NAMAKU TETAP SENJA 11
(Tien Kumalasari)
Mbok Mangun terpaku heran. Bagaimana tuan muda yang baik hati ini tahu tetang cicilan pak RT?
“Ada apa menatap saya seperti itu Mbok?”
“Apa maksud tu … eh … mas Arka berkata begitu? Tuan … eh … mas Arka tahu tentang pak RT?”
“Bukankah simbok sendiri yang bilang kemarin, tentang uang yang bisa untuk mencicil pak RT?”
“Oh, itu ….” mbok Mangun baru sadar kemarin kelepasan bicara. Ia berharap anak-anaknya tak seorangpun tahu tentang hutang itu.
“Iya kan? Simbok sendiri yang mengatakannya?”
“Iyaa, mmas Arka.”
“Tapi menurut saya itu bukan uang sampah yang harus dikumpulkan oleh warga.”
“Itu ….”
“Berapa uang sampah yang harus dikumpulkan warga? Kalau harus dicicil itu pastilah banyak. Benarkah hanya cicilan uang sampah?”
“Iya kok ….”
“Menurut saya, Simbok sedang menyembunyikan sesuatu, terutama dari anak-anak Simbok.”
“Ah, Tuan bisa saja. Sudahlah, ini uang kembalian disimpan saja dulu, nanti kena angin bisa terbang.”
“Kan saya bilang untuk Simbok saja, supaya bisa membayar cicilan uang sampah?”
Mbok Mangun termangu. Ia sadar kalau tuan muda ini tak bisa dibohongi, seperti anak-anaknya. Senja dan Rimba masih bocah, bisa saja menerima alasannya, tapi tuan muda tampan itu sudah lebih dewasa, sudah bisa menangkap sikap seseorang saat bicara bohong.
“Mbok, sungguh saya ikhlas, ini untuk Simbok. Untuk tambahan beli beras lagi kalau berasnya habis. Cicilan uang sampah kan tidak seberapa,” kata Arka sambil memaksa simbok menerima uang yang sudah ditaruh di sampingnya.
“Tuan … “
“Mas Arka,” Arka membetulkan.
“Mas Arka, mengapa tuan … mas Arka begitu baik kepada orang yang baru saja mas Arka kenal? Saya bukan siapa-siapa,” kata simbok bergetar tak kuasa menahan haru.
“Tidak apa-apa, saya tertarik kepada perjuangan simbok yang begitu gigih demi anak-anak Simbok. Allah yang memberi Mbok, saya hanyalah perantara, jadi jangan sungkan menerimanya.”
Simbok mengusap titik air matanya.
Tiba-tiba sebuah colt terbuka berhenti di depan.
“Itu, berasnya sudah datang,” teriak Simbok.
Dua orang mengusung sekwintal beras itu ke arah rumah mbok Mangun.
“Sudah, ditaruh di sini saja,” kata Arka yang menyuruh meletakkan beras di depannya.
Mereka meletakkan berasnya seperti keinginan Arka, kemudian berlalu.
Arka menelpon orang kantor agar mengambil beras pesanannya. Ia juga memberikan alamat di mana beras harus diambil.
“Setelah itu langsung kamu kirimkan ke rumah, serahkan kepada bibik ya?”
Arka menyimpan kembali ponselnya dan tersenyum kepada simbok.
“Mbok, ini biar di sini saja, orang saya akan mengambilnya dan langsung mengirimnya ke rumah.”
“Oh iya, baik Tu … mas Arka, biar saya tunggu sampai mereka datang.”
“Sekarang saya mohon diri, karena harus kembali ke kantor ya Mbok.”
“Silakan Mas, terima kasih banyak.”
Ketika Arka berlalu, simbok menatapnya dengan perasaan tak menentu.
“Allah menurunkan orang baik yang selalu menolong keluargaku. Jangan-jangan benar kata Senja, bahwa dia benar-benar malaikat,” gumamnya penuh haru.
