Thursday, November 11, 2021

MELANI KEKASIHKU 23

 

MELANI KEKASIHKU  23

(Tien Kumalasari)

 

Abi bergerak cepat, sebelum Boni membungkukkan badannya, Abi sudah sampai disampingnya dan menggamit lengannya. Boni terkejut, menoleh dan menatap Abi dengan marah.

“Ada apa?” katanya kasar.

“Kenapa dia?” Abi sambil menunjuk ke arah Melani yang masih tampak memejamkan matanya.

“Apa urusan kamu?”

“Dia kerabatku.”

“Bodoh! Dia isteriku, sedang sakit. Pergi !” sentak Boni kasar. Tapi Abi bergeming. Ia mencengkaram lengan Boni.

“Lepaskan dia.”

“Orang gila ! Pergi!” kata Boni sambil mengayunkan kepalan tangannya. Sayangnya Abi tak sempat mengelak, dan membuatnya sempoyongan ketika pukulan itu mengenai pelipisnya. Dengan sigap Abi bangkit lagi, dan kemarahannya memuncak. Akan dia pertaruhkan nyawanya untuk melindungi Melani. Tapi badan Boni lebih tinggi besar, dan kebiasaan bertarung jangan diragukan lagi. Dia sudah tahu bahwa laki-laki ganteng ini biarpun badannya kekar, dengan gampang akan menjadi bulan-bulanannya. Sekali lagi dia mengayunkan tangannya untuk memukul wajah Abi, tapi Abi berhasil menangkisnya. Abi menonjok dada Boni dengan sekuat tenaga, tapi laki-laki itu tetap bergeming.

“Eh.. mas.. mas.. jangan berantem disini mas,” teriak petugas hotel.

“Dia mau mengganggu isteriku!” teriak Boni lantang.

Petugas hotel segera memanggil keamanan.

“Dia mau mengganggu isteriku, biar aku hajar dia,” Boni terus-terusan berteriak dengan suara baritonnya yang menyeramkan.

“Dia bohong !! Dia....”

Boni melayangkan satu pukulan lagi yang membuat Abi kembali terjengkang.

Tak cukup sampai disitu, sebelum Abi sempat bangkit, Boni menghujaninya dengan pukulan, dan Abi benar-benar tak sempat membalasnya. Pada suatu saat Boni menjatuhkan lagi pukulan di kepalanya, membuat mata Abi berkunang-kunang.

Hanya beberapa saat kejadian itu berlangsung. Satpam hotel mendekati dan melerai mereka.

“Tolong, laki-laki ini mau mengganggu isteriku. Dia sedang sakit dan aku harus melarikannya ke rumah sakit.” Katanya sambil mengangkat tubuh Melani dan dibawanya keluar. Sebuah mobil sudah menunggu di depan lobi, dan secepat kilat Boni masuk kedalamnya lalu kabur. Rupanya dia sudah memesan taksi yang tadi disewanya agar menunggu, dan bersiap didepan lobi sebelum Melani jatuh tak sadarkan diri.

“Tolong, dia menculik gadis itu.. dia menculik..” teriak Abi.

Satpam hotel yang kebingungan segera menatap keluar, dan mobil itu sudah tak kelihatan batang hidungnya.

“Dia membawa isterinya yang sedang sakit,” kata petugas hotel yang mempercayai kata-kata Boni, apalagi tadi ketika datang, Abi berbicara tak jelas dengan menanyakan ini itu kepada petugas.

“Celaka. Kenapa kalian begitu bodoh! Dia penculik !!” Abi berteriak sambil berusaha bangkit. Matanya masih berkunang-kunang.

Satpam segera melaporkan kejadian itu pada polisi.

Abi mencari ponselnya. Wajahnya sudah lebam disana-sini.

“Hallo..” sebuah jawaban dari seberang, suara Andra.

“Andra, aku Abi..”

“Ya aku tahu, ada apa? Aku sedang di bandara. Seseorang menculik Melani.”

“Ya ampun, aku baru saja melihatnya di hotel. Aku mencegahnya membawa Melani saat Melani tak sadarkan diri, tapi aku tak berhasil. Dia menghajarku habis-habisan, aku nyaris pingsan dan dia sudah kabur.”

“Apa katamu? Dia kabur ke mana?”

“Entahlah, mungkin ke bandara, ini sudah dekat dengan bandara.”

“Aku menunggunya disini. Ceritanya panjang. Bisakah kamu kemari? Kemungkinannya dia akan kabur dengan pesawat.”

