Monday, February 16, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 10

 BIARKAN AKU MEMILIH  10

(Tien Kumalasari)

 

Wanita itu bu Bondan, bersama pembantunya, sedang mau memesan masakan untuk acara ibu-ibu RT pada keesokan harinya.

Si bibik protes, mengapa tidak jadi pesan. Dalam hati agak mengeluh, kalau tidak pesen pasti dia yang harus memasak.. seratus boxs makanan, padahal belum siap?

“Kenapa nyonya tidak jadi pesan?”

“Nanti aku telpon saja. Ini tadi kan sekaliyan belanja, jadi mampir.”

“Apa karena ada tuan Adri di sana tadi?”

“Iya.”

“Siapa ya perempuan cantik di depannya tadi. Kelihatannya akrab banget. Si wanita sebentar-sebentar menowel tangan tuan Adri.”

“Barangkali teman kantornya, kan ini masih jam istirahat kantor.”

“Tapi kok begitu amat. Sepertinya tidak wajar.”

“Bik, kamu itu kenapa pikirannya lari ke mana-mana? Orang berteman itu ya biasa seperti itu,” kata bu Bondan yang sejatinya juga merasa tidak suka melihat keakraban itu.

“Saya kurang suka pada tuan Adri. Kalau datang ke rumah wajahnya tidak pernah senyum. Menurut bibik, dia nggak cocok sama non Nirma.”

“Ssst .”

“Tapi tadi ketika di depan teman wanitanya, kok wajahnya kelihatan berseri-seri ya, Nyonya merasa aneh tidak?”

“Barangkali sedang membicarakan keberhasilan pekerjaan mereka. Ayo kita ke sana, nanti belanjanya tidak selesai-selesai,” kata bu Bondan yang sebenarnya setuju dengan pendapat pembantunya.

Tiba-tiba bu Bondan merasa, bahwa apa yang dikatakan suaminya ketika Nirma mengatakan bersedia menjadi suami Adri, adalah benar. Sepertinya mereka tidak cocok. Apakah Nirmala bisa menerima pernikahan itu ya, apakah dia berbahagia? Pikir bu Bondan.

“Tapi Nirmala tidak pernah mengeluh,” katanya pelan, tapi tak urung bibik mendengarnya.

“Nyonya bilang apa?”

“Tidak ada. Ayo belanja saja, jangan bicara yang tidak-tidak."

Bibik sudah lama mengabdi pada keluarga Bondan, bahkan sudah dianggap keluarga. Karena itulah si bibik tidak segan mengeluarkan pendapatnya.

“Semoga non Nirmala hidup berbahagia,” bibik bergumam lirih.

Bu Bondan tersenyum mendengarnya. Nirmala sejak kecil diasuh oleh bibik, dan karenanya bibik selalu memperhatikan kehidupan Nirmala. Seakan tak rela jika nona majikannya disakiti.

“Mana tadi catatan kamu, jangan sampai terlewat,” nyonya Bondan mengalihkan pembicaraan.

“Nyonya, kalau memang Nyonya tidak mau pesan dan harus memasak sendiri, sebaiknya belanja sekarang saja, nanti bibik mencicil masak, asal lauknya yang gampang-gampang saja. Misalnya ayam goreng, sambal lalapan dan entah sayur apa, gitu.”

“Tidak Bik, kasihan bibik. Nanti aku pesan saja, kan sudah langganan. Atau aku pesan sekarang saja, daripada lupa,” kata bu Bondan sambil mengambil ponselnya.

***

Agak terlambat daripada biasanya, ketika Adri memasuki rumahnya. Baru dia mau masuk kamar, dilihatnya Nirmala keluar dengan dandanan yang rapi, seperti mau bepergian.

“Kamu mau ke mana?”

“Bima mengundang di hari pertunangannya.”

“Hari ini?”

“Ya, kalau kamu mau ikut, ini sudah terlambat," kata Nirmala sambil mengambil tas kecil cantik yang sudah disiapkannya di luar kamar.

Adri menatapnya, tak terdengar perkataan Nirmala mengajaknya. Ia tahu, Nirmala masih marah kepadanya. Sangat marah, bahkan, karena walaupun kesal, Nirmala tak pernah sekeras itu. Ada sesal ketika ia melakukan tes DNA itu, gara-gara cemburu buta. Tapi kan dia sudah mengatakan kalau dia menyesalinya.

Ia menoleh ke halaman ketika melihat mobil Nirmala keluar dari sana.

Adri kesal. Ia selalu cemburu pada Bima, walau Bima sudah bertunangan. Perhatian Nirmala kepada Bima membuatnya kesal.

