Tuesday, June 16, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 25

 NAMAKU TETAP SENJA  25

(Tien Kumalasari)

 

Senja tersenyum ramah. Tentu terasa sungkan ketika mengirim beras sambil meminta uangnya, dengan kendaraan atau angkutan yang disediakan dari pembeli, lalu pulangnya diantar?

“Mengapa kamu senyum-senyum begitu?”

“Mengapa saya mengantarkan beras, mengambil uangnya lalu Non harus mengantar saya pulang?”

“Tidak, saya akan pulang sendiri," kata Senja lagi

“Rumahku jauh dari sini, Senja.”

“Tidak apa-apa. Simbok saya yang tidak lagi muda sudah biasa berjalan jauh, mengapa saya keberatan? Tidak apa-apa Non, besok saya kesana bersama beras pesanan Non, pulangnya nanti gampang.”

“Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu. Jam berapa berasnya bisa saya ambil?”

“Agak sore ya Non, atau paling cepat ya jam dua atau tiga, biasanya jam segitu kalau simbok memesan dagangannya.”

“Baiklah.”

Rosa membalikkan tubuhnya menuju mobil, tanpa pamitan. Tapi bagi Senja itu bukan masalah. Orang kaya tak perlu menghormati orang miskin bukan?

Senja masuk ke dalam, dilihatnya Rimba sedang menyapu rumah.

“Sudah pulang dia?”

“Sudah. Simbok pasti senang, dia memesan beras lagi. Kali ini banyak, tidak cuma sepuluh kilo, tapi satu kwintal. Alhamdulillah, rejeki buat kita.”

“Aku tidak suka perempuan kaya itu.”

“Hei, kenapa? Kenal juga tidak, mengapa tidak suka?”

“Aku memang nggak ingin kenal. Dia itu sombong, mentang-mentang kaya. Duduk di bangku kita saja tidak mau.”

“Ya tidak apa-apa, Mba. Terserah dia saja. Kita harus mengakui kalau memang tidak punya tempat duduk yang  bagus dan bersih.”

“Mas Arka saja mau duduk di situ. Bahkan duduk di tikar bersama kita waktu kita makan bersama, dia tidak keberatan.”

“Orang itu kan tidak sama Mba, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sama. Sedangkan bunga-bunga saja, sama-sama cantik tapi aromanya berbeda. Ada yang wangi, ada yang tidak berbau, ada juga yang baunya tidak enak. Demikian juga manusia. Kita harus memakluminya. Tidak apa-apa orang merendahkan kemiskinan kita, asalkan jangan menginjak harga diri kita.”

“Hm, mbak Senja kalau sudah bicara begitu selalu mengingatkan aku pada guru agama di sekolahku.”

“Mbak juga belajar dari guru Mba. Tidak tiba-tiba bisa ngomong. Dan itu benar kan?”

“Iya, aku mengerti.”

“Sedang apa kalian?”

“Yaaaa, Simbok datang,” sorak Rimba.

“Sore sekali pulangnya Mbok.”

“Tadi mampir belanja untuk masak besok pagi.”

“Tadi ada yang pesan beras Mbok.”

“Oh ya? Syukurlah. Siapa?”

“Itu, nona cantik kaya yang dulu pesan sepuluh kilo beras. Tadi dia pesan satu kwintal.”

“Wah, alhamdulillah dapat rejeki. Sudah dibayar?”

“Itulah Mbok, belum dibayar, besok aku disuruh mengirim sambil mengambil uangnya.”

“O, begitu?”

“Apa Simbok punya uang cukup untuk membeli sekwintal?”

“Kelihatannya ada, cukup kok. Gampang. Besok simbok pesan, sorenya pasti sudah dikirim. Lalu dengan apa ya kita mengirim sekwintal? Sedikit-sedikit seperti yang pernah kita lakukan?”

“Dia mau menyuruh orang untuk mengambilnya.”

