NAMAKU TETAP SENJA 42
(Tien Kumalasari)
Senja berhenti melangkah, dan terus mengawasi keduanya tak berkedip.
“Aku tidak lupa, dia ayah mas Arka, pengusaha kaya yang ketika bertemu aku sikapnya sungguh tidak ramah, mentang-mentang dia kaya dan aku hanya anak seorang penjual beras," gumam Senja.
Senja ingin menyapanya, tapi diurungkannya.
“Buang-buang waktu saja, paling sikapnya masih seperti dulu, meremehkan aku. Tapi siapa perempuan hamil itu? Jadi mas Arka punya kakak perempuan yang sedang hamil? Aku tidak pernah menanyakan keluarganya. Barangkali ayahnya mau membelikan rumah untuk calon cucunya. Namanya orang kaya, bayi belum lahir sudah akan dibelikan rumah. Ya sudahlah, aku teruskan saja langkahku. Aku kan sedang mencari pekerjaan, malah memikirkan sesuatu yang bukan urusan aku,” kata batin Senja.
“Mbak mau membeli rumah?” tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua menyapanya. Tampaknya ia seorang mandor bangunan. Dari tadi ia hanya mondar mandir ke sana kemari sambil mengawasi tukang bangunan yang sedang bekerja.
“Eh, tidak Pak. Mau tanya, kantor pemasaran di mana ya?”
“Di sana, ujung paling depan. Kalau tidak mau membeli rumah mengapa menanyakan kantor pemasaran.”
Senja tersenyum.
“Masa sih, penampilan seperti aku dikira mau beli rumah? Memangnya kelihatannya aku orang yang punya uang apa?” kata batin Senja.
“Saya mau mencari pekerjaan Pak. Tunjukkan saja di mana kantornya.”
“O, mau mencari pekerjaan? Masa gadis cantik mau menjadi tukang batu?”
Senja agak kesal, mandor itu sangat cerewet dan pertanyaannya yang aneh-aneh saja.
“Baiklah Pak, saya ke sana saja dulu. Yang diujung itu ya?” katanya sambil terus melangkah, tanpa menunggu jawaban pak mandor yang ceriwis itu.
Pak mandor mengawasinya terus.
“Tukang batu, cantik, malah pada nggak mau bekerja, karena saling mencari perhatian. Tapi nggak tahu juga, barangkali melamar menjadi pekerja kantoran,” gumam pak mandor sambil terus mengawasi Senja yang sekarang sudah memasuki kantor pemasaran.
***
“Selamat siang,” sapa Senja, sopan.
“Selamat siang,” jawab seorang laki-laki muda yang sedang duduk di kursi kerja, sambil menghadapi laptop yang sejak tadi diotak-atiknya.
“Mau ketemu siapa ya?”
“Mau ketemu …. mm saya mau mencari pekerjaan.”
“Oh, silakan duduk.”
Senja duduk, kemudian menyodorkan map berisi berkas lamaran pekerjaan. Laki-laki itu kemudian membuka map nya.
“Kamu baru lulus SMA?”
“Benar Pak.”
“Nilai kamu bagus.”
Orang itu meletakkan lagi lembar-lembar lamaran yang tadi dibacanya. Tampaknya tidak sepenuhnya dia membaca. Kertas-kertas itu diletakkan lagi di dalam map, kemudian map itu ditutupnya.
“Perusahaan kami sedang membuka beberapa cabang dan butuh karyawan.”
Wajah Senja berbinar, ada secercah harapan ketika orang didepannya mengatakan kalau sedang butuh karyawan.
“Tapi yang kami butuhkan adalah seorang sarjana tehnik dan sarjana ekonomi, bukan lulusan SMA seperti Anda.”
Senyuman yang semula tersungging, surut seketika.
Mereka butuh sarjana. Bukan lulusan SMA.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi,” kata Senja sambil meraih map lamarannya, kemudian membalikkan tubuhnya, dan keluar dari ruangan kecil itu.
