Saturday, July 9, 2022

KEMBANG CANTIKKU 16

 

KEMBANG CANTIKKU  16

(Tien Kumalasari)

 

Nano terpaku dan tangannya gemetar begitu meletakkan ponsel itu kembali. Lalu terdengar lagi dering panggilan.

“Bu Qila? Aku tidak salah baca kan? Aku tidak salah lihat kan? Itu bu Qila, istri pak Wisnu, menantu pak Kartiko?” gumamnya berkali-kali.

Nano ingin pergi ke kamar Wahyudi, tapi di urungkannya.

“Wahyudi pasti juga bingung, dan tak ada jalan keluar yang bisa kami lakukan saat ini. Semua menunggu besok. Kalau begitu aku biarkan saja dering itu.”

Lalu Nano membaringkan tubuhnya. Kantuk yang semula menyergapnya, lenyap seketika, berganti dengan pemikiran-pemikiran yang membuatnya pusing.

“Ada apa dengan bu Qila? Dia yang memberi ponsel itu pastinya. Dan memanggilnya sayang pada Wahyudi? Ini keterlaluan. Tak mungkin Wahyudi menyukai bu Qila. Dan mengapa bu Qila seperti tergila-gila pada Wahyudi? Memberi ponsel mahal, mengirimi pesan singkat yang penuh kata-kata ‘sayang’, menelpon di malam seperti ini? Bagaimana tiba-tiba bu Qila sangat memperhatikan Wahyudi, bahkan tampaknya dia suka? Toh Wahyudi tidak pernah menemui atau mendekatinya. Mana mungkin dia berani? Ooh, ya dulu kan pernah tiba-tiba diajaknya keluar, lalu menemaninya makan. Apakah itu awal mulanya? Bukankah Wahyudi tak pernah bereaksi apapun? Wahyudi suka sama bu Qila? Tidak mungkin. Wahyudi orang baik, melihat wanita secantik bu Qila tak akan membuatnya tergiur karena dia adalah istri orang.”

Nano terus memikirkannya, dan tak berhasil memejamkan matanya, sampai pagi menjelang. Ia bangkit ketika pintu diketuk dari luar. Ia melihat jam dinding yang terpampang di depannya. Jam setengah enam?

Nano melompat keluar dan menemui Wahyudi sudah rapi.

“Apa-apaan kamu ini? Baru bangun?” tegur Wahyudi.

Nano tak menjawab, ia lari ke kamar mandi dan berwudhu.

Wahyudi duduk di kursi di luar kamarnya, dan menikmati secangkir kopi yang sudah disiapkan simbok.

Ia heran Nano baru bangun dan kelihatan gugup.

Ketika kemudian Nano setengah berlari dari kamar mandi, Wahyudi hanya menatapnya tak mengerti. Nano langsung masuk ke kamarnya dan pastinya sedang shalat subuh yang sudah begitu terlambat.

Wahyudi hanya menunggu. Saat dia menghirup kopi terakhirnya, Nano baru keluar sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Ada apa?”

“Aku hampir tak tidur semalaman.”

“Kenapa? Memikirkan Murti yang baru besok Minggu bisa kamu temui?” canda Wahyudi.

“Bukan. Terganggu oleh ponsel baru kamu itu,” omelnya sambil menghirup kopinya yang sudah menghangat.

“Apa?”

“Semalam terus menerus berdering. Bukan pesan singkat, tapi dia menelpon.”

“Kenapa tidak kamu jawab dan kamu tanyakan sekalian, siapa dia sebenarnya?”

“Kamu tidak tahu siapa dia? Sekarang aku sudah tahu karena dia sudah memasang foto profilnya saat menelpon.”

“Kamu mengenalnya?”

“Lebih dari mengenal. Kamupun juga kenal. Sekarang ada hubungan apa kamu sama bu Qila?” tanya Nano tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” tanya Wahyudi sambil menautkan kedua alis matanya.

“Dia bu Qila.”

Wahyudi terkejut. Kalau saja kursi yang didudukinya tidak bersandaran, pasti dia sudah jatuh terjengkang.

“Mak … maksudmu … yang menelpon itu bu Qila?”

“Yang menelpon, yang mengirimi pesan-pesan singkat, bahkan yang memberi kamu ponsel baru yang sangat mahal.”

“Kamu tidak bercanda kan?”

“Mana mungkin aku bercanda? Biar aku ambil dulu ponselnya. Eh tidak, ayo masuk ke kamarku saja, kalau di luar dan berbincang tentang dia, bisa-bisa bu Kartiko mendengarnya, dan kacau semuanya,” kata Nano sambil beranjak masuk ke kamar, diikuti Wahyudi yang berdebar cemas. Kalau seorang gadis tiba-tiba menyukainya, dia hanya akan bersikap biasa saja, tinggal menanyakan pada hatinya, suka atau tidak. Tapi ini … bu Qila, istri pak Wisnu, menantu pak Kartiko. Wahyudi menghempaskan pantatnya di tepi ranjang, lalu menerima ponsel yang diulurkan Nano.

Beberapa pesan singkat, beberapa panggilan telpon, sekarang ada namanya. Aqila. Wahyudi tak ingin membukanya. Ia meletakkan ponsel di meja, dan terduduk lemas.

“Ini tak mungkin … “ keluhnya pelan.

“Kamu pernah bicara apa sama dia?”

“Aku tidak pernah bicara apapun. Bertemu saja hanya sekilas, saat dia menjemput Mila. Kapan aku bicara?” sergah Wahyudi.

“Barangkali waktu kamu diajaknya makan siang itu.”

“Makan siang? Sepanjang aku duduk menemaninya, aku hanya meminta agar segera pulang karena saatnya menyiapkan obat untuk pak Kartiko.”

“Dia tidak bicara apa-apa?”

“Hanya memaksa makan … tapi ….”

“Tapi apa?”

“Aku benci cara dia memandangi aku.”

“Oh ya? Bagaimana cara dia memandangi kamu?”

“Aku tidak bisa membayangkannya. Saat itu yang terpikirkan oleh aku hanyalah, bahwa dia cantik, tapi matanya tampak liar.”

“Wouww..”

“Sejak itu aku selalu menghindar setiap kali bertatapan dengan dia.”

“Berarti dia suka sama kamu.”

