya dengan datang ke ruangannya, tapi kiriman pesan WA bertubi-tubi masuk. Tapi ia belum membacanya. Hatinya sedang tidak nyaman, dan pesan-pesan WA biasanya hanya berisi sanjungan dan pujian kepada dirinya. Yang baik hatilah, yang pintarlah, yang penuh pengertianlah, dan yang paling sering adalah selalu disebutnya bahwa Zein adalah dokter kesayangan, atau dokter kebanggaan.
Barangkali karena kiriman pesannya tidak dibaca, maka dokter Tyas menelponnya. Pada awalnya Zein memang tidak mengangkatnya, tapi karena deringnya menyakitkan telinganya, maka ia terpaksa menerimanya.
“Dokter kebanggaanku sedang apa, mengapa pesan saya tidak dibuka?” suara kenes kemayu itu menggelitik telinganya.
“Maaf, aku sedang bersiap untuk pulang.”
“Pulang awal? Dijemput istri?”
“Tidak.”
“Rupanya istri Dokter selalu mengawasi Dokter. Akhir-akhir ini Dokter tampak sangat ketakutan.”
Zein tertawa.
“Ada-ada saja, siapa yang ketakutan?”
“Baguslah kalau tidak, memang tidak seharusnya suami takut sama istri.”
“Ya sudah, aku mau pulang dulu ya.”
“Tumben buru-buru.”
Tapi Zein tidak menjawab, langsung meletakkan ponselnya dan benar-benar bersiap untuk pulang. Entah mengapa, dia merasa sangat gelisah. Kepalanya pusing dan itu akan membuatnya susah tidur.
Dia tidak langsung pulang, ada dokter langganan, seorang psikiater yang selalu didatangi tanpa sepengetahuan istrinya.
***
Hari itu sudah sore, Indras masih dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Pri, sahabat sejak masih kuliah dulu.
“Pri, ini kamu?”
“Ya, siapa lagi kalau bukan aku?”
“Lama tidak menghubungi aku.”
“Kamu di rumah?”
“Tidak...sedang mengendarai mobil mau pulang.”
“Sesore ini?”
“Tadi aku mampir-mampir, ada sesuatu yang harus aku beli.”
“Oh, kirain dari rumah sakit sesore ini.”
“Ada berita apa?”
“Omong kosong saja. Bagaimana keadaan suami kamu?”
“Akhir-akhir ini sudah agak berubah. Marah-marah sudah berkurang, atau bahkan tidak pernah marah.”
“Kamu melayaninya dengan sabar, pastinya.”
“Sangat sabar. Aku berusaha tidak melakukan sesuatu yang akan membuatnya marah. Aku lelah, dan semoga kesabaran aku akan membuahkan hasil yang baik.”
“Aamiin. Zein juga cerita bahwa dia mendatangi seorang psikiater?”
“Tidak, dia menyembunyikan semuanya. Dia tidak mau dibilang sakit. Aku juga pura-pura tidak tahu. Senjataku hanya berusaha sabar.”
“Zein sudah tidak lagi diberikan obat oleh dokternya.”
“Benarkah? Artinya dia dianggap sembuh?”
“Tidak juga. Kamu kan tahu bahwa penyakit itu tidak bisa disembuhkan, kecuali dijaga, dan tentunya dengan tekadnya sendiri.”
“Syukurlah. Terima kasih kamu selalu mengabari aku. Kalau bukan kamu yang memberi tahu, aku tidak akan pernah tahu kalau Zein menderita penyakit yang begitu serius.”
“Kamu tetap sabar ya?”
“Tentu. Doakan aku kuat.”
“Kamu wanita yang kuat. Aku sudah tahu sejak dulu.”
“Terima kasih Pri. Ini aku sudah hampir sampai rumah. Dilanjutkan nanti omong-omongnya?”
“Tidak, sedikit sudah cukup, aku hanya mau mengatakan itu. Salam untuk Zein. Tapi kalau kamu sampaikan juga salamku, pasti dia marah. Bukankah dia cemburuan juga?”
Indras tertawa.
“Kalau begitu jangan titip salam. Terima kasih semuanya ya Pri, kalau senggang datanglah ke rumah dengan anak istri kamu.”
***
Indras sampai di rumah, dan agak terkejut melihat sang suami sudah berbaring di tempat tidur. Setengah tidur, karena begitu Indras masuk dia langsung membuka matanya.
“Baru pulang?”
“Mampir belanja. Keperluan aku sendiri sih. Mengapa kamu tiduran?”
“Nggak apa-apa, hanya lelah.”
