NAMAKU TETAP SENJA 24
(Tien Kumalasari)
Arka menatap mobil sang ayah yang menderu keluar dari halaman, lalu ia menatap ibundanya yang duduk terpekur di ruang tengah. Kelihatan sekali kalau ia gelisah. Perlahan Arka mendekat, dan duduk rapat di sampingnya.
“Ibu, apakah tidak boleh Arka menentukan jalan hidup Arka sendiri?”
Bu Wiguna menatap anaknya lembut. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.
“Bu, bukankah sebuah pernikahan diharapkan bisa berlangsung sepanjang umur kita? Kalau begitu bukankah lebih baik kita memilih sesuatu yang tidak akan mengecewakan di kemudian hari bukan?”
Bu Wiguna meremas tangan Arka yang terletak di pangkuannya. Ia tampak lebih tua dari usianya yang baru menginjak limapuluhan tahun, karena penyakit darah tinggi yang dideritanya.
“Apakah menurut Ibu, Rosa adalah gadis yang baik? Biarpun dia pintar dan cantik, tapi apakah dia akan bisa menjadi istri yang sempurna untuk Arka? Banyak kelakuannya yang tercela, yang tentu saja tidak Arka sukai. Kalau Arka mengatakannya kepada bapak, pasti bapak akan marah sekali, karena menurutnya Rosa adalah pilihan yang tidak bisa diganggu gugat.”
“Kamu wajib memilih apa yang menjadi keinginan kamu dalam hidup ini. Tapi ibu tidak bisa membantumu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana ayahmu, sedangkan kalau ibu mendengar ayahmu berteriak saja seringkali ibu menjadi sesak napas.”
“Ibu tidak usah membela Arka. Ibu cukup merestui Arka agar Arka menemukan kebahagiaan dalam hidup.”
“Itu sudah pasti, Nak. Bahagia seorang anak adalah harapan semua orang tua di dunia ini.”
“Terima kasih, Ibu.”
Arka memeluk sang ibu dengan kasih sayang.
“Ibu harus sehat dan bahagia, karena hal itu juga kebahagiaan Arka.”
“Menurutmu, apa yang akan dilakukan ayahmu tadi?”
“Menyusul Rosa. Bapak tidak ingin Rosa terluka.”
“Ayahmu akan menemui keluarga pak Daryono dan memohon-mohon maaf karena Rosa telah dibuat menangis oleh kamu.”
"Semoga pak Daryono bisa mengerti," kata Arka.
“Aku kira pak Daryono bisa lebih sabar dari ayahmu. Semoga semuanya baik-baik saja. Ayahmu hanya ingat tentang budi baik pak Daryono semasa perusahaan ayahmu nyaris bangkrut. Lalu ia ingin membuat pak Daryono senang.”
***
Rosa masih berjalan sambil menunggu taksi ketika pak Wiguna bisa mengejarnya. Tapi ia menolak ketika pak Wiguna memintanya masuk ke dalam mobilnya.
“Rosa, jangan begitu. Ayo om antarkan kamu pulang,” kata pak Wiguna setelah turun dari mobil dan mengikuti langkahnya.
“Tidak usah Om, Rosa akan naik taksi saja.”
“Mengapa begitu?”
“Kalau sampai Om mengantarkan saya, papa pasti justru akan memarahi Rosa. Jadi biarkan Rosa pulang sendiri.”
“Mengapa papa kamu justru memarahi kamu? Nanti om yang akan bicara sama papa kamu, percayalah.”
“Jangan Om, biar saya jalan sendiri. Saya juga sudah memanggil taksi,” kata Rosa sambil terus melangkah.
“Om pulang saja, itu taksi saya sudah datang,” katanya sambil melambaikan tangannya ke arah taksi yang memang sudah dipanggilnya.
