BIARKAN AKU MEMILIH 11
(Tien Kumalasari)
Adri tertegun. Ini sudah jam 11 malam, tapi Dwi masih menahannya. Ia menatap wajah pucat itu, dan tampak memelas. Ke mana keluarganya, mengapa tak ada yang datang menjenguknya sementara Dwi tampak menderita dalam rumah tangganya.
“Dwi, apa kamu tidak memberitahukan ini semua kepada keluarga kamu? Karena kamu tak mengabari mereka, jadinya kamu sendirian,” Adri menegurnya.
“Adri, ayahku sudah meninggal, dan ibuku sakit-sakitan, aku tak tega mengabari mereka, nanti ibuku jadi sedih. Tidak Adri, aku ingin menanggung ini sendiri, temanilah aku, bukankah kita bersahabat sejak kecil?” suara Dwi memelas, bahkan air mata menggenang di pelupuknya. Adri tak tega meninggalkannya.
“Baiklah, aku temani kamu, segera tidur ya, besok pagi aku akan kembali menemani kamu untuk melihat hasilnya. Semoga kamu tidak perlu dioperasi.”
“Aku didorong suamiku, terjatuh, lalu meja kecil menimpaku. Walau kecil, meja itu sangat berat, diatasnya ada kaca yang kemudian melukai kakiku juga.”
“Iya, iya … tadi kamu sudah mengatakannya. Cepatlah tidur.”
“Apa kamu takut dimarahi istri kamu?”
“Bukan begitu, ini saatnya seorang suami ada di rumah. Walau tidak marah, aku tidak mau dia berpikir buruk tentang aku.”
“Oh, suami yang baik. Pastilah kamu ingin menunjukkan kepada istri kamu bahwa kamu adalah suami yang baik, yang bisa melindungi. Ya kan?”
“Dwi, sudahlah, jangan ngelantur, pejamkan matamu dan tidurlah.”
“Sesungguhnya aku takut sendirian, apalagi kalau ternyata besok aku harus dioperasi.”
“Besok aku akan menemani kamu. Sekarang ini kamu tidak perlu takut, banyak perawat yang akan menjaga kamu, dan dokter juga pasti selalu memantau keadaan pasiennya.”
“Tapi berbeda bukan Dri, dijaga perawat sama dijaga sahabat sebaik kamu?”
“Ah, sudahlah, aku kira tak ada bedanya. Sudahlah, lebih baik pejamkan matamu agar bisa terlelap. Aku duduk di sana.”
“Jangan, kamu duduklah di dekat aku sini, aku sungguh ingin ada yang menemani aku dalam saat seperti sekarang ini.”
Adri menghela napas. Semakin Dwi menginginkannya, semakin dia tak tega. Lalu diambilnya kursi, lalu ia duduk di situ, dan berkali-kali menyuruh Dwi memejamkan matanya.
***
Jam dua pagi Adri memasuki halaman rumahnya. Nirmala mendengarnya, karena dia sedang terjaga dan bersiap untuk shalat malam. Tapi dia membiarkannya, karena mereka masing-masing membawa kunci rumah sendiri.
Ketika Adri memasuki kamarnya, ia melihat sang istri sedang bershalat. Rasa bersalah menghantuinya. Ia ingin segera memeluk istrinya sebagai permintaan maaf.
Adri langsung ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu berganti pakaian rumahan yang wangi.
Ia berbaring di pembaringan, menunggu sang istri selesai bershalat, bukannya mengikutinya. Ia benar-benar merasa capek, seharian tidak istirahat. Ketika sang istri selesai, Adri sudah terlelap.
Nirmala menatapnya penuh tanda tanya, tapi ia tak ingin menanyakannya. Ia keluar dari kamar untuk membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri. Ketika bibik terbangun, Nirmala sudah selesai menyeduh kopi manis dan siap dibawa ke ruang tengah.
“Nyonya, mengapa membuat sendiri dan tidak membangunkan bibik?”
“Tidak apa-apa Bik, hanya membuat kopi, apa susahnya.”
“Saya akan membuatkan untuk tuan, kalau begitu.”
“Nanti saja Bik, tuan masih tidur nyenyak.”
“Baiklah, bibik akan memasak nasi saja untuk sarapan, dan bersih-bersih.”
Nirmala mengangguk, lalu membawa gelas kopinya ke ruang tengah, setelah melongok sebentar ke kamar Pratama, yang juga masih terlelap dikelonin mbak Rana.
