Monday, July 6, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 41

 NAMAKU TETAP SENJA  41

(Tien Kumalasari)

 

Arka tak bereaksi. Ia menerima apapun yang dikatakan dokter yang berdiri menatap dirinya dan Rosa dengan serius.

Rosa tampak berkaca-kaca, entah apa yang dipikirkannya. Barangkali dia kesal, malu, atau entahlah, tiba-tiba dia berdiri dan menggamit lengan Arka.

“Saya minta maaf, ibu Rosa, saya harus mengatakannya, agar Ibu tidak terkejut di kemudian hari.”

“Baiklah,” Rosa melangkah pergi.

Tapi Arka mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan ruangan dokter yang merawat Rosa.

Dokter itu membalas anggukan Arka sambil berpikir, bahwa istri laki-laki ganteng yang santun ini sangat tidak menghargai dokter yang menanganinya.

***

Rosa langsung masuk ke ruang rawatnya, kemudian berkemas.

“Mengapa kamu harus kesal kepada dokter itu? Dia hanya mengatakan apa yang menjadi hasil dari keseluruhan pemeriksaan.”

“Semua itu terjadi karena aku diperkosa, bukan salahku, itu sebuah kecelakaan.”

“Semuanya sudah terjadi, ya sudahlah, untuk apa disesali?”

“Kamu sekarang bisa mengejek aku, menganggap aku sebagai perempuan rendah, tak berharga, karena pernah hamil dan menggugurkan kandungan aku.”

“Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak mengejek kamu, tidak merendahkan kamu, juga tidak menganggap kamu tak berharga atau lebih dari itu. Itu adalah hidupmu, mengapa aku harus berpikir tentang sesuatu yang bukan urusan aku?”

Perkataan Arka itu halus, dan diucapkan sangat pelan, tapi Rosa menerimanya seperti irisan sembilu yang merajang-rajang hatinya.

“Kamu mau pulang sekarang? Bukankah dokter belum memberikan ijin untuk kamu pulang?”

“Persetan dengan dokter itu.”

“Rosa, seharusnya kamu berbicara dulu dengan dokter, misalnya mengucapkan terima kasih atau apa yang sebaiknya kamu lakukan. Bukankah dia juga yang telah merawat kamu?”

“Yang penting aku membayar semua biaya rumah sakit. Bukan ucapan terima kasih. Kalau kamu mau pulang, pulanglah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Baiklah, aku tunggu kamu, dan aku antar pulang, setelahnya aku harus kembali ke kantor. Pekerjaan belum selesai.”

“Kamu pergi saja. Baiklah, kembali ke kantor dan jangan pedulikan aku,” Rosa berteriak sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“Baiklah, aku pergi,” kata Arka sambil meninggalkan ruangan itu.  Tapi di luar ruangan, Arka menelpon pak Daryono.

“Ada apa Arka?”

Arka mengatakan bahwa Rosa memaksa pulang, dan menyuruhnya pergi meninggalkannya.

“Memangnya dokter sudah mengijinkannya pulang?”

“Sebetulnya belum, tapi Rosa memaksa. Dia juga tidak mau saya mengantarkannya pulang.”

“Kamu sekarang ada di mana?

”Saya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor. Saya mohon Om segera ke rumah sakit.”

“Sebenarnya ada apa?”

“Kalau Om sudah ketemu Rosa, dia pasti mengatakannya. Saya sedang terburu-buru."

“Baiklah, baiklah … terima kasih sudah mengabari.”

***

Pak Daryono tidak mengabari ke rumah setelah Arka menelponnya. Ia langsung ke rumah sakit. Tapi ketika ia sampai di sana, di lobi rumah sakit ia melihat Rosa berdiri, sepertinya sedang menunggu taksi.

“Rosa.”

Rosa terkejut. Ia tak ingin mengatakan apapun kepada sang ayah.

“Mengapa kamu pulang?”

“Rosa tidak kerasan, mau pulang saja.”

“Tapi kamu sepertinya sedang tidak senang. Ada apa?”

“Tidak apa-apa.” Tapi Rosa berdebar, apakah Arka mengatakan semuanya kepada sang ayah?