Pak Wiguna menghela napas panjang. Ia kembali ke mobilnya, tapi tidak kembali pulang. Rasa khawatir kalau pak Daryono kecewa karena Arka membuat Rosa menangis karena terluka hatinya, membuatnya ingin bicara kepada pak Daryono dan memohon maaf. Ia tak tahu bagaimana sebenarnya perasaan pak Daryono tentang hubungan Rosa dan Arka.
***
Dan itu benar. Ketika pak Wiguna dengan panjang lebar meminta maaf, dan menutupi kesalahan Arka dengan mengatakan bahwa bertengkar pada sebuah pasangan itu hal biasa, pak Daryono justru tampak tidak tahu apa-apa, karena Rosa ternyata tidak mengadu.
“Saya harap pak Daryono memaklumi. Kita pernah muda, kita juga pernah bersitegang dengan pasangan. Itu hal yang lumrah bukan? Tapi saya tetap minta maaf, karena Arka kurang sabar dalam menjaga Rosa.”
Tak disangka pak Daryono justru tertawa mendengar ucapan pak Wiguna.
“Sebenarnya saya tidak mengerti apa yang mas Wiguna katakan. Saya juga tidak tahu bahwa mereka bertengkar, karena begitu datang Rosa sudah masuk ke dalam kamarnya.”
“Rosa tidak mengatakan apa-apa?”
“Tidak, saya heran kenapa mas Wiguna sampai datang dan meminta maaf segala. Saya tidak mengerti apa yang mas Wiguna katakan.”
“Rosa tidak mengatakan apa-apa kepada Bapak?”
“Tidak. Dia datang langsung masuk ke kamarnya.”
“Rosa gadis yang baik. Itu sebabnya saya ingin sekali menjadikannya menantu. Ia tidak suka mengeluh atau mengadu, walau dia disakiti sampai menangis.”
“Mas... apa Mas yakin mereka akan menjadi pasangan yang berbahagia?”
“Tentu saja. Saat ini mereka sedang dalam taraf penyesuaian, tapi dengan berjalannya waktu, mereka akan bisa saling memahami hati masing-masing, dan itu akan menjadi bekal yang matang dalam kehidupannya berumah tangga kelak.”
“Bukan main, kalau itu akan bisa terjadi. Tapi menurut saya, dugaan mas Wiguna itu salah.”
“Mengapa Bapak berkata begitu?”
“Rasa suka akan tampak dari raut wajahnya, dan saya tidak melihat adanya kecocokan diantara mereka.”
Pak Wiguna terkejut.
“Jadi Bapak tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakan ingin punya menantu seperti Arka?”
Pak Daryono tertawa.
“Keinginan itu kan bisa terjadi pada siapa saja. Tapi kan tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan.”
“Kalau memang pak Daryono bersungguh-sungguh, saya akan membuat keinginan Bapak menjadi terlaksana. Saya yakin Arka akan bisa menjadi pasangan yang serasi untuk Rosa."
“Mas, jaman sudah berubah. Dahulu kala, sebuah pasangan bisa menjadi jodoh karena keinginan orang tua. Seorang anak akan patuh dan tak akan membantah apa yang menjadi pilihan orang tuanya. Tapi sekarang tidak bisa begitu. Anak-anak muda tak mau dikendalikan dalam memilih jodoh, dan orang tua tak akan bisa memaksa. Karena itu biarkan saja Arka memilih gadis yang disukainya, jangan dipaksa menuruti kehendak orang tua, karena nanti rumah tangga mereka tidak akan bisa lestari dan bahagia.”
Pak Wiguna tertegun.
“Apakah pak Daryono marah kepada Arka sehingga mengatakan hal yang seperti itu?”
“Apa? Saya marah?” pak Daryono tertawa keras.
“Saya justru menolak perjodohan yang dipaksakan,” sambungnya, yang kemudian membuat hati pak Wiguna membeku.
Ada keinginan tersembunyi dari perjodohan itu seandainya terjadi. Bukankah Rosa anak tunggal dari keluarga kaya raya? Dan rasa balas budi itu hanyalah salah satu alasannya.
