NAMAKU TETAP SENJA 46
(Tien Kumalasari)
Senja hampir berteriak, lalu dia sadar. Kan dia belum mengenalnya, jadi lebih baik dia pura-pura tidak pernah melihatnya saja. Dia diam ketika Rosa menemui seorang wanita cantik, lalu berbicara pelan, entah apa yang dibicarakan, Senja tidak mendengarnya. Ia hanya diam berdiri di dekat pintu sambil mengawasi wanita cantik yang duduk di depan kaca, seperti sudah terbiasa berada di tempat itu.
“Baiklah, aku mengerti. Tinggalkan saja dia di sini.”
“Senja, kemari, ini Bu Mira, pemilik salon ini. Kamu bisa membantu apa saja di sini.”
Senja tersenyum, lalu maju dan menyalami bu Mira dengan penuh hormat.
“Oh ya Rosa, itu anakku, Tantrina.”
“O, yang katamu sudah mengandung itu?”
“Iya, kebetulan menjadi istri orang kaya, sehingga bisa membangun salon aku yang tadinya hanya salon sederhana, menjadi salon yang lebih mewah seperti ini.”
“Syukurlah, aku ikut senang. Aku pergi dulu Senja. Kalau saatnya pulang aku akan menjemput kamu ke tempat di mana kamu menitipkan sepeda kamu.”
“Non, tidak usah, nanti saya mencari angkutan umum saja, dan setiap hari saya akan masuk bekerja dengan sepeda.”
“Baiklah, lain kali bisa begitu, tapi kali ini aku antar kamu pulang sampai ke rumah makan di mana kamu menitipkan sepeda kamu.”
“Tapi Non ….”
“Sudah, tidak usah protes. Nanti kalau tugasmu selesai, bu Mira akan mengabari aku, jadi kamu jangan pulang dulu sebelum aku sampai.”
“Non Rosa baik sekali, mau repot-repot untuk saya.”
“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Di hari pertama kamu kerja, biarlah aku antar jemput kamu dulu. Selanjutnya kamu berangkat dan pulang sendiri juga tidak apa-apa.”
“Terima kasih banyak Non.”
Senja tersenyum. Gembira sekali bisa mendapat pekerjaan walau agak jauh dari rumah. Simboknya pasti senang ia bisa membantu meringankan bebannya. Yang terpenting, Rimba bisa melanjutkan sekolah setinggi mungkin, seperti cita-cita simboknya.
“Senja, kalau kamu haus bisa ambil sendiri minuman, letaknya di situ,” kata bu Mira sambil menunjuk ke dalam ruangan lain, di mana ada kulkas berada di ruangan itu.
“Baik Bu, sekarang saya harus mengerjakan apa?”
“Bantu bersih-bersih alat salon ini dulu. Belum ada pelanggan datang di jam segini, biasanya sebentar lagi akan agak ramai.”
“Baiklah.”
“Tantrina, kamu sudah selesai? Katanya hari ini rumah kamu sudah siap?”
“Iya Bu, aku menunggu dijemput suamiku. Aku telpon dia sebentar."
“Baiklah.”
Senja mulai mengerjakan apa yang disuruh majikannya. Membersihkan dan menata alat-alat salon. Tapi dalam hati dia berpikir, siapa suami perempuan bernama Tantrina yang ternyata anak pemilik salon ini? Benarkah dia istri muda pak Wiguna? Kalau tadinya ia mengira wanita itu adik Arka atau kakaknya, sekarang perkiraan itu dipatahkan oleh keterangan Arka yang katanya dia anak tunggal. Lalu siapa Tantrina yang begitu akrab dengan pak Wiguna? Benarkah seperti perkiraan simboknya bahwa Tantrina adalah istri muda pak Wiguna?
“Tantrina, sepertinya suami kamu sudah menjemput,” kata bu Mira.
Tak sengaja Senja menoleh ke arah jalan, tapi ternyata suami Tantrina tidak turun dari mobil. Ia membunyikan klakson berkali-kali, lalu Tantrina bergegas keluar setelah mencium tangan ibunya. Ia sama sekali tak menoleh kepada Senja, dan itu bukan masalah bagi Senja. Dia kan hanya pegawai, atau boleh dikatakan pembantu, mana mungkin disapa anak majikan?
