Tuesday, November 12, 2024

KETIKA BULAN TINGGAL SEPARUH 10

 KETIKA BULAN TINGGAL SEPARUH  10

(Tien Kumalasari)

 

Wahyuni masih termangu di depan toko, sampai mobil yang dikemudikan laki-laki tampan itu berlalu. Ia tersenyum-senyum sendiri, membayangkan seandainya wajah tampan itu ada di sampingnya sebagai kekasih, atau pacar, atau …

“Hei, ngapain kamu senyum-senyum sendiri di situ?” teriakan itu mengejutkannya. Ia menoleh ke arah toko, dan melihat adiknya, Sutris, keluar dari belakang dengan wajah muram.

Wahyuni masih tersenyum ketika masuk ke dalam toko.

“Ngganteng sekali dia. Wajahnya bersih, senyumnya menawan. Ia benar-benar seperti pangeran dalam dongeng.”

“Apa kamu sudah gila, Mbak?”

“Eh, kualat kamu, mengatai kakakmu ini gila,” sentak Wahyuni tak suka.

“Kamu senyum-senyum sendiri, ngedumel sendiri, apa tidak seperti orang gila itu namanya?”

“Kamu tidak tahu, beberapa hari yang lalu aku sudah ketemu, tapi ketika itu wajahnya sangar, sepertinya dia sedang kesal. Ini tadi, dia begitu ramah, menawan, pokoknya aku belum pernah melihat laki-laki setampan itu.”

“Siapa yang kamu maksud?”

“Kamu tidak melihatnya? Dia membeli empat galon air.”

“Aku di kamar mandi. Siapa dia?”

“Dia, pemilik bangunan pasar yang sedang dibangun itu, yang namanya Bachtiar.”

“Bachtiar beli apa katamu?”

“Empat galon air kemasan. Tapi aku sedikit sedih. Patah hati sepertinya."

“Sedih kenapa?”

“Dia beli air itu akan diberikan kepada Arumi.”

“Arumi? Mengapa dia beli air untuk Arumi?”

“Katanya begitu. Apa selamanya dia akan membelikan air untuk keluarga pak Truno? Sebel banget. Apa dia suka pada Arumi?”

“Dia suka pada Arumi?” tiba-tiba darah di tubuh Sutris memanas.

“Siapa tahu, buktinya perhatiannya pada Arumi begitu besar. Cuma air saja bersusah payah dia belikan, barangkali merasa kasihan karena setiap hari Arumi mengambil air dari sumber,” kata Wahyuni tak kurang panas.

“Kurangajar. Sepertinya aku harus bergerak cepat.”

“Apa maksudmu?”

“Arumi milikku, tidak boleh dia tertarik pada laki-laki lain. Kalau mau, aku juga bisa minta mobil seperti punya Bachtiar pada bapak, yang bisa menarik hati Arumi. Aku juga tak kalah ganteng, ya kan?”

Wahyuni tertawa sambil menutup mulutnya.

“Kamu tak kalah ganteng? Bachtiar itu kulitnya bersih, senyumnya menawan. Kamu … kulitmu hitam seperti pantat kuali, senyummu nggak ada manis-manisnya, apalagi hari ini, wajahmu gelap seperti mendung musim hujan.”

“Iya, aku lagi kesal sama pak Truno.”

“Kenapa memangnya?

”Setiap kali ketemu aku, pasti mengomel. Pokoknya dia nggak suka kalau aku datang menyambangi anaknya.  Kurang apa aku ini, orang tuaku kaya, hidup Arumi pasti terjamin. Pengin apa aku bisa memenuhi.”

“Kalau orang tuanya nggak suka, ya jangan harap bisa mengambil anaknya. Lagipula aku nggak suka punya ipar Arumi.”

“Dulu kamu bilang dia perempuan nggak bener, setelah terbukti bahwa dia perempuan baik-baik, apa lagi alasan kamu untuk tidak suka pada dia?”

“Pokoknya aku nggak suka. Banyak perempuan di desa ini, mengapa kamu suka pada Arumi?”

“Nggak ada yang sama, dia gadis tercantik di desa ini. Kalau aku kurang cepat bisa-bisa keduluan orang lain.”

“Huuh, dasar kamu sedang tergila-gila.”

“Kamu iri sama dia karena kalah cantik, ya kan?” ejek Sutris yang kemudian pergi begitu saja.