Ia masuk ke dalam rumah, dan menghentikan langkahnya ketika mendengar celoteh Pratama seperti memanggil-manggil namanya.

“Paaa … ppaaa …”

"Bapak cuci kaki tangan dulu ya,” kata Adri sambil membuka pintu kamar, tapi Pratama berteriak-teriak, dan hampir menangis.

“Mbak Rana, bawa dulu Tama, saya ganti pakaian dulu,” kata Adri, yang langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Pratama yang menangis berguling-guling.

Mbak Rana segera menggendongnya, dan menghiburnya dengan segala macam cara, tapi Pratama tak mau berhenti menangis. Ia baru berhenti ketika Adri sudah keluar kemudian menggendongnya.

“Iya .. iya, kan bapak baru cuci kaki … cuci tangan.. lalu ganti pakaian, malah belum mandi nih, gara-gara Tama menangis.”

“Maaa … maaa … “ katanya kemudian.

“Tadi sudah menangis ketika nyonya mau pergi,” kata mbak Rana.

“O, iya?” kata Adri sambil menatap anaknya.

“Maa … maaa … “ katanya sambil menunjuk ke arah luar. Barangkali maksudnya mengatakan bahwa sang ibu pergi ke sana.

“Ibu sedang ke kondangan, Tama tidak boleh rewel ya.”

Pratama terhibur ketika Adri mengajaknya bermain. Memang sesungguhnya Adri sangat menyayangi Pratama, dan Pratama juga sangat dekat dengan ayahnya.

Tapi ketika asyik bermain, tiba-tiba terdengar notifikasi pesan di ponsel Adri. Adri segera berdiri untuk meraih ponselnya yang kebetulan tak jauh dari mereka yang sedang bermain.

“Paaaa … paaa ….” Pratama berteriak.

“Sebentar ya sayang,” kata Adri yang kemudian membaca pesan singkat yang ternyata dikirim oleh Dwi.

Adri terkejut membacanya.

“Adri, tolong aku, aku dihajar oleh suami aku, aku mau pergi dari rumah. Tolong Adri…” lalu ada emotikon menangis.

“Lalu bagaimana aku harus menolong kamu?”

”Kemarilah, bawa aku pergi ke rumah sakit. Aku tak bisa jalan, kakiku sakit sekali, aku didorong sampai terjatuh.”

“Nanti ketahuan suami kamu bagaimana? Nggak enak kan, nanti dikira aku ikut campur urusan rumah tangga kalian.”

"Tidak, suamiku sudah pergi bersama ibunya. Tolong Adri, aku tak bisa jalan, kelihatannya kakiku terkilir, dan ada luka berdarah terantuk meja.”

“Baiklah, aku ke situ.”

Adri memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Mbak Rana, aku mau pergi dulu, tolong bawa Tama ke belakang, supaya tidak menangis saat melihat aku pergi.”

“Paaa …. Paaa ….” Pratama berteriak-teriak, tapi mbak Rana segera menggendongnya. Pratama meronta.

“Mas Tama, ayo kita ambil sepeda kecil yuk, nanti mbak Rana dorong. Ayuk, main sepedaan ya,” kata mbak Rana sambil memaksa Pratama untuk diajaknya ke belakang.

Adri menghampiri mobilnya lalu membawanya keluar halaman.

***

Adri memarkir mobilnya di luar pagar rumah Dwi. Terlihat sepi, tapi pintu depan terbuka. Adri berjalan memasuki halaman, Pelan, khawatir kalau sampai suami Dwi memergokinya. Bukannya apa-apa, Adri sesungguhnya tidak mau terlibat dalam keributan rumah tangga Dwi. Ingin ia menolak datang, tapi ia kasihan pada Dwi. Sekarang ia sudah sampai di depan tangga teras. Tak ada suara, tapi rupanya Dwi mendengar suara langkah kaki.

“Adri?” Dwi berteriak dari dalam.

“Ya.”

“Masuk saja Adri, tak ada siapapun, aku tak bisa berjalan, kakiku luka dan terkilir. Masuk saja Adri.”

Adri menaiki tangga teras. Ia sudah sampai di pintu, lalu melongok ke dalam. Di depan televisi yang tidak menyala, Dwi duduk bersandar pada sofa, rambutnya awut-awutan. Melihat kedatangan Adri, Dwi langsung menangis.

“Tolong aku Adri, aku dianiaya.”

Adri mendekat, mencoba membantu Dwi untuk berdiri, tapi terasa berat, karena sebelah kakinya tak mampu digerakkan. Ketika Adri menyentuhnya, Dwi menjerit sakit.

“Antarkan aku ke rumah sakit, Adri. Tolonglah.”

