Friday, February 13, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 08

 BIARKAN AKU MEMILIH  08

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menatap lembaran kertas hasil tes DNA itu dengan tatapan tak percaya. Adri … suaminya … melakukan tes DNA untuk Pratama? Apakah artinya bahwa Adri tidak mempercayai kesetiaannya? Nirmala tak habis pikir, apa yang sudah dilakukannya, bahkan terang-terangan menentang kehendak sang ayah, tidakkah cukup menunjukkan bahwa dirinya hanya mencintai Adri?

Dengan kesal Nirmala duduk, lalu meraih ponselnya. Ia sangat marah, tapi nomor yang sudah ditemukannya urung di tekannya. Ini jam sibuk, pasti tidak enak rasanya mendapat telpon dari seorang istri yang marah-marah. Nirmala kembali meletakkan ponselnya. Dalam kekesalannya dia masih bisa menjaga suaminya, agar jangan terganggu pekerjaannya. Baiklah, Nirmala akan menunggu sampai dia pulang saja. Kemudian ia melanjutkan kegiatannya bersih-bersih, mumpung ada waktu luang sebelum ia kembali disibukkan oleh tugas di kantornya.

Dari belakang bibik menawarkan apa sang nyonya majikan menginginkan sesuatu masakan untuk makan siang nanti, tapi Nirmala menggelengkan kepalanya.

“Terserah Bibik saja, apapun aku suka kok,” katanya berusaha ramah.

“Baiklah Nyonya.”

“Mbak Rana saja suruh menyiapkan makanan untuk Pratama seperti biasanya.”

“Sepertinya sudah Nyonya, mbak Rana sudah tahu apa yang harus dilakukannya.”

“Iya Bik, aku mengerti. Seharusnya aku tak perlu mengingatkannya,” katanya kemudian menyibukkan diri dengan menata kamarnya.

Bibik kembali ke dapur sambil berpikir, sikap sang nyonya majikan yang agak lain pagi ini. Wajahnya muram seperti sedang memikirkan sesuatu, padahal biasanya selalu tampak berseri-seri, bahkan pagi tadi masih tampak cerah ceria.

Nirmala kembali merapikan almari sang suami, tapi ia menyisihkan surat hasil lab itu dan meletakkannya di meja.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Bima, tak biasanya Bima menelpon pagi-pagi.

“Ya, Bima?”

“Kamu sedang di kantor? Aku hanya akan bilang sebentar sebelum sangat sibuk, maaf kalau mengganggu pekerjaan kamu.”

“Tidak, aku sedang di rumah.”

“Tidak kerja?”

“Baru pulang dari dinas luar pagi tadi, ingin istirahat sehari ini. Ada apa? Tumben menelpon pagi-pagi.”

“Iya, maaf, aku hanya ingin mengingatkan bahwa aku mengundang kamu di acara pertunangan aku besok sore. Tempat dan jamnya aku kirimkan lewat WA ya.”

“Oh, baiklah. Mendadak sekali, besok sore?”

“Iya, maaf, baru ingat kalau belum mengirimkan waktu dan jamnya pada kamu.”

“Baiklah, terima kasih Bima, aku usahakan datang.”

“Datanglah bersama suami kamu.”

“Iya, gampang.”

Walau begitu Nirmala tak ingin berjanji untuk datang bersama Adri. Ia masih kesal dan kalaupun datang ia ingin sendiri saja. Lagipula ia tak yakin Adri mau datang karena ia sangat tidak menyukai Bima yang dianggapnya sebagai saingan.

***

Sementara itu saat makan siang di kantor, Dwi memasuki ruang Adri dengan wajah muram. Matanya sembab, seperti habis menangis. Adri menatapnya dan mengerutkan keningnya.

“Apa yang terjadi?”

Dwi duduk di depan meja kerja Adri.

“Masalah pekerjaan?”

“Bukan. Bisakah kita bicara di luar? Aku harus mengatakannya sama kamu untuk mengurangi beban yang berat ini dalam hidupku.”

“Masalah apa?”

“Bisakah kita keluar makan?”

“Baiklah.”

Adri berdiri setelah merapikan berkas di mejanya, lalu mengikuti Dwi keluar ruangan.

***

Mereka mencari rumah makan yang sepi, agar bisa berbicara dengan nyaman.

“Katakan ada apa?” tanya Adri setelah memesan makan dan minum.

“Suamiku.”