“Seperti wanita rendahan saja … eh, maaf ... tak sadar aku sampai berkata kasar,” gumamnya.

“Aku bisa mengerti. Pasti kamu kesal, bukannya berbunga-bunga merasa dicintai wanita cantik,” Nano menggodanya.

“Apa aku sudah gila?”

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Akan aku kembalikan ponsel itu. Biar aku hapus semua pesan dan panggilan yang ada,” kata Wahyudi sambil meraih ponsel itu lagi, dan menghapus semuanya.”

“Tapi itu tidak mudah. Bagaimana kamu bisa melakukannya sedangkan dia tak pernah menemui kamu dan  berduaan? Barangkali, kalau saja panggilan semalam itu berhasil, dia akan memintamu untuk menemuinya, atau entah apa yang ingin dilakukannya. Apakah kamu akan mengembalikannya saat mereka makan siang?”

“Pasti akan terjadi perang di rumah ini.”

"Dan akan meruntuhkan bangunan rumah ini.”

“Betapapun buruknya aku, aku masih ingin menjaganya. Aku akan mengembalikannya saat hanya ada dia saja. Jangan sampai ada yang tahu.”

“Semoga kesempatan itu ada. Atau, kamu menuliskan pesan di ponsel itu saja agar dia menemui kamu?”

“Susah ya … memintanya menemui di mana? Nanti aku dikira mengencaninya, bagaimana?”

“Ya memang kamu harus mengencaninya, supaya kamu bisa mengembalikan ponsel itu.”

“Dimana aku mengatakan tempat untuk bertemu itu?”

“Katakan saja di mana, gitu. Dia pasti punya akal untuk melakukannya.”

Pembicaraan itu berhenti, ketika tiba-tiba simbok muncul di luar pintu.

“Mas Wahyudi, dipanggil bapak,” kata simbok.

“Oh ya, baiklah, aku segera ke sana.”

***

“Ada apa sih ini, kenapa tidak mau membalas, ketika aku kirim pesan, dan tidak mau mengangkat ketika aku menelpon? Hiiih, bodoh … bodoh … bodoh. Ini aku, sayang, jawab. Kita akan senang nanti. Ya ampuun, jangan-jangan dia tidak tahu bagaimana caranya membuka ponsel,” gerutu Qila pagi itu, sambil terus mengotak-atik ponselnya. Lalu dituliskannya lagi sebuah pesan singkat.

“Wahyudi sayang, jangan takut, jawab aku, tak akan ada yang tahu, kecuali kita berdua. Aku ingin bicara empat mata dan mari saling mengeluarkan isi hati.”

“Qila …” panggil Wisnu sambil mendekat.

Qila menutup ponselnya, menatap suaminya dengan pandangan kesal.

“Ada apa sih Mas?”

“Kamu tuh ngapain, sudah siang malah mainan ponsel terus.”

“Jam berapa sih ini?”

“Sudah siang nih, jam tujuh lebih. Kita sarapan tidak?”

“Sarapan di kantor saja ya Mas, atau di rumah Ibu, sambil nganterin Mila.”

“Nggak, kelamaan. Kamu tadi lagi ngomelin siapa, ponsel diomelin?”

“Itu, teman aku kuliah dulu, ngajakin reunian,” bohong Qila.

“Ya sudah, kamu juga belum siap-siap, ada meeting pagi ini. Kamu lupa ya ini akhir bulan?”

“Iya, aku siap-siap sekarang. Tapi permintaanku tetap berlaku lho Mas.”

“Permintaan apa?”

“Cari sekretaris baru, aku ingin berhenti,” kata Qila yang ingin sekali bisa lepas dari suaminya yang dianggapnya selalu mengungkungnya di tempat kerja, sehingga ingin bertemu Wahyudi saja susahnya bukan main.

“Qila, kamu pikirkan  dulu. Nanti setelah kita jalan-jalan, kita pikirkan lagi. Kamu hanya jenuh.”

“Aku bilang lelah ya lelah. Aku ingin di rumah saja,” kata Qila sambil masuk ke kamarnya.

“Heran aku, ada apa dia … tiba-tiba ingin berhenti bekerja.”

“Bapaaaak, ayo … angkaaat …” teriak Mila sambil lari mendekati ayahnya.

“Baiklah, kita segera berangkat. Mila sudah maem?”

“Udah … Ayooo … bapaaak …”

“Iya, iya … tunggu ibu dulu ya, ayo ke depan dulu, sama Tinah ya.”

***

Pak Kartiko ternyata ingin berjalan-jalan bersama Wahyudi sampai keluar rumah. Senang hatinya bisa melihat hiruk pikuk lalu lintas di pagi hari.

“Wahyudi, sebenarnya aku ingin bicara sama kamu.”

“Ya Pak, ada apa?”

“Besok Minggu itu, Wahyu ingin mengajak kita jalan-jalan ke luar kota. Mungkin menginap. Tapi aku ingat, kamu kan pamit mau ketemu … siapa itu … yang pernah menolong kamu itu?”

“Pak Tukiyo?”

“Nah, itu. Jadi bagaimana enaknya? Aku tidak ingin menghalangi kamu pergi ke rumah Tukiyo, tapi kalau aku bersedia jalan-jalan bersama Wahyu, aku tidak mau kalau kamu tidak ikut serta.”

Wahyudi diam. Memang sih, ke rumah pak Tukiyo itu bisa kapan saja, tapi kalau ikut pergi bersama keluarga Wisnu, berarti dia akan bertemu Qila, dan itu membuatnya tidak suka.

“Apa aku harus membatalkan keinginan aku jalan-jalan ya. Atau aku suruh mundur minggu depan saja, jalan-jalannya.”

Wahyudi merasa tidak enak. Hanya karena kepentingannya, pak Kartiko ingin membatalkan acara jalan-jalan? Lalu dia teringat, bahwa dia harus ketemu Qila untuk mengembalikan ponsel itu. Barangkali di suatu tempat nanti kesempatan itu ada.

“Pak, Bapak tidak usah membatalkan acara jalan-jalan itu. Sayalah yang akan membatalkan acara saya menemui pak Tukiyo.”

“Benarkah?”

“Saya bisa ke sana di hari lain.”

“Baiklah kalau begitu, ayo jalan pulang, siapa tahu Wisnu sedang mengantarkan anaknya dan aku bisa bicara.”

