MELANI KEKASIHKU 23
(Tien Kumalasari)
Abi bergerak cepat, sebelum Boni membungkukkan badannya, Abi sudah sampai disampingnya dan menggamit lengannya. Boni terkejut, menoleh dan menatap Abi dengan marah.
“Ada apa?” katanya kasar.
“Kenapa dia?” Abi sambil menunjuk ke arah Melani yang masih tampak memejamkan matanya.
“Apa urusan kamu?”
“Dia kerabatku.”
“Bodoh! Dia isteriku, sedang sakit. Pergi !” sentak Boni kasar. Tapi Abi bergeming. Ia mencengkaram lengan Boni.
“Lepaskan dia.”
“Orang gila ! Pergi!” kata Boni sambil mengayunkan kepalan tangannya. Sayangnya Abi tak sempat mengelak, dan membuatnya sempoyongan ketika pukulan itu mengenai pelipisnya. Dengan sigap Abi bangkit lagi, dan kemarahannya memuncak. Akan dia pertaruhkan nyawanya untuk melindungi Melani. Tapi badan Boni lebih tinggi besar, dan kebiasaan bertarung jangan diragukan lagi. Dia sudah tahu bahwa laki-laki ganteng ini biarpun badannya kekar, dengan gampang akan menjadi bulan-bulanannya. Sekali lagi dia mengayunkan tangannya untuk memukul wajah Abi, tapi Abi berhasil menangkisnya. Abi menonjok dada Boni dengan sekuat tenaga, tapi laki-laki itu tetap bergeming.
“Eh.. mas.. mas.. jangan berantem disini mas,” teriak petugas hotel.
“Dia mau mengganggu isteriku!” teriak Boni lantang.
Petugas hotel segera memanggil keamanan.
“Dia mau mengganggu isteriku, biar aku hajar dia,” Boni terus-terusan berteriak dengan suara baritonnya yang menyeramkan.
“Dia bohong !! Dia....”
Boni melayangkan satu pukulan lagi yang membuat Abi kembali terjengkang.
Tak cukup sampai disitu, sebelum Abi sempat bangkit, Boni menghujaninya dengan pukulan, dan Abi benar-benar tak sempat membalasnya. Pada suatu saat Boni menjatuhkan lagi pukulan di kepalanya, membuat mata Abi berkunang-kunang.
Hanya beberapa saat kejadian itu berlangsung. Satpam hotel mendekati dan melerai mereka.
“Tolong, laki-laki ini mau mengganggu isteriku. Dia sedang sakit dan aku harus melarikannya ke rumah sakit.” Katanya sambil mengangkat tubuh Melani dan dibawanya keluar. Sebuah mobil sudah menunggu di depan lobi, dan secepat kilat Boni masuk kedalamnya lalu kabur. Rupanya dia sudah memesan taksi yang tadi disewanya agar menunggu, dan bersiap didepan lobi sebelum Melani jatuh tak sadarkan diri.
“Tolong, dia menculik gadis itu.. dia menculik..” teriak Abi.
Satpam hotel yang kebingungan segera menatap keluar, dan mobil itu sudah tak kelihatan batang hidungnya.
“Dia membawa isterinya yang sedang sakit,” kata petugas hotel yang mempercayai kata-kata Boni, apalagi tadi ketika datang, Abi berbicara tak jelas dengan menanyakan ini itu kepada petugas.
“Celaka. Kenapa kalian begitu bodoh! Dia penculik !!” Abi berteriak sambil berusaha bangkit. Matanya masih berkunang-kunang.
Satpam segera melaporkan kejadian itu pada polisi.
Abi mencari ponselnya. Wajahnya sudah lebam disana-sini.
“Hallo..” sebuah jawaban dari seberang, suara Andra.
“Andra, aku Abi..”
“Ya aku tahu, ada apa? Aku sedang di bandara. Seseorang menculik Melani.”
“Ya ampun, aku baru saja melihatnya di hotel. Aku mencegahnya membawa Melani saat Melani tak sadarkan diri, tapi aku tak berhasil. Dia menghajarku habis-habisan, aku nyaris pingsan dan dia sudah kabur.”
“Apa katamu? Dia kabur ke mana?”
“Entahlah, mungkin ke bandara, ini sudah dekat dengan bandara.”