Nirmala menghela napas. Ia merasa tiba-tiba rumahnya menjadi sepi. Entah apa yang terjadi, sang suami juga tega pergi malam dan pulang menjelang pagi.
Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya, tapi Nirmala tak ingin menanyakannya. Hatinya masih sakit karena tidak dipercaya oleh suaminya, bahkan sejak awal pernikahan mereka, ketika ia masih hamil muda.
“Nyonya, nanti sarapan ingin dibuatkan apa?”
“Apakah gudeg dan sambel goreng semalam masih ada? Sepertinya aku belum sempat makan karena pergi ke kondangan.”
“Masih ada Nyonya, kalau Nyonya mau akan saya panaskan. Semalam memang belum tersentuh, baik tuan maupun Nyonya tidak makan di rumah.”
“Bagus Bik, siapkan untuk makan pagi saja.”
“Baik, Nyonya.”
Nirmala menyalakan televisi, sebelum ia pergi mandi. Tapi tiba-tiba suaminya memeluk dari samping. Nirmala agak menjauh, sambil tangannya terus mencari chanel yang enak untuk ditonton.
“Kemarin seharian menolong teman, mengantarkan dan menunggui di rumah sakit. Jam dua lebih aku baru bisa pulang.”
Nirmala tidak menjawab, tapi mengulaskan senyuman tipis ke arah suaminya, lalu memperhatikan siaran televisi.
“Kamu jangan marah, aku sudah mengatakan apa yang terjadi.”
“Tidak, aku tidak marah. Terserah saja kalau kamu mau menunggui teman kamu yang sakit. Itu kan sebuah niat baik,” katanya datar.
“Aku menghubungi kamu, tapi ponsel kamu mati.”
“Batery habis, jadinya mati. Aku tinggalkan di rumah.”
“Ya sudah, aku mau mandi dulu, harus berangkat pagi, tapi sebelumnya ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaannya.”
Ketika Adri berdiri, bibik datang menghidangkan kopi manis kesukaannya.
“Kopinya, Tuan.”
“Ya, taruh saja di situ, aku mau mandi dulu,” katanya sambil berlalu.
Nirmala menatap ke arah televisi. Ia mendengarkan keterangan suaminya, tapi ia tak ingin menanyakan siapa yang sakit.
***
Ketika makan pagi, tak banyak yang mereka bicarakan. Sesekali Adri bicara, dan Nirmala biasanya hanya mengangguk mengiyakan.
“Paaa … paaa …,” tiba-tiba Pratama tertatih mendekat ke arah sang ayah, yang kemudian mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuannya.
“Mas Tama, sini dulu, bapak sedang makan tuh.”
Tapi Pratama menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Biarkan saja, mbak Rana. Tungguin disitu, kalau dia bosan pasti turun sendiri.”
Pratama tidak sekedar minta pangku, ia meraih-raih tangan sang ayah setiap kali sang ayah ingin menyuapkan makanan.
“Tama mau mam-mam? Minta sama mbak Rana ya?”
“Paaa … paaa …”
Nirmala melihat kedekatan itu dan merasa terharu, tapi manakala diingatnya bahwa kehadiran Pratama disertai kecurigaan Adri atas dirinya, wajahnya kembali muram.
Mbak Rana memaksa mengajak Pratama pergi, karena si kecil itu selalu mengganggu ayahnya.
Pratama menjerit-jerit, lalu mbak Rana mengajaknya ke depan rumah, melihat burung-burung yang sering hinggap di dahan pohon pada halaman rumah, kemudian tangisnya berhenti.
Nirmala mempercepat makannya, lalu berdiri dan menuju ke arah depan, menemani Pratama bermain dan melihat burung-burung.
“Yuuung … maaa …. Yuuung..”
“Iya sayang burungnya banyak ya. Mbak Rana, ambil makan untuk Tama, biar aku menyuapinya,” titahnya kemudian kepada mbak Rana.
Pratama turun dari gendongan, berlari-lari kecil mendekati burung yang hinggap di rerumputan, tapi begitu Tama mendekat, burung-burung itu berterbangan.
“Yuuung … yuuung … “ pekiknya sambil melonjak-lonjak.
Ketika Adri pamit untuk berangkat, Nirmala sedang menyuapi Pratama. Dengan wajah muram dia mencium tangan suaminya. Adri membalasnya dengan ciuman di kening.
Adri sangat mencintai istrinya, tapi ia merasa bahwa sang istri tidak membutuhkan dirinya. Ketika ia mau memasuki mobilnya, ponselnya berdering.
