Saturday, November 6, 2021

MELANI KEKASIHKU 19

 

MELANI KEKASIHKU  19

(Tien Kumalasari)

 

“Ah ya, maaf pak Anggoro, saya ngomongnya kok seperti tidak  ada basa basi begitu ya, pasti ini mengejutkan dan membingungkan ya?”

“Tidak, tidak.. sesungguhnya memang saat ini saya sedang dalam suasana hati gelisah, tidak tenang, bahkan kalut.”

“Kenapa pak ?”

“Saya ingin tahu dengan jelas tentang seorang ibu, yang kata bapak pembantu rumah tangga ini sebelumnya. Pastinya itu bik Asih pembantu saya.”

“Ya, mungkin namanya Asih. Waktu itu masih ada isteri saya yang menerima kedatangannya. Tunggu, saya akan mengatakannya agak berurutan ya. Jadi setelah saya membeli rumah ini, kami segera pindah kemari, karena saya melihat kondisi rumah ini masih bagus dan sangat layak untuk ditempati. Ketika kami baru saja tiba dan belum selesai mengatur barang-barang kami, datang seorang ibu, yang mengatakan bahwa ada barang-barang majikannya yang tertinggal didalam kamarnya. Kami malah belum sepenuhnya melihat isi setiap kamar yang tersisa.”

Anggoro tampak mengangguk-anguk tak sabar, tapi sungkan memutus pembicaraan pak Sumanto yang ingin bercerita secara berurutan.

“Lalu ibu itu kami antarkan memasuki sebuah kamar, dan ternyata masih ada sebuah bungkusan yang pastinya berisi baju-baju,” lanjut pak Sumanto.

“Apakah dia datang sendiri ?” akhirnya Anggoro tak sabar.

“Iya. Ia meninggalkan majikannya disebuah rumah yang mereka sewa.”

“Apakah dia tidak mengatakan sesuatu selain mengambil barang yang tertinggal ?”

“Ia bilang merasa kasihan pada majikannya. Maksudnya majikan perempuan yang bersamanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi, dan ketika dia bilang kasihan, isteri saya bertanya, kenapa, lalu dia bilang majikannya itu difitnah orang sehingga rumah tangganya hancur. Eh, nanti dulu, apakah itu ada hubungannya dengan pak Anggoro? Bukankah ini rumah pak Anggoro sebelum saya beli?”

Anggoro merasa dadanya bagai dipukul dengan ribuan palu. Apa katanya? Majikan perempuannya difitnah ? Itu kan Anindita, isterinya.

“Difitnah bagaimana ya pak Manto?”

“Suaminya menuduh dia berselingkuh sehingga dia dan anaknya yang masih bayi diusir dari rumah ini. Sekali lagi maaf, apakah pak Anggoro mengenal suami ibu itu?” tanya pak Sumanto yang mengira Anggoro hanya pemilik rumah, sedangkan wanita yang dimaksud adalah penyewa atau orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Anggoro.

“Padahal kata ibu itu, majikannya adalah seorang wanita yang baik dan bahkan tidak pernah pergi kemana-mana tanpa suami atau dirinya,” lanjut pak Sumanto.

“Apakah pak Sumanto tahu dimana mereka tinggal?” tanya Anggoro tanpa menjawab pertanyaan Sumanto tentang hubungannya dengan wanita yang dia ceritakan.

“Dulu, dia tinggal tidak jauh dari rumah ini, masuk ke gang kecil itu. Kira-kira tiga gang dari sini. Entah sekarang masih disitu atau tidak.”

“Oh,

“Oh ya, beberapa hari setelah ibu pembantu itu datang, datang lagi seorang wanita cantik, naik mobil. Dia juga menanyakan dimana ibu pembantu dan majikannya itu tinggal.”

Anggoro berdebar, siapa wanita cantik naik mobil?

“Dia mengaku saudara dari ibu majikan yang.. aduh.. namanya kok saya lupa semua ya.. Pokoknya ngaku saudara dan menanyakan dimana rumah mereka. Isteri saya juga memberi tahu tapi tidak tahu persisnya, karena ibu pembantu itu juga hanya mengatakan ancar-ancarnya. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi dengan mereka, dan melupakannya karena kesibukan kami masing-masing pastinya.”

Anggoro terdiam, dan mencoba berpikir tentang rentetan kejadian itu. Hatinya merasa tidak tenang.  Ketika berpamit dari rumah Sumanto, Anggoro lalu mencoba mencari rumah yang terletak didalam gang, tiga gang dari rumah pak  Sumanto.

***

Anggoro memarkir mobilnya dijalan besar, lalu mmasuki gang dengan dada berdegup kencang. Apakah bik Asih tinggal disini bersama isterinya? Berarti Melani ada disini juga? Anggoro menatap kiri kanan jalan, ada rumah-rumah berderet, yang berbeda bentuknya, tapi semuanya tampak bagus dan rapi.

Anindita seorang yang menyukai keindahan, tentu saja dia juga merawat rumah dengan baik. Pikir Anggoro. Begitu mudahkah dia bertemu mereka dan seperti apa Melani kecil yang waktu itu masih belajar berjalan ?

“Aku akan bertanya, benarkah dia difitnah dan sebenarnya tidak bersalah?” gumamnya perlahan.

“Ya Tuhan, kalau itu benar, aku adalah orang yang berdosa,” gumamnya lagi sambil terus melangkah.

Tapi sampai diujung gang, Anggoro tidak menemukan tanda-tanda bahwa bik Asih dan isteri serta anaknya tinggal disini. Ia berharap melihat bik Asih sedang didepan rumah, atau apa.

“Rupanya aku harus bertanya kepada seseorang, tidak bisa menemukan sesuatu tanpa keterangan yang jelas. Dimana persisnya rumahnya, kiri jalan atau kanan jalan, rumah nomor berapa dari jalan besar...”

Anggoro membalikkan tubuhnya, dan melangkah kembali ke arah dari mana tadi dia berjalan.

Tiba-tiba dilihatnya seorang ibu berjalan di gang itu, dengan membawa belanjaan.

“Ibu.. maaf, bolehkah saya bertanya?” tanya Anggoro yang membuat ibu itu berhenti.

“Ya pak, ada yang bisa saya bantu?”

“Ibu tahu tidak, dimana rumahnya bik Asih ? Atau Anindita ?”

