NAMAKU TETAP SENJA 40
(Tien Kumalasari)
“Ka, kamu kok diam sih, ini lho, apa benar Papa kamu mau beli rumah lagi?” tanya bu Wiguna karena Arka terdiam. Rupanya ia sambil mengoreksi sesuatu di file yang ada di laptopnya.
“Ini lho, di dalam tas kerja ayahmu itu kok ada sesuatu menyembul keluar, Ibu takut kalau itu terjatuh, padahal sesuatu yang penting. Maksud ibu mau ibu betulkan, tapi kok ibu melihat gambar-gambar rumah. Ibu jadi ingin tahu, lalu ibu tarik keluar, ternyata brosur promosi perumahan baru, dan rupanya memang diberikan kepada ayahmu, karena di pojokan ada tulisan nama ayahmu.”
“Apa iya Bu?”
“Iya, tungguin, ibu fotoin ya.”
Arka menghentikan pekerjaannya, dan tak lama kemudian memang sang ibu mengirimkan foto-foto brosur promosi perumahan.
Arka merasa heran. Ia mengamati dan membaca semuanya. Sebuah perumahan elite yang harganya bukan main mahalnya.
“Bagaimana Ka, kamu sudah melihatnya kan?”
“Iya Bu, memang promosi perumahan elite.”
“Apa ayahmu pernah bicara tentang keinginannya beli rumah lagi? Untuk apa? Rumah kita cukup besar dan bagus, itu juga nantinya untuk kamu kan, wong anak ibu cuma kamu seorang? Lalu untuk apa ayahmu mau beli rumah lagi?”
“Nanti kalau bapak datang akan Arka tanyakan Bu, Arka tidak pernah diajak bicara tentang pembelian rumah.”
“Nanti kalau itu benar, bahwa ayahmu ingin beli rumah lagi, cegah dia Ka, untuk apa beli rumah lagi. Kalau punya uang, bukankah lebih baik untuk kegiatan sosial, diberikan untuk panti asuhan dan anak yatim piatu.”
“Iya Bu, nanti pasti Arka akan bicara tentang hal itu dengan bapak. Sampai saat ini bapak juga belum sampai di kantor.”
“Baiklah Ka, ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Nanti kalau ayahmu datang, katakan saja tentang tas kerja yang ketinggalan. Kalau penting ya biar suruhan orang kantor untuk mengambilnya.”
“Baik, Ibu.”
Walau kelihatannya acuh, tapi Arka juga berpikir tentang promosi perumahan itu. Untuk apa ayahnya meminta brosur promosi itu. Untuk karyawan yang berprestasi? Hal itu belum pernah dibicarakan.
Dan ternyata sampai jam kantor usai, sang ayah tidak pernah nongol di kantor. Barangkali sudah langsung pulang dari entah apa keperluannya pergi pagi tadi.
***
Tapi sampai di rumah, ternyata sang ayah belum tampak pulang. Ini membuatnya heran apalagi sang ibu yang sejak pagi selalu memikirkannya.
“Bapak mana?” tanya sang Ibu.
“Bapak tidak ke kantor. Tadi Arka juga menunggunya.”
“Lalu ke mana ayahmu pergi? Tadi mengatakan kalau harus berangkat pagi karena ada rapat di kantor.”
“Tidak ada rapat apapun hari ini.”
“Aneh, mengapa ayahmu berbohong?”
“Nanti kalau bapak pulang kita bisa membicarakannya. Arka ke dalam dulu ya Bu, mau mandi, gerah sekali.”
“Ya, sana, biar bibik membuatkan minuman hangat untuk kamu.”
Sepeninggal Arka, bu Wiguna tetap saja memikirkan suaminya. Kalau benar di kantor tidak ada rapat hari ini, berarti suaminya berbohong. Ia belum pernah mendengar suaminya berbohong. Barangkali pernah juga, tapi tidak pernah ketahuan? Bermacam-macam pikiran bu Wiguna tentang suaminya, dan terus mengganggunya sampai kemudian ia mendengar mobil suaminya masuk ke halaman. Bu Wiguna enggan menyambutnya seperti biasa. Ia tetap duduk di ruang tengah sambil pura-pura membuka-buka majalah yang entah majalah apa, ia tak sempat membaca nama majalahnya.
“Lhoh, Ibu mengapa tidak menyambutku di teras seperti biasanya,” kata sang suami saat masuk ke dalam. Ia langsung duduk di depan istrinya, dan tanpa basa basi menyeruput kopi yang tersedia di meja, padahal bibik membuatnya untuk Arka atas perintah sang nyonya majikan. Tapi bu Wiguna mendiamkannya.
“Ibu sakit? Tumben tidak seperti biasanya.”
“Pusing.”
“Arka sudah pulang ya, mobilnya sudah ada di garasi.”
“Bapak dari mana?”
Pak Wiguna tampak menghela napas berat, seperti sedang menanggung sebuah beban. Bu Wiguna menunggu.
“Teman yang semalam aku bilang habis dioperasi itu, tadi di jalan saat aku berangkat ke kantor, menelpon. Kaki yang dioperasi terasa sakit lagi. Dia sangat menganggap aku sebagai saudara, jadi dia mengeluh hanya kepadaku. Akhirnya aku urung ke kantor, langsung menuju ke rumahnya. Ternyata anak-anaknya yang semalam menjemputnya dari rumah sakit sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing, yang semuanya di luar kota. Aku segera membawanya ke rumah sakit, tapi bukan rumah sakit yang sama dengan rumah sakit di mana Rosa juga dirawat. Ternyata luka operasi belum sempurna benar, jadi harus dirawat lagi di sana.”
