BIARKAN AKU MEMILIH 09
(Tien Kumalasari)
Adri terpaku di tempatnya. Amplop itu masih dipegang di ujung jarinya. Ia belum berpikir bahwa itu adalah hasil lab, dan masih bertanya itu surat apa.
“Ini apa?”
“Bukankah sudah aku katakan bahwa akulah yang seharusnya bertanya? Ini surat apa?”
Adri baru sadar, Nirmala menanyakan sesuatu di dalam amplop itu. Adri menarik tangannya, membaca tulisan di amplop itu. Sebuah kop surat dari sebuah rumah sakit. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Oh … ini … ini sudah lama.”
“Yang aku tanyakan adalah surat apa itu?” suara Nirmala bertambah dingin.
“Ini kan … ooh … ini dulu … ketika … ketika belum lama Pratama lahir.”
Nirmala menunggu. Adri kelihatan gugup.
“Aku … periksa DNA … “
“Untuk apa? Dan sebenarnya kamu tidak mempercayai aku? Kamu menuduh aku selingkuh sehingga meragukan tentang lahirnya Pratama? Kamu mengira Pratama anak orang lain? Kamu ternyata sangat merendahkan aku, meremehkan aku, menganggap aku nista, hina, kotor, buruk.”
“Stop. Nirma!”
“Lalu apa? Kalau tidak maka kamu pasti tidak akan melakukannya. Kelakuan mana yang membuat kamu mencurigai aku? Aku sering keluyuran tanpa sepengetahuan kamu? Sering bepergian yang entah dengan siapa yang kamu tidak tahu?”
Adri diam. Tapi sebagai laki-laki Adri tak mau disalahkan. Adri adalah seseorang yang jarang sekali mengucapkan kata maaf. Adri selalu tinggi hati, dan merasa benar. Apalagi dengan seorang perempuan, mana mau dia mengalah atau merasa salah? Kegugupan itu tak lama, selanjutnya ia mengangkat wajahnya lalu memandang tajam istrinya.
“Baiklah, terus terang aku meragukan kelahiran Pratama. Aku sadar bahwa walau aku adalah suami kamu, tapi kamu punya banyak teman laki-laki, punya banyak pengagum, punya sahabat yang lebih dari teman.”
“Lalu kamu merendahkan aku, dan mengira aku dengan suka cita menyerahkan kehormatan aku dan merusak harga diriku sendiri? Kamu pikir aku serendah itu?”
“Aku merasa tidak sebanding dengan mereka.”
“Ini bukan masalah tinggi rendahnya kamu diantara teman-teman aku, ini masalah lahirnya Pratama yang kamu curigai bahwa dia bukan tetesan darahmu.”
“Aku memang salah. Jangan marah lagi.”
Nirmala berdiri, lalu melangkah ke belakang dengan wajah gelap. Tak ada kata maaf terucap, hanya merasa salah, dan memintanya jangan marah. Barangkali Nirmala bisa mengerti bagaimana watak suaminya, sangat bisa mengerti, dan karena itulah ia bersedia menjadi istrinya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tapi ketika itu menyangkut harga dirinya, Nirmala tak bisa menerimanya, atau mungkin sulit menerimanya. Ini sangat menyakitkan.
“Maaa … mmaaa ….” sebuah teriakan kecil menyurutkan langkah Nirmala. Pratama kecil sedang tertatih berjalan mendekat, sedangkan mbak Rana mengikuti di belakangnya.
Seulas senyum mengembang, lalu digendongnya si kecil dan dipeluknya erat.
“Sayangku, cintaku, buah hatiku, anak manis, anak pintar,” ucapnya sambil terus menerus menciumi pipi gembul yang menggemaskan.
Muram dan wajah kaku itu sudah memudar. Tapi genangan air mata sempat meloncat turun ke pipinya. Nirmala mengusapnya lalu membawa si kecil masuk ke kamar, kemudian menidurkannya di ranjangnya.
“Maaa … mmm … mmaaa …”
“Apa kamu tahu, Tama, kelahiranmu dulu diragukan oleh ayahmu sendiri. Ibu sangat sakit, Tama. Walau kemudian ia kelihatan sekali sangat menyayangi kamu, tapi rasa sayang itu harus disertai sebuah pembuktian. Ibumu ini seperti pesakitan yang harus diselidiki dugaan kejahatannya, dan kemudian divonis bebas setelah bukti kebenaran itu ada. Tapi tuduhan itu sangat menyakitkan.”
“Mmaaa … mmm … “
“Panggil aku ibu. Iiii … bu ….”
Tapi Pratama yang belum mengerti bagaimana cara bicara yang benar, terkekeh lucu. Ia mengira sang ibu sedang bercerita, mata beningnya menatap seakan mengerti apa yang dikatakan sang ibu.