“Oh, syukurlah. Jadi kita tidak repot mengirimkan. Ya sudah, simbok mau mandi dulu, gerah.”

“Senja buatkan kopi Mbok?”

“Tidak usah, air putih hangat saja. Pagi sore kopi, boros.”

“Ya sudah, air putih kan lebih sehat.”

***

Seharian itu pak Wiguna tidak ke kantor. Dia hanya termenung di rumah, seperti ada yang sedang dipikirkannya. Pertemuannya dengan pak Daryono tidak membuatnya puas. Pak Daryono ternyata tidak kecewa seandainya Arka tidak menjadi menantunya, sementara dirinya sangat menggebu-gebu, dan berusaha terus menjalin hubungan yang lebih dari sebuah persahabatan. Tak seorangpyn tahu, sebenarnya pak Wiguna menginginkan yang lain. Tidak hanya berbesan, tapi buntut dari perbesanan itu yang diimpikannya. Pak Daryono memiliki perusahaan yang lebih besar, dan Rosa adalah putri tunggalnya. Bukankah akan ada keuntungan berlipat kalau Rosa menjadi menantunya? Perusahaannya bisa lebih diperbesar, kekayaannya akan lebih berlimpah. Tapi ketika ternyata pak Daryono tidak memaksa atas keinginannya berbesan dengannya, apa yang bisa dia lakukan?

Yang terjadi malah rasa marah dan kecewa kepada Arka.

“Dasar anak bodoh. Tidak tahu diuntung. Tidak mengerti orang tua,” omelnya ketika duduk sendirian.

Tapi ternyata bu Wiguna sedang mendekatinya, kemudian duduk di depannya sambil meletakkan secangkir kopi.

“Ada apa? Seharian uring-uringan terus,” tanya bu Wiguna yang tidak bertanya apapun sejak suaminya pulang dari rumah pak Daryono.

“Kalau keinginan tidak kesampaian, siapa orangnya yang tidak kesal?”

“Keinginan apa sih Pak?”

“Ibu tidak bertanya, apa kata pak Daryono ketika aku datang ke sana semalam.”

“Menurut aku, Bapak hanya mengantarkan Rosa. Apa yang perlu ditanyakan?”

“Mengantarkan apa? Rosa terlanjur marah pada Arka, dia pulang naik taksi.”

”Tapi Bapak tetap menemui pak Daryono kan?”

“Tentu aku harus menemuinya, dan meminta maaf karena kelakuan Arka.”

“Apa pak Daryono marah karena anaknya disakiti hatinya?”

“Aku mengira akan marah, ternyata tidak.”

“Oh, syukurlah kalau begitu. Tidak ada masalah kan, tapi kenapa Bapak malah uring-uringan?”

”Pak Daryono tidak begitu mengharapkan Arka.”

“Maksudnya?”

“Kalau Arka tidak mau, ya sudah. Dia tidak ingin memaksa.”

“Bagus sekali kan, berarti tidak ada masalah, mengapa Bapak tadi masih memarah-marahi Arka? Malah barusan masih mengomeli Arka juga.”

“Aku itu mikirnya jauh ke depan Bu. Pak Daryono itu pengusaha besar, kekayaannya jangan ditanya. Kalau kita bisa berbesan dengan dia, bukankah itu suatu keuntungan bagi kita? Usaha kita bisa diperluas, kita akan lebih banyak mendapat keuntungan. Tapi Arka tidak berpikir sampai ke situ.”

“Jadi Bapak begitu bersemangat menjodohkan mereka, karena Bapak menginginkan hartanya?”

“Kamu jangan berpikir terlalu sederhana bu. Aku ini pengusaha, mengembangkan usaha lebih luas lebih besar itu selalu menjadi keinginan setiap pengusaha.”

“Memang benar, tapi bisa menjadi besar dengan berusaha seharusnya, bukan dengan menjual anak.”

