Friday, July 3, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 39

 NAMAKU TETAP SENJA  39

(Tien Kumalasari)

 

Arka masuk ke dalam rumah yang memang masih terbuka. Tampaknya sang ayah belum lama tiba. Ketika ia masuk ke ruang tengah, sang ayah sedang berbincang dengan ibunya.

“Bapak dari mana saja?” Arka terpaksa menyela.

“Aku baru saja bercerita pada ibumu, aku mengantarkan teman yang habis sakit, pulang ke rumah. Teman yang sudah sejak lama tidak ketemu. Aku terkejut ketemu di rumah sakit itu. Jadi karena ingin bicara lebih banyak, aku mengantarkannya pulang dan ngobrol lama di sana.”

“Bapak mengantarkan teman Bapak dengan mobil siapa?”

“Ya mobil bapak sendiri, masa mobil orang.”

“Tapi Arka tadi ke rumah sakit, dan melihat mobil Bapak terparkir di sana.”

“Oh, itu … itu begini ceritanya. Bapak masih menunggu di kamar tempat dia dirawat, karena menunggu keluarganya belum menjemput. Jadi tentu saja mobil bapak masih di sana, kan bapak masih ada di rumah sakit menemani teman bapak itu.”

“Kalau sudah sempat ngobrol di ruang rawat dia, mengapa Bapak masih mengikutinya sampai ke rumah? Apalagi dia habis sakit, apa tidak capek.”

“Dia yang minta, katanya istrinya masak-masak besar untuk merayakan kepulangan dia, sehingga bapak dipaksa ikut.”

“Kasihan Ibu, menunggu sejak sore tidak mau tidur. Bapak juga tidak mengabari kalau pergi ke mana-mana.”

“Maaf ya Bu, ponsel bapak mati, lupa ngecas.”

“Bukankah sebelum berangkat ponsel Bapak sedang dicas?”

“Isinya baru sedikit, sudah bapak bawa. Ya itulah. Sekarang Ibu istirahat saja, ini sudah larut.”

“Memangnya teman Bapak sakit apa?”

“Habis operasi, kakinya patah karena jatuh. Sudah … sudah, ayo tidur semua, bapak juga capek. Ibupun kasihan mengapa tidak tidur sampai malam.”

“Bapak pergi tidak memberi kabar. Tahunya ke rumah sakit, tapi pak Daryono bilang sudah pulang sejak lama. Mana bisa aku tidur?”

“Pak Daryono masih di ruangan Rosa ketika aku pulang lalu ketemu teman.”

Malam sudah larut, dan merekapun tidur di kamar masing-masing. Bu Wiguna menemani suaminya tidur, yang baru saja berbaring sudah terdengar dengkurnya keras sekali. Bu Wiguna hanya berpikir, suamiku pasti sangat lelah.

***

Pagi hari itu sebelum Arka ke kantor, memerlukan menjenguk Rosa. Hari masih sangat pagi. Tentu Rosa sangat gembira, merasa Arka sangat memperhatikannya. Padahal Arka hanya bersimpati karena saat kecelakaan itu Rosa sedang bersamanya.

“Bagaimana keadaan kamu?”

“Sudah lumayan, tapi perut sebelah kiri masih terasa nyeri. Belum ada pemeriksaan sampai pagi ini. Barangkali sebentar lagi.”

“Semoga bukan sesuatu yang berbahaya.”

“Apa kamu mau menunggui aku sampai pemeriksaan dilakukan?”

“Tidak bisa Rosa, aku akan ke kantor dan sebelumnya mau ke rumah Senja.”

“Ke rumah Senja lagi?” tanyanya agak keras.

“Barangkali dia sudah siap masuk sekolah. Seperti yang dulu ingin kamu lakukan, aku akan mengantarkannya kalau dia belum bisa naik sepeda sendiri. Karena itu aku harus buru-buru.”

“Sebelumnya aku mau cerita sesuatu yang agak lucu.”

“Nanti saja aku kemari lagi, nanti Senja kesiangan.”

Walaupun dengan wajah cemberut, Rosa tetap mengangguk. Sesungguhnya Senja lebih diperhatikan daripada dirinya.

Wajahnya semakin muram ketika Arka benar-benar pergi, padahal dia mau cerita tentang petugas jaga yang tadinya mengira dia hamil.

***

Tapi Senja belum bersedia masuk sekolah di hari itu.

“Biar sehari ini dia istirahat dulu mas Arka, tadi Simbok memeriksa lukanya, sudah mengering sih, tapi nanti kalau dipaksa menggenjot sepeda lukanya bisa menganga lagi, bagaimana?”

“Maksudnya, kalau mau sekolah, setiap pagi sebelum siap naik sepeda akan saya antarkan dan saya jemput,” kata Arka.

“Ya ampun mas Arka, repot amat. Sudahlah, biar Senja melakukannya sendiri, tidak enak merepotkan mas Arka terus.”

“Tidak apa-apa Mbok, ini kan tanggung jawab  saya.”

“Ya bukan tanggung jawab mas Arka, namanya musibah.”

“Soalnya ketika terjadi, Senja sedang bersama saya.”

“Iya, tapi semuanya sudah berlalu, tidak apa-apa. Kalau mas Arka selalu repot, kami yang tidak enak.”