Wahyudi memutar kursi rodanya, dan mendorongnya ke arah rumah.

Ketika mereka memasuki halaman, kebetulan Wisnu baru saja menurunkan Mila, dan  mobilnya sudah menuju keluar halaman. Wisnu berhenti melihat ayahnya.

“Bapak dari mana?”

“Jalan-jalan saja. Oh ya, aku mau ngomong. Baiklah kalau besok Minggu kamu mau mengajak kami jalan-jalan. Aku suka.”

“Benarkah?”

Pak Kartiko mengangguk.

“Baiklah, nanti saya menelpon ibu lagi, supaya bersiap-siap.”

Qila terus menatap Wahyudi, berharap Wahyudi juga menatapnya. Tapi tidak. Wajah ganteng itu tampak dingin beku, dan tak sedikitpun memandang ke arahnya. Dan Qilapun tetap mengira bahwa Wahyudi takut. Ia masih mencoba tersenyum ke arah pria ganteng itu sampai suaminya membawa mobilnya menjauh.

***

Bu Kartiko senang ketika tahu bahwa suaminya bersedia berangkat bersama-sama.

“Bapak kan memang butuh rekreasi, melihat yang indah-indah, menghirup udara segar, ya kan? Sudah lama sekali kita tidak kemana-mana.”

“Iya, aku sedih dengan keadaanku ini.”

“Kalau Bapak selalu senang, tidak terbebani oleh apapun, maka Bapak bisa pulih kok.”

“Benarkah?”

“Dokter yang mengatakannya. Apa Bapak lupa?”

“Iya, aku ingat. Dan aku senang kok sekarang ini. Wahyudi pintar menyenangkan aku, melayani dengan wajah yang selalu cerah, seperti ikhlas, begitu. Tidak seperti perawat-perawat yang dulu, wajahnya terkadang cemberut, memperlihatkan kalau dia lelah. Bahkan aku juga tidak ingin mengajaknya jalan seperti yang aku lakukan bersama Wahyudi.”

“Syukurlah, semoga dengan begitu Bapak bisa segera pulih.”

“Aamiin.”

***

Hari itu keluarga Kartiko jadi berangkat keluar kota dengan mengendarai dua mobil. Mereka menuju ke Tawangmangu atas permintaan bu Kartiko.

“Jangan jauh-jauh, takutnya bapakmu kecapekan,” katanya sebelum berangkat.

Mereka menyewa sebuah villa yang lumayan besar dan tentu saja bagus.

Nano dan Wahyudi sedang beristirahat di kamar belakang, ketika semua keluarga sedang santai di teras depan.

“Semoga ini kesempatan bagus untukku,” kata Wahyudi.

“Ya, pasti kesempatan itu ada. Nih, bawa saja oleh kamu sekalian, sudah ada pesan baru tuh, dari kemarin kamu belum membacanya.”

“Nggak usah, langsung hapus saja. Membaca malah membuat kepalaku pusing saja.”

“Nih, hapus saja oleh kamu sendiri,” kata Nano sambil mengulurkan ponselnya.

Lalu Wahyudi menghapus semua pesan tanpa membacanya.

“Masukkan saja ke saku celana kamu, karena kesempatan itu bisa saja tiba-tiba ada, jadi kamu tak usah mengambilnya karena sudah siap di saku kamu.”

Tapi ternyata kesempatan itu belum juga ada, karena mereka masih selalu bersama-sama.

“Barangkali besok pagi, karena mereka berencana mau keluar.”

Tapi siang itu, sepertinya kesempatan itu ada.

“Aku lihat pak Wisnu sedang beristirahat di kamar. Kamu kirim pesan saja sekarang, agar bu Qila keluar.”

“Baiklah. Tapi aku kok deg-degan ya.”

“Mau tidak mau kamu harus mengirimkan pesan agar dia segera mencari jalan untuk bertemu kamu. Kalau tidak, kamu akan selalu terbebani dengan adanya ponsel itu. Lagi pula supaya dia segera menghentikan kelakuan memalukan itu,” kata Nano.

“Baiklah.”

Lalu Wahyudi mengirimkan pesan singkat.

Bu Qila, saya ingin bertemu, saya menunggu di luar halaman villa.”

Pesan itu terkirim, sayangnya Qila sedang ada di kamar mandi, dan Wisnu yang melihat ponsel istrinya bergerak-gerak karena bergetar, lalu mengambilnya. Ia curiga atas nomor tak bernama yang mengirimnya, lalu membukanya.

***

Besok lagi ya.

Friday, July 8, 2022

KEMBANG CANTIKKU 15

 

KEMBANG CANTIKKU  15

(Tien Kumalasari)

 

Nano terkejut ketika Wahyudi masuk ke kamarnya tiba-tiba.

“Kaget aku, ada apa?”

“Ini, ponsel kamu .. kok bisa ada di dalam kamarku?”

“Apa?”

Nano heran, itu bukan miliknya. Ia mengamatinya.

“Bukan punyaku, ini ponsel baru. Dan ponsel mahal. Mana kuat aku beli ponsel beginian.”

“Lho, lalu punya siapa?” Nano ikut mengamati ponsel itu.

“Nggak tahu aku, dimana kamu menemukannya?”

“Di meja kamarku.”

“Di meja kamarmu? Kok aneh, siapa yang berani masuk ke kamar kamu, lalu ponselnya ketinggalan?”

“Aduh, jangan-jangan Mila main-main dengan ponsel nenek atau kakeknya, lalu dia masuk ke kamarku.”

“Kalau begitu tanyakan saja pada bapak atau ibu, kehilangan ponsel nggak?”

“Baiklah, aku ke depan dulu.”

Tapi sebelum ia beranjak, ponsel itu bergetar, Wahyudi berhenti melangkah.

“Ada pesan masuk, barangkali dia yang kehilangan ponsel, coba buka,” kata Nano.

Wahyudi membukanya, dan terbelalak membaca isi pesan itu.

“Wahyudi sayang, ponsel ini untuk kamu.”

“Apa nih ?” serunya sambil mengulurkan ponsel itu ke tangan Nano.

Nano pun terkejut.

“Yaaah, kamu punya pengagum nih,” canda Nano.

“Apa maksudnya pengagum?”

“Kalau bukan ya pecinta,” kata Nano sambil terbahak.

“Jangan bercanda, ini membuat aku bingung.”