Wahyuni cemberut. Tapi kemudian dia teringat pada laki-laki ganteng yang telah membuatnya mabuk kepayang. Tapi celakanya lagi, si ganteng itu sepertinya juga suka pada Arumi.

“Sebell!!”

“Permisi,” Wahyuni terkejut ketika tiba-tiba di depannya muncul seorang wanita cantik. Tampaknya dia datang dari kota.

“Oh, eh … ya, mau beli apa, Mbak?”

“Saya bukannya mau belanja.”

“Lalu ….?”

“Cuma mau bertanya, letak proyek bangunan pasar yang sedang dibangun itu di mana ya?”

“Oh, sebelah sana Mbak, terus saja ke selatan, kiri jalan ada pohon besar, nah, di situ kan kelihatan ada bangunan baru. Mbak mau memesan kios di tempat itu? Sepertinya belum bisa. Ayah saya juga mau pesen, katanya masih menunggu, untuk menentukan harga dan entah apa lagi, gitu.”

“Bukan untuk membeli kios. Aku mencari pimpinan proyek itu.”

“Ooh, mas Bachtiar?”

“Mbak kenal sama dia?”

“Semua orang di desa ini kenal sama dia. Mbak ini apanya?”

“Aku calon istrinya.”

Wahyuni terbelalak.

“Calon istrinya? Cantik sekali.”

“Ya sudah, saya permisi.”

“Eh, tunggu … tunggu ….”

“Ada apa?”

“Nama Mbak siapa?”

“Saya Lukiati.”

“Saya ingin memberi tahu, kalau mencari mas Bachtiar di proyek pasti tidak akan ketemu.”

“Memangnya dia ada di mana?”

“Dia sedang di rumah seorang gadis,” kata Wahyuni dengan wajah tak suka.

“Apa? Di rumah seorang gadis?”

“Awas saja Mbak, kalau Mbak tidak sering-sering datang kemari, bisa-bisa dia bisa merebut calon suami MBak itu.”

“Siapa gadis itu?”

“Namanya Arumi, dia masih kecil, tapi cantik. Saya takut mas Bachtiar benar-benar suka sama dia, lalu meninggalkan Mbak.”

“Di mana rumahnya?”

“Agak jauh dari sini, di ujung desa. Mbak langsung ke arah barat, dan cari rumah pak Truno. Pak Truno itu orang tua Arumi.”

Luki memang pergi menyusul Bachtiar ke tempat kerjanya, seperti disarankan bu Wirawan. Tapi hatinya tidak senang ketika mendengar Bachtiar sedang mengunjungi seorang gadis.

Ia segera berbalik dan langsung mengendarai mobilnya ke arah yang ditunjuk Wahyuni. Ia bahkan merasa tak perlu menanyakan nama Wahyuni, walaupun gadis itu menanyakan siapa namanya.

Wahyuni tersenyum senang.

“Biar tau rasa Arumi. Pasti wanita cantik tadi akan memarahinya. Memaki-makinya karena berani membuat Bachtiar tertarik padanya,” gumam Wahyuni sambil melanjutkan pekerjaannya, menghitung uang yang masuk hari itu, karena ayahnya pasti akan menanyakannya.

***

Sutris pulang ke rumah, tapi tidak ketemu sang ibu. Ia ingin mengatakan kepada ibunya tentang perasaan hatinya kepada Arumi. Ia tahu ayahnya tak suka, tapi barangkali sang ibu bisa menjadi perantara agar bisa meluluhkan hati ayahnya.

Ketika melewati ruang makan, dia malah melihat sang ayah sedang makan sendirian. Sudah kepalang tanggung, Sutris kemudian ikut duduk di kursi makan, dan makan bersama ayahnya.

“Kamu tinggalkan toko?”

“Ada mbak Yuni di sana. Sutris mencari ibu.”

“Ibumu sedang pergi ke tetangga yang punya kerja. Mau apa?”

Sutris menyendok nasi di piring yang sudah disediakan. Sang ibu telah menata semuanya sebelum meninggalkan rumah, agar kalau suami dan anak-anaknya pulang untuk makan, tinggal mengambil saja.

“Sebenarnya Sutris mau bilang … Sutris ingin melamar Arumi,” kata Sutris sambil mencomot sepotong bandeng goreng di depannya.