“Kenapa? Sakit lagi? Masuk rumah sakit lagi?”

“Aku mau cerai.”

“Cerai? Baru berapa tahun kalian menikah, sudah mau cerai?”

“Adri, kamu tidak tahu, rumah tanggaku ini sebenarnya sudah lama tidak baik-baik saja.”

Adri mengerutkan keningnya.

“Tidak baik-baik saja?”

“Aku tidak segera hamil, dan mertuaku selalu mengomel dan mengatakan bahwa aku bukan wanita yang sempurna. Ia ingin memiliki cucu secepatnya.”

“Bagaimana dengan suamimu?”

“Suamiku hanya diam. Barangkali dalam hati dia juga mengatakan hal yang sama. Tapi tidak dikatakannya padaku. Lalu siang tadi dia menelpon, bahwa dia akan menikah lagi dengan gadis pilihan orang tuanya.”

“Haa? Bicara masalah sebesar itu, hanya menelpon?”

“Sejak pagi dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi diurungkannya. Tadi ketika menelpon, dia bilang tak sampai hati bicara berhadapan muka, karenanya dia menelpon.”

“Ya Tuhan.”

“Adri, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus diam saja dengan menerima kenyataan itu, apakah aku harus menentangnya, atau bagaimana? Tolong katakan Adri, hanya kamu yang bisa menolong aku,” kata Dwi, lalu air matanya sudah tergenang di pelupuknya.

Tiba-tiba Adri merasakan sesuatu yang aneh. Ia seperti menjadi laki-laki yang dibutuhkan dan punya arti. Dwi mencurahkan penderitaannya dan mengatakan bahwa dirinyalah yang bisa menolongnya, sementara dalam rumah tangganya, Nirmala seperti tak pernah membutuhkannya. Nirmala bisa melakukan apapun sendiri, memutuskan apapun sendiri tak pernah membutuhkan dirinya. Dan merasa dibutuhkan itu ternyata memiliki arti sendiri bagi Adri. Ia laki-laki yang bukan sekedar laki-laki kuat dan bisa melindungi, tapi juga laki-laki yang benar-benar dibutuhkan oleh seorang perempuan.

Ia menatap Dwi dengan iba. Tangannya meraih tangan Dwi yang terletak di atas meja, menepuknya perlahan.

“Aku mengerti apa yang kamu rasakan.”

“Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin minta cerai saja.”

“Jangan.”

“Dia akan punya istri lain, Adri, aku tak mau dimadu.”

“Kalian belum bicara dari hati ke hati. Dibutuhkan komunikasi untuk memutuskan suatu masalah. Bukan sekedar tak suka lalu pergi seperti orang sedang bermain-main. Diantara kalian selalu baik-baik saja. Permasalahannya ada pada mertua kamu yang ingin segera menimang cucu.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Bicaralah dengan suami kamu, apakah menikah lagi itu perlu, sementara kalian masih saling mencintai.”

”TIba-tiba rasa cinta itu sudah hilang.”

“Dwi, semudah itu?”

“Entahlah, aku bingung.”

Sampai acara makan siang itu usai, Dwi belum mengatakan apa yang akan dilakukannya. Ia justru tak ingin bertemu suaminya hari itu.

Karenanya saat usai jam kantor, Dwi mendekati Adri.

“Adri, aku tak mau pulang.”

“Apa maksudmu?”

“Bawalah aku pergi.”

“Apa?”

“Aku tak mau pulang Adri, aku akan ikut bersamamu.”

“Dwi, kamu tahu bahwa aku harus pulang. Apa kata istriku kalau kamu ikut pulang bersamaku?”

“Kalau begitu bawa aku ke mana saja. Kalau tidak, aku akan pergi entah ke mana.”

***

Sudah saatnya Adri pulang. Nirmala duduk di teras, menunggu dengan hati yang masih terasa kesal. Ia harus bicara dengan suaminya tentang ditemukannya hasil lab DNA itu. Ia tak terima dengan perlakuan sang suami.

Tapi hari mulai gelap ketika Adri belum tampak batang hidungnya. Nirmala mulai gelisah. Tak biasanya Adri pulang terlambat tanpa memberi tahu terlebih dulu. Karena itu kemudian dia menelponnya.

“Aku pulang terlambat. Kalau mau makan, makanlah dulu,” kata Adri dari seberang sana.

“Kamu masih di kantor?”

