Wednesday, July 1, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 37

 NAMAKU TETAP SENJA  37

(Tien Kumalasari)

 

Mata Rosa membelalak marah. Semuanya membeku dalam diam, antara kaget dan tak percaya. Perawat itu tampak kebingungan. Sepertinya ia belum pernah masuk ke ruangan rawat Rosa. Tak apa, karena perawat tugas kan berganti-ganti. Ia tampak bingung. Berita yang menurutnya bagus menjadi suasana yang sangat mencekam.

“Apa saya salah?” suara perawat itu lirih, tampak kebingungan.

Tak ada yang menanggapi perkataannya. Lalu perawat itu keluar, dengan membawa alat suntik yang pastinya semula untuk menginjeksi pasien.

Suasana beku itu masih mencekam. Mata pak Daryono menyala, bu Daryono tampak berlinang air mata, sedangkan pak Wiguna juga tampak kebingungan.

“Pembohong! Rumah sakit ini pembohong! Aku tidak hamil! Hamil sama siapa?” Rosa lah yang berteriak.

“Diam! Teriakan kamu tak akan berarti apa-apa. Ini rumah sakit. Segala pernyataan yang dikeluarkan adalah berdasarkan pemeriksaan, dan itu mutlak. Kamu yang pembohong," sentak pak Daryono pada akhirnya.

Sekarang Rosa terisak.

“Tapi Rosa tidak hamil Pa.”

“Bukan kamu yang harus mengatakannya. Buktinya kamu dinyatakan hamil. Mau jawab apapun kamu tidak bisa ingkar.”

“Rosa mau diperiksa sekali lagi, siapa tahu mereka salah.”

“Tidak akan ada pemeriksaan ulang. Ini rumah sakit besar, kecil sekali membuat kesalahan dalam pemeriksaan.”

“Katakan siapa dia,” kata bu Daryono yang semula diam.

“Mama, aku harus menjawab apa?”

“Jawab siapa melakukannya! Kamu tidak mengerti?”

“Tapi aku tak mungkin hamil.”

“Teman-teman kamu di luar negri. Mereka menganut pergaulan bebas. Kamu hanyut dalam pergaulan itu, dan membawa noktah itu kemari, lalu mengejar laki-laki yang sama sekali tidak mencintai kamu untuk menutupi aib kamu.”

“Tidak Pa, tidak begitu.”

“Kalau tidak begitu lalu bagaimana?” suara pak Daryono semakin meninggi.

“Rosa tidak mungkin hamil.”

“Karena kamu merasa sudah meminum pil anti hamil?”

“Papa ….,” Rosa terisak semakin keras. 

Bu Daryono mendekat, dan berkata lebih lembut.

“Katakan saja sejujurnya Rosa.”

“Kalau dia tidak mau mengaku, suruh dia pergi saja dari rumah. Aku tidak mau punya anak pembohong dan melakukan perbuatan memalukan.”

Serentak semuanya kembali diam. Rosa menghentikan tangisnya, tak mengira sang ayah setega itu. Menyuruhnya pergi dari rumah? Mengusirnya? Memintanya minggat?

“Tapi aku tidak_."

“Diaamm...! Kamu memang tidak pantas dikasihani. Menyesal aku mengangkat kamu dari comberan!"

Bu Daryono terkejut. Diam-diam mencubit pinggang suaminya karena dianggapnya telah kelepasan bicara. Tapi Rosa terbelalak menatapnya, dan pak Daryono menggaruk kepalanya, mencari jawab untuk menetralisir suasana aneh yang diciptakannya.

“Papa … mengangkat aku … dari comberan?”

“Rosa, dulu waktu kecil kamu pernah jatuh di tempat kotor, ayahmu menolong kamu dan melarikannya ke rumah sakit karena kamu pingsan,” kata bu Daryono tiba-tiba. Pak Daryono menatap istrinya dengan tatapan terima kasih.