“Aduh, kepalaku pusing sekali, baiklah aku mau menyusul kamu ke bandara.”

Abi memanggil taksi yang tadi ditumpanginya.

“Bagaimana pak? Polisi akan segera datang kemari,” kata satpam itu.

“Aku akan mengejarnya ke bandara. Nanti aku kemari lagi,” kata Abi yang segera menuju ke arah taksi yang sudah menunggunya.”

***

“Ya, bagaimana Bon?” tanya Santi ketika Boni menelponnya.

“Aku berhasil San.. aku sudah bersama Melani.”

“Bagus sekali, kerja kamu selalu baik Bon. Bonus sudah menunggumu. Kau apakan gadis itu?”

“Masih tak sadarkan diri. Aku sedang menuju bandara, dan segera bertolak kembali ke Jakarta.”

“Mengapa tidak kamu habisi saja gadis itu?”

“Gila kamu. Dia sangat cantik, aku akan membawanya pulang.”

“Kamu yang gila Bon, kalau kamu melakukannya, semuanya akan kacau.”

“Tidak, serahkan saja sama aku.”

“Sebaiknya kamu tidak pulang dengan pesawat.”

“Memangnya kenapa?”

“Bahaya, apalagi kalau gadis itu siuman.”

Boni tampak berfikir, lalu dia mengurungkan niatnya ke bandara yang sebenarnya sudah dekat. Ia berbincang dengan sopirnya dan tawar menawar tentang ongkosnya kalau dia mau membawanya ke Jakarta. Akhirnya berapapun yang sopirnya mau, Boni menyetujuinya. Mereka hanya lewat bandara, tapi tidak berhenti disana.

***

“Ya ampun Bi, mukamu sampai matang biru seperti itu?” pekik Andra ketika Abi sudah sampai disana. Tadi sambil berjalan Abi sudah menceritakan semuanya, membuat Andra juga menjadi panik. Tapi Abi  tidak melihat laki-laki tinggi besar yang membawa Melani itu disekitar ruang tunggu.

“Harusnya dia sudah sampai disini. Dia kabur begitu membuat aku roboh.”

Keduanya mencari-cari, barangkali penjahat itu lolos dari pengawasan Andra.

“Jangan-jangan dia tidak naik pesawat,” kata Andra yang semakin cemas.

“Tampaknya begitu. Kalau ya, pasti sudah sampai disini. Mengapa kamu mengira dia akan naik pesawat?” tanya Abi yang tidak memperdulikan rasa nyeri pada lukanya dan pusing yang menderanya.

“Tadi pagi dia menelpon, dan tak lama kemudian sudah sampai di tempat kerja Melani. Jadi pasti dia naik pesawat. Aku pikir kalau dia kabur, mestinya akan naik pesawat juga.”

“Aku kira dia tidak begitu bodoh. Dengan pesawat akan gampang melacaknya. Pasti dia kabur melalui perjalanan darat.”

“Aku akan mengejarnya, tapi kita lapor polisi saja dulu.”

“Aku ikut bersamamu.”

“Bagaimana luka-luka kamu itu? Dan bukankah kamu sebenarnya mau ke Jakarta?”

“Aku batalkan saja. Masalah ini lebih penting.”

“Kamu juga bertahan dengan luka-luka itu?”

“Tidak apa-apa. Tapi kamu harus berpesan dulu kepada petugas bandara. Siapa tahu dia benar datang kemari. Jadi kalau ada seorang laki-laki, dengan membawa wanita yang tampaknya sakit atau pingsan, mereka harus menahannya. Kecuali itu lapor polisi, pasti ada disini.

“Baiklah. Sa, tolong ambil mobilnya ya, aku akan menyelesaikan urusan disini dulu,” katanya kepada Sasa yang sejak tadi diam saja.

Sasa segera pergi lebih dulu ke tempat parkir.

Tiba-tiba Abi terkejut. Sopir taksi yang tadi dipakainya menyusulnya.

“Pak, apakah bapak masih mau memakai taksi saya?”

Abi menepuk jidatnya, karena lupa membayarnya.

“Maaf pak, tidak lagi, saya sedang panik karena penjahat itu belum sampai ke mari,” kata Abi sambil memberikan sejumlah uang.

“Pak, barangkali bapak memerlukannya, saya mencatat nomor mobil yang tadi kita ikuti,” tiba-tiba kata sopir itu sambil menyerahkan secarik kertas.