“Sedang ada urusan di luar.”

Lalu ponsel Adri dimatikan. Nirmala heran, ia merasa Adri tidak sedang berada di kantor. Kekesalan Nirmala bertambah. Minuman yang terhidang sudah menjadi dingin, tapi darah di kepalanya semakin panas.

***

Adri terpaksa membawa Dwi berputar-putar kota, sambil terus menghibur dan meredakan kemarahan Dwi atas keputusan yang dikatakan suaminya.

“Dwi, ini bukan jalan yang baik. Mau tidak mau kamu harus menghadapinya, baik suami kamu tetap akan menikah lagi, atau membatalkannya. Kalian belum bicara. Kalau suami kamu segan atau berat mengatakan itu di hadapan kamu, kamulah yang harus memulainya. Bicaralah dari hati ke hati, apa benar suami kamu menikah hanya atas kemauan orang tuanya, atau memang ada niat di hatinya untuk menikah lagi.”

Hari sudah malam ketika akhirnya Dwi mau diantarkan pulang, apalagi ketika tahu bahwa istri Adri sampai menelpon.

“Bicaralah dari hati ke hati,” pesan Adri yang diulangnya beberapa kali sebelum ia benar-benar meninggalkannya.

***

Ketika mobil Adri memasuki halaman, dilihatnya Nirmala masih duduk di teras. Wajahnya muram, tak sedikitpun ada senyum seperti biasa, saat ia menyambut kepulangan sang suami.

“Aku ada urusan. Maaf.”

“Minuman yang aku sediakan sudah dingin, aku buatkan lagi,” kata Nirmala sambil berdiri.

“Tak usah, biar dingin nggak apa-apa,” kata Adri sambil duduk, lalu meneguk kopi manis yang terhidang dan benar-benar sudah dingin.

“Nanti aku ceritakan tentang keterlambatan aku pulang hari ini.”

Nirmala mengulurkan amplop yang dari tadi terletak di meja.

“Apa ini?”

“Aku yang seharusnya bertanya. Ini apa artinya,” kata Nirmala dingin.

***

Besok lagi ya.

 

 

43 comments:

  1. Alhamdulillah yang ditunggu sdh tayang.
    BeAaeM_08.
    Waduh.... Dwi oh Dwi.....
    Bisa jadi masalah ini nanti....
    Nirmala sangat marah ...
    Ya iyalah ...
    Test DNA, untung cepat ketahuan Nirmala.....

    Matur nuwun sanget mBak Tien, salam SEROJA dan tetap ADUHAI... πŸ€πŸ™πŸŒΉ

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  3. πŸ„πŸͺΈπŸ„πŸͺΈπŸ„πŸͺΈπŸ„πŸͺΈ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ¦‹
    Cerbung BeAaeM_08
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ„πŸͺΈπŸ„πŸͺΈπŸ„πŸͺΈπŸ„πŸͺΈ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  4. Alhamdulilah Cerbung "BAM 08 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri.
      Aduhai aduhai

      Delete

  5. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 08* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  7. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda.
    Sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  8. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 08 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  9. Mks bun BAM 08 sdh tayang...selama mlm bun .....smg sehat² sll

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah BAM sudah hadir, ....liku liku kehidupan......semoga rumah tangganya tetap baik2 saja,,walaupun ada gelombang,...... Maturnuwun Bu Tien,..... diparingi sehat, semangat dan bahagia nggih Bu...πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik

      Delete
  11. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~08 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  12. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk..

    ReplyDelete
  13. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 08 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Dwi terlalu manja.. kan Adri sudah punya isteri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  14. Alhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 08" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  15. Namanya Adri bukan Andri, berarti dia perantau, tapi mengapa bersikap seperti itu?

    ReplyDelete
  16. Waah...mulai deh gonjang ganjing rumah tangga Nirma dan Adri, ada curiga ada cemburu ada ketidakpercayaan...😰

    Terima kasih, ibu Tien. Lanjut berkarya, semoga sehat dan bahagia selalu.πŸ™πŸ»

    ReplyDelete
  17. Terima ksih bunda cerbungnya..slm seroja dan aduhai dri skbmi unk bunda sekelπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 11

  BIARKAN AKU MEMILIH  11 (Tien Kumalasari)   Adri tertegun. Ini sudah jam 11 malam, tapi Dwi masih menahannya. Ia menatap wajah pucat itu, ...