Nirmala merasa terhibur. Ia bercanda dengan Pratama sampai tak tahu bahwa Adri berdiri di samping tempat tidur. Ia baru tahu ketika Pratama melambai lambaikan tangannya sambil berteriak.
"Aappaakk... pp..paak."
Adri mengulurkan tangannya lalu Pratama bangkit.. dan tak lama kemudian sudah berada di gendongan sang ayah.
Nirmala membiarkannya. Ia tetap berbaring dan memejamkan matanya. Terdengar celoteh Pratama menjauh, keluar dari dalam kamar.
***
Malam itu Adri makan malam sendiri, karena ketika Adri mengajaknya makan, Nirmala menjawab kalau sudah makan lebih dulu.
“Bukankah kamu yang menyuruh aku makan lebih dulu, sedangkan kamu sedang ada perlu dengan entah siapa diluar kantor?” jawab Nirmala, dingin. Bukan karena kesal ketika Adri pulang terlambat karena ada keperluan di luar entah apa, tapi karena ia masih kesal masalah DNA yang ditemukannya pagi tadi.
Dan malam ketika Nirmala hampir terlelap, Adri menyusulnya tidur di sampingnya. Adri tahu Nirmala belum benar-benar tidur.
“Tadi ada seorang teman yang meminta pertolongan, jadi aku harus menolongnya dan mengantarkannya pulang. Ia sedang kacau karena masalah dengan suaminya. Tadi dia mendapat telpon dari suaminya, bahwa sang suami itu akan menikah lagi dengan pilihan mertuanya. Tentulah dia sedih, lalu ….”
Adri menghentikan ucapannya, karena mendengar dengkur halur di sampingnya. Rupanya Nirmala benar-benar tidur dan tak mendengar apa yang dikatakannya.
Adri merasa kesal. Ia memejamkan matanya lalu membalikkan tubuhnya memunggungi sang istri, dan tak lama kemudian diapun terlelap.
***
Saat sarapan pagi, sikap Adri dan Nirmala masih tampak kaku. Ada pekik dan tawa gembira, hanya ketika Pratama mengajak mereka bercanda. Mereka berangkat kerja juga tanpa banyak basa basi dan bicara. Tapi Nirmala memerlukan mencium tangan suaminya ketika mendahului berangkat, tanpa suara.
Adri menekan kekesalannya dan menganggap sang istri keras kepala karena tetap tak mau mengerti walau dirinya sudah mengakui kalau bersalah.
Tepat ketika ia mendekati mobilnya sebelum berangkat, ponselnya berdering.
“Ya, Dwi.”
“Kamu sudah berangkat?”
“Ini mau berangkat.”
“Tolong samperin aku ya, kendaraanku kan masih di kantor?”
“Bagaimana nanti dengan suami kamu? Nggak enak kalau aku nyamperin kamu. Nanti dikira ada apa-apa diantara kita.”
“Memangnya kalau ada apa-apa suamiku harus marah? Dia mau punya istri lagi saja tak peduli sama aku, mengapa aku berangkat kerja disamperin kamu aku harus takut?”
“Tapi suamimu ada di rumah tidak?”
“Sudah pergi. Kami belum bicara semalam, dia juga tidak berusaha mengajak aku bicara tentang telpon dia kemarin siang.”
“Sebelum kerja juga tidak mengatakan apa-apa?”
“Tidak. Orang aneh. Dia takut pada bayangannya sendiri. Punya keinginan, tapi takut mengatakannya.”
“Jadi sebaiknya kamu yang lebih dulu mengajaknya bicara.”
“Nanti saja, sekarang samperin aku ya. Nanti kita bicara lagi.”
“Baiklah, kalau begitu.”
Adri masuk ke dalam mobilnya, lalu memacunya ke rumah Dwi. Memang benar mobil Dwi masih ada di kantor, jadi tidak aneh kalau dia minta disamperin.
***
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Dwi masih saja nyerocos bercerita tentang suaminya, yang tampaknya masih takut mengatakan masalah menikah lagi saat berhadapan dengan dirinya.
“Aneh sekali suami kamu itu. Jadi benar seperti apa yang aku katakan tadi, bahwa kamu memang harus mendahuluinya bicara. Kalau tidak, masalah kamu tak akan selesai.”
“Nanti sore sepulang kantor aku akan bicara sama dia.”
Tiba-tiba ponsel Dwi berdering.
Dwi mengambil ponselnya lalu berbisik.
“Dari mertuaku,” lalu dia mengangkatnya.
“Dwi, apa kamu masih di rumah?”