“Ya, tentu, aku juga bingung. Pakai kata sayang pula. Ada namanya nggak? Tuh, no name. Siapa ya?”

“Gimana nih?”

“Ya sudah, terima saja. Berarti pengagum kamu itu memberi hadiah untuk kamu.”

“Ini barang mahal, dan aku tidak memerlukannya. Ambil saja nih, buat kamu,” kata Wahyudi yang sudah memegang ponsel itu lagi, lalu mengulurkannya pada Nano.

“Nggak bisa. Aku nggak mau. Biarpun ponsel aku butut, dan ini ponsel mahal, tapi sudah jelas ini punya kamu.”

“Aku juga nggak mau. Ngapain dikasih ponsel, pakai memanggil aku sayang pula. Nggak jelas siapa, dan nggak jelas apa tujuannya.”

“Ya sudah taruh saja di kamar kamu, tidak usah dipikirkan. Siapa tahu suatu saat kamu membutuhkannya.”

“Nggak mau aku. Nitip di kamar kamu saja ya.”

“Kok nitip? Nanti kalau dia kirim kata-kata cinta, bagaimana? Lalu aku tergoda, bagaimana juga?”

“Tolong No, cuma biar di kamar kamu saja. Nanti kalau sudah ketahuan dari siapa, akan aku kembalikan. Tapi kok aneh ya, dia tahu kamar aku dan meletakkannya di situ.”

“Iya, aku juga sedang berpikir nih.”

“Ya sudah, aku mau ke depan dulu, nih, nitip ya,” kata Wahyudi memaksa Nano agar menerimanya, kemudian Wahyudi berlalu.”

“Wah … wah … agak aneh juga nih, tiba-tiba kejatuhan ponsel bagus. Siapa ya kira-kira? Ini pasti bukan orang sembarangan. Artinya orang yang punya duit. Kalau orang biasa, mana mungkin bisa beli ponsel seperti ini. Menurut aku, ini harganya puluhan juta. Bukan main Wahyudi itu. Belum setahun tinggal disini sudah punya pengagum. Jangan-jangan … ah tidak … masa sih dia, bukan … bukan dia … tapi siapa ya?” gumam Nano sambil meletakkan ponsel itu di mejanya.

***

“Wahyudi, mengapa kamu taruh semua obatnya di sini, bukan kamu siapkan yang "harusnya aku minum sore saja?” tanya pak Kartiko heran.

“Ah, iya ya Pak, saya kok seperti bingung begini?

"Kamu sedang memikirkan sesuatu?”

“Memikirkan apa ya pak … tidak … tidak,” kata Wahyudi. Sebenarnya ia ingin mengatakan perihal ponsel itu, tapi diurungkannya. Ia merasa tak enak kalau nanti pak Kartiko mengira dia sedang berhubungan dengan seseorang diluar sana.

“Kamu seperti sedang bingung.”

“Iya, baiklah, saya kembalikan dulu, saya tinggalkan yang akan Bapak minum sore ini sebelum makan,” kata Wahyudi sambil meletakkan sebotol obat yang diperlukan, lalu membawa yang lain ke almari obat.

“Ada apa anak itu,” gumam pak Kartiko.

“Kenapa dia Pak?” tanya bu Kartiko yang mendekat ke arah suaminya.

“Nggak tahu aku Bu, Wahyudi seperti orang bingung, semua obat dibawa ke sini, lalu setelah aku ingatkan, kemudian ditinggal yang satu itu, lainnya dikembalikan.”

“Mungkin ya mikir keadaannya itu Pak, kok ya nggak sembuh-sembuh, sudah berobat juga, dan sudah hampir habis lho obatnya.”

“Penyakit seperti itu kan bukan sembarang penyakit, ada hubungannya dengan otak, pastinya ya harus pelan-pelan.

“Ini Pak, silakan diminum obatnya,” kata Wahyudi setelah kembali.

“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?” tanya bu Kartiko.

“Tidak kok Bu.”

“Kata bapak, kamu seperti sedang bingung.”

“Mungkin karena tidur siang, bangun-bangun sudah sore, takut terlambat melayani bapak.”

Pak Kartiko sudah selesai minum obatnya.

“Ayo Yud, kita jalan-jalan di halaman depan,” ajak pak Kartiko.

“Baik Pak. Ini minumnya, sudah?”

“Sudah.”

Wahyudi segera mendorong kursi roda pak Kartiko ke depan.

“Hati-hati,” pesan bu Kartiko, “aku mau mengajak Nino keluar sebentar, beli buah sama roti, untuk sarapan besok, persediaan sudah menipis.”

“Ya, jangan lupa aku ingin pepaya yang merah Bu, jangan kuning seperti kemarin,” pesan pak Kartiko.

“Iya, nanti ibu belikan, kata bu Kartiko sambil beranjak ke belakang.

“Nano …” panggilnya.

Nano yang masih mengamati ponsel baru itu terkejut. Ia meletakkannya di meja, lalu bergegas keluar.

“Ya Bu.”

“Kamu masih tidur?”

“Tidak Bu, sudah mandi juga.”

“Antarkan aku ke toko sebentar ya No.”

“Baik Bu.”

Nano segera meninggalkan kamarnya, lalu menyiapkan mobil untuk bu Kartiko.

Sementara itu Wahyudi sudah mendorong kursi roda pak Kartiko ke halaman depan, bahkan kemudian mengarah ke taman, seperti permintaan pak Kartiko.

“Kita duduk-duduk di pinggir kolam ya Yud, sudah lama aku tidak melakukannya.”

“Baik Pak,” kata Wahyudi sambil mendorong ke arah belakang.

Ketika melewati kamar Nano, tiba-tiba terdengar dentang ponsel dari sana.

“Lho, Nano tidak membawa ponselnya tuh,” seru pak Kartiko.

Wahyudi tak menjawab. Suara ponsel Nano tidak begitu. Itu ponsel yang tadi berada di atas meja di dalam kamarnya.

“Coba lihat Yud, jangan-jangan ada yang penting,” perintah pak Kartiko.

Wahyudi berhenti, pura-pura mematuhi perintah pak Kartiko. Tapi kemudian dia kembali.

“Pintunya dikunci Pak.”

“O, ya sudah. Kamu hubungi dia saja, takutnya ada yang penting.”

“Saya tidak punya ponsel Pak.”