“Oh, bagus sekali, saya sampai tidak memikirkannya. Terimakasih banyak ya.”

“Sama-sama bapak, semoga penjahat itu tertangkap.”

“Ada apa?” tanya Andra yang tidak mengerti dia itu siapa.

“Aku lupa membayar taksiku. Dan kebetulan sekali dia mencatat nomor mobil yang tadi kami ikuti. Nih, lihat,” kata Abi sambil menyerahkan catatan nomor mobil taksi itu.

“Ini bagus, laporan kita akan lebih terarah. Semoga dia tidak berganti mobil lain,” kata Andra yang kemudian menggamit lengan Abi untuk menemui petugas keamanan.

***

“Bapak kok pulang?” tanya Maruti ketika suaminya tiba-tiba pulang. Sejak tadi Maruti mondar mandir di teras, karena yang ditunggunya belum juga muncul.

“Aku tidak tenang, jadi lebih baik pulang. Andra dan Sasa juga sedang mencari Melani. Belum ada berita tentang Melani ?”

“Belum, ini aku juga menunggu dengan harap-harap cemas. Rasanya dia tidak akan membawa Melani kemari. Dia itu penjahat, dan hampir yakin bahwa dia anak buahnya Santi.”

“Perkiraanku juga begitu Mar, karena dia bisa menyebut nama Anindita dan Anggoro dengan baik. Hal itu kemudian dipergunakan untuk berpura-pura menjadi kerabat Anggoro.”

Air mata Maruti kemudian merebak. Kecemasannya sekarang adalah pada diri Melani.

“Bagaimana kalau Melani diapa-apakan?” Isaknya

“Kamu sudah menelpon Andra ?”

Sudah, Andra bilang sedang ada di bandara. Menunggu kalau-kalau Melani dibawa pergi dengan pesawat.”

“Sebaiknya lapor polisi saja. Polisi kan lebih bisa menanganinya.”

“Coba bapak telpon Andra.”

“Pasti dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi aku akan menelponnya.”

“Ya bapak,” jawab Andra dari seberang.

“Bagaimana, kok tidak menelpon ibu atau bapak?”

“ Ini kami baru saja lapor polisi. Polisi akan segera melacaknya. Tampaknya memang dia penjahat. Abi memergokinya disebuah hotel.”

“Abi? Bagaimana bisa ketemu Abi?”

Kebetulan Abi mau ke Jakarta. Dalam perjalanan ke bandara dia melihat Melani bersama seorang laki-laki sedang berhenti disebuah mini market. Lalu Abi mengikutinya. Mereka memasuki sebuah hotel, dan Abi melihat Melani dicekoki dengan minuman sampai tak sadarkan diri.”

“Ya ampun.. lalu bagaimana ?”

“Ketika penjahat mau membawa Melani yang pingsan, Abi menghalanginya, tapi laki-laki itu memang ahli berkelahi, apalagi badannya lebih besar. Abi luka parah dibagian wajahnya.”

“Apakah tak ada keamanan di hotel itu?”

“Laki-laki itu berteriak-teriak mengatakan bahwa Melani itu isterinya, dan mengatakan bahwa Abi akan mengganggunya. Mereka melerai ketika Abi sudah tak berdaya dan laki-laki itu membawa pergi Melani.”

“Mereka tidak lapor polisi ?”

“Kemudian mereka juga lapor polisi. Abi menelpon Andra, lalu Andra menyuruhnya datang ke bandara. Tapi tampaknya mereka tidak akan naik pesawat.”

“Belum ada berita?”

“Polisi sudah bergerak. Kebetulan pengemudi taksi yang ditumpangi Abi mencatat nomor mobilnya. Semoga penjahat itu tidak berganti mobil.”

“Ya sudah, kamu dimana sekarang?”

“Karena sudah ditangani polisi, kami hanya bisa menunggu. Sekarang sedang mengantarkan Abi ke rumah sakit. Kasihan wajahnya sampai lebam-lebam. Kecuali itu dia tidak jadi ke Jakarta.”

“Kasihan dia.”

“Doakan bisa segera tertangkap ya pak?”

“Iya, kami terus berdoa. Kamu hati-hati.”

“Bagaimana mas?” tanya Maruti yang sejak tadi mendengarkan.

“Andra sudah lapor polisi. Dan kebetulan Abi melihatnya.”

“Iya, kok bisa ketemu Abi?”

“Dia dalam perjalanan ke Jakarta dan kebetulan melihat Melani. Tapi dia tidak berhasil menghentikan penjahat itu.”