“Aku menyesal telah menolong kamu. Kalau saja aku tahu bahwa kelakuan kamu telah mencoreng nama baik keluarga, aku biarkan saja kamu waktu itu.”

Rosa kembali terisak.

“Tapi aku tidak hamil ….”

“Diam kamu. Katakan siapa pelakunya, biar Papa seret dia kemari, atau kalau kamu tidak mau mengaku, pergi saja dari rumah Papa. Kamu mmem …. kamu bukan lagi aku anggap anak,” kata pak Daryono yang sekali lagi hampir terpeleset mengatakannya.

“Tapi Papa …”

Pak Wiguna yang semula diam dan merasa tak enak dengan suasana itu, perlahan mundur dan memutuskan untuk pulang saja, karena tak ingin menyaksikan suasana yang sangat tidak mengenakkan itu.

Tapi sebelum sampai di pintu, tiba-tiba seorang perawat masuk, dan tergopoh mendekati Rosa dan kedua orang tuanya.

“Mohon maaf, Bapak, Ibu, yang masuk barusan adalah perawat baru, yang seharusnya tidak bertugas di ruangan ini, tapi di ruangan lain.”

“Ia membawa berita bohong!” teriak Rosa.

“Maaf Ibu, maaf sekali, seharusnya dia bertugas di ruang G tujuh, tapi dia masuk ke ruang B tujuh.. Itu ruang ibu Tantri Wiguna. Jadi yang hamil itu ibu Tantri.”

Ruangan kembali membeku. Rosa menghela napas lega, walau kemarahan masih membayang di matanya.

“Aku hampir diusir orang tuaku,” katanya geram sambil mengusap air matanya.

Sementara pak Daryono dan bu Daryono mendekati putrinya dan menggenggam tangannya lembut.

“Syukurlah ….” kata bu Daryono.

Sementara itu mendengar siapa yang disebut perawat itu, pak Wiguna bergegas keluar dari ruangan Rosa, tanpa pamit kepada keluarga Daryono.

Ia memburu perawat yang keluar.

“Suster … Suster tadi berkata apa?”

“Oh, iya Pak, teman saya salah kamar, maklum dia masih baru dan belum paham ruangan di rumah sakit ini.”

“Harusnya siapa yang hamil?”

“Ini pak, catatannya ,,, ibu Tantrina Wiguna. Dia yang hamil. Baru datang tadi pagi. Bapak kenal? Belum ada keluarga yang menengoknya. Katanya suaminya ada diluar kota.”

Pak Wiguna merasa disiram seember air es. Ia tentu saja mengenal nama itu.

“Tolong tunjukkan di mana kamarnya.”

“Baiklah mari Pak, di sebelah sana. Belok ke kanan.”

***

Arka sampai di rumah, mendapati sang ibu sedang duduk sendirian.

“Apa bapak pergi?”

“Ke rumah sakit. Katanya Rosa dirawat. Ibu kira kamu juga ada di sana.”

“Tadi ada di sana, tapi setelah papa mamanya datang, Arka lalu pulang.”

“Jadi ini kamu dari rumah sakit? Apa tidak bertemu ayahmu? Berangkatnya sudah kira-kira dua jam yang lalu. Lebih malahan."

“Arka tidak langsung pulang, tapi melihat keadaan Senja.”

“Senja sudah pulang ke rumah kan?”

“Iya, dia tidak mau dirawat, jadi sudah ada di rumah.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Sudah baik. Yang agak parah telapak kakinya, nggak tahu menginjak apa, luka agak dalam, jadi susah berjalan. Karena itulah dia belum bisa masuk sekolah.”

“Kasihan. Katanya Rosa yang menolongnya ketika dia dalam pelarian.”

“Iya, kan Arka sudah cerita.”

“Syukurlah, ternyata Rosa punya sisi baik.”

“Hanya saja terkadang risih Bu, tingkahnya suka nyebelin.”