“Mengapa Ibu berkata begitu?” suara pak Wiguna agak meninggi, dan itu menyurutkan keinginan bu Wiguna untuk terus bicara.

“Aku berbicara sebagai manusia, bukan sebagai pengusaha,” kata bu Wiguna sambil berdiri.

“Minumlah kopinya, keburu dingin,” katanya lagi sambil beranjak ke belakang.

“Bu, mengapa Ibu tidak menemani di sini?”

“Kepalaku agak pusing,” katanya tanpa menghentikan langkahnya.

Pak Wiguna menjadi semakin kesal, karena dia sendirian. Sang istri tidak berpihak padanya, dan jelas-jelas menghindari perbincangan tentang perjodohan itu.

“Keterlaluan.”

Tiba-tiba pak Wiguna teringat perkataan Rosa tentang perhatian Arka yang besar kepada gadis pengirim beras.

“Apakah Arka jatuh cinta kepada gadis kumuh itu? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak sudi punya menantu buluk miskin seperti dia. Memalukan. Aku harus menghalangi keinginan bodoh itu.”

***

Besok adalah hari Minggu. Arka ingin mengajak Rimba, terutama Senja, berjalan-jalan. Arka yakin, keluarga sederhana itu tak pernah memikirkan untuk bersantai, bersenang-senang, melihat hal-hal baru yang belum pernah mereka lihat. Karena itu sepulang kantor dia langsung menuju ke rumah mbok Mangun untuk mengencani anak-anaknya. Kalau perlu mbok Mangun juga akan diajaknya serta. Mengapa tidak? Membuat orang lain senang, bukankah akan membuat hati kita senang juga?

Ketika ia hampir sampai di rumahnya, ia melihat seseorang, duduk di jok depan di samping sopir sebuah colt angkutan barang. Seseorang itu adalah Senja. Arka heran, mau pergi ke mana Senja, dan siapa yang mengajaknya?

Arka memutar mobilnya dan mengikuti colt terbuka itu, lalu melihat sebuah karung yang diyakininya berisi beras.

“Ternyata Senja mau mengirim beras? Mengirim ke mana dia?” gumam Arka yang kemudian mengikutinya.

***

Besok lagi ya.

 

18 comments:

  1. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga senja baik baik saja sepertinya rosa berniat buruk
    Alhamdulullah arka mengikutinya bisa
    Mbantu kalau terjadi apa apa pada senja
    Semoga bunda Tien sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah. Udah tayang
    Terimakasih Bunda Tien. Semoga sehat beserta keluarga tercinta.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sdh tayang ... salam hangat dan aduhai hai hai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,25 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  6. Hatur nuhun bunda cerbungnya..slm seroja unk bunda sekeluargaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah,senja telah hadir,.....orang baik selalu ketemu dg orang baik,semoga Arka mengikuti senja yg akn ketemu Rosa,... maturnuwun Bu Tien,cerbung yg menarik, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah hatur nuhun bunda ,
    Cerbung NTS nya sudah tayang,
    Semoga bunda dan keluarga sehat 🀲

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang dan barokah

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 25 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  11. Mtr nwn bun NTS 25sdh tayang.....selamat mlm....salam sehat

    ReplyDelete
  12. πŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_25
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸ

    ReplyDelete
  13. Kasian Senja pasti Rosa ada maksud buruk buat Senja dibalik pengiriman beras itu

    ReplyDelete
  14. Rosa beli beras tidak bayar dulu, pasti ada rencana jahat pada Senja, untung bertemu Arka.... Terimakasih bunda Tien, tetap semangat, sehat dan bahagia selalu.... Aduhaaii

    ReplyDelete
  15. Orang baik seperti Senja pasti ada orang yang akan menolongnya.

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 25

  NAMAKU TETAP SENJA  25 (Tien Kumalasari)   Senja tersenyum ramah. Tentu terasa sungkan ketika mengirim beras sambil meminta uangnya, denga...