“Ya Tuhan.. bagaimana sih, aku bingung bagaimana Abi bisa ketemu mereka.” Maruti kembali menangis.

“Ya sudah, sudah ditangani polisi, semoga polisi bisa menghadang dan menangkapnya. Kamu tenang ya, dan selalu berdoa. Aku ambilkan minum ya.”

“Nggak jelas cerita tentang Abi tadi..”

“Aku ambilkan kamu minum dulu, nanti aku ceritakan semuanya setelah kamu agak tenang.”

***

Melani terbaring di jok mobil bagian belakang kemudi. Sebentar-sebentar Boni menoleh ke belakang. Ia menyesal tadi tidak sempat mengerjainya ketika di hotel, karena keburu ada yang mengenalinya.

“Kurangajar, rupanya dia mengenal Melani. Untunglah aku bisa mengecoh petugas keamanan di hotel  itu sehingga aku bisa lolos,” kata batin Boni yang kecewa tidak bisa melakukan apa-apa padahal Melani sudah dibuatnya pingsan. Menurut Santi, Boni harus menghabisinya, tapi melihat wajah cantik Melani, Boni punya rencana lain yang lebih mengerikan daripada kematian. Boni menelan ludahnya dan ingin segera tiba di Jakarta agar segera bisa menikmati wajah molek yang membuatnya tergoda,

Boni tetap mempergunakan taksi yang semula disewanya dan tidak mau berganti mobil, untuk menghindari kecurigaan karena membawa gadis yang sedang pingsan. Ia akan menyogok sopir taksi itu agar tak mengatakan apa yang terjadi kepada siapapun juga.

“Apa sebaiknya aku berhenti dulu disuatu tempat sebelum gadis itu siuman ya? Pasti ada hotel atau penginapan dimana-mana. Tapi membawa gadis pingsan pasti menimbulkan pertanyaan. Dan seandainya Melani sudah sadar, pasti dia juga akan berteriak-teriak,” Boni terus mengutak-atik akal agar bisa segera menikmati tubuh cantik yang menggiurkan itu.

“Benar sekali dia mirip ibunya. Sayang waktu itu tidak benar-benar bisa memeluknya, karena foto itu hanya akal-akalan saja untuk memfitnah Anindita. Dan sekarang ada anak gadisnya yang bisa menggantikannya.”

Boni menoleh ke belakang, melihat Melani masih belum juga sadarkan diri. Boni berkali-kali menelan ludah, menahan gejolak hati yang tidak segera terlampiaskan.

“Bolehkah nanti berhenti sebentar untuk makan pak, saya belum makan sejak siang,” tiba-tiba sopir taksi itu berkata.

“Ah ya, sama, sebetulnya saya juga lapar. Kita makan terakhir sebelum menjemput Melani ya. Nanti berhenti diwarung terdekat, tapi bapak saja yang turun, saya nitip nasi bungkus 2 sama minum,” kata Boni sambil menyiapkan selembar uang.

“Ya pak, saya makannya juga tidak akan lama, atau saya bawa saja ke mobil nanti makan didalam mobil?”

“Tidak, jangan. Mana enak makan di mobil, biar saya saja yang makan di mobil, nanti bersama Melani.”

Dan di sebuah warung, sopir menghentikan mobilnya.

“Ini uangnya, untuk makan bapak sekalian,” kata Boni sambil memberikan uangnya.

“Bapak mau makan apa?”

“Sembarang, nasi sama ayam juga boleh.”

Sopir itu turun dan bergegas menuju warung, Boni menyeringai senang. Ia turun dan masuk ke belakang, dimana Melani masih tergolek tak berdaya.

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

Wednesday, November 10, 2021

MELANI KEKASIHKU 22

 

MELANI KEKASIHKU  22

(Tien Kumalasari)

 

Boni segera memanggil taksi online, ke arah yang di kehendakinya. Agak lama dia menunggu Melani diluar, karena sebelum pamitan ia harus membereskan semua pekerjaan yang baru selesai dikerjakan.

Ia berjalan keluar dengan hati berbunga-bunga. Benarkah dia akan bertemu ayahnya?

“Ya Tuhan, sakit apa ayahku? Semoga setelah bertemu aku, penyakit ayah segera sembuh, demikian juga ibuku,” bisik batin Melani sambil mendekati Boni.

“Kita menunggu taksi sebentar,” kata Boni yang tak sabar.