“Lhoh, kamu tidak punya? Besok belilah, aku beri kamu uang.”

“Terima kasih Pak, tapi tidak usah saja.”

“Kamu itu kalau diberi apa-apa kok pasti menolak.”

Wahyudi hanya tersenyum. Mereka sudah sampai di tepi kolam. Pak Kartiko tampak gembira melihat air berkecipak karena ulah ikan-ikan koi yang berenang se sana-kemari.

“Lama sekali aku tidak duduk-duduk di sini.”

“Saya ambilkan minuman hangat Pak?”

“Tidak, tadi kan baru saja minum. Sudah, kamu duduk saja di situ.”

Wahyudi duduk di sebuah bangku yang ada di kolam itu, tak jauh dari pak Kartiko yang duduk di kursi rodanya,

“Besok belilah ponsel.”

“Tidak usah pak, saya kan tidak memerlukannya.”

“Suatu saat nanti pasti kamu memerlukannya.”

“Ya, mungkin, tapi nanti saja. Saya belum memerlukannya Pak.”

“Kamu itu aneh. Orang kalau diberi sesuatu pasti cepat-cepat menerima, tapi kamu itu banyak menolaknya,” omel pak Kartiko.

“Maaf Pak, kalau saya tidak memerlukannya, saya kira lebih baik tidak. Saya sudah sangat banyak menerima kebaikan Bapak, saya tak akan sanggup memikulnya.”

Pak Kartiko tertawa.

“Jangan-jangan tadinya kamu tuh jualan kayu bakar, yang kamu pikul dari hutan untuk dijual ke pasar.”

Wahyudi tertawa lirih. Tiba-tiba ia teringat pak Tukiyo, yang sering mencari kayu di hutan untuk bahan bakar di rumahnya.

“Besok kalau saya libur, saya ijin mau pergi sebentar.”

“Mau kemana? Awas jangan sendirian, nanti kamu tersesat.”

“Saya sudah tahu nama kampungnya, jadi tidak akan tersesat. Ingin ketemu pak Tukiyo, orang yang telah menyelamatkan saya. Sekarang saya sudah tahu nama kampungnya.”

“Terserah kamu saja. Tapi ada baiknya kamu mengajak Nano.”

“Baik, nanti saya bicara sama dia.”

***

“Qila …” panggil Wisnu.

Tapi yang dipanggil bergeming di sofa, mengotak atik ponselnya dengan asyik, membuat Wisnu kesal.

“Qila !” suara Wisnu agak keras.

Qila menoleh dan cemberut.

“Ada apa sih Mas, dari tadi teriak-teriak terus?”

“Kamu itu lho, dipanggil dari tadi kok nggak perhatian sekali. Lagi ngapain sih?”

“Ini, lagi main game, jangan diganggu dulu dong Mas.”

“Kayak orang muda saja, main game segala.”

“Untuk hiburan, masa harus kerja terus, nggak boleh main.”

“Aku belum bicara sama bapak tentang rencana mau jalan-jalan.”

“Makanya, aku ketemu berkali-kali kok bapak diam saja.”

“Besok aku mau bicara.”

“Kenapa tidak sekarang saja? Kan Mas bisa menelpon? Dua hari lagi sudah hari Minggu, gimana sih Mas.”

“Baiklah, kalau begitu aku menelpon saja.”

“Itu lebih baik, soalnya Mas kalau ke sana selalu tergesa-gesa, hampir tidak pernah singgah lama. Kalau makan siang juga begitu. Selesai langsung pergi lagi.

“Meninggalkan pekerjaan terlalu lama kan tidak nyaman, sementara jarak rumah dan kantor itu lumayan jauh.”

Wisnu menelpon ayahnya, tapi tidak diangkat. Berkali-kali dicoba, tidak juga diangkat.

“Kok nggak diangkat sih?” gerutu Wisnu.

“Tidak aktif?”

“Aktif sih, tapi tidak diangkat. Aku coba menelpon ibu saja.”

“Ya, Wisnu, ada apa? Ibu lagi belanja buah nih,” jawab bu Kartiko ketika Wisnu menelponnya.

“Wisnu menelpon bapak, kok tidak diangkat?”

“O, bapakmu sedang jalan-jalan sama Wahyudi, pastinya tidak membawa ponsel. Ada apa?”

“Ini lho bu, Wisnu punya rencana mau jalan-jalan, kalau bapak sama Ibu mau, akan kami ajak juga.”

“Jalan-jalan ke mana?”

“Luar kota lah Bu, refreshing. Tapi menginap.”

“Menginap?”

“Sehari atau dua hari. Wisnu akan cuti selama tiga hari. Kelihatannya Qila juga jenuh setiap hari mengurus pekerjaan.”

“Oh, bagus itu. Tapi nanti aku bilang dulu sama bapak, mau tidak. Bapakmu itu kan tidak gampang.”

“Kan ada Wahyudi, biar dia ikut juga,” kata Qila dari kejauhan, tapi bu Kartiko mendengarnya.

“Tuh, istrimu ikut berteriak,” kata bu Kartiko sambil tersenyum.

“Dia ingin menyenangkan mertuanya Bu, jadi jangan membuatnya kecewa. Besok saya akan bicara lagi sama bapak.”

“Baiklah, aku sih setuju saja, tapi kan semua tergantung bapak.”

“Ya bu.”

“Ya sudah, nanti di rumah telpon lagi saja, ini ibu sedang ngantre di kasir.”

Bu Kartiko menutup ponselnya.

“Bagaimana? Ibu senang kan?”

“Iya, ibu senang, tapi nanti masih menunggu bapak, semoga saja bapak bersedia.”

“Yang penting itu kan bapak,” kata Qila sambil membayangkan wajah Wahyudi.

“Benar, bapak butuh hiburan juga. Kamu menantu yang baik, aku semakin mencintai kamu, Qila.”

“Hmh, masih sore sudah merayu.”

“Ini kan rayuan awal, nanti malam ada rayuan yang lebih hebat lagi.”

“Aduh Mas, sudah, aku mau nglanjutin main lagi,” kata Qila sambil kembali menikmati main game nya.”

“Ponsel baru yang satunya untuk aku saja ya,” tiba-tiba kata Wisnu, mengejutkan Qila.

“Apa?”

“Aku kok tiba-tiba juga pengin ponsel baru.”