Ibu itu menatap Anggoro dengan heran.

“Bik Asih? Yang datang ke kampung ini dengan majikannya dan bayi kecil cantik itu?”

“Ya.. ya, benar bu,” jawab Anggoro dengan mata berbinar, karena tampaknya si ibu tahu tentang bik Asih dan majikannya.

“Ya ampun pak, sudah lama sekali mereka pergi dari sini.”

“Pergi ?”  hati Anggoro mencelos seketika.

“Aduh pak, mereka itu kasihan sekali. Tunggu, apakah bapak saudaranya?”

“Iy..iya bu..” kata Anggoro gemetar.

“Mengapa baru sekarang bapak mencarinya? Beberapa tahun yang lalu, ada kejadian yang menyedihkan di kampung ini. Bik Asih sedang menggendong Melani, bayi itu, lalu seorang wanita cantik datang. Ia pura-pura mengenal bu Anin, lalu meminta untuk menggendongnya sebelum masuk rumah. Dia bilang saudaranya. Tapi kemudian wanita cantik itu membawanya pergi, ketika bik Asih masuk kedalam untuk memanggil bu Anin.

“Ya Tuhan..”

“Bik Asih berteriak-teriak, dan bu Anin kemudian tak sadarkan diri.”

“Ya Tuhan...tidak dilaporkan ke polisi ?”

“Hari itu langsung dilaporkan, tapi berbulan-bulan kemudian penculik itu tidak ketemu. Dan yang membuat miris, sejak saat itu bu Anin seperti orang hilang ingatan.”

“Ya Tuhan...” Anggoro merasa lemas.

“Bertahun-tahun bik Asih merawatnya, dan bu Anin tidak juga membaik.”

“Kemana mereka sekarang?”

“Mereka pergi. Bik Asih bilang ke tetangga, mau membawa majikannya ke desanya saja.”

Anggoro melangkah pergi, tubuhnya gemetar, serasa akan tumbang. Begitu naik ke mobilnya, Anggoro menelungkupkan kepalanya di atas kemudi, dan menangis mengguguk disana.

“Anin, maafkan aku.. apa yang telah aku lakukan?” tangis itu mengguguk dan selama beberapa saat tak juga berhenti.

Puluhan tahun Anggoro membuatnya menderita. Dan sesal itu terasa bagai ribuan sembilu menyayat-nyayat jantungnya.

“Siapa melakukannya Anin.. siapa melakukan semua ini sehingga kamu menderita? Lalu dimana anak kita, dan apa yang terjadi pada bidadari kecilku?”

Lalu rentetan peristiwa itu kembali melintas di kepalanya.

Sepulang kerja, didapatinya sebuah amplop, berisi foto-foto isterinya dan seorang lelaki. Mereka tampak berpelukan, bermesraan dan membuat kemarahannya memuncak.

“Perempuan murahan ! Bagaimana kamu bisa melakukan semua ini ?” hardiknya kasar.

“Apa mas, ya Tuhan, ini apa? Ini bukan aku mas, aku tak pernah melakukannya,” tangis Anindita yang menyayat tak bisa meluluhkan kemarahan yang sudah membakar semua darah ditubuhnya.

“Demi Tuhan mas, aku bersumpah.. aku tidak melakukannya.”

“Jangan membawa-bawa nama Tuhan. Pergi kamu dari sini!!”

“Tidaaak mas, jangan usir aku..”

“Ikut bersama selingkuhanmu itu. Laki-laki bobrok yang membuat kamu terlena.”

“Maaas, itu bukan aku..” tangis itu tetap membuat Anggoro bergeming,

“Pergi kamu dari hadapan aku. Jijik aku melihatmu !”

Tangis Anggoro semakin keras, tubuhnya tampak berguncang-guncang. Penyesalan yang teramat sangat membuatnya sangat terpukul.

“Kemana aku harus mencari kamu Anindita? Kemana perempuan cantik itu membawa anak kita? Bidadari kecil kita yang mungil dan lucu?”

Tiba-tiba Anggoro terhenyak. Perempuan cantik? Siapa perempuan itu dan mengapa melakukan kekejaman itu pada anak dan isterinya? Jangan-jangan dia pula yang memfitnah Anindita sehingga membuat rumah tangganya berantakan. Wanita cantik.. wanita cantik.. apakah itu Santi ? Benarkah Santi tega melakukannya?

“Dia datang ke rumah pak Sumanto, dan menanyakan dimana rumah bik Asih, lalu menculik Melani? Apakah dia Santi? Bukankah Santi sebelumnya bersikap sangat baik kepada Anindita? Lalu berubah membencinya ketika mengetahui dia berselingkuh. Dia selalu mengatakan kasihan terhadapku, lalu selalu memberi perhatian dan menghiburku, sehingga aku jatuh kedalam pelukannya dan mengambilnya sebagai isteri. Tak mungkin dia melakukannya. Mereka bersahabat sebelumnya kan?” beribu pemikiran berkecamuk dalam benaknya.

Anggoro sama sekali tak pernah tahu bahwa Santi pernah melakukan hal jahat kepada Anindita, karena Anin tak pernah menceritakannya. Anin yang baik hati tak ingin membeberkan keburukan Santi, apalagi Santi kemudian selalu bersikap baik kepadanya. Aduhai, segala carut marut kejadian telah  menjadikan sebuah kebahagiaan tercabik-cabik.

“Siapa dia.. siapa dia.. siapa diaaaa?” kali ini Anggoro berteriak.

Seseorang mengetuk kaca mobilnya yang sedikit terbuka. Anggoro terkejut, diluar ada pak Sumanto berdiri menatapnya iba.

Anggoro membuka kaca jendelanya lebih lebar. Sumanto mengulurkan tangannya, menepuk bahu Anggoro. Ia melihat mata Anggoro memerah, dan ada sisa air mata membasahi pipinya.

“Apa yang terjadi pak Anggoro ?”

“Mengapa pak Manto kemari?”

“Icha sedang membeli rujak di warung itu, dan melihat pak Anggoro menelungkupkan kepala disitu. Dia khawatir pak Anggoro sakit, lalu mengatakannya pada saya,” terang pak Sumanto.

“Maaf pak.. maaf. Tidak apa-apa.. saya permisi dulu,” kata Anggoro yang kemudian menstarter mobilnya.