“Ya om.”

“Menyesal tadi tidak aku pesan supaya menunggu saja, sehingga kita tidak usah mencarinya lagi.”

“Seperti apakah ayahku? Ketika muda dia ganteng sekali,” gumam Melani.

“Iya, dia masih se ganteng dulu,” jawab Boni yang seakan sangat mengenal baik Anggoro.

“Dan ibuku cantik bukan? Benarkah mirip dengan wajahku?” tanya Melani polos.

Boni menatap sejenak ke arah wajah Melani, dan tersenyum menyeringai. Sungguh sebenarnya Melani tak suka melihat wajah laki-laki yang menjemputnya, tampak seram dan membuatnya bergidik ketika ia melirik ke arah lengannya yang bertato, apalagi melihat seringai di bibirnya. Karenanya ia kemudian memalingkan mukanya. Hanya karena laki-laki itu mau membawanya kepada ayahnya saja maka dia mau mengikutinya.

“Ya.. ya, aku baru memperhatikan wajah kamu, benar, kamu sangat mirip dengan ibu kamu, seperti pinang dibelah dua.”

“Benarkah?” Melani tersenyum dengan rona yang sangat cerah.

“Apakah sakit ibuku parah?”

“Hmm... tidak.. hanya belum bisa bangun.. “ Boni menjawab sekenanya.

“Dan ayahku sakit apa?”

“Sebenarnya orang tua kamu sakit karena selalu memikirkan kamu. Mereka sakit-sakitan dan sangat menderita.”

“Ya Tuhan, segera sembuhkanlah mereka,” bisik Melani pilu.

“Tapi sakit ayahmu tidak parah. Dia bisa berjalan-jalan, hanya sedikit lemah, cepat capek. Itu sebabnya aku disuruhnya menemui kamu dulu, baru menjemput dia. Kalau sudah ketemu kamu kan tidak harus putar-putar mencari lagi.”

Melani mengangguk mengerti.

Ia segera naik kedalam taksi yang tadi dipesan Boni, begitu taksi itu datang.

***

Sebuah ponsel berdering di toko tempat Melani bekerja. Seorang karyawan mendekat. Ponsel itu terletak di meja kerja Melani.

“Ya ampuun, ponsel Melani ketinggalan,” pekik temannya.

“Angkat saja, barangkali penting. Dan bilang kalau ponsel Melani ketinggalan,” kata yang lain.

“Hallo..” teman Melani menjawab.

“Hallo, ini bukan Melani ?”

“Bukan pak, saya temannya. Dari siapa ya?”

“Saya Andra, kakak sepupunya. Mana Melani?”

“Pak Andra, ponsel Melani ketinggalan di meja kerjanya.”

“Memangnya Melani kemana?”

“Dia ijin pulang awal, karena tadi dijemput seseorang.”

“Siapa menjemputnya ?” tanya Andra khawatir.

“Seorang laki-laki, tinggi besar. Katanya kerabat orang tuanya.”

“Ya Tuhan... Mm.. sudah lama?”

“Kira-kira setengah jam yang lalu.”

Andra langsung menutup ponselnya.

***

Andra berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya tampak panik.

“Ada apa mas?” tanya Sasa

“Melani dijemput seseorang.”

“Siapa?”

“Dia mengaku kerabatnya. Pasti yang menelpon tadi pagi.”

“Barangkali menemui tante Maruti, kan kamu bilang tadi sudah berpesan begitu?”

“Iya sih, sudah setengah jam yang lalu. Mudah-mudahan benar, mereka kerumah. Aku menelpon ibu dulu. Tapi tidak, aku telpon dia dulu. Ya ampuun sampai sekarang aku nggak tahu namanya.”

“Sabar mas, jangan panik dulu.”

“Entah kenapa, perasaanku tak enak. Kalau terjadi apa-apa atas diri Melani, akulah yang bersalah. Aku tak akan bisa memaafkan diriku.”

“Sabar dan tenang dulu mas,” Sasa terus berusaha menenangkan Andra.

Lalu Andra mencoba menelpon laki-laki yang menelponnya pagi tadi, tapi tetap tak ada jawaban. Ponselnya tidak aktif sejak pagi tadi,” Andra mendengus kesal.

“Ya sudah, telpon tante Maruti dulu, siapa tahu sudah ada dirumah,” hibur Sasa.

“Ya, Andra,” jawab ibunya ketika Andra menelpon.

“Melani sudah sampai disitu ?”