“Hati-hati jalannya pelan saja, kamu itu sedang hamil, dan jangan lupa ibu butuh satu lagi almari,” teriak bu Mira.
Tantrina menoleh sejenak, sambil tersenyum dan mengangguk.
Senja pura-pura tak memperhatikan. Sedikit kecewa karena tak bisa melihat siapa suami Tantrina. Benarkah pak Wiguna?
“Senja, setelah selesai kursi-kursi ini letakkan masing-masing di depan cermin ya.”
“Baik, Bu.”
“Itu tadi satu-satunya anak aku. Sungguh beruntung diperistri orang kaya, sehingga salon ini yang tadinya kecil, kemudian diperbesar, dan ditambah peralatan yang lebih lengkap.”
“Bagus sekali, Bu.”
“Tantrina juga dibelikan rumah baru. Tadi dia mengabari rumah yang dipesannya sudah jadi, lalu Tantrina dijemput suaminya, karena perabot rumah tangga akan dikirim hari ini juga.”
“Saya ikut senang Bu.”
***
Simbok pulang saat hari masih siang. Rimba menyambutnya, dan belum sampai masuk ke rumah Rimba sudah mengabari kalau kakaknya benar-benar sudah mulai bekerja hari ini.
“Tadi dia sudah bilang mau ketemu temannya yang membantunya itu, tapi belum bilang bahwa pekerjaan itu sudah ada.”
“Tadi mbak Senja bilang, kalau dia sampai siang belum pulang, berarti dia langsung bekerja. Lha ini sudah siang, pastinya dia sudah bekerja.”
“Tapi belum tahu pekerjaannya apa dan di mana?”
“Belum tahu Mbok, nanti kalau dia pulang baru bilang.”
“Syukurlah kalau sudah mendapat pekerjaan. Mbakyumu itu susah dikasih tahu. Maksud Simbok biar dia melanjutkan kuliah dulu, tapi tidak mau.”
“Kata mbak Senja, kuliah bayarnya mahal.”
“Iya juga sih. Dia ingin, kamu nanti yang bisa sekolah sampai tinggi, biar tidak buta hurup seperti Simbok.”
“Nanti Simbok Rimba ajarin membaca ya. Simbok sih, tidak pernah mau kalau diajarin.”
“Nggak usah. Simbok malah bingung. Otaknya nggak nyampe. Biar begini saja, asal anak-anak Simbok bisa sekolah, Simbok sudah senang.”
Rimba tersenyum. Biar masih kecil tapi kehidupan yang sederhana dan terkadang kelihatan sengsara, membuat dirinya bisa berpikir lebih dewasa. Ia paham apa yang dipikirkan simboknya, dan paham pula mengapa sang kakak bersikeras ingin bekerja. Rimba pun ingin melakukan sesuatu, tapi tangan kecilnya belum mampu berbuat banyak.
“Besok kalau Rimba sudah besar, Rimba juga ingin bekerja. Apa saja asal bisa menghasilkan uang, agar bisa membantu Simbok.”
“Apa maksudmu? Simbok suruh kamu belajar, bukan bekerja.”
“Maksud Rimba, sekolah sambil bekerja.”
“Tidak usah. Nanti malah mengganggu sekolah kamu, dan menghambat semuanya. Yang harus kamu lakukan adalah sekolah dan menjadi pintar.”
Rimba tersenyum, kemudian merangkul simboknya sambil berlinang air mata.
“Iya Mbok, siap laksanakan ….”
Sang simbok mengelus kepala anak laki-lakinya dan tak urung air matanyapun berlinang.
“Hidup ini susah le, kata orang … biarlah sekarang kita sengsara, kelak kita akan mengunduh buah yang kita tanam. Semoga Allah mengijabah semua doa Simbok.”
“Aamiin.”
