NAMAKU TETAP SENJA 22
(Tien Kumalasari)
Rosa masih menunggu di dalam mobilnya. Biasanya Arka sudah pulang, tapi ini belum keluar juga. Barangkali karena ada gembel bau itu tadi. Sebel banget, katanya sebentar, mengapa lama?
Berkali-kali Rosa melihat ke arah jam tangannya, sudah satu jam, apa yang mereka bicarakan? Tentang pembelian beras, apa Arka belum membayar sehingga harus menunggu selama itu? Karena kesal, Rosa ingin menyusulnya, entah nanti dengan alasan apa. Tapi kemudian dilihatnya Arka keluar bersama gadis itu, lalu menyeberang jalan, memasuki sebuah rumah makan. Rosa terbelalak.
“Mengapa Mas Arka mengajak aku ke rumah makan? Nanti simbok menunggu aku,” keluh Senja yang dipaksa Arka mengikutinya.
“Bukankah kamu pulang sekolah langsung kemari? Berarti kamu belum makan, jadi ayo makan dulu di sini, daripada nanti pingsan di jalan,” kata Arka sambil mencarikan tempat duduk bagi Senja. Mau tak mau Senja menurut.
“Mau makan apa?”
“Terserah mas Arka saja,” kata Senja.
“Minum es jeruk ya? Makan apa?”
“Oseng kates sama ikan asin goreng, ada nggak?”
Arka tertawa.
“Senja, di rumah makan tidak ada oseng kates. Tuh, baca saja daftar menunya.”
“Makanya terserah mas Arka saja. Aku bingung.”
“Nasi gudeg ampela ati ya?”
“Terserah.”
Arka memesan makanan, Senja masih melanjutkan perbincangan tentang sepeda baru itu, dan orang yang membayar hutang simbok ke pak RT.
“Pemberian Mas itu sudah kelewatan. Kita belum lama kenal, saudara juga tidak, mengapa Mas memberi saya sepeda? Dan simbok ... ?”
“Lhah, kok masih diulang lagi sih? Kan di kantor tadi kita sudah membicarakannya? Karena kamu baik, karena simbok pejuang yang tangguh, maka aku membantunya. Barangkali kalau aku jadi simbok, tidak akan kuat menanggung biaya hidup dan sekolah dua orang anak.”
“Sepeda itu mahal, hutang simbok juga lumayan banyak.”
“Tidak apa-apa. Kalau kamu keberatan, kelak kalau kamu sudah kaya raya, jadi orang, kamu bisa mengembalikannya. Tanpa bunga,” canda Arka yang mengaku bahwa yang membayar hutang simbok memang dirinya, dengan menyuruh salah seorang anak buahnya.
Senja tersenyum. Ketika pesanan sudah datang, mereka makan dan minum dengan lahap, terutama Senja, karena memang dia benar-benar lapar.
“Tadi di luar itu ada yang menunggu mas Arka lho.”
“Siapa?”
“Aduh, tadi mobilnya ada di sana. Kok sekarang sudah tidak ada,” kata Senja sambil melongok ke arah luar.
“Siapa? Dari mana kamu tahu kalau dia menunggu aku?”
“Itu lho Mas, yang pesan beras sama aku sepuluh kilo, lalu Mas ikut mengantarkan ke rumahnya.”
“Rosa?”
“Naah, nona Rosa. Kok sekarang sudah pergi.”
“Biarkan saja.”
“Dia pacar mas Arka ya?”
“Kamu bernah bertanya bukan? Dan jawabku ... bukan. Lupa ya?”
“Kok sampai menunggu mas keluar dari kantor. Jangan-jangan mau diajak jalan-jalan.”
Arka tertawa.
“Tidak. Sekarang lanjutkan makanmu. Aku mau pesan yang akan dibawa pulang untuk Simbok dan Rimba.”
“Nggak usah Mas.”