“Melani? Belum tuh, memangnya dia bilang mau kerumah sekarang?”

“Laki-laki itu sudah menjemputnya, lebih setengah jam yang lalu. Kok belum sampai dirumah ya bu ?”

“Lebih setengah jam lalu? Harusnya sudah sampai dong. Tapi bisa jadi karena jalanan macet. Mengapa kamu tidak menghubunginya?”

“Ponselnya ketinggalan di toko. Tadi Andra menelponnya, yang menerima temannya.”

“Waduh. Kamu sudah menelpon orang itu lagi?”

“Sudah, tetap tidak aktif, perasaan Andra tak enak. Menyesal memberikan alamat tempat kerja Melani tadi.”

“Ya sudah, coba kita tunggu sebentar lagi, mungkin jalanan benar-benar macet.”

“Nanti kalau Melani datang, ibu langsung menelpon Andra ya,” pesan Andra sebelum menutup ponselnya.

“Ya, pasti ibu akan mengabari kamu, supaya ada teman ibu berbicara sama dia.”

Tapi Andra tetap merasa tidak tenang. Ia berdiri, lalu duduk lagi, dan berdiri lagi, kemudian mondar-mandir diruangan dengan wajah kusut.

“Bagaimana kalau dia membawa pergi Melani?” keluhnya berkali-kali.

“Oh ya mas, coba telpon simbok, siapa tahu Melani mengajaknya menemui simbok terlebih dulu.”

“Mungkinkah? Tapi aku akan mencobanya. Nah, untunglah aku pernah mencatat nomor kontaknya simbok.”

“Ya, ini siapa ya?” jawab simbok dari seberang.

“Ini Andra mbok.”

“Oh, mas Andra, ada apa menelpon simbok? Simbok lagi bikin sambal terasi nih, pesenan Melani tadi pagi.”

“Wah.. enak dong mbok....”

“Ada apa mas Andra menelpon? Kalau mau ketemu Melani ya nanti, agak sore. Tapi tadi Melani bilang akan tidur dirumahnya mas Andra bersama simbok.”

Andra semakin cemas. Dia urung menanyakan Melani karena sudah jelas Melani tidak pulang ke rumah simboknya. Kalau dia bertanya tentang Melani, pasti simbok akan panik.

“Ada apa mas?” simbok mengulang pertanyaannya, karena Andra tidak segera menjawab.

“Ini mbok... Andra cuma mau mengingatkan, mm... nanti malam simbok dan Melani tidur dirumah saya kan?”

“Iya mas, simbok sudah tahu. Tidak apa-apa, nanti  setelah Melani pulang, akan simbok ajak ke rumah mas Andra.”

“Iya mbok, baiklah kalau begitu.”

Andra menutup pembicaraan itu dengan lemas.

“Tidak ada?”

Andra hanya bisa menggeleng dengan lemas. Seperempat jam sudah berlalu, dan ibunya belum juga menelpon. Andra berdiri dan beranjak keluar. Ia teringat cerita ibunya semalam, tentang seseorang yang pernah berbuat jahat kepada tantenya.

“Apa iki ulah dia lagi? Nyatanya dia mengerti nama Anindita, dan suaminya yang bernama Anggoro. Pasti dia sudah mengenal keluarga tante dengan baik,” kata batin Andra.

“Kemana mas?”

“Ke bandara. Kalau dia membawa lari Melani, pastinya lewat bandara.”

“Aku ikut, biar aku yang menyetir mobilnya. Kamu kelihatan panik begitu, bagaimana kalau kenapa-kenapa?” kata Sasa sambil berdiri dan mengikuti Andra keluar.

Diluar pintu mereka beremu Panji.

“Mau kemana ? Tadi sudah makan kan?” tanya Panji.

“Mencari Melani,” jawab Andra singkat.

“Mencari bagaimana maksudmu?”

“Laki-laki itu sudah menjemput Melani. Tapi sudah sejam yang lalu belum juga sampai dirumah. Andra curiga ada sesuatu.”

“Aduh... bagaimana ini. Lalu kamu mau mencari kemana?”

“Ke bandara. Kalau dia membawa Melani, satu-satunya jalan pasti melalui bandara.”

“Belum tentu dia naik pesawat.”

“Pastinya naik pesawat, karena ia begitu cepat sampai disini,” kata Andra sambil berlalu.

“Maaf, Om coba telpon tante Maruti deh, kalau Melani sudah sampai, segera menghubungi mas Andra ya,” pesan Sasa kepada Panji, lalu setengah berlari mengejar Andra yang sudah berjalan jauh.

