NAMAKU TETAP SENJA 60
(Tien Kumalasari)
Ketika saat istirahat, Senja menolak diajak makan siang bersama Arka. Arka duduk di depan meja kerjanya, menatap wajah Senja yang tampak gelap.
“Ada apa?”
“Mengapa seorang sarjana Bapak tempatkan di gudang, sedangkan lulusan SMA dijadikan sekretaris?”
Arka tersenyum. Senja bukan seperti gadis biasa, ketika yang memusuhi mendapat hukuman, lalu merasa senang, tapi tidak dengan Senja. Ia tetap menyayangkan kepindahan Asih, karena nyatanya Asih sudah membantu Arka selama bertahun-tahun.
“Aku tidak menilai dari pendidikannya. Orang berpendidikan tinggi juga harua memiliki perilaku yang bagus, terhormat dan tidak tercela. Dengan pendidikannya yang tinggi dia harus bisa menjadi pegawai teladan yang dikagumi. Bukan melakukan hal tercela demi ingin mencelakakan orang lain.”
Senja terdiam.
“Sudah, jangan cemberut begitu. Apa kamu tidak lapar?”
“Saya hanya memikirkan itu. Ia juga pernah mengatai saya yang hanya berpendidikan rendah makanya saya bodoh. Dan itu benar kan?”
“Senja, aku tahu sejak lama bahwa dia tidak menyukai kamu, karena itulah apa yang dilakukannya tadi merupakan hukuman atas hatinya yang tidak tulus. Kamu tidak usah memikirkannya. Aku akan menilai bagaimana kelakuan dia. Kalau dia bisa memperbaikinya, aku akan mengembalikan ke statusnya semula.”
Senja hanya terdiam.
“Ayo temani aku makan, jangan merengut begitu, nanti cantiknya hilang lho.”
Senja terkejut. Baru kali ini Arka menyebutnya cantik. Dan itu membuatnya berdebar. Ia menundukkan wajahnya, barangkali malu.
”Ayo temani makan, aku juga mau bicara tentang hal lain.”
“Hal apa?”
“Bicaranya nanti, sambil makan,” kata Arka sambil berdiri, dan mau tak mau ia mengikutinya.
Dari jauh, Asih yang juga ingin makan ke kantin, melihatnya. Ia mencibir sambil setengah berteriak.
“Lihat, dia pintar merayu atasan. Adakah diantara kaliyan yang pernah diajak makan bapak pimpinan?” katanya sinis.
“Senja itu kan memang kerabatnya pak Arka, setiap berangkat dan pulang dia juga selalu bersama, mengapa kamu ribut? Cemburu?”
“Iiih… malu dong, masa cemburu sama orang udik,” katanya tetap nyinyir.
Tapi teman-temannya tetap mentertawakannya, karena Senja baik kepada semua orang bahkan menghormati kepada yang lebih tua.
Karena itu omelan Asih tak ada yang menghiraukannya.
***
Senja sudah duduk di depan Arka, dan menghadapi makanan dan minuman yang mereka pesan.
“Tadi mau omong apa?”
“Tentang kamu. Apakah kamu ingin melanjutkan kuliah?”
“Aku kan pernah bilang, tidak ingin melanjutkan lagi, aku hanya ingin bekerja, untuk meringankan beban Simbok. Biar sedikit, tapi kan beban Simbok lebih ringan. Simbok masih harus menyekolahkan Rimba. Itu yang lebih utama. Mohon jangan mentertawakan aku."
“Tidak. Aku bisa mengerti.”
“Mengapa mas ingin aku kuliah lagi? Mas malu karena aku diejek hanya lulusan SMA tapi dijadikan sekretaris direktur?”
“Senja … mengapa kamu berkata begitu?”
“Mungkin, kan aku tidak pantas menjadi pekerja kantoran? Sampai-sampai aku dihina oleh orang.”
“Kamu merasa terhina? Padahal menurut aku, kamu itu gadis yang sangat mulia.”
“Ada-ada saja..”
“Aku bicara sepenuh hatiku, jujur, tidak bohong.”
“Lalu mengapa Mas ingin agar aku kuliah?”
“Kalau kamu suka, aku akan membantumu, bukan karena aku ingin kamu bekerja dengan status sarjana, tidak. Apapun kamu, kamu akan tetap ada di dekat aku. Selalu, karena ….”
“Apa?”
Arka tiba-tiba terkejut dan merasa kelepasan bicara. Ia sadar apa artinya, sesuatu yang tersimpan jauh di dasar hatinya melesat keluar tiba-tiba, dalam bentuk yang mendekati sebuah pernyataan cinta. Apakah Senja sudah bisa menerima isyarat itu? Jangan-jangan dia ketakutan kalau mendengar bahwa Arka mencintainya.
“Senja, maafkan aku.”
“Mengapa minta maaf?”
“Barangkali ucapan aku tidak mudah kamu mengerti, atau membuat kamu bingung.”
Senja bukan anak kecil. Bahwa rasa suka itu pasti ada di setiap jiwa manusia. Tapi terhadap Arka, beranikah dia mengaku suka? Mimpi ‘kali. Siapa dia dan siapa Arka. Itulah yang dipikirkan Senja.
“Ayo, lanjutkan makanmu.”
Senja dan Arka melanjutkan acara makan yang terhenti karena pembicaraan yang belum terjawab.
