SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 008
(Tien Kumalasari)
Sumi tertunduk takut. Mengapa juga pemulung itu memberi obat gosok untuk tuannya? Bagaimana kalau menjadikan masalah? Sekarang sang nyonya tampak marah. Tapi benar kan, obat gosok itu diberi oleh pemulung? Sumi belum pernah melihat pemulung itu, apalagi yang sampai mengenal tuan Baroto.
“Nyonya, itu pemulung yang disukai non Ana,” tiba-tiba Rumi nimbrung.
“Apa maksudmu disukai non Ana?”
“Setiap hari non Ana ingin menemui dia, membawakan makanan untuk dia.”
“Mengapa kamu diam saja?” sang nyonya berbalik memarahi Rumi. Tuh kan, tadinya takut melapor, kali ini keceplosan, dia kan yang mendapat teguran?
Rumi menundukkan wajahnya.
“Saya sudah mengingatkan, non Ana tidak mau dihentikan. Saya dengar, non Ana minta agar pemulung itu dijadikan pengasuhnya.”
Sudah kepalang tanggung, sekalian Rumi melaporkan tingkah Ana akhir-akhir ini.
“Mana Ana? Bocah itu kelewat manja,” katanya sambil berjalan ke arah kamar Ana.
“Ma! Mana obatku?” teriak Baroto yang masih duduk menunggu.
Sang istri berbalik mendekati suaminya.
“Obat ini? Mas tahu tidak, ini obat murahan. Bagaimana seorang pemulung bisa memberikan obat gosok ini kepada Mas?”
“Sudah, bawa sini. Siapa tahu ini manjur.”
“Manjur dari mana? Botolnya saja buluk seperti ini,” katanya sambil mengulurkan botol obat gosok itu ke arah suaminya.
“Biar saja. Mengapa melihat botolnya? Yang penting kan isinya,” katanya sambil membuka botol kecil itu.
“Ya ampuun, biar Rumi menggosok sambil memijit kaki Mas.”
“Apa? Tidak … tidak, aku bisa sendiri kok.”
“Bagaimana seorang pemulung bisa memberi obat gosok kepada Mas?”
“O, tadi aku terjatuh di dekat dia, rupanya dia mengejarku untuk memberikan obar ini karena tahu kalau kakiku terkilir.”
“Ya ampuuun, obat dari pemulung segala Mas perhatikan. Aku juga sedang kesal pada Rumi. Mengapa membiarkan Ana bergaul dengan pemulung itu, bahkan menginginkan pemulung itu agar menjadi pengasuhnya?”
“Mengapa memarahi Rumi? Ana kalau sudah punya keinginan tidak bisa dihentikan. Dia menangis terus dan meminta agar dia menjadi pengasuhnya.”
“Ada apa dengan pemulung itu?”
“Aku tidak tahu, mungkin dia baik, atau Ana merasa kasihan kepada dia.”
“Aku tidak ijin kan!”
“Ma, mengapa tidak Mama ijinkan? Rumi meminta apapun kamu beri asalkan dia tidak rewel, kan?”
“Minta mainan, minta apapun aku beri, tapi inta agar menjadikan pemulung menjadi pengasuhnya? Mustahil bukan?”
“Mengapa mustahil? Pemulung juga manusia bukan? Pasti Ana meminta bukan tanpa alasan.”
“Jadi Mas mendukungnya?”
“Kamu dan aku tidak pernah ada di rumah, Ana butuh seseorang yang bisa membuatnya senang.”
“Bukankah Rumi selalu melayani dengan baik? Apa kurangnya Rumi? Dia bersih, rajin, bisa momong. Lhah pemulung? Bau, kotor, apa yang menarik? Mana pantas dibiarkan berada di rumah ini?”
“Apa pemulung tidak bisa mandi, berganti pakaian bersih. Dia itu sama Ma.”
“Benar, Mas mendukungnya?”
“Mamaaa … aku mau bibi Menur ada di sini, melayani aku,” tiba-tiba Ana keluar dari kamarnya dan merengek.
“Ini dia, anak manja, yang lama-lama keinginannya keterlaluan. Tadi mama sudah mau masuk ke kamar kamu dan menjewer kupingmu.”
“Aku mau bibi Menur.”
Tiba-tiba ponsel nyonya Baroto berdering. Ia segera meninggalkan Ana untuk menerima panggilan telpon itu.
“Ya .. ya, aku segera ke sana. Siapkan semua laporan,” jawabnya singkat, lalu beranjak mengambil tasnya yang tadi tergeletak sembarangan di meja.
“Aku mau ke kantor dulu, ada masalah yang harus aku selesaikan,” katanya sambil langsung bergegas pergi.
Baroto membiarkannya. Mereka bukan seperti suami istri. Hanya seperti kawan yang hidup serumah dan orang-orang menyebutnya suami istri. Bertahun-tahun mereka hidup hampir tak pernah punya kebersamaan. Biasanya Baroto pulang hanya sebentar, tapi kali ini agak lama. Ada urusan yang sangat penting, tentang Menur, bukan hanya karena Ana menginginkannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya harus bertemu dan berbincang lama. Ada yang ingin ditanyakannya, ada yang ingin diketahuinya tentang perasaan hatinya. Tak peduli Menur seorang pengais sampah yang kotor dan bau.
“Pa, kita cari bibi Menur.”
“Gurumu sudah datang. Kamu sekolah dulu. Nanti papa akan membawanya kemari.”
Benarkah Baroto akan berhasil?
***
Sambil berjingkrak Ana berlari masuk ke kamarnya, sementara Rumi sudah menyiapkan ruang untuk belajar di setiap harinya.