“Ya sudah, tidak suka juga tidak apa-apa, jangan menjelek-jelekkan terus. Namanya orang tidak suka ya begitu, suka sebel. Tapi kamu juga tidak boleh membencinya.”

“Tidak, apalagi setelah dia mau membantu Senja, ketidak senangan Arka sudah banyak berkurang.”

“Apa kamu tidak ke rumah sakit menyusul ayahmu?”

“Tidak Bu, Arka lelah sekali.”

“Ayahmu lumayan lama. Coba kamu telpon.”

“Ibu kangen ya?” goda Arka.

“Kamu itu ada-ada saja. Hanya bertanya, kok lama perginya, entah mengapa perasaan ibu kok tidak enak.”

“Baiklah, Arka telpon dulu ya. Harusnya tadi Ibu ikut.”

“Ibu agak pusing, jadi diajak ayahmu Ibu nggak mau.”

Arka memencet nomor ayahnya, tapi berkali-kali tidak diangkat.

“Kok tidak diangkat ya Bu, sudah berkali-kali.”

“Coba kamu telpon Rosa, bisa tidak ya menerima telpon.”

Arka menelpon pak Daryono, bukan Rosa, takutnya mengganggu yang sakit. Tapi jawaban pak Daryono mengejutkannya.

“Lho, ayahmu sudah pulang sejak sejam  yang lalu. Masa belum sampai ke rumah? Sejam lebih malahan.”

***

Besok lagi ya.

21 comments:

  1. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,37 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah.
    Matur nuwun bunda. Udah bisa menemani para pecinta cerbung . Walaupun masih sakit. Semoga sehat slalu

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah.....bunda sdh sehat bun....jaga kesehatan, jangan di folsir ya bun....mks cerbung nya...selamat malam, salam sehat salam sejahtera

    ReplyDelete
  4. Suwun mb Tien, smg sht sll🙏

    ReplyDelete
  5. Alhamdulilah maturnuwun bu Tien... semoga bu Tien tambah sehat, tambah semangat dan tambah ceria ... bun jangan capek capek dulu... istirahat yang cukup ya bun ...salam hormat penuh rasa aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah cerbung sudah tayang.. semoga Bu Tien sehat selalu dan bahagia bersama kelg. Aamiin.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah bunda Tien sudah sehat , NTS sudah hadir , semoga bunda tambah sehat , selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🤲🤲

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien senja telah hadir, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ❤️😍🙏🙏

    ReplyDelete
  9. 🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung eNTeeS_37
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  12. 🌷Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 37 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah.... BTS eps ~37 sdh tayang. Terimakasih bunda Tien, masih sempat utk menulis. In syaa Allah semakin sehat, semakin semangat dan bahagia selalu. Jangan lupa istirahat.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah Bu Tien sudah sehat, jaga kondisi semoga tetap sehat2

    ReplyDelete
  15. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu semakin sehat...

    ReplyDelete
  16. Terima kasih Bunda Tien.... semoga bunda semakin sehat ya aamiin

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah mtrnwn Bu Tien smg Bu Tien sehat selalu

    ReplyDelete
  18. Assalamu'alaikum
    Alhamdulillah
    Bunda Tien sudah sehat kembali, trimakasih Bun berkarya kembali.
    Ternyata Rosa gak hamil. Tapi.... Rosa anak pungut.
    Sehat sll Bunda 🤗

    ReplyDelete
  19. Eng ing eng...ternyata diam-diam pak Wiguna punya simpanan? Dan sudah membuahkan hasil...bakal pecah perang nih nantinya...😀

    Terima kasih, ibu Tien. Semoga makin sehat ya...🙏🏻🌹

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 38

  NAMAKU TETAP SENJA  38 (Tien Kumalasari)   Arka meletakkan ponselnya dengan heran. Sudah sejam lebih ayahnya keluar dari rumkah sakit, tap...