“Sudah, diam. Jangan protes,” kata Arka sambil melambai ke arah pelayan rumah makan dan memesan beberapa makanan.
“Banyak banget,” gumam Senja sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
“Dibilang jangan protes. Bawel!”
“Aku mau ambil sepedaku dulu.”
“Jangan, kamu bareng aku saja.”
“Tidak, lha sepedaku bagaimana?”
“Nanti biar diantar orang ke rumah kamu.”
“Nggak mau. Nanti seperti kemarin, sepedanya ganti yang lebih baru lagi.”
Arka terbahak. Senja terkadang lucu. Tapi dia senang.
Tak urung Arka membiarkan Senja pulang mengendarai sepeda barunya, dan dia mengikutinya dari belakang.
“Orang itu nekat banget, bagaimana mungkin mengikuti sepeda berjalan padahal itu mobil?” gumam Senja ketika dia menoleh ke belakang dan mobil Arka ada di belakangnya.
***
“Kakakmu belum pulang?” tanya mbok Mangun ketika sore itu sampai di rumah.
“Belum, aku juga menunggu. Tapi karena lapar aku sudah makan sedikit.”
Simbok tertawa.
“Mengapa sedikit? Makan saja sampai kenyang.”
“Kasihan mbak Senja. Nanti biar Rimba makan lagi saja.”
“Dasar kamu itu. Tapi sebenarnya tadi kakakmu tidak bilang kalau ada tambahan.”
“Kan mbak Senja bilang mau langsung ke kantor mas Arka?”
“O iya, tapi kok sampai sore begini belum pulang ya.”
“Ngobrol dulu, lama pastinya.”
“Ya sudah, simbok ganti baju dulu, sambil menunggu kakakmu, nanti kamu makan lagi.”
Rimba mengangguk, dan baru saja dia sampai di depan, sepeda Senja sudah memasuki halaman.
“Simbok sudah pulang?” itu yang ditanyakan Senja dan Rimba begitu pulang sekolah.
“Sudah, belum lama. Kok sampai sore?”
“Iya, omong-omong sama mas Arka. Kamu sudah makan?”
“Sudah, sedikit? Nanti aku makan lagi setelah mbak Senja datang. Simbok sedang ganti baju.”
“Kok seperti ada mobil mas Arka melintas di depan situ?” lanjut Rimba heran.
Senja tertawa.
“Orang aneh, dia mengikuti aku dengan mobil, mulai dari kantornya?”
“Haa? Mobil mengikuti sepeda?”
“Nekat sekali dia. Tadinya aku mau diantar mobilnya, sepeda akan diantarkan ke rumah.”
“Nanti sepedanya ganti baru lagi?” canda Rimba.
“Aku juga berpikir begitu tadi.”
Senja tersenyum. Ia memberikan bungkusan makanan yang diberi Arka. Rimba mengendus-endus dengan hidungnya.
“Apa ini? Baunya sedap sekali.”
“Bawa ke belakang, buat makan kamu dan Simbok.”
“Mbak Senja nggak makan?”
“Aku sudah kenyang. Nanti aku temani saja makannya.”
***
Mbok Mangun kembali menangis ketika Senja mengatakan bahwa memang benar yang membayar hutang Simbok adalah Arka.
“Ya ampun, banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk kita,” kata Simbok sambil menghapus air matanya.
“Tadinya mas Arka tidak mengaku, tapi aku mendesaknya terus. Rupanya mas Arka juga menangkap kata-kata simbok ketika keceplosan bilang ‘cicilan’ ke pak RT.”
“Allah Maha Pengasih. Akhirnya bebanku berkurang, semoga bisa menabung untuk kelanjutan sekolah kalian nanti.”
“Mbok, aku nanti setelah lulus mau mencari pekerjaan saja, biar bisa membantu membiayai sekolah Rimba,” kata Senja.
“Apa kuliah biayanya mahal?”