***
Malam itu Rosa bersikap biasa saja. Dia juga tak mengadukan apapun. Ia sudah tahu bahwa orang tuanya tidak meminta agar dia menjadi istri Arka. Mereka sudah tahu kalau Arka tidak menyukainya, dan mereka tak akan memaksa, jadi mereka justru meminta agar Rosa melupakannya. Kedatangan pak Wiguna malam itu sama sekali tak menjadi pembicaraan ketika Rosa makan bersama kedua orang tuanya. Semua dianggapnya angin lalu, karena tak ada keinginan dari mereka untuk menjadikan Arka sebagai menantu.
Tapi ternyata Rosa tak mau berhenti. Arka harus didapatkannya, atau tak ada gadis lain yang bisa merebutnya. Hatinya sakit ketika menyadari bahwa Arka menyukai gadis kampung miskin yang menurutnya bau dan telapak tangannya kasar seperti parutan kelapa.
Sore hari itu diam-diam Rosa pergi ke rumah mbok Mangun. Ia senang yang menemui adalah Senja, yang meladeninya dengan ramah. Rosa akan memesan beras. Kali itu tidak tanggung-tanggung. Satu kwintal beras kwalitas bagus untuk keluarganya. Tentu saja Senja sangat senang.
“Hari ini Simbok belum pulang. Tapi pesanan non Rosa akan saya sampaikan. Barangkali besok agak sore beras itu sudah siap, Non.”
“Bagus sekali Senja, besok aku akan suruhan orang untuk mengambilnya kemari.”
“Baik Non, terima kasih banyak.”
“Tapi maaf Senja, aku tidak membawa uang tunai, bagaimana kalau bayarnya nanti setelah kamu mengirim berasnya?”
“Jadi saya harus datang ke rumah Non, untuk mengambil uangnya?”
“Nanti kalau berasnya datang, kamu ikut bersama orang suruhan aku itu ke rumah. Aku tidak mau menitipkan pembayarannya melalui orang lain. Harus kamu yang menerimanya. Nanti setelah aku membayarnya, aku antarkan kamu pulang.”
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tienπ
ReplyDeleteπ·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eNTeeS_24 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»
Alhamdulillah ….
ReplyDeleteSuwun Bu Tien ….π€
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTrimakasih. Semoga Bunda sehat slalu.
Selamat Tahun baru Hijrah.
Alhamdulillah senja telah hadir,...Rosa tetap Rosa yg TDK mempunyai niat baik,.. maturnuwun Bu Tien cerbung senja yg menarik,semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ❤️ π π
ReplyDelete...
Alhamdulillah htr nuhun bunda , NTS sudah tayang .
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga sehat π€²
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah serbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sll diberikan kesehatan umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 24 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdullulah..terima ksih bundaqu cerbungnya..slm seroja dan aduhai tetap semangat unk bunda sekel..slmt Tahun Baru Islamππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien cerbung kesayangan sampun tayang ... semoga bu Tien selalu sehat bahagia dan ceria... salam seroja dan aduhai aduhai bun❤️❤️❤️
ReplyDeleteJadi su'udhon dg Rosa ..jangan2 Senja mo di lukai...
ReplyDeleteAlhamdulillah
Syukron nggih Mbak Tien ...
Sugeng Tahun Baru Hijriah ,in Syaa Alloh selalu Sehat Aamiin❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,24 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulilla, BTS eps 24 sdh tayang, jadi deg-deg an.... Apa yg akan dilakukan Rosa pada Senjaππ
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteSugeng ndalu bunda Tien, sehat sll nggih Bun... Tulisan nya sll ku tunggu.
Rencana apa lagi ya mau dilakukan Rosa, berhasil. Nggak ya...π€π
Rosa ini orangnya juahat sekale mau menganiaya Senja...
ReplyDelete