“Aku menunggunya disini. Ceritanya panjang. Bisakah kamu kemari? Kemungkinannya dia akan kabur dengan pesawat.”
“Aduh, kepalaku pusing sekali, baiklah aku mau menyusul kamu ke bandara.”
Abi memanggil taksi yang tadi ditumpanginya.
“Bagaimana pak? Polisi akan segera datang kemari,” kata satpam itu.
“Aku akan mengejarnya ke bandara. Nanti aku kemari lagi,” kata Abi yang segera menuju ke arah taksi yang sudah menunggunya.”
***
“Ya, bagaimana Bon?” tanya Santi ketika Boni menelponnya.
“Aku berhasil San.. aku sudah bersama Melani.”
“Bagus sekali, kerja kamu selalu baik Bon. Bonus sudah menunggumu. Kau apakan gadis itu?”
“Masih tak sadarkan diri. Aku sedang menuju bandara, dan segera bertolak kembali ke Jakarta.”
“Mengapa tidak kamu habisi saja gadis itu?”
“Gila kamu. Dia sangat cantik, aku akan membawanya pulang.”
“Kamu yang gila Bon, kalau kamu melakukannya, semuanya akan kacau.”
“Tidak, serahkan saja sama aku.”
“Sebaiknya kamu tidak pulang dengan pesawat.”
“Memangnya kenapa?”
“Bahaya, apalagi kalau gadis itu siuman.”
Boni tampak berfikir, lalu dia mengurungkan niatnya ke bandara yang sebenarnya sudah dekat. Ia berbincang dengan sopirnya dan tawar menawar tentang ongkosnya kalau dia mau membawanya ke Jakarta. Akhirnya berapapun yang sopirnya mau, Boni menyetujuinya. Mereka hanya lewat bandara, tapi tidak berhenti disana.
***
“Ya ampun Bi, mukamu sampai matang biru seperti itu?” pekik Andra ketika Abi sudah sampai disana. Tadi sambil berjalan Abi sudah menceritakan semuanya, membuat Andra juga menjadi panik. Tapi Abi tidak melihat laki-laki tinggi besar yang membawa Melani itu disekitar ruang tunggu.
“Harusnya dia sudah sampai disini. Dia kabur begitu membuat aku roboh.”
Keduanya mencari-cari, barangkali penjahat itu lolos dari pengawasan Andra.
“Jangan-jangan dia tidak naik pesawat,” kata Andra yang semakin cemas.
“Tampaknya begitu. Kalau ya, pasti sudah sampai disini. Mengapa kamu mengira dia akan naik pesawat?” tanya Abi yang tidak memperdulikan rasa nyeri pada lukanya dan pusing yang menderanya.
“Tadi pagi dia menelpon, dan tak lama kemudian sudah sampai di tempat kerja Melani. Jadi pasti dia naik pesawat. Aku pikir kalau dia kabur, mestinya akan naik pesawat juga.”
“Aku kira dia tidak begitu bodoh. Dengan pesawat akan gampang melacaknya. Pasti dia kabur melalui perjalanan darat.”
“Aku akan mengejarnya, tapi kita lapor polisi saja dulu.”
“Aku ikut bersamamu.”
“Bagaimana luka-luka kamu itu? Dan bukankah kamu sebenarnya mau ke Jakarta?”
“Aku batalkan saja. Masalah ini lebih penting.”
“Kamu juga bertahan dengan luka-luka itu?”
“Tidak apa-apa. Tapi kamu harus berpesan dulu kepada petugas bandara. Siapa tahu dia benar datang kemari. Jadi kalau ada seorang laki-laki, dengan membawa wanita yang tampaknya sakit atau pingsan, mereka harus menahannya. Kecuali itu lapor polisi, pasti ada disini.
“Baiklah. Sa, tolong ambil mobilnya ya, aku akan menyelesaikan urusan disini dulu,” katanya kepada Sasa yang sejak tadi diam saja.
Sasa segera pergi lebih dulu ke tempat parkir.
Tiba-tiba Abi terkejut. Sopir taksi yang tadi dipakainya menyusulnya.
“Pak, apakah bapak masih mau memakai taksi saya?”
Abi menepuk jidatnya, karena lupa membayarnya.