“Apa maksud mas Arka bahwa apapun aku maka aku tetap ada di dekatnya? Karena apa? Mengapa mas Arka tidak melanjutkannya?” kata batin Senja yang kemudian membuat hatinya berdebar.
“Senja, apakah kamu marah?”
“Mengapa aku harus marah?”
“Kamu sudah dewasa. Kamu pasti sedikit banyak bisa menangkap ucapan aku.”
“Tidak begitu mengerti.”
“Mungkin sedikit.”
Senja menggelengkan kepalanya. Ia sudah menutup acara makannya dengan meletakkan sendoknya.
“Senja, apa kamu tahu tentang cinta?”
Senja mengangkat wajahnya. Debar jantungnya semakin kencang.
“Entahlah.”
“Kamu tahu bahwa ada yang jatuh cinta sama kamu?” Arka semakin berani.
Wajah Senja pucat.
“Si … siapa?”
“Aku,” kepalang tanggung, Arka kemudian berterus terang.
“Apa?”
“Kalau aku mengecewakan buat kamu, kamu boleh manolaknya,” kata Arka pelan.
Ia ragu, juga khawatir kalau Senja benar-benar marah. Tapi ia melihat telaga bening menetes dari pelupuk matanya.
“Apa Mas sadar apa yang Mas ucapkan?"
“Sadar sesadar-sadarnya. Mengapa kamu menangis?"
“Mas sadar aku ini siapa? Aku anak mbok Mangun, penjual beras yang miskin, yang dianggap hina di mana-mana. Sedangkan Mas Arka, anak tuan besar yang dihormati dan disegani di mana-mana. Jangan membuatku sedih Mas.”
“Mengapa kamu sedih? Apa kamu tahu bahwa cinta ada di setiap hati manusia? Dan cinta akan datang kepada siapa tanpa harus ada petunjuknya?”
“Aku … tidak berani Mas.”
“Kamu tidak suka padaku?”
Kata siapa tidak suka? Arka adalah malaikat ganteng yang menjadi dekat dengannya karena kebaikannya. Berkali-kali kebaikan, berkali-kali pembelaan dan perlindungan. Tapi cinta?
“Mana aku berani.”
“Senja, jangan membenci aku karena ucapan aku. Kamu boleh menolak, tapi jangan takut mengakui kalau kamu memang menerimanya.”
Senja terdiam. Ia mengusap air matanya dengan tissue yang diulurkan Arka.
Ini pertama kalinya ia mendengar sebuah ungkapan cinta. Tangannya gemetar, kakinya bergetar
Arka kemudian juga lupa bahwa awalnya ia ingin meminta agar Senja melanjutkan sekolah, tapi mengapa kemudian berbelok pada ungkapan cinta?
***
Malam hari itu Senja meringkuk di pembaringan ibunya, menyembunyikan wajahnya di ketiak simboknya. Hal itu membuat mbok Mangun heran.
“Ada apa ini?”
“Mbok, aku bingung.”
“Mengapa?”
“Apakah yang harus aku lakukan ketika seseorang menyatakan cinta?”
Mbok Mangun mengangkat wajah anaknya, dan melihat air mata tergenang di pelupuknya.
“Kamu jatuh cinta? Itu wajar. Dulu, ketika Simbok seumur kamu, Simbok sudah menikah selama tiga tahun.”
“Bukan aku Mbok, ada yang mengatakan cinta pada Senja ini.”
“Oh ya? Tapi Simbok belum siap menikahkan kamu, harus ada uang yang cukup, dan_”
“Bukan begitu Mbok, mengapa Simbok memikirkan pernikahan?”
“Lalu apa? Siapa yang mengatakan cinta itu? Jangan main-main Senja, sebagai perempuan kamu harus hati-hati. Jangan mudah terbujuk oleh rayuan.”
“Mas Arka yang mengatakan itu.”
“Apa? Mas Arka suka sama kamu?”
“Aku bingung Mbok. Aku sadar aku ini anaknya Simbok, mana pantas Simbok menjadi besan seorang tuan yang terhormat dan kaya raya?”
“Tidak Nja, seperti aku bilang tadi, hati-hati. Kita orang miskin. Simbok tidak ingin kamu sengsara karena direndahkan oleh keluarganya. Bisa jadi mas Arka baik, tapi keluarganya? Mana mungkin mereka mau berbesan dengan mbok Mangun si tukang penjual beras. Miskin dan sama sekali tidak punya derajat.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Lebih baik kamu menolaknya.”
***
Besok lagi ya.
Alhahamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Iyeng. Kirain udah pada sare
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,60 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteMatur nuwun mBak Tien, sugeng dalu.
ReplyDeleteAlhamdulillah eNTeeS_60 sampun dipun tayangaken.... ππΉπ
Sami2 mas Kakek
DeleteAlhamdulillah,senja telah hadir dimalam hari, .....bikin hati deg2an dan gembira,..... maturnuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ππ❤️, senja semoga bahagia..
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
Deleteπ·Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 60 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida
DeleteTrmksh mb Tienπ
ReplyDeleteSami2 Yangtie
Deleteππ₯ππ₯ππ₯ππ₯
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung eNTeeS_60 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
ππ₯ππ₯ππ₯ππ₯
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah,,,telah tayang. Sehat wal afiat selamanya bunda. Aamiin...
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun Kang
DeleteMbok Mangun itu provokator ya Mbak?
ReplyDeleteTerimakasih Bunda.
ReplyDeleteSemoga sehat slalu.
Mudah mudahan Senja berjodoh sama Arka.....