Pak Carik membelalakkan matanya. Kelihatan sekali kalau dia sangat marah.

“Apa kamu waras?”

“Tentu saja waras. Memang apa salahnya kalau Sutris punya istri Arumi?”

“Kamu hanya tergila-gila wajahnya yang cantik, tidak ingat dia itu siapa, anak siapa, bagaimana orang tuanya.”

“Sutris sangat mencintai dia Pak. Tolong Bapak mengertilah.”

“Tidak bisa. Malu aku, punya besan orang miskin seperti Truno. Seperti tidak ada orang lain saja.”

“Memangnya kenapa kalau dia keluarga miskin? Nanti Bapak bisa membuatnya supaya tidak miskin. Buatkan rumah bagus, beri uang yang cukup setiap bulan?”

“Kamu ini semakin nggak karuan ya? Malah nyuruh bapakmu ini membuatkan rumah bagus dan mencukupi kebutuhannya?” pak Carik berteriak.

“Supaya dia tidak miskin kan Pak, jadi Bapak tidak akan malu.”

“Kamu ngomong seenaknya saja. Mereka itu miskin ya biarkan miskin, mengapa bapak harus membantunya? Dengar, kamu sudah bapak jodohkan dengan anak pak Lurah, dan pak Lurah sudah setuju.”

“Apa?”

“Ibumu belum ngomong sama kamu ya? Anak pak Lurah itu cantik. Kekayaan orang tuanya sepadan dengan kekayaan bapakmu ini.”

“Sutris tidak mau.”

“Jangan bodoh!”

“Sutris hanya mau Arumi, titik!”

Lalu Sutris meninggalkan ruang makan itu sebelum menghabiskan nasi yang sudah ada di piringnya.

Pak Carik sangat marah. Dia menggebrag meja makan sehingga sebagian lauk pauk yang ada di atas meja terlempar dan berserakan di atas meja.

***

Bachtiar sedang ada di rumah pak Truno, yang kesehatannya semakin membaik. Luka memarnya sudah terlihat samar, luka yang semula diobati dengan daun lamtoro sudah mengering dan tidak lagi ditutup plester. Ia ingin membuka balutan di kakinya, tapi Bachtiar melarangnya.

“Biarkan beberapa hari lagi, dan kalau benar-benar sudah terasa tidak nyeri, maka tidak apa-apa dibuka pembalutnya.”

Pak Truno menurutinya, karena ia tahu bahwa Bachtiar sangat memperhatikan luka-lukanya. Keluarga pak Truno sangat berterima kasih ketika Bachtiar selalu membawakan air bersih untuk mereka.

“Saya sedang memikirkan untuk membuat tandon air bersih di desa ini, nanti saya akan bekerja sama dengan teman-teman saya,” janji Bachtiar yang disambut pak Truno dengan suka cita.

Arumi menyajikan wedang sereh yang sangat disukai Bachtiar setiap kali datang ke rumahnya.

“Aku sudah mengambilkan beberapa potong sereh untuk Mas bawa nanti, kalau di rumah pengin membuat sendiri. Lihat, sudah aku masukkan di keresek itu,” kata Arumi.

“Wah, terima kasih banyak, Rumi.”

“Tapi gulanya beli sendiri ya, persediaan di rumah sudah menipis,” kata Arumi tersipu.

“Ya, nanti aku beli.”

“Biar simbok belikan saja, di warung ada, nak Tiar mau menunggu?”

“Jangan Bu, saya kalau pulang kan melewati warung-warung, jadi bisa beli sendiri.”

“Nak, kalau manggil saya jangan ‘bu’, nggak biasa dipanggil ‘bu’, mau mengingatkan dari dulu selalu saja lupa,” kata mbok Truno.

“Memangnya kenapa kalau memanggil ibu?”

“Simbok saja, seperti Arumi kalau memanggil.”

“Kan nggak ada bedanya, simbok atau ibu?”

“Ya beda, orang desa seperti kami ini biasanya ya cuma simbak-simbok begitu, bukannya ibu.”

“Ya tidak apa-apa dong Bu, sama saja.”

“Nggak enak ah.”

“Hanya panggilan, dan tidak ada bedanya saja.”

“Mas Bachtiar mau ketela rebus? Arumi baru ngerebusnya, sebentar lagi matang.”