Senja hanya berjalan kaki ketika itu, karena rumah simboknya tidak jauh dari lahan perumahan baru itu.
Dalam perjalanan keluar dari area perumahan itu, Senja agak risih karena beberapa tukang bangunan menggodanya. Tadinya terbersit juga keinginan bekerja walau menjadi tukang batu sekalipun. Tapi melihat lingkungan yang dianggapnya tidak ‘sehat’, Senja membatalkannya.
Ia berjalan ke rumah dengan lesu. Ada sesal, karena lulusan SMA ternyata tidak dibutuhkan. Tapi Senja bersikap wajar dan berusaha menekan kekecewaan hatinya. Barangkali bukan di sana tempat yang pantas untuk dirinya, besok atau lusa ia harus berusaha lagi.
***
Sesampai di rumah ternyata Rimba sudah pulang dari sekolah.
“Kok sudah pulang?”
“Pulang pagi, besok kan libur panjang.”
“O iya, kamu sudah naik kelas enam kok ya. Ati-ati, belajar harus lebih rajin, sebentar lagi ujian lho.”
“Iya Mbak. Siap.”
Senja menuju ke dapur, mengambil segelas air minum, dihabiskannya. Udara sangat panas. Senja tiba-tiba merasa sedih mengingat simboknya. Udara panas seperti ini, simboknya masih berjalan menjajakan dagangan berasnya. Terkadang cepat habis, tapi terkadang juga pulang masih membawa beberapa kilo beras yang belum laku. Senja semakin bertekat untuk bekerja agar simboknya tidak bekerja terlalu keras.
“Mbak dari mana?”
“Dari mencari pekerjaan .”
“Mencari ke mana? Kok jalan kaki?”
“Di sebelah utara pasar itu kan ada perumahan yang baru di bangun. Mbak tadi mencoba melamar ke sana, karena kabarnya mereka membutuhkan karyawan.”
“Kalau di tempat bangunan ya karyawan bangunan. Mbak perempuan, mengapa melamar ke sana?”
“Maksud Mbak itu bukan menjadi tukang bangunan, tapi di kantornya.”
“Diterima?”
Senja menggoyangkan tangannya.
“Tidak Mba. Yang dibutuhkan sarjana-sarjana.”
“Lulusan SMA tidak mau?”
“Tidak. Tapi besok Mbak mau berusaha lagi mencari di tempat lain.”
“Semoga Mbak segera bisa bekerja.”
“Iya Mba ... Mbak ingin sekali meringankan beban Simbok,” kata Senja sambil duduk di kursi makan.
“Ayo kita makan Mbak.”
Mereka makan dalam diam. Senja masih terbawa rasa kecewa karena tidak diterima bekerja gara-gara dia bukan sarjana.
“Kalau memang tidak bisa mendapat pekerjaan, Mbak mau jualan beras saja seperti Simbok.”
“Dengan begitu berasnya bisa laku lebih banyak ya Mbak.”
“Betul. Sama saja, berjualan juga bekerja. Aku kasihan sama Simbok.”
“Rimba juga kasihan sama Simbok. Nanti kalau lulus ini, Rimba juga mau bekerja saja.”
“Apa? Kamu jangan main-main Mba, simbok bekerja keras untuk menjadikan kamu supaya menjadi orang berpendidikan. Kalau lulus SD mau berhenti, lalu kamu mau jadi apa?”
”Kasihan sama Simbok.”
“Biar aku saja yang bekerja membantu Simbok, apapun pekerjaan itu, pokoknya beban Simbok bisa lebih ringan. Itu semua agar kamu bisa sekolah terus dan terus, sampai kamu menjadi orang. Kalau kamu berhasil, Simbok pasti senang. Jadi jangan pernah kamu ingin berhenti sekolah. Kamu anak laki-laki. Jangan mengecewakan Simbok.”
"Sedang cerita apa nih?” tiba-tiba mbok Mangun sudah sampai di depan mereka yang sedang makan.
“Horeee, Simbok sudah pulang. Ayo Mbok, makan sekalian.”