“Jangan. Itu untuk aku.”

“Kan besok kamu bisa beli lagi. Tidak segera butuh sekarang kan?”

“Tidak boleh,” kata Qila dengan dada berdebar. Soalnya ponselnya kan sudah diberikan Wahyudi?

“Di mana sih kamu meletakkannya? Aku mau lihat,”

“Nggak usah Mas, sudah, Mas duduk disini saja, menemani aku,” kata Qila mulai merayu Wisnu agar melupakan masalah ponsel itu. Ia mulai berpikir bagaimana caranya memberi alasan tentang Ponsel yang sudah tidak ada di rumah ini.

***

“Jalan-jalan kemana? Macam-macam saja.” Kata pak Krtiko ketika istrinya mengatakan tentang keinginan Wisnu.

“Nggak tahu, Wisnu belum mengatakan mau ke mana, tapi katanya ingin menginap dua tiga hari.”

“Apalagi menginap, aku kan repot.”

“Wisnu itu ingin menyenangkan Bapak, kan sudah lama Bapak tidak jalan-jalan ke luar kota?”

“Apa Wisnu tidak ingat bahwa aku ini tidak bisa kemana-mana tanpa kursi roda?”

“Kita kan bisa mengajak Wahyudi juga.”

“Wahyudi sudah bilang mau pergi besok Minggu itu.”

“Oh, kemana?”

“Mau ketemu orang yang menolongnya. Aku sudah minta supaya Nano mengantarkannya.”

***

“Yud, dia mengirim pesan singkat berkali-kali,” lapor Nano ketika sudah masuk ke kamar dan melihat ponsel itu.

“Biarkan saja, aku pusing. Oh ya, besok Minggu maukah mengantar aku ke rumah pak Tukiyo?”

“Kamu mau ke sana? Kebetulan, aku mau ketemu Murti, dan kampung pak Tukiyo itu menurut Sunthi, calon istri kamu itu_”

“Eh, kok calon istri aku sih,” potong Wahyudi.

Nano tertawa.

“Iya, maaf, aku salah. Maksudku, kampung pak Tukiyo itu kelewatan, jadi setelah dari sana bisa lagsung ketemu Murti, kamu kangen juga kan sama Murni?”

“Kamu tuh,” kata Wahyudi sambil tersenyum. Lalu wajah cantik Murni melintas.

“Ya sudah, ayo tidur, aku kok ngantuk sekali, baru jam sembilan juga.”

“Iya, sama.”

Nano masuk ke kamarnya. Tapi begitu dia merebahkan tubuhnya, ponsel baru itu berdering. Sebenarnya Nano enggan mengangkatnya, tapi ponsel itu terus berdering. Nano meraih untuk mematikannya, tapi tiba-tiba terpampang wajah cantik di layar ponsel itu. Wajah yang sebelumnya tidak tampak di sana. Dan terbelalak mata Nano melihatnya.

“Bu Qila?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Thursday, July 7, 2022

KEMBANG CANTIKKU 14

 

KEMBANG CANTIKKU  14

(Tien Kumalasari)                                                          

 

Wisnu mengeluarkan isi kotak berisi handphone itu dengan heran.

“Berapa biji Qila membeli ponsel? Bukankah di kantor tadi sudah membuka bungkusan kotak ponselnya yang baru? Kalau begitu ini ponsel untuk siapa?” gumamnya pelan.

Ia membawa ponsel berikut tas Qila yang tadi masih tergeletak di meja depan kamar. Ketika ia meletakkan tas itu, Qila baru keluar dari kamar mandi.

Ia terkejut dan kesal melihat suaminya membawa tasnya.

“Mas, kamu membuka-buka tasku untuk apa?” tanyanya sambil mendekati suaminya dan terkejut melihat suaminya memegang kotak ponsel yang tadinya berada di dalam tas.

“Kenapa kamu membuka-buka tasku?”

“Aku tidak membukanya. Tadi Mila lari-lari dan tanpa sengaja menjatuhkan tas kamu ini, kemudian isinya berantakan.

Qila diam. Ia menyesal tadi meninggalkan tasnya di luar kamar.

“Oh … “ lalu dia diam, berpikir menjawab pertanyaan suaminya atas ponsel itu, yang pasti akan ditanyakannya.

“Ini punya siapa?”

“Itu … punyaku.”

“Kamu beli ponsel dua?”

“Iy … iya.”

“Untuk apa? Kalau beli satu saja cukup, kenapa beli dua?”

Qila meminta kotak yang masih dipegang suaminya.

“Ini … hanya untuk jaga-jaga,” jawabnya sekenanya, sambil memasukkan kotak itu kembali ke dalam tasnya.

“Apa maksudmu jaga-jaga?”

“Mas, cuma beli ponsel dua saja kenapa kamu marah-marah?”

“Aku tidak marah, aku hanya bertanya, mengapa beli dua?”               

“Kan sudah aku jawab, untuk jaga-jaga?”

“Jaga-jaga apa sih Qila, aku tidak mengerti.”

“Ya jaga-jaga kalau rusak lah.”

“Kamu ini benar-benar boros, Qila. Membeli sesuatu yang tidak diperlukan.”

“Aku hanya beli ponsel dua, apa dengan ini kamu akan menjadi miskin?” tanya Qila sambil memeluk suaminya. Ia harus merayunya untuk meredakan amarah suaminya, dan tentu saja ia berhasil. Lalu Wisnu tak lagi mempersoalkan ponsel itu, karena Qila telah menyenangkannya dengan caranya.

***

Berhari hari telah berlalu, dan keinginan Qila untuk memberikan ponsel itu kepada Wahyudi belum juga terlaksana. Kesempatan tidak segera ada, karena suaminya selalu bersamanya setiap dia ke rumah mertuanya.

Tapi kesempatan itu ada, saat suaminya tidak ikut makan siang bersamanya, karena sedang ada tamu di kantornya.

“Tidak ikut makan siang bersama tamu kita?” tanya Wisnu ketika Qila menelponnya untuk pergi.

“Tidak Mas, aku makan di rumah ibu saja. Simbok sudah janji masak soto enak siang ini,” kata Qila.

“Ya sudah, bawa saja mobilnya, tapi jangan lama-lama ya. Setelah makan segera kembali ke kantor, karena banyak pekerjaan yang harus kita lakukan.”