Panji segera menelpon isterinya, dan jawabannya tentu saja membuat Panji ikutan panik, karena Melani belum sampai dirumahnya.

***

Melani membuka tas tangan yang dibawanya, dan mencari-cari sesuatu. Dia dan Boni sudah ada didalam taksi.

“Ya ampun.. ponselku ketinggalan,” keluhnya kesal.

“Tidak apa-apa. Kamu mau menelpon siapa?”

“Mengabari bude atau mas Andra kalau aku mau menjemput ayah terlebih dulu,” jawab Melani.

“Tidak usah mengabari, nanti kalau kita mau ke rumahnya, aku yang akan menelpon saudara sepupu kamu.”

“Mengapa tidak sekarang saja?”

“Ponselku mati. Tadi lupa nge cas,” jawab Boni yang tentu saja berbohong.

Melani terdiam. Tapi ia merasa perjalanan ini sudah lama. Sungguh terasa tak sabar.

“Masih jauhkah?”

“Tidak lama lagi akan sampai, tenanglah. Aku tadi sudah menelpon ayahmu, dan memintanya agar sabar menunggu.”

“Kapan om menelponnya?” tanya Melani karena sejak tadi ia tak melihat laki-laki didepannya menelpon siapapun.

“Sudah tadi, ketika menunggu kamu di toko. Maksudku biar dia senang, karena aku sudah bertemu kamu.”

Melani lagi-lagi hanya diam. Tiba-tiba ia merasa pusing. Tadi karena terburu-buru, dia belum sempat makan, dan laki-laki ini tidak mengajaknya makan. Ia merogoh lagi tas tangannya, barangkali ada minyak gosok yang bisa meredakan pusingnya. Biasanya dia selalu membawa di dalam tasnya. Tapi minyak itu tidak ditemukannya.

“Lupa, aku taruh dimana ya?” gumamnya pelan, tapi Boni mendengarnya.

“Apa?”

“Nggak apa-apa, hanya mencari minyak gosok saja.”

“Kamu butuh minyak gosok ?”

“Kalau ada sih, sedikit pusing,” kata Melani agak sungkan.

“Pak, kalau ada mini market atau warung apa didepan, berhenti dulu ya,” pesannya kepada pengemudi taksi.

“Baik.”

Melani agak merasa lega, nanti kalau taksi ini berhenti, dia akan turun untuk membeli roti atau makanan apapun. Perutnya terasa melilit. Karena lapar, dia merasa seperti mabuk. Ia menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

“Masih jauhkah?” tanyanya tanpa membuka matanya.

“Tidak, sebentar lagi kita sampai, tapi kita akan mencari warung dulu untuk membeli minyak gosok.”

Melani menahan rasa melilit di perutnya. Ia ingin bilang bahwa dirinya lapar, tapi sungkan mengatakannya. Lalu ia bersyukur ketika taksi itu berhenti didepan sebuah mini market.

“Tunggu, aku belikan minyak gosoknya dulu,” kata Boni yang kemudian turun dari mobil.

Melani ikut turun, untuk membeli roti. Ia tak mau bilang karena sungkan.

Ketika ia berjalan dibelakang Boni itu, sebuah mobil melintas, yang kemudian memperlambat jalannya, bahkan kemudian undur kebelakang, persis dibelakang taksi yang dinaiki Melani dan Boni.

“Benarkah itu Melani? Siapa laki-laki tinggi besar itu? Mau kemana mereka? Sebentar pak, berhenti dulu,” katanya kepada pengemudi taksi yang ditumpanginya. Dia adalah Abi, yang akan berangkat ke bandara. Ketika melintas, dia melihat seorang gadis turun dari dalam mobil, mengikuti laki-laki tinggi besar yang sudah turun lebih dulu Ia tahu bahwa itu Melani karena mengenali baju kerja yang dipakainya. Lalu ia memerintahkan pengemudi taksi agar mundur, dan berhenti tepat dibelakang taksinya Boni.

“Melani pernah mengatakan bahwa ia sudah punya calon. Laki-laki itukah calonnya? Sepertinya nggak cocok deh, laki-laki itu seperti sudah tidak muda lagi,” kata Abi dalam hati.

“Kok kamu turun?” Boni menoleh ketika melihat bayangan Melani dari kaca  mini  market itu.

“Saya mau.. beli sesuatu,” jawab Melani.