“Kalau hati tidak tenang, lebih baik beristirahat saja dulu pak Anggoro, ayo ke rumah saya,” pak Sumanto berusaha mencegah.

“Tidak apa-apa.. saya mau pulang saja dulu. Terimakasih perhatiannya pak,” kata Anggoro yang kemudian menjalankan mobilnya. Pak Sumanto merasa iba, menatap Anggoro yang pergi masih dengan air mata membasahi pipinya.

Pak Sumanto kembali menuju ke rumah, dihalaman dilihatnya Icha menunggu dan menatapnya penuh tanda tanya.

“Ada apa pak Anggoro tadi?”

“Entahlah. Sangat kacau. Aku mengajaknya ke rumah dulu untuk menenangkan pikiran, tapi dia menolaknya. Pasti karena sungkan.”

“Kemarin itu, dia tiba-tiba masuk ke halaman sini, mendekati Icha, ketika Icha sedang duduk di ayunan. Masa dia memanggil Icha dengan Melani? Dia tampaknya sedang mencari anaknya yang bernama Melani, dan tampak seperti orang kebingungan.”

“Apa ya yang terjadi? Bapak juga kasihan melihatnya, ingin membantu, tapi dia tak mengatakan apa yang terjadi. Jangan-jangan dia ada hubungannya dengan ibu pembantu dan majikannya itu. Atau bahkan ibu majikannya itu isterinya?”

“Bisa jadi pak,” kata Icha yang tadi mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan Anggoro.

“Dia berhenti di mulut gang itu. Gang yang bapak tunjukkan ketika dia menanyakan rumah ibu pembantu itu.

Pertanyaan mereka tak terjawab, karena tidak tahu permasalahan yang sebenarnya.

***

“Iya Bon, suami aku curiga karena melihat kita di rumah makan itu,” kata Santi ketika Boni menelpon.

“Kamu juga, mengapa tidak menelpon aku?”

“Aduh, maaf, nomor telpon kamu aku hapus, karena dia ingin menghubungi kamu.”

“Untuk apa?”

“Dia tahu bahwa foto buatan kamu yang sedang bersama Anindita itu adalah kamu yang dilihatnya di rumah makan itu. Dia ingin bertanya dimana Anindita berada.”

“Aku belum mendapat informasi mengenai Anindita, tapi barangkali aku bisa menemukan Melani, dari iklan yang aku baca itu.”

“Singkirkan dia dan jangan sampai suamiku bertemu dengannya.”

“Baik. Tapi aku sedang butuh uang, tolong transfer lagi beberapa, supaya pencarian ini lancar.”

“Duuuh, uang terus kamu tuh.”

“Butuh lancar tidak?”

“Ya, sebentar lagi aku transfer kamu. Tapi jangan sampai gagal, karena saat ini suami aku sedang mencari-cari anak dan isterinya.”

“Beres. Transfer sekarang uangnya.”

Santi menutup ponselnya, kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening Boni yang sudah dicatatnya.

***

Hari sudah sore, tapi Anggoro belum pulang juga. Santi penasaran karena tampaknya Anggoro sedang mencari-cari anak isterinya. Hatinya semakin panas. Lalu Santi menelponnya.

“Mas..” katanya ketika telpon tersambung.

Tapi kemudian tak ada jawaban, dan Anggoro malah mematikan ponselnya.

Kemarahan Santi memuncak. Ia membanting ponselnya dan mengobrak abrik segala yang bisa dilempar dan dihancurkannya saat itu juga, seperti biasa kalau dia sedang marah.

Pembantu baru yang mau beranjak keluar untuk pulang, gemetar ketakutan.

Ketika itulah Anggoro datang dan masuk kerumah dengan terkejut. Sebuah gelas hampir mengenai kepalanya, dan hancur berkeping ketika terbang kearah pintu.

***

Besok lagi ya

 

 

Friday, November 5, 2021

MELANI KEKASIHKU 18

 

MELANI KEKASIHKU  18

(Tien Kumalasari)

 

Anggoro menatap mereka, yang tampaknya sedang berbincang serius. Tapi karena tempat duduknya agak jauh, jadi Anggoro tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang mereka bicarakan.

Anggoro justru agak memiringkan tubuhnya, agar Santi tidak bisa melihat dirinya.

Ia langsung meneguk minumannya dan menyantap makanan yang dipesannya.

Sambil mekan itu Anggoro terus mengingat-ingat, dimana dia pernah melihat wajah laki-laki itu.

“Apakah Santi berselingkuh? Tapi sikap mereka bukan seperti orang yang sedang bermesraan,” bisik batin Anggoro.

Angoro masih saja sesekali melirik kearah Santi dan temannya. Mereka masih berbicara serius, seperti sedang membicarakan hal penting. Tak ada kecurigaan bahwa mereka pasangan selingkuh. Laki-laki itu biar tubuhnya gempal, tapi wajahnya sama sekali tidak tampak menarik. Tak mungkin Santi menyukainya. Tapi Anggoro heran, ada hubungan apa dan sedang membicarakan apa mereka itu.

Begitu cepat Anggoro menyelesaikan makannya, dan bersiap untuk pergi, tapi tiba-tiba dilihatnya Santi melambaikan tangannya ke arah pelayan, dan itu berarti dia akan menoleh ke arah di mana dia duduk. Anggoro menarik buku menu yang masih tergeletak didepannya, membukanya dan dihadapkannya ke arah mukanya sehingga menutupi keberadaannya.

Setahunya tadi tampak sudah makan, mengapa pesan lagi? Jadi dia akan berada disini lebih lama kalau tambah pesanan. 

Anggoro melihat pelayan itu sudah pergi dari hadapan Santi, lalu mereka tampak bicara lagi. Anggoro meletakkan selembar ratusan, melambai ke arah pelayan kemudian berdiri dan berlalu.

Ia bergegas ke arah mobilnya yang diparkirnya agak jauh dari rumah makan itu, karena parkiran penuh. Karena itulah barangkali mengapa Santi tidak melihat bahwa mobilnya ada disitu. Ia juga melihat mobil Santi terparkir agak jauh dari tempatnya memarkir mobilnya sendiri.

***

Anggoro kembali mengendarai mobilnya dan entah mengapa ia ingin melewati bekas rumahnya lagi.

Ia mengentikan mobilnya diseberang jalan, dan memandangi ayunan yang telah kosong. Gadis belia itu tak ada lagi disana.