“Arka bilang kamu tak mau diantar olehnya. Kamu sedang marah pada Arka?”

Rosa merasa lega. Dari perkataan sang ayah, tak ada tanda-tanda bahwa Arka mengatakan sesuatu kepada ayahnya. Tentang dokter itu, tentang rahimnya, tentang ….

“Ayo pulang bersama papa. Kamu sudah menyelesaikan administrasinya?”

“Sudah, Rosa juga sudah memanggil taksi.”

“Batalkan saja, ayo pulang,” kata pak Daryono sambil menarik lengan Rosa.

***

“Apakah Rosa sudah benar-benar sehat?” tanya bu Daryono kepada suaminya.

“Mungkin dia merasa sehat, sepertinya pulang paksa.”

Lalu pak Daryono mengatakan bahwa dia ke rumah sakit karena Arka menelponnya. Rosa memaksa pulang, tapi menolak diantar Arka.

“Ketika aku datang, dia sedang menunggu taksi di lobi. Mana anak itu?”

“Langsung masuk ke kamar. Dan langsung menguncinya.”

“Aku juga tidak tahu ada apa, mungkin bertengkar dengan Arka. Coba nanti ibu tanya lagi, aku harus kembali ke kantor."

“Kan dia harusnya sudah tahu kalau Arka tidak suka sama dia? Dasar tidak tahu malu. Untuk apa mengejarnya? Dunia begitu luas,” omel bu Daryono sambil mengantarkan suaminya yang akan kembali ke kantor

Ketika pak Daryono pergi, bu Daryono mengetuk pintu kamar Rosa.

“Rosa, buka pintunya. Mengapa dikunci?”

Berkali-kali mengetuk, tapi Rosa tak segera membukanya.

Bu Daryono berteriak, tampaknya kesal.

“Rosa! Buka pintunya tidak? Atau Mama suruhan orang untuk menjebolnya?”

Mendengar perkataan sang mama, Rosa segera membuka pintunya. Matanya sembab, sepertinya habis menangis.

“Ada apa kamu ini?”

Rosa diam. Sesungguhnya dia memang pernah menggugurkan kandungannya saat masih di luar negeri. Tapi dia sama sekali tak mengira, dokter itu mengatakannya, tepat saat Arka sedang ada di dekatnya. Rosa sama sekali tidak tahu bahwa dokter itu tanpa sengaja telah membuka aibnya. Kalau tahu begitu pasti ia tak akan mengajak Arka bersamanya. Ia mengajaknya karena dokter itu mengatakan bahwa dia sebaiknya datang bersama suaminya. Apa boleh buat, dia harus meminta tolong Arka agar mau mengakuinya sebagai istrinya. Siapa mengira semuanya menjadi runyam.

“Rosa, Mama sedang bertanya sama kamu,” kata bu Daryono sambil menarik lengan Rosa, diajaknya duduk di sofa.

“Tidak apa-apa Ma.”

“Kamu bertengkar sama Arka? Dia itu bukan siapa-siapa kamu, apa yang kamu inginkan dari dia?”

Rosa diam, rupanya orang tuanya mengira dia sedang bertengkar dengan Arka. Syukurlah, kata batinnya. Tapi bagaimana nanti kalau mereka bertanya pada Arka?

“Mengapa kamu pulang paksa?”

“Rosa sudah merasa sehat. Nggak mau lagi dirawat.”

“Kemarin kamu masih mengeluh sakit perut.”

“Sudah tidak. Capek berbaring terus menerus.”

“Mama sungguh tidak bisa mengerti kamu. Banyak hal yang Mama tidak mengerti.”

“Rosa baik-baik saja.”

“Baiklah, sekarang istirahatlah. Dan satu pesan Mama, jangan berharap akan Arka. Kamu harusnya punya rasa malu.”

Dan Rosa memang sedang merasa malu. Gadis cantik, pernah menggugurkan kandungan, dan tidak akan bisa punya anak selamanya. Lalu ada yang mengetahuinya, orang yang selalu didambakan agar bisa menjadi pendampingnya. Sekarang apa?

“Istirahat sana, jangan banyak pikiran.”