“Ya, ini aku sedang perjalanan ke sana. Tenang saja, nanti aku mau melihat hasilnya dulu. Kalau harus operasi, aku pasti ada di sana.”
Lalu Adri masuk ke dalam mobil.
Nirmala tak membalasnya ketika Adri melambaikan tangannya. Sebenarnya Nirmala ingin tahu, siapa sebenarnya yang sakit itu. Mengapa suaminya begitu perhatian. Bahkan semalam menungguinya sampai jam dua. Bukan main. Dan sekarang akan menunggui saat dia dioprasi? Teman kantor, atau teman yang lain?
***
"Nanti jadi ya, ibu-ibu mau kumpul-kumpul di sini?” tanya pak Bondan sebelum berangkat ke kantor.
“Ya jadi Pak, kemarin ibu sudah pesan untuk hidangan, cukup nasi kotak dan snack yang juga ibu pesan saja. Males kalau harus masak-masak juga. Nanti bibik biar membantu buat minum saja.”
“Yang menata kursi-kursi siapa? Apa kita punya kursi sebanyak itu?”
“Dari pak RT. Aku sudah minta tolong pak RT agar mencarikan anak-anak muda yang bisa aku suruh menata.”
“Pokoknya semua beres kan?”
“Beres, Bapak tidak usah khawatir.”
“Syukurlah, yang penting Ibu tidak boleh terlalu capek.”
“Ya enggak Pak, ibu kan tidak mengerjakan apa-apa.”
“Ya sudah, ingat tulang tua, jangan terlalu capek.”
“Oh iya Pak, kemarin itu ketika sedang belanja, aku melihat Adri sedang makan dengan seorang wanita cantik.”
“Kapan?”
“Kemarin siang, kira-kira ya waktu makan sianglah.”
“Berarti mereka sedang makan siang di luar, saat jam istirahat.”
“Wanita itu cantik, mereka sangat akrab.”
“Pastinya teman kantornya. Mudah-mudahan Adri tidak berbuat yang macam-macam.”
“Iya Pak, pengin curiga sih, tapi ya mungkin hanya teman kerja.”
“Ibu itu aneh. Pengin kok curiga.”
Bu Bondan tertawa, sambil mengantarkan sang suami ke arah mobil, di mana sopir pribadi sudah membukakan pintunya.
***
Siang hari itu, saat istirahat di kantornya, Nirmala menelpon ke kantor Adri. Nirmala di kenal di semua anak cabang perusahaan milik pak Bondan, karena itu ia bisa meminta informasi tentang apa saja, di kantor mana yang dia inginkan.
Nirmala menanyakan, apakah ada karyawan yang sakit dan opname di rumah sakit.
Costumer Servis mengatakan bahwa ada yang hari itu tidak masuk, katanya semalam masuk rumah sakit.
“Siapa dia?”
“Bu Dwi, manager pemasaran yang baru.”
“Oh, perempuan?”
“Iya, Bu Dwiyanti, Ibu. Kabarnya siang ini kakinya dioperasi karena jatuh dan pak Adri menungguinya sejak pagi.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah....
ReplyDeleteBeAaeM_11 sudah tayang.
Apakah Dwi jadi operasi kakinya?
Yuk kita baca bersama.
Matur nuwun mBak Tien ๐น
Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 11" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu๐
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Semoga sehat slalu begitu juga keluarga.
Adri mulai kesengsem..
๐ฎ๐ชญ๐ฎ๐ชญ๐ฎ๐ชญ๐ฎ๐ชญ
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐
Cerbung BeAaeM_11
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ๐๐ฆ
๐ฎ๐ชญ๐ฎ๐ชญ๐ฎ๐ชญ๐ฎ๐ชญ
Matur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteMatur suwun Bu Tien salam sehat selalu.๐
ReplyDeleteHamdallah sampun tayang
ReplyDeleteSuwun mb Tien, smg sht sll
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 11* yang di tunggu2 sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 11 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Nirma...bilang sama ayahmu ya, karyawan yang bernama Dwi..sebaiknya di pindah tugaskan di tempat lain..di luar kota misalnya, agar tidak mengganggu ketentraman rumah tanggamu ya.
Mks bun ....selamat mlm, smg sehat selalu ๐๐
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 11 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐๐ฉท๐น๐น
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien cerbungnya ontime๐๐sehat dan semangat Bu,sll berkarya untuk para pecinta cerbung...❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah, terimakasih bunda Tien
ReplyDeleteAlhamdullilah..terima ksih bunda cerbungnya..slm seroja dan aduhai sll unk bunda sekeluarga๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~11 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien ๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..๐คฒ