Ia suka melihat ayunan itu, dan membayangkan kembai saat dimana dia dulu sering mengayun Anindita yang duduk diayunan itu sambil tertawa-tawa kecil, apalagi kalau dia mengayunnya terlalu kencang. Pekik-pekik nyaring itu melintas kembali, membuat dadanya berdegup tak menentu. Dulu, betapa dia sangat menyayangi Anindita. Gadis cantik yang sedikit  cerewet dan manja, tapi selalu menjadi ibu rumah tangga yang membuatnya bahagia.

Entah darimana datangnya angin ribut itu, dan setan apa yang menggelitik hati Anindita sehingga tega melakukan perbuatan yang sangat menghancurkan hatinya.

Anggoro memukul kemudi mobilnya dengan keras, kemudian menjatuhkan kepalanya dengan bertumpu pada kedua telapak tangannya. Tak terasa air matanya menetes.

Sesungguhnya dia sangat mencintai Anindita. Dan sesungguhnya pula ia tak bisa menyayangi Santi seperti rasa sayangnya kepada Anindita. Santi selalu ingin menguasainya, dan tak pernah menyadari kesalahannya. Semula Anggoro hanya menganggapnya sebagai pelarian, tapi kemudian menikahinya karena ia tak punya pilihan lain, karena begitu pintarnya Santi merayunya sehingga membuatnya terhanyut.

Anggoro mengangkat kepalanya, dan menatap kembali ayunan yang sudah dipercantik disekelilingnya.  Dan dipenuhi tanaman-tanaman bunga.

“Anindita, kemana kamu bawa anakku?” bisiknya sambil menstarter mobilnya.

Alangkah pahit kenyataan yang diterimanya.

“Salah apa aku Anindita, sehingga membuat kamu berpaling?” bisiknya sambil menjalankan kembali mobilnya.

Tiba-tiba Anggoro teringat sesuatu. Foto-foto yang dikirimkan seseorang waktu itu. Foto yang menunjukkan ketika Anindita sedang berada dalam pelukan laki-laki asing....

“Ya Tuhan. Laki-laki itu,” kata Anggoro berteriak.

Laki-laki di restoran itu orangnya. Orang yang berselingkuh dengan isterinya.

Anggoro dengan cepat memutar mobilnya, menuju ke arah rumah makan dimana dia melihat Santi bersama laki-laki itu.

“Ya, dia laki-laki laknat itu. Aku akan menghajarnya. Dan dia pasti tahu dimana Anindita bersama anaknya berada,” kata Anggoro geram.

“Mengapa Santi bersikap baik sekali sama dia? Apa Santi memang sudah kenal sebelumnya?”

Anggoro berhenti tepat didepan rumah makan itu, karena parkiran sudah sepi. Ia langsung melompat keluar.

Ia masuk ke dalam rumah makan dan melihat ke arah meja, dimana tadi Santi menemui laki-laki itu. Tapi dengan sangat kecewa Anggoro tak lagi melihat ke duanya disana.

“Aduuh, sudah pergi,” keluhnya lunglai.

***

Anggoro memasuki halaman rumahnya, dan melihat mobil isterinya sudah berada didalam garasi.

“Ia harus mengatakan semuanya,” gumam Anggoro sambil masuk kedalam rumahnya.

“Baru pulang mas?” sambut Santi sambil bergelayut manja seperti biasanya.

Anggoro menangkapnya dingin. Ia duduk di sebuah kursi dan melepas sepatunya. Santi berjongkok membantu melepaskannya, bak seorang isteri yang sangat menghormati dan menyayangi suaminya.

“Semoga mas belum makan..” kata Santi sambl mengangkat sepatu dan kaosnya, meletakkannya di tempat biasa.

“Sudah,” jawab Anggoro singkat.

“Yaah, mas mengecewakan aku deh. Seharian aku didapur, memasak enak buat mas, dengan harapan kita akan makan bersama dengan enak.”

Anggoro menatap Santi yang berdiri dihadapannya, sambil sebelah tangannya memegangi tangan Anggoro.

“Tolong dong mas, cicipi masakan aku, jangan sia-siakan usaha aku untuk menyenangkan mas,” rengeknya manja.

“Kamu memasak?” tanya Anggoro yang tentu saja tidak percaya.

“Iya, mas pikir  bibik ? Dia hanya bersih-bersih rumah lalu pulang belum lama sebelum mas pulang.”

“Kamu masak dari pagi ?”

“Iya dong mas, aku suruh bibik belanja, dan aku memasaknya. Ada opor ayam dan sambal goreng ati kesukaan mas.”

“ Kamu bohong kan?”

“Mas kok gitu? Mas kira bibik yang memasak ?”

“Kamu tadi pergi kan ?”

“Gimana sih mas, aku memasak dari pagi tahu. Gara-gara aku sudah lama tidak memasak buat mas, tadi tuh pengin sekali masak.”

“Bohong !!”

“Mas !!”

“Kamu makan siang dengan seorang laki-laki tadi!”

Sekarang mata Santi membulat sepenuhnya. Menatap suaminya dengan rasa tak menentu. Bagaimana dia bisa tahu? Tapi lagi-lagi bukan Santi kalau tak bisa menjawabnya.

“Ya ampun mas, jadi kamu melihatnya? Mas juga sedang makan disana?”

Anggoro melotot memandangi isterinya. Telah berbohong, tapi sama sekali tak menunjukkan rasa menyesal atau malu karena ketahuan berbohong. Santi tersenyum merekah.

“Aduh mas, sesungguhnya ini akan Santi buat supaya mas Anggoro jangan tahu terlebih dulu, malah mas Anggoro sudah melihatnya.”

Anggoro mendelik.

“Apa maksudmu ?”

“Sebenarnya ini akan Santi buat kejutan bagi mas.”

“Kejutan apa? Dengan laki-laki yang dulu berselingkuh dengan isteriku?”

“Oh, bagus mas mengingatnya.”

“Kata-kata kamu ngaco. Aku mau ketemu laki-laki itu, dan menanyakan dimana Anindita dan Melani.”

“Iya, aku tuh sebenarnya menemui dia juga untuk itu. Untuk membantu mas. Maksud Santi tadi akan Santi jadikan kejutan. Gitu lhoh. Malah mas sudah tahu. Apa mas marah karena cemburu?”

“Tidak, cemburu untuk apa? Lalu apa hasilnya pertemuan kamu dengan setan alas itu?”