“Suka sih, tapi aku harus kembali ke proyek, ada yang harus aku selesaikan. Jadi setelalh minum wedang sereh ini, aku akan segera pamit.”

“Oh, ya sudah.”

“Kamu ngerebusnya kesiangan sih Rum, jadi ketika nak Bachtiar datang, ketelanya belum matang,” tegur ayahnya.

“Arumi mencangkul sendiri tadi, baru setelah membantu simbok masak,” jawab Arumi.

“Kamu mencangkul?” tanya Bachtiar heran.

“Iya, ketela kan tidak bisa muncul sendiri ke atas tanah kalau tanahnya tidak dicangkul.”

Bachtiar terkekeh, Arumi memang terkadang lucu, dan Bachtiar tak pernah berhenti menyukainya.

Ia kemudian menghabiskan segelas wedang serehnya, dan bersiap untuk pamit.

Pak Truno dan mbok Truno tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

Arumi mengantarkan sampai ke mobil, sambil membawakan daun sereh, lalu di letakkannya di dalam.

“Jangan lupa beli gula jawanya ya,” pesan Arumi.

“Iya, cantik.”

“Ih, kok cantik.”

“Kamu kan memang cantik?”

“Iya lah, masa aku ganteng, yang ganteng itu mas Tiar,” kata Arumi polos, tapi wajah Bachtiar bersemu merah mendapat pujian. Barangkali Arumi hanya bercanda, tapi Bachtiar merasa menjadi orang paling ganteng di dunia setelah mendengar pujian Arumi.

“Terima kasih Rumi. Kapan-kapan aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke kota.”

“Naik mobil ini?”

“Iya dong, masa jalan kaki? Mau kan?”

“Bilang dulu pada bapak, kalau boleh, baru Arumi mau.”

“Baiklah, nanti aku minta ijin sama bapak dan ibumu.”

“Simbokku,” kekeh Arumi.

Bachtiar ikut terkekeh. Senangnya melihat senyum dan tawa Arumi. Ia masuk ke mobil dan menjalankannya dengan berat hati.

***

Pak Truno mengelus kaki yang masih berbalut. Ia memijit-mijitnya. Memang tidak begitu sakit, tapi rasa sakit itu masih ada.

“Bapak harus sabar, jangan buru-buru ingin ngelepas, nanti malah lebih lama pulihnya,” kata sang istri.

“Bapak itu nggak sabaran sih,” sambung Arumi.

“Bapak ingin segera kembali bekerja. Memangnya kenapa kalau bekerja dengan kaki terbalut?”

“Takutnya, karena belum kuat benar, malah jadi bengkak lagi,” kata mbok Truno lagi.

Ketika itu sebuah mobil berhenti di depan pagar.

“Lho, nak Bachtiar kembali? Apa ada yang ketinggalan?” tanya pak Truno.

“Nggak ada barang tertinggal,” sambung mbok Truno.

“Itu bukan mobil mas Tiar. Ada wanita cantik datang kemari. Aneh, siapa dia?” gumam Arumi sambil berjalan ke pintu, menunggu langkah wanita cantik itu mendekat.

Dia Luki, yang menyusul Bachtiar ke rumah Arumi, tapi sebenarnya ia tak yakin, karena tak melihat mobil Bachtiar.

“Permisi, apa mas Bachtiar tadi kemari?”

“Oh, baru saja mas Bachtiar pergi,” jawab Arumi ramah.

“Ke arah mana? Kok aku tidak ketemu?”

“Ke arah barat, sepertinya mau kembali ke proyek.”

“Oh, ya sudah, saya menyusul ke sana saja. Kamu yang namanya Arumi?”

“Benar, kok Mbak tahu?”

“Aku Luki, calon istri mas Tiar.”

“Oo.”

***

Besok lagi ya.

64 comments:

  1. Replies
    1. Alhamdulillah
      Matur sembah nuwun Mbak Tien
      KaBeTeeS 10..sdh tayang
      Salam ADUHAI..dari Antapani..🙏😍

      Delete
    2. Sami2 jeng Ning
      ADUHAI dari Babar Layar

      Delete
  2. 🌴🌷🌛🌛🌜🌜🌷🌴

    ***************************
    Alhamdulillah, KaeRTeeS_10 sudah tayang.

    Terima kasih
    Bu Tien, tetap berkarya. Membuat orang senang itu bahagia.
    Salam dari Bandung.