“Lalu Bapak menungguinya seharian?”
“Mau bagaimana lagi Bu, kasihan bapak melihat keadaannya. Sore ini tadi, ketika salah seorang anaknya datang, aku baru pulang.”
“Bukankah harusnya ada rapat di kantor?” pancing bu Wiguna.
“Ya, aku yang akan mengadakan rapat bersama para staf, tapi nggak jadi. Haduh Bu, capek sekali. Jauh lebih capek dari pada bekerja di kantor, untung ada Arka yang sudah bisa menanganinya.
“Kalau Bapak pergi ke kantor, tas kerja Bapak ketinggalan.”
“Sampai lupa membawa tas kerja aku Bu.”
“Aku hampir meminta Arka agar menyuruh orang kantor mengambilnya, kalau saja Bapak benar-benar pergi ke kantor.”
“Ya seperti tadi aku ceritakan itu Bu, nggak jadi ke kantor gara-gara menolong teman.”
“Tadi ada brosur promosi rumah hampir terjatuh dari tas kerja Bapak.”
Pak Wiguna terkejut, tapi ia segera bisa menguasai keadaan.
“O, iya … ada perusahaan properti menawarkan rumah. Sudah beberapa hari yang lalu itu.”
“Bapak mau beli?”
“Ya tidak, untuk apa beli rumah.”
“Di brosur itu ada nama Bapak.”
“Iya, memang penawaran itu ditujukannya pada aku. Nggak usah dipikirkan, namanya orang jualan, lumrah saja dia menawarkan kepada siapapun juga,” katanya sambil berdiri.
“Aku mandi dulu Bu, gerah.”
Bu Wiguna tak menjawab, ada yang mengherankan. Suaminya tak pernah peduli kepada kesusahan orang lain. Kalau ada orang meminta tolong, dia memberikannya dengan acuh tak acuh, sambil mengomel panjang pendek. Tapi kali ini ia berkorban sampai meninggalkan kantor?
***
Hari itu di kantor Arka menerima telpon dari Rosa. Ia mengeluh karena seharian kemarin dia tidak menengoknya.
“Maaf, kemarin banyak sekali pekerjaan di kantor. Begitu pulang aku langsung tidur.”
“Siang ini maukah ke rumah sakit? Dokter ingin bertemu Papa, yang lucunya dikira suami aku. Tidak apa-apa kan kalau nanti kamu dianggap suami aku? Hanya anggapan sesaat, entah mengapa dokter itu menginginkan itu.”
Hanya untuk pura-pura dianggap suami, baiklah, toh tidak akan berpengaruh apa-apa, pikir Arka. Karena itu saat sebelum istirahat dia meninggalkan kantor untuk pergi ke rumah sakit.
Rosa sangat senang Arka memenuhi permintaannya. Ia kemudian mengajak Arka untuk menghadap dokter yang menanganinya.
“Bapak dan Ibu, kami sudah melakukan pemeriksaan atas keluhan yang diderita ibu Rosa. Hasilnya barangkali akan mengecewakan Bapak maupun Ibu.”
“Bagaimana hasilnya?” tanya Rosa.
“Apakah Ibu Rosa pernah dikuret sebelumnya?”
Rosa terkejut. Arka menatapnya sambil mengerutkan keningnya.
“Maaf Bapak dan Ibu, karena rahim Ibu Rosa lemah, setelah dikuret, kemungkinan besar Ibu tidak akan bisa hamil lagi.”
Dunia Rosa seakan runtuh, dan Arka terpaku dalam kediaman yang penuh keterkejutan. Jadi ….
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien🙏
ReplyDeleteSmg sht sll
Delete🥑🍒🥑🍒🥑🍒🥑🍒
ReplyDeleteAlhamdulillah 💐🦋
Cerbung eNTeeS_40 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja ❤️
🥑🍒🥑🍒🥑🍒🥑🍒
Alhamdulillah eNTeeS_40 sdh tayang.
ReplyDeleteTerimakasih mBak Tien.
Salam SEROJA
Alhamdulillah
ReplyDeleteMatur sembah nuwun Mbak Tien,...rasane ra pingin bali...masih pingin banyak ngobrol..tp ada tugas lain yg sdh menanti wlwlkwt..mbak 😭♥️🥰
Alhamdulillah NTS sudah tayang ,
ReplyDeleteTerima kasih bunda ,tambah bikin penasaran ceritanya ,
Semoga bunda dan keluarga selalu sehat, dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
Aamiin YRA 🤲
Alhamdulilah, cerbung kesayangan sdh tayang..
ReplyDeleteMaturnuwun bu Tien.. semoha bu Tien tambah sehat dan semangat... salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah "NAMAKU TETAP SENJA 40" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng dalu🙏
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Sis
DeleteSugeng dalu
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulilah
ReplyDeleteSudah tayang "Senja". Terimakasih Bunda . Sehat slalu.. semangat slalu.
🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 40 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Matur nuwun Bu Tien yg sukses membuat pinisirin pd rahasia Pak Wiguna dan Rosa. Ibu tambah sehat njih, salam sayang selalu....
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien senja telah hadir🙏, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,40 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien..sehat selalu bunda Cantik...
ReplyDeleteHaduh masih banyak misteri ya bun..
Triana Wiguna..
Rosa pernah kuret..
Apalagi kejutan dari Cerbung NTS ini ..hehe..pinisirin
Terima ksih bunda cerbungnys..dan sehat2 terus y bunda..slm seroja unk bunda sekeluarga 🙏🥰🌹❤️
ReplyDelete