“Bagaimana bisa seperti ini?”

“Ceritanya nanti, bawa aku dulu, aku tak tahan lagi.”

Adri memapah Dwi, diajaknya masuk ke dalam mobilnya, lalu dibawanya ke rumah sakit.

***

Di sebuah gedung, acara pertunangan Bima berlangsung. Tamu-tamu undangan bergantian menyalami Bima dan tunangannya.

Ketika tiba giliran Nirmala, wajah Bima tampak semakin berseri.

“Selamat ya, semoga segera mendapat undangan pernikahan. Aku ikut berbahagia,” kata Nirmala.

“Mana Adri?”

“Dia tidak ikut. Tadi pulang agak sorean.”

“Selalu sibuk ya?”

“Begitulah, namanya orang bekerja, terkadang juga sibuk, terkadang biasa saja.”

“Selamat ya, Ayu …” kata Nirmala menyalami Ayudya, tunangan Bima.

“Terima kasih Mbak.”

“Aku tidak bisa menunggu sampai selesai, soalnya aku sendirian,” kata Nirmala.

“Terima kasih sudah mau datang,” kata Bima.

“Jangan lupa undangan pernikahan ya.”

Bima mengacungkan jempolnya, kemudian berganti menerima salam tamu yang lain.

***

Nirmala memasuki halaman, tapi tidak melihat mobil Adri di halaman. Ia mengira Adri sudah memasukkannya ke garasi. Tapi ketika ia membuka garasi untuk memasukkan mobilnya sendiri, mobil Adri juga tak terlihat di sana.

Memasuki rumah, Nirmala melihat mbak Rana sedang menggendong Pratama yang sudah pulas tertidur.

“Kok tumben tidurnya digendong?” tanya Nirmala.

“Tadi rewel Nyonya.”

“Lhoh, kenapa rewel?”

“Tadi sedang bermain sama tuan, tiba-tiba tuan mendapat pesan di ponselnya, kemudian segera pergi, jadinya mas Tama rewel. Baru saja dia tertidur.”

“Ayahnya ke mana?”

“Tidak tahu nyonya, tadi setelah membuka ponselnya langsung pergi begitu saja, tidak mengatakan mau pergi ke mana.”

“Ya sudah, tidurkan Pratama di kamarku setelah aku ganti baju, biar tidak rewel lagi.”

“Baik Nyonya.”

***

Adri masih di rumah sakit, celakanya menurut pemeriksaan, kemungkinan kaki Dwi retak atau bahkan patah, menunggu besok apakah harus dioperasi ataukah tidak.

Ketika sudah dipindahkan ke ruang rawat, Adri bermaksud pulang dulu, karena hari sudah malam.

“Aku pulang dulu ya, tadi istriku tidak tahu aku pergi ke mana.”

“Kamu kan bisa menelponnya?”

“Ponselnya tidak aktif.”

“Tapi aku tidak mau kamu tinggalkan sendiri Adri, tolong temani aku dulu.”

“Tapi Dwi.”

“Setidaknya setelah aku tertidur.”

***

Besok lagi ya.

 

39 comments:

  1. Matur suwun bu Tien salam sehat selalu

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah
    Matur sembah nuwun Mbak Tien

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah RDBW episode 10 sudah tayang.
    Terima kasih mBak Tien. Salam SEROJA dan tetap semangat.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 10" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete

  6. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 10* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
      Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  7. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~10 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
      Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  8. Alhamdulilah
    Terimakasih bunda. Semoga tetap sehat slalu
    Dwi... Manja amat sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
      Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  9. πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘
    Alhamdulillah πŸ™πŸ¦‹
    Cerbung BeAaeM_10
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘πŸ’πŸ‘

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
      Matur nuwun inu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  11. Alhamdulilah Cerbung "BAM 10 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
      Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  12. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  14. Terima kasih Bu Tien
    Semoga bu Tien beserta keluarga selalu sehat

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 10 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  16. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 10 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    s Dwi..apakah tdk punya Ortu dan saudara ta, dikit2...panggil Adri.
    Lapor Polisi ya Dwi klu ada kasus kdrt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
      Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  17. Cerita Guntur terulang lagi. Gunturkan saja Adri itu Mbak...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  18. Mks bun....salam tahajud.....ttp sehat ttp semanga

    ReplyDelete
  19. Terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda sekel πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien ,cerbungnya menarik..
    Sehat dan bahagia selalu BuπŸ™

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 11

  BIARKAN AKU MEMILIH  11 (Tien Kumalasari)   Adri tertegun. Ini sudah jam 11 malam, tapi Dwi masih menahannya. Ia menatap wajah pucat itu, ...