“Maaf pak, tidak lagi, saya sedang panik karena penjahat itu belum sampai ke mari,” kata Abi sambil memberikan sejumlah uang.
“Pak, barangkali bapak memerlukannya, saya mencatat nomor mobil yang tadi kita ikuti,” tiba-tiba kata sopir itu sambil menyerahkan secarik kertas.
“Oh, bagus sekali, saya sampai tidak memikirkannya. Terimakasih banyak ya.”
“Sama-sama bapak, semoga penjahat itu tertangkap.”
“Ada apa?” tanya Andra yang tidak mengerti dia itu siapa.
“Aku lupa membayar taksiku. Dan kebetulan sekali dia mencatat nomor mobil yang tadi kami ikuti. Nih, lihat,” kata Abi sambil menyerahkan catatan nomor mobil taksi itu.
“Ini bagus, laporan kita akan lebih terarah. Semoga dia tidak berganti mobil lain,” kata Andra yang kemudian menggamit lengan Abi untuk menemui petugas keamanan.
***
“Bapak kok pulang?” tanya Maruti ketika suaminya tiba-tiba pulang. Sejak tadi Maruti mondar mandir di teras, karena yang ditunggunya belum juga muncul.
“Aku tidak tenang, jadi lebih baik pulang. Andra dan Sasa juga sedang mencari Melani. Belum ada berita tentang Melani ?”
“Belum, ini aku juga menunggu dengan harap-harap cemas. Rasanya dia tidak akan membawa Melani kemari. Dia itu penjahat, dan hampir yakin bahwa dia anak buahnya Santi.”
“Perkiraanku juga begitu Mar, karena dia bisa menyebut nama Anindita dan Anggoro dengan baik. Hal itu kemudian dipergunakan untuk berpura-pura menjadi kerabat Anggoro.”
Air mata Maruti kemudian merebak. Kecemasannya sekarang adalah pada diri Melani.
“Bagaimana kalau Melani diapa-apakan?” Isaknya
“Kamu sudah menelpon Andra ?”
Sudah, Andra bilang sedang ada di bandara. Menunggu kalau-kalau Melani dibawa pergi dengan pesawat.”
“Sebaiknya lapor polisi saja. Polisi kan lebih bisa menanganinya.”
“Coba bapak telpon Andra.”
“Pasti dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi aku akan menelponnya.”
“Ya bapak,” jawab Andra dari seberang.
“Bagaimana, kok tidak menelpon ibu atau bapak?”
“ Ini kami baru saja lapor polisi. Polisi akan segera melacaknya. Tampaknya memang dia penjahat. Abi memergokinya disebuah hotel.”
“Abi? Bagaimana bisa ketemu Abi?”
Kebetulan Abi mau ke Jakarta. Dalam perjalanan ke bandara dia melihat Melani bersama seorang laki-laki sedang berhenti disebuah mini market. Lalu Abi mengikutinya. Mereka memasuki sebuah hotel, dan Abi melihat Melani dicekoki dengan minuman sampai tak sadarkan diri.”
“Ya ampun.. lalu bagaimana ?”
“Ketika penjahat mau membawa Melani yang pingsan, Abi menghalanginya, tapi laki-laki itu memang ahli berkelahi, apalagi badannya lebih besar. Abi luka parah dibagian wajahnya.”
“Apakah tak ada keamanan di hotel itu?”
“Laki-laki itu berteriak-teriak mengatakan bahwa Melani itu isterinya, dan mengatakan bahwa Abi akan mengganggunya. Mereka melerai ketika Abi sudah tak berdaya dan laki-laki itu membawa pergi Melani.”
“Mereka tidak lapor polisi ?”
“Kemudian mereka juga lapor polisi. Abi menelpon Andra, lalu Andra menyuruhnya datang ke bandara. Tapi tampaknya mereka tidak akan naik pesawat.”
“Belum ada berita?”
“Polisi sudah bergerak. Kebetulan pengemudi taksi yang ditumpangi Abi mencatat nomor mobilnya. Semoga penjahat itu tidak berganti mobil.”
“Ya sudah, kamu dimana sekarang?”
“Karena sudah ditangani polisi, kami hanya bisa menunggu. Sekarang sedang mengantarkan Abi ke rumah sakit. Kasihan wajahnya sampai lebam-lebam. Kecuali itu dia tidak jadi ke Jakarta.”