Ia sekarang sedang menunggu orang suruhan Arka yang akan mengambil berasnya, sambil pergi ke dapur untuk memasak sayur untuk anak-anaknya yang akan segera pulang.
***
“Bik, ini berasnya,” kata orang kantor yang membawa beras seperti yang dipesan majikan mudanya.
“Lho, kok kamu yang mengirim beras?”
“Pak Arka yang menyuruh. Taruh di mana ini?”
“Taruh di dalam dapur, di pojok sana, nanti aku ganti tempatnya di kotak beras.”
Bibik senang karena berasnya datang sebelum kehabisan.
“Memangnya mengambil berasnya di mana?”
“Agak jauh, di kampung Krajan.”
“Walaah, tuan muda memang baik hati benar, menolong temannya dengan membeli barang jualannya.”
“Ya sudah, aku permisi dulu Bik.”
“Terima kasih ya Mas.”
Simbok menghampiri karung beras. Ia siap memindahkannya di kotak penyimpanan beras.
“Hm, baunya wangi. Pasti enak ini,” gumam bibik.
“Berasnya sudah datang?”
“Sudah Nyonya, baru saja. Ini berasnya, coba Nyonya lihat.”
Bu Wiguna mendekati karung beras yang sudah dibuka oleh bibik. Meraupnya lalu menciumnya.
“Wangi. Arka tahu bagaimana memilih beras.”
“Iya Nyonya, saya sudah memberi tahu, kalau pesan yang bagus, yang wangi, yang pulen.”
“Kalau memang baik, untuk selanjutnya pesan pada temannya Arka saja.”
“Iya Nyonya.”
***
Pak Wiguna sedang ada di kantor, kesal karena mencari Arka tidak ketemu. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Bagian ekspedisi mengatakan bahwa Arka menyuruh anak buahnya mengambil beras untuk dikirim ke rumah. Pak Wiguna sangat marah. Begitu Arka datang, lalu disemprotnya sang anak dengan amarah yang sulit dikendalikan.
“Sebenarnya kamu itu direktur apa tengkulak beras?” katanya dengan nada tinggi.
“Saya kan sudah bilang, ingin membantu teman.”
“Tapi kamu juga mempergunakan karyawan kantor untuk urusan teman kamu itu. Kalau memang dia jual, kamu beli, suruh dia yang mengirim, bukan kamu yang mengirimkannya.”
“Soalnya dia tidak punya alat transportasi yang bisa mengirimkan beras sebanyak pesanan bibik. Dia pedagang kecil, itu sebabnya Arka membantu.”
“Kamu selalu ada saja alasannya. Lain kali kalau masih repot masalah pengiriman, tidak usah beli pada teman kamu.”
“Lain kali biar dia yang mengurus pengirimannya. Ini kan baru pertama kali.”
“Ada-ada saja. Kamu juga meninggalkan kantor lama sekali. Mengapa akhir-akhir ini kamu selalu membuat bapak kesal? Urusan kantor diselesaikan dulu, bukan mengurusi orang lain yang kamu tidak mendapatkan apa-apa.”
Arka tak menjawab. Ia menuju ke meja kerjanya lalu mulai memeriksa berkas yang bertumpuk di meja. Ia tidak setuju pada pendapat ayahnya. Membantu seseorang apakah harus mengharapkan imbalan? Ini seperti kasus pada hubungannya dengan Rosa. Ayahnya selalu mengatakan tentang pertolongan pak Daryono saat perusahaannya nyaris ambruk. Lalu dia harus menambal hutang budi itu dengan hidupnya? Ia bersedia melakukan apa saja, tapi jangan mengorbankan hidupnya. Tapi ia merasa lebih baik tak menjawab. Apapun jawabannya akan salah di mata sang ayah.
Tiba-tiba ponsel pak Wiguna berdering. Dari istrinya, yang mengatakan bahwa Rosa ada di rumah.
“Apa? Rosa ada di rumah? Ajak dia makan siang yang enak, aku akan segera pulang. Dia sendiri atau dengan pak Daryono atau ibunya?”