***
Senja bekerja dengan sangat rajin. Bu Mira menatap Senja dengan tatapan kasihan. Gadis itu cantik, rajin dan sikapnya sangat baik. Ada rasa kasihan mengapa Rosa ingin memperlakukannya dengan perbuatan yang sangat kejam. Tapi bu Mira juga perempuan yang sangat doyan duit, dan ia sudah menerima bayarannya. Untuk itu ia harus membantu apa yang menjadi keinginan Rosa.
“Sebentar lagi Rosa akan menjemput kamu Senja, segera rapikan semuanya sebelum kamu pulang.”
“Baik, Bu.”
Senja tak pernah mengeluh. Ia hanya kurang suka kepada tamu laki-laki yang datang minta potong rambut, lalu menatapnya dengan tatapan yang menurut Senja sangat aneh dan membuatnya tak suka. Tapi Senja harus bersabar. Niatnya adalah bekerja dan mendapat uang. Ia harus menahan apapun walau dia sangat tidak suka. Ia juga baru tahu kalau salon bu Mira juga menerima pelayanan pijit. Untunglah itu bukan tugas Senja. Ada orang lain yang melakukannya. Senja hanya menyiapkan keperluan bu Mira tentang merapikan alat salon dan melayani ketika bu Mira sedang memotong rambut atau membersihkan wajah.
Senja sudah menyelesaikan tugasnya, dan bersamaan dengan itu Rosa benar-benar menjemputnya.
Senja sangat berterima kasih, dan semakin dalam rasa hormat dan terima kasihnya atas kebaikan si Non cantik yang dianggapnya banyak membantunya.
“Senja, setelah ini kamu akan berangkat bekerja dan pulang sendiri. Kamu tidak keberatan bukan?”
“Tentu saja tidak Non, saya sudah sangat berterima kasih Non membantu saya mendapatkan pekerjaan ini.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun mas Kakek
DeleteTrmksh mb Tien 🙏
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Lartief
DeleteAlhamdulilah, cerbung kesayangan sampun tayang... maturnuwun bu Tien, semoga bu Tien sekeluarga sll sehat, bahagia penuh berkah aamiin ... salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung eNTeeS_46 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari
DeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteSugeng dalu Bunda Tien dan keluarga tct, sehat sll dan bahagia bersama keluarga.
Cerbung nya baru bisa baca senin ya Bunda, tetep ku tunggu.
Senja tokoh gadis yg lugu tapi sebetulnya nya Cerdas.
Suka sekali ceritanya.
Trimakasih Bunda Tien. 😍🤗
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Etty
DeleteAlhamdulillah NTS 36 sampun tayang. Matur nuwun bu Tien mugi2 ibu sekluwarga tansah Pinaringan Rahayu Slamet Sehat wal Afiat saking kersaning Allah SWT. Aamiin YRA. 🤲🙏
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget bapak Suroto
DeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan selalu dlm lindungan Allah SWT
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Ida
DeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,46 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Uchu
DeleteTerimakasih Bunda
ReplyDeleteSehat slalu
Sehat slalu Bunda.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibapak Endang
DeleteAlhamdulillah terima kasih bunda Tien NTS sudah tayang .
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan keluarga selalu sehat 🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sifa
DeleteSelamat mlm bunda...mks NTS 46 sdh tayang .....smg bunda dan pak Tom sll sehat selalu bahagia bersama putro wayah
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Supriyati
DeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Supriyati
Delete🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 46 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry
DeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni
DeleteMatur nuwun Bunda Tien...semoga selalu sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Yulian.
DeleteOoh...di sini benang merahnya Senja terhubung dengan Tantrina, baguslah nanti dia bisa cerita ke Arka.😁
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...salam sehat selalu.🙏🏻🌹
Sami2 jeng Nana.. salam sehat juga
DeleteAlhamdulillah "NAMAKU TETAP SENJA 46" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng enjang🙏
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Sis.
DeleteSugeng enjing
Alhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat semua ya 🙏🤗🥰🌿💖
ReplyDeleteRosa,, cantik tapi hatinya pahit,, anak siapa sih,, penasaran ,🤭
Sabar ya Senja, sebentar lg malam kemudian menjadi bersinar seperti sunrise,, hangat & menyenangkan