“Kasihan dia.”
“Doakan bisa segera tertangkap ya pak?”
“Iya, kami terus berdoa. Kamu hati-hati.”
“Bagaimana mas?” tanya Maruti yang sejak tadi mendengarkan.
“Andra sudah lapor polisi. Dan kebetulan Abi melihatnya.”
“Iya, kok bisa ketemu Abi?”
“Dia dalam perjalanan ke Jakarta dan kebetulan melihat Melani. Tapi dia tidak berhasil menghentikan penjahat itu.”
“Ya Tuhan.. bagaimana sih, aku bingung bagaimana Abi bisa ketemu mereka.” Maruti kembali menangis.
“Ya sudah, sudah ditangani polisi, semoga polisi bisa menghadang dan menangkapnya. Kamu tenang ya, dan selalu berdoa. Aku ambilkan minum ya.”
“Nggak jelas cerita tentang Abi tadi..”
“Aku ambilkan kamu minum dulu, nanti aku ceritakan semuanya setelah kamu agak tenang.”
***
Melani terbaring di jok mobil bagian belakang kemudi. Sebentar-sebentar Boni menoleh ke belakang. Ia menyesal tadi tidak sempat mengerjainya ketika di hotel, karena keburu ada yang mengenalinya.
“Kurangajar, rupanya dia mengenal Melani. Untunglah aku bisa mengecoh petugas keamanan di hotel itu sehingga aku bisa lolos,” kata batin Boni yang kecewa tidak bisa melakukan apa-apa padahal Melani sudah dibuatnya pingsan. Menurut Santi, Boni harus menghabisinya, tapi melihat wajah cantik Melani, Boni punya rencana lain yang lebih mengerikan daripada kematian. Boni menelan ludahnya dan ingin segera tiba di Jakarta agar segera bisa menikmati wajah molek yang membuatnya tergoda,
Boni tetap mempergunakan taksi yang semula disewanya dan tidak mau berganti mobil, untuk menghindari kecurigaan karena membawa gadis yang sedang pingsan. Ia akan menyogok sopir taksi itu agar tak mengatakan apa yang terjadi kepada siapapun juga.
“Apa sebaiknya aku berhenti dulu disuatu tempat sebelum gadis itu siuman ya? Pasti ada hotel atau penginapan dimana-mana. Tapi membawa gadis pingsan pasti menimbulkan pertanyaan. Dan seandainya Melani sudah sadar, pasti dia juga akan berteriak-teriak,” Boni terus mengutak-atik akal agar bisa segera menikmati tubuh cantik yang menggiurkan itu.
“Benar sekali dia mirip ibunya. Sayang waktu itu tidak benar-benar bisa memeluknya, karena foto itu hanya akal-akalan saja untuk memfitnah Anindita. Dan sekarang ada anak gadisnya yang bisa menggantikannya.”
Boni menoleh ke belakang, melihat Melani masih belum juga sadarkan diri. Boni berkali-kali menelan ludah, menahan gejolak hati yang tidak segera terlampiaskan.
“Bolehkah nanti berhenti sebentar untuk makan pak, saya belum makan sejak siang,” tiba-tiba sopir taksi itu berkata.
“Ah ya, sama, sebetulnya saya juga lapar. Kita makan terakhir sebelum menjemput Melani ya. Nanti berhenti diwarung terdekat, tapi bapak saja yang turun, saya nitip nasi bungkus 2 sama minum,” kata Boni sambil menyiapkan selembar uang.
“Ya pak, saya makannya juga tidak akan lama, atau saya bawa saja ke mobil nanti makan didalam mobil?”
“Tidak, jangan. Mana enak makan di mobil, biar saya saja yang makan di mobil, nanti bersama Melani.”
Dan di sebuah warung, sopir menghentikan mobilnya.
“Ini uangnya, untuk makan bapak sekalian,” kata Boni sambil memberikan uangnya.
“Bapak mau makan apa?”
“Sembarang, nasi sama ayam juga boleh.”
Sopir itu turun dan bergegas menuju warung, Boni menyeringai senang. Ia turun dan masuk ke belakang, dimana Melani masih tergolek tak berdaya.
***
Besok lagi ya