NAMAKU TETAP SENJA 09
(Tien Kumalasari)
Mbok Mangun melongo, ada wong bagus datang pesan beras satu kwintal, apa dia bermimpi? Mbok Mangun hanya pedagang beras kecil-kecilan. Melayani sekilo dua kilo, paling banyak satu karung berisi duapuluh lima kilo, itupun jarang. Sekarang satu kwintal?
Arka tersenyum, menyentuh lengan simbok yang kemudian membuat simbok tersadar.
“Saya benar-benar pesan, kok Simbok bengong?”
“Tu … Tuan, kalau satu kwintal … simbok tidak sedia … harus pesan dulu, paling besok, ta … tapi … simbok tidak punya uang untuk ….”
“Berapa harganya?”
“Kalau yang bagus, wangi pulen itu lebih mahal Tuan … hanya saja … simbok ini kan pedagang kecil-kecilan, dan kemarin baru mengambil satu kwintal, baru akan simbok jajakan … jadi ….”
“Baiklah, saya bayar dulu ini … ,” Arka mengeluarkan uang lembaran seratusan ribu sebanyak dua juta rupiah, diberikannya kepada mbok Mangun.
“Ini … “
“Kurangkah? Saya tidak tahu harga beras, saya tambah lagi satu juta ya?”
“Tapi … barangkali kebanyakan … harganya kalau yang bagus itu sekitar ….”
“Bawa saja, daripada kurang.”
“Besok saya kirim ke mana Tuan?”
“Besok saya ambil saja, kasihan kalau Simbok mengirim.”
“Kan bisa naik becak, atau angkutan umum?”
“Jangan, saya ambil saja, lusa, besok kan baru dikirim.”
“Ya besok sore Tuan.”
“Baiklah, tapi jangan panggil saya tuan, nama saya Arka.”
“Masa memanggil namanya begitu saja? Nggak mau, nanti kualat memanggil nama begitu saja.”
Arka tertawa.
"Kualat itu apa Mbok?”
“Kualat itu seperti jambu mete Tuan, kepalanya dibawah,” canda simbok yang mulai berani berbincang santai.
Arka terkekeh agak lama.
“Tidak ada kualat Mbok, kan saya bukan jambu mete? Panggil saya Arka, atau … mas Arka, kalau tidak mau memanggil nama saja.”
“Mboook, simbok bicara sama … eh … Tuan?”
Tiba-tiba Senja muncul sambil membawa sapu lidi. Halaman depan belum disapu oleh Rimba.
“Senja, lagi ngapain? Jangan sampai aku dipukul pakai sapu lhoh, aku orang baik-baik,” canda Arka.
“Kamu kenal sama Tuan … eh … mas Arka ini?”
“Kok Simbok tahu namanya?”
“Barusan dikatakan, simbok panggil tuan dia tidak mau. Kamu kenal dia?”
“Ya ini Mbok, yang menolong Senja, yang memberi es buah dan jus buah kemarin itu.”
“O, ini yang dulu kamu sebut malaikat yang baik hati?”
“Senja ada-ada saja,” Arka kembali tertawa.
“Mengapa Tuan datang kemari?”
“Nggak mau! Tuan lagi..” cemberut Arka.
“Mas Arka, mengapa datang kemari?”
“Ini lho nduk, mas Arka ini mau pesan beras, simbok sudah diberi uangnya. Nanti bisa untuk nicil pak RT.”
“Simbok nicil apa?”
Simbok menutup mulutnya, ia kelepasan bicara.
“Maksud simbok, buat bayar sampah kampung.”
“Memangnya banyak? Kok dicicil?”
“Kemarin … simbok belum bayar.”
“Senja khawatir, jangan sampai Simbok ngutang pada pak RT, dia itu rentenir, dan kejam. Tega makan duit orang miskin.”
“Ada-ada saja, ayo … kalau sudah kenal, ajak tuan … eh … mas Arka masuk ke dalam, biar simbok buatkan kopi. Mas Arka suka minum kopi?”