“Sayangnya dulu itu dia hanya iseng mas. Kebetulan Anindita menanggapi, ya sudah, jalan saja. Jadi dia tidak tahu dimana Anindita dan anaknya.”

Braaakk!

Anggoro membanting pintu kamar mandi ketika dia memasukinya.

“Maas, kok marah sih !” teriak Santi dari luar.

“Aku bilang sama dia, dan minta supaya ikut mencari, kalau bisa ketemu, Santi menjanjikan uang yang banyak. Ini demi kamu mas!”

Tak ada jawaban, lalu tak lama kemudian terdengar shower mengguyur.

Santi mengangkat bahu sambil meleletkan lidahnya.

“Bodoh !!” umpatnya pelan tapi tandas.

“Aku suruh dia mencari Anindita dan melenyapkannya. Aku suruh dia mencari Melani dan melenyapkannya juga," lanjutnya sambil menutup pintu kamar, tak kalah kerasnya.

Lalu Santi beranjak ke ruang makan, dan duduk sambil menikmati nasi opor dan sambel goreng ati yang tadi dimasaknya. Eh, bukan, dibelinya.

***

Sambil mengguyur tubuhnya, Anggoro mulai merasakan keanehan atas sikap Santi sore itu. Pura-pura memasak, ternyata ketemuan sama laki-laki itu, Dan bilang akan membantunya? Bisakah dia percaya? Tidak, ia harus ketemu laki-laki itu dan menanyakannya sendiri setelah menghajarnya. Anggoro sungguh geram.

Setelah mandi dan berganti pakaian itu, ia mencari isterinya. Kesal sekali ketika melihat Santi enak-enak makan sendiri dan merasa tak berdosa setelah membohonginya. Entah dengan maksud apa, nyatanya Santi telah berbohong, dan Anggoro sangat membencinya.

“Mas, ayo kesini mas, ini, piring mas sudah Santi siapkan,” kata Santi dengan senyum paling manis yang dimilikinya.

“Anggoro menatapnya kesal.

“Ayo dong mas, cicipi masakan isteri kamu.”

“Masakan siapa? Kamu pesan di rumah makan itu, lalu mengakuinya sebagai masakan kamu? Dasar pembohong.”

“Mas, jangan begitu dong mas. Apapun yang terjadi, aku sudah menyiapkan makan siang untuk mas.”

“Ini sudah sore, aku ingin kamu mengatakan dimana rumah laki-laki itu.”

“Untuk apa mas?”

“Aku harus menghajarnya.”

“Jangan begitu dong mas, dia itu laki-laki. Laki-laki itu kan sama saja dengan kucing. Dimana ada ikan asin yang bisa disantap, maka dia menyantapnya,” kata Santi seenaknya.

“Tutup mulut kamu. Mengapa kamu membela dia? Katakan dimana rumahnya!”

“Kalau rumahnya aku tidak tahu mas.”

“Kalau tidak tahu, bagaimana kamu bisa menghubunginya?”

“Dia itu kan petualang mas, dia bisa tinggal dimana saja. Aku tidak tahu dimana rumahnya.”

“Kalau begitu katakan nomor kontak dia, atau kamu yang menelponnya supaya dia mau menemui aku.”

“O, gitu ya?”

“Cepaaatt !! Siapa namanya?”

“Boni mas.”

Anggoro sangat marah dan merasa dipermainkan. Tapi mendengar suaminya berteriak, Santi segera bangkit dan mengambil ponsel di dalam tasnya.

“Manaaa?”

“Sebentar mas, sabarlah sedikit, ponselku terselip dimana ya?”

Anggoro merebut tas yang semula dipegang Santi, menuangkan isinya, dan tak ada ponsel didalamnya.

“Kamu jangan mempermainkan aku Santi. Dari tadi aku tidak percaya apa yang kamu katakan.”

“Dimana ya ponselku?”

Santi mondar mandir di ruang tengah, masuk kekamar, masuk lagi ke ruang makan, tapi ponsel itu tidak ditemukannya.

“Manaa?”

“Sebentar mas, aku lupa menaruhnya. Oh, tunggu, aku tadi didapur menelpon teman aku,” kata Santi sambil bergegas ke dapur.

Ia menemukan ponselnya, mencari nomor Boni, lalu menghapusnya diam-diam.

“Ya ampuun, ternyata disini mas, sebentar. Mana ya nomor telpon Boni.. sebentar..”

Anggoro bersedakap dan menyandarkan tubuhnya di pintu dapur, melihat Santi mencari-cari nomor Boni.

“Manaaa?”

“Lha kok hilang ya nomornya?”

“Apa katamu ?”

“Hilang mas, sungguh tidak ada lagi. Sebenarnya tadi masih bisa aku pakai untuk menghubungi dia, kok tiba-tiba hilang. Ini pasti ulah dia.”

“Ulah dia bagaimana ?”

“Tadi dia meminjam ponsel aku, lalu mengotak atiknya, rupanya dia menghapus nomor kontaknya.”

Kemarahan Anggoro meluap. Ia merasa dipermainkan. Semua yang dikatakan Santi tak ada yang dipercayainya.

“Mas, sabar ya, nanti aku coba bertanya sama temanku. Dia kenal sama Boni, siapa tahu dia punya nomor kontaknya.”

Anggoro tak menjawab sepatah katapun. Ia mengambil dompet dan kunci mobilnya, kemudian keluar rumah dan pergi begitu saja.

“Kurangajar kamu Anggoro. Setan apa yang tiba-tiba membuatmu tiba-tiba bersikap seperti ini?”

Santi kembali ke ruang makan dan menghambur-hamburkan piring dan lauk yang semula ditata rapi diatas meja, sambil berteriak-teriak seperti  orang kesurupan.

***

Anggoro menjalankan moblnya pelan.  Ia kembali melintasi jalan ke arah rumah lamanya. Hari mulai gelap. Ia berhenti didepan rumah itu persis, bukan di seberang jalan. Ia melihat rumah itu terang benderang. Ada lampu taman dihalaman, menerangi ayunan yang membuatnya terus memikirkan Anindita.

Tiba-tiba tersesit keinginannya untuk turun, dan memasuki lagi halaman rumah itu.

Anggoro turun, dan benar-benar berjalan kesana. Langkahnya sangat pelan, lalu berjalan mendekati ayunan itu. Anggoro menyentuhnya perlahan, dan mengayunkannya.