“Beli apa? Di mobil saja, aku yang belikan.”

“Tidak, biar saya beli sendiri,” jawab Melani yang tetap melangkah memasuki mini market itu.

Abi terus mengawasi mereka.

“Tampaknya Melani tidak bersikap manis kepada laki-laki itu. Kalau dia pacarnya atau calon suaminya, pasti sikapnya lain.Tidak tampak akrab juga. Siapa sih dia, dan mau kemana?” Abi semakin ingin tahu.

“Pak, kita tunggu mereka, kemudian mengikuti kemana dia pergi ya,” perintah Abi kepada pengemudi taksi itu.

“Baik pak.”

Tak lama kemudian Melani keluar, kali ini laki-laki itu yang mengikuti di belakangnya. Abi terus mengawasinya.

“Laki-laki itu kelihatan seperti bukan orang baik-baik. Wajahnya kehitaman, dan ada  tato ular di lengan kanannya. Apakah Melani dalam bahaya? Mengapa Melani tidak menolak pergi bersamanya?”

Mobil yang ditumpangi Abi mengikuti taksi Boni. Jaraknya agak jauh, agar tak mencurigakan.

“Melani tanpa sungkan memakan roti yang tadi dibelinya, setelah menggosokkan minyak gosok di pelipis serta tengkuknya.

“Kamu lapar ya?”

Melani tak menjawab Sedikit kesal. Iya lah lapar, tadi dijemput sebelum makan, dan ini sudah hampir sore. Melani melihat ke arah jam tangan yang dipakainya, hampir jam tiga. Sudah dua jam perjalanan, dan belum sampai juga. Memang sih, jalanan agak macet.

“Nanti kita makan setelah di hotel,” kata Boni.

“Masih jauh?”

“Nggak, sudah dekat. Tuh didepan,  sudah kelihatan.”

“Ayahku menunggu disitu ?”

“Ya, tentu saja.”

Dan Abi heran ketika mobil yang ditumpangi Melani memasuki sebuah halaman hotel.

“Kita ikut masuk?” tanya sang sopir.

“Iya, masuk saja.”

“Dimana ayahku?”

“Kamu duduk disini dulu, ayahmu ada di kamarnya,” kata Boni sambil menyuruh Melani menunggu di lobi.

Melani berdebar. Ia akan bertemu ayahnya? Ayahnya yang ganteng seperti pernah dilihat di fotonya. Rasa pusingnya sudah banyak berkurang, setelah ia menghabiskan dua potong roti yang dibelinya, dan menggosok tengkuk serta  pelipisnya dengan minyak gosok.

Abi memasuki lobi, dengan mengenakan topi yang tadi dipakai sang sopir taksi. Ia berharap Melani tak mengenalinya, tapi ia bisa melihat apa yang dilakukan  Melani dan laki-laki itu.

Abi pura-pura berbicara dengan petugas hotel dengan menanyakan tarif dan apa saja. Pokoknya bisa sambil mengawasi Melani yang sedang duduk. Tampaknya ia sedang menunggu sesuatu.

Tiba-tiba ia melihat laki-laki itu mendekati Melani sambil membawa sebotol minuman.

“Mana ayahku?”

“Sedang ganti pakaian. Minumlah dulu ini,” katanya sambil menyerahkan botol yang dibawanya.

Melani meneguknya karena memang dia merasa haus. Ketika membeli roti dia lupa membeli minuman juga.

Laki-laki itu duduk didepannya sambil membuka ponselnya.

“Katanya lupa di cas,” tegur Melani.

“Tadi aku mengecasnya di taksi. Sudah bisa digunakan sekarang.”

“Kalau begitu tolong telpon mas Andra, dia harus tahu aku pergi kemana.”

“Iya, sebentar, aku baru mengirim pesan WA ke Jakarta.”

Tiba-tiba Melani merasa kepalanya terasa berat. Ia merebahkan tubuhnya di sofa yang didudukinya. Matanya terpejam. Abi melihatnya dan merasa cemas.

Dan tiba-tiba pula Boni berdiri mendekati Melani. Tapi Melani diam tak bergerak.

Abi terkejut. Ia melihat laki-laki itu akan menggendongnya. Ia yakin akan terjadi hal buruk atas diri Melani.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

AKU ANAK SIAPA 06

  AKU ANAK SIAPA … 06 (Tien Kumalasari)   Satria sudah berhenti menangis. Senja sudah membersihkan lukanya, dan menutupinya dengan plester. ...