“Suka Mbok, kalau Simbok tidak repot.”
“Ya tidak, tapi simbok tidak punya kursi yang pantas, adanya bangku panjang di depan itu.”
“Tidak apa-apa, udara sejuk kalau duduk di situ,” kata Arka yang segera mengikuti simbok, lalu duduk di bangku panjang.
“Biar Senja saja yang buat minuman Mbok, Simbok menemani mas Arka.”
“Jangan, kamu saja yang menemani, simbok buat minuman,” kata simbok yang langsung beranjak ke belakang.
“Oh iya, aku tadi beli nasi liwet untuk kita makan, ayo kita ambil, itu masih tergantung di sepeda,” kata Arka sambil menarik tangan Senja, tapi kemudian Senja melepaskannya.
“Jangan pegang-pegang, aku bisa jalan sendiri,” sungut Senja.
“Maaf,” kata Arka.
“Kebiasaan ya, suka gandeng-gandeng perempuan?” goda Senja.
“Eh, tidak … tidak kok.”
Senja tertawa. Tapi ia sangat sungkan, Arka mengambil bungkusan besar di stang sepedanya, ia disuruh ikut membawanya.
”Mengapa mas Arka selalu beli macam-macam untuk kami?”
“Tadi kan masih pagi buta, ada penjual nasi liwet laris sekali, jadi pengin beli, lalu aku beli sekalian untuk kamu.”
“Dari mana mas Arka tahu rumah Senja?”
“Aku ini sakti, apa susahnya menemukan rumah kamu?”
“Hm … bohong.”
Pagi hari itu Arka tenggelam dalam keramahan keluarga mbok Mangun. Mereka makan dan minum di depan rumah sederhana milik mbok Mangun, bicara lepas, tanpa tekanan, dan itu membuat Arka sangat senang.
***
“Sudah pulang? Sepedaan sampai di mana?” tanya pak Daryono ketika melihat Rosa pulang. Ia juga heran wajah Rosa gelap seperti mendung.
“Tidak ke mana-mana. Ke rumah om Wiguna lalu pulang.”
“Nggak jadi sepedaan sama Arka? Arka nggak mau?”
“Rosa sampai di sana, Arka sudah berangkat duluan. Sengaja barangkali, padahal dia tahu kalau Rosa mau ke sana.”
“Barangkali kamu kesiangan. Sepedaan itu lebih bagus pagi-pagi.”
“Rosa sampai di sana baru setengah enam. Masa kesiangan?”
“Mungkin menurut Arka kamu kesiangan.”
“Dasar Arka yang tidak mau jalan sama Rosa.”
“Kamu harus sabar, Rosa. Menghadapi laki-laki seperti Arka memang memerlukan ketelatenan yang bukan main. Dia itu dingin, dan tidak mudah jatuh cinta. Ibunya pernah cerita sama ibumu. Dan sebagai perempuan kamu tidak pantas kelihatan terlalu mengejarnya. Hadapi santai saja, seperti orang berteman. Jangan kelihatan kalau kamu sangat suka sama dia. Barangkali dengan demikian dia akan tertarik sama kamu.”
“Orang tuanya dan Papa kan sudah sepakat menjodohkan?”
“Papa setuju karena kamu suka. Papa berharap kamu bisa bahagia, tapi papa juga sadar kalau cinta itu tidak bisa dipaksa.”
“Harusnya Arka sadar kalau perusahaan ayahnya bisa hidup karena kebaikan Papa.”
“Rosa, sebuah kebaikan tidak pernah berharap imbalan, karena sebuah kebaikan bukan dagangan.”
“Tapi namanya orang berhutang budi, harusnya dia sadar dong Pa.”
“Cinta itu masalah rasa, bukan karena hutang budi maka harus jatuh cinta.”