“Iya, aku tahu,” jawab Qila sambil merengut, lalu menutup ponselnya kemudian mengambil kunci mobil dan keluar dari ruangan.

Qila begitu gembira, karena akhirnya akan bisa menemui Wahyudi lalu memberikan ponselnya agar mereka bisa berkomunikasi. Bayangan manis sudah tergambar dibenaknya. Ia yakin Wahyudi akan menyambutnya dengan gembira.

***

“Mana Wisnu?” tanya pak Kartiko ketika melihat Qila datang sendiri.

“Sedang ada tamu Pak, saya tidak suka diajak makan di restoran, soalnya terlanjur menyukai masakan simbok,” jawabnya sambil duduk di ruang makan, dimana kedua mertuanya sudah duduk, dan Wahyudi tentu saja ada diantara mereka.

Berkali-kali melirik Wahyudi, Qila sedikit kesal karena Wahyudi tak pernah menanggapinya. Tapi Qila selalu merasa bahwa Wahyudi takut kalau dikira mengganggu menantu keluarga Kartiko. Ia yang harus berupaya mencari jalan untuk saling berhubungan.

Makan siang sudah usai, dan Wahyudi sudah beranjak ke belakang.

“Mila pasti di taman ya Bu?” tanya Qila mencari alasan untuk pergi ke belakang.

“Iya, ia biasanya makan di taman, karena susah kalau makan hanya diam di meja makan.”

Qila mau melihatnya sebentar,” katanya sambil berdiri, tapi tak lupa membawa tasnya yang berisi ponsel. Sudah berhari-hari ponsel itu diam di dalam tas itu, karena Qila belum menemukan kesempatan untuk memberikannya.

“Sekaranglah saatnya,” katanya dalam hati, dengan senyum merekah di bibirnya.

Ia terus kearah belakang, menuju taman, yang tentu saja melewati kamar Nano yang bersebelahan dengan kamar Wahyudi.

Qila tahu dimana kamar Wahyudi, karena pernah mendengar saat Wahyudi mengigau dengan menyebut ‘namanya’.

Keduanya sedang ada di ruang makan dapur, karena memang saatnya makan.

Qila sudah mengisi pulsa pada ponsel itu atas namanya, dan akan memberikan kejutan dengan menelponnya.

Perlahan ia membuka pintu kamar yang tidak terkunci, dan metetakkan ponsel yang sudah dilepaskan dari kotaknya, di meja yang ada di dalam kamar itu.

Ia keluar lalu menutupkan pintunya perlahan, kemudian melenggang ke arah taman. Dilihatnya Mila sedang makan dengan di suapi Tinah, sambil melihat ikan yang berenang cantik di dalam kolam.

“Udah mamnya …” kata Mila ketika Tinah menyuapinya.

“Tinggal sedikit saja Mila, ayo habiskan, nanti dimarahi nenek lho.”

“Aku mau pak Udi …”

“Ehh, pak Udi juga sedang makan. Kenapa mau pak Udi? Ayo sayang, sedikit lagi.”

“Nggak mauuu!” kata Mila sambil berlari ke arah dapur.

Qila melihatnya dan merasa senang. Ia mengikuti anaknya sambil berlari kecil. Ia mendengar Mila mau ketemu Wahyudi yang selalu dipanggilnya pak Udi.

“Pak Udiii .. “ teriak Mila ketika melihat Wahyudi sedang makan di meja dapur bersama Nano. Tinah ada dibelakangnya.

“Lhoh, Mila ngapain? Sudah makan belum?”

“Ini pak Wahyudi, makan kurang sedikit, nggak mau lagi,” kata Tinah mengadu.

“Kenapa nggak dihabisin? Ayo, habisin dulu … Kalau nggak dihabisin, pak Udi nggak mau main sama Mila.”

“Haaak …” kata Mila yang takut dengan ancaman Wahyudi.

Tinah tersenyum, lalu menyuapkannya kepada Mila.

“Ayo ditaman lagi saja, jangan nggangguin pak Udi yang lagi makan,” kata Tinah sambil menggandeng tangan Mila.

“Iya, makan dulu sampai habis, baru main sama pak Udi. Ya?”

Mila mengangguk, lalu berlari-lagi ke arah taman.

Qila masih berdiri di pintu dapur, menatap Wahyudi tak berkedip.

“Lagi pada makan ya?”

Wahyudi dan Nano terkejut, baru sadar ada Qila berdiri di sana.

“Mari bu Qila,” yang menyapa adalah Nano, sedangkan Wahyudi menyuap makanannya tanpa menoleh lagi.

“Hm, enak ya makannya?”

“Enak Bu,” lagi-lagi Nano yang menjawabnya.

Wahyudi berdiri karena kebetulan nasi di piringnya sudah habis disuapnya buru-buru, kemudian membawa piring kotornya ke arah cucian piring.

Qila tersenyum, masih mengira Wahyudi berpura-pura, karena ada Nano di situ. Ia kemudian membalikkan tubuhnya, menuju ke arah depan. Bukan menemui anaknya seperti dikatakannya kepada ibu mertuanya tadi.

“Kamu tidak kembali ke kantor?” tanya ayah mertuanya ketika Qila muncul dari arah belakang.

“Iya Pak, ini mau kembali.”

“Iya, nanti suamimu menunggu, kamu sudah lama di sini.”

“Baiklah, saya pamit ya Pak, Bu.”

“Hati-hati.”

Baru saja Qila pergi, Wisnu menelpon ibunya.

“Ya Nak?”

“Qila masih di situ Bu?”

“Baru saja dia pergi.”

“Ya sudah, di kantor baru banyak pekerjaan, dia malah pergi lama sekali.”

“Katanya kamu baru ada tamu?”

“Iya, sudah pergi, hanya bicara sebentar, lalu menemani makan.”

“Oh, ya sudah. Istrimu baru saja pergi.”

“Akhir-akhir ini Qila agak malas sih.”

“Agak malas bagaimana?”

“Dia pernah mengeluh lelah, menyuruh Wisnu mencari sekretaris, dia ingin di rumah saja.”

“Masa? Kok disini tidak pernah ngomong begitu?”

“Baru bicara sama Wisnu beberapa hari yang lalu, belum Wisnu tanggapi.”

“Coba diajak bicara lagi. Apakah dia benar-benar lelah, atau karena bosan.”