“Iya, makan dulu, Simbok bersih-bersih badan dulu, berdebu nih, terus ganti pakaian juga.”
“Kami tungguin Mbok,” kata Senja yang kemudian menyiapkan segelas air di meja, untuk simboknya.
***
“Kamu tadi jadi melamar kerja?” tanya mbok Mangun setelah siap makan bersama anak-anaknya.
“Jadi Mbok, tapi belum rejekinya, besok Senja mau cari lagi.”
“Harus sabar Nduk, cari pekerjaan memang tidak gampang. Tadi kamu jadi ke perumahan yang baru dibangun itu?”
“Jadi. Baru ke situ Mbok. Tapi tidak diterima. Besok berusaha lagi. Oh ya, tadi aku melihat ayahnya mas Arka.”
“Dia yang punya perumahan baru itu?”
“Bukan. Sepertinya dia beli rumah di situ.”
“Apa ayah mas Arka belum punya rumah?”
“Orang kaya boleh kan Mbok, beli rumah sebanyak-banyaknya,” sambung Rimba.
“Sepertinya dia beli rumah untuk anaknya perempuan. Aku baru tahu, ternyata mas Arka punya saudara perempuan, sedang hamil. Pastinya ayahnya akan membelikan rumah untuk cucunya itu.”
“O, mas Arka punya saudara perempuan?”
“Sepertinya iya Mbok, tadi aku melihatnya, pak … siapa ya namanya … lupa … eh, tuan Wiguna melihat-lihat sambil merangkul wanita cantik itu, yang perutnya agak gendut, sedang melihat-lihat rumah, atau entahlah, barangkali sudah beli atau apa.”
“Kamu bertemu dia? Atau dia menyapa kamu?”
“Tidak Mbok, Senja hanya melihat dari kejauhan, tapi Senja yakin itu ayahnya mas Arka.”
“Kalau kenal, mengapa kamu tidak menyapa?”
“Sungkan Mbok, belum tentu dia suka.”
“Selamat siang,”
Mereka terkejut, itu suara Arka. Rimba segera berlari ke depan.
“Mas Arka, siang-siang sudah sampai di sini? Kami sedang membicarakan kakak mas Arka tadi,” celoteh Rimba.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah sdh tayang
ReplyDeleteMatur nuwun Dhe
Sami2 mas Kakek
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Latief
DeleteAlhamdulilah cerbung kesayangan sudah tayang, maturnuwun bu Tien .. semoga bu Tien sll sehat, bahagia dan sll dlm lindungan Allah SWT aamiin ....salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri.
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Sami2 jeng Susi
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Semoga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget bapak Endang
Delete🍓🫐🍓🫐🍓🫐🍓🫐
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung eNTeeS_42 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🍓🫐🍓🫐🍓🫐🍓🫐
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sar
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun ibu, semoga Bu Tien sekeluarga sehat selalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sukardi
DeleteTrmksh mb Tien 🙏
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,42 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Uchu
DeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteSugeng ndalu ibunda Tien. Salam. sehat selalu. Trimakasih cerbung Senja nya. 🤗
Wa'alaikumussalam ibu Etty.
DeleteSugeng dalu. Sami2 ibu
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien,cerbungnya sll menjadi favorit pembaca, semoga ibu tetap sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah hatur nuhun bunda Tien, cerbung NTS sudah tayang,
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga sehat 🤲🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sifa
DeleteMatur nuwun Bu Tie, semoga Ibu semakin sehat. Salam sayang selalu utk Ibu....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Reni. Salam sayang juga untuk ibu
Delete🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 42 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry
DeleteTerima kasih Bunda Tien, tetap semangat sehat, kuat ya Bunda
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Yulian
DeleteTerimakasih bunda Tien. Alhamdulilla.... Sehat selalu, tetap semangat dan bahagia bunda Tien sekeluarga.... Aamiin yaa Rabbal Alaamiin🤲🤲🤲
ReplyDeleteArka jadi tahu ayahnya selingkuh...
ReplyDelete