“Jangan terlalu capek.”
Zein bangun, tapi Indras menegurnya.
“Kalau lelah tiduran saja dulu, aku bawakan minuman hangat ke kamar ya?”
“Aku keluar saja, nanti dikira aku sakit.”
Indras tersenyum. Zein tak pernah mau dianggap sakit.
“Aku ganti baju dulu, nanti aku temani kamu minum,” kata Indras yang langsung masuk ke kamar mandi.
Zein keluar, duduk di ruang tengah sambil menyandarkan kepalanya. Ia tak perlu lagi minum obat, yang selalu diminumnya dengan sembunyi-sembunyi.
Sekarang ini ia hanya sedikit pusing memikirkan acara liburan bersama keluarganya dan permintaan dokter Tyas untuk mengantarnya. Zein heran, mengapa sangat berat menolak dokter Tyas? Hanya diminta menemani, bukankah itu wajar? Zein merasa tak bisa menolaknya. Ada apa dengan Zein? Mengapa tidak menomor satukan keluarga dan memikirkan kebutuhan orang lain? Begitu kuatkah pengaruh dokter Tyas bagi dirinya? Dokter Tyas sangat baik kepadanya, dan sangat mendewa-dewakannya. Pantaskah dikecewakan? Ia bersedia melakukan apa saja, asalkan jangan hal-hal yang menerjang tatanan bertata krama yang biasanya orang menyebutnya selingkuh. Tidak, Zein bukan berselingkuh, setidaknya itulah yang dirasakannya. Ia bahkan sangat marah ketika sang istri menuduhnya berselingkuh. Ia tidak berselingkuh, ia hanya berteman, dan ia tidak merasa bahwa pertemanan yang dilakukannya sudah sangat keterlaluan.
“Ada apa aku ini?” kata batinnya berulang-ulang.
“Zein, ini minuman kita, aku sendiri yang membuatnya,” kata Indras sambil meletakkan kopi panas di atas meja.
Zein menegakkan tubuhnya, menyentuh gelas yang masih panas.
“Masih panas, aku ambilkan cawan untuk mengurangi panasnya?”
“Tidak usah, aku sabar menunggu. Tadi kamu belanja apa saja?”
“Besok kan Santi pulang, besoknya kita jalan-jalan, ya hanya beli untuk bekal. Air mineral dalam botol-botol, apa lagi tadi … banyak kok.”
Diingatkan tentang acara liburan itu Zein jadi memikirkan dokter Tyas lagi.
“Belanja sendiri, tidak mengajak Sinta atau bibik.”
“Tidak apa-apa, penjaga toko membantu memasukkan belanjaan ke dalam bagasi mobil, aku tidak mengangkatnya sendiri kok. Sekarang masih ada di sana, biarkan saja, besok sekalian dibawa.”
“Pakai mobil kamu ya?”
“Ya, pakai mobil aku saja, yang agak longgar.”
“Terserah kamu saja,” kata Zein yang kemudian sudah berani meneguk kopinya, karena sudah tidak terlalu panas.
***
Hari itu keluarga dokter Zein sudah bersiap akan berangkat. Zein sedang membalas pesan-pesan di ponselnya.
“Papa sudah siap?”
“Kalian berangkat duluan saja, nanti aku menyusul.”
“Memangnya ada apa?” tanya Indras yang mulai curiga.
“Ada sedikit urusan, bukan apa-apa. Kalian berangkat saja dulu, aku menyusul segera, nanti bisa kabar-kabaran kalau aku selesai urusan dan mau berangkat menyusul.”
“Kita memakai mobil mama?”
“Ya, kan mamamu sudah menyiapkan semuanya di mobil. Lagian ada bibik, mobilnya jadi sempit, bibik badannya segede itu,” kata Zein setengah bercanda.
“Nanti menyusul beneran kan Pa?” tanya Sinta.
“Ya beneran dong, papa juga ingin santai bersama kalian.”
Ketika anak istri dan pembantunya berangkat, Zein mengambil baju batik dari kamarnya dan dikenakannya sambil berjalan menuju mobilnya. Ia merasa tidak pantas memakai kaos santai saat datang ke undangan.
Dokter Tyas sudah berkali-kali mengabari bahwa ia sudah menunggu. Tak bisa tidak, Zein memenuhi permintaan dokter Tyas dulu, kemudian akan menyusul anak istrinya.
***
“Syukurlah Dokter segera datang, saya hampir menangis tadi.”
Zein tersenyum.
“Seperti anak kecil saja.”
“Ayo kita berangkat.”