“Dia sendiri, katanya hanya ingin mampir.”
“Baiklah, siapkan makan siang, aku akan segera pulang.”
Pak Wiguna menyimpan kembali ponselnya, lalu menatap sang anak.
“Arka, ayo pulang bersama bapak, ada Rosa di rumah.”
“Tidak bisa Pak, pekerjaan saya masih banyak. Lagi pula ini jam kerja, masa harus menemui tamu di rumah?”
“Ini bukan sembarang tamu.”
“Bapak saja pulang duluan, saya selesaikan pekerjaan saya dulu,” kata Arka tanpa menatap sang ayah.
Dengan wajah gelap pak Wiguna akhirnya pulang lebih dulu, meninggalkan Arka yang merasa heran atas sikap Rosa yang selalu kelihatan memaksa.
***
Rosa sedang duduk bersama bu Wiguna, sambil menunggu bibik menyiapkan makan siang, dan kepulangan pak Wiguna.
“Apakah Arka juga ibu suruh pulang?”
“Pasti ayahnya sudah menyuruhnya. Tapi entah dia mau atau tidak. Kalau sedang bekerja dia susah diganggu.”
“Arka itu … apakah tidak suka pada Rosa?”
Bu Wiguna mencoba tersenyum.
“Tidak ada alasan untuk tidak suka. Keluarga kita sudah seperti saudara bukan?”
“Tapi Arka selalu menghindari saya.”
“Kamu harus bersabar Rosa, tidak mudah meluluhkan hati seseorang. Kamu juga harus bisa mengerti, kapan dan bagaimana seseorang bisa jatuh cinta.”
“Tolong katakan, bagaimana saya bisa meluluhkan hati Arka? Mengingat kami sudah dijodohkan, saya berharap Arka bisa bersikap lebih baik pada saya.”
“Apa yang bisa ibu lakukan? Masing-masing orang punya perasaan dan hati yang berbeda. Tapi menghindari yang dia tidak suka, adalah sebuah usaha yang baik.”
“Apa ya, yang dia tidak suka?”
“Laki-laki kebanyakan tidak suka dikejar-kejar. Dia lebih suka mengejar. Kamu harus mengerti itu.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah eNTeeS_11 sdh tayang.
ReplyDeleteTerima kasih mbak Tien.
Salam SEROJA, sehat nggih ..
Dijaga aja nganti ambruk ...
Nggih. Mas Kakek
DeleteSuwun mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah....
ReplyDeleteMatur nuwun Mbak Tien
ReplyDelete
πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_11
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,11 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 11 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdullilah
ReplyDeleteTerimakasih sudah Tayang
Semoga Bunda dan keluarga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tienku,, sehat wal'afiat semua ya Bu Tien & Pak Tom ππ₯°πΏπ
ReplyDeleteNasihat Bu Wiguna ada benernya tuh ππ₯°
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ika
DeleteAlhamdullulah bunda .mksih cerbungnya..smg bunda sht sll dan tetap semangat berkaryaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Farida
DeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien dan keluarga selalu sehat, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah,mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida
DeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien, cerbung nya dah tayang,semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta π
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteTerimakasih bunda Tien, cerbung asyik sudah tayang, sehat selalu bunda Tien. Selamat berlibur dan berkumpul dengan keluarga tercinta.... Aduhaii
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Farida
DeleteKok banyak sekali orang yang tak waras sekarang. Ini sudah zaman P*rbaya, masih ada pemaksaan.
ReplyDeleteNadia libur ya Mbak? Dia capek habis menjemput Nisa ya?
ReplyDeleteNggak tuh. Ada kok.
DeleteAlhamdulillah Namaku tetap senja 11 dpt kami share. Trima kasih bu Tien semoga sehat wal'afiat slaku bersama klusrga tercinta. Salam Aduhai
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Suroto
DeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteMalam semakin larut, meski badan capek tetap baca cerbung Bunda Tien.
Trimakasih cerbung nya, sehat sll Bunda Tien ππ€