    ***************************

    🌴🌷🌛🌛🌜🌜🌷🌴

    ReplyDelete
  3. 🪻🎋🪻🎋🪻🎋🪻🎋
    Alhamdulillah 🙏🤩
    KaBeTeeS_10 sdh hadir.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien & kelg
    selalu sehat, bahagia
    & dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin.Salam aduhai😍🦋
    🪻🎋🪻🎋🪻🎋🪻🎋

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku Ketika Bulan Tinggal Separuh sudah tayang

    ReplyDelete
  5. ALHAMDULILLAH
    TERIMA KASIH BUNDA TIEN
    SEMOGA SEHAT WALAFIAT 🙏🙏🙏

    ReplyDelete
  6. Replies
    1. Halah ini hp nulis sakarepe dewe
      Maaf bu Tien, hp eror . ...Maturnuwun sdh tayang ...salam sehat dan aduhai aduhai bun

      Delete
    2. Ganti baru dong.
      Hehee.. sami2 ibu Sri
      Aduhai aduhai deh

      Delete
  7. Matur nuwun , salam sehat tetap semangat jeng Tien.

    ReplyDelete
  8. Terima ksih bunda..slmt mlm salam sht sll unk kel🙏🥰🌹❤️

    ReplyDelete
  9. Tahu2 Sutris malah jatuh cinta sama Luki...ambyaar...

    ReplyDelete
  10. Tahu2 Sutris malah jatuh cinta sama Luki...ambyaar...

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah.Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat wal afiat 🤲🙏🙏🙏

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah Bu Tien..sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun mas Tom
      Kok namanya sama ya.

      Delete
  13. Alhamdulillah. Matursuwun Bu Tien "KBtS~10" sudah tayang.
    Salam sehat, semoga sehat wal afiat selalu, aamiin 💖

    ReplyDelete
  14. Arumi...
    Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien🌷🌷🌷🌷🌷

    ReplyDelete
  15. Mks bun KBTS 10 nya.....sehat" ya bun...selamat malam

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillahi rabbil'alamiin
    Terima kasih bu tien tayangan KBTS 10
    semoga bu tien sehat² n senantiasa dlm lindungan Allah SWT

    ReplyDelete
  17. Hamdallah...cerbung Ketika Bulan Tinggal Separuh 10 telah tayang

    Terima kasihi Bunda Tien
    Sehat selalu Bunda, bahagia bersama Amancu di Sala. Aamiin

    Wahyuni mulut nya mengeluarkan 'bisa'.. lagi kpd Luki.

    Sutris cinta berat sama Arumi

    Bachtiar PDKT ke Arumi, hati mereka berbunga bunga 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  18. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia dari Yk...

    ReplyDelete
  19. He he he... Luki calon istri mas Tiar. PD benar dia. Tapi sudahlah, asal tidak membuat keributan dengan Arumi saja.
    Kalau Sutris ditolak oleh Rumi jangan jangan malah stres ya. Tidak punya pendukung pula.
    Salam sukses mbak Tien yang ADUHAI, semoga selalu sehat, aamiin.

    ReplyDelete
  20. Tiar lagi kasmaran... asyiik. Terimakasih bunda, sehat selalu dan aduhaiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Komariyah

      Delete
  21. Terimakasih bunda Tien
    Semoga bunda Tien selalu sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Salamah

      Delete
  22. Waduh...Kamu penasaran ya Arumi tunggu besok lagi ya 😁😁😁

    Matur nuwun Bu Tien, sehat wal'afiat semua ya 🤗🥰

    ReplyDelete
  23. Alhamdulillah terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.

    ReplyDelete

  24. Alhamdullilah
    Matur nuwun Cerbung *KETIKA BULAN TINGGAL SEPARUH 10* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia bersama keluarga
    Aamiin...

    ReplyDelete
  25. Jeng jeng jeng...si Luki datang ngaku2 sebagai calon istri Bachtiar. Emangnya Arumi peduli?😁

    Terima kasih, ibu Tien...semoga makin membaik kesehatannya.🙏🏻

    ReplyDelete

APA KAMU TAHU

 APA KAMU TAHU (Tien Kumalasari) Apa kamu tahu Terik ini masih mengganas Panas meradang Mengeringkan daun-daun bungaku Mereka menguning dan ...