”Tapi nanti kita tidak usah sampai selesai, hanya memberikan ucapan selamat pada teman kamu, lalu pulang.”
“Mengapa buru-buru? Saya pengin kita jalan-jalan dulu. Kita belum pernah jalan-jalan berduaan.”
“Maaf aku tidak bisa, anakku pulang, kasihan kalau aku tinggal pergi lama.”
“Oh, begitu?”
Mereka pergi dengan mengendarai mobil Zein. Dokter Tyas sangat gembira bisa berduaan pergi ke luar kota.
“Pestanya di rumah?”
“Ya, di rumah, agak di kampung sih, tapi rumahnya besar. Dulu waktu sekolah saya sering main ke sana.”
“Masih jauhkah?”
“Tidak, paling dua kilometer lagi kita sampai.”
Tapi keduanya tidak menyadari, sebuah mobil mengikutinya, dan ketika jalanan sepi, mobil itu menyalipnya dan berhenti tepat di depan mobil Zein, sehingga Zein terpaksa mengerem mendadak.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng In
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSalam sehat Mbak Tien
Matur sembah nuwun
Sami2 salam sehat jeng Ning
DeleteMatur suwun Bu Tien.
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteAlhamdulillah sampun tayang
ReplyDeleteMatur nuwun nggih Dhe.
Sugeng dalu, sugeng aso salira.
π€π€π
Sami2 mas Kakek.
DeleteSugeng enjing
ALhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Endah
Aduhai hai hai
Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien sampun tayang yg dinantikan ... salam seroja dan aduhai aduhai bun ..❤️❤️❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Sri
DeleteSalam aduhai aduhai
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAljamdulillah, nwn bu Tien
ReplyDeleteSami2 pak Bam's
DeleteSami2 pak Bam's
DeleteSuwun mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Sehat slalu
Wah dipepet sama mobil Indras
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun bapak Endang
Alhamdullilah terima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm dan slmt rehat..slm seroja fan aduhaai unk nunda ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida.
DeleteSelamat pagi dan salam seroja
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 ibu Susi. Nuwun perhatiannya
Deleteπ«π«π«π«π«π«π«π«
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eSAaCe_41 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π«π«π«π«π«π«π«π«
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun jeng Sari
Assalamu'alaikum
ReplyDeleteAlhamdulillah, SAC telah hadir , trimakasih Bunda Tien. Sehat sll saya sll kangen dg cerbung nya.
Bunda cerita malam ini membuat deg degan , apa dr Indras dan anak anak nya. Yg menghalangi mobil dr Zein.
Selamat malam dan selamat beristirahat π€π₯°
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Etty.
Tungguin nanti ya
Alhamdulillah cerbung ke 41 sdh terbit. Suwun Bu Tien. Smg sehat dan bahagia bersama kelg.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Handayaningsih
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~41 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Djodhi
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (41)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Uchu
Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta, ππ ceritanya bikin deg deg an, apakah mobil yg mengikuti mobil Kel Zein ya? Jiaaaan kebangeten kok dr Tyas ituπ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Tatik
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteSiapa yg menghadang mobil dr.Zein? Penasaran masih tunggu besok... Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu.... Aduhaii
ReplyDeleteSami2 ibu Komariyah
DeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
Matur nuwun ..
Awas lu Zei...
ReplyDeleteEmangnya kenapa prof
DeleteAlhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tienku salam sehat wal'afiat semua ya π€π₯°πΏπ
ReplyDeleteTernyata dr Zein sakit.... apakah ada skenario dr Tyas...(sok tahu ya )ππ€
Sami2 ibu ika. Nuwun perhatiannya
DeleteSakit yang aneh ...
ReplyDeleteTerimakasih Bunda Tien..
Sehat selalu ya Bun..
Sami2 ibu Swissti.
DeleteAneh tapi nyata. Aamiin atas doanya ibu.
Mks bun, maaf saya lama gak koment, hp dipegang cucu untuk ujian, smg bunda seklrg sll sehat...salam kangen bun
ReplyDeleteSami2 ibu Supriyati. Tidak apa2. Salam kangen juga
DeleteMatur nuwun Bu Tien, tetap sehat....tetap semangat ....tetap aduhai.....love you Bunda.....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni. Aamiin.
DeleteLove you too
Selamat Pagi Bunda Tien Kumalasari dan semua, salam Jum'at Berkah.
ReplyDeleteJiwa Zein yang terbelah berontak, nurutin kemauan isteri atau Janda muda. Tetapi pengaruh s Janda muda begitu kuat, sehingga Zein selalu nurut kemauan nya. Parah s Zein.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Munthoni