Rosa memasuki kamarnya dengan pikiran yang sangat memberati hatinya. Kegagalannya mendapatkan Arka, sudah jelas. Upaya apapun tak akan bisa mempersatukannya dengan Arka. Tak mungkin Arka mau memperistrinya setelah tahu apa yang terjadi. Tapi ada satu keinginan Rosa. Kalau dirinya tak bisa memiliki Arka, maka orang lainpun tidak. Jangan sampai. Geram Rosa.

***

Hari terus berjalan. Rosa tak pernah menghubungi Arka. Arka juga tak pernah mengingat ataupun mempedulikan apa yang terjadi pada Rosa. Ia bukan orang yang suka menebarkan aib siapapun, jadi kejadian yang diketahui tanpa sengaja itu tetap terpendam hanya di dalam hatinya.

***

Senja sudah baik-baik saja. Arka hanya menjemput pergi dan pulang sekolah selama dua hari, selebihnya Senja sudah bisa menggenjot sepeda sendiri.

***

Sekarang Senja sudah lulus dengan nilai cemerlang. Para guru memberi saran agar dia mendaftar ke universitas dengan bea siswa. Tapi Senja menolaknya. Ia lebih mementingkan membantu simboknya mencari uang agar beban sang simbok lebih ringan. Bahkan saran Arka agar dia melanjutkan kuliah diabaikannya. Simbok semakin tua, dan keinginan untuk menjadikan Rimba orang yang berhasil harus didukungnya.

Karenanya ia mulai mencari pekerjaan.

Tak jauh dari rumahnya ada sebuah lahan luas yang kabarnya akan dijadikan sebuah perumahan elite.

Senja membawa berkas lamaran, dan mencari di mana dia bisa memberikan lamarannya. Sudah ada beberapa rumah yang sudah jadi, tapi masih banyak yang berupa lahan kosong. Senja nekat memasuki lahan itu, lalu mendekati seseorang yang sedang bekerja, menanyakan di mana kantornya. Tiba-tiba mata Senja terbelalak. Ia melihat seseorang. Laki-laki setengah tua yang masih gagah itu pernah dikenalnya. Ia sedang berjalan sambil merangkul seorang perempuan muda yang sedang hamil. Kelihatan perutnya membuncit walau belum begitu besar.

Senja mengucek matanya. Takut penglihatannya salah.

“Bukankah itu ayah mas Arka?”

***

Besok lagi ya.

20 comments:

  1. Alhamdulillah...
    Salam SEROJA
    Tetap sehat & semangat 🤝💪🙏

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah.
    Terimakasih Bunda udah tayang.semiga sehat slalu. Panjang umur yang barokah... Aamiin

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  4. ☘️🪴☘️🪴☘️🪴☘️🪴
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung eNTeeS_41
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    ☘️🪴☘️🪴☘️🪴☘️🪴

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah "NAMAKU TETAP SENJA 41" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🤲
    Sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien ..in Syaa Alloh selslu sehat Aamiin.❤️🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan selalu dlm lindungan Allah SWT

    ReplyDelete
  9. Maturnuwun bu Tien ... semoga bundaku selalu sehat, bahagia sejahtera dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  10. 🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 41 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,41 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang. Semakin penasaran. Suwun Bu Tien. Sehat selalu.. Aamiin

    ReplyDelete
  13. Mks bun cerbung NTS 41 sdh hadir.......selamat mlm salam sehat bunda

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah,senja telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah bunda , cerbung NTS sudah tayang , hatur nuhun semoga bunda Tien dan keluarga sehat 🤲🤲

    ReplyDelete
  16. Assalamu'alaikum
    Alhamdulillah, senja sudah tayang, trimakasih Bunda Tien, sehat sll Bunda dan keluarga, cerbung nya sll aku tunggu. 🥰

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah cerbung Namaku Tetap Senja eps ~41 sudah hadir. Terimakasih bunda Tien, semakin sehat, semangat dan bahagia bunda Tien sekeluarga.

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 41

  NAMAKU TETAP SENJA  41 (Tien Kumalasari)   Arka tak bereaksi. Ia menerima apapun yang dikatakan dokter yang berdiri menatap dirinya dan Ro...