“Simbok tidak usah sungkan. Besok Senja bersiap ya, aku jemput. Pulangnya aku jemput juga. Sekarang saya permisi ya Mbok. Sampai besok, Senja.”

Arka pergi tanpa menunggu jawaban mbok Mangun ataupun Senja, membuat keduanya saling pandang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mau bagaimana lagi. Kita sudah menolak, dia nekat sekali,” gumam mbok Mangun.

“Barangkali dia merasa bersalah. Kejadian itu kan kita sedang bersama dia.”

“Ya, tadi dia juga berkata begitu. Ya sudah, bersyukur saja karena kita bertemu orang-orang baik.”

“Sampai lupa menanyakan keadaan non Rosa tadi.”

“Iya, bagaimana ya keadaannya? Semoga baik-baik saja.”

***

Arka sedang berkutat dengan pekerjaannya. Tapi sejak pagi dia tak melihat ayahnya. Padahal sepertinya sang ayah juga bersiap akan ke kantor, hanya dia berangkat lebih dulu karena akan mampir ke rumah sakit menengok Rosa, dan juga ke rumah Senja.

“Barangkali bapak tidak ke kantor,” gumamnya sambil meneruskan pekerjaannya.

Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dari sang ibu.

“Ya, Bu.”

“Arka, tolong bilang pada bapak. Ponselnya mati jadi aku menghubungi kamu.”

“Ada apa Bu.”

“Tas kerja bapak ketinggalan di atas meja. Padahal tadi kan mau ke kantor? Apakah kamu bisa menyuruh sopir kantor untuk mengambilnya?”

“Tapi bapak tidak ke kantor. Arka ke ruangannya. Bapak belum datang sampai sekarang.”

“Masa sih? Bapak berangkat tak lama setelah kamu pergi. Ibu bilang kepagian, kata bapak ada rapat pagi di kantor.”

Arka mengerutkan dahinya. Mengapa ayahnya berbohong?

“Bagaimana Ka? Suruh saja sopir mengambilnya, takutnya kalau ada yang penting di dalam tas kerja ayahmu.”

“Tapi bapak tidak ada di kantor.”

“Katanya tadi mau rapat, barangkali sedang rapat.”

“Kalau ada rapat pasti Arka tahu Bu.”

“Kok aneh, ke mana ya ayahmu pergi?”

“Coba ditunggu sebentar, barangkali bapak mampir ke mana, atau malah sedang menuju pulang untuk mengambil tas kerjanya.”

“Ya sudah kalau begitu.”

Arka melanjutkan pekerjaannya, tapi pikirannya bercabang memikirkan sang ayah. Apakah ayahnya sedang membohongi keluarganya? Untuk apa? Sejak kepergiannya semalam dan kepergiannya pagi ini, seperti ada sesuatu yang aneh. Tak biasanya ada hal seperti ini.

Ketika sedang berpikir itu, ponselnya berdering lagi. Dari sang ibu.

“Ka, ini kok ada brosur  sebuah perumahan elit… ada tulisannya untuk bapak Wiguna. Memangnya ayahmu mau beli rumah?”

***

Besok lagi ya.

19 comments:

  1. Alhamdulillah
    eNTeeS_39 sdh tayang.
    Matur nuwun mBak Tien.

    ReplyDelete
  2. Sugeng dalu mBak Tien.
    Owhalah demi para pembaca meksa tayang
    Mugi panjenengan tansah pinaringan rahayu widodo basuki tinebihna ing rubeda lan kalis ing sambikala.
    Aamiin Yaa Robbal'alamiin πŸ€²πŸ™

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah.
    Terimakasih Bunda Tien. Sehat slalu. Selamat berkarya
    Jaga kesehatan

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu semakin sehat. Salam sayang selalu utk Ibu.

    ReplyDelete
  5. πŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_39
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒ

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah,senja telah hadir, ....
    .pak wiguna berbohong dan lama2 akn terkuak kebohongannya....... maturnuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ 😍 πŸ™

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah cerbung NTS sudah tayang, terima kasih bunda Tien,
    Semoga bunda Tien dan keluarga tetap sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT
    Aamiin YRA 🀲

    ReplyDelete
  8. Terima kasih Bunda Tien,... semoga bunda semakin sehat dan kuat ya Bun aamiin ... tetap semangat sehat yan BUnda

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  10. 🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 39 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,39 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah, mtrnwn Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan selalu dlm lindungan Allah SWT

    ReplyDelete
  14. Belang nya pak Wiguna belum ketahuan. Terimakasih bunda Tien, tetap semangat, semakin sehat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta.... Aamiin yaa Rabbal Alaamiin🀲🀲🀲

    ReplyDelete
  15. Bapak Wiguna selingkuh...
    Selingkuh = Saling rengkuh...

    ReplyDelete
  16. Wah wah...pak Wiguna mulai serong kiri-kanan nih...wkwk.😁

    Terima kasih, ibu Tien...semoga ibu semakin sehat ya...πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 39

  NAMAKU TETAP SENJA  39 (Tien Kumalasari)   Arka masuk ke dalam rumah yang memang masih terbuka. Tampaknya sang ayah belum lama tiba. Ketik...