“Jangan terlalu cepat mas... auuw.. mas Anggoro nakaal.. berhenti... maaas.”

Suara memekik-mekik manja itu terngiang kembali di telinganya, mengusik hatinya yang terasa semakin gundah.

“Siapa ya?” terdengar suara nyaring dari teras. Anggoro menoleh, dilihatnya gadis belia yang tadi siang ditemuinya.

“Ini om yang tadi nak..”

“Oh...” Icha, gadis itu, menatap Anggoro. Dan kembali menatap mata sendu di wajah laki-laki gagah itu.

“Maaf, saya selalu teringat ayunan ini. Saya dulu pemilik rumah ini.”

“Itu om yang membuat ?”

“Iya. Untuk isteri om.”

“Icha, siapa dia?” terdengar suara laki-laki dari depan rumah.

“Ini pak.. om..yang dulu punya rumah ini.”

Seorang laki-laki sebaya Anggoro turun dari teras.

“Ini pak Anggoro ya?” rupanya pemilik rumah itu masih ingat Anggoro.

“Iya. Ini pak Sumanto? Rupanya bapak masih tinggal dirumah ini, saya kira sudah ganti pemilik.”

“Sangat lama tidak bertemu ya pak, silahkan duduk. Beberapa hari setelah kami pindah kemari, ada seorang ibu-ibu datang, katanya akan mengambil barang majikannya yang tertinggal,” kata pak Sumanto setelah Anggoro duduk.

“Apa?”

“Rupanya dia pembantu dirumah ini dulu.”

“Benarkah? Apakah pak Sumanto tahu dimana mereka tinggal?”

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Thursday, November 4, 2021

MELANI KEKASIHKU 17

 

MELANI KEKASIHKU  17

(Tien Kumalasari)

 

Santi tertegun. Ia melihat Anggoro masih duduk memeluk kedua lututnya, sambil menggoyang-goyangkan badannya, dan mulutnya memanggil-manggil nama Melani.

Geram hati Santi. Ingin ia mendamprat suaminya, tapi tiba-tiba Anggoro menjatuhkan tubuhnya dan masih memejamkan matanya. Rupanya Anggoro masih tertidur, dan mengigau memanggil-manggil nama anaknya, sambil memeluk guling.

“Mas.. mas.. bangun mas.. kamu ini kenapa?”

“Melani, anakku. Kamu sudah besar nak.. kamu cantik seperti ibumu..” bisiknya pelan.

Santi bertambah geram. Ia menarik guling yang didekap suaminya dengan kasar, membuat Anggoro membuka matanya dengan kaget.

“Appa.. ada apa? Mana dia? Mana dia ?”

“Kamu itu mimpi. Kamu itu mengigau mas. Bangunlah dulu.’

Anggoro mengucek matanya beberapa kali. Ia memandang ke sekeliling, tak ada siapapun kecuali Santi.

“Tak ada ? Dia mana?”

“Dia siapa? Namanya mimpi itu ya mimpi. Tidak ada di alam nyata. Sadar lah mas.”

Anggoro menghela napas panjang. Memang benar dia bermimpi. Seorang gadis mendekati dia, dan mengatakan bahwa namanya Melani. Itu anaknya.

“Ya Tuhan, dimana dia ?”

“Siapa mas ?”

“Melani, bukankah dia anakku ? Dia datang mendekati aku, ingin aku memeluknya, lalu aku peluk dia.”

“Itu hanya mimpi. Mengapa mas masih memikirkannya?”

“Aku ingin tahu, dimana sekarang dia? Aku kangen sekali. Wajah itu.. wajah itu.. tampak seperti nyata.”

“Aku kan sudah bilang, mas itu hanya bermimpi. Mengapa mas masih memikirkannya? Pasti lah dia sudah ikut ibunya. Jadi mas harus melupakannya. Ingat apa yang telah dilakukan Dita sama mas. Dia berkhianat. Dia selingkuh. Tidakkah mas sakit diperlakukan seperti itu?”

“Tapi dia anakku. Melani anakku.”

“Lupakan dia !”

“Aku bukan kamu yang bisa melupakan anak begitu saja. Darahku mengalir ditubuhnya.”

Tiba-tiba Santi terdiam. Demi mengejar kesenangan dia melupakan anak gadisnya.

“Sasa..” bisik hatinya. Tapi nama itu tak sedikitpun mengusiknya. Sejak Sasa masih kecil dia juga tak pernah perhatian sama anaknya. Ia lebih mementingkan pekerjaan dan memburu kesenangannya sendiri. Sasa bahkan mungkin membencinya karena disaat terakhir dia membawanya lari dan membuatnya ketakutan.

“Dimana dia sekarang ? Untuk apa aku memikirkannya? Dia sudah berada bersama ayahnya, yang pasti merawatnya dengan baik. Demikian juga kamu mas, Melani sudah bersama ibunya, pasti ibunya juga merawatnya dengan baik. Mengapa mas memikirkannya?”

“Dia anakku.. darah dagingku.. dimana dia?” Anggoro masih saja menyebut-nyebut namanya, membuat Santi sangat marah. Kalau kemarahan itu memuncak, ia ingin mengobrak abrik semua yang ada didekatnya. Tapi akal warasnya masih tersisa. Jangan sampai suaminya melihat dia beringas seperti harimau kelaparan.

Ia mengambil air minum yang selalu tersedia dimeja dekat tempat tidurnya, lalu di ulurkannya kepada suaminya.

“Minumlah mas, agar hatimu lebih tenang.”

Anggoro menerimanya dan meneguknya sedikit. Tapi ia belum bisa menghilangkan kegelisahannya.

“Besok aku akan mencarinya..” gumamnya sambil merebahkan dirinya.

“Kemana mas mau mencarinya?” kata Santi menahan gemas sambil meletakkan gelas di meja.

“Entahlah, aku harus mencarinya sampai ketemu.”

Santi naik keatas tempat tidur, merangkul suaminya dan mencoba merayunya dengan lembut, tapi Anggoro mengibaskannya.

“Kenapa mas, malam begini dingin. Bukankah aku selalu membuat kamu hangat?”

“Menjauhlah, aku sedang ingin tidur.”

Santi sangat marah. Ia ingin mencakar wajah ganteng yang sangat dipujanya, tapi ditahannya. Ia turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.