“Sangat mahal. Aku perempuan, tidak usah terlalu berpikir tentang kuliah. Biar Rimba saja yang kuliah.”
“Ya sudah, masih bisa kita pikirkan sambil jalan.”
“Besok kalau uangku banyak, aku juga ingin mengembalikan apa yang sudah mas Arka berikan. Ketika aku teriak-teriak tadi, mas Arka bilang, kalau aku keberatan, kelak aku bisa menggantinya kalau sudah banyak uang. Tanpa bunga, kata mas Arka.”
Simbok tersenyum.
“Semoga bisa ya Nduk, berhutang itu kan tidak enak.”
“Aamiin.”
"Sekarang simbok mau mandi dulu. Tadi buru-buru, cuci kaki dan tangan, soalnya adikmu juga sudah keburu lapar."
“Udara dingin Mbok. Pakai air hangat?”
“Tidak ah, udara panas begini, pakai air panas segala.”
***
Arka senang sekali melihat Senja menaiki sepedanya dengan kencang. Tentu saja, sepeda baru itu sangat ringan. Senja tidak akan capek bersepeda dari kantor sampai ke rumahnya. Apalagi kalau hanya ke sekolah.
Tapi ketika ia menuju pulang, agak jauh dari rumah mbok Mangun, ia melihat sebuah mobil berhenti. Arka mengenalinya sebagai mobil Rosa.
Arka ingin melewatinya, tapi Rosa turun dari mobil dan menghadang laju mobilnya. Jadi terpaksa ia berhenti.
“Apa-apaan kamu Ros?”
“Tolong Ka, ban mobilku bocor, aku tidak bisa jalan dong.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Cuma jalan-jalan. Untunglah ketemu kamu.”
“Bilang saja kamu mengikuti aku,” sungut Arka.
“Tidak, aku hanya mau ketemu teman, masa aku mengikuti kamu?”
“Tadi kamu di depan kantor aku kan? Ngapain?”
“Tadinya mau mengajak kamu, tapi nggak jadi. Kamu akrab sekali dengan tukang beras itu?”
“Memangnya kenapa?”
“Ka, sudahlah, antar aku pulang.”
“Mobilmu?”
“Aku sudah memanggil bengkel langganan, dia akan mengurusnya,” kata Rosa yang sudah siap membuka pintu mobil Arka di samping kemudi.
Arka membukanya dengan wajah masam.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tienπ
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdullilah terima ksih bunda..slm seroja dan tetap aduhai umnk bunda ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTrimakasih. Bunda. Namaku tetap Senja udah tayang. Semoga sehat slalu beserta keluarga
π₯ππ₯ππ₯ππ₯π
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eNTeeS_22 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π₯ππ₯ππ₯ππ₯π
Rosa tetap ngeyel mengejar Arka padahal Arka sudah sering menghindar dan bersikap tdk ramah. Terimakasih bunda Tien, tetap semangat, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga... Aduhaaii
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 22 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulilah maturnuwun bu Tienku sayang, cwrbung kesayangan sdh tayang... smg bu Tien selalu sehat bahagia dan ceria, salam seroja aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteTrm ksh Bu Tien cerbung ya sudah terbit. Salam Seroja bahagia bersama keluarga.
ReplyDeleteAlhamdulillah senja sudah hadir,dan Rosa masih nekad mengejar Arka, berjalannya waktu akan terkuak Rosa bkan anaknya pak Daryono,... maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta π❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,22 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah, mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat ditunggu episode lanjutnya
ReplyDeleteMks bun ......selamat malam
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Matur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien , NTS
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga sehat π€²
Terima kasih bunda Tien, NTS nya sudah tayang ,semoga bunda Tien dan keluarga sehat π€²
ReplyDeleteNisaaaaaa... eh Rosaaaa.
ReplyDeleteMungkin mereka ini kembaran, tapi beda ayah dan ibu ya Mbak?