“Tidak Bu, sudah dalam perjalanan ke kantor.”
“Oh, baiklah, aku hanya ingin bicara sebentar saja, atau tepatnya hanya ingin bertanya, apakah suami kamu sudah mengatakan tentang_”
“Sudah Bu,” Dwi memotongnya.
“Baiklah, jangan kamu merasa sakit hati, kamu tetap akan menjadi istrinya, suami kamu hanya ingin memiliki anak. Aku harap kamu mengerti.”
“Saya mengerti Bu, maaf, saya sudah sampai di kantor,” kata Dwi sambil menutup ponselnya. Lalu ia menghela napas panjang. Sesungguhnya kantor masih kira-kira sekilo meter lagi, tapi Dwi enggan bicara lebih lama, karena intinya Dwi sudah tahu.
“Beres?” tanya Adri.
“Beres apanya? Mertua aku hanya ingin meyakinkan bahwa anaknya sudah membicarakannya tentang pernikahan itu.”
“Lalu?”
“Aku bilang sudah bicara, dan dia mengatakan agar aku jangan sakit hati. Apa dikiranya hatiku terbuat dari batu?” kata Dwi sambil terisak.
“Ya sudah, jangan menangis lagi.”
“Aku tetap mau bercerai.”
“Pikirkan dulu baik-baik. Kamu kan belum bicara sama suami kamu?”
“Tak akan ada hasilnya. Orang tuanya berperan di situ, jadi sudah jelas dia tak akan membatalkan keinginannya. Ya sudah, mau apa lagi,” kata Dwi masih dengan terisak.
Adri menepuk punggungnya untuk menenangkannya, tapi Dwi malah ambruk di pundaknya, menangis di sana.
***
Siang harinya, Dwi dan Adri makan di luar lagi. Banyak yang Adri ungkapkan untuk menenangkan hati Dwi, tapi tampaknya niat Dwi sudah bulat, ia harus bercerai kalau suaminya nekat mau menikah lagi.
“Sayang sekali aku terlambat mendekati kamu Adri, aku akan senang memiliki suami seperti kamu. Bisa menenangkan, bisa menghibur, bisa melindungi juga.”
Adri tersenyum. Ia belum pernah merasa dibutuhkan istrinya yang selalu bisa mandiri, dan berdekatan dengan Dwi yang seakan merasa bahwa dia adalah pelindung yang baik, sangat membuatnya berbesar hati. Ia merasa bahwa dirinya punya arti.
Mereka asyik berbincang, tanpa menyadari bahwa seorang wanita setengah tua sedang masuk ke dalam rumah makan itu bersama pembantunya, Wanita itu menatap mereka, dan sang pembantu hampir saja berteriak memanggil kalau sang nyonya tidak menutupkan jari telunjuk ke mulutnya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah sdh tayang.....
ReplyDeleteLho rak tenan ta, Dwi mau bikin gara-gara nich.
DeleteNempel ke pundak Adri.....
Apalagi Adri lagi disewotin Nirma....
Mungkinkah ganti pilihan?
Nuwun mas Kakek
DeleteππΉππΉππΉππΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung BeAaeM_09
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππΉππΉππΉππΉ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteSuwun mb Tien
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun bunda udah tayang
Aduh Adri.
Samo2 bapak Endang
DeleteHamdallah sampun tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 09 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Selamat menikmati akhir pekan bersama cucu nggeh Bunda Tien.
Gas terus ya Nirma...krn Adri blm mau minta maaf...ada kecenderungan dia mau selingkuh...waspadai ya.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 09" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSugeng dalu ugi
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 09* yang di tunggu2 sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~09 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 09 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Anik
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 09 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Mks bun BAM 09 si Nirmala sdh hadir....selamat malam jaga kesehatan ya bun
ReplyDeleteSami2 ibu Supriyati. Terima kasih juga
DeleteWah tambah seru, tanda-tanda mo ada perselingkuhan dan keributan rumah tangga Nirma.
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteAlhamdulillah BAM dah hadir,.....semoga puting beliung tidak akan menumbangkan pohon...........smg rumahtangga Adri tetap utuh dan bahagia.... Maturnuwun Bu Tien, semoga bahagia,sehat sll
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteHatur nuhun bunda..slmt berml minggu bersm keluargaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida
DeleteSepertjnya Adri itu perlu di-Guntur agar dia tahu bahwa langit itu tinggi.
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
Sepertinya Adri itu perlu di-Guntur-kan agar dia tahu bahwa langit itu tinggi...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
Awal mula dari perselingkuhan adalah membanding bandingkan satu sama lain. Mangkanya ada benarnya tuh lagi "ojo mbanding bandingke"...
ReplyDelete