“Dia itu pintar, biasanya bisa membantu Wisnu mengatasi masalah, entah mengapa tiba-tiba dia bersikap begitu.”

“Makanya, ajak dia bicara lagi, penyebabnya apa.”

“Baik Bu, nanti Wisnu akan bicara lagi sama dia. Dia malah bilang ingin menunggui Mila di rumah Ibu.”

“Lha ngapain menunggui Mila? Disini sudah ada ibu, bapak, dan Tinah yang selalu menjaganya. Kalau memang dia tidak mau lagi bekerja, mestinya Mila biar saja di rumah kamu, karena Qila kan bisa menjaganya, tidak perlu ada disini.”

“Wisnu sudah bilang begitu. Entahlah Bu, biar nanti Wisnu bicara lagi.”

“Hm, aneh anak itu,” gumam bu Kartiko ketika menutup ponselnya.

“Ada apa?” tanya pak Kartiko.

“Wisnu bilang, katanya istrinya sudah lelah, ingin berhenti bekerja.”

“Memangnya kenapa?”

“Katanya lelah, dan mau menemani Mila di rumah ini.”

“Mengapa menemani Mila di rumah ini?”

“Nggak tahu aku alasannya. Biar Wisnu mengurus istrinya. Dulu dia bilang bahwa Qila itu pintar dan bisa membantu mengurus perusahaan.”

“Benar, dulu pernah bilang begitu, makanya aku setuju Qila mendampingi dia di perusahaan.”

“Ya sudah, Bapak nggak usah ikut mikir masalah itu. Wisnu pasti sudah tahu apa yang harus dilakukannya.”

***

“Aku kelamaan ya Mas?” tanya Qila begitu masuk ruangan, takut suaminya menegur karena lamanya dia pergi.

“Iya, ngapain saja, kok lama?”

“Asyik bercanda sama Mila, jadi lupa waktu.”

“Besok Minggu kita ajak Mila jalan-jalan, supaya Mila senang. Soalnya kita sudah lama tidak bepergian bertiga, selalu sibuk dengan pekerjaan sih, jadi lelah saat di rumah dan melupakan anak semata wayang kita.”

“Tidak usah jalan-jalan Mas, main di rumah ibu saja. Mila suka bermain di taman, melihat ikan-ikan di kolam."

“Setiap hari kan sudah di sana, cari situasi yang lain, misalnya jalan-jalan ke luar kota, melihat pemandangan alam. Coba cari nanti, di mana enaknya.”

“Kalau aku kok senang di rumah ibu saja.”

“Aneh kamu ini, diajak jalan-jalan kok malah pilih di rumah ibu? Padahal setiap hari sudah ke sana.”

“Nggak tahu aku Mas, apa karena aku sayang banget sama ke dua mertua aku ya?”

“Oh ya? Tapi kamu tidak usah khawatir. Mereka baik-baik saja, untuk bapak, sudah ada Wahyudi yang melayaninya, dan bapak senang kok.”

“Iya sih, tapi kalau libur, lalu kita menemaninya seharian, barangkali bapak sama ibu lebih senang.”

“Ya sudah, itu kita bicarakan nanti saja. Yuk bantuin aku sekarang. Ada proyek baru nih.”

“Aduh, aku benar-benar pusing Mas, capek mikir itu terus,” keluh Qila.

Hati Qila sedang diliputi oleh godaan tentang ketertarikannya kepada pria ganteng yang ada di rumah mertuanya, dipicu juga oleh terdengarnya suara igauan Wahyudi tentang Qila, yang dikiranya Qila itu adalah dirinya. Jadi tak ada yang menarik kecuali bisa berdekatan dengan pria tampan yang menarik hatinya, yang dikiranya juga tertarik padanya. Qila sedang menunggu malam segera tiba, kemudian dia akan menelpon Wahyudi melalui ponsel yang ditinggalkannya. Apakah Wahyudi saat ini sudah melihat ponsel itu ya?

“Qila …” panggil Wisnu yang melihat Qila malah seperti melamun.

“Oh iya …”

“Kamu kenapa sih sekarang beda?”

“Namanya manusia, kadang juga jenuh Mas, tiap hari melihat angka … angka … “

“Baiklah, aku putuskan besok Minggu kita liburan. Mungkin tidak sehari, kita akan cuti selama tiga hari, karena itu ayo kita selesaikan dulu semuanya.”

Qila tampak terkejut.

“Tiga hari?”

“Ya, kita dan Mila, Tinah pastinya juga harus ikut.”

“Mas, bagaimana kalau kita liburannya rame-rame?”

“Rame-rame bagaimana ?”

“Kita ajak bapak sama ibu juga, pastinya bersama seluruh keluarga.”

“Haaa? Tapi apa bapak mau?”

“Kan bapak juga butuh hiburan? Lagi pula bapak kan punya asisten yang setia menemaninya. Biarpun dengan kursi roda, bapak kan juga berhak senang? Di rumah terus juga membuat bapak jenuh, bosan ….”

Wisnu tampak berpikir. Lalu ia merasa senang karena istrinya sangat memperhatikan mertuanya.

“Qila, kamu ternyata istri yang baik, yang sangat menyayangi mertua kamu juga.”

“Aku memang menyayangi mereka, seperti kepada orang tuaku sendiri.”

Wisnu tersenyum senang, kemudian mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut. Qila mengibaskan tangan suaminya.

“Isssh, Mas, ini di kantor.”

“Kan yang ada di ruangan ini hanya kamu dan aku?” elak Wisnu.

“Ya sudah, mana yang harus di kerjakan, tapi benar ya, liburannya bersama keluarga bapak-ibu juga?”

“Aku akan bicara sama bapak nanti saat menjemput Mila, semoga bapak mau. Kalau ibu sih pasti ngikut saja, asalkan bapak suka.”

***

Sore hari itu setelah mandi, Wahyudi mencari sisir yang lupa entah di letakkannya di mana. Ia menuju ke arah meja, yang terletak di sebelah tempat tidurnya.

“Ah, ternyata di sini. Teledor juga aku ini,” katanya sambil mengambil sisirnya. Tapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang kemudian di raihnya.

“Ponsel? Milik siapa ini? Aku kan tidak punya ponsel?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

AKU ANAK SIAPA 05

  AKU ANAK SIAPA  05 (Tien Kumalasari)   Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang y ang...