Ia menyalakan shower, melepas semua pakaiannya, mencabik-cabiknya, sambil menggeram marah. Ia melempar-lemparkan semua barang yang ada disana. Alat pembersih disudut kamar mandi dilemparkannya sampai patah berkeping.

Lalu ia masuk kedalam bathup setelah mengisinya dengan air hangat, lalu berendam berlama-lama disana.

Berjam-jam di kamar mandi, tidak membuat Anggoro curiga, karena dia sudah terlelap, atau barangkali sudah bermimpi lagi ketemu Melani dan Anindita.

***

Pagi hari itu Aggoro terbangun agak kesiangan. Ia melihat isterinya tak ada disampingnya, tapi dia tak peduli. Ia langsung masuk ke kamar mandi, dan melihat robekan baju serta potongan sikat pembersih yang biasanya tersandar disudutnya.

“Apa ini ? Baju Santi robek-robek?”

Pagi-pagi sekali Santi sudah membersihkan barang-barang berantakan karena ulahnya, namun ia lupa membawa robekan baju itu ketika terburu-buru menyeduh kopi untuk suaminya, hal yang selalu dilakukannya karena pembantu selalu datang agak siang.

“Mas, kopimu sudah siap,” teriakan Santi terdengar dari luar kamar mandi.

Anggoro membuka pintu kamar mandi dan menenteng robekan baju dan potongan sikat.

“Ini apa?”

Santi sangat terkejut. Baju dan potongan sikat itu terlewat tadi. Tapi bukan Santi kalau tak segera menemukan jawabannya.

“Ya ampun mas, tadi pagi ketika aku mandi, ada tikus mencabik-cabik bajuku itu.”

“Tikus? Dirumah ini ada tikus ?” tanyanya heran.

“Iya, aku juga heran, darimana ada tikus bisa masuk ke kamar mandi. Aku melihatnya, lalu memukulnya dengan sikat itu. Batangnya sampai patah.”

“Darimana sampai ada tikus?”

“Mungkin masuk melalui saluran air, aku lupa menutupnya semalam. Sudah mas, mandinya? Kopimu sudah siap. Ada roti bakar aku sediakan di meja,” katanya dengan manis.

“Aku belum mandi, katanya sambil melemparkan robekan baju dan potongan sikat itu keluar, lalu menutup lagi kamar mandinya.

Santi mengambilnya, lalu membuangnya ke tempat sampah.

“Untunglah suamiku agak bodoh,” gumamnya pelan.

Ia membuka pintu depan ketika mendengar ketukan. Pembantu yang ditunggunya baru saja datang, tapi pembantu yang lain lagi. Baru hari ini masuk, ketika ia memesannya pada tukang sayur yang sering lewat. Entah akan berapa lama pembantu itu betah. Biasanya mereka datang pagi dan pulang pada sore harinya.

“Bisakah besok datang lebih pagi?” kali ini Santi berkata agak pelan.

“Baiklah bu,” katanya sambil mengikuti Santi ke belakang.

“Tugasmu adalah membuat kopi untuk aku dan suamiku,” katanya sambil mengajari seberapa banyak kopi dan gula dibubuhkan.

“Baiklah.”

“Lalu membuat roti bakar kesukaan suamiku. Dia tidak suka coklat, aku yang suka. Jadi untuk aku, lapis coklat, untuk suami aku, beri blueberry saja, atau strowberry. Nanti aku ajari. Sekarang kamu bersihkan dapur dulu. Nanti kalau suamiku sudah berangkat, baru bersihkan rumah.”

“Baik bu.”

Santi kembali masuk ke kamar. Dilihatnya suaminya sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi. Tapi pakaian yang dikenakannya bukan pakaian yang biasa dipakainya ke kantor.

“Kamu tidak ke kantor?”

“Tidak.”

“Mau kemana ?”

“Aku mau mencari Melani,” katanya sambil mengenakan sepatunya. Santi berjongkok untuk membantu Anggoro mengenakannya.

“Kemana mas akan mencari Melani ?”

“Namanya juga mencari, ya kemana-mana lah.”

“Kalau tidak tahu tujuannya kan ya susah mas,” Santi mulai kesal dengan jawaban suaminya. Hal yang membuatnya selalu marah adalah apabila Anggoro menyebut nama Anindita dan Melani. Sudah lama Anggoro tidak membicarakannya. Mengapa tiba-tiba mengingatnya kembali? Jangan-jangan Anindita atau bibik punya dukun yang bisa memelet Anggoro. Pikiran Santi mulai ngelantur. Karena itu ia tidak segera berhasil memasangkan tali  sepatu suaminya dengan benar.

“Gimana sih ini..”

“Maaf, maaf..” katanya sambil meredam kemarahannya yang mulai menggelitik hatinya dan siap dimuntahkan setiap saat.

“Nih, sudah.. ayo kopinya diminum dulu..”

Santi mendahului keluar dari kamar. Anggoro mengikutinya, lalu duduk diruang tengah, menghirup kopi yang disediakan isterinya. Tapi dia tidak menyentuh roti bakar yang tersedia.

“Rotinya mas..”

“Itu siapa?” tanya Anggoro yang melihat pembantu baru lagi.

“Oh, pembantu baru. Baru hari ini dia datang,” jawab Santi dengan heran, karena biasanya suaminya tak pernah perhatian pada pembantu-pembantunya yang berganti-ganti.

“Kok ada baru lagi?”

“Namanya juga pembantu harian mas, bisa datang dan pergi seenaknya.”

“Aku mau berangkat.”

“Rotinya ?”

“Tidak, aku sedang malas makan apapun. Kopi ini cukup,” katanya sambil berdiri.

“Sebenarnya mas mau mencari kemana ?”

“Entah, aku belum tahu.”

“Aku ikut ya?”

“Tidak, aku sendiri saja..” katanya sambil berlalu.

Santi menatapnya dengan mata yang mulai memerah. Dipandanginya suaminya yang mengeluarkan mobilnya, kemudian keluar dari halaman.

“Bodoh !! Kemana kamu mau mencari anak kamu? Dia sudah jauh dari sini, dan bekas isteri kamu? Barangkali dia juga sudah mati,” omelnya sambil membanting pintu rumahnya dengan keras.

Pembantu baru itu terkejut, berlari-lari ke arah depan, mengira ada sesuatu yang jatuh atau apa.

“Ada apa bu ?” tanyanya khawatir.

“Jangan banyak bertanya! Lanjutkan pekerjaan kamu, lalu bersihkan rumah!”

Wajah pembantu itu memucat. Ia hanya bertanya dan majikan barunya menghardik dengan kasar. Ia juga melihat mata merah dari wajah cantik itu, membuatnya merinding.

“Aduh, rupanya aku bekerja ditempat yang salah,” pikirnya, lalu terbit pikirannya untuk satu hari saja bekerja disitu.

Ia tak tahu, majikan barunya masuk kedalam kamar dan mengobrak abrik tempat tidurnya. Melempar selimut dan semua bantal serta guling.. dan membuat kamar itu jadi berantakan tidak karuan.

Ketika Santi keluar dari kamar, pembantu itu sedang menyapu.

“Bersihkan kamar itu dulu !” katanya kasar, lalu beranjak keluar, mengambil mobilnya dan pergi.

Pembantu hanya mampu mengangguk, lalu secepatnya masuk kamar dan terbelalak melihat apa yang dilihatnya.

***

Anggoro mengendarai mobilnya tak tentu arah. Ia melewati rumah lamanya, dimana dulu dia tinggal bersama Anindita dan Melani yang masih bayi. Rumah itu masih seperti dulu, bagus dan asri. Tapi pemiliknya sudah berbeda, karena Anggoro sudah menjualnya. Kenangan bersama Anindita membuatnya sakit. Penghianatan yang dilakukannya sangat melukainya, membuat hatinya berdarah-darah. Itulah sebabnya ia menjualnya dan berpindah ke rumah baru yang sekarang ditinggalinya bersama Santi.

Ia teringat, ketika hatinya limbung, Santi selalu datang menghiburnya. Mereka bertemu ketika sedang makan disebuah restoran. Ketika itu ia sedang bersama Anindita yang sedang mengandung.

Santi menatapnya tak berkedip. Laki-laki ganteng dan gagah itu suami Dita? Kemarahannya meluap. Ia ingat ketika Anin membuatnya terjeblos ke dalam penjara sampai bertahun-tahun. Lalu terbitlah sebuah niat untuk membalas dendam. Lalu ia berjalan melewati meja dimana ada Anggoro dan Dita yang sedang makan, tapi tiba-tiba dia terjatuh disebelah Anggoro.

“Adduh...”

Anindita memekik.

“Kasihan mas, tolong dia..”

Anggoro bangkit dan membantu Santi berdiri.

“Maaf.. maaf,” kata Santi sambil tersenyum memikat.

“Dokter Santi ?” tiba-tiba Anindita berteriak.

Santi pura-pura terkejut.

“Dita? Kamu disini ?”

“Iya, ini kenalkan, mas Anggoro, suami aku,” kata Anindita polos, tanpa curiga. Santi bersikap biasa saja, seakan tak terluka karena kejadian itu, dan bersikap manis pada Anindita.

Sejak pertemuan itu Santi kerap kali bertandang ke rumahnya, kemudian ketika Anggoro seperti kehilangan pegangan, Santi selalu mengisi hari-harinya. Mana Anggoro tahu bahwa semua yang terjadi adalah perbuatan Santi? Bahkan berpuluh tahun berlalu dia tak pernah merasa bahwa memiliki isteri seekor ular berbisa.

Sekarang Anggoro berhenti diseberang bekas rumahnya. Menatap tak berkedip. Melihat ayunan yang dulu dibuatnya dibawah pohon jambu yang selalu berbuah lebat. Ia ingat, selalu mengayun isterinya setiap sore sepulang dari kantor, sambil tertawa-tawa bahagia. Pemilik yang baru itu tidak membuang ayunan itu, malah membuat design-design bagus disekitarnya, sehingga terlihat seperti sebuah taman.

Tiba-tiba Anggoro melihat seorang gadis keluar dari rumah itu, lalu duduk di atas ayunan, dan mengayun tubuhnya perlahan sambil membaca buku yang tadi dibawanya.

“Melani ?”

Anggoro turun dari mobil, lalu menyeberang jalan. Ia masuk kedalam halaman rumah itu, sambil berteriak.

“Melani !!”

Gadis itu menoleh. Bukan karena namanya Melani, tapi karena Anggoro berteriak agak keras. Ia turun dari ayunan dan menatap laki-laki gagah yang berjalan ke arahnya.

“Om, mencari siapa?”

“Kamu Melani ?”

“Saya Icha om..”

“Oh, saya salah. Maaf. Saya sedang mencari anak saya,” kata Anggoro sambil membalikkan tubuhnya.

Gadis bernama Icha itu menatapnya penuh iba. Ia sempat melihat ada air mata menggenang dipelupuk laki-laki gagah itu.

“Kasihan, om ganteng itu kehilangan anaknya,” bisiknya sambil terus menatap Anggoro yang keluar dari halaman, lalu menyeberang mendekati mobilnya.

***

Anggoro terus menjalankan mobilnya, tak tentu arah. Hari sudah siang, dan sejak semalam dia tidak makan apapun juga. Disebuah rumah makan dia berhenti, lalu masuk kedalam dengan langkah gontai.

Ia duduk disebuah bangku, lalu memesan makanan dan minuman.

Sambil menunggu, ia melihat kesekeliling. Saatnya makan siang, jadi rumah makan itu agak ramai karena banyak pengunjung. 

Tiba-tiba matanya menatap seorang laki-laki. Ia seperti pernah melihat laki-laki itu. Tapi lupa dimana. Laki-laki itu duduk sendiri. Anggoro terus menatapnya dan mengingat-ingat dimana pernah melihatnya. Atau bahkan pernah mengenalnya?

Ketika pelayan menghidangkan pesanannya, Anggoro melepaskan pandangannya dari laki-laki itu. Ia menarik gelas minumannya lalu menghirupnya pelan. Lalu alangkah terkejutnya ketika ia melihat laki-laki itu sekarang tidak sendiri. Yang membuatnya terkejut adalah yang datang menemani laki-laki itu adalah Santi, isterinya.

***

Besok lagi ya

 

 

 

 

AKU ANAK SIAPA 05

  AKU ANAK SIAPA  05 (Tien Kumalasari)   Bibik menoleh ke sana kemari, lalu mengejarnya sampai di sebuah tikungan. Tapi bayangan orang y ang...