NAMAKU TETAP SENJA 10
(Tien Kumalasari)
Bu Wiguna diam, kalau dijawab lagi pasti perdebatan akan menjadi lebih panjang, dan tidak cukup hanya berdebat, tapi juga sambil berteriak-teriak yang bisa membuat seisi rumah bergetar.
“Jangan hanya diam. Camkan apa yang sudah aku katakan. Apa kamu pikir keinginan aku ini salah? Ini demi kebaikan anak kita juga kan?”
“Iya, aku tahu.”
“Jangan hanya tahu. Bantu aku. Arka tidak bisa dibiarkan semaunya. Dia itu susah diatur.”
“Sebenarnya bukannya susah diatur, sejak masih kecil dia itu anak yang penurut. Ia juga pintar.”
“Itu kan waktu dia masih kecil, nyatanya sekarang berani menentang orang tua. Mentang-mentang sudah bisa bekerja sendiri sehingga merasa tidak lagi membutuhkan orang tua.”
Bu Wiguna mengangguk-angguk. Tadi ia sudah ingin pergi, tapi kalau suaminya masih ingin ngomong, lalu dirinya pergi, pasti dia akan marah juga. Jadi ia hanya mendengar saja apa yang dikatakannya, dan sebentar-sebentar mengangguk.
“Sebenarnya kamu mengerti atau tidak apa yang aku katakan sih Bu?”
“Iya, tentu saja mengerti. Aku kan hanya mendengarkan apa yang Bapak katakan.”
“Jadi kamu setuju kan dengan pendapatku mengenai perjodohan itu?”
Bu Wiguna bukannya tidak setuju. Ia hanya merasa bahwa perjodohan juga harus terhubung dengan rasa. Memaksakan kehendak hanya akan menimbulkan penyesalan dikemudian hari. Bagaimana mengatakannya?
“Setuju atau tidak?”
“Aku kira … bapak harus bersabar.”
“Apa maksudmu?”
Tuh kan, dia sudah mulai berteriak lagi.
“Mendekatkan dua hati itu memerlukan kesabaran. Baiklah, aku setuju, tapi jangan terlalu terburu-buru. Arka sudah dewasa, ia harus berpikir sebelum melakukan sesuatu, apalagi sebuah perjodohan. Yang namanya berjodoh itu diharapkan bisa tetap berjodoh selamanya kan? Nah, untuk itu membutuhkan waktu untuk berpikir, menimbang … jadi tidak tergesa-gesa. Aku percaya, kalau Bapak bersabar, menunggu sampai Arka bisa menenangkan diri, maka semuanya akan berjalan seperti yang Bapak inginkan,” kata bu Wiguna lembut, pelan.
“Lalu sampai kapan aku harus menunggu?”
“Bersabar dulu, jangan terburu nafsu.”
“Apa ibu yakin, pada suatu ketika nanti Arka mau menerima perjodohan itu?”
“Kita lihat saja nanti. Yang penting sekarang Arka jangan selalu diomelin, nanti dia merasa sebel, jadi nggak mau mendengarkan apa kata Bapak.”
“Baiklah, aku akan bersabar. Tapi awas saja kalau nantinya dia membuat aku kecewa.”
Sang istri menarik napas panjang. Tak urung tetap saja masih ada kata ancaman.
***
“Rosa sejak kemarin uring-uringan,” keluh bu Daryono ketika sedang berdua dengan suaminya.
“Maunya bersepeda bareng sama Arka, tapi Arka malah berangkat sendiri, tidak menunggunya. Jadinya dia kesal.”
“Aku heran, mengapa Bapak menuruti kemauan Rosa untuk menjodohkannya dengan Arka? Sudah jelas Arka sepertinya tidak suka.”
“Aku hanya bicara sekilas, barangkali bisa kejadian. Aku bicara itu karena tahu bahwa Rosa menyukai Arka. Siapa tahu benar-benar bisa berjodoh.”
“Kalau Bapak bicara sekilas, mengapa mereka menerimanya dengan serius?”
“Aku tuh hanya bilang, Arka anak baik, senang sekali kalau bisa mengambilnya menjadi menantu. Apa itu sebuah perjodohan? Sepertinya hanya mirip sebuah candaan.”
“Tapi mereka menerimanya dengan sangat serius. Dan Rosa sudah sangat senang sekali. Apalagi kemarin malam, dia mengundang keluarga Wiguna untuk makan malam di sini. Bapak yang menyuruhnya?”
“Tidak, Rosa sendiri yang mengundang mereka, dengan nebeng nama bapak. Aku tahunya sudah terlanjur, dan mereka siap datang, masa harus ditolak?”
“Aku tidak suka Rosa bersikap begitu. Dia kan anak perempuan, harus bisa menjaga martabat seorang perempuan dong. Seolah-olah dia yang mengejar, itu memalukan.”
“Aku sudah memberi tahu dia panjang lebar. Semoga dia mengerti.”
“Nyatanya dia masih uring-uringan.”
“Gantian Ibu yang bilang dong. Beri tahu bahwa mengejar seorang laki-laki itu tidak pantas.”
“Nanti aku beritahu dia.”
Nah, nyatanya keluarga Daryono tidak sepenuhnya memaksa berbesan dengan keluarga Wiguna. Hanya pak Wiguna saja yang sangat berharap.
***
Pagi itu bibik mendekati Arka.
“Tuan muda, apakah Tuan sudah memesankan berasnya?”
“Sudah Bik, nanti sore pasti sudah siap.”
“Baiklah Tuan, soalnya berasnya hanya cukup untuk hari ini dan besok paling hanya paginya saja.”
“Bibik jangan khawatir. Nanti sore pasti sudah sampai di sini.”
“Ya sudah Tuan, terima kasih sudah meringankan beban bibik.”
Arka tersenyum, kemudian bersiap ke ruang makan karena bapak dan ibunya sudah menunggu.
“Ada apa Arka bicara sama bibik?” tanya pak Wiguna.
“Dia memesankan beras untuk bibik," jawab sang istri.
“Apa? Arka pesan beras? Kamu itu kurang kerjaan ya Ka?” katanya kepada Arka yang sudah mulai duduk di samping sang ayah.
“Bukan kurang kerjaan Pak, hanya membantu teman.”
“Membantu teman bagaimana?”
“Teman Arka jualan beras, Arka bantu supaya bisa menambah keuntungan dia.”
“Ya itu yang bapak maksud kurang kerjaan. Urusannya apa maka kamu mencarikan keuntungan untuk orang lain? Pikir diri kamu sendiri. Perjalanan hidup yang mana yang bisa menguntungkan diri kamu.”
“Namanya orang hidup, apa salahnya tolong menolong?”
“Kamu menggurui ayah kamu ini?”
“Bukan Pak, saya hanya ingin membantu, apa itu salah?”
“Salah, dan kurang kerjaan. Apa untungnya bagi kamu kalau kamu menolong dia?”
Arka terdiam. Kalau dia menjawab juga, nanti sang ayah pasti mengatakan lagi bahwa dia menggurui sang ayah.
“Bapak makan dulu saja, nanti keselek kalau makan sambil bicara,” tegur istrinya.
“Itu lho Bu, anakmu ada-ada saja. Urusannya sendiri nggak beres, malah mikir orang lain.”
“Hanya membantu saja, Arka tidak rugi apa-apa.”
“Kalau orang tua mengingatkan, itu tandanya bahwa orang tua mencintai kamu, menyayangi kamu.”
“Ya sudah, lanjutkan makan Arka, nanti terlambat ke kantor,” kata sang ibu kepada Arka, menengahi.
Arka merasa bahwa rumah yang dihuninya selama berpuluh tahun tiba-tiba terasa tidak nyaman. Kasih sayang sang ayah yang dulu sangat membuatnya bahagia, tiba-tiba hilang entah kemana. Kalau sang ayah bilang cinta, tapi cinta itu dalam bentuk yang berbeda. Arka merasa bahwa sang ayah lebih mencintai dirinya sendiri, bukan kepada dirinya.
Ruangan yang ber AC dan biasanya membuat sejuk, tiba-tiba terasa ada nyala api yang membuatnya gerah. Arka mempercepat sarapannya, lalu berdiri, menghampiri sang ayah dan ibunya, mencium tangan mereka, kemudian berlalu.
“Anak itu sekarang selalu bertindak semaunya. Benar seperti kataku kemarin kan?”
“Arka bukan anak kecil Pak, biarkan saja dia melakukan apa yang diinginkannya.”
“Bagaimana kita harus membiarkan, kalau tindakannya salah?”
“Dia pasti sudah tahu mana yang baik dan yang buruk untuk dirinya. Kan aku sudah bilang, Bapak harus bersabar. Bapak tahu tidak, kalau mendengar Bapak marah-marah, tensiku mendadak tinggi.”
Mendengar sang istri mengeluh, pak Wiguna diam. Ia menatap istrinya dengan khawatir.
“Minum obatmu dan istirahat saja,” katanya pelan.
Rupanya betapapun marahnya dia, ia masih merasa khawatir tentang kesehatan sang istri.
***
Saat istirahat siang, Arka keluar kantor. Ia harus ke rumah mbok Mangun untuk memastikan pesanan berasnya sudah siap atau belum. Dan karena mbok Mangun memesan lagi sekwintal beras pesanan Arka, maka dia keluar menjajakan berasnya hanya sebentar. Tengah hari dia sudah di rumah, menunggu pesanan berasnya agar jangan dibawa kembali kalau melihat rumahnya kosong.
Ketika mendengar mobil berhenti, mbok Mangun bergegas ke depan, mengira berasnya datang. Tapi ternyata yang datang adalah Arka si pemesan.
Tergopoh mbok Mangun menyambut.
“Aduh Tuan, berasnya belum dikirim, mungkin sebentar lagi.”
“Tidak apa-apa Mbok, saya akan menunggu. Nanti kalau berasnya datang saya akan menyuruh orang kantor untuk mengambilnya.”
“Biasanya jam-jam segini mereka kirim pesanan saya Tuan.”
“Simbok kok lupa lagi, nama saya bukan tuan.”
“Eh, iya mas Arka, duduk dulu, tunggu sebentar,” simbok bergegas masuk ke rumah, kemudian keluar dengan mambawa sejumlah uang.
“Mas Arka, ini uang kembaliannya, masih banyak.”
“Lho, kembalian apa?”
“Uang mas Arka kemarin terlalu banyak, masih ada kembaliannya.”
“Nggak usah dikembalikan Mbok, biar saja.”
“Jangan begitu, simbok nggak mau. Namanya jual beli ya diterima sejumlah uang yang pas untuk membayar belanjaannya. Dulu itu Tuan … eh … mas Arka sudah membayar lebih, ini lebihnya banyak, saya tidak mau,” kata simbok sambil meletakkan uang di bangku, sebelah Arka duduk.
“Mbok, lebih baik uang ini untuk mencicil pak RT saja.”
“Apa?”
Simbok sangat terkejut. Tuan ganteng itu bicara tentang cicilan pak RT?
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah eNTeeS_10 sudah hadir gasik.
ReplyDeleteTerima kasih mBak Tien, salam SEROJA tetap semangat dan berkarya tetap ADUHAI pokoke.
Seduluran Sak Lawase π€π€π
Alhamdulillah
ReplyDeleteπ₯π π₯π π₯π π₯π
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eNTeeS_10 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π₯π π₯π π₯π π₯π
Suwun mb Tien π
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien.
ReplyDeleteAlhamdulillah plng dr masjid sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu.. teriring salam seroja
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien
Semoga bunda sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulilah cerbung senja kesayangan sdh tayang... maturnuwun bu Tien, doaku smg by Tien sll sehat, bahagia dan twtao aduhai hai hai bun .. i lv u bunda ❤️❤️❤️
ReplyDeleteTwtao = tetap
DeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 10 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteSugeng dalu bunda ku... Ide ceritanya membuat semakin penasaran dg cerita selanjut nya . Sdh aku ikuti cerbung sejak 2022 , aku baca cerbung dr 2017 marotan dan sampai sekarang yg sdh di tulis , luarbiasa semua cerbung nya. Kadang aku baca ulang .
Sehat selalu bunda Tien dan keluarga. π₯°π€
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,10 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, cerbung NTS eps~10 sudah tayang. Sehat dsn bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aamiin3x Yaa Rabbal Alaamiin
ReplyDeleteMks bun NTS episod 10 sdh hadir.....selamat mlam .....smg bunda beserta kelrg selalu sehat
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien,cerbung NTS telah tayang,dan ceritanya sdh mulai menarik, membuat bertambah pecintanya... semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta π
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien,cerbung NTS telah tayang,dan ceritanya sdh mulai menarik, membuat bertambah pecintanya... semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta π
ReplyDelete"Nah, nyatanya keluarga Daryono tidak sepenuhnya memaksa berbesan dengan keluarga Wiguna. Hanya pak Wiguna saja yang sangat berharap." Rupanya Mbak Tien nguping pembicaraan suami-istri. Kalau ada yang melaporkan Mbak ke Pak Daryono, bisa besar urusannya...
ReplyDelete