Rosa terdiam, ia langsung pergi ke belakang. Rosa gadis manja, semua keinginannya harus terlaksana. Ia lupa bahwa cinta tidak bisa diperjual belikan walau dengan imbalan budi baik.
***
Hari sudah menjelang sore ketika Arka sampai di rumah. Di ruang tengah sang ayah yang baru saja bangun tidur, duduk ditemani sang ibu. Begitu mendengar suara bibik menyapa Arka, pak Wiguna segera berteriak memanggil.
“Arka! Kamu baru pulang?”
“Ya, Pak.”
“Dari pagi buta, ini sudah sore, kemana saja?”
“Muter-muter saja, main ke rumah teman.”
“Kamu sengaja ya, menghindari Rosa? Pagi tadi Rosa datang. Ia ingin bersepeda bersama kamu. Bapak juga sudah mengingatkan kalau Rosa mau nyamperin kamu kan?”
“Ia datang terlalu siang. Setelah subuh Arka sudah berangkat. Kalau siang udara tidak lagi sejuk, tapi panas.”
“Kamu jangan banyak alasan. Kamu sengaja menghindar bukan?”
Arka diam, kemudian ia beranjak ke kamarnya.
“Mau ke mana kamu?”
“Mandi Pak. Gerah sekali.”
“Arka!”
“Sudah Pak, biar dia istirahat dulu," kata bu Wiguna.
“Ibu ini bagaimana? Apa ibu tidak sadar, kita berhubungan dengan siapa? Pak Daryono itu bukan orang sembarangan. Budi baik dia tidak terbayarkan oleh apapun. Mengapa Arka tidak bisa mengerti?”
“Masalah budi baik jangan dikaitkan dengan perasaan.”
“Mengapa Ibu berkata begitu?” suara pak Wiguna semakin meninggi.
“Apa aku salah?”
“Salah besar! Kalau kita sudah berhutang budi dengan seseorang, maka kita harus bersedia melakukan apa saja. Pak Daryono hanya ingin mengambil Arka sebagai menantu, apa itu berat?”
“Pernikahan itu sesuatu yang harus digenggam keutuhannya, selamanya. Kalau tidak ada cinta diantara keduanya, maka ….”
“Sudah, jangan bicara apapun. Arka harus dipaksa. Mengapa ibu tidak berpihak kepadaku?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah eNTeeS_09 sdh hadir.
ReplyDeleteTerima kasih mBak Tien, semoga sehat terus dan terus sehat. Aamiin.
Trmksh mb Tien
ReplyDeleteTrmksh mb Tien
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien dan keluarga selalu sehat, aamiin.
Alhamdulillah yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg bermanfaat
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga
ReplyDeleteCerbung Tetap Namaku Senja tayang.
Pak Wiguna ngotot ... Tiap hari ngomel terus.
Alhamdullilah..trima ksih bunda cerbungnya..slm seroja dan aduhai unk bundaππ₯°πΉπ
ReplyDeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien senja sampun tayang .... semoga ibu Tien sekeluarga bersama amancu sll sehat dan dalam lindungan Allah SWT aamiin yra ..... tak lupa salam hangat dan aduhai hai hai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,09 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia dan aduhai.....seaduhai ngototnya Pak Wiguna......
ReplyDeleteSami2 ibi Reni
DeleteHihiii...
Alhamdulillah, NTS telah hadir, maturnuwun Bu Tien ,semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta,sll dlm lindungan Allah SWT..Aamiinπ€²π€²
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu
Deleteππ«ππ«ππ«ππ«
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_09
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππ«ππ«ππ«ππ«
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng
DeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng
DeleteAlhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien
ReplyDeleteSehat wal'afiat ya Bu Tien & keluarga ,ππ€π₯°πΏπ
Waduh arogan juga pak Wiraguna & Rosa cocok...repot kl cinta berdasarkan balas budi yg ada bubar jalan , ππ€
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ika
DeleteKau cinta main paksa? Memangnya kita hidup di zaman Pak Purbaya?
ReplyDelete