Baroto tersenyum sambil menimang botol obat gosok ini. Ternyata Menur tidak mengabaikannya. Ternyata dia peduli ketika kakinya terkilir. Ketika dia pergi, ternyata mengambil obat gosok itu, dan Baroto yang ‘patah hati’ susah payah kembali menaiki kudanya dan membawanya pergi.
“Ternyata dia mengikuti aku, Masa dia begitu saja bisa melupakan aku?”
Baroto menggosok pergelangan kakinya yang terkilir, terasa hangat. Dan rasa hangat itu bukan hanya terasa di pergelangan kakinya, tapi juga merayapi seluruh aliran darahnya, membuatnya gemetar, seperti orang yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Baroto merasa heran kepada dirinya. Banyak perempuan cantik di sekelilingnya, banyak dengan suka rela menyerahkan dirinya. Tapi dia tak pernah perduli. Lalu seorang Menur, pengais sampah, yang kata semua orang pasti kotor dan bau, mengapa membuatnya kalang kabut tidak karuan? Memang dulu pernah ada cinta diantara mereka. Tapi dengan berjalannya waktu, dengan kehidupan yang sangat jauh berlainan, lalu kegagalannya mencari Menur ke kampungnya tak lema setelah ia menikah, mengapa tiba-tiba cinta itu ternyata masih ada. Dulu Baroto tak perlu mengejarnya, karena Menur juga mencintainya? Tapi sekarang Menur bukan lagi Menur yang dulu. Ia seperti mawar berduri yang tak mudah disentuh.
Lalu kakinya tiba-tiba terasa ringan, kemudian dia memerintahkan tukang kuda untuk menyiapkannya. Bukan mobil mengkilap dan mewah yang akan menjatuhkan hati Menur. Dengan kuda, barangkali ingatan ke masa lalu bisa menggugah hatinya.
“Siapa tahu … gumamnya dalam hati sambil melangkah keluar.
***
Menur melangkah cepat, ia harus segera menjauh sebelum Baroto menemukannya. Ia hanya ingin mengatakan bahwa ia bukan tak peduli, karenanya diberikannya obat gosok yang tadi diambilnya, tapi dia tak ingin menemuinya lagi. Ia tahu hal buruk akan menantinya kalau ia menurutkan kata hatinya. Baroto punya istri, punya keluarga. Walau mengatakan tak pernah saling mencintai, tapi mereka adalah suami istri. Menur tidak begitu gila kalau bermaksud merusak sebuah rumah tangga. Biarlah cinta mengendap dalam hati, tapi janganlah cinta membakar akal sehatnya.
Ia memasuki gang-gang kecil, yang kira-kira tidak terkejar seandainya Baroto begitu nekat ingin menemuinya. Ia punya tugas ke sekolah anaknya untuk membayarkan uang sekolah. Ia harus selesai menjual botol-botolnya yang hari itu kebetulan tidak seberapa banyak didapatkannya. Tapi ia harus mengumpulkannya untuk membayar uang ujian bagi Rahman. Kalau cukup ia akan membayarnya sekalian.
***
Baroto kesal, ia tak menemukan Menur. Apakah ia bisa menghilang? Ia terus saja membawa kudanya untuk menuju ke arah lain. Hari sudah siang ketika itu. Di depan sebuah sekolahan, ia menjadi perhatian banyak anak-anak sekolah yang sedang bubaran.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari mendekat. Kuda bagus … kuda bagus.
Baroto berhenti. Ia tak pernah merasa menyukai seorang anak, tapi entah mengapa ia kemudian membawa kudanya untuk berhenti., dan membiarkan anak kecil itu mengelus kudanya.
“Kamu suka?”
“Suka Om. Bagaimana rasanya naik kuda?”
“Kamu mau mencoba naik kuda?”
“Mau … mau … “
“Ikuuut,” teriak beberapa temannya yang lain.
Baroto membelalakkan matanya. Ada tiga … empat … ahaa … lima anak yang ingin naik kuda?”
“Aku duluan,” teriak Rahman.
“Baiklah, satu persatu ya, tapi hanya muter ke situ saja,” kata Baroto sambil membantu anak kecil itu naik ke atas kudanya. Anak kecil itu bersorak.
Tiba-tiba ia melihat ibunya datang, hampir memasuki halaman sekolah.
Anak kecil yang adalah Rahman itu berteriak.
“Hei, mengapa baru datang? Kantor sekolah hampir tutup.”
Baroto tertegun. Dia kan Menur? Anak kecil itu mengenalnya?”
“Namamu siapa?”
“Saya Rahman Om.”
“Siapa wanita itu?”
“Oh, dia pembantu saya, hanya akan membayarkan uang sekolah saya.”
“Pembantu?”
***
Besok lagi ya.
Terimakasih Bunda
ReplyDeleteHari Minggu bisa menemani kembali
Sehat slalu. Salam seroja
Maaf Bunda dari episode yg 8 Minggu ini... Ko di bawah esok LG muncul episode 16. Salah ketik apa salah nge-share ?
ReplyDeleteTerimakasih Bunda..
Maaf bapak. Saya salah ngeditnya
DeleteNuhun bunda, sehat selalu selamanya...aamiin..
ReplyDeleteAlhamdulillah terima kasih bunda Tien cerbungnya sudah tayang .
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲🤲
Alhamdulillah terima kasih bunda Tien cerbungnya sudah tayang.
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga sehat 🤲🤲
Alhamdulillah,bibi Menur telah hadir, maturnuwun Bu Tien,cerbung mingguannya